Idol Nest

Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!

Summary:
Ini adalah kisah Haruno Sakura, seorang gadis SMA biasa yang sangat tergila-gila dengan sebuah grup musik pria, The Cotton, dan seorang membernya yang bernama Sabaku Gaara. Di saat yang bersamaan, Uchiha Sasuke, sang sahabat, menyembunyikan sebuah fakta! Sebuah fakta yang membuat Sakura dekat dengan sang idola, sekaligus yang mendatangkan dilema untuknya.

.

.

.

Chapter 7: Rejection and Confession

Sakura bangkit dari tempat tidurnya dengan mata sembab. Emerald-nya melirik jam beker yang tidak pernah berbunyi itu –atau Sakura yang tidak pernah mendengarnya. Jam sembilan pagi. Jika ini hari bersekolah, mungkin ia harus menyiapkan telinganya untuk diomeli sensei. Tapi untungnya sekarang hari Sabtu, sekolah diliburkan.

Sudah menjadi kebiasaan Sakura untuk mengecek handphone-nya saat bangun tidur. Ia pun segera meraih benda tipis itu. Benar saja, ada e-mail masuk. Ia pun meluncurkan pandangannya pada tulisan 'pengirim'. Sambil menguap, ia melihat tulisan 'Gaara-kun' tertera di layarnya.

"Sakura-chan!" panggil Sasori. Pemuda itu sudah terlanjur membuka pintu kamar Sakura sebelum pemiliknya menyahut. Kaus merah sesikut dan celana jeans sebetis. Untuk pertama kalinya Sakura bosan melihat penampilan kakaknya itu. Baru saja ia berpikir untuk menyarankan Sasori membeli model baju yang lebih keren, ia mendengar Sasori mengeluarkan suara.

"Bbbwh-"

Sakura mengangkat alisnya.

"Hahaha! Kau terlihat seperti badut, Sakura-chan!"

Sakura melayangkan tatapan maut andalannya. Tapi tak berguna karena itu malah membuat tawa Sasori semakin menjadi.

"Apa itu? jurus deathglare mata bengkak?!" ucap Sasori kepayahan di sela tawanya. Sakura pun mengerucutkan bibirnya sebal dan merengek, "Nii-san!"

Sasori baru bisa berhenti tertawa saat merasakan perutnya kram. Ia meninju-ninju keras lantai marmer itu sambil mengerang kesakitan. Sekarang, gantian Sakura yang tertawa terbahak-bahak. Ia tak bisa berhenti sampai ia juga merasakan penderitaan Sasori. Pada akhirnya, kedua kakak beradik itu dengan kompak meninju-ninju lantai menahan rasa sakit.

"Hah." Sasori menghela nafas berat. Punggungnya bersenderan dengan punggung Sakura. Mereka sama-sama memegangi perut mereka. Rasa sakitnya sih sudah hilang.

"Maafkan aku Sakura-chan," ucap Sasori. Sakura pun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sedikit memaksakan, Sasori bangkit dari duduknya dan membantu Sakura berdiri. Sasori pun berkata, "Ayah dan Ibu sudah pulang. Kau melewatkan sarapan bersama mereka."

Mata Sakura membulat kaget. Ia pun meloncat-loncat kegirangan dan memeluk Sasori. Baru saja ia hendak keluar dari kamarnya untuk menyapa orang tua tercinta, Sasori menahan lengannya.

"Mandi dulu sana, kau bau."

Sakura merengek, "Ayolah, apa salahnya, Nii-san?!"

"Lakukan saja, jangan banyak protes!" tegas Sasori sambil mendorong punggung Sakura ke kamar mandi. Hah, dasar otoriter.

Suara 'tap' khas orang menuruni tangga terdengar. Sakura muncul dengan wajah cerah saat melihat Haruno Kizashi dan Mebuki tersenyum lembut menatapnya. Tanpa ragu ia pun meloncat dan merangkul mereka berdua sekaligus.

"Kau kenapa sayang?" tanya Mebuki lembut. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya. Satu minggu sudah ia tidak bertemu dengan orang tuanya. Mereka berdua pergi ke perancis untuk urusan bisnis.

"Kelian perginya terlalu lama," ucap Sakura sedikit serak.

"Haha, kami hanya tidak tahan mengurusi kau yang keras kepala!" canda Kizashi yang membuat Sakura mengerucutkan bibirnya. Perut Sakura yang belum terisi sejak tadi malam mengeluarkan bunyi 'kriuk'. Mebuki pun tersenyum dan menuntun putri bungsunya itu ke meja makan.

