Idol Nest

Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!
Summary:
Ini adalah kisah Haruno Sakura, seorang gadis SMA biasa yang sangat tergila-gila dengan sebuah grup musik pria, The Cotton, dan seorang membernya yang bernama Sabaku Gaara. Di saat yang bersamaan, Uchiha Sasuke, sang sahabat, menyembunyikan sebuah fakta! Sebuah fakta yang membuat Sakura dekat dengan sang idola, sekaligus yang mendatangkan dilema untuknya.

.

.

.

Chapter 6: Sasuke's New Girlfriend

Suasana kelas cukup hening saat itu. Sebagian besar orang lebih memilih mengerjakan tugas bahasa nasional (jepang) dari pada mengerjakan aktivitas lain. Begitu halnya dengan tokoh utama kita, Haruno Sakura. Ya, walaupun sebagian besar kegiatannya diisi dengan melirik gelisah ke arah pemuda di sampingnya –ragu-ragu ingin meminta sontekan.

Sebenarnya tugas rumah mereka tidak terlalu sulit. Hanya sepuluh soal bahasa jepang klasik yang bisa dijawab apabila menghapal. Tapi sayangnya, Sakura tidak pernah belajar. Tidak jika ada ujian.

Baru saja Sakura akan membuka mulut menghilangkan ego-nya untuk memanggil Sasuke, suara-suara seruan mendadak terdengar. Sakura pun reflek menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk. Seorang gadis berambut merah berkacamata berdiri dengan anggun di bibir pintu. Mata ruby dibalik kacamata itu menyapu seisi kelas. Bibir yang dipoles lipgloss pink-nya menyunggingkan senyuman yang manis.

"Wah, siapa dia? Cantik sekali!"

"Dari gayanya, dia pasti seorang model."

Gadis itu mulai melangkahkan kakinya, mengabaikan bisikan-bisikan kagum yang terlontar dari mulut seisi kelas. Sakura kini dapat melihat sosoknya dengan jelas. Ia memang anggun dan cantik. Dan entah sejak kapan, gadis itu sudah berada di hadapan Sakura. Baru saja Sakura hendak tersenyum padanya, gadis itu mendahuluinya dengan sebuah pekikan.

"Sasuke-kun?!" serunya sambil melihat terkejut ke arah Sasuke. Sasuke yang tadinya memandangi jendela –seperti biasa, reflek menolehkan kepalanya ke sumber suara. Sakura dapat melihat onyx-nya melebar.

"Karin?" Sasuke tampak sama terkejutnya saat melihat gadis bernama Karin itu. Secara tiba-tiba, Karin berlari kecil menuju Sasuke –menyingkirkan Sakura yang duduk di sampingnya, dan memeluk lehernya erat.

"Sasuke-kuuun! "

"Akhirnya kita sekelas, Sasuke-kun!"

Sakura yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya berdiri menatap mereka berdua dengan alis berkerut. Dem i apapun, Sakura sama sekali tidak mengenal gadis ini. Ia bahkan tidak tahu kalau Sasuke berteman dengannya.

"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya gadis itu sambil menatap Sakura. Sakura mengangkat sebelah alisnya. Pertanyaan Karin terdengar ambigu.

"Apa?"

"Aku bilang, bolehkah aku duduk di sini?" ulang gadis itu –matanya memicing tajam menatap Sakura. Ia ingin mengambil alih tempat duduk Sakura! Sakura lantas mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke –berharap pemuda itu membelanya. Tapi, Sasuke bahkan tidak meliriknya sama sekali!

"Ta-tapi...di sana ada bangku yang kosong. Di samping orang itu-"

"Kalau begitu, kau saja yang duduk di sana!" ucap Karin jengah. Sakura mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya.

"Asal kau tahu, aku ini kekasih Sasuke-kun! Jadi aku berhak duduk di sampingnya!" Karin berkata sambil menunjuk kursi yang ada di samping Sasuke. Apa yang dikatakan Karin membuat Sakura tanpa sadar membuka mulutnya. Keterkejutannya terangkum dalam sebuah: "Hah?"

Selama dua tahun ia selalu duduk di samping Sasuke –dan itu menguntungkan. Sakura tidak percaya bahwa gadis itu dengan kejam mengusirnya di hari pertamanya bersekolah!

Kesal tak mendapat respon yang ia inginkan, Karin kembali bergelayut manja di lengan Sasuke. Pemuda itu bahkan sama sekali tidak menolaknya. Padahal ia selalu mengeluh 'Sakura, kau berat!' jika Sakura melakukan hal yang serupa.

