Idol Nest

Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!

Chapter 3: Unexpectable Date

"Huft..."

Sudah kesekianribu kali Sakura mendenguskan nafasnya. Pipi chubby itu kini senada dengan warna rambutnya. Ah, tidak, lebih pekat dari itu. Mata zamrud-nya hanya bisa menatap lelah ke arah bocah jabrik yang tengah melompat-lompati kasur berseprei spongebob kesayangannya.

"Onee-chan! Coba tangkap aku!" Tantang bocah itu. Kain biru yang menjuntai di belakang tubuhnya berkibar-kibar bak superman. Bocah itu pun tersenyum lebar, memamerkan gigi ompongnya.

"Konohamaru..." bisik Sakura lemah. Ia sudah terlalu lelah untuk berteriak.

Ibunya jahat sekali meninggalkan bocah alien ini dengannya sementara ia dan ayahnya bersenang-senang makan siang bersama klien bisnis mereka. Sakura ingin harakiri, tapi ia belum mau mati. Setidaknya, sampai ia menikahi sang pujaan hati, Sabaku Gaara.

Bosan bermain dengan kasurnya, Konohamaru pun turun dan berlari kecil ke arah lemari pakaian. Tangan mungilnya membuka satu per satu pintu lemari itu beserta dengan lacinya. Sakura ingin menghentikannya, tapi ia sudah sangat lemas. Ia hanya bisa memandangnya dengan pasrah dan menebak apa yang akan Konohamaru lakukan setelah ini.

"Onee-chan, benda apa ini?" tanya Konohamaru dengan wajah polos sementara tangan kanannya memegang sebuah benda bertali dengan dua buah mangkuk bergambar patrick si bintang laut.

"KYAAA!"

Ia berteriak dan merebut benda itu dari tangan Konohamaru. Manik jade-nya menatap tajam bocah tengik itu. "APA YANG KAU LAKUKAN, BAKA!" bentaknya sambil mendorong tubuh kecil Konohamaru menjauh.

"..."

Alis Konohamaru menyayu. Mata cokelatnya pun melembek dengan pelupuknya yang tergenang air. Bibirnya pucat dan bergetar.

"Ko-konohamaru?"

"..."

"Ma-maaf."

"HUAAA! ONEE-CHAN JAHAAT!"

"Hah?"

"HUAA, HIKS! HIKS!"

Tangis Konohamaru semakin menjadi. Sakura pun semakin panik. Ia melihat ke arah jam dinding di kamarnya. Sial, masih tiga jam lagi sebelum orang tuanya pulang.

"HUAA! AKU BENCI ONEE-CHAN!"

Sakura mundur beberapa langkah. Tangan lentiknya merogoh saku rok selutut itu dan mengeluarkan handphone, berusaha menghubungi siapapun yang bisa menolong.

"Ayo Ino, kumohon angkatlah!" ucapnya sambil menyentuh dahinya yang berkeringat. Sesekali ia melirik Konohamaru yang masih menangis berguling-guling.

'TUT..TUT..TUUUUUUUT'

"Sialan, kenapa dimatikan?!" rutuknya. Tak lama kemudian, ia mendapatkan pesan singkat.

'Maaf Sakura, bisakah kau tidak menelponku dulu? Aku sedang sibuk di toko bunga!'

Sakura berdecak. Konohamaru melemar-lempar semua benda yang ada di depan matanya.

'BRUK! BRUK! PUK!'

"Aww! Apa-apaan kau!" protes Sakura setelah bocah alien itu melempar sepatunya ke arah jidatnya yang malang.

"Onee-chan, hiks hiks, ja-haaat! Aku benci, hiks, onee-chan!"

'PUK! BRUK! SREET!'

Sakura melihat poster limited edition The Cotton yang belum sempat ia pasang itu disobek tanpa perasaan oleh tangan berlumur krim cokelat itu. Hatinya remuk! Sakiiiit rasanya.

"Oh, tidak tidak! JANGAN YANG ITU!"

"HUAAAAAA!"

'SREET! SREET! SREEEEET!'

