Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!
Summary:
Ini adalah kisah Haruno Sakura, seorang gadis SMA biasa yang sangat tergila-gila dengan sebuah grup musik pria, The Cotton, dan seorang membernya yang bernama Sabaku Gaara. Di saat yang bersamaan, Uchiha Sasuke, sang sahabat, menyembunyikan sebuah fakta! Sebuah fakta yang membuat Sakura dekat dengan sang idola, sekaligus yang mendatangkan dilema untuknya.
.
.
.
Chapter 4: The truth revealed!
Sasuke merebahkan tubuhnya di atas kasur king size bersprei biru tua polos. Ia hanya mengenakan celana pendek putih selutut dan kaus biru berlambang uchiha di bagian punggung–pakaian tidur favoritnya, dengan tangan kanan kekarnya yang ia jadikan bantal. Mata kelamnya menerawang lukisan galaksi bima sakti di atasnya yang bisa menyala dalam gelap. Ritual yang selalu ia lakukan saat ia sedang merenung.
"Sasssuke...ka-kau, berhutang penjelasan padaku!" ucap Sakura saat melihat pemuda itu datang dengan keringat membasahi pelipisnya. Namun Sasuke hanya bungkam. Onyx-nya menatap meja kaca dengan vas bunga di atasnya, tak berani menatap emerald Sakura.
"..."
"Kau...tega sekali Sasuke! kau mengenal mereka dan menyembunyikannya dariku...kau..kau.." emerald itu menatap pemuda di hadapannya sendu. Ia kecewa pada Sasuke. Ia sangat kecewa pada sahabat yang amat ia percayai itu.
"Hn. Maaf."
"Ke-kenapa Sasuke...KENAPA?!" suara seraknya meninggi. Sakura pun jatuh terduduk di atas sofa yang ia naiki. Jemari kurus itu memijat pelipisnya sambil berharap Sasuke akan menjawab pertanyaannya.
"..."
Deidara menatap Sasuke yang masih menatap meja kaca itu dan Sakura yang tengah menatap Sasuke kecewa secara bergantian. "Sebenarnya, apa yang terjadi disini?" tanya Deidara entah pada siapa. Namun tidak ada yang mengacuhkannya.
"Ada hubungan apa kau dengan mereka, Sasuke?!" suara Sakura kembali terdengar. Lebih serak dari sebelumnya, menahan tangis.
"Mereka adalah salah satu sumber penghasilan keluargaku." Pemuda dingin itu akhirnya mengeluarkan suaranya, berbicara dengan kalimat yang lebih panjang dari sekedar 'maaf'. Dahi Sakura mengernyit.
"Kau tau aku tidak secerdas itu, Sasuke."
Sasuke menghela nafas sambil mengalihkan pandangannya ke arah gadis pink itu. Ia tahu Sakura akan berkata seperti itu. Tapi ia bingung, apa perlu Sakura mengetahuinya? lihatlah emerald yang penuh kekecewaan dan rasa penasaran itu. Ia tidak tega untuk tidak berkata jujur.
"Sederhananya..." Sasuke menarik nafas, "keluargaku adalah produser mereka."
Mata Sakura melebar. "Apa?"
Menyadari sesuatu, ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya. Ia pun membolak-balikkan kertas itu sampai ia menemukan deretan huruf yang membuatnya kaget.
'Uchiha Entertainment'
"Hey kau jahat sekali Sasuke tidak memberitahu temanmu sendiri soal ini." Naruto bersuara. Sakura pun menatap Naruto, merasa ada orang yang mendukungnya.
"Iya! Aku setuju! Kau memang jahat, Sasuke!" timpal Sakura, telunjuknya menunjuk ke arah Sasuke. Ia pun menyipitkan matanya, membuatnya terlihat seolah Sasukelah tersangkanya.
"Hah, yang jahat itu kau, Sakura. Sampai tidak tahu produser idola-mu sendiri," balas Sasuke dengan nada sarkastis. Sasuke memang berusaha menjauhkan Sakura dari semua member The Cotton, tapi ia tidak pernah punya keinginan untuk menyembunyikan fakta ini. Sungguh!
"Sudah cukup, jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu, Sasuke!" tuduh Sakura.
'Sebenarnya disini siapa yang salah?'
"Ayo konohamaru, kita pulang!" Sakura pun beranjak dari sofa dan menyeret konohamaru keluar dari rumah itu. Konohamaru berontak.
"Onee-chan, tunggu dulu! Aku belum selesai main!"
'ceklek'
"Kau belum tidur, otouto?"
