Idol Nest
Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!
Summary:
Ini adalah kisah Haruno Sakura, seorang gadis SMA biasa yang sangat tergila-gila dengan sebuah grup musik pria, The Cotton, dan seorang membernya yang bernama Sabaku Gaara. Di saat yang bersamaan, Uchiha Sasuke, sang sahabat, menyembunyikan sebuah fakta! Sebuah fakta yang membuat Sakura dekat dengan sang idola, sekaligus yang mendatangkan dilema untuknya.
.
.
.
Chapter 8: Fated Love
Pemuda itu sudah berdiri di sana selama satu jam. Onyx-nya tak lupa mengecek jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya setiap lima menit sekali. Mulutnya berdesah setiap tiga menit sekali. Ia juga mengganti posisi berdirinya setiap dua menit sekali. Kemana saja gadis itu?
"Sasuke-kun! Maaf lama menunggu," teriak seseorang dari arah timur. Obsidian itu pun secara reflek bergulir, menangkap sosok gadis berambut merah muda yang tengah melambai-lambaikan tangan padanya. Wajah riangnya tanpa dosa.
Sasuke berpangku tangan dan membuka mulutnya, siap mengomel, "Kau tahu, aku sudah berdiri di sini selama-"
Ucapannya terhenti saat gadis itu sudah berada tepat di depan matanya. Ia pun memandang penampilan gadis itu dari bawah ke atas dan ke bawah lagi. Mulutnya setengah terbuka karena heran. Alisnya berkerut.
"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya gadis tu polos.
Sasuke pun menatap mata hijaunya dan balik bertanya, "Kenapa kau pakai baju itu?"
"Memangnya kenapa?"
Memangnya kenapa, dia bilang. Mereka pergi berkencan dan gadis itu hanya memakai kaus spongebob, celana jeans selutut dan sendal jepit? Ck, anak ini tidak bisa diharapkan.
"Hn. Lupakan," ucap Sasuke pada akhirnya –pasrah.
"Aku tidak menyangka kau mengajakku ke sini lagi!" cicit gadis itu sambil melihat sekitarnya antusias. Sekelumit bagian atas jet coaster terlihat menyembul dari sini. Telinganya bisa mendengar suara jeritan yang membuatnya semakin bersemangat.
"Bukankah kau yang memintanya?" Sasuke berkata sambil mendesah malas –sedikit senang karena mendengar Sakura antusias.
"Ajak aku kesini lagi ya, lain kali. Tapi jangan ajak bocah alien itu!" Telunjuk Sakura menunjuk ke arah Konohamaru yang tengah melambai-lambaikan tangannya di bawah. Bocah itu terlihat semakin kecil jika dilihat dari sini.
"Hn, baiklah. Tapi lain kali jangan pakai muntah." Sasuke menyentil dahi Sakura dan membuat gadis itu mengaduh.
"Ahaha, benar juga." Sakura tertawa kecil.
Mereka sudah memasuki bagian dalam tempat itu. Bermacam wahana permainan seolah menggoda mereka untuk mencoba satu per satu –err, lebih tepatnya menggoda Sakura. Sakura pun mengedarkan pandangannya sambil menimbang-nimbang apa yang akan mereka coba pertama kali. Sasuke menunggu bosan. Jujur saja, ia tidak suka tempat ini.
"Baiklah, pertama-tama kita naik itu!" putus Sakura, telunjuknya mengarah pada merry-go-round. Sasuke mengernyit. Demi apapun ia tidak mau menaikinya.
"Kau harus menaikinya!" ucap Sakura tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran Sasuke.
"Bukannya kau mau naik bianglala?" usul Sasuke cepat saat melihat Sakura sudah berjalan di depannya.
"Itu terakhir," jawab Sakura singkat. Baiklah, itu artinya gadis ini tidak berniat untuk pulang cepat. Sasuke pun mengikutinya dari belakang sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Hah, apa boleh buat."
"Bersemangatlah sedikit, Sasuke-kun!" ucap Sakura sambil meninju pelan lengan Sasuke. Pemuda itu mendesah pasrah.
