Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!

Summary:
Ini adalah kisah Haruno Sakura, seorang gadis SMA biasa yang sangat tergila-gila dengan sebuah grup musik pria, The Cotton, dan seorang membernya yang bernama Sabaku Gaara. Di saat yang bersamaan, Uchiha Sasuke, sang sahabat, menyembunyikan sebuah fakta! Sebuah fakta yang membuat Sakura dekat dengan sang idola, sekaligus yang mendatangkan dilema untuknya

Chapter 5: Sweet moment with Gaara

Raja hari menyembul dari ufuk timur, cahayanya menyusup melalui sela-sela jendela. Embun sisa hujan tadi malam berjatuhan dari daun talas yang tertanam apik di halaman rumah. Pagi itu adalah pagi yang cerah. Namun tidak cukup cerah untuk menandingi cerahnya hati seorang Haruno Sakura pagi ini.

Saat ia terbangun karena alarm pagi, ia mendapati kejutan yang membuatnya berbunga-bunga. Sabaku Gaara mengiriminya e-mail! Bukan, bukan karena 'orangnya', tapi karena 'isinya'. Yeah, semenjak kejadian Gaara mengantar Sakura waktu itu, ia memang sering saling mengirimi e-mail dengan Gaara. Pemuda itulah yang duluan meminta e-mail Sakura. Alasannya untuk menemaninya mengobrol.

Dan puncaknya pagi ini. Gaara mengirimkan sebaris kalimat yang membuat Sakura menampar pipi-nya berkali-kali. Hampir seratus balikan ia membaca e-mail itu, memastikan bahwa ia tidak salah baca.

"Kyaaaahahaha," pekiknya riang.

"Berisik!"

Sakura terkesiap. Suara siapa itu? Yang ia tahu, orang tuanya pergi keluar kota untuk mengurusi bisnis mereka. Para pekerja? Mereka tak mungkin meneriakinya seperti itu. Sakura pun berancang-ancang. Ia mengambil bantal dan guling yang tergeletak di sampingnya. Siap melempar benda itu kapanpun.

Dan pintu kayu itu berdecit. Sebuah tangan yang agak lentik terlihat menyembul dibalik celah pintu yang seperempat terbuka. Sakura benar-benar melempar bantal dan guling itu saat pintu itu sepenuhnya terbuka –dengan mata terpejam.

"Kyaaaaa!"

"Hey hey! Kenapa kau ini, Sakura-chan?!"

Sakura terdiam. Ini, ini suara yang ia kenali! Ia pun memberanikan diri untuk membuka matanya. Dan di daun pintu itu, ia melihat sesosok pemuda tampan berambut merah yang tengah memegangi bantal dan guling yang ia lempar barusan. Kaus merah sesikut? Celana jeans sebetis? Tak salah lagi!

"Sasori-Nii!"

Dengan keterkejutan yang masih tersisa, Sakura berlari kecil menuju pemuda bernama Sasori itu. Penampilan khas kakak semata wayangnya itu masih sama seperti dulu. Tanpa menunggu Sasori menyapanya, Sakura langsung melompat dan memeluk Sasori erat. Membuat pemuda itu terjengkang kebelakang –dan akhirnya mereka berpelukan sambil duduk.

"Kapan kau pulang? Aku sangat merindukanmu!" Seru Sakura. Air matanya hampir meleleh di pundak Sasori sampai pemuda itu mengeluarkan suaranya.

"Hey, mandi dulu sana! Kau bau!"

"Tidak mau. Biar saja kau ketularan bauku," bantahnya keras kepala. Sakura sangat merindukan aroma maskulin Sasori yang khas. Ia selalu mati-matian menahan tangisnya apabila ia merindukan Sasori. Kehadiran kakaknya ini sangat penting baginya. Ia terlalu menyayanginya –walaupun Sasori bisa sangat menyebalkan.

"Ck, dasar kau ini." Sasori mengalah.

"Ngomong-ngomong, Sakura-chan, bagaimana kabar Sasuke? Sudah lama aku tidak bertemu bocah itu."

Sakura terkesiap. Benar juga, beberapa hari ini ia sama sekali tidak kepikiran dengan Sasuke karena terlalu fokus pada Gaara. Sakura pun melepaskan pelukannya pada Sasori,"Err, dia...dia baik kok, Nii-san," jawab Sakura.

"Benarkah? Besok aku ingin mengunjunginya dan Itachi. Kau mau ikut?" Tawar Sasori. Sakura mendongkak dan reflek berkata,"Tidak mau!"