Itachi membuka pintu kamar Sasuke yang tak terkunci. Sasuke pun bangkit terduduk dan menatap Itachi yang dengan seenaknya menyalakan lampu kamarnya, membuat lukisan bima sakti itu kehilangan keindahannya.
"Aku hanya sedang berpikir."
Itachi terkekeh. "Memikirkan seorang gadis, eh?" Tebaknya lantas menjejakkan kakinya memasuki daerah teritorial uchiha bungsu.
Sasuke pun mengernyitkan dahinya. "Hn. Bukan urusanmu."
"Wow, kau dingin sekali, Otouto. Pantas saja tidak pernah punya pacar."
"Mau apa kau kemari?" Tanya Sasuke mengabaikan pernyataan Itachi sebelumnya. Itachi pun menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya menyapu liar kamar Sasuke.
"Kau tidak berniat membereskannya?"
Sasuke mengikuti arah pandangan Itachi. Ya, bagaimanapun Naruto bersungguh-sungguh soal 'mengacak-acak kamar Uchiha Sasuke'. Sekarang kamarnya bak kapal pecah. Manga-manga shounen berserakan di lantainya bercampur dengan selimut dan bantal. Remah kue dan jus tumpah juga tak tetinggalan menghiasi ruangan luas itu. Mereka juga mencoret-coret tembok dan lantai dengan krayon –mungkin yang satu itu pekerjaan Sai mengingat coretan-coretan itu terlukis rapi.
"Hey hey, jangan seenaknya membereskan kamarku!" Larang Sasuke saat melihat Itachi hendak menyimpan manga-manga shounen yang berceceran ke tempat asalnya. Ah, sebenarnya Sasuke tidak pernah membeli buku-buku tak bermanfaat seperti itu dalam hidupnya. Naruto lah yang membawanya dan menyimpannya di kamar Sasuke, alasannya agar ia tidak mati bosan di rumah besar yang minim fasilitas hiburan itu.
"Kenapa?" Itachi menyimpan kembali tumpukan manga itu ke lantai dan menatap Sasuke dengan sebelah alis terangkat.
Sasuke memandang Itachi yang tengah melihatnya dengan tatapan bodoh. Jemarinya bergerak mengacak-acak bagian belakang rambut raven-nya dan mendengus.
"Kekacauan ini membuatku tenang."
"Hah?"
"Ck, sudahlah, aku mau tidur."
"Baiklah. Kau bereskan sendiri saja ya."
"Hn."
"Selamat malam, Otouto."
.
.
.
'2-A'
Sakura menggeser pintu masuk kelasnya. Hampir semua kursi sudah terisi oleh pemiliknya mengingat bel masuk akan berbunyi lima menit lagi. Dan disanalah duduk seseorang yang paling tidak ingin ia temui sekarang, Uchiha Sasuke.
Melihat pemuda berambut raven yang tengah bergelut dengan pemandangan di luar kaca jendela itu, Sakura menghela nafas. Ia pun berjalan menuju kursinya.
Sasuke sempat bertemu pandang dengan Sakura sebelum gadis itu mengalihkan pandangannya dan duduk tanpa menyapanya sedikitpun. Sakura lantas membuka buku tugas matematikanya, mengingat ia belum mengerjakan tugas yang kakashi-sensei berikan minggu lalu.
'Duh...bagaimana cara mengerjakannya?' batin Sakura sambil menatap putus asa buku tugas itu. Diam-diam ia melirik Sasuke yang masih memperhatikan keluarga burung yang bersarang di antara celah daun pohon cemara itu.
'Dia terlihat santai sekali sih, memangnya sudah mengerjakan ya?'
"Sasu-"
Sasuke menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya ini, merasa bahwa gadis itu tadi memanggilnya. Tapi, sepertinya, dugaannya meleset. Sakura tengah berkutat dengan buku tugasnya.
Sementara itu, Sakura menggigit bibir bawahnya. Hampir saja ia memanggil Sasuke karena ia sudah pusing dengan angka-angka yang sama sekali tidak ia mengerti. Ia ingin meminta sontekkan, tapi ia terlalu gengsi untuk melakukannya. Apa boleh buat, ia terlanjur bersumpah untuk mendiamkan Sasuke sampai pemuda itu mau meminta maaf padanya sambil mencium kakinya.
Sasuke melirik buku tugas Sakura dengan ekor matanya sementara kepalan tangan kanannya ia jadikan penopang dagunya. Sasuke menarik sudut bibirnya sedikit. Gadis itu sepertinya belum mengerjakan tugas rumahnya.