"Ittadakimasu!"

Dan tanpa ia ketahui, seseorang di tempat lain tengah menantinya resah.

.

~IDOL NEST~

.

Sakura berlari secepat yang ia bisa di atas trotoar. Ia hanya memakai kaus spongebob favoritnya dan rok puffy selutut yang ternodai kuah kare. Surai pink sepunggungnya melambai-lambai seiring dengan laju larinya. Beberapa orang mendelik marah karena matanya tercolok oleh helaian rambutnya itu. Tapi ia tidak peduli. Ia sudah membuat orang lain menungguinya selama dua jam!

Flashback

Sakura meletakkan PSP-nya di samping kasur. Bibir pink ranumnya menyeringai puas. Pelipisnya dihiasi oleh bintik-bintik keringat. Ia sudah mengalahkan monster boss di stage terakhir game MMORPG favoritnya.

Emerald-nya melirik jam beker berbetuk hati itu. Jam sebelas. Sakura menelan ludah karena haus. Ia pun meraih handphone yang tergeletak di atas meja dan membuka e-mail masuk yang belum sempat ia baca tadi. E-mail dari Gaara.

'Sakura, aku harap kau bisa menemuiku di Hachiko jam sembilan besok. Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Selamat malam.'

Sakura mengernyitkan dahinya. Bukan, bukan karena ia tidak tahu 'hachiko' itu dimana. Tapi karena Gaara mengatakan bahwa ia akan menunggunya jam sembilan besok.

Besok? Besoknya tadi malam itu kan berarti...hari ini!

Sakura kembali melihat jam beker itu, memastikan bahwa ini bukan jam sebelas seperti yang ia lihat barusan. Ia pun panik mengetahui bahwa jam itu tidak mengelabuinya. Gaara mungkin sudah menunggunya selama dua jam!

Tidak ada waktu untuk berganti pakaian. Persetan dengan noda kare!

Flashback end

Sakura terengah-engah sambil memegangi lututnya. Dua meter di depan ada patung hachiko, tempat yang dimaksud Gaara. Ia pun menarik nafas dalam-dalam dan melangkah perlahan menuju pemuda bertopi yang sedang menyenderkan punggungnya di badan patung.

"Gaara-kun," panggil Sakura. Gaara mengangkat kepalanya. Wajah kecewanya mendadak cerah. Ia pikir Sakura tidak akan datang.

"Aku sudah menunggumu," ucap Gaara sambil tersenyum. Menawan. Sakura mendadak menyentuh dada kirinya. Aneh, tidak ada debaran kencang seperti sebelum-sebelumnya di sana.

"Maaf, aku keasyikan main game, hehe." Sakura mencoba tertawa. Gaara pun tertawa kecil memaklumi. Dilihatnya noda kecoklatan yang menempel di kaus Sakura. Bau kare. Otak cerdas Gaara bisa menebak gadis ini terburu-buru pergi menemuinya.

"Aku...aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Gaara menghindari basa-basi. Jade-nya menatap emerald Sakura dalam. Dengan nafas yang masih belum teratur Sakura bertanya,"Mengatakan apa?"

Ia bisa melihat Gaara mengalihkan tatapannya. Gugup?

"Aku..." Pemuda itu mencoba bersuara.

"Sakura, aku..." Gaara menghela nafas, "ingin kau menjadi kekasihku."

Tenggorokan Sakura tercekat. Ia kaget dengan apa yang terlontar dari mulut pemuda tampan itu. Tapi yang lebih mengagetkan baginya, ia tidak merasakan apapun di dadanya. Biasa saja. Seperti mendengar pernyataan cinta yang selalu diucapkan Rock Lee –pemuda kelas sebelah yang memujanya dan selalu ia tolak. Ada apa ini? Bukankah ini yang ia harapkan?

Sebenarnya bukan hal mudah bagi Gaara untuk menyatakan perasaannya pada Sakura. Jujur saja, ia sudah tertarik dengan gadis itu semenjak ia melihatnya di kediaman Uchiha. Baru pertama kali ia merasakan perasaan tertarik pada wanita seumur hidupnya dan ia pun meyakinkan dirinya untuk memilih Sakura.