"Kenapa?"

"Ma-maksudku, aku tidak bisa. Besok ada janji dengan temanku," jawab Sakura tergagap-gagap. Ia pun mengalihkan pandangannya ke lantai.

Melihat gelagat mencurigakan Sakura, Sasori pun memicingkan matanya."Dengan Ino?"

"Hah? Err, bukan. Dengan temanku yang lain."

Sasori terdiam. Ia terlihat berpikir sebelum ia berdiri dan melepas tangan Sakura yang masih mengait lengannya.

"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Dan, kapan-kapan kenalkan pacarmu itu pada Nii-san ya." Sasori pun pergi dan menutup pintu kamar Sakura.

"Nii-san, dia bukan pacarku!" Teriak Sakura lantas berdiri. Ia sempat mendengar kekehan Sasori sebelum pemuda itu benar-benar meninggalkan area teritorialnya. Pipi Sakura benar-benar merona saat ini. Bagaikan sihir, kakinya mendadak lemas mendengar kalimat terakhir Sasori. Ia pun jatuh terduduk sambil menyender ke pintu.

"Gaara-kun? Pacarku? Yang benar saja, Nii-san!"

.

"Sakura, maukah kau menemaniku berbelanja lusa nanti? Aku akan menunggumu di depan Ginza Expo jam 10 pagi. Selamat malam."

.

Hari esok yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Sakura bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menghabiskan satu jamnya untuk berdandan dan empat jam terakhirnya untuk memilih pakaian. Ia malah merengek pada Sasori untuk memilihkannya gaun yang cantik –jujur ia tidak terlalu mengerti selera lelaki.

Dan dengan senyuman yang mengembang di bibirnya yang terpoles lipstik pink natural, ia pun memutuskan untuk pergi ke Ginza Expo dengan mobil baru kakaknya yang terlihat elegan–tentu saja hasil merengek. Walaupun saat itu ia yakin bahwa dirinya akan terlambat mengingat 'persiapan' merepotkannya yang memakan banyak waktu.

"Gaara-kun! Maaf lama menunggu."

Pemuda yang dipanggil Gaara itu menoleh. Sakura bisa mengenalinya dengan mudah walaupun setengah wajahnya ditutup masker dan tato 'ai'-nya sempurna tertutupi topi yang dimiringkan. Gaara pun memasukkan smartphone yang sedari tadi ditentengnya ke saku celana.

"Ah, tidak apa-apa." Gaara tersenyum dan melanjutkan,

"Hey, kau cantik sekali,Sakura," puji Gaara sembari mengedarkan pandangannya ke ujung kaki sampai kepala Sakura. Sakura memang terlihat cantik hari ini. Ia memakai gaun merah muda tanpa lengan dengan bawahan selutut yang mengembang manis. Ia memang sedikit tidak nyaman dengan model lehernya yang rendah dan sedikit mengekspos –ekhm, sekelumit bagian tubuh tersembunyinya. Tapi, Sasori bilang itu gaun yang cantik, jadi ia juga yakin Gaara akan berpikir demikian –dan kelihatannya begitu.

"Ah, ti-tidak juga," ucap Sakura tergagap-gagap. Blush-on yang digunakannya memperjelas pipinya yang merona merah.

"Terimakasih ya, kau sudah bersedia menemaniku hari ini. Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kuajaki berbelanja," ucapnya. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura dan berbisik,"selera para member The Cotton sangat payah."

Mendapatkan perlakuan diluar dugaannya, Sakura melonjak. Darahnya berdesir ke ubun-ubun membuat wajahnya semerah tomat.

"Be-begitu ya, haha."

Gaara menjauhkan wajahnya,"Rencananya aku akan membeli souvenir untuk para fans-ku. Sebagai hadiah untuk mereka yang beruntung di konser kami minggu depan. Kau akan datang?"

"Tentu saja!"

"Bagus."

Gaara pun bergegas mengajak Sakura memasuki pusat perbelanjaan itu. Mereka tidak memasuki bangunan itu melalui pintu masuk seperti biasanya. Gaara mengajaknya ke bagian lain dari gedung itu. Tempat yang belum pernah Sakura kunjungi seumur hidupnya selama ia tinggal di Tokyo. Sebuah tempat dimana semua selebriti seantero jepang biasa berbelanja.