Sasuke lantas mengeluarkan buku tugas matematikanya dari dalam tas. Ia lalu menyimpannya di atas meja dan membuka tugas terakhir yang kakashi-sensei berikan padanya. Jawaban sempurna sudah tertera di sana. Sakura semakin gelisah.
'Duh, bagaimana ini?'
'Sreeeet'
Pria bermasker bernama Hatake Kakashi membuka pintu geser itu. Tangan kanannya menenteng sebuah buku kecil berwarna hijau bertuliskan 'Icha-icha Paradise' di cover-nya. Ia lalu berjalan ke belakang meja guru dan duduk di kursinya.
"Kiritsu!" Seru Hyuuga Neji, sang ketua murid, sambil berdiri dari kursinya. Semua orang pun mengikutinya berdiri. Merasa semua murid di kelas itu sudah berdiri, Neji melanjutkan dengan suara lantang,
"Rei!"
"Ohayou gozaimasu." Semua murid membungkukkan badannya sembilan puluh derajat dan kemudian kembali menegakkan badan mereka setelah Kakashi menjawab sapaan mereka, "Ohayou gozaimasu."
"Chakuseki!" Mereka pun kembali duduk di kursi mereka.
"Baiklah, sekarang kumpulkan tugas rumah kalian," ucapnya tenang sambil tersenyum di balik maskernya. Semua murid di kelas itu –kecuali Sasuke, meneguk ludah. Sakura? Kemeja putih-nya bahkan sudah basah kuyup dengan keringat dingin yang tak terlihat berkat blazer sekolah berwarna hitam yang ia kenakan.
Sakura pun memberanikan dirinya untuk mengangkat tangan. Matanya menatap ragu ke arah Kakashi yang tengah dikerubungi murid-murid rajin yang hendak mengumpulkan tugas.
"Se-sensei!"
"Ya, ada apa haruno?"
Sakura menggigit bibir bawahnya. "A-aku tidak mengerjakan tugas."
"Tidak apa-apa," ucap Kakashi, terlihat menyembunyikan senyum dibalik maskernya.
"Eh?" Sakura bingung. Apakah ini pertanda baik? Apakah Kakashi-sensei tidak akan menghukumnya? Sakura pun tersenyum. Baru saja ia akan berkata terimakasih—
"Sebagai gantinya, berdirilah di pojok sana dengan sebelah kaki dan tangan di telinga."
Mata Sakura melebar. "Tapi sensei—"
"Baiklah, kalian semua buka buku paket halaman 60 dan perhatikan contoh nomor satu itu," ucap Kakashi memotong perkataan Sakura. Sakura pun memajukan bibirnya dan berjalan gontai ke tempat yang Kakashi maksud.
.
.
.
'Gebruk!'
"Sudahlah Sakura, kau tidak perlu semarah itukan?" Ucap Ino panik sambil memegangi bahu temannya. Sakura menatap mata biru Ino, sisa-sisa kekesalan masih terlihat kentara dalam sorot mata itu.
"Kau tau, hari ini adalah hari tersiaaaaal!"
"Aah, jangan gigit tanganku!"
"Maaf," ucap Sakura, mengembalikkan tangan itu pada pemiliknya. Hening. Ino terlihat berpikir sementara Sakura sibuk meredakan kekesalannya.
Mendapat ide, Ino berseru, "Untuk menghiburmu, bagaimana kalau kita pergi karaoke?" Ajaknya. Sakura melirik Ino dengan sudut matanya. Tidak buruk juga.
"Hn, ide bagus, sudah lama kita tidak karaoke-an," ucapnya mendadak riang. Mereka pun keluar dari kelas Sakura dan berjalan menuju tempat yang mereka tuju. Tak jauh dari sekolah.
~IDOL NEST~
Dua orang gadis berseragam sekolah tengah berjalan menyusuri trotoar. Gadis berambut gulali tengah asyik menyeruput milkshake-nya. Sementara gadis berambut pirang itu, sedari tadi menatap gelisah sahabat pink-nya ini.
Ino memilih berdehem untuk membuat Sakura menoleh padanya. Dan segera setelah manik emerald itu bersibobrok dengan aquamarine milikinya, ia pun angkat bicara,
"Sakura, ngomong-ngomong kau dan Sasuke-kun..."
"Sudahlah Ino, aku tidak mau membicarakannya lagi," potong Sakura segera sebelum Ino berbicara lebih banyak. Ya, sebenarnya Sakura sudah menceritakan semuanya pada Ino kemarin malam di telepon –sambil menangis tersedu-sedu pastinya. Ino juga awalnya kaget dengan apa yang Sakura katakan, tapi setelah dipikir-pikir, itu salah Sakura sendiri yang dengan bodohnya tidak mengetahui produser idolanya.