Sakura menganga. Posternya sudah tidak berbentuk lagi. Ia ingin berteriak, tapi tak sanggup. Tangannya mengais-ngais kepingan wajah-wajah tampan yang termutilasi dengan nista.

Dengan gemetaran, jemarinya kembali menekan-nekan touchpad di handphone-nya. Menghubungi seorang lagi yang ia pikir dapat membantunya. Uchiha Sasuke.

~IDOL NEST~

'TING TONG'

"Sasuke!" Seru Sakura saat melihat pemuda raven itu berdiri di depan pintu rumahnya. Ia kemudian mempersilahkan pemuda itu masuk dan tanpa pikir panjang menyeretnya menuju kamarnya di lantai dua.

"Kau lihat makhluk itu?" Sakura menunjuk Konohamaru yang tengah menekuk lututnya di pojok kamar. Tangisnya sudah berhenti beberapa saat yang lalu. Tapi, ia menolak makan siang.

"Siapa dia?"

"Sepupuku. Bibi Tsunade menitipkannya pada Ibuku dan Ibuku menitipkannya padaku."

Sasuke pun berjalan ke arah Konohamaru dan berjongkok di hadapannya. Mencium parfum maskulin yang asing di hidungnya, Konohamaru pun mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab bertemu pandang dengan onyx Sasuke yang menatapnya datar.

"Siapa kau?"

"Uchiha Sasuke."

Sakura melihat Sasuke berbicara dengan Konohamaru. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka. Tapi sudahlah, Sakura sudah menyerahkan semuanya pada Sasuke. Sesama laki-laki pasti bisa saling memahami.

"Benarkah, Onee-chan?" tanya Konohamaru dengan suara paraunya. Sakura pun mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Benarkah apanya?"

"Kata Sasuke-nii, Onee-chan akan menuruti semua keinginanku."

"Hah?" Sakura menatap onyx Sasuke dengan tatapan 'apa-maksudmu'. Sasuke pun memberi isyarat dengan mengedipkan matanya.

"Ah maksudku, ya, tentu saja."

"Kalau begitu, aku ingin pergi ke taman bermain, boleh?"

~IDOL NEST~

Tokyo Amusement Park

Berterimakasihlah pada Konohamaru karena berkatnya, Sakura terpaksa pergi ke taman hiburan ini hanya dengan sepotong kaus pink bergambar spongebob dan rok rempel hitam selutut. Sakura menatap cemberut bocah yang tengah melompat-lompat kegirangan dengan tiket ditangannya itu. Sasuke sih beruntung, penampilannya masih terbilang 'keren' dan layak. Ah, dari dulu style-nya memang selalu oke.

"Onee-chan, ayo kita naik Jetcoaster!"

"Ah, merry-go-around! Aku ingin naik itu!"

"Onee-chan naik itu!"

"Onee-chan naik ini!"

"Onee-chan!"

"Onee-chan!"

"ONEE-CHAAAAAAN!"

Sakura memegangi lututnya yang terasa lemas. Nafasnya memburu. Peluhnya membasahi sekujur tubuhnya. Sudah, sudah cukup! Sudah cukup bocah alien itu menguras habis isi perutnya!

"Hueeek!"

"Sakura...jangan disini," larang Sasuke sembari mengelus-elus punggung Sakura yang tengah memuntahkan makan siangnya. Onyx itu menatap iba sahabat pink-nya ini.

"Sa-sasu...hueeek!"

"Onee-chan!"

Sakura yang sedang mengelap sudut bibirnya dengan ujung kaus-nya pun menoleh ke arah suara cempreng Konohamaru. Bocah itu tengah tersenyum lebar dengan telunjuknya yang menunjuk ke arah atas.

"Haah?" Sakura menengok ke atas. Disana, ia dapat melihat bianglala raksasa yang menantang langit.

"Kau mau naik itu? Yang benar saja, ini sudah sore, Konohamaru!" ucap Sakura. Lagi pula, ia ingin segera pulang dan mandi. Sekarang, orang tuanya pasti sudah pulang dan mencari mereka.

"Bukan aku! Tapi Onee-chan dan Sasuke-nii!"