Gaara pun menarik maskernya ke bawah dagu, mencopot topinya dan meletakannya di tas yang ia bawa. Mereka pun memasuki sebuah toko khusus yang menjual souvenir.

"Baiklah. Jika kau menjadi fans-ku, kira-kira hadiah apa yang akan membuatmu senang?" tanyanya pada Sakura di depan etalase-etalase yang menjual souvenir unik yang tidak dijual dipasaran.

'Oh yang benar saja. Bisa melihatmu sedekat ini adalah hadiah yang terindah, Gaara!'

Demi melihat wajah Gaara yang menunggu jawabannya, Sakura pun mulai berpikir. Sulit sekali memikirkannya mengingat ia akan senang dengan apapun yang diberikan Gaara. Tak peduli jika itu adalah barang bekas bernilai tak lebih dari satu yen sekalipun. Tapi tidak mungkin ia berkata seperti itu pada Gaara, bukan?

"Hey, lihat! Apakah menurutmu bros ini bagus?" Seru Gaara memecah lamunan Sakura. Emerald-nya pun bergulir menuju benda yang Gaara tunjukkan. Sebuah bros yang...indah. Bentuknya sederhana. Sebuah bunga yang dikelilingi dengan bunga ukuran lebih mini di atas kelopak-kelopaknya –entah bagaimana, tapi rangkaiannya benar-benar kreatif dan tak terbayangkan. Di bagian tengah bunga itu terdapat replika pink sapphire yang lucu. Hmm, selera Gaara memang bagus.

"Ya, tentu! Itu sangat indah, Gaara-kun!"

Gaara pun tersenyum lembut sembari mengelus-elus permukaan bros itu. Ia lantas mengalihkan jade-nya menatap Sakura.

"Bagus. Kalau kau menyukainya, para fans-ku juga pasti akan menyukainya. Baiklah, aku akan membeli beberapa. Tunggu disini, Sakura." Gaara pun berjalan menjauhi Sakura setelah melayangkan senyuman mempesonanya yang tanpa ia sadari membuat pandangan Sakura menggelap.

"Y-ya."

'Brukk!'

~IDOL NEST~

"Sakura, aku sudah selesai-" mata jadenya membulat.

"Ya, ampun! Sakura!"

Gaara berlari kecil ke arah tubuh Sakura yang tergolek lemah di lantai marmer toko itu. Pemuda itu pun meletakkan tubuh Sakura dalam rengkuhannya dan mulai menepuk-nepuk pipi lembut Sakura.

"Hey, hey! Kau kenapa?" Ucap Gaara panik. Baru saja ia hendak meminta bantuan jika ia tidak mendengar lenguhan Sakura.

"Ghara-khun...lapharr."

Gaara mengedip-ngedipkan kelopak matanya –mendadak lemot. Setelah beberapa detik berpikir, ia pun mengerti.

"Ah, begitu rupanya."

Pemuda itu menyusupkan tangannya di bawah punggung dan lutut Sakura, ia lantas mengangkatnya. Sakura berat –Sasuke sering bilang begitu saat mereka masih kecil. Tapi sepertinya tidak bagi Gaara. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa karung beras yang ia gendong ini berat.

Setelah sampai di parkiran, ia segera mencari mobil merahnya. Meletakkan Sakura di depan –di samping jok kemudi. Lalu melesat pergi.

"Nggh..."

Manik jade Gaara bergulir ke samping. Gadis itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Lihat wajahnya, pucat. Otak Gaara cerdas. Ia bisa merangkai penjelasan dari apa yang dilihatnya. Pemuda itu pun tersenyum –tipis sekali. Sedikit merasa bersalah.

"Kau sudah bangun?" Tanya Gaara. Jade-nya sudah terfokus ke depan.

Sakura perlahan menoleh ke sumber suara."Ke-kenapa aku ada di —Gaara-kun?"

"Ah, kau ada di mobilku. Tadi kau pingsan," jelas Gaara.

"Begitu ya."

Hening.

Gaara terfokus pada jalan raya. Seperti biasa, jalan raya selalu lenggang dari kendaraan bermotor. Yang membuatnya harus berkonsentrasi justru adalah para pejalan kaki yang terlihat bagai kumpulan ikan teri –penuh sesak. Sesekali matanya juga menangkap pesepeda yang melintas sesuai jalurnya.

"Gaara-kun, maafkan aku." Sakura mulai bersuara, tapi ia sama sekali tidak menatap Gaara. Pemuda itu pun hanya meliriknya lewat ekor matanya. Menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.