"Tapi Sakura, menurutku Sasuke-kun tidak benar-benar ingin menyembunyikan hal itu," ucap Ino setelah melihat gadis itu membuang gelas plastik berisi milkshake yang tersisa seperempatnya ke tempat sampah yang tersedia untuk pejalan kaki.
Sakura memalingkan tubuhnya sepenuhnya pada Ino dan menatap mata sahabatnya itu intens, "Lalu apa? Kau ingat, kita pernah bertemu dengan seseorang bernama Dobe saat pergi ke rumahnya? Dan dia tidak berkata apapun tentang Dobe itu yang ternyata dia adalah Uzumaki Naruto, salah satu idolaku! Dia malah menyuruh kita cepat-cepat pulang, kan? Apakah itu yang namanya tidak menyembunyikan?"
Ino terdiam. Ia lantas mendenguskan nafasnya yang sempat tertahan demi mendengar penjelasan Sakura.
"Tapi...ah, sudahlah. Sebaiknya kau tidak lama-lama marahan dengan Sasuke ya," ujar Ino lantas memfokuskan pandangannya kebawah.
"Tergantung. Jika dia meminta maaf sambil berlutut padaku, aku mungkin akan mempertimbangkan-"
Suara cempreng gadis musim semi itu mendadak hilang. Ino pun sontak mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping kirinya.
"Sakura?"
Ia tidak dapat menemukan keberadaan Sakura disana. Angin seolah telah meraibkan tubuhnya. Ino pun menolehkan kepalanya ke segala arah untuk menemukan wujud gadis itu.
~IDOL NEST~
"Tergantung. Jika dia meminta maaf sambil berlutut padaku, aku mungkin akan mempertimbangkan-"
Sakura menahan kata-katanya saat ia merasakan sebuah tangan mencengkram erat lengan kirinya. Belum sempat ia memanggil Ino, tangan itu dengan cekatan membekap mulutnya dan menarik tubuh mungilnya ke arah sisi lain tembok salah satu bangunan.
"Mbbbh lhephaskhan!"
Sakura berusaha melepaskan diri dari cengkraman orang yang berusaha menculiknya ini. Ia meronta-ronta dan mendorong tangan kekar yang membekap mulutnya sekuat ia bisa. Semua itu ia lakukan sambil memejamkan mata sebab tak berani menatap orang yang mungkin terlihat sangat menyeramkan nantinya.
"Apa-apaan kau i...ni?" Sakura sungguh terkejut dengan pemandangan dihadapannya saat ia menunjukkan emerald indahnya untuk pertama kali. Disana, seorang pemuda tampan berambut merah dengan tato ai di keningnya tengah tersenyum amat manis dan mempesona.
"Hai, kita bertemu lagi," sapa pemuda itu. Dengan keterkejutannya yang masih tersisa, Sakura pun membuka mulutnya.
"Ga-Gaara-kun?" Tanyanya dengan nada yang lebih lembut dari pada sebelum ia mengetahui bahwa orang yang menculiknya adalah Gaara.
"Maaf aku bukan bermaksud untuk menculikmu," ucapnya seolah dapat membaca pikiran Sakura, "apakah aku bisa minta tolong?"
"Ya?" Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya yang entah kenapa mendadak buram saat melihat senyuman Gaara.
"Di luar sana ada banyak fans yang mengejarku. Aku ingin kau menemui mereka dan menjauhkanku dari mereka. Katakan apa saja terserahmu, yang penting mereka menjauh. Oke?"
"Ba-baiklah." Sakura dengan segera menyetujui. Gaara pun mendorong kecil punggung Sakura keluar dari persembunyian mereka. Sakura sempat melihat Gaara melompat ke belakang tong sampah besar yang ada di sana sebelum Sakura mengalihkan pandangannya ke depan. Dan benar saja ada belasan remaja perempuan yang tengah berlari histeris dari arah sana.
"Ah, permisi, apakah kau melihat sabaku Gaara lewat sini?" Tanya salah satu perempuan dengan rambut dikuncir dua. Mereka semua menatap Sakura dengan serius, berharap jawaban memuaskan meluncur dari bibir mungil gadis itu.
"Y-ya. A-aku melihatnya," ucap Sakura pada akhirnya.
"Kemana? Kemana?" Desak gadis-gadis itu semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura dan memasang kuping baik-baik. Sakura pun meneguk ludahnya dengan susah payah. Bulir-bulir keringat dingin satu per satu menetes dari pelipisnya.