"Aku akan melakukan apapun untukmu! Bahkan aku akan keluar dari agensi!" yakin Gaara saat ia melihat raut keraguan dari wajah Sakura. Perang batin terjadi pada diri gadis itu. Pikirannya mendorong ia untuk mengatakan 'ya', karena ini seharusnya adalah hal yang paling membahagiakan seumur hidupnya. Tapi hatinya berkata lain. Ada sedikit keraguan tentang perasaannya.

Dan Sakura memilih untuk mendengarkan kata hatinya sebelum ia menyesal. Dengan satu tarikan nafas, ia pun menumpahkan kata-katanya, "Tidak usah, Gaara-kun. Aku lebih menyukaimu sebagai seorang idol."

Gaara tersenyum kecut.

"Begitu ya."

Penolakan halus. Agensi bakat Uchiha tidak memperbolehkan idol-nya untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun sampai kontrak kerja habis. Dan dengan Sakura berkata bahwa Gaara tetap harus menjadi seorang idol, secara tidak langsung Sakura telah menolaknya.

"Ah, ini. Aku rasa aku tidak pantas memakai kalungmu." Sakura melepaskan kalung yang pernah Gaara berikan untuknya.

"Itu...kau simpan saja, Sakura," tolak Gaara.

"Tidak. Aku akan merasa sangat bersalah padamu jika menyimpannya." Sakura bersikeras dan terus menyodorkan kalung itu, memaksa Gaara untuk mengambilnya.

"Itu bukan kalung dariku," ucap Gaara pada akhirnya.

"Apa?"

"Bukan aku yang membeli kalung itu," ulangnya. Sakura mengerutkan dahinya, mencoba memahami apa yang Gaara ucapkan. Lalu ini kalung siapa?

"Itu milik..."

"...Sasuke."

Dan perkataannya jelas membuat mulut Sakura reflek terbuka.

"Tapi, kenapa-"

"Saat aku berada di rumah Itachi, aku menangkap Sasuke membuang kalung itu, lalu aku diam-diam mengambilnya. Aku pikir, ia berencana memberikan kalung itu padamu saat aku melihat bentuk liontinnya," jelas Gaara.

"Simpanlah."

Sakura pun perlahan menarik tangannya dan mengaitkan kembali kalung itu di lehernya. Entah kenapa ia merasa...lega. Dan itu membuatnya semakin merasa bersalah pada Gaara.

"Gaara-kun, maafkan aku," ucap Sakura. Gaara tidak merespon. Ia tetap bergeming di tempatnya, menundukkan kepala. Sakura mengerti jika ia terus menerus ada di sana, itu akan membuat Gaara semakin terluka. Ia pun memutuskan untuk berbalik badan, pergi dari tempat itu.

"Sakura..." panggil Gaara dengan suara lirih, membuat Sakura menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya menghadap Gaara. Ia bisa melihat cahaya dari mata itu meredup.

"Aku pikir kau juga menyukaiku," ucap Gaara sambil tersenyum kecut. Sakura menatapnya iba.

"Tadinya aku juga berpikir seperti itu." Sakura mengambil nafas, "Tapi, rupanya aku hanya mengagumimu sebagai seorang idol. Maafkan aku."

Gadis itu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. Menahan posisinya cukup lama sampai suara lembut Gaara kembali terdengar.

"Ya, tak apa. Kau tak perlu meminta maaf."

Sakura menegakkan punggungnya. Ia kembali melihat iris yang terluka itu. Sakura tak bisa menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata.

"Aku harap kita masih bisa berteman," ucap Sakura berusaha menahan isakannya. Gaara pun tersenyum tulus, berjalan mendekati Sakura dan menghapus air matanya.

"Tentu saja."

.

~IDOL NEST~

.

Entah setan apa yang merasuki Sakura sehingga ia tidur seharian pada hari minggu! Itu membuat harinya berjalan sangat cepat dan tak terasa sekarang sudah hari senin. Waktunya sekolah. Waktunya pergi ke neraka. Huft.

Hari ini Sasori sedang baik hati mengantarkanya ke neraka. Naik mobil sport-nya yang keren. Mustahil bagi Sakura untuk menolaknya. Lagi pula ia sedang malas mengayuh sepeda.

Sasori segera berputar haluan begitu memastikan Sakura turun tanpa lecet. Gerbang sekolahnya terbuka secara otomatis saat gadis itu menggesekkan kartu absensi elektronik di tempatnya. Ia pun melangkah menuju pintu masuk sekolah.