Sakura dan Sasuke saling berpandangan. Untuk apa mereka menaiki benda itu?

"Tidak, sekarang sudah sore. Lebih baik kita pulang!"

"Onee-chan..."

Konohamaru menunjukkan wajah memelas pada Sakura, sedangkan Sakura hanya bisa menghela nafas dan berkata, "Baiklah. Satu lagi saja ya."

"Asiik!"

~IDOL NEST~

"Sasuke, maaf ya aku banyak merepotkanmu hari ini," ucap Sakura sesaat setelah mereka berdua menaiki bianglala ini.

"Tidak apa-apa," jawab Sasuke singkat. Mata kelam itu menatap lurus jade di hadapannya. Baru pertamakalinya ia berduaan dengan perempuan. Ah tidak, dulu Sakura bahkan sering sekali tidur seranjang dengan Sasuke. Tapi, entah kenapa...sekarang rasanya berbeda.

"Sasuke."

Sakura memecah lamunan Sasuke dengan suaranya yang lembut. Wajah itu diterpa sinar jingga matahari yang hendak tenggelam, membuat efek dramatis di wajah cantiknya.

Tangan lentik itu menempel pada kaca bianglala. Emerald-nya berbinar-binar. Mulut kecilnya sedikit terbuka, membuat embun tipis menempel di atas kaca.

"Itu..Tokyo Skytree. Indah, bukan?"

"Hn, indah sekali," jawab Sasuke, tanpa mengalihkan pandangannya dari objek di depannya ini.

"Oh ya, Sasuke!" seru Sakura tiba-tiba sambil menghadapkan badannya ke arah Sasuke dan menatap pemuda itu intens. Sasuke pun sedikit tersentak dan reflek menjauhkan tubuhnya.

"Ajak aku kesini lagi ya, lain kali. Tapi jangan ajak bocah alien itu!" Telunjuk Sakura menunjuk ke arah Konohamaru yang tengah melambai-lambaikan tangannya di bawah. Bocah itu terlihat semakin kecil jika dilihat dari sini.

"Hn, baiklah. Tapi lain kali jangan pakai muntah." Sasuke menyentil dahi Sakura dan membuat gadis itu mengaduh. "Hey, apa yang kau lakukan!"

"Hah, andai saja Ibu menitipkan bocah alien itu ke..."

Sasuke tidak bisa memfokuskan pendengarannya. Disaat seperti ini, hanya indra penglihatannya lah yang berfungsi dengan baik. Ia hanya memperhatikan wajah cemberut Sakura yang menurutnya terlihat sangat lucu itu dan beragam ekspresi yang terukir di wajahnya saat ia berbicara. Sasuke pun tersenyum tipis, sebelum bianglala ini mencapai ketinggian terendahnya. Sebelum ia menyadari bahwa ia...

"Onee-chan, bagaimana? Menyenangkan?" Sakura tersenyum ke arah paman yang membukakan pintu bianglala mereka. Ia lalu berjalan ke arah Konohamaru dan mengacak-acak rambutnya.

"Ohoho, tentu saja. Kau menyesal tidak naik!"

Konohamaru memasang wajah cemberut sembari merapikan rambutnya kembali, "Onee-chan lihat apa saja disana?"

"Banyak Sekali. Tapi yang paling keren, Onee-chan lihat Tokyo Skytree dari sana!" ucap Sakura antusias. Konohamaru pun menghentikan aktivitasnya dan menatap Sakura dengan mata melebar.

"Benarkah? Ah, kalau Sasuke-nii lihat apa saja?" Tanya Konohamaru sambil menarik-narik celana jeans yang Sasuke kenakan.

'Aku hanya melihatnya'

Sasuke menghela nafas, "Hn. Tokyo Skytree."

"Waah, pasti Tokyo Skytree kelihatan bagus ya dari sana?"

...menyukai Sakura.

"Oh ya, Aku ingin lihat rumah Sasuke-nii, boleh?" Mereka sudah ada di tempat parkir Tokyo Amusement Park. Mendengar pernyataan Konohamaru, Sakura pun mengernyitkan dahi sementara Sasuke hanya menatap bocah yang memiliki tinggi badan sepinggangnya ini datar.