"Sasuke-kun, bolehkah aku duduk di sampingmu?" rengeknya. Matanya menatap Sasuke penuh harap. Sasuke pun meliriknya sekilas dan mengedipkan matanya sekali.

"Hn."

"Yeeey! Aku mencintaimu~" pekik Karin lantas menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke.

Merasa tak mungkin menang melawan gadis itu, Sakura pun membereskan barang-barangnya dan memindahkannya ke sisi lain ruangan itu. Ia duduk di samping Kiba, orang aneh yang sering menyembunyikan anjingnya di dalam tas sekolah. Dan satu hal lagi. Kiba itu sama payahnya dengan Sakura –dan fakta itu membuat Sakura ingin mengubur dirinya hidup-hidup.

.

~IDOL NEST~

.

Sakura merebahkan kepalanya di atas meja dengan wajah menghadap ke kiri, menatap pasangan bahagia yang mencuri obrolan di tengah penjelasan Iruka-sensei. Kekasih Sasuke itu, Karin, diketahui adalah seorang siswi pertukaran pelajar dari New York. Dia akan tinggal di jepang selama dua minggu, dan semoga saja tidak lebih dari itu. Gadis bermulut tajam itu sangat menyebalkan.

Alis Sakura berkedut saat Karin terus menerus menyentuh lengan Sasuke. Sakura pun mengerlingkan matanya bosan. Cih, bukannya belajar malah pacaran.

"Hah," desah Sakura tanpa mengalihkan tatapannya. Apakah akhir-akhir ini Sasuke pernah memikirkanku?

"...melihat mereka?"

Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia pun bangkit dari posisinya dan menatap Kiba yang juga tengah menatapnya. Kiba terlihat tengah menunggu jawaban.

"Apa?" tanya Sakura, meminta Kiba mengulangi perkataannya yang barusan.

"Apa kau cemburu melihat mereka?" ulang Kiba. Pemuda dengan tato segitiga merah di pipinya itu –yang ia akui sebagai tanda lahir, terlihat tak berniat untuk menyembunyikan seringainya. Sakura bergidik ngeri melihat gigi taring yang runcing-runcing itu.

"Tidak juga," jawab Sakura singkat. Entah mengapa, dadanya terasa sesak saat mengatakan hal itu. Mungkin asma –walau seingatnya ia tidak punya asma. Tiba-tiba perhatiannya pun teralihkan mendengar Kiba tertawa kecil.

"Haha, wajah putus asamu itu lucu sekali!" ucapnya tanpa dosa. Sakura pun kaget sendiri menyadari bahwa ia telah membuat ekspresi sendu yang menjadi bahan olok-olok Kiba. Gadis itu pun mendelik ke arah mata anjing itu sebelum emerald-nya menangkap bagian bawah tas Kiba menggelap.

"Dari pada itu, lihat! Tasmu basah," ujar Sakura menunjuk malas tas yang tersampir di bawah meja teman sebangkunya.

Kiba mengerutkan alisnya sampai ia melihat sendiri apa yang terjadi dengan tasnya. "Oh tidak, Akamaru pasti kencing lagi!"

.

~IDOL NEST~

.

Bel istirahat berbunyi. Emerald yang terlihat malas itu menemukan siluet pirang menyembul dari daun pintu. Seperti biasa, Ino berbaik hati mengunjungi kelas Sakura untuk mengajaknya makan di kantin. Sesosok malaikat yang datang menyelamatkannya dari suhu udara–yang entah kenapa, terasa panas.

Tanpa menunggu Ino memanggilnya, gadis Haruno itu langsung menghambur keluar kelas. Mengamit lengan Ino, dan memaksanya untuk berjalan lebih cepat. Ino yang kaget karena merasa diseret-seret, menghentakkan lengannya yang diamit Sakura. Aquamarine-nya menatap Sakura heran.

"Kau ini kenapa, Sakura?" tanyanya. Sakura tak menjawab. Ia terus berjalan walaupun Ino tertinggal di belakangnya. Tak ingin Sakura meninggalkannya lebih jauh, Ino pun segera berlari kecil menyusulnya.

"Sakura-"

"Ino, apa kau tahu Sasuke kalau sudah memiliki kekasih?" tanya Sakura tiba-tiba –sedikit terdengar terburu-buru. Keheranan Ino akan sikapnya teralihkan, otaknya pun mulai berpikir.