Wahana selanjutnya yang mereka naiki adalah jet coaster. Sasuke tak henti-hentinya mendengar gadis itu berteriak "Wihi", "Wuhu" dan "Wahaha" selama lintasan. Seturunnya mereka dari wahana itu, Sakura langsung membeli kantong muntah yang dijual tak jauh dari tempat mereka berpijak.
"Hueek!"
Sasuke mengerutkan wajahnya –agak jijik.
"Sudah kapok?" tanyanya. Sakura pun membalikkan badannya, terlihat bercak air liur di sudut bibirnya. Gadis itu lantas memberinya senyum aneh sambil mengacungkan jempol. Mata Sasuke mengerling bosan.
"Sepertinya tidak."
"Hueeek!"
Dan pemuda itu pun dengan sabar mengelus-elus punggung Sakura. Ia terkekeh geli melihat tingkah gadisnya.
.
~IDOL NEST~
.
Sakura tengah menikmati ice cream vanilla-nya sampai seorang wanita cosplay memberikannya sebuah brosur. Setelah mengucapkan terimakasih, Sakura lantas mengerling pada brosur di tangannya. Namun, ia langsung berteriak dan melemparkan kertas itu begitu melihatnya. Sasuke pun mengernyit dan memungutnya.
"Ghost Dome?"
Obsidian itu menangkap sadako dan kuchisake onna yang terlihat memenuhi sebagian besar space brosur. Pantas saja Sakura berteriak. Gadis itu memang sangat penakut, meskipun ia tidak pernah mengakuinya.
Ia tidak pernah mengakuinya, itu dia! Sebuah ide jahil terlintas di benak Sasuke. Pemuda itu menyeringai sambil menatap Sakura yang tengah menangkupkan tangan di wajahnya. Ia pun memanggilnya.
"Kau pasti tidak akan berani memasukinya, kan?" ucap Sasuke begitu gadis itu melihat ke arahnya. Sakura mengernyit tak suka.
"Memangnya kau berani?" tanya Sakura meremehkan. Sasuke pun berdecak.
"Tentu saja, aku tidak penakut sepertimu!"
Wajah Sakura memerah.
"Aku bukan penakut!"
"Kalau begitu, buktikan! Aku akan menarik kembali ucapanku kalau kau bisa bertahan di sana tanpa berteriak," tantangnya. Gurat keraguan terlihat jelas di wajah ayu gadis itu. Tapi apa boleh buat, ia tidak suka diremehkan. Inilah kelebihannya sedari dulu –atau bisa dibilang, kelemahannya.
Hanya tidak boleh berteriak kan? Oke, itu mudah.
"Baiklah, aku setuju!"
Mereka pun pergi ke wahana itu. Ghost Dome.
"Sasuke-kun, jangan jauh-jauh dariku," ucap Sakura begitu mereka memasuki dome-nya. Wahana itu terlihat bundar dan sempit dari luar, tapi di dalam, seperti labirin. Hawa dingin menusuk kulit mereka saat memasukinya. Lampu yang remang-remang itu selalu padam dan menyala kembali. Suara-suara kikikan dan tangisan juga terdengar menggema tak beraturan.
'Sreeet'
Sakura reflek menengokkan kepalanya ke kiri saat mendengar suara robekan kertas. Entah apa itu, lampunya sedang mati. Ia pun membekap mulutnya saat sesuatu yang dingin mencolek kakinya. Bagaimana pun, ia tidak boleh berteriak.
Sasuke menyeringai melihat wajah ketakutan Sakura saat lampunya menyala. Tidak ada hantu yang berani mengganggu Sasuke. Toh sebelumnya ia sudah membisiki penjaga wahana itu –apalagi kalau bukan menyogoknya.
Obsidian itu melirik ke arah sadako yang tengah berdiri seram dengan rambut panjang menutupi sebagian besar wajah. Pemuda itu pun membisikinya, "Bergeserlah sedikit!" perintahnya tanpa rasa takut. Sadako itu menurut. Sasuke lalu memosisikan dirinya agar Sakura tidak bisa melihatnya.