"Aku..aku rasa aku tidak membantumu sama sekali hari ini. Malah kau yang memilih sendiri hadiah untuk fans-mu," pungkas Sakura. Gaara tersenyum penuh arti.

"Tidak, kau sangat membantu Sakura. Kau membuat mood-ku menjadi baik hari ini. Terimakasih." Lampu kembali hijau. Gaara pun menginjak pedal gas.

"Be-benarkah?" Tanya Sakura –takut salah dengar. Gaara hanya menjawabnya dengan anggukan singkat. Cukup untuk membuat Sakura ge-er selama beberapa menit.

"Ngomong-ngomong, kita mau kemana?"

"Makan siang," jawab Gaara singkat.

"Bukannya ini masih jam..." Sakura melirik jam tangannya,"sebelas?"

"Tidak masalah jika lebih cepat, bukan?"

"Ya, kau benar."

~IDOL NEST~

Gaara memacu mobilnya menuju sebuah restoran mahal di bagian lain Ginza. Terlihat beberapa selebriti yang sedang makan di sana –sisanya orang-orang berdasi. Jadi ia tidak perlu repot-repot menyamarkan diri. Toh mereka pun tidak akan peduli.

Di sana, Gaara memesan banyak makanan. Bukan, bukan untuknya. Tapi untuk Sakura. Sebenarnya, Gaara masih kenyang karena ia sarapan lebih siang. Dan tepat seperti dugaannya, Sakura melahapnya dengan cepat. Hampir semuanya –Gaara hanya makan sedikit untuk menemaninya.

"Sudah selesai? Sakura?"

"Un." Sakura mengelap sisa-sisa makanan di sudut bibirnya dengan tisu. Gaara terkekeh melihatnya. Lucu sekali.

"Bagus. Hah, Aku kaget sekali melihatmu pingsan." Gaara tertawa. Sakura pun ikut tertawa.

Sakura sebenarnya tidak sempat sarapan tadi –sedikit menyesal telah berbohong pada Sasori bahwa ia sudah memakan jatah sarapannya. Ia sibuk berdandan dan memilih pakaian. Tidak sia-sia memang karena Gaara terlihat menyukai penampilannya. Tapi, konsekuensinya ia kelaparan. Dan sialnya Gaara mengetahui semua itu. Semuanya. Termasuk soal berdandan itu. Sudah dibilang, otaknya cerdas.

"Oh ya, Sakura. Ada yang ingin kuberikan."

Sakura menunggu sementara Gaara sibuk mengaduk-aduk tasnya. Apa dia bilang? Ada yang ingin ia berikan?

"Ini." Gaara menyodorkan sebuah benda yang...indah.

"Kalung?"

"Ya. Itu sebagai imbalan karena telah mengantarku. Apa kau menyukainya?"

Sakura menatap tak percaya pada kalung yang kini sudah ada di tangannya. Kalung perak dengan liontin pilin yang membentuk huruf 'S'. Terdapat kombinasi emerald dan pink sapphire sungguhan yang menghiasi liontin itu –hadiah untuk Sakura bukan sekedar 'replika'. Sepertinya mahal.

"Kau bercanda, Gaara-kun! Tentu saja aku menyukainya! Sangat!"

"Syukurlah." Gaara tersenyum.

"Terimakasih," ucap Sakura –menatap Gaara dengan matanya yang berbinar. Gaara menggeleng.

"Tidak usah sungkan. Aku juga senang melihatmu memakainya. Kau tambah cantik dengan itu."

Dan perkataannya sukses membuat pipi Sakura memerah –untuk yang kesekian kalinya hari ini.

"Baiklah, ayo kita pulang!" Seru Gaara setelah memastikan Sakura memakai kalungnya.

"Aku akan mengantarmu. Kau tidak naik kendaraan pribadi kan?" Sambungnya. Gaara akan mengantarnya kembali ke tempat sebelumnya jika gadis itu ternyata membawa kendaraan pribadi.

Sakura menggigit bibir bawahnya.

'Aduh, bagaimana dengan mobil nii-san?'

"Tidak," jawab Sakura pada akhirnya.

'Biar saja nii-san membawanya sendiri. Itu kan mobilnya!'

Dan mereka pun meninggalkan kawasan Ginza. Memasuki wilayah Meguro. Melewati daerah Hinode. Sampai akhirnya berhenti di depan rumah Sakura –berkat Sakura sebagai penunjuk jalan. Rumah dua lantai bercat hijau dengan arsitektur modern yang cukup besar –tidak sebesar rumah Sasuke. Pos satpam yang berjaga di depan gerbang pun membukakan gerbang besi itu saat melihat nona muda-nya keluar dari mobil.