"Ah, tentu saja aku tahu. Orang-orang banyak membicarakannya," jawab heran kalau berita itu menyebar dengan cepat mengingat betapa populernya seorang Uchiha Sasuke –dan betapa cantiknya kekasih Sasuke.

"Memangnya ada ap- Hey! Sakura, mau kemana kau!" panggil Ino saat melihat gadis Haruno itu berbelok ke arah yang tidak seharusnya.

"Toilet. Kau pergi duluan saja," katanya tanpa menoleh. Ino hanya dapat melihat sahabat pink-nya itu dengan heran. Sakura aneh sekali pagi ini, pikirnya.

.

~IDOL NEST~

.

Di sinilah mereka berada, kantin. Butuh waktu lama untuk Ino membujuk Sakura agar mau makan siang bersamanya. Hampir separuh waktu istirahat mereka Sakura sia-siakan dengan berdiam diri di taman sekolah –gadis itu sama sekali tidak pergi ke toilet. Ino menemukannya tengah menggerutu sambil mencabut-cabuti kelopak bunga mawar yang tumbuh subur di sana.

Sakura mengikuti Ino dengan malas, bersumpah untuk tidak melahap habis makanan yang Ino pesankan untuknya. Jujur saja ia tidak suka makan sayur.

Menunggu Ino mengantre makanannya, Sakura melihat-lihat isi kantin untuk mencari tempat duduk yang kosong. Dan manik hijau itu menyipit tatkala bersibobrok dengan obsidian Uchiha. Pemuda itu tengah menyeringai menatapnya–di sampingnya duduk seorang gadis berambut merah yang tengah mengoceh sambil memperhatikan Sasuke meminum jus tomatnya.

Dan begitu Ino selesai mengambil makanan mereka, Sakura segera menariknya menuju meja tepat di samping Sasuke dan Karin. Ino mengaduh karena tangannya ketumpahan kuah, tapi masa bodoh. Ia harus membalas perlakuan mereka!

Sakura mendudukkan pantatnya dengan suara 'duk' keras yang sengaja ia ciptakan. Emerald itu memandang mereka dengan tatapan memusuhi, mengunci jarak pandangnya hanya pada sepasang kekasih tersebut. Hal itu membuat Karin merasa risi.

"Sasuke-kun, temanmu terus menatap kita!" ucap Karin sengaja membesarkan suaranya. Berlagak tak peduli, Sasuke menyeruput khidmat jus tomatnya sambil menutup mata.

"Abaikan saja gadis keras kepala itu," lontarnya.

'BRAK!'

Kesal, Sakura menggebrak meja di depannya dengan keras. Beberapa orang yang merasa kaget menoleh ke arah Sakura, tapi gadis itu tidak mengindahkannya. Emerald-nya menatap Karin dan Sasuke dengan tajam, seolah mereka adalah dua ekor monster yang harus dihabisi.

"Tapi, dia terlihat menyeramkan! Aku takut!" cicit Karin sambil memeluk lengan Sasuke erat. Bereaksi, pemuda emo itu balas menatap Sakura. Obsidiannya tak kalah sengit.

"Sakura, berhentilah menatap kami! Kau menakutinya!" gertak Sasuke. Merasa tersinggung, Sakura bangkit dari kursinya. Ino berusaha menarik lengan Sakura, tetapi gadis itu menghentakkannya dengan kasar. Sakura berjalan mendekati Sasuke dan Karin dengan wajah murka.

"Seharusnya kau tidak perlu berbicara padaku, Uchiha! Urus saja kekasih manjamu itu!" ujarnya kasar. Ia pun melontarkan pandangan benci ke arah mereka berdua sebelum beranjak meninggalkan tempat itu. Tak peduli walau makanan yang Ino pesankan untuknya belum tersentuh.

"Sakura, tunggu aku!" Ino berseru, terburu-buru menyeruput tetesan terakhir jus lemonnya dan menyusul Sakura yang berbelok di tikungan.

Melihat reaksi gadis itu, diam-diam Sasuke tersenyum tipis. Tapi ruby Karin cukup tajam untuk bisa menangkapnya.

.

~IDOL NEST~

.

Suara gemercik air terdengar cukup nyaring di ruangan itu. Setelah mencuci asal wajahnya, gadis itu pun mematikan keran westafel dan mengelap wajah basahnya dengan ujung blazer yang ia kenakan. Ia lantas memandang cerminan dirinya yang tengah menatap emerald-nya datar.