"Sasuke-kun?" cicit Sakura saat menyadari bahwa pemuda Uchiha itu sudah menghilang dari sisinya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun tidak ada yang ia lihat kecuali hantu-hantu yang bahkan terlihat samar dan oranye. Gadis itu mengernyit ngeri.
"Sasuke-kun, kau dimana?" serunya lagi dengan suara rendah. Tidak ada jawaban. Baru saja ia berpikir bahwa salah satu hantu menculik Sasuke, seseorang berbisik sambil meniup tengkuknya.
"Sakura. Fuh."
"Kyaaaaaaaa!" Sakura reflek berteriak. Ia pun mengerucutkan bibirnya sebal saat melihat dalangnya.
"Uh~ aku membencimu!" ucap Sakura sambil memukul pelan dada Sasuke. Pemuda itu menyeringai.
"Kau berteriak," katanya singkat.
"Aku tidak akan berteriak kalau kau tidak mengagetkanku!" tegas Sakura. Sasuke pun mengambil langkah untuk berjalan di depan Sakura.
"Aku tidak peduli alasanmu. Pokoknya kau berteriak," balas Sasuke. Sakura sempat mengembungkan pipinya sebal sebelum lampunya kembali mati dan ia melihat sesosok hantu berpakaian perawat tengah menatapnya seram saat lampunya menyala.
Tahan nafas dan...lariiii!
"Sa-sasuke-kun!" Sakura berusaha mengimbangi langkah Sasuke. Sesaat kemudian, ia pun kembali membekap mulutnya saat sebuah boneka jerami yang berlumuran darah tiba-tiba muncul di depan wajahnya. Sasuke yang melihat wajah konyol Sakura hanya terkekeh kecil.
Terlalu ketakutan untuk menyadari, pemuda emo itu mencuri kesempatan untuk mendekatkan tubuhnya pada tubuh mungil Sakura. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu menegang.
"Eh?"
Sakura mendapati lengan kiri Sasuke tengah merengkuh pundaknya dan menarik tubuhnya menempel ke tubuh bagian kiri Sasuke. Pemuda itu membuang wajahnya dengan bibir yang berkedut-kedut.
"Setidaknya kau tidak harus membekap mulutmu dan membuat wajah bodoh," jelas Sasuke.
Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian ia tersenyum. Mereka berdua pun bersama-sama mencari jalan keluar labirin rumit itu. Kini Sakura memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada Sasuke untuk meredam pekikannya.
.
~IDOL NEST~
.
Hah, kenapa ada bioskop di tempat seperti ini? Sasuke mengeluh. Ia menatap tak bersemangat gadis berhelaian pink yang tengah mengantre untuk mendapatkan tiket. Obsidiannya pun meluncur ke arah poster film yang akan mereka tonton sekarang. 'The Sacrifice of Love'.
Sebagian besar yang pemuda Uchiha itu lakukan saat film berputar adalah menatap ekspresi bengong Sakura dengan mulutnya yang tersumpal popcorn –yang menurutnya bodoh, tapi lucu. Selebihnya ia menggeliat tak nyaman di kursinya karena pegal. Sasuke sama sekali tidak memperhatikan jalan cerita dari film itu kecuali bagian terakhirnya.
"Aku tak menyesal jika mati dipangkuanmu." Seorang pria berpakaian khas bangsawan eropa zaman dulu itu tergeletak lemah di atas pangkuan seorang wanita berpakaian usang. Mulut pria itu dibanjiri dengan darah, cahaya dari mata birunya meredup.
"Jangan bicara lagi, Ron!" larang wanita itu sambil menangis dan memeluk tangan pria yang ada di pangkuannya. Si pria tersenyum. Tangannya yang bebas berusaha keras meraih pipi wanita itu dan mengelusnya lembut.
"Selamat tinggal, Eliza," ucapnya untuk yang terakhir kali. Dengan wajah panik, wanita itu mengguncang-guncangkan tubuh si pria. Ia pun berteriak seperti orang gila begitu mengetahui kalau pria-nya benar-benar sudah mati.
Obsidian Sasuke bergulir ke sampingnya begitu mendengar suara ingus yang ditiup keras pada selembar tisu. Ia melihat gadisnya berurai air mata. Emerald beningnya yang seperti mata kucing itu memantulkan layar hitam dengan nama-nama pemain dan staf film yang meluncur cepat.
Dasar wanita.
Sasuke kembali mengalihkan perhatiannya menuju layar hitam bertuliskan 'The End' itu dan menerawang. Jika ia juga harus mati untuk melindungi gadisnya seperti si Ron itu, ia sungguh tak akan ragu untuk berkata 'dengan senang hati'.
.
~IDOL NEST~
.
Ini yang terakhir. Sasuke meneguk ludahnya susah payah. Onyx-nya melihat jam tangan hitam di pergelangan tangannya, jam dua siang. Bianglala itu memang tidak terlalu romantis jika dinaiki saat siang hari. Tapi, ia harus menaikinya demi menjalankan misinya.
"Ah, ini masih ada!" seru Sakura begitu pintu bianglala itu terbuka dan mereka pun segera duduk. Onyx-nya mengerling pada apa yang Sakura tunjukkan. Sebuah tulisan tangan yang terbuat dari spidol permanen tertulis di atas dinding logamnya.
H. Sakura & U. Sasuke
Sasuke menaikkan sebelas alisnya dan bertanya, "Sejak kapan kau menulisnya?"
"Waktu pertama kali kita naik ke sini. Masa kau lupa, waktu itu aku kan sudah menunjukkannya padamu," jelas Sakura sambil merenggut. Sasuke pun menaikkan kedua bahunya. Saat itu ia kan sedang terfokus pada 'hal lain'.
"Hehe, ini kutulis sebagai kenang-kenangan," ucap Sakura terkekeh sambil menatap bangga hasil karyanya. Sasuke ikut tersenyum kecil.
"Lihat itu, sky tree!" cicit gadis itu begitu mereka sampai di ketinggian di mana mereka bisa melihat sky tree dengan jelas. Seperti sebelumnya, Sakura menempelkan tangannya di atas kaca dengan mulutnya yang terbuka kecil mengeluarkan embun. Sasuke memutar bola matanya bosan.
"Ayolah, sky tree tidak seluar biasa itu kan?" ucap Sasuke sambil menyenderkan punggungnya dan menatap objek yang sedang Sakura lihat.
"Kau bercanda, Sasuke?" Sakura membalikkan badannya pada Sasuke dengan pandangan tak percaya. Sasuke pun mengalihkan perhatian matanya pada Sakura.
"-kun," tambah Sasuke cepat.
"Ya ya, baiklah. Sasuke-kun. Sky tree itu bangunan yang tingginya mencapai 600 meter! Salah satu karya indah tertinggi yang bisa diciptakan manusia!"kata Sakura antusias. Ia bisa melihat pupil Sakura melebar, tandanya ia sangat tertarik dengan apa yang ia bicarakan.
"Lalu?" tanya Sasuke bosan.
Sakura mendekatkan kepalanya pada Sasuke sambil memicing tajam, membuat pemuda itu menahan nafasnya. "Lalu yang paling keren, bagian teratasnya...bisa berputar."
Sakura pun kembali menarik kepalanya. Ia bisa melihat Sasuke mendengus. Masa dirinya kalah keren dengan bangunan yang bisa berputar.
"Itu tidak keren, Sakura."
Sakura menambahkan dengan cepat, "dan bercahaya seperti mercusuar."
Sasuke memejamkan matanya. Ini siang, sky tree tidak bercahaya, komentarnya dalam hati. Sejenak ia merasa bodoh karena meladeni ucapan Sakura. Seharusnya tadi ia mengangguk dan berkata dengan riang 'Ya, kau benar!', tapi ini sudah terlanjur. Err...terlanjur cemburu lebih tepatnya.