"Terimakasih Gaara-kun. Jaga dirimu ya."

Baru saja Sakura akan memasuki halaman rumahnya, suara Gaara kembali terdengar –memanggilnya.

"Sakura, tunggu!"

Gadis itu berbalik. Sempurna bak seorang putri. Membuat Gaara terpaku beberapa saat sampai suara yang terdengar lembut itu memecah lamunannya.

"Ada apa, Gaara-kun?"

Gaara tersenyum –sedikit salah tingkah."Terimakasih."

Sakura membalas senyumannya –lebih manis dari pada gula."Sama-sama."

Ia pun berbalik, meninggalkan Gaara yang menatapnya memasuki rumah. Diam-diam gadis itu meletakkan tangannya di leher. Memegang liontin kalung yang diberikan Gaara untuknya.

'Hihihi, S untuk Sabaku dan Sakura!'

.

.

.

Tiga ratus meter ke arah barat, di sebuah rumah besar bak istana yang diterangi cahaya berona jingga. Dua orang pemuda tengah bergurau di ruang keluarga. Satu orang lagi tengah menatap yang bergurau itu malas –sambil meminum jus tomat keasaman yang ia buat sendiri.

"Hahaha. Itu sangat lucu, Itachi!" Suara tawa pemuda berambut merah terdengar menggema di ruangan itu. Disusul dengan tawa yang tak kalah melengkingnya yang berasal dari pemuda bermarga Uchiha.

"Hahaha! Aku juga tidak menyangkanya!"

Uchiha Sasuke menatap kedua orang cerewet di hadapannya dengan mata yang setengah terbuka. Tidak, ia tidak mengantuk. Jam tidurnya masih jauh. Ia hanya jenuh mendengar ocehan-ocehan tak berguna yang mereka lontarkan.

"Huahahaha!"

"Ck. Berisik," ucap Sasuke. Telinganya terlihat memerah.

"Ngomong-ngomong Sasori, dimana Sakura-chan? Aku baru menyadari kalau dia tidak ada." Itachi melirik adiknya,"pantas saja Sasuke terlihat lesu."

"Aniki!" Seru Sasuke –bonus tatapan mematikan khasnya.

"Damai damai."

Sasori terlihat berpikir. Ia lantas membuka mulutnya."Ah, Sakura-chan ya? Dia bilang dia ada janji dengan temannya. Atau pacarnya, entahlah."

"Pacar? Sakura-chan sudah punya pacar?" Tanya Itachi. Kedua alisnya bertautan.

Sasori menaikkan kedua bahunya dan berkata,"Entahlah, kelihatannya begitu."

'Puk!'

Sasuke meletakkan gelas berisi jus tomat yang bersisa setengahnya ke atas meja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia beranjak pergi meninggalkan dua orang yang lebih tua darinya dengan tatapan heran mereka.

"Hey, Sasuke! Habiskan dulu minumanmu!" Seru Itachi. Sasuke terus menaiki tangga, merasa tak perlu membalikkan badannya.

"Tidak usah, aku mau tidur," tolaknya.

Setelah wujud adiknya itu sempurna menghilang dari retina-nya, Itachi mulai berbicara –hampir berbisik.

"Hah, akhir-akhir ini dia sangat aneh," ujarnya pada Sasori. Pemuda berambut merah itu hanya mengerutkan dahinya.

"Aneh bagaimana?" Tanya Sasori. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan topik ini –ia pikir lebih seru membicarakan hal-hal lucu jika bersama Itachi.

"Lebih murung dan ketus. Itu semua semenjak kejadian beberapa hari lalu yang melibatkan adikmu."

Mata hazel-nya membulat. Ia pun mendekatkan tubuhnya pada Itachi. Kini ia menjadi orang yang paling tertarik dengan topik ini lebih dari apapun.

"Kejadian apa?" Tanyanya. Penasaran. Amat sangat penasaran.

Itachi pun ikut mendekati Sasori. Berbicara setengah berbisik. Ia menceritakan semuanya. Semua hal yang terjadi beberapa hari yang lalu. Saat teman-temannya mengunjungi rumahnya. Saat Sasuke membawa Sakura yang tengah tertidur dan sepupunya. Saat suara-suara ceria dalam rumah itu mendadak hening –digantikan dengan suara-suara serak bertegangan tinggi. Saat dimana Sasuke terlihat lebih murung dan sentimen.