"Hah, apa? Tidak tidak, kita harus pulang!" Sakura melarang.

"Onee-chan..."

"Biarkan saja, Sakura," ucap Sasuke. Sakura pun menatap heran sahabatnya ini sementara Konohamaru mengacungkan jempolnya ke arah Sasuke.

"Tapi Sasuke!"

"Orangtuamu tidak akan cemas jika mereka tahu kau dan Konohamaru ada di rumahku," jelasnya. Emerald Sakura pun bergulir ke arah bocah enam tahun yang terlihat gembira itu.

"Hah, baiklah, aku mengerti."

~IDOL NEST~

Pintu kayu berwarna cokelat itu terbuka sesaat setelah Sasuke meneriaki Itachi untuk membuka pintunya lewat kamera interkom. Itachi pun muncul tepat di hidung Sasuke saat pintu itu terbuka. "Sasuke, dari mana saja kau- eh, Sakura-chan?" omelannya terputus saat ia melihat sesosok gadis bersurai pink tergeletak lemah di punggung Sasuke. Matanya tertutup dan poni-nya menutupi sebagian wajahnya.

"Kenapa dia?"

"Tidur."

Tiba-tiba, bocah dengan kain yang menjuntai di punggungnya melompat masuk ke dalam rumah mereka sambil berdecak kagum.

"Waah, rumah Sasuke-nii besar!" Konohamaru menatap seluruh lukisan yang terpajang di ruang tamu keluarga Uchiha itu. Kakinya lantas bergerak menuju pojok ruangan dan mengelus-elus vas bunga marmer dengan corak bunga krisan yang sangat indah.

Itachi berbisik, "Siapa anak ini, Sasuke?"

"Sepupunya Sakura, Konohamaru."

"Oh."

Sasuke pun berjalan ke arah tangga yang berbalut karpet merah, hendak menidurkan Sakura di tempat biasanya gadis itu tidur dulu, "Ah ah, Sasuke! Dikamarmu ada..."

Sosok pemuda berambut pirang –diikuti beberapa orang lainnya, muncul dan berjalan ke arah Sasuke yang tengah kepayahan menggendong karung beras berwujud manusia di punggungnya.

"Woy, teme! Darimana- wah, gadis yang waktu itu ya?" Pemuda pirang itu mendekati makhluk yang tengah meneteskan air liurnya di punggung Sasuke ini. Tangannya hendak menyingkapkan poni pink Sakura sebelum Sasuke menepis tangan itu.

"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Sasuke sinis, lantas menatap sekumpulan pemuda tampan itu satu per satu dengan onyx-nya yang tajam.

"Hey hey, tenanglah, kami cuma main."

"Siapa dia, Sasuke?" tanya pemuda berambut merah.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke dengan nada ketus lalu membetulkan posisi Sakura yang hendak merosot.

Konohamaru pun berjalan mendekati Sasuke dan para pemuda itu. Pandangannya tertuju pada seorang pemuda berambut pirang.

"Hey, paman!"

"Bbwh..dia memanggilmu paman, Naruto!"

"Sialan kau, Deidara!"

Naruto berjongkok sambil menampilkan senyuman terbaiknya, "Siapa namamu, nak?"

"Senyumanmu aneh, paman," celetuk Konohamaru jujur. Deidara pun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Naruto ingin sekali menjitak anak ini, tapi ia malas mengganti rugi jika nantinya anak ini menangis meraung-raung sambil melempar barang-barang mahal Uchiha.

"Siapa namamu, nak?" Seorang pemuda berkulit putih pucat, Sai, ikut berjongkok dan bertanya dengan nada ramah sambil tersenyum.

"Konohamaru."

"Hey, kenapa kau tidak menghina senyumannya?!" protes Naruto sambil menunjuk-nunjuk Sai yang masih tersenyum.

"Dobe, tolong ajak dia bermain," ucap Sasuke sambil menidurkan Sakura di atas sofa empuk berwarna krem itu. Ia lantas membuka jaket hitam yang ia kenakan dan menyelimutkannya pada tubuh Sakura.

