A/N: Maap atas apdet yg telat, y'know RW could be such a killjoy = A= Makasih lagi atas semua responnya *kecup atu2* C: Semisal ada kripik pedas atau saran cem2 narasinya kepanjangan, terlalu bacot di satu adegan, dll, saya juga sangat terima kok. Soalnya lagi butuh patokan mana aja yg perlu diperbaiki/ditingkatkan ^^

DISCLAIMER: Jikalau saya diijinin punya One Piece, bakal saya buat Shichibukai generasi lama ke dalam satu kru kaya yg dibikin sama serpentguy. Seriously, that fic is golden I can totally picture it being canon! Sayang, saya hanya penikmat karyanya saja :') Tapi kalau beneran bisa, mampus2 deh Navy ama WG wkwk X'D


++-++
Peringatan: Senyum Membunuhmu
++-++

Fufufu, benar juga. Sama, ya?
Mmm...kalau begitu, mari kita pakai kata lain.
Kamu tidak berbeda. Kamu spesial.

++-++

"Eh?"

Suara yang muncul secara tiba-tiba itu membuat si pelayan kafe berbalik, "Ah...tentu saja, Tuan. Apa Anda juga ingin saya bawakan Dacquoise seperti punya Nona ini?"

Dahi sang lelaki pemilik suara baru tersebut mengerut tak senang di bawah bayang topi bulunya, "Yang lain. Apapun. Tapi jangan bawakan aku kue," Memberi tekanan pada bagian kata peringatan. Dia menarik kursi di sebelah Bonney dan duduk dengan kasualnya. Nodachi beraksen tanda plus miliknya kini bersandar ke meja.

"Baiklah. Akan saya bawakan menu dessert selain kue. Mohon tunggu sebentar," Pelayan itu membungkuk dan berlalu, meninggalkan Bonney dengan dua Bajak Laut Heart yang sekarang duduk mengapit tempatnya berada. Sungguh posisi yang tidak menguntungkan. Tapi Bonney bukan pemain baru dalam sandiwara ini, jadi dia tetap cuek bebek melahap kue-kue di hadapan tanpa memberi gestur mencurigakan.

"Aku mencarimu, Bepo," Law angkat bicara, tidak menoleh, "Apa kau mengerjakan hal yang kuminta?"

Si beruang putih agak tersentak sebelum menyahut dengan suara tenor-nya, "Aye, Kapten!" Disambung dengan suara bass, "Tapi tetap tidak ketemu...Aku sudah keliling pinggir kota, bahkan sampai ke daerah pemukiman yang jalannya sudah seperti labirin," Gurat depresi kembali mewarnai rupa imutnya, "Maafkan aku..."

"Hmm..." Komentar Law mengalun singkat. Kemudian iris keabuannya melirik malas ke gadis mungil di kursi sampingnya, "Lalu karena tak berhasil, kau memutuskan untuk makan kue bersamanya?"

Bonney masih pasang ekspresi poker face.

"Ah. T-Tidak, Kapten!" Bepo buru-buru menyangkal, "Aku bertemu dia sewaktu berada di daerah pemukiman, sedang dikejar Navy. Mereka bahkan mau menembaknya. Aku jadi ikut terlibat deh..."

"Hee, dikejar Navy..." Tidak ada senyum yang terukir di wajah Law, tapi air mukanya menunjukkan ketertarikan.

Bepo menggaruk bulunya yang tak gatal dengan canggung, "Katanya dia ketahuan mencuri makanan jadinya dikejar,"

"Hmm...mencuri makanan,"

Bonney masih bergeming.

"Navy-nya banyak lho, Kapten. Tak kusangka untuk pencuri makanan saja, Navy sini sampai mengerahkan segitu banyak orang. Apalagi kalau untuk menangkap kawanan seperti kita?"

"...Kawanan seperti kita, eh?"

Bonney menelan bulat-bulat tiga potong muffin tanpa dikunyah lebih dahulu.

"Ya sudah, jadinya aku tolong anak ini karena dia kelihatan tak berdaya. Lawannya orang dewasa semua! Kan tidak adil!"

"Hoo, tak berdaya..."

Sepertinya pulau ini aslinya bukan pulau musim gugur deh. Habisnya Bonney merasa udaranya tiba-tiba agak panas di sekitar sini.

"Umm, karena kasihan, aku juga membelikannya kue. Tapi...nafsu makan anak ini...ganas juga..."

"Nafsu makan ganas, ya..."

Oh, demi Roger dan kru Oro Jackson, bisakah Bepo hentikan laporannya yang mendetil itu?! Soalnya makin lama komentar-komentar singkat si janggut kambing ini terdengar menjengkelkan di telinga Bonney. Intonasinya itu lho! Meski bibir itu tak menyunggingkan senyum, nada suaranya sendiri entah mengapa terdengar puas mencemooh Bonney.

...Begitu yang sekarang tengah meledak dalam benak Bonney, namun tampangnya tetap lah sedatar tembok.

"Ah, benar juga. Hey," Bepo mencolek Bonney dengan muka tak ada dosa, "Kau belum kenal dengan orang ini, kan? Tak perlu takut. Meski dia bertato dan umm, agak tidak friendly, dia tidak jahat kok," Yeah, right. Ingin sekali Bonney memutar bola matanya, "Dia kaptenku. Namanya Law,"

Mungkin Bepo mengartikan diamnya Bonney sebagai grogi akibat keberadaan si kapten Bajak Laut Heart, jadilah ia mengikuti alur permainan tersebut. Dia hentikan acara makannya, menatap Law dengan iris violet yang membulat. Super innocence. Bibirnya membuka setengah sambil sesekali dikulum, seolah masih malu untuk bercakap langsung dengan lelaki itu. Dan dengan nada yang sama innocence, Bonney mulai berbicara.

"Umm...Tuan Kapten, aku—"

"—Simpan napasmu untuk mengelabui orang lain, Glutton-ya. Itu tidak mempan denganku,"

Ah, oke.

Kali ini Bonney tidak menahan diri untuk memutar bola matanya sekaligus mencibir. Dengan huff pelan, gadis itu menghempaskan diri ke punggung kursi, tak lagi berusaha menutupi identitas diri. Sementara itu Bepo tertegun, agak lemot mencerna adegan yang terjadi di depannya. Bonney mengambil kepingan cokelat di kuenya dengan sebelah tangan sebelum berkata acuh tak acuh, "Sejak kapan?"

"Sejak awal," Law merespon santai, "Selain fisik, penampilan luarmu tak ada yang berbeda. Yang aku tidak tahu hanyalah mengapa kau bisa makan bersama salah satu anggota kruku,"

Bonney menghela napas. Tentu saja, lelaki ini sudah pernah menyaksikan kekuatan buah iblisnya di waktu awal pertemuan mereka. Bonney terlalu mendorong keberuntungannya dengan berharap masih ada celah kabur, namun sepertinya pria ini memang tidak bodoh. Dan harusnya dia tahu, keberuntungannya sudah tak bisa didorong lebih dalam berhubung sedang di tingkat terendah, "Hah, lalu kau tetap bertingkah seperti tak tahu apa-apa?"