"Apa jangan-jangan...?!"

.

.

.

'Ceklek'

Sasori membuka pintu rumahnya. Hazelnya menangkap adik semata wayangnya yang tengah menonton televisi. Apalagi kalau bukan acara itu. Variety show The Cotton.

"Sakura-chan, mana mobilku? Jangan bilang kau menghilangkannya?!" Ucap Sasori –intonasinya sedikit meninggi. Saat ia pulang dari kediaman Uchiha, ia mampir ke garasi. Mengecek apakah mobilnya lecet atau tidak –tapi bahkan wujud mobilnya pun tidak ada.

Sakura menoleh ke asal suara. Pemuda berkaus merah bercelana jeans sebetis tengah berdiri memandangnya.

"Ah, Nii-san. Sudah pulang?" Tanyanya berbasa-basi. Sasori memutar bola matanya bosan. Tidak usah ditanya, ia memang sering pulang malam jika sudah bermain di rumah Itachi.

"Ck, langsung saja katakan, Sakura!"

Ups. Apabila Sasori menghilangkan sufiks '–chan' pada namanya, itu artinya ia benar-benar kesal sekarang.

"Aku meninggalkannya di Ginza, hehe," ujar Sakura, mencoba tertawa. Sasori membulatkan matanya. Itu mobil baru mahal kesayangannya yang Tou-san hadiahkan untuk kelulusannya.

"Apa? Kenapa kau tinggalkan?!" Suara baritone-nya meninggi.

"Temanku menawariku tumpangan. Kan tidak enak kalau menolak." Sakura membela diri. Sasori mengepalkan tangannya. Gemertuk giginya pun terdengar.

"KAU INI-!"

"Nii-san..." Sakura memanggil kakaknya lirih. Kepalanya menunduk. Oke, ia memang bersalah. Kakaknya pantas marah. Mobil itu tidak murah. Dan ia akan merasa sangat bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi pada benda itu.

Melihat penyesalan adiknya, Sasori merasa tak tega. Mata yang memancarkan kekesalan itu melunak. Lagi pula, baginya itu bukanlah barang yang terlalu berharga. Andai Sakura mengetahuinya, bahwa satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidup Sasori adalah melihat wajah cerianya. Ya, sesederhana itu.

"Sudahlah. Lain kali aku tidak akan meminjamkan mobilku lagi, kau mengerti?" ucap Sasori pada akhirnya. Ia pun mendekati Sakura yang masih terdiam di posisinya.

"Aku akan mengambilnya. Mana kuncinya?"

Sakura menyusupkan tangannya pada saku roknya."Ini"

Tersenyum. Sasori tersenyum. Tangan yang agak lentik itu mengusap puncak kepala Sakura sebelum ia berkata,"Kau jaga rumah."

Sakura pun mengangkat kepalanya demi melihat tubuh Sasori menghilang dari daun pintu. Ia lantas mengejarnya.

"Nii-san!"

Sasori berbalik. Ia menaikkan sebelah alisnya. Menatap wajah Sakura yang terlihat menyembul dari daun pintu.

"Ada apa lagi?" Tanyanya.

Gadis itu tersenyum lebar –sangat lebar. Matanya menyipit. Jika saja Sasori dapat melihatnya dari jarak itu, emerald Sakura tergenang air. Hampir saja ia menumpahkannya.

"AKU MENYAYANGIMU!" teriaknya sekuat tenaga. Membuat setetes dari genangan itu merembes turun melewati pipinya.

Sasori tersenyum lembut.

'Hn. Dasar.'

-TBC-

Reisouren deshita!

Hehehe, GaaSaku udah mendominasi tuh. Bonus dengan kemunculan Sasori. Gomen kalau romance-nya kurang. Bagaimana pun sisi cool dan boyish author *ohok ohok -keselek* gak terlalu suka dengan adegan romantis yang...romantis.

Ah dan, makasih buat semua readers dan reviewers setia IDOL NEST *ciumin masal*. Karena rempong ngopiin satu-satu, jadi author berinisiatif untuk menuliskan penname kalian yang udah ngeripiu sebagai ucapan terimakasih di chapter akhir. Gak masalah, kan? Biar sekalian:D

Next chapter password: kekasih baru?

Don't forget to review guys *winks*

See you later~