"Baiklah, kau mau main game yang paling seru di dunia?" ajak Naruto bersemangat. Konohamaru menatap Naruto dengan sebelah alis terangkat.

"Game...apa itu?" tanya Konohamaru.

"Mengacak-acak kamar Uchiha Sasuke! Yeaaay!"

Sasuke yang mendengarnya pun melemparkan salah satu bantal yang ada di atas sofa itu ke arah Naruto dan membentaknya. "WOY, NARUTO!"

Itachi yang melihat keramaian di rumahnya itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa kecil. Ia pun menyadari satu hal, "Oh ya, Naruto, ngomong-ngomong kemana Shikamaru?"

"Dia sedang tidur di kamar tamu. Biarkan saja dia menginap di sini, Itachi!" jawab Naruto sambil berjalan ke lantai dua, menuju kamar Sasuke. Diikuti dengan Konohamaru, Deidara dan Sai.

"Hah, kenapa orang itu hobi sekali tidur sih." Itachi pun pergi ke dapur untuk menyiapkan cemilan bagi para tamu istimewanya.

Gaara, satu-satunya orang yang tinggal bersama Sasuke dan Sakura berjalan ke arah sofa. Ia melihat Sasuke yang tengah menyingkapkan juntaian poni pink Sakura yang menutupi wajahnya.

"Gadis itu lumayan...cantik."

~IDOL NEST~

"Nggh..."

Sakura membuka kelopak matanya. Seketika, cahaya lampu yang terang berlomba-lomba masuk ke dalam penglihatannya, membuat efek silau yang memaksanya untuk menutup kembali mata itu.

"Kau sudah bangun?"

Sakura mendengar suara pria. Tapi anehnya bukan milik Sasuke atau Itachi. Suara ini tidak asing, tidak, bahkan begitu familiar di telinganya, membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Apa mungkin...

"KYAAAAAAAAAA!"

"Sakura?!"

"Sakura-chan?"

Sasuke dan Itachi yang tengah berdiskusi tentang 'siapa yang menghabiskan stok tomat' tiba-tiba menghentikan perdebatannya saat mendengar sebuah suara melengking menggema di telinganya. Mereka lantas berlomba-lomba menuju ruang tamu, tak terkecuali makhluk-makhluk yang tengah memainkan Xbox One Sasuke yang bahkan pemiliknya pun belum pernah memainkannya.

"Ka-ka-kau?!" Sakura berdiri di atas sofa dengan telunjuknya yang mengarah pada seorang pemuda berambut merah yang tengah menatapnya gelisah.

"Ah, aku Sabaku Gaara. Tenang saja, aku bukan orang jahat!"

"Sakura! Ada apa?" Sasuke datang menghampiri Sakura. Tubuhnya seketika menegang saat melihat Sakura berdiri di atas sofa mahal empuknya dengan telunjuknya yang menunjuk ke arah...Gaara?

"—Oh," gumam Itachi saat melihat apa yang terjadi di depan matanya. Ia pun kembali ke tempat asalnya, dapur. Konohamaru dan paman-paman barunya pun datang menghampiri mereka dengan pelipis berkeringat –habis bertempur dengan stik konsol game pinjaman mereka.

Melihat pemuda-pemuda tampan yang menatapnya dengan dahi berkerut itu, Sakura semakin membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Sasssuke...ka-kau, berhutang penjelasan padaku!"

-TBC-


Reisouren deshita!

Gimana minna? Apa di chapter ini feel romance-nya mulai kerasa? Seperti chapter" sebelumnya, saya emang sengaja enggak nge-ekspos gimana perasaan SasuSaku dulu untuk ngejaga biar alurnya gak kecepetan. Nah, dimulai dari chapter ini, segala konflik akan bermunculan *rencananya sih*. GaaSaku juga bakalan banyak muncul setelah ini. Ah, terimakasih juga buat senpai-senpai yang dah ripiu. Ripiu kalian sangat berarti untuk kemajuan saya dan penulisan ff ini ^^

Next chapter password: Hal tak terduga

Review please~