A/N: Makasih buat yg udah nge-hit fic ini, khususnya buat Day-chan Arusuki atas review-nya :* Karena sepertinya kurang menggambarkan isi cerita, nambah genre baru adventure deh. Mudah2an ga salah tag genre, lol. Oh, meski sangat telat (sebenarnya mah inget), selamat ulang tahun, Trafalgar Law~ Padahal pengen ngepos tepat di hari ultahmu, tapi apa daya belum ada waktu ngetik oTL

Terus berhubung masih belum jauh amat (kali?), jadi sekalian juga. Selamat ulang tahun, Donquixote Doflamingo~ May your grin stay as bright as your hot pink feather coat but please do consider to put that stylish sunglasses of yours off for a panel or two coz 'that' recent teaser really had me on the edge of my freakin seat like DOFFY YOU SEXY BEAST Y U NO ASGFHJKDLLHDJ щ(ºДºщ)

DISCLAIMER: Segala yang baik hanya milik Tuhan dan One Piece hanya milik Oda Eiichiro. Saya termasuk beruntung kenal keduanya :')


++-++
Mulutmu Harimaumu
++-++

Berbeda?
Tetapi aku tidak pernah merasa berbeda.
Lihat? Aku punya jari tangan dan kaki, sama sepertimu.

++-++

+
Paradise

(Canon Timeline: Before Timeskip)
+

Komandan Wen Gu itu aslinya bukan tukang mengeluh.

Hanya saja, kalau seseorang melihat kerjaannya sekarang, pasti setidaknya dia akan menghembuskan napas lelah. Kalau tidak sampai stress duluan, itu pun. Namun Wen Gu orangnya cukup tangguh kok, jadi selama berada dalam kapal berlayarkan lambang Navy ini, dia akan selalu memasang wajah serius. Siap sedia 24 jam melayani masyarakat sekaligus menjawab ekspektasi yang diberikan oleh atasan maupun bawahannya. Tapi kalau sedang sendirian dalam ruang kantornya begini, boleh dong lepas topeng dulu; merebahkan diri di atas meja layaknya pegawai kantoran yang capai karena mesti lembur beberapa hari.

Kalau mereka mesti begadang karena punya banyak laporan untuk direvisi, maka untuk kasus Wen Gu, mesti begadang karena punya setumpuk kertas buron untuk dipelototi dan kriminal untuk ditangkap.

Sayang, menangkap kriminal itu tak semudah mempelototi kertas buronnya. Tiap kepala punya tingkat kesukarannya masing-masing, secara garis besar ditentukan dari jumlah digit Beri yang tertera di kertas. Makin banyak digit, ya makin tahu lah susahnya seperti apa. Dan sialnya bagi Wen Gu, kertas dengan jumlah digit seperti itulah yang sedang berjejer di atas mejanya.

Dari sekian banyak bajak laut yang masuk ke Grand Line semenjak Great Age of Pirates dimulai, kasus seperti ini yang selalu dikhawatirkan Navy. Kasus dimana sejumlah bajak laut pemula dengan potensi pembuat kekacauan sangat tinggi masuk secara bersamaan. Bagus-bagus kalau mereka tereliminasi duluan di Paradise. Lah ini sudah ternyata malah survive, pakai cetak bounty berdigit banyak pula. Tidak main-main, jumlahnya sembilan digit—ratus juta! Berdasarkan info terkini, ada kemungkinan sebelas orang dari mereka akan sampai bersama-sama di pemberhentian terakhir sebelum menyeberangi Red Line.

Sebelas orang. SEBELAS. Dan sebelas kertas buronnya sekarang berada di atas meja Wen Gu.

Sepuluh pria, satu wanita. Rentang usia mereka cukup luas juga. Coba Wen Gu lihat. Satu mafia, satu tukang makan, satu muka suram, satu gigi piano, satu tak beralis, satu macho bersayap, satu bertopeng, satu mantan Navy (Wen Gu berdecak disini), satu dokter kebanyakan begadang, satu rambut lumut, dan satu bertopi jerami. Sang komandan menggaruk kepalanya. Untung saja mereka ini tidak berada dalam satu kapal ya, meski ada dua pasang disini yang ternyata satu kru. Lebih untungnya lagi, kesebelas-sebelasnya tidak akan lewat semua ke perairan tempat dia patroli. Rute yang mereka ambil berbeda dan menurut prediksi Wen Gu, hanya beberapa saja yang bakal lewat sini.

Bahkan Wen Gu sudah mengawasi salah satu diantaranya.

Ia mengambil satu kertas buron dari meja dan menatapnya lurus-lurus. 'The Glutton' Jewelry Bonney. 125 juta Beri. Satu-satunya wanita dari sebelas orang yang disebutkan. Padahal dari parasnya terlihat biasa. Meski begitu, dia pengguna buah iblis. Cukup merepotkan kalau boleh dibilang. Bila tidak ada itu, Wen Gu yakin kesempatan untuk menangkapnya akan semakin besar.

Maka dari itu, Wen Gu bertaruh. Bertaruh pada rencana yang ia rembukkan bersama kru kapal dan telah dimulai semenjak beberapa hari yang lalu. Ia hanya perlu mengawasi...dan menanti saat yang tepat untuk menyerang.

Bunyi ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya pada si kertas buron.

"Masuk,"

Seorang pemuda berseragam Navy membuka pintu lalu memberi gestur hormat biasanya, "Lapor, Komandan Wen Gu. Kapal target telah berada dalam rentang serangan,"

"Kru kita?"

"Sudah siap dalam posisi, Komandan. Sekarang menunggu perintah,"

"Kerja bagus," Wen Gu mengangguk, "Aku akan segera kesana. Kembali ke posmu,"

"Siap, Komandan!"

Wen Gu memberi waktu sejenak sampai Navy muda tersebut berlalu sebelum meregangkan tubuhnya, menepuk kedua pipinya seraya berbisik 'kau bisa Wen Gu, jia you!' [1], baru kemudian bangkit dari kursi untuk keluar dari kantornya. Ya, Wen Gu sudah mengawasi bajak laut itu cukup lama, meski tak bisa benar-benar mengawasi dari dekat. Walau begitu, dia yakin sekarang adalah saatnya memetik buah hasil rencananya. Rumor yang beredar begitu kuat, jadi kemungkinan berhasilnya taktik Wen Gu ini cukup besar. Mengawasi terlalu lama pun bahaya, malah bisa berakibat pada gagalnya rencana. Karena itu...sekarang atau tidak sama sekali.

Sang Komandan Navy berjalan menuju geladak utama. Seluruh krunya sudah bersiap di posnya masing-masing. Melayangkan pandang ke horizon, Wen Gu dapat melihat kapal berbendera hitam. Dia mengangguk puas. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah memastikan hasil dari rencana fasa satu.

"Komandan! Komandan Wen Gu!" Seseorang dari ruang pengintai di atas tiang memanggilnya lewat corong suara.

"Ada apa?"

"G-Gawat, Komandan! Bajak laut Jewelry Bonney berada di garis depan, tampaknya siap ikut bertarung bersama krunya! D-Dia...Dia bisa menggunakan kekuatannya!"

"Apa?!" Wen Gu terkejut, lalu berteriak pada awak terdekat, "Berikan aku teropong!" Tak berapa lama, dia sudah meletakkan lensa binokular itu di depan matanya. Jauh di seberang sana terlihat sosok gadis bersurai merah muda yang sedang tersenyum sambil menguyah sepotong pizza. Wen Gu perhatikan baik-baik figur itu sampai akhirnya mendecak, kesal.

"B-Bagaimana, Komandan?"

Wen Gu terdiam, berpikir. Namun mau seberapa keras ia berpikir, hasilnya tetap sama. Menghembuskan napas mantap, ia mengangkat kepalanya dan berteriak lantang, "Kita akan tetap menyerang! Ini memang bukan situasi yang kita inginkan, tapi bukan berarti kita tak pernah memprediksinya. Kita tahu, apapun yang terjadi, keputusan awal kita tak akan berubah! Jangan takut, kru! Tunjukkan pada mereka kekuatan Navy!"

"YAAA!"

"Arahkan meriam ke bajak laut! Jatuhkan kapal mereka!"

"LAKSANAKAN, KOMANDAN!"

Komandan Wen Gu itu aslinya bukan tukang mengeluh. Tapi serius, deh...mengapa? Mengapa dewi fortuna lebih memilih untuk berpihak pada gadis rakus di sebelah sana?! Apa karena sesama wanita?

...

Alamat Wen Gu mesti minta cuti lebih awal ini sih.

|
xXx
|

"Makanya aku tak habis pikir, kenapa sih mereka dari awal tidak menyerah dan berhenti mengejar saja?" Dengusan Bonney terdengar meremehkan, tangannya memegang sebotol rum yang telah kosong tiga perempatnya, "Dengan begitu kan mereka tidak akan pulang sambil menangis seperti itu,"

Bukan sekedar perumpamaan, tapi memang kenyataan.

Tak sampai satu jam yang lalu, sepeleton Navy tiba-tiba saja menyerang kapal Bajak Laut Bonney. Namun pada akhirnya, nyaris semua telah diubah menjadi balita dan lansia. Bahkan suara tangisan beberapa anak kecil akibat kalah perang tadi sempat terdengar meski kapal mereka telah berlayar menjauh untuk kabur. Percuma saja melakukan serangan dadakan pada kapal Bajak Laut Bonney, karena sang kapten pasti akan membuat mereka sebagai pihak yang menangis di akhir. Secara harafiah.

"Namanya juga Navy, Kapten. Kapan sih berhenti mengejar kawanan seperti kita?"

"Heh, memang sudah seperti itu, ya..." Bonney mengacungkan tinjunya, "Omong-omong, kerja bagus, kru! Hari ini kemenangan lagi-lagi di pihak kita!"

"YEAH!"

"HARI INI KITA RAYAKAN DENGAN MAKAN ENAAAK!"

"LAH MEMANG TIAP HARI JADWALMU BEGITU, KAPTEN!"

"BERISIK! MEMANGNYA KALIAN TIDAK MAU MAKAN ENAK?!"

"YANG NYARIS MAKAN SEMUA KAN KAPTEN!"

"ADA MASALAH DENGAN ITU?!"

"TIDAK ADA, KAPTEN!"

"Bagus," Bonney terkekeh puas, lalu kembali menenggak isi botol rumnya. Ia tengah duduk di atas pagar pembatas kapal, membiarkan angin laut menghembus tiap lembar surai merah mudanya saat kapal melaju dengan kecepatan santai. Akan jadi pemandangan yang bagus ala di manga saat heroine terlihat begitu memukau disini, kalau bukan karena cara minumnya yang agak barbar. Apalagi sekarang Bonney sedang berada dalam mode anak kecilnya (tadi waktu melawan Navy, ada situasi dimana ia mesti memakai mode ini), jadi terasa kurang pantas melihat bocah di bawah umur minum-minum. Tapi ini Bonney yang sedang kita bicarakan. Maka tidak ada satu anggota kru pun yang protes.

"Omong-omong, Kapten, kenapa komandannya tidak sekalian kau ubah jadi balita atau lansia juga seperti krunya?"

"Hah, bodoh! Disitu malah yang menarik! Dia tidak akan punya pilihan lain selain menahkodai sendiri kapalnya karena seluruh awaknya tak ada yang bisa diandalkan saat ini. Hitung-hitung hukuman karena komandan biasanya hanya duduk santai di kantor. Heheh, pasti dia akan malu berat begitu pulang ke markasnya!"

"Kalau dia datang lagi bagaimana, Kapten?"

"Ya kita ladeni lagi mereka. Kenapa? Kau takut?"

"Tentu saja tidak, Kapten!" Kru Bonney tersebut memberi hormat, "Lebih tak enak diubah jadi lansia oleh Kapten!"

"Yeah, memang harus begitu! Haha, lalu apa itu jelek sekali kau meniru gerakan Navy! Sudah hentikan!" Bonney menyenggol lelaki itu dengan botol minumannya, "Dan hey, cepat bawakan aku minuman lagi! Lihat, botolku sudah kosong nih!" Menggoyangkan si botol di tangan.

"Oh," Dia berbalik, "OOOOI! MINUMAN KAPTEN HABIIIIS!"

"Pizza juga! Bawa aku seloyang baru!"

"KUKIIIIIII! KAPTEN MINTA PIZZA!"

Seorang pria dengan topi ala chef terpogoh-pogoh berlari menuju pinggir geladak tempat Bonney berada, "Kapten! Kapten, pizzamu sepertinya harus ditunda dulu deh!"

"HAH?!"

"Jangan ngamuk dulu, Kapten," Kuki cepat memotong sebelum Bonney mengeluarkan kalimat protesnya lebih lanjut, "Kapten ingat kan kalau kita sudah membeli bahan makanan di pulau sebelumnya? Jumlahnya seperti yang biasa kok, sudah mencakup ekstra kalau-kalau Kapten makan kelebihan—yang seperti biasa juga, omong-omong—tapi! Tapi..." Pria itu menudingkan telunjuknya dengan raut serius, "...kali ini Kapten sudah melewati batas lho..."

"Jangan bilang..."

"Yep, bahan makanannya habis, Kapten,"

"Argh..." Bonney menjedotkan keningnya pada botol kosong di tangan, "Lagi?!" Padahal baru dua minggu lalu rasanya ia dihadapkan pada kejadian serupa. Tepatnya di salah satu pub di pulau tempat mereka singgah dalam rangka men-charge Log Pose. Meski ada lalat super berisik di sana, setidaknya boss si lalat bisa berguna sedikit untuk membayar tagihannya, "Aku akan mati kelaparan sebelum sampai ke pulau berikutnya..."

"Haha, ayolah, Kapten. Ini bukan kali pertama kau mengalaminya. Nyatanya, Kapten hidup-hidup saja tuh,"

"Oh diamlah, Kuki! Biarkan orang merasa depresi disini!"

"Oke, oke..." Kepala koki Bajak Laut Bonney itu hanya tersenyum, "Aku tahu Kapten pasti akan depresi makanya sekarang yang lain sedang memancing tuh di belakang. Doakan saja semoga mereka dapat banyak ikan besar. Yang hampir seukuran Sea King, harapannya sih. Asal jangan Sea King betulan..."

"Eh, benarkah?!" Mata Bonney berbinar. Saat-saat seperti ini sajalah dia tampak berekspresi seperti anak kecil sungguhan, apalagi dengan mode tubuhnya sekarang, "Oooh aku sudah tidak sabar! Nanti kau mau buat apa, Kuki? Pizza seafood?"

"Tak bisakah kau hidup sehari saja tanpa pizza, Kapten..."

Bonney hanya nyengir, "Ah, hey! Mana botol rum baruku? Kan tadi kau kusuruh mengambilnya!" Ia menengok pada kru di sebelah Kuki.

"Tadi sih Balunn yang bilang akan—oh, itu dia, Kapten! Oooooi Baluuuunn! Kapten sudah menunggu nih!"

Pintu kabin terbuka, menampilkan sosok lelaki yang memakai kaus terlalu kecil untuk tubuh besarnya. Di masing-masing tangannya telah tergenggam botol rum yang masih tersegel.

"Oh, oh, oh kemarikan! Kemarikan botol-botol itu, Balunn! Tsk, jalanmu lama sekali deh!"

"Sabar, Kapten, sabar..." Belum sampai dua meter jarak mereka, Balunn melemparkan kedua botol di tangannya, "Tangkap, Kapten," Dan sedetik kemudian, kedua botol itu selamat sampai di calon peminumnya. Bonney mencabut penutup gabus salah satu botol dengan gigi, terlalu tak sabar untuk segera menikmatinya.

"Hanks, Hahunn!"

"Tahukah kalau kau terlalu memanjakan Kapten? Satu botol saja kan cukup," Kuki berkomentar dengan nada mencela.

"Nah, hanya hitungan menit waktunya sampai botol rum-nya kosong lagi. Detik, malah. Aku malas pergi ke ruang kargo sekali lagi," Balunn mengangkat bahu, "Omong-omong, Kuki, kudengar bahan makanan habis ya?"

"Begitulah. Padahal kupikir perhitunganku benar. Kita baru akan kehabisan kalau sudah mencapai pulau selanjutnya,"

"Kupikir juga begitu. Makanya tadi aku mengecek ruang penyimpanan sekali lagi dan ternyata kita memang tidak salah,"

"Eh? Apa maksudmu?"

"Balunn," Seorang kru Bonney mendekati mereka dari belakang. Agak payah langkahnya karena sedang membawa kotak cukup besar di pelukan, "Aku taruh ini di sini saja ya?"

"Oh, thanks. Maaf mengganggu di shift jagamu,"

Kru tersebut hanya melambaikan tangannya, "Santai saja. Lagipula apa sih yang tidak untuk Kapten-chan?" Ia sempat melemparkan kedipan ke arah Bonney sebelum buru-buru angkat kaki dari situ. Ketimbang takut telat di shift jaganya, ia tampak lebih takut menerima reaksi Kapten mungilnya itu. Bonney hanya mencibir lalu menggeser fokusnya ke si kotak.

"Jadi, benda apa itu, Balunn?"

"Ini yang tadi kubicarakan, Kapten," Ia mengendikan kepalanya ke arah si kotak, "Aku menemukannya di ruang kargo, tapi bukan di bagian penyimpan bahan makanan. Sepertinya ada yang salah meletakkannya di sana, tapi setelah kuperiksa lagi, memang tak ada label apapun di kargonya sih,"

"Aah...sudah kuduga. Menurut perhitunganku, kita memang harusnya punya satu kotak lagi. Dan pada akhirnya kita kehabisan karena kupikir Kapten lagi-lagi tak bisa mengerem nafsu makannya,"

"Oi, Kuki! Jadi kau menuduhku duluan tanpa periksa buk—"

"—Jadi ini saja isi kargonya, Balunn?" Kuki lanjut bertanya. Di latar belakang, terlihat kru di sekitar berusaha menenangkan Bonney yang terus mengomel sembari mengacungkan botol rumnya kesal.

"Tidak. Aku menemukan beberapa bahan pokok, sudah kuminta yang lain untuk memindahkannya ke dapur. Satu kotak ini saja yang kupikir harus kuberikan langsung ke Kapten,"

"—anggap aku memaafkanmu begitu saja, ya! Dasar Kuki jelek! Begini-begini...ng?" Bonney mengerjap, lalu menunjuk diri sendiri, "Aku? Memangnya apa sih isinya? Bikin penasaran saja," Balunn mengangkat kotak itu dan mendekatkannya ke sang gadis. Satu jarinya menunjuk bagian tempat dimana terdapat tulisan, "Lihat ini, Kapten? Makanan lokal, katanya. Mungkin maksudnya makanan khas lokal pulau terakhir yang kita singgahi itu,"

"Ooooh!" Iris keunguan Bonney kembali berbinar, "Enak tidak? Enak tidak? Kalau sampai dijual ke pengunjung luar pulau, biasanya enak kan? Ya kan? Ya kan?"

"Aku tidak tahu. Kata tulisannya sih, makanannya cepat basi kalau sudah terekspos udara luar, makanya harus cepat dimakan begitu kotaknya dibuka. Aku tidak paham seberapa cepat, jadi amannya ya kukasih Kapten saja langsung biar kau yang membukanya,"

"Asyik~ Gara-gara Kuki jelek belum juga membuat pizzaku, aku jadi sangat lapar sekarang! Kuki! Habis ini segera buatkan aku snack sore, ya?! Kalau bisa pakai ikan segar yang katanya sedang dipancing itu! Bahan makanannya tidak jadi habis kan? Sana, cepat, cepat!" Bonney telah mencampakkan botol-botol minumnya dan membuka kedua tangannya lebar-lebar, "Kemarikan kotak itu, Balunn! Sini, sini!" Pria yang dimaksud segera memenuhi pintanya.

"Kapten, makannya pelan-pelan saja ya. Kita tidak tahu makanan jenis apa itu. Bisa saja malah tidak cocok dengan perutmu," Kuki memperingatkan, meski ia tahu persis kemungkinan sang kapten menuruti kata-katanya sama dengan kemungkinan pulau Raftel tiba-tiba muncul di depan mata.

"Tenang, tenang! Makanan mana coba yang tidak takluk dalam perutku? Mmh...ugh, susah sekali sih tutupnya dibuka—ah," Terdengar bunyi klik pelan tanda kotak terbuka, "Hee...apa ini, di dalamnya masih ada lapisan penutup lain..." Bonney menjulurkan tangannya ke dalam, "Memangnya seberapa sensitif sih makanan ini dengan udar—"

CLANK!

"Eh? Apa yang—ugh..."

"KAPTEN BONNEY!"

Seluruh kru di depan Bonney berteriak. Pasalnya gadis itu tiba-tiba saja terhuyung ke belakang dan karena posisi Bonney saat itu adalah duduk di atas pagar pembatas kapal, jadilah arah jatuh dia tepat menuju ke lautan. Balunn bereaksi paling cepat, kebetulan juga dia yang terdekat dari pagar. Dengan sigap lelaki itu melemparkan diri ke besi pembatas dan menjulurkan tangannya ke bawah, berharap masih sempat menangkap kaptennya.

"Ka-Kapten! Kapten, kau tidak apa-apa?!" Agak tersengal, Balunn berteriak pada Bonney yang berjuntai pada sisi kapal setelah tangan kirinya dengan suskes digenggam Balunn sebelum benar-benar tercemplung, "Kapten, jawablah!"

"Mmh...berisik sekali..." Bonney bergumam lemah, "Iya, aku baik-baik saja...ugh...angkat aku sekarang, Balunn..."

Tidak perlu disuruh pun, Balunn telah menarik kaptennya naik kembali ke geladak kapal. Gadis itu kini duduk terkulai di dekat pagar pembatas.

"Kapten! Kau tidak apa-apa?!" Kuki mendekati Bonney dan berlutut di hadapannya, "Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba saja kau pucat dan jatuh seperti itu. Memakannya saja belum tapi yang seperti ini bahkan sudah terjadi..." Kepalanya menoleh ke belakang, "Hey, mana si dokter itu?! Belum kemari juga?!"

"Nah, tidak perlu kau panggil dia kemari, Kuki," Sang kapten melambaikan sebelah tangannya lambat, "Ada dirinya pun tidak akan begitu berguna. Yang begini memang bukan hal mudah untuk disembuhkan," Dia mengangkat tangannya yang satu lagi. Serentak, pupil seluruh kru di sekiranya melebar.

"I-Itu..."

"Yeah..." Bonney mendecak geram, "Sialan...mana kutahu kalau di dalam kotak itu ada benda menyebalkan ini. Siapa dia yang berani memasukkan borgol Sea Stone ke dalam kotak makanan itu, heh?!"

Tepat melingkar pada pergelangan tangan kanan Bonney, borgol Sea Stone. Tunggal, membuatnya tampak seperti gelang batu kalau tidak diperhatikan baik-baik. Tentu saja dalam keadaan terkunci. Bukan kali pertama dalam hidup Bonney dipasangi benda seperti ini, namun tetap saja ia tak mampu terbiasa dengan sensasinya. Siapa coba yang bisa? Semua pengguna buah iblis pasti akan setuju dengannya. Benda mematikan ini selamanya akan mematikan bagi dia dan mereka.

Kutukan yang harus ditanggung Bonney seumur hidup semenjak 'menyegel kontrak' dengan sang buah setan.

"Hey, Balunn...Apa kau tahu soal ini?" Masih berlutut, Kuki mendongak ke arah rekannya. Suaranya tenang tapi tiap bait katanya penuh keseriusan. Balunn menghela napas, tahu betul makna dibalik pertanyaan tersebut. Bajak laut yang carefree mungkin mereka, namun bercanda pun ada batasnya. Dan mereka tahu, benda semacam itu bukan lah hal yang patut dijadikan bahan candaan.

"Bukan aku, Kuki. Sudah kubilang kan, aku menemukannya di kargo bahan makanan dalam keadaan tertutup dan dalam keadaan seperti pula aku membawanya ke hadapan Kapten," Balunn menggaruk pipinya dengan canggung, "Kalau aku tahu ada yang memasang perangkap seperti itu di dalamnya, tidak akan kubawa deh...M-Maaf, Kapten..."

"...Perangkap," Kuki mengerutkan keningnya.

"Argh, nanti saja acara mengobrol dan maaf-maafannya! Sekarang cepat cari cara bagaimana melepaskan borgol ini dari tanganku!" Bonney memotong dengan nada bete, "Oi, di dalam situ tidak ada kuncinya apa?"

"Tidak ada sih, Kapten," Salah satu kru telah meneliti isi dalam si kotak lebih lanjut.

"...Memang tidak mungkin disitu juga sih," Tadi Bonney spontan saja bertanya, walau setengah hati masih berharap kalau benda yang dicarinya benar di sana.

"Ulurkan tanganmu, Kapten. Biar kulihat borgolnya," Sang gadis melakukan hal yang dipinta Balunn, lalu dengan cekatan pria itu memeriksa borgolnya. Dia terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya keningnya mengerut, mengekspresikan raut bingung, "Ini...sepertinya gawat,"

"Hah? Apa maksudmu?"

"Coba lihat ini, Kapten. Lubang di sebelah sini biasanya tempat dimana kunci diletakkan untuk membuka borgol. Namun seseorang sepertinya telah mengutak-atik lubang ini jadi mau dicongkel pun akan sangat susah. Seolah yang merancang ini tidak ingin borgolnya dilepas paksa menggunakan benda selain kunci aslinya,"

Bonney mengeluarkan suara antara ingin marah, kesal, bete, dan segala macam emosi sejenis saat mengadukan kepalanya ke pagar pembatas di belakang, "Kenapaaaaaaaa hari ini aku sial sekaliiiiii..."

"Hmm...sepertinya memang benar,"

"Apanya yang benar, Kuki?"

Kuki telah berdiri di tempatnya saat menatap Balunn, "Itu lho, soal perangkap yang kau bilang itu. Mungkin itu memang benar. Maksudnya, aku juga tak pernah ingat meminta grup yang bertugas membelikan bahan makanan untuk membeli makanan lokal...meski pada akhirnya kupikir yang membelikan ini hanya berniat untuk menyenangkan Kapten dengan makanan jenis baru," Ia mengendikan kepalanya ke arah si kotak, "Kalau...kalau, ya. Kalau misalnya ini memang sebuah perangkap, semuanya cukup masuk akal. Kargo tanpa tulisan, kotak tertutup, pesan yang tertera agar hanya orang yang memakannya yang membukanya, lalu borgol Sea Stone yang akan terpasang pada siapapun yang mengulurkan tangan ke dalam kotak—kemungkinan ada seseorang yang ingin menjebak Kapten cukup besar, bukan?"

Semua yang mendengarkan diam, tidak ada yang membantah. Bahkan Bonney hanya mendecak karena sadar kalau apa yang dikatakan Kuki memang logis.

"Jadi pertanyaannya sekarang, seseorang itu siapa?" Balunn memiringkan kepalanya, "Bajak laut yang punya dendam dengan Kapten? Itu sih banyak...ya kan, Kapten?"

Bonney mendengus tanda menyetujui.

"...Atau mungkin Navy," Kuki mengangkat bahunya, "Menurutku cara seperti ini cukup berbelit sekaligus cukup efektif karena targetnya Kapten kita, 'The Glutton'. Bukan hal aneh kalau orang-orang sejenis Navy yang memikirkan taktik semacam ini,"

"Heh, kalau yang kalian katakan memang benar, berarti satu lagi yang akan terjadi," Bonney berdiri, agaknya sudah mendapatkan kembali tenaganya meski tentu saja tidak utuh, "Siapapun itu yang berani berbuat ini padaku berarti sedang menantikan aku kehilangan kekuatanku dan artinya..." Bibirnya menyunggingkan senyum, "…dia pasti akan menggunakan momen itu untuk menyerang kita. Hah! Pengecut! Berani menyerang hanya ketika yakin aku tidak dalam keadaan prima! Dia pikir aku akan kalah dengan orang semacam itu?! Kemari saja kalau berani, pengecut! Hah!"

Namun segelintir kru sepertinya ada yang tak merasa satu visi dengannya, "Anu...tapi, Kapten, kau sadar kan sekarang kau sedang terperangkap dalam tubuh yang mana?"

"Ha? Apa? Maksudmu tubuh ini? Hah! Memangnya kenapa kalau aku sedang dalam mode anak kecilku?! Aku masih bisa—ugh..." Tinju Bonney yang tadi teracung tahu-tahu terkulai lesu, "Argh...Sea Stone sialan...Aku jadi makin lapar kan...Hey kalian! Cepat cari makanan di dalam kotak itu!"

"Eh?" Kru yang disuruh bingung, "Itu sih tidak ada, Kapten,"

"APA?!"

Kuki menghela napas, "Kapten, kau masih percaya kalau orang yang menjebakmu akan benar-benar meninggalkan maka—"

"—Tak bisa dimaafkan,"

"Hah?"

"—Padahal aku sudah menantinya! Makanan lokal yang katanya enak itu!"

"Anu, Kapten...aku tidak pernah bilang kalau makanan lokalnya akan seen—"

"—Dan dia berani-beraninya mengambil makanan itu dariku?! TAK BISA DIMAAFKAN!"

"Sebentar, Kapten, rasanya ada yang salah dengan—"

"—Cukup sudah, akan kuhancurkan dia begitu kita bertemu! TIDAK ADA yang boleh mencuri makanan dari seorang Jewelry Bonney! CAMKAN ITU! GROAARRRR!"

Dan Bonney berlalu, menghentakkan kakinya sembari mengaum dengan berapi-api.

Masih berada di pinggir geladak, Balunn menepuk ringan pundak sang kepala koki, "Lihat sisi baiknya. Luapan emosi Kapten tidak akan pernah kandas dikekang tubuh mungil ataupun borgol Sea Stone," Wajahnya menyiratkan kecemasan, "Meski kubilang, kau sebaiknya segera meredam luapan dalam perutnya kalau tak mau baja kapal habis digerogotinya,"

Kuki melemparkan pandangan ke sekitar lalu geleng-geleng kepala, "Beritahu aku sekali lagi, ide siapa yang membuat kapal kita jadi kue tart mengapung begini?" [2]

|
xXx
|

Pulau Puerde Ri.

Tipikal pulau musim gugur di Grand Line—udara agak kering, dedaunan jatuh dimana-mana, angin bertiup dingin ke sela bangunan, hanya segelintir orang yang memenuhi jalanan. Pelabuhannya pun tidak begitu padat, namun sesekali kau masih akan melihat sejumlah kapal berbendera hitam terselip di antara kapal-kapal yang ada. Jumlahnya tidak sebanyak yang biasa tampak di pulau awal Paradise. Tapi jangan salah. Mereka itu yang kau sebut sebagai 'orang-orang terpilih'—para survivor Paradise. Red Line sudah semakin dekat. Hanya orang-orang yang berhasil menembus rintangan Paradise seperti mereka lah yang berkesempatan untuk menyeberanginya. Meski sebelum itu, beberapa diantaranya akan melewati pulau ini, kalau rute yang ditunjuk Log Pose mereka menunjuk kemari.

Dan di pulau inilah, Jewelry Bonney sedang berlari.

"Hey, cari ke sebelah sana!"

"Kalian menemukannya?!"

"Kalau tidak salah dia pergi ke arah sini!"

"Jangan sampai hilang! Cepat cari lagi!"

Bonney tersengal, menyelip di antara celah dinding bangunan—sembunyi. Ia menoleh sedikit hanya agar manik amethyst-nya bisa melirik situasi di ruas jalan belakang.

"Di sebelah sini tidak ada!"

"Tsk, ke gang selanjutnya!"

Berdecak, gadis itu kembali menyelimuti diri menggunakan bayang-bayang bangunan. Seperti yang bisa dilihat, kondisi Bonney saat ini sedang tidak bagus. Bagaimana bisa, kau tanya? Itu juga yang ditanyakan Bonney dari tadi! Padahal rasanya kapal mereka berlabuh di pulau ini dengan aman dan tenteram, tidak ada masalah. Tidak ada masalah tambahan, maksudnya. Terbelenggu borgol Sea Stone sudah merupakan satu masalah berat sendiri, jadi Bonney ogah dapat tambahan masalah lagi.

Sayang, nasib sedang ingin menggonjang-ganjing keberuntungan Bonney akhir-akhir ini. Saat sang gadis sedang memisahkan diri dari krunya, tahu-tahu saja sekelompok orang berseragam putih-biru muncul dan mengepungnya. Yang Bonney inginkan adalah restoran bermasakan enak, bukannya Navy! (Urutan prioritas dia agak gebleg memang, padahal sudah diperingati untuk cari cara melepaskan si borgol dulu baru cari makan, bukan sebaliknya). Tidak berada dalam keadaan prima jelas membuatnya tak bisa bertarung secara optimal, namun dia masih bisa bermain kucing-kucingan dengan mereka hingga sampailah Bonney pada kondisinya sekarang. Mungkin...yah, mungkin. Ia cukup beruntung terperangkapnya dalam tubuh yang mungil. Celah tersempit bangunan pun muat disisipi badannya.

Tapi serius deh, kapan orang-orang ini akan menyerah?!

"Hey, kau yakin dia tidak akan menggunakan kekuatannya?"

"Yakin, kok! Kuncinya kan masih ada di Komandan,"

Suara dua orang Navy terdengar dari tempat Bonney bersembunyi.

"Lagipula, borgolnya tak akan bisa dibuka dengan paksa. Komandan yang bilang lho,"

"Kalau memang begitu sih. Aku hanya khawatir kalau dia bisa cepat kembali menggunakan kekuatannya. Pasukan kita kurang banyak di sini,"

"Hmm...memang perlu waktu sampai Komandan sampai ke sini. Dia berangkat dari markas, katanya harus mengurus sesuatu di sana. Nyaris dia berpikir kalau aku bercanda ketika memberitahu kalau rencananya tidak jadi gagal. Untung pasukan di sini sudah diberitahu lebih dahulu soal itu, jadinya bisa cepat melapor,"

"Dan untung ada yang melihatnya juga sih. Ini kesempatan emas soalnya!"

"Tentu! Kapan lagi kita bisa menangkap buronan berharga diatas 100 juta dengan semudah ini?"

"HEY KALIAN! JANGAN MENGOBROL SAJA DAN CEPAT LANJUT MENCARI!"

"S-Siap!"

Bunyi langkah-langkah kaki menjauh bergema di antara dinding gang, meninggalkan Bonney seorang diri di tempatnya. Oke, fix sudah. Begitu Bonney bebas dari situasi ini, akan dia pastikan semua Navy di pulau ini binasa tanpa tersisa. Semarkas-markasnya! Jangan salahkan Bonney, Navy yang ngajak ribut duluan. Dan apa tadi maksudnya dengan 'mudah'? Segitunya mereka meremehkan dia hanya karena tak bisa menggunakan kekuatan buah iblis sekaligus berada dalam tubuh mungil? Hah!

Bonney refleks memelankan suara napasnya sendiri, mengendap-endap keluar dari persembunyian. Saat yakin tak ada satu jiwa pun yang melihat keberadaannya, ia meluncur cepat di antara tong kosong dan kain-kain jemuran. Kecepatan yang Bonney miliki merupakan salah satu kemampuan unggulannya, termasuk saat melahap makanan. Semakin ringan badannya, semakin cepat dia. Boleh dibilang sekarang adalah mode tubuh terbaiknya untuk kemampuan itu...kalau bukan karena ada benda yang secara konstan menyedot tenaganya seperti ini.

Berbelok ke sebelah kiri, matanya bertemu dengan sosok berseragam putih-biru yang baru keluar dari gang.

"?! Hey, dia ada di si—"

Langsung terinterupsi oleh tendangan Bonney yang melayang cepat ke pelipisnya. Sang gadis mendarat ringan di tanah, "Tsk, diamlah!"

"OI! DI SEBELAH SANA!"

Bonney mengerang bete, lanjut berlari ke sisi berlawanan dari arah datangnya kawanan yang baru muncul itu. Jalanan bak labirin ini cukup memberinya kemudahan untuk memperlebar jarak dengan para pengejarnya. Meski kalau tidak hoki ya salah belok dan jadi begini hasilnya. Tapi keberuntungan dia sekarang kan memang sedang di tingkat rendah-rendahnya. Bahkan kalau misalnya sehabis ini Bonney bertemu jalan buntu, rasanya dia tidak akan—

BAM!

"O-Ouch!" Bonney terhuyung, bokong jatuh duluan ke tanah. Tangannya mengusap hidung sembari meringis dan mendongak untuk melihat apa yang ditabraknya.

Ralat. Siapa.

"Ah. Kau tidak apa-apa?" Suara bass bervibrasi dalam telinga Bonney saat pupilnya menangkap figur familiar di hadapannya. Tentu familiar. Kau tidak akan mudah melupakan sosok beruang putih ber-jumpsuit oranye dan bisa berbicara begitu saja, bukan? Pantas alih-alih kerasnya dinding, Bonney malah beradu dengan substansi membal. Hanya sejenak mungkin dia melihat beruang ini, namun sudah cukup untuk mematri tempat dalam ingatannya. Mau bagaimana lagi, saat itu—

"SEBELAH SINI!"

Oh, tolong lah. Tidak bisakah mereka memberi waktu pada Bonney untuk setidaknya menyelesaikan momen flashback-nya?

"Nona kecil?"

Manik bulat hitam si beruang menyorot penuh tanya. Bonney tidak menjawab, tidak pula bangkit dari jatuhnya. Terlalu sibuk berpikir. Dari sini ia bisa melihat dinding tinggi menghalang di akhir jalan yang akan dilewatinya—oh ya, saudara-saudara, si jalan buntu yang ditunggu-tunggu itu. Hah. Suara derap kaki kian mendekat. Bonney kehabisan waktu.

"Mmh, Tuan Beruang! Tolong aku!" Dia tiba-tiba berdiri dan memeluk sebelah kaki sang beruang. Bulir keunguannya berkaca-kaca saat mendongak, "Paman-paman di sana mengejarku! A-Aku takut..."

"Paman?"

"KETEMU!"

Dalam sekejap, celah di belakang Bonney penuh oleh sekawanan Navy yang sudah siap dengan senjata di tangan, menyegel jalur terakhir kaburnya, "Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana lagi! Segera menyerah lah!"

"Eeeh?! N-Navy?!" Tiba-tiba suara tenor si beruang melengking terkejut, "K-Kenapa Navy ada di sini?!" Bonney hanya merespon dengan menyembunyikan diri di balik kakinya.

"B-Beruang bisa bicara?!" Salah satu Navy ikutan terkejut.

"Maafkan aku..." Yang dikomentari menunduk bersalah.

"Terlalu sensitif!"

"Ah, sudahlah! Yang penting cepat tangkap perempuan itu! Maju!" Serentak mereka menyerbu keduanya.

"Eh? EEH?!" Si beruang putih masih berteriak panik, namun ketika melihat seseorang mengarahkan pistolnya ke Bonney, dia segera menyambar perempuan itu ke dalam pelukannya dan melompat mundur tepat di saat peluru ditembakkan, "Hey! Bahaya tahu! Bagaimana kalau tadi terkena anak ini?!" Perkataannya tak digubris. Serangan mereka malah semakin gencar. Dua Navy mendekat secara bersamaan, "AIIIIIIIIYA!" namun tendangan bertubi dari si beruang menjatuhkan mereka.

"B-Beruang bisa kung fu?!"

"Maafkan aku..."

"Tapi tetap terlalu sensitif!"

Mundur ke dekat kotak reyot, ia menurunkan gadis tersebut, "Tunggu sini, ya," Bonney mengangguk. Ketika beberapa Navy mendekat lagi, si beruang meninju mereka dengan kepalan cakarnya lalu mengakhiri gerakan itu dengan kuda-kuda defensive, "AIIIYA!'

"Ugh...ada apa dengan beruang ini?! Jatuhkan dia!"

Fokus Navy dalam sekejap bergeser ke hewan tersebut lantaran bila tidak segera dibereskan, bisa jadi penghalang besar untuk menangkap target asli mereka. Namun sepertinya kung fu beruang ini tak bisa dianggap remeh. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan menit, dua lusin Navy telah terkapar di tanah. Sebelum mereka bisa memulihkan diri, si beruang telah menggendong Bonney dan buru-buru beranjak dari situ.

"Hah...hah...haaah...kenapa malah bertemu Navy di sini..."

"Ah, Tuan Beruang. Masih ada sekitar sepuluh orang lagi lho yang mengejarku,"

"EH?" Terang saja si hewan kaget. Dengan agak panik, ia menoleh sana-sini lalu mulai berlari. Agaknya beruang ini tahu kemana harus pergi karena selama berpindah dari satu gang ke gang lain, mereka tak bertemu satu Navy pun. Lima belas menit penuh mereka, atau tepatnya, si beruang berlari (Bonney kan digendong) lalu sesampainya di pinggir sebuah sungai, mereka akhirnya berhenti.

Si beruang merebahkan diri di atas tanah, "Ca..Capeeeee..."

Bonney sudah turun dari gendongan sang hewan, sekarang menyapu sekitar tempat mereka dengan pandangannya. Tak lama kemudian, ia tersenyum. Di tengah-tengah keberuntungan buruknya, ternyata Bonney masih mampu mengambil keputusan yang tepat. Memang tidak salah bertaruh pada kemampuan makhluk itu, dia kini terbebas dari pengejarnya. Dengan ini Bonney yakin kalau si beruang bukan sekedar hewan peliharaan dalam kru orang itu. Oh ya, kru si dokter kematian itu. Namanya sudah sempat Bonney kenal dari poster dan persis seperti di foto, tampang orang aslinya juga sama-sama minta digampar. Khususnya karena senyum itu.

"Omong-omong kenapa kau dikejar Navy?" Si beruang menyeletuk, kini telah duduk di tempatnya, "Mereka kan jarang sekali menyerang anak kecil," Tanpa permisi, hidungnya mengendus perempuan itu, "Tapi...baumu memang aneh sih...hmm...ini apa ya..."

"Eh?" Sial, komentarnya agak frontal tuh. Tak punya manner begini pun Bonney masih perempuan! Mandinya tiap hari kok! Silahkan minta Balunn untuk memberi testimoni.

"Umm..." Bonney menggigit bibirnya, uget-uget dengan tak nyaman. Dari kaca mata luar, ia terlihat sangat natural, "Aku...ketahuan mencuri makanan. H-Habisnya aku tak punya uang...Lalu paman-paman itu memergokiku dan mengejarku," Ia mengusap matanya, menutupi fakta kalau tak ada air mata yang turun meski gestur tubuhnya menunjukkan hal sebaliknya, "Aku tahu aku salah, t-tapi..." Seolah mendapat dukungan dari entitas manapun itu yang mengendalikan takdir Bonney, perutnya langsung bergerumul keras. Jangan salah, Bonney betulan lapar lho!

"Ah. Oh...umm..." Hewan itu menggaruk bulunya salah tingkah, bingung mau merespon apa. Tapi jelas terlihat kalau dia cukup simpati pada Bonney. Buktinya adalah perkataan dia selanjutnya, "Mmm, Kapten tidak memberiku banyak uang, tapi mau coba pergi ke pusat kota? Aku bisa membelikanmu kue,"

"Benarkah?!" Kalau berbinarnya mata Bonney saat ini sangatlah asli, "Asyik~ Terima kasih, Tuan Beruang!" Berarti tidak semua kru si Bajak Laut Heart itu lantas tak punya hati seperti yang terpancar dari kaptennya, ya? Agak ironis memang mengingat nama bajak laut mereka begitu...

Si beruang tersipu malu. Memang benar apa kata Navy, hewan ini perasaannya terlalu sensitif, "Panggil Bepo saja, itu namaku. Oh, namamu siapa, nona kecil?"

Dalam keadaan sumringah pun Bonney masih bisa mengendalikan diri untuk tidak 'terselip' dalam situasi seperti ini, "Spinel! Namaku Spinel!" Harap diingat kalau ini bukan kali pertama Bonney harus berakting, "Ayo kita pergi sekarang, Bepo! Ayo, ayo!" Dengan tak sabar, Bonney mengalungkan lengannya ke lengan Bepo agar dia cepat berdiri. Tak peduli hewan ini punyanya bajak laut lawan atau bukan, Bepo telah mengucapkan kata kunci yang membuat Bonney tanpa sadar memperlakukannya seperti Kuki atau yang lain dalam kru.

"S-Sabar! Ya ampun...kau sudah lapar sekali ya?"

Perut Bonney yang memutuskan untuk menjawab dengan bunyinya.

|
xXx
|

Pernah dengar istilah 'selalu ada ruang kosong dalam perut untuk makanan gratis'? Praktiknya ada dimana-mana kok, termasuk dalam kasus Bonney. Sayang saja Bepo tak pernah tahu, kalau khusus untuk perut Bonney ada black hole yang ngontrak kamar, jadi gitu deh.

Dengan mulut setengah terngaga, si beruang menonton gadis mungil itu makan. Mereka sekarang sedang berada di meja luar sebuah toko dessert di bagian pusat kota yang tak terlalu ramai. Belum ada lima menit kue-kue diantarkan ke meja mereka, tangan Bonney telah mengacung ke atas, minta tambahan. Agak ngeri melihat cara makan si gadis yang sudah bagai penyedot debu begitu. Air muka Bepo tetap di ekspresi yang sama: bingung cemas sekaligus takjub.

"Tiap hari...kau makannya begini?"

Bonney mengangguk.

"...Pantas uangmu cepat habis," Kalau misal Bepo mulai menunjukkan penyesalan karena telah mentraktirnya, maka itu sudah sangat terlambat sekarang. Jadilah ia menunduk lesu di kursinya.

"Heho hihak hahan?"

"Hah?"

Sang gadis menelan potongan besar kue dalam mulutnya, "Bepo tidak makan?" Biasanya, tak sekalipun Bonney peduli pada orang di sekitar kalau sedang makan. Tapi rupa si beruang sangatlah susah untuk dihiraukan begitu saja. Maksudnya, muka itu...postur mirip teddy bear berjalan itu...belum lagi kalau depresi tampangnya menggemaskan—terkutuklah sisi perempuan dalam dirinya yang membuatnya tak bisa menangkis semua itu. Kalau bukan karena Jolly Roger di jumpsuit-nya, Bonney tak akan pernah percaya kalau si janggut kambing punya beginian di kapalnya.

"Entah kenapa...melihatmu makan, aku jadi kenyang,"

"Begitu?" Dan Bonney lanjut makan.

"Permisi," Seorang pelayan menghampiri meja mereka dengan nampan di tangannya, "Satu potong besar Dacquoise,"

Bonney mengerjap penuh tanya, "Aku tidak pernah memesan itu lho," Bukannya dia menolak ya, hanya bingung saja. Si pelayan tertawa kecil, "Servis dari toko. Lagipula katanya ada gadis manis yang lahap memakan semua kue," Mendengar itu, kontan saja Bonney makin bahagia. Jarang-jarang lho ketemu yang seperti ini. Apalagi sekarang dia dalam keadaan super lapar. Terima kasih kepada si borgol sialan yang terus menyedot tenaganya selama tiga hari berturut-turut.

Kira-kira, pulau ini punya Eternal Pose tidak ya? Boleh nih dikoleksi, hitung-hitung menandai tempat yang perlu dikunjungi ulang begitu ia kembali ke Paradise, "Wah, terima kasih, Paman~ Aku suka semua kuenya. Enak! Aku juga masih mau kok kalau disuruh icip-icip dessert yang lain~" Ceria dan polos. Sandiwara Bonney sudah sempurna luar dalam, sebagian karena memang dia sungguh-sungguh menikmati ini. Mungkin nasib Bonney akhir-akhir ini tidak seburuk seperti yang pertama dia bayangkan.

"Haha, boleh. Akan saya bawakan satu lagi,"

"Tolong buat itu jadi dua, Waiter-ya," Suara baru muncul, "Yang satu lagi untukku,"

Bonney refleks membeku di tempat.

Oh, terima kasih untuk membanting setir nasibnya tepat di saat Bonney telah berekspektasi tinggi, pemintal takdir.


[1] Jia you! = bahasa Cina untuk 'berjuanglah!' atau 'semangat!'

[2] One Piece Anime - Episode 490, kapal Bajak Laut Bonney.