Tak seberapa dalam ia memasuki gedung itu sebelum ia membelokkan langkahnya saat matanya bersibobrok dengan onyx Sasuke. Pemuda itu tengah menyenderkan punggungnya ke dinding sebelum melangkah mengejar Sakura. Ck, apalagi maunya.

"Sakura!" Sasuke menarik lengan Sakura saat gadis itu mengabaikan panggilannya yang ketiga kali.

"Apa, hah? Kau lupa ya aku ini masih marah padamu!" bentaknya sambil menghentakkan tangan Sasuke.

"Aku tahu," ucapnya singkat. Mutiara hitam itu menatap dalam emerald Sakura. Sakura pun mendesah malas.

"Bagus."

"Aku tahu kau marah padaku bukan karena kejadian seminggu yang lalu," tambahnya tanpa memberi jeda untuk perkataan Sakura.

Sakura memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"

Sasuke tak bisa menahan seringainya. Itu membuat Sakura mundur satu langkah.

"Kau marah padaku karena melihatku bersama Karin, bukan?" tebak Sasuke. Sakura memebelalakkan matanya dan membuka mulut –hendak menyangkal.

"Hah, aku tidak-"

"Aku sudah mendengarnya dari Sasori-nii. Semuanya," potong Sasuke sebelum gadis itu menyelesaikan perkataannya. Sakura pun mematung sambil mempertahankan ekspresi bodohnya. Ia bersumpah untuk menuntut kakaknya yang mungkin tengah bersulang dengan Itachi sekarang.

'Grep'

Tanpa memberi kesempatan Sakura untuk menyangkal lebih jauh, Sasuke merangkul Sakura kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu terbengong di sana. Sasuke pun mulai bersuara, mengucapkan kejujuran yang tak pernah mampu ia ucapkan sebelumnya.

"Sakura. Maafkan aku. Aku selalu menyembunyikan banyak hal darimu, karena..."

"Karena kau selalu membuatku takut, Sakura. Aku takut kau menjauhiku. Aku takut kehilanganmu."

Sakura terdiam cukup lama. Ia pikir, justru ia akan lebih menghargai Sasuke apabila pemuda itu lebih terbuka padanya dari awal. Ia tidak suka kebohongan.

"Sasuke..." ia menjeda perkataannya, "kau egois."

Sasuke meletakkan tangannya di pipi Sakura dan mengangkatnya, membuat emerald itu mau tidak mau menatap lurus onyx kelamnya.

"Itu karena aku menyayangimu! Sedari awal aku menyukaimu, Sakura! Tidakkah kau mengerti?!"

Sakura membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak kencang –begitupun dengan milik Sasuke. Ia merasakan dadanya seperti mau meledak. Rasa sesak yang menyenangkan dan memabukkan menghampirinya. Tulang-tulang rusuknya terasa bergetar seolah tersengat partikel listrik. Membuat sensasi seakan ada ribuan kupu-kupu yang terbang menggelitiki perutnya. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan bersama Gaara sekalipun!

Sakura memejamkan matanya.

"Sasuke..."

Dengan sedikit kekuatan, Sakura melepaskan tangan Sasuke pada pipinya. Ia pun menatap obsidian itu. Manik kelam yang menatapnya dalam –dan lembut. Ada keresahan yang tersorot di dalamnya. Sakura pun menggigit bibir bawahnya.

"Tapi bagaimana dengan Karin-san?" Sakura berkata setengah berbisik. Sasuke hendak menjawabnya sebelum sebuah suara mengagetkan mereka dari belakang.

"Aku bukan kekasih Sasuke."

"Karin-san?"

Gadis berambut merah yang belakangan membuat Sakura kesal muncul secara tiba-tiba dan melontarkan perkataan yang membuatnya terkejut. Ia bisa mendengar Sasuke berdecak.

"Ck, kau menguping rupanya."

"Ahaha, maafkan aku." Karin menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Gerah ingin segera menyelesaikan semua ini, Karin berjalan menghampiri Sakura. Ia lantas meletakkan tangannya di atas bahu Sakura.

"Dengar Sakura-chan, aku bukan kekasih Sasuke," tegasnya.

"Apa? Tapi bagaimana-"

"Dia menyeretku dari New York ke Jepang, hanya demi memintaku untuk pura-pura menjadi kekasihnya. Meminta kepala sekolah juga untuk memasukkanku ke kelas kalian. Untung saja dia membayar kami," jelas Karin sambil memicing menatap Sasuke. Kesan anggun tapi manja yang Sakura kenal dalam diri Karin terhapus begitu saja mendengar penuturannya. Cara berbicaranya seperti gadis urakan. Jadi ini ya wujud aslinya.