"Di-dia...ke..ke arah sana! Ya, kesana!" Sakura mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah arah. Mereka pun tersenyum dan beberapa menjerit histeris.
"Ah terimakasih! Gaara-sama kami dataaaang!"
Para fans liar Gaara itu berlarian menuju arah yang ditunjukkan Sakura. Dalam hatinya Sakura yakin bahwa dirinya pun akan melakukan hal yang sama jika ia menjadi mereka. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Akan terlihat aneh jika ia menunjukkan kecintaannya pada sang pujaan hati kalau nyatanya ia pernah bertemu langsung dengan Gaara di rumah Sasuke. Dan ia merasa 'sedikit' bersyukur dan berterimakasih pada sahabat ayamnya itu dibalik kekesalannya.
"Sudah aman," ucap Sakura setengah berbisik. Gaara pun mendekat ke arah Sakura dan melihat-lihat keadaan di sekitarnya.
"Terimakasih." Lagi-lagi Gaara tersenyum dan membuat mata Sakura mendadak buram. Ia hampir saja limbung ke depan dan menabrak dada bidang Gaara jika pemuda itu tidak bersuara dan membuatnya sadar.
"Hey, aku belum tahu siapa namamu." Gaara berucap. Sakura pun memandang Gaara tidak percaya. Ia bersumpah untuk memakan tomat yang dibencinya satu ton jika ini adalah mimpi.
"Ha-haruno Sakura. Temannya..." Perkataan Sakura terputus. Dengan lirih ia pun menyebutkan nama itu, "Sasuke."
"Sakura-chan ya. Terimakasih banyak untuk yang tadi." Jade Gaara menatap langit, "sepertinya ini sudah sore, kau mau pulang kan?"
"Ya, begitulah hehe."
"Mau kuantar? Mobilku parkir disana. Sebagai rasa terimakasihku, mau saja ya?" Tawar Gaara baik hati. Sakura pun membelalakkan matanya –kemudian menunduk, kembali menatap Gaara dan menunduk lagi.
"Aaah tapi—"
'tapi ini adalah kesempatan bagus, hohoho'
"Baiklah kalau kau memaksa."
.
.
"Cih."
Pemilik mata onyx itu menatap tajam kepergian mobil berwarna merah yang dinaiki gadis berhelaian pink dan pemuda berambut merah. Obsidian kelamnya menangkap semua yang terjadi dan merekamnya baik-baik dalam memorinya.
Ia pun memutarbalikkan kemudi lamborghini hitamnya menuju kediaman uchiha.
"Hey hey, otouto! Ada apa? Mukamu kusut sekali," ucap Itachi saat ia membukakan pintu untuk adiknya. Tanpa keinginan untuk bercerita sedikitpun, Sasuke melangkah masuk dan melewati Itachi.
"Hn, bukan urusanmu."
Melihat perilaku adiknya yang akhir-akhir ini semakin aneh itu, membuat Itachi semakin sering mengerutkan dahinya. Ia pun mengingat satu hal sementara onyx-nya menatap bayangan uchiha bungsu yang menghilang di tikungan.
'Kekacauan ini membuatku tenang'
"Apa aku perlu memanggil Naruto untuk mengacak-acak kamarnya?"
.
.
'Maafkan aku Konohamaru, aku tidak akan pernah bisa melakukannya.'
~IDOL NEST~
Sementara itu di sisi lain, Ino berteriak memanggil nama sahabatnya sambil berjalan. Hari mulai gelap, jalanan pun sudah semakin sepi. Tapi itu tidak mengurungkan niat Ino untuk mencari Sakura. Ia akan sangat bersalah apabila ada hal buruk yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Sakuraaaa?"
'Brukk!'
"Sakura, apa itu kau?"
'Meoww!'
-TBC-
Halohalohalo minnaaa .
Reisouren deshita!
Maaf telat update hehe *ditimpuk readers*. Padahal janjinya mau update cepet-cepet ya ^^;v
Beberapa waktu yang lalu, authornya sakit, kawan. Seminggu penuh. Sakit ringan sih, tapi cukup puyeng liat layar lappy. Udahnya harus nunggu buat dapet mood dan ide nulis lagi deh. Jadinya acara nulis tersendat. Maafkanlah daku m-.-m
Oh ya, makasih banyak ya buat readers n reviewers yang udah berkonstribusi banyak dalam 'membangkitkan semangat menulis' author *ciumin satu-satu*. Dan sebenarnya, author udah nulis chapter 5-nya kawan. Tapi nanti aja ya publish-nya, diawet-awetin hehe :D
Next chapter password: momen manis
See you later~