"Apa-apaan mereka..." ucapnya setengah berbisik. Pegangan tangannya pada ujung westafel mengerat. Membuat buku-buku jarinya memutih.

"Apa yang terjadi padamu, Sasuke!" teriaknya lepas. Kesal. Sasuke dan dirinya telah bersahabat sangat lama. Seingatnya tidak pernah Sasuke memprioritaskan orang lain selain dirinya. Sakura pun menggeram membayangkan gadis bernama Karin yang memeluk manja lengan Sasuke. Heh, kekasih ya.

"Cih, apa peduliku! Lagi pula aku masih marahan dengannya. Aku tak peduli walaupun dia jadian dengan gadis berkacamata itu!" sugestinya.

Entah apa yang terjadi, tapi, Sakura dapat merasakan bahwa hatinya bergemuruh. Ia merasa dadanya seakan terhimpit batu. Bukan, bukan karena Sasuke berkata sarkastik padanya –itu sudah biasa. Tapi mungkin karena ia merasa dikhianati. Ia pikir bahwa ia sudah sangat mengenal Sasuke, mengetahui seluk beluknya dan siapa saja orang yang ia kenal. Tapi, Sasuke malah menyembunyikan banyak hal yang menurutnya sangat penting dan tak patut disembunyikan dari seorang sahabat. Ya, ia yakin pasti hanya karena itu.

Sekali lagi, Sakura menyalakan keran air itu dan membasuhkannya ke wajah untuk yang kedua kalinya –lupa bahwa ia telah melakukan hal itu tadi. Sebelum ia keluar dari ruangan yang sedikit licin itu, ia menepuk-nepuk pipinya sampai ia meringis kesakitan. Persetan dengan Sasuke! Ia akan membuktikan pada pemuda pantat ayam itu bahwa ia bisa mendapatkan nilai yang bagus tanpa harus duduk bersebelahan dengannya.

Baru saja ia keluar sambil bersiul-siul, sebuah pemandangan tak mengenakkan terlihat melalui mata hijaunya. Sakura menahan diri setengah mati untuk tidak berteriak. Ia bersumpah demi apapun bahwa ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Uchiha Sasuke dan kekasih barunya –Karin tengah berciuman!

"Sa-Sasuke?"

Sesak. Itulah yang terakhir kali Sakura rasakan sebelum kakinya tanpa ia perintah membawa dirinya menjauh dari pemandangan itu. Berlari sekuat tenaga. Merasa tak perlu repot-repot meminta maaf pada setiap orang yang berteriak 'woy' karena ia tabrak.

'Ada apa denganku? Seharusnya aku tidak peduli!'

.

~IDOL NEST~

.

Sakura mendekap lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. Jam beker di atas meja menunjukkan bahwa sekarang sudah jam sembilan malam, tapi Sakura tidak mau tahu. Pikirannya berisik dengan suara-suara. Handphone-nya yang bergetar menandakan e-mail masuk pun ia abaikan. Masa bodoh!

Tangan lentik itu mengusap cairan yang tanpa ia duga turun merembes membasahi pipinya. Alisnya berkerut, Kenapa aku menangis?

Suara ketukan terdengar di pintunya di ikuti dengan suara baritone yang menyeru, "Sakura-chan! Turunlah, makan malammu hampir dingin!"

Sakura tak menjawab. Ia juga tak berusaha menghapus air matanya. Apa daya, air mata itu terus merembes membasahi pipinya –menolak untuk berhenti. Keheningan pun tercipta.

Apa yang aku tangisi?

Kesal tak ditanggapi, Sasori mengetuk pintu itu berkali-kali tanpa jeda. Membuat telinga Sakura memerah karena jengkel. Tangannya pun meraba-raba kasurnya, mencari senjata. Begitu tangannya meraih bantal yang tergeletak di sampingnya, ia pun melemparnya ke pintu. Menciptakan bunyi 'brak' keras yang mengagetkan Sasori.

"Kenapa anak itu?" gerutu Sasori pelan. Ia pun meraih knop pintu yang ternyata tidak di kunci, dan membukanya.

'Ceklek'

Hazel-nya bisa menangkap gadis itu sedang mendekap lutut. Surai merah muda sepunggungnya terlihat tak serapi biasanya. Heran, ia pun berjalan mendekati Sakura.

"Hey, kau kenap-"

"Menjauh dariku!" potong Sakura, menghentikan langkah Sasori.

Apa aku kecewa karena Sasuke mengabaikanku?

"Apa yang terjadi?" tanyanya. Manik hazel itu menatap khawatir adik semata wayangnya. Belum pernah ia melihat Sakura seterpuruk ini. Bahkan saat ia datang bulan sekalipun!

"Pergilah! Aku ingin sendiri!" usir Sakura dengan suara serak. Sasori bisa menyimpulkan kalau Sakura tengah menangis. Isakannya memang tak terdengar, tapi bahunya bergetar.

Bukan, sifat Sasuke memang begitu dari dulu. Lalu apa?

"Sakura-chan..." Sasori mendudukkan dirinya di ujung kasur. Ia lantas menggeserkan tubuhnya mendekati gadis pink itu.

"Pergi..." ucap Sakura lirih.

Apakah karena aku tidak bisa meminta sontekan darinya lagi?

Tangan Sasori yang agak lentik itu menggapai bahu Sakura. "Sakura-chan!" panggilnya. Namun Sakura bergeming.

Bukan, bukan itu. Lalu apa?

Sasori mengguncang-guncangkan bahu Sakura, memaksa gadis itu untuk mengangkat wajahnya. Hazel-nya pun meredup melihat air mata yang menganak sungai itu terus mengalir deras. Sasori membersihkan tenggorokannya yang sempat tercekat, "Katakan padaku."

A-apa mungkin...

Sakura memilih untuk memalingkan wajahnya, menghindari hazel yang mengintimidasi itu. Namun Sasori meraih dagunya dan memaksa Sakura untuk menatap matanya.

Apa mungkin aku menangisi hubungannya dengan Karin?

"Ka-ta-ka-n!" tegas Sasori dengan menekankan suaranya.

"Nii-san!"

Sasori pun menyabarkan dirinya untuk mendengarkan setiap perkataan Sakura dengan penuh perhatian. Pemuda itu merengkuh lembut adiknya sembari mengelus-elus puncak kepalanya. Sesekali Sasori mengangguk dan memberi nasehat. Sakura tidak tahu, kalau setelah itu Sasori menghubungi Itachi untuk memberi tahu apa yang terjadi.

.

-TBC-

.

Reisouren deshita!

Yo! Maafkan author kalo kelamaan apdet m.m *sebenarnya break kemarin itu untuk nulis semua chapternya, hehe*

Nah loh, muncul tuh satu villain yang mengganggu. Mungkin kalian makin bingung dengan kemunculan Karin dalam cerita mengingat kita udah punya Gaara yang cukup ganggu. Bukannya ini ff SasuSaku? –wait, author akan menjawab beberapa pertanyaan yang readers tanyakan ^^

Q: Kok SasuSaku jarang ada adegan pentingnya sih? GaaSaku malah pas pertama ketemu langsung ada adegan penting.

Well, sebenernya SasuSaku banyak adegan penting-nya kok (baca: romance). Tapi karena mereka sahabatan dari kecil, jadi seberapa romantis-nya pun gak nyadar –soalnya nganggap itu hal biasa bagi sepasang sahabat. Yang pertama nyadar itu si Sasu, Sakura-nya gak peka-peka.

Sedangkan GaaSaku? Sakuranya kan dari awal emang nge-fans sama Gaara. Jadi pas pertama ketemu hasrat fangirl-nya muncul. Tambah menggila lagi karena si Gaara-nya ngerespon –Gaara orangnya emang dingin tapi perhatian, ego-nya juga gak kayak bang Sasu.

Q: Ni ff endingnya SasuSaku atau GaaSaku sih? –atau jangan jangan SasuKarin?

Well, semuanya bakalan kejawab di chapter depan. Hehe yang sabar aja ya kalo ngebingungin. Nanti kalian bakal ngeh sendiri kalo sebenarnya ini erat berkaitan dan sama sekali gak membingungkan! *peace*

Review please~ (kapanpun kalian review bakal saya baca dan kalo perlu saya respon!)

Next chapter password: pernyataan dan penolakan

P.S. Buat yang heran: Di chapter sebelumnya, ada nama pusat perbelanjaan namanya 'Ginza Expo' kan? Arti 'expo' di situ bukan expo yang sebenarnya, kawan. Author kehabisan stok ide buat ngulik nama yang keren. Hehe, jadi harap dimaklumi ya.

See you next time!