"Lalu... ci-ciuman itu?

Karin tersenyum sangat lebar sampai gigi atas dan bawahnya terlihat. Sekilas Sakura mengingatkannya pada seseorang yang familiar. Tapi entah siapa itu.

"Oh, kau kan hanya melihatnya dari belakang. Tenang saja, kami tidak sungguhan kok. Sasuke hanya ingin melihat reaksimu. Dan ternyata sesuai dengan apa yang kami harapkan," jelas Karin lantas mengacungkan dua jempolnya sebagai penutup.

Emerald Sakura menatap Sasuke tajam. "Sasuke!"

Pemuda raven itu membuang wajahnya. Terlihat samar-samar rona merah yang menghiasi pipinya. Manis sekali.

"Aku tidak punya pilihan. Aku hanya ingin tahu apakah kau menyukaiku sebagai seorang pria atau hanya sebatas sahabat. Orang sepertimu itu tidak akan bisa sadar sendiri."

Sakura mengembungkan pipinya sebal. Wajahnya juga terlihat memerah. Menahan malu, kesal, apalah. Ia lantas tersenyum tulus –sayang Sasuke tidak melihatnya.

"Sasuke," panggil Sakura. Sasuke pun menoleh, "-kun."

Pupil hitamnya melebar tatkala ia mendengar Sakura menambahkan sufiks itu pada namanya. Sudah lama ia tidak mendengar gadis pink ini memanggilnya seperti itu. Nama panggilan masa kecilnya.

''Sasuke-kun!" seru Sakura riang sambil meloncat lalu memeluk lehernya erat. Apa yang ia lakukan membuat Sasuke terkejut dan memundurkan langkahnya –tidak sampai terjengkang seperti Sasori. Obsidian itu melebar, namun sesaat kemudian ia tersenyum. Karin yang melihatnya pun ikut tersenyum sambil membetulkan kacamatanya.

"Sekarang aku menyadari bahwa aku juga menyukaimu, Sasuke-kun. Aku selalu membutuhkanmu," ucap Sakura sambil menghirup aroma Sasuke di lehernya. Ia pun sedikit mendongkakkan kepalanya, berbisik, "lebih dari aku menyukai Gaara."

Dan Sasuke menyeringai.

"Kau tahu?" Pemuda itu membuka suaranya.

Sakura yang masih asyik membenamkan wajah di lehernya hanya merespon, "Hm?"

"Karin itu adalah kakak kandung Naruto."

Dan Sakura terdiam seketika. Otaknya memproses kata demi kata yang Sasuke ucapkan. Karin itu apanya siapa?

Begitu loading di otaknya mencapai 100%, Sakura perlahan melepaskan pelukannya pada leher Sasuke. Dengan gerakan patah-patah yang terlihat sangat bodoh, ia menolehkan kepalanya dan menatap Karin. Gadis berkacamata itu menaikkan sebelah alisnya.

"Karin-san! Oh ya ampun, aku senang sekali bertemu denganmu di sini. Kau tahu, aku adalah salah satu penggemar adikmu! Pantas saja cengiranmu sama lebarnya seperti Naruto!" ucap Sakura antusias tanpa jeda sambil menyalami tangan Karin dengan erat dan mengocoknya cepat.

"Ah-hahaha." Ruby Karin menatap Sasuke meminta penjelasan. Namun pemuda itu malah memalingkan wajahnya. Duh, betapa sulitnya menahan seringai.

"Terimakasih," ucap Karin entah pada siapa.

Rasakan.

.

The end of conflict
-But this is not the ending of story-

.

Reisouren deshita!
Fiuh~ akhirnya chapter terpenting ini terselesaikan! Konflik udah diberesin dalam satu chapter. Semuanya udah jelas. Sekarang gak bingung lagi kan? Maap kalo kecepetan, dah greget pengen nyelesein nih *ada project fic baru soalnya*. Ah, sori ye kalo chapternya kebanyakan. Sebenarnya masih ada sekitar dua chapter lagi kawan.

Di dua chapter terakhir itu, ada hal yang tak terduga lagi lho, hehe. Apakah itu? Tungguin aja sampai apdetan berikutnya, oke? Update-nya diusahain cepet kok. Lusa paling lambat dah #halah

Next chapter password: takdir

See you next time~