"Kau terlalu mendramatisir," komentar Sasuke sesaat setelah ia membuka matanya. Nada menyebalkan seperti biasa. Khas Uchiha Sasuke.
"Kau kan juga pernah pernah terpesona dengan sky tree!" tuduh Sakura.
Sasuke mengernyitkan dahinya dan berkata, "Kapan?"
"Waktu itu!"
"Ah, kalau Sasuke-nii lihat apa saja?" Tanya Konohamaru sambil menarik-narik celana jeans yang Sasuke kenakan.
Sasuke menghela nafas, "Hn. Tokyo sky tree."
"Itu tidak berarti bahwa aku terpesona pada bangunan itu. Lagi pula aku tidak memperhatikannya," bela Sasuke. Dalam hati ia merutuki penggagas, arsitek, toko matrial dan kuli-kuli bangunan yang ikut andil dalam pembangunannya. Apa-apaan itu? Merebut perhatian Sakura-nya.
"Memangnya waktu itu kau lihat apa saja, hah?" ucap Sakura pada akhirnya setelah menghela nafas panjang. Sasuke terlihat berpikir sejenak sebelum ia membuka mulutnya.
"Aku hanya..." ucapan Sasuke terputus.
"Hanya apa?"
Sasuke menarik nafas dalam-dalam.
"Hanya melihat dirimu." Sasuke tidak sedang menggombal!
Ini Sasuke-kun sungguhan?
'Cup'
Sasuke mengecup lembut bibir hangat Sakura. Onyx-nya terpejam. Sakura membelalakkan matanya.
Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa menit sampai keduanya kehabisan pasokan oksigen. Tangan Sasuke pun meraih bagian belakang kepala Sakura dan mendorongnya pelan. Dahi mereka bersentuhan. Mata mereka saling berpandangan. Rona merah lembut menghiasi pipi keduanya.
"Sasuke-kun."
Setelah itu, Sakura mengeluarkan spidol hitam permanen yang tersimpan saku celananya. Ia membubuhkan tulisan tambahan di bawah nama-nama mereka. Sasuke tersenyum tulus melihatnya.
H. Sakura & U. Sasuke's
First Kiss on 17 July
Mission complete. Sasuke menyeringai.
.
~IDOL NEST~
.
Jam tiga tepat. Mereka memutuskan untuk pulang setelah mereka menghabiskan makan siang telat mereka di sebuah restoran mahal di Ginza –yang bersebelahan dengan restoran yang pernah Sakura masuki bersama Gaara. Kini mata mereka berdua tengah terpaku pada jalan raya. Tidak ada percakapan di sana sampai suara lembut Sakura terdengar.
"Sasuke-kun," panggilnya.
Dengan mata yang masih terfokus pada jalan raya Sasuke manjawab, "Hn?"
"Waktu itu aku kan tertidur di mobilmu, apakah ada yang kulewatkan?" tanya Sakura. Entah apa yang membuatnya bertanya seperti itu. Hanya...tiba-tiba penasaran. Seolah ada suara yang membisikinya untuk bertanya demikian.
"Yang kau lewatkan?" Sasuke mengulang perkataan Sakura. Ia bisa menduga gadis itu mengangguk. Sasuke pun mulai berpikir dan menyerahkan urusan mengemudi pada alam bawah sadarnya.
"Sasuke-nii suka sama onee-chan ya?"
Sasuke melirik bocah berusia enam tahun yang duduk di pangkuan Sakura dengan ekor matanya. Gadis itu sudah terlelap beberapa saat yang lalu. Mereka hendak menuju kediaman Uchiha dengan Sasuke yang mengendarai lamborghini hitamnya.
Sasuke membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali. Bingung dengan apa yang ia katakan pada bocah ingusan yang sok mengerti 'suka-sukaan' ini. Onyx-nya menatap lurus jalanan aspal yang tersoroti lampu mobilnya.
"—iya." Akhirnya satu kata itulah yang ia ucapkan.
Keheningan pun melanda mereka. Hanya deru lembut mesin mobil yang terdengar. Konohamaru menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum lebar. Sasuke melirik bocah yang ada di sampingnya itu sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke jalan raya.
"Kalau Sasuke-nii yang jadi pacar onee-chan, aku akan mendukungnya!"
Sasuke menahan napas saat mengingat hal itu. Ia masih merasakan dengan kentara dukungan Konohamaru yang tersampaikan dengan baik padanya sampai saat ini. Bahkan ia masih mengingat dengan jelas bagaimana rupa gigi ompong yang bocah itu tunjukkan padanya –lupakan.
"Hn. Tidak ada," ucap Sasuke pada akhirnya.
"Oh. Begitu ya."
Ekspresi kecewa Sakura mendadak hilang saat ia menemukan hal yang janggal. Kepalanya berputar ke kiri dan ke belakang dengan alis bertautan. Jalanan yang mereka lewati memang tidak asing, sangat familiar malah. Tapi, ini bukan jalan ke rumah Sakura.
"Sasuke-kun, ini kan jalan ke rumahmu," ucap Sakura sambil menatap Sasuke heran.
Pemuda itu pun mengangguk dan menjawab, "Memang."
"Kenapa? Bukannya kau mau mengantarku pulang?" tanya Sakura, tidak bisa menghilangkan wajah herannya.
"Orang tuamu ada di rumahku. Sasori-nii juga," jawab Sasuke tenang.
"Orang tuaku dirumahmu?"
"Hn."
Gadis itu menerka-nerka apa yang orang tuanya dan Sasori lakukan di rumah Sasuke. Keluarganya memang biasa mengunjungi kediaman Uchiha saat hari besar atau pun saat merayakan sesuatu. Tapi, seingatnya ini bukan hari spesial.
Menyerah untuk menebak, Sakura memutuskan untuk bertanya.
"Ada acara apa memangnya?"
Sasuke mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin reunian keluarga."
Tak lama kemudian, kediaman Uchiha yang sebesar istana itu mulai terlihat. Saat seseorang membukakan pintu untuk mereka, Sakura tak bisa menahan untuk tidak terkejut.
"Sakura-chan, kami sudah menunggumu!" seru seorang wanita dewasa cantik sambil memeluknya. Sakura pun balas melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu.
"Obasan? Kapan kalian pulang?!" tanyanya dengan nada heran dan senang. Wanita bernama Uchiha Mikoto –ibunda Sasuke, itu tersenyum anggun sambil melepaskan pelukannya pada Sakura.
"Tadi pagi. Maaf tidak mengabarimu dulu, Sakura-chan. Kami ingin menjadikan kepulangan kami sebagai kejutan. Ah, orang tuamu juga ada di dalam. Mari, masuklah." Mikoto membukakan pintu itu lebar-lebar. Sakura pun mengangguk dan masuk ke dalam. Ia sempat melihat Mikoto memeluk Sasuke dan mencium pipinya gemas –Sakura jadi geli sendiri melihatnya.
"Okaasan? Otousan?"
Benar apa yang Sasuke dan ibunya katakan. Orangtua Sakura juga ada di sana. Mereka langsung berdiri begitu melihat Sakura. Ibunya memeluk Sakura sementara ayahnya mengacak-acak rambut pink-nya.
"Sakura-chan! Duduklah. Nak Sasuke juga," ucap Kizashi mempersilahkan. Dengan wajah heran mereka pun duduk bersebelahan di atas sofa yang kosong. Mungkin benar kata Sasuke, ini adalah reuni keluarga. Semua anggota keluarga Haruno dan Uchiha berkumpul di ruang tamu itu.
"Wow, ada apa ini?" tanya Sakura begitu mendudukkan dirinya di atas sofa. Ia bisa melihat mereka semua tersenyum ganjil.
"Kami sudah mendengarnya dari Sasori dan Itachi," ucap Mikoto. Sasuke dan Sakura pun langsung mengalihkan pandangannya pada Itachi dan Sasori yang dibalas cengiran oleh mereka.
"Mendengar soal apa?" kali ini Sasuke yang angkat bicara.
"Soal hubungan kalian," jawab Mebuki.
Keduanya membulatkan mata mereka. Pikiran mereka melayang pada kemungkinan-kemungkinan terburuk. Sakura pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa kalian..." ucapannya terjeda, " tidak setuju?"
"Tidak, Sakura-chan! Kami sangat setuju!" kata Mikoto terburu-buru. Sakura pun mendesah lega. Kemudian emerald-nya menangkap orang tua mereka –dan kakak-kakak mereka, menyeringai. Kata-kata yang terlontar dari mulut Mikoto selanjutnya membuat mereka kaget tak terkira.
"Haha, sebenarnya kami sudah menjodohkan kalian sejak kalian masih bayi," ucap Mikoto disusul dengan tawa Mebuki dan Kizashi. Ayah Sasuke, Uchiha Fugaku, yang lebih dingin dari es kutub utara itu pun tak bisa untuk tidak tersenyum.
"Ya, bahkan saat kalian bayi pun kalian sulit dipisahkan. Lengket seperti lem." Mebuki menambahi. Pipi Sasuke dan Sakura pun kompak memerah. Sedekat itukah?
Itachi menyikut lengan Sasori saat ia melihat wajah malu-malu kedua adik mereka. Dengan senyuman yang belum hilang dari bibirnya, Sasori menoleh. "Akhirnya kita bisa jadi saudara sungguhan," bisik Itachi senang. Sasori pun mengangguk dan mereka berdua terkikik bersamaan.
"Ibu, kenapa tidak memberitahu aku!" ucap Sakura setengah sebal karena orang tua mereka menyembunyikan hal ini. Sejenak Sakura merasa terkucilkan karena akhir-akhir ini orang-orang terdekatnya banyak menyembunyikan hal-hal penting darinya.
"Maafkan kami. Kami hanya ingin melihat perkembangan kalian dulu." Mebuki berkata sambil tertawa. Wajah sebal Sakura pun terhapuskan oleh senyuman yang tak bisa ia tahan.
"Kau dengar itu, Sasuke-kun?" Sakura menoleh ke arah Sasuke. Pemuda itu memejamkan matanya sejenak dan tersenyum lembut.
"Ya."
Naruto, Deidara, dan Sai yang menguping di lantai atas pun tak bisa menahan senyuman bahagia mereka. Kecuali Gaara, satu-satunya orang yang bersedih di sini. Ia hanya bisa tersenyum kecut tak berdaya. Sementara itu, Shikamaru yang memperhatikan tingkah bodoh teman-temannya ini hanya menguap lebar-lebar.
"Wuih, mereka bahkan berjodoh sejak lahir," bisik Deidara.
"Aku jadi iri." Naruto menanggapi.
Melihat teman-temannya yang terbawa suasana, Shikamaru pun mendengus keras-keras.
"Merepotkan saja."
.
-The End-
.
Reisouren deshita!
Yeah, akhirnya author bisa membayar lunas hutang author pada kalian. Yups, ini seharusnya menjadi chapter terakhir, kawan. Tapi, author masih punya satu lagi chapter omake. Rencananya sih mau publish besok atau lusa. Liat nanti aja deh :)
Oh iya, chapter ini didedikasikan untuk A-san yang misterius. Well, saya menduga kalo kamu itu adalah penggemar berat SasuSaku, benarkah? Hehe, gomen banget kalo chapter-chapter kemaren itu bikin kamu kecewa *bow*. Jujur, saya sendiri lagi belajar mati-matian nulis scene romance. Saya harap kamu ngerti. Dan terimakasih banyak buat reviewnya! Saya gak bisa nahan buat baca berulang-ulang, seriusan! :D *salam kenal aja deh*
P.S. For Readers: Sori kalo ada typo, gk sempet edit hehe ^o^v
Next chapter password: omake yang cute abis!
See you next time~