Law menyunggingkan senyum khasnya, "Cukup menyenangkan, kau tahu? Melihat gerak-gerikmu yang berhati-hati di depanku dalam tubuh seperti itu. Kebetulan aku sedang kekurangan bahan menarik untuk diperhatikan akhir-akhir ini, jadi jangan berkecil hati karena pertunjukanmu sangat menghibur," Ugh, Bonney memang tidak pernah suka dengan senyum itu. Lama-lama bisa dia tempel stiker smiley serupa dengan Jolly Roger si Bajak Laut Heart ke muka lelaki itu hanya agar raut aslinya tertutupi.

Masih tersenyum, Law menoleh lambat, "Namun aku baru tahu kalau kekuatanmu juga dapat diaplikasikan ke tubuh sendiri. Kira-kira bagaimana ya pengaruhnya terhadap metabolisme tubuhmu...Fufu, kau bisa jadi spesimen menarik untuk dioperasi, Glutton-ya,"

Sang perempuan mendengus, "Maaf kalau harus menghancurkan mimpimu, Mad Doctor, tapi aku tak akan pernah sudi jadi mainan di meja operasimu,"

"Oh, sayang sekali," Tak ada nada penyesalan, hanyalah intonasi mengolok seperti yang lalu.

"Anu..." Bepo hati-hati menyelip diantara percakapan mereka, "Jadi Kapten sudah kenal Spinel sebelumnya?"

"Spinel?" Law mengangkat sebelah alisnya. Ujung bibirnya tertarik lagi ke bentuk seringai ketika menatap si gadis mungil, "Itu nama yang kau pakai dalam tubuh itu?"

Bonney mendelik kasar, "Ada masalah?"

"Tidak," Sang pria mengangkat bahunya tak acuh. Kemudian dengan gestur yang sama, dia menyenderkan diri ke kursi Bonney, satu tangan menjuntai santai di atas punggung kursinya, "Jadi coba beri tahu aku, Spinel," Manik keabuannya melirik pelan, "Mengapa orang sepertimu sampai tak berdaya saat dikejar Navy?"

Intonasi Law saat mengutip kalimat Bepo tadi itu benar-benar minta ngajak berantem, sungguh. Namun Bonney tahu persis kalau dalam keadaannya sekarang, beradu fisik dengannya tidaklah cukup memungkinkan. Bukan style Bonney untuk percaya pada nilai bounty seseorang dalam poster. Dia sendiri sudah dapat menilai mana orang yang sesuai dengan harga kepalanya dan mana yang tidak.

Sayangnya, si janggut kambing termasuk opsi yang pertama.

Bila tak bisa beradu fisik, maka biarkan Bonney bertahan dalam beradu mulut, "Bukan urusanmu, Trafalgar,"

"Tentu urusanku, karena kau membuat salah satu anggota kruku ikut terlibat,"

"Hah, itu nasibnya, jangan protes padaku. Protes lah pada nasib buruknya,"

Law masih belum melepaskan seringai mengoloknya, "Apa nasib buruk juga yang membuatmu terjebak dalam borgol Sea Stone?"

Bonney tetap pada ekspresi poker face, "Aku tidak mengerti maksudmu,"

"Heh, sudah kubilang simpan napasmu untuk mengelabui orang lain, Glutton-ya. Aku dan kau sama-sama tahu bagaimana rasanya berdekatan dengan benda semacam itu," [1]

Ingin sekali Bonney face-palming sekarang juga. Ketimbang bete karena diingatkan kalau pengguna buah iblis biasanya mampu merasakan keberadaan si sumber kelemahan di sekitarnya, ia lebih bete karena diingatkan kembali akan kebodohannya, yang telat menyadari keberadaan si borgol Sea Stone di kotak makanan itu berhubung rasa lapar lebih mendominasi.

"Tsk, lalu kena—ah..." Bonney mencibir, "Maaf, aku baru ingat kalau kau dokter berselera buruk, yang bisa sengaja pura-pura tak tahu demi melihat orang lain menderita karena berpikir itu sangat menarik,"

"Aku terima pujianmu," Tawa kecil bernuansa gelap terlepas dari bibir sang dokter kematian. Ia menunjuk gelang batu yang ada di tangan kiri Bonney, "Apa itu borgolnya? Fufu, mengapa bisa kau sampai terjebak di dalamnya?"

"Oh, entahlah. Mengapa tidak kau tebak sendiri alasannya? Kudengar dokter normalnya cerdas," Bonney sudah mulai jengah dengan segala interogasi ini. Dia mengambil dua potongan pai apel dan mengunyahnya dengan gurat jemu, sementara Law mengangkat bahunya singkat.

"Sayang," Sang pria menarik posisinya, kini kembali bersandar di kursinya sendiri, "Padahal aku ingin menawarkan sesuatu yang menarik padamu,"

"Aku tidak sama gila denganmu, untuk ikut menganggap menarik hal yang menurutmu menarik. Simpan saja untuk orang lain,"

"Begitu? Malah dibanding orang lain, kupikir saat ini kau lah yang paling akan menganggap tawaran ini menarik," Law tersenyum penuh arti, "Kau membutuhkannya,"

Bila seringai menyebalkan itu muncul, maka hal tak menyenangkan akan terjadi—itulah setidaknya yang diartikan radar Bonney. Sang gadis mendelik, berhati-hati mengatur emosinya karena tak mau lawan bicaranya ini mengambil alih kontrol percakapan, "Permainan apa yang hendak kau mainkan, dokter sinting?"

"Permainan? Ah, bukan, bukan..." Sang dokter memangku wajahnya dengan sebelah tangan di atas meja ketika suara baritonnya mengalun rendah, "...Kesepakatan,"

Bonney mulai tidak suka dengan arah pembicaraan ini.

"...Aku bisa membebaskanmu dari borgol itu,"

"Hah, aku tidak seputus asa itu sampai meminta bantuan hanya untuk mencari kunc—" Kalimat Bonney tergantung di tengah, mukanya menyiratkan ekspresi sadar akan sesuatu. Dia menoleh, bertemu pandang dengan wajah penuh kemenangan Law.

"Paham? Sudah ingat kembali potensi apa yang kumiliki?" Law meregangkan jemari bertato D-E-A-T-H miliknya, seolah menekankan makna omongannya. Bibir Bonney menipis, sesungguhnya tak suka dengan apa yang baru dia ingat. Bukan hanya Law yang pernah menyaksikan kekuatan buah iblisnya; Bonney pun juga demikian. Tak ingin mengakui, namun kekuatan sang pria bisa jadi solusi bagus dalam situasi ini. Bahkan mungkin permainan pedang dia saja sudah cukup, mengingat reputasinya sebagai kapten kriminal berharga ratus juta.

Bonney hanya mengakui dalam batin, lebih baik mati daripada mengakui secara lisan.

"Perkara mudah sebuah kunci borgol, aku sendiri cukup. Heh, jangankan itu, benda lain pun saat ini bisa dengan mudah kuambil bila aku ingin. Misalnya...kantung Beri orang di sebelah sana?" Tangan Law mengayun santai ke arah sembarang orang, "Ah, aku juga bisa mengambilkan beberapa Den Den Mushi, agaknya sedang banyak yang membawa di sini. Fufu, aku pun bisa mengambil benda yang lebih tersembunyi jika kau mau. Mungkin seperti..." Sang pria menatap lekat-lekat wajah Bonney, "...jantungmu?"

Si gadis mungil mengatupkan giginya, "Berpikir untuk mengancamku, Trafalgar Law?"

"Hanya menyatakan fakta," Law tersenyum simpul.

Bonney mendecak. Mungkin dia berada di posisi terdesak dan tidak menguntungkan; borgol Sea Stone di tangan, bajak laut lawan di depan mata—intinya buruk. Meski demikian, tidak ada—sekali lagi, TIDAK ADA—yang boleh mempermainkan kelemahannya APALAGI di kala dia sedang menikmati santap siang. Dari seluruh hal menyebalkan yang ada di dunia ini, Bonney paling benci semua yang membuat makanannya terasa tidak enak. Dan itu terjadi sekarang.

Sang gadis menaruh sisa potongan tart di tangan ke atas meja dengan bunyi tuk kencang, memutar posisi duduknya hingga berhadapan mata ke mata dengan si pria (walau kenyataannya dia jauh kalah tinggi), lalu berkacak pinggang. Dahinya melipit penuh kesebalan.

"Oi, dengar baik-baik, janggut kambing, aku memang tam—"

RATTLE! RATTLE! RATTLE!

Tiba-tiba saja tanah tempat mereka berada bergetar hebat, "Kena—W-Whoa!" Belum habis Bonney terkejut, kursi tempat dia duduk oleng. Berhubung dalam mode tubuh ini kakinya tidak sampai tanah, jadilah dia hilang keseimbangan dan terhuyung ke depan,

tepatnya ke arah Law.

Cepat, sang pria merangkul pinggangnya, "Fufu, apa tenagamu terlalu banyak dikuras borgol itu sampai-sampai tak bisa mempertahankan keseimbangan sendiri, Glutton-ya?" Jatuh ke tanah memang lebih sakit, tapi saat ini, Bonney lebih memilih itu ketimbang jatuh ke dalam rengkuhan lawan. Hasilnya bisa jadi lebih parah, hey. Lihat saja senyum meledek yang terplester di muka si dokter. Bonney yakin itu baru permulaan.

"Tch, aku tak butuh perhatianmu," Bonney—kini duduk di pangkuan Law—melempar pandangan tajam ketika mendongak. Kedua tangannya merenggut bagian depan baju sang pria—refleks, karena masih dalam rangkaian usaha menstabilkan posisi duduknya. Kedua kakinya berjuntai ke kedua sisi pangkuan Law. Bonney bergeser mundur, tapi tertahan dekapan lelaki itu, "Aku mau turun," Ini bukan permintaan, melainkan tuntutan.

"Kenapa terburu-buru?" Suara rendah Law terdengar sangat dekat dengan kepala sang gadis, "Padahal kita bisa manfaatkan sebentar momen ini..."

Bonney mengernyit, "Aku tidak punya urusan apapun dalam momen ini, mesum! Ugh..." Dia coba memberontak, "Lepaskan aku!"

Law bergeming, berbisik dalam dengan intonasi tak seringan sebelumnya, "Aku tidak menerima perintah, Glutton-ya,"

"Begitu juga denganku," Bonney balas mendesis, "Aku memang tidak segera menghajarmu, tapi jangan pikir aku tak bisa mematahkan rahangmu sekarang juga, Trafalgar. Hah! Bahkan kau hanya beruntung alam sedang berada di pihakmu," Ia mencibir, "Tsk, omong-omong, ada apa dengan gempa bumi yang muncul dengan random-nya ini?!"

"Ah, itu memang fenomena yang sering terjadi di pulau ini," Dengan sama tiba-tiba seperti gempa tadi, si pelayan toko muncul dari belakang Law, "Apa Nona pendatang baru? Rata-rata pengunjung pulau ini juga mengeluhkan hal yang sama, haha,"

Oh, bagus. Dari seluruh waktu pelayaran Bonney selama di Grand Line, ia harus terkena imbas fenomena gaib bin ajaibnya tepat di saat bersama seorang dokter vulgar berhobi buruk. Sungguh kebetulan yang menakjubkan.

"Pulau ini mempunyai gunung berapi?"

"Oh tidak, Tuan," Pelayan itu menjawab pertanyaan Law dengan sopan, "Sepanjang yang saya tahu, ini memang sudah terjadi sejak lama. Waktunya pun tidak tetap. Kadang sehari dua kali, kadang seminggu sekali. Tapi fenomena ini tak pernah memakan korban, tenang saja,"

"Salah! Fenomena ini baru saja memakan korban! Catat itu di buku sejarahmu, pribumi!"

"Eh?"

"Menarik bukan? Gadis ini," Law menanggapi, ringan, "Dia suka mengekspresikan dirinya lewat cara yang tak biasa, jadi mohon dimaklumi,"

"A-Ah..." Si pelayan manggut-manggut, "Oh iya," Dia mengambil gelas dari nampan di tangannya, "Terima kasih telah menunggu. Saya bawakan dua buah Rainbow Sundae. Silahkan dinikmati," Dia melempar senyum ramah pada Bonney, "Nona kecil terlihat menikmati sekali waktu bersama kakakmu. Haha, semoga harimu menyenangkan, ya,"

...Harap diingat, satu-satunya alasan kenapa Bonney tak melibas habis si pribumi ini hanyalah karena dia telah membawakan makanan untuknya. Oleh sebabnya tolong...jangan berkomentar lebih dari itu kalau kau masih ingin menikmati hari esokmu yang menyenangkan, pelayan.

"Saya permisi dulu,"

Si pelayan berbalik pergi diiringi delikan mematikan dari Bonney. Ketika dia menghilang dari pandangan, delikan itu diarahkan kembali ke sang dokter, "Lepaskan aku!"

"Masih? Tidak adakah kalimat lain yang bisa kau ucapkan?"

"Sampai kau muak pun aku ak—!?"

Perkataan Bonney lagi-lagi terpotong, namun kali ini karena wajahnya terbenam dalam baju Law. Lelaki itu baru saja mempererat rangkulannya, mengunci pergerakan tubuh mungil Bonney hanya menggunakan satu lengan, kini melingkar nyaman di pinggangnya. Lengan lain berjuntai santai di sisi tempat bersandar nodachi saat Law mendekatkan bibirnya lambat ke sebelah telinga sang gadis.

"Kau tampaknya memang lebih senang memilih jalur sukar, eh, Glutton-ya? Tapi tak perlu khawatir, fufu...aku suka tantangan," Napas Law menyapu sejumput surai merah muda di telinga perempuan itu. Sesungguhnya menggelitik, kalau bukan fokus Bonney sekarang terpaku pada isi bisikannya. Bonney mengencangkan renggutannya pada baju Law, memberi tanda kalau tindakan dia ini tak membuatnya ciut sama sekali.

"...Arah jam sebelas,"

Bonney memasang raut tanya. Kendati demikian bulir keunguannya tetap bergerak untuk mengintip dari balik pundak Law ke arah yang dimaksud. Orang-orang belalu-lalang di jalanan pusat kota, cukup padat. Pandangan Bonney menyusur ke sekitar mulut gang di seberang sana...lalu seketika bibirnya menekuk tak senang. Di antara kerumunan orang, terselip beberapa pria berseragam putih-biru. Kepala mereka bergerak ke sana kemari, kelihatan sekali sedang mencari sesuatu. Pergerakan mereka berhati-hati, agaknya tidak mau sampai mengganggu aktivitas warga sipil di sekitar.

"Sepertinya para penggemarmu masih belum mau melepaskanmu," Law tertawa rendah.

"Oh diamlah," Bonney memutar bola matanya, "Kau juga bisa jadi target mereka,"

"Tentu," Intonasi sang pria masih ringan, "Namun tak perlu khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri, terima kasih. Yang perlu kau khawatirkan adalah dirimu sendiri..." Hanya dari napas yang menghembus ke kulit pundaknya, Bonney tahu persis ada sebentuk seringai tercetak disitu—Law amat menikmati kondisi ini, "...tidakkah begitu?"

Desakan terselubung. Bonney bukan seorang dungu, dia tahu dia baru saja didesak lewat pendekatan lain.

Bonney tidak takut dengan Navy yang berkeliaran mengejarnya. Sudah jadi takdir bajak laut, buat apa takut? Yang jadi masalah adalah ketika persentase peluang kaburnya menipis. Tidak berada dalam kondisi optimal untuk bertarung itu sudah satu hal. Belum lagi tenaganya terus diperlemah oleh si batu sialan. Dan hanya karena nalurinya sebagai seorang alpha saja lah ia tetap mampu tegar di depan bajak laut lawan ini.

Ketika semua hambatan itu disatukan dalam satu waktu, maka otak Bonney tak punya pilihan selain memaksanya untuk membuat keputusan cepat. Meski ia tahu ini akan sangat, sangat melukai pendiriannya.

"...Katakan syaratmu, Trafalgar,"

Law kembali melepas tawa kecilnya, "Tidak perlu setegang itu, Glutton-ya. Kau membuatku seolah berperan sebagai orang jahat disini,"

Bonney mendengus. Really now? "Tak perlu basa-basi. Katakan saja apa maumu sebagai bayaran,"

"Bayaran, eh?" Wajah sang pria tak lagi membayang di atas pundak Bonney untuk menatapnya secara langsung. Dengan kasual, jemari bebasnya mengambil sejumput surai panjang sang gadis, tak mengindahkan pandangan tajam si pemilik, "Kau tahu betul apa yang digemari bajak laut," Law memuntir rambut itu dengan gestur bermain, "Kita suka barang berharga,"

"Awasi kemana jarimu menyentuh, mesum. Hal buruk bisa terjadi sebelum keinginanmu terpenuhi,"

"Fufu, di saat seperti ini, kau masih berpikir untuk mengancamku, Spinel?"

Bonney tersenyum angkuh, "Hanya menyatakan fakta,"

Seringai khas Law melebar, tampak terhibur. Tapi bukannya melepaskan, ia justru mendekatkan rambut itu ke bibirnya, "Kalau begitu bagaimana bila kubilang..." Law mengecup ujung surai Bonney, "...aku ingin kau membayarnya dengan tubuhmu,"

"!?"

Kali ini, Bonney benar-benar terkejut. Pupilnya bahkan sampai melebar. Dan bukan hanya dia. Bepo—yang dari tadi hanya menonton karena tidak mau mengganggu urusan kaptennya—pun ikut terkejut. Suara kaget tertahan miliknya terdengar bersamaan dengan milik Bonney. Law menaikkan sebelah alis, sedikit heran. Sang pria tahu implikasi yang mungkin tersirat dari pernyataannya, namun dia cukup tak menyangka Bepo juga ikut bereaksi.

"Ada apa?" Ia menoleh ke arah beruang itu.

Sunyi sesaat.

"Aku tak tahu kalau kau ternyata pedofil, Kapten,"

"Aku tak tahu kalau kau ternyata pedofil, Trafalgar,"

Bepo dan Bonney berbicara bersamaan, dengan ekspresi yang sama.

Bibir Law menekuk, suaranya sangat serius, "Tidak, Bepo. Aku tidak seperti yang kau pikirkan," Bulir keabuannya bergeser balik ke Bonney, "Dan kau harusnya tahu ini bukan dirimu yang asli, Glutton-ya,"

"Well yeah, tapi yang kau lihat sekarang kan adalah diriku yang ini," Senyum geli perlahan merekah di bibir sang gadis.

"Omong-omong, Kapten..." Bepo angkat suara lagi, rautnya amat polos, "Aku lihat kau memang sudah kenal Spinel sebelumnya, namun, umm, tidak bisakah kau sedikit, umm, lebih lunak padanya? Begitu-begitu kan dia masih kecil..." Si beruang garuk bulunya, "...aku jadi merasa kasihan...Ah! Bukan berarti aku melarang Kapten untuk mengancamnya lho!"

"..."

Ekspresi Law sedatar tembok ketika menatap krunya itu, lalu berbicara dengan nada jemu, "Ingatkan aku untuk memberimu kuliah khusus mengenai buronan dan foto di poster bounty-nya begitu kita kembali ke kapal, Bepo,"

"Eh? Ah, uhn..."

"Dan mulailah untuk selalu perhatikan seputarmu, karena bila kau lakukan itu tadi, gadis ini tak akan mampu menipumu," Lelaki itu mengendikan kepalanya ke sekitar, "Anak kecil tidak mungkin dibiarkan kelaparan di sini,"

Atas hal itu, Bonney ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Area tempat mereka berada ini sepertinya adalah pusat perbelanjaan, terlihat dari banyaknya kafe dan toko yang menjual pernak-pernik. Anak kecil pun banyak berkeliaran. Yang menarik adalah ketika melihat sejumlah poster berisikan promo khusus untuk anak kecil terpampang di toko-toko. Bahkan di sudut persimpangan, terdapat badut yang sedang memberikan balon gratis ke bocah-bocah. Beberapa kotak permen juga tampak dibuka gratis di sepanjang jalan.

"Hee...sedang ada perayaan untuk anak kecil kah?" Bonney spontan berceletuk. Pantas pelayan toko dessert sini baik sekali mau memberinya kue gratis. Kalau begini caranya, semakin bernafsulah dia untuk mendapatkan Eternal Pose si pulau. Boleh banget ini sih.

"Tidak juga," Law menjawab, "Kudengar mereka memang sering melakukan ini,"

"Benarkah?" Mata sang gadis berbinar. Otaknya langsung menyusun berbagai skenario untuk mempelorot habis kesempatan emas ini. Ditambah lagi, dia mungkin saja bisa lepas dari situasi sekarang. Bonney mengulum bibirnya. Oh ya, ini akan berhasil...

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Glutton-ya, jadi hentikanlah," Sang dokter memutuskan untuk membuyarkan mimpi si gadis, "Saat ini kau sudah ada di dalam rentangku dan kau..." Law kembali bermain dengan surai merah mudanya, "...tidak bisa lari,"

Bonney mencibir, mengibaskan tangannya agar Law tak lagi menyentuh rambutnya, "Whatever," Ia menatap pria itu lagi, "Jadi, kau ingin aku melayanimu? Euh, kalian lelaki sama saja mesumnya, mau bajak laut atau bukan..."

"Fufu, aku memang ingin dilayani, tapi bukan seperti yang kau terka, tenang saja,"

"Hah, jangan bilang kau serius ingin menjadikan tubuhku kelinci percobaan di meja operasimu?" Si perempuan mungil mengerutkan dahinya, "Oh kau sungguh sakit, Trafalgar, kau tahu? Harusnya sebelum pergi menyembuhkan orang lain, kau sembuhkan dulu penyakitmu yang sintingnya sudah stadium akut itu,"

"Tolong. Aku harap kau bisa membedakan antara sakit dengan penelitian untuk kepentingan medis,"

"Sesukamu lah, Mad Doctor," Bonney tidak akan pernah se-frekuensi dengan dokter gila ini, jadi lebih baik yang waras yang mengalah duluan.

Law masih tersenyum, "Aku memang ingin menggunakan tubuhmu. Khususnya tubuhmu. Di atas meja operasi akan menyenangkan, namun saat ini, aku punya panggung lain yang telah kusiapkan untukmu,"

Gadis itu mendelik tak suka, "Apa maksudmu?"

Sang dokter kematian menyeringai kecil, "Kalau begitu bagaimana kalau kita mulai saja pembicaraan mengenai kesepakatan ini..." Ia memposisikan tubuhnya lebih nyaman ke punggung kursi, "...kapten Bajak Laut, Jewelry Bonney,"

|
xXx
|

TAP! TAP! TAP!

Langkah Bonney tak pakai santai ketika menyusuri jalanan setapak pinggiran kota. Pipinya menggembung, agak kemerahan karena bete—tampang amat cocok dipasangi kepulan uap komikal yang keluar dari kepala bak adegan manga. Tentu saja semua ini dikarenakan oleh satu eksistensi berjanggut kambing dengan selera buruk merangkap vulgar dan pedofil. Kurang nista apa lagi coba orang itu?!

Di daerah tempatnya berjalan sekarang sudah tak begitu padat orang, namun masih tampak berjejer rumah hunian, lengkap dengan pemandangan kain jemuran dan beberapa lansia yang sedang menikmati tehnya. Angin musim gugur menghembus dedaunan pohon. Gemersiknya cukup keras berhubung jumlah pohonnya sendiri banyak. Maklum, ini juga sekaligus daerah pinggir hutan. Mungkin malah sungai mengalir di sebelah sana adalah sungai yang sama dengan yang ia jumpai bersama Bepo saat berhasil kabur dari Navy tadi.

Ah, ingat Bepo, jadi ingat kaptennya, "Tsk,"

Namun mau bagaimana pun, ia kemari juga alasannya karena nyerempet manusia satu itu. Tepatnya karena kesepakatan yang Bonney buat dengan dia. Kesepakatan terpaksa.

Singkat cerita, Law ingin dia mencari tahu informasi mengenai geografi detil dari pulau ini. Bukan sekedar informasi yang bisa di dapat mudah dari peta, melainkan jalan tersembunyinya. Entah dari mana sang pria dapat menarik kesimpulan itu, namun jalan tersebut katanya ada. Meski penduduk sini terlihat ramah-ramah, bibir mereka ternyata terkunci lebih rapat dari yang diduga. Mungkin karena sebagian ada yang tahu reputasi Law atau sederhananya, ia orang asing. Lewat kekerasan pun percuma sebab mereka terbukti tidak tahu banyak. Hanya saja ada sesuatu yang ditangkap insting Law. Sesuatu yang disembunyikan, tapi dia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan pasti.

Dan disitu, peran Bonney masuk.

Jika jalur kekerasan tak menyelesaikan masalah, bagaimana bila lewat jalur bersahabat? Misalnya, lewat perantara anak kecil. Law hendak memanfaatkan kenyataan bahwa penduduk sini begitu menyukai anak kecil. Kurang paham sebesar besar rasa suka mereka, namun bukan tak mungkin obrolan satu atau dua topik dengan anak kecil lama-lama akan berujung ke topik yang tersembunyi, benar? Law bertaruh pada hal itu. Normalnya, anak kecil sukar diajak kompromi soal ini, tapi Bonney bukan normalnya anak kecil.

Karena itu sang gadis digunakan. Tubuhnya digunakan.

Lalu apa kata Law begitu Bonney tanya kenapa dia terobsesi dengan hal ini?

"Ah, kalau kuberitahu, tidak akan menarik. Bagaimana kalau kau mencari sendiri alasannya? Barangkali Spinel cukup cerdas untuk bermain tebak-tebakan?"

Begitu.

Hanya berbekal itu, Bonney disuruh cari informasi.

Kurang ngawang apa lagi coba permintannya?!

Heh, namun sama dengan berakting, Bonney bukan pemain baru perihal cari-mencari informasi begini, mau basisnya dari titik nol sekali pun. Hidupnya terlalu banyak bergelut di seputar masalah tersebut. Tapi itu adalah kisah lain, bisa diceritakan nanti. Saat ini ada hal yang lebih menyita mood-nya. Oh ya, Bonney bete bukan karena tidak diberi petunjuk harus cari informasi kemana, melainkan karena perkataan si lelaki tak lama selanjutnya.

"Aku bisa saja membebaskanmu sekarang. Sayang, aku ingat kalau kau telah berani menipu anggota kruku. Sebagai kapten yang baik, aku harus membalas perbuatanmu, bukan? Fufu, kupikir beberapa jam lagi bersama batu itu tak akan menjadi masalah untuk kapten Bajak Laut berharga ratus juta. Urusan Navy serahkan padaku. Kupastikan waktu bermain Spinel manis kita tidak akan diganggu mereka...selama dia masih terus bermain untukku,"

Begitu.

Si janggut $#$^&*&^%$# kambing itu berani mengancam Bonney LAGI dengan seringai &^*#$^&*#^% itu LAGI, ditambah LAGI Rainbow Sundae-nya meleleh karena diskusi mereka yang terlalu lama.

Mati nomor dua. Trafalgar Law harus merasakan neraka bernama api kemurkaan Jewelry Bonney dulu sebelum meninggal.

Jadi disinilah sang gadis, masih mungil seperti di tiga hari terakhir, pipi menggembung, agak kemerahan, dan bisa jadi kepulan uap komikal bukan lagi sekedar komikal melihat dari panasnya emosi dia.

TAP! TAP! CLACK! CLAP!

Bonney mengerjap, langkahnya berhenti. Itu bukan suara tapaknya. Kedua bulir amethyst dia lantas mengedar ke sekitar. Lalu ketika bunyi itu muncul lagi, pandangan si gadis telah mendarat ke kerumunan tak jauh dari sampingnya.

Sekumpulan anak kecil tampak melakukan sesuatu, berlari menyebar diiringi tawa riang. Beberapa di antaranya membuat barisan lingkaran, beberapa sisanya melakukan gerakan aneh. Terlihat sekali mereka sedang bermain, meski Bonney tidak tahu permainan macam apa. Tanpa berpikir, dia mendekat ke arah mereka.

"Ah," Seorang perempuan kecil bersurai pirang pendek berhenti berlari, sadar akan kedatangan Bonney, "Halo!" Senyum besar menghiasi wajahnya, "Aku tidak penah melihatmu. Orang baru? Jarang kemari? Datang darimana? Tinggal dimana? Kamu tidak dingin dengan pakaian begitu? Kalau aku lebih suka pakai rok~"

Bonney mendengus. Slow down, kiddo. Namun senyumnya tetap tersungging. Saatnya mengaktifkan mode profesional.

"Iya, aku baru datang ke pulau ini, hanya berkunjung bersama kakakku," Dia menengok kiri-kanan, "Tapi sepertinya akan menyenangkan tinggal di sini,"

"Oooh tentu! Di sini orangnya baik-baik lho! Aku suka tinggal sini~" Tanggap si pirang menggebu, "Omong-omong, namaku Melly. Namamu siapa?"

"Spinel~" Bonney menjawab tak kalah riang, "Oh, apa kalian sedang bermain?" Telunjuknya mengacung ke belakang Melly, "Tampak ramai sekali, aku belum pernah melihatnya,"

"Yep! Wah, sayang sekali kalau belum pernah lihat. Itu permainan yang paling disukai anak-anak pulau ini lho~"

"Hee..." Sang kapten mungil mengangguk ringan.

"Ayo, sini, sini! Aku tunjukkan cara bermainnya! Mumpung kamu berkunjung kemari!"

"Eh?" Baru sepatah kata itu saja yang dilontarkan Bonney ketika lengannya tahu-tahu digaet Melly, digiring menuju kerumunan anak-anak lain.

"Teman-teman! Aku bawa anak baru lho, namanya Spinel-chan~"

Beberapa anak menghentikan aktivitasnya, sebagian ada yang langsung mendekat sembari melempar sapa. Atau malah ada yang tertawa, "Melly-chan, jangan bilang kamu menarik sembarang anak lagi ya?"

"Kamu terlalu pemaksa sih!"

"Dasar cerewet!"

"Iih, kali ini beda! Dia pengunjung dari luar pulau," Melly berusaha mempertahankan diri, "Lagipula Spinel-chan juga tertarik ingin main, ya kan, Spinel-chan?"

Tidak, Nak, apa yang teman-temanmu katakan itu benar, "Permainan kalian terlihat unik, tadi aku hanya menyaksikan sekilas dari sana," Bonney akhirnya menjawab setengah jujur. Dipuji begitu, terang saja para anak pribumi ini sumringah. Satu persatu berbicara secara bersamaan.

"Uhn, uhn, memang unik kok. Papa juga katanya dulu sering main,"

"Di tempatmu tidak ada yang seperti ini?"

"Spinel-chan, ayo main sama-sama!" Dan sekali lagi, Bonney digiring pergi.

Berbanggalah lah, Nak, kalian bisa dengan mudahnya menarik seorang buronan berharga digit sembilan kesana kemari, dimana Navy saja masih susah melakukannya meski telah dibantu borgol Sea Stone. Patut itu dicatat di buku sejarahmu. Lagi.

Dalam sekejap, Bonney telah terlibat dalam permainan mereka. Awalnya sekedar diajari inti permainan, yang omong-omong tidak berbelit. Hanya perpaduan berlari dan melompati pola di tanah. Yang menarik adalah untuk melompati pola tersebut, seseorang harus mengikuti nada dari tepuk tangan. Malah ada yang sampai mengadukan batu. Melodinya sesuka hati dan bagian itulah yang paling disukai anak-anak ini.

Berpasang mata innocence memaksa Bonney untuk mencoba. Sang gadis menyeringai kecil, berpikir tak ada salahnya memberi unjuk satu dua skill tak biasa kepada para makhluk mungil ini. Dan ketika dia mendemonstrasikan bagaimana caranya bermain, mereka langsung menyukainya. Sungguh makhluk yang mudah terkesan anak kecil itu.

"Spinel-chan, lagi! Coba sekarang nada yang ini!"

"Aku ganti polanya ya!"

"Tunjukkan akrobat yang lain, Spinel-chan!"

"Tsk, tsk," Bonney meggoyangkan telunjuknya, "Aku bisa lakukan lagi untuk sekantung cokelat~"

"Eeeeh..."

Maaf, Nak, mau bagaimana juga Bonney itu bajak laut.

"Akrobat selanjutnya dijamin lebih keren, percaya deh,"

Anak-anak yang mendengarnya pun dilema.

"HAHAHAHAHA, ya kan?! Aku juga bilang itu tadi, haha!"

Fokus Bonney bergeser sedikit ke sebelah, sementara anak-anak yang mengerumuninya masih sibuk berkompletasi soal tawaran menariknya. Terlihat sekelompok pria berpakaian pelayar melangkah penuh arogansi khas bajak laut di jalan dekat dia berada. Suara tawa dan obrolan mereka sampai terdengar kesini saking kerasnya. Sang gadis mencibir singkat.

"Aku tidak suka bajak laut," Melly bergumam. Dia ikut memandang para pria tersebut, "Mereka sering lewat sini dan tak sedikit yang buat kekacauan,"

Bonney hanya mengangkat bahu. Dia tidak melarang publik untuk membuat opini, sudah lumrahnya begitu. Lagipula tidak sepenuhnya salah, "Mungkin karena pulau ini dekat Red Line? Kakakku bilang semua bajak laut berlomba-lomba untuk melewatinya menuju belahan laut yang lain,"

"Uhn," Si pirang mungil mengangguk, namun tak lama tersenyum, "Tapi aku tidak takut, anak-anak sini pun begitu. Spinel-chan juga aman kok disini~"

"Hah? Maksudnya?"

RATTLE! RATTLE! RATTLE!

Lagi. Gempa bumi random itu datang lagi. Karena berada di tanah, Bonney tetap bisa bergeming. Hah, ingin rasanya dia menyemprot si kapten Bajak Laut Heart sekarang juga dengan perkataan 'Memang tadi kau beruntung saja karena nyatanya aku masih bisa berdiri tegar walau batu sialan ini mengekangku!'.

"KYAAAA!"

Seseorang berteriak. Bonney menoleh cepat.

"Oi, oi, oi, tadi itu kau yang salah! Aku hanya melakukan hal sewajarnya!" Entah sejak kapan, seorang dari kerumunan bajak laut yang lewat itu merenggut kerah baju salah satu anak kecil dan mengangkatnya paksa. Wajah anak-anak sisanya spontan memucat, meski sebagian masih ada yang berseru memanggil nama kawannya itu, "Diam kalian, bocah!"

"Ugh...tadi ada gempa..."

"Hah, gempa atau tidak, kau tetap sudah menabrakku!" Si pria menyeringai jahat, "Tidak gratis, tahu! Sekarang serahkan apa yang kau miliki!"

"Umm...aku punya cokelat..."

"Haaah?! Bajak laut mana yang bisa dibayar dengan cokelat, dasar bodoh!" Teman satu krunya yang lain menanggapi, "Kalau tak punya uang, beri tahu saja dimana orang tuamu! Mereka jelas punya barang berharga, heheh..."

"Oi, Paman,"

"Ada ap—"

"—Cokelat anak-anak ini akan diserahkan padaku," Bonney masih tak beranjak dari tempatnya, tapi suaranya cukup keras untuk mendapat perhatian dari para pria tersebut. Yep, bajak laut yang ini mau dibayar dengan cokelat, ada masalah? Omong-omong, kata siapa gempa ini tak pernah memakan korban? "Jadi lepaskan dia dan cari korban lain sana,"

Melly memegang lengan Bonney, "Spinel-chan!"

Kawanan pengacau itu tertegun sesaat sebelum terbahak keras, "Bwahahahahaha! Punya nyali juga bocah ini!" Si pria kemudian mencampakkan anak di tangannya untuk berjalan lambat ke arah Bonney, "Cari korban lain, eh? Bagaimana kalau itu adalah dirimu, gadis kecil?"

Sang kapten mungil tersenyum. Begini lebih baik, bisa berakhir lebih cepat, "Aku tidak rekomendasikan untuk menyentuhku, Paman,"

"Heheh, besar mulut sekali si kerdil ini," Dua orang dari gerombolan itu mendekatinya dari kedua sisi. Tanpa bicara, Bonney mendorong pelan Melly, memberi gestur agar dia dan anak-anak lain menjauhinya, "Kita lihat apa kau masih bisa begitu setelah ini!"

Cepat, satu orang menjulurkan tangannya untuk meraih Bonney. Namun dengan santai, Bonney mundur ke belakang, "Mau menangkap siapa, Paman?"

Si pria menyeringai, "Bocah sok ini..." Ia meraih Bonney lagi, namun hanya udara yang ditemuinya. Gadis itu telah melompat untuk menyarangkan sebuah tendangan ke pelipisnya, "UAGH!" Sang lelaki tersungkur.

"Paman tidak dengar rekomendasiku sih,"

Teman se-krunya terkejut, mendesis marah, "Apa yang kau lakukan?!"

"Hanya menendang, Paman itu saja terlalu lemah," Bonney menjawab apa adanya.

Makin emosi, mereka serentak mendekati dia. Bonney mengelak dan menunduk, menendang tulang kering salah satunya dengan telak. Sementara korbannya meringis, dia bersalto ke belakang, mengambil jarak. Satu orang yang paling dekat menerjang. Ia disambut oleh hindaran Bonney, lalu ketika sudah lewat, si gadis lontarkan tubuhnya ke punggung pria itu, mencekal lehernya dengan kedua kaki diiringi sikutan tajam ke batok kepala.

"ARGH!"

Bonney melompat turun, menyeringai.

"Grr...anak sialan!"

Dua dari mereka maju, tiba-tiba menghunuskan pisau pendek. Refleks Bonney masih cukup cepat. Dalam sepersekian detik, ia miringkan tubuhnya. Pisau tersebut hanya lewat sekian senti dari lehernya. Bonney ambil kesempatan itu untuk maju, menyergap lengan besar salah satu pria, dan menggeretnya jatuh agar berbenturan dengan rekannya. Sang gadis menarik diri mundur, terengah.

Sial, karena gerakan tadi, gelang batu di tangan Bonney terlalu menekan kulit hingga efek kurasan tenaganya dipercepat. Ia coba atur napasnya, menstabilkan energinya lagi.

BANG!

Sesuatu cepat mendarat di tanah belakangnya. Bonney berpaling ke sisi kanan. Sebuah pistol terarah padanya, "Waktu bermain habis, Nak," Bunyi kokangan mengudara. Sang gadis mengutuk dalam hati. Sungguh pemilihan waktu yang tepat untuk memunculkan senjata itu, Nasib. Namun Bonney tetap fokus. Ia harus selamat dari ini. Satu dua baretan tak jadi masalah, "Korban lain bisa kudapat nanti, sekarang kau harus mati!"

"Spinel-chan!"

Pelatuk ditarik.

Bonney mengelit. Berhasil kah?

"Room,"

Dengan tuk keras, sesuatu beradu dengan pipinya. Bonney jatuh terduduk, hanya karena kaget kencangnya tidak seperti yang diduga.

"UAAAAARGH!" Belum selesai, tahu-tahu si penembak mengerang kesakitan, terjerembab sembari memegangi betisnya yang berdarah. Rekan-rekannya berseru kaget. Satu dari mereka menunjuk ke belakang pria itu.

"Oi, siapa kau?! Apa yang kau lakukan padanya?!"

Bersamaan dengan pertanyaan tersebut, Bonney ikut mendongak. Pria lain datang mendekat dari balik pohon. Berjalan super kasual, nodachi di bahu, dan jangan lupa, seringai khas yang sempat membuat Bonney naik pitam beberapa jam terakhir.

"Seorang asing yang lewat," Trafalgar Law belum menghapus ekspresi mengolok itu dari mukanya, "Dan melempar permen,"

Sang gadis melirik ke pangkuannya. Sebuah permen tergeletak manis di sana. Dia memutar bola matanya. Jadi Bonney baru saja diselamatkan kekuatan pria ini, huh?

"Bohong! Kau yang menembak kakinya kan?!"

"Ralat. Secara teknis, dia sendiri yang menembak peluru itu," Intonasi si dokter seperti yang sedang mengajarkan satu tambah satu itu dua, "Aku hanya menukarnya,"

"Bagaima—ugh, pengguna buah iblis..."

Law tertawa kecil, "Perspektif bagus, Pirate-ya,"

"Kau..." Semua bajak laut, baik yang telah dijatuhkan Bonney atau tidak, mengeluarkan senjata. Namun sang target tak merasa terganggu, malah menatap si kapten mungil di sekian meter depannya dengan senyum terhibur.

"Lelah?"

"Tinggalkan aku,"

"Kau sedang terdesak, bukan?"

"Aku bisa selesaikan ini sendiri,"

"Seberapa cepat?"

"Hah, jangan sombong hanya karena bisa menggunakan kekuatanmu, Trafalgar!"

"Oh, tapi aku bisa menyelesaikannya tanpa itu,"

"Pembual,"

"Try me,"

Bonney terdiam, "1 menit,"

"Dan bila aku berhasil, kau akan melakukan apapun permintaanku terlepas dari kesepakatan kita,"

Si mesum ini!

"Hanya jika kau bisa,"

Law menyeringai puas.

"Oi, oi, oi! Berani juga kau mengobrol dan menghirau—"

SLASH! SLASH! SLASH!

"UWOAAAAAGH!" Kerumunan itu spontan terkejut. Lelaki yang tertembak tadi kembali mengerang ketika dengan tangkas Law menebaskan nodachinya ke tubuh pria tersebut. Namun mendadak ia berhenti berteriak, "Eh? Tidak terlalu sakit ternyata...E-Eh?! Tapi kenapa darahnya keluar terus?! O-Oi!"

"Aku memotong sedikit pembuluh darah tangan dan kakimu, total 37 sayatan. Cukup untuk perlahan mengeluarkan seluruh darah dalam tubuhmu tanpa bisa dihentikan," Law tersenyum ringan, "Mungkin sekarang tak sakit, tapi kau akan melemah...sampai ajal menjemputmu...Fufu, tenang saja..." Dia melempar pandangan penuh makna pada kerumunan di seberangnya, "...aku adalah dokter handal. Sayatan operasiku selalu akurat,"

Bulu kuduk para bajak laut yang mendengarnya tiba-tiba meremang.

"Ada yang mau bernasib sama dengannya?"

Wajah mereka pucat seketika.

"Sebentar...Trafalgar...dokter..." Salah satunya berbicara, lalu tersentak, "J-Jangan bilang, kau 'Surgeon of Death' Trafalgar Law?!"

Satu senyuman Law saja yang dibutuhkan untuk membuat mereka semakin ketar-ketir.

"Trafalgar Law?! Bajak laut 180 juta Beri yang terkenal dengan kebrutalannya itu?!" [2]

"Aku tersanjung kau ingat nominal bounty-ku, Pirate-ya,"

Sekejap, raut bimbang merebak dalam kerumunan tersebut, "K-Kita pergi dari sini! Kau hanya beruntung, bocah, ingat itu!" Sedetik kemudian, mereka buru-buru angkat kaki. Bahkan si penembak terluka tadi ikut bersusah payah menyusul.

Bonney menyaksikannya dengan mulut setengah terbuka, tak percaya, "Pengecut!" Hanya begitu dan mereka kabur?!

"Mereka melakukan hal yang sepantasnya dilakukan," Law berkomentar simpel.

"Dari semuanya kau memilih untuk menggunakan reputasimu?!"

"Tanpa kekuatan buah iblis, syaratnya itu kan?" Sang dokter menyarungkan kembali nodachi-nya, "53 detik. Fufu, aku akan menantikan saat-saat hadiahku digunakan tiba, Glutton-ya,"

"Maniak," Bonney mendesis, "Dan bisakah kau lakukan operasimu dengan sedikit sensor? Sekarang coba beritahu aku bagaimana cara menangani itu," Mengangkat alis, Law mengikuti arah tunjuk sang perempuan.

Sekelompok anak yang hanya bisa menonton dari pinggir tampak pucat pasi. Beberapa membeku di tempat, beberapa saling berpelukan. Sudah barang pasti mereka ketakutan, terlebih saat kedua kapten itu akhirnya memandang mereka. Meski demikian, Melly terlihat membuka tutup mulutnya, berusaha mencari suaranya, "S-Spi..."

"Ah, Me—"

"—SPINEL-CHAN!"

Bagai ombak, kerumunan manusia mungil itu menyerbu tempat Bonney duduk. Melly bahkan jelas-jelas menerjangnya, "Spinel-chan, hwaaaaaaaaaaaa...!" Si pirang menangis sambil memeluknya erat. Awalnya Bonney kaget, namun tak lama menghela napas. Ia mengelus punggung sang gadis.

"Yeah...aku tahu tadi itu menakutkan, apalagi si dokter sinting. Tapi, hey, katanya kamu tidak takut bajak laut?"

Melly menggeleng, masih membenamkan wajahnya di bahu Bonney, "...B-Bukan itu..."

"Lalu?"

"Melly-chan khawatir padamu, Spinel-chan!"

Bonney mengerjap mendengar kalimat anak di sekitarnya.

"Iya, kami juga khawatir tahu!"

"Spinel-chan, apa ada luka?"

"A-Aku pikir kamu akan tertembak, Spinel-chan, hwaaaa...!"

"Tadi keren sekali, Spinel-chan! Ajari aku akrobat dong!"

Bonney masih tertegun, cukup tak menyangka, namun kemudian tertawa, "Haha, ya ampun, kalau itu sih tak perlu khawatir! Lihat?" Dia membuka lebar tangannya, "Aku baik-baik saja, bukan?" Perlahan, sebagian anak menunjukkan senyum lega, meski tampaknya Melly belum demikian. Tubuhnya masih bergetar hebat. Bonney mengulum bibirnya, sebelum menarik Melly untuk melepas pelukannya dan melihat langsung wajahnya, "Oke, katakan 'aaaaaa',"

"E-Eh?"

"Buka mulutmu. Aaaaaaa,"

Melly tetap bingung, tapi melakukan apa yang disuruh, "Aaaaaa..." Tepat saat itu, Bonney memasukkan permen yang membentur pipinya tadi ke dalam mulut Melly. Refleks, si gadis mengemutnya.

"Enak?" Melly mengangguk, "Manis?" Melly mengangguk lagi. Bonney tersenyum, "Makan yang enak dan manis bisa membuat perasaanmu senang. Kamu tidak akan ketakutan lagi," Mendengar kalimatnya, si pirang mengerjap lalu balas tersenyum, tak lama mengangguk, "Ah, tapi kalau lama-lama permennya terasa aneh, salahkan dokter sinting itu, jangan aku,"

"Itu permen dari pulau ini," Law angkat suara, sedaritadi berdiri dengan kasual di tempatnya. Sebagian anak terdekat mendongak padanya, memancarkan rasa takut sekaligus ingin tahu. Law mengacuhkan mereka.

"Spinel-chan...itu kakakmu?"

Bonney spontan mengumbar aura 'ye fahken kiddin meh?!'. Tolong, cukup pelayan kafe tadi saja yang punya ide seperti itu tentang dia dan lelaki ini.

"Bukan, bukan, bukan," Penolakan total, "Dengar ya, pria ini berbahaya. Kalian lihat kan dia suka menyayat orang sembarangan? Tidak sampai situ, dia juga suka memotong orang!" Celetukan terkejut mengudara dari kerumunan tersebut, "Dan mau tahu yang terparah apa?" Kalimat Bonney berjeda sok misterius. Berpasang mata harap-harap cemas menanti kelanjutannya, "...Dia pedofil!"

Hening.

"...Spinel-chan, pedofil itu apa?"

"Kalian tidak tahu pedofil?!" Bonney amat syok. Malang sekali mereka, istilah ini patut disosialisasikan, "Dengar baik-baik, pedofil itu artinya suka menyiksa anak kecil, memperbudak anak kecil, MAKAN ANAK KECIL! Kalian tahu apa julukan pria ini karena hal itu? 'Pedophile of Death' Trafalgar Law—Ouch!" Bonney mengusap kepalanya yang ditimpuk, lalu mendelik kasar pada Law, "Apa masalahmu?!"

"Semuanya," Sang pria balas mendelik. Di tangannya masih ada sekitar dua permen, siap dilemparkan, "Kuharap kau berhenti membengkokkan makna asli dari sebuah istilah, Glutton-ya. Dan yang terpenting..." Tampang Law sangat serius, "...aku bukan pedofil. Berhenti mengubah julukan orang sesukamu!"

Bonney mendengus geli. Bisa melihat bajak laut lawanmu seperti ini memang sehat untuk jantung. As expected from captain of 'Heart' Pirates, "Kalau tak mau dengar, pergi saja sana! Lagipula sedang apa kau di daerah ini? Kupikir sudah kuberitahu incaran pertamaku adalah selatan, kau ambillah daerah lain,"

"Hanya menjalankan bagian kesepakatanku," Law berkata acuh tak acuh, "Berhubung sudah tak ada lagi yang mengganggu waktu bermainmu, urusanku disini selesai,"

"Waktu berma...ah,"

"—Urusan Navy serahkan padaku. Kupastikan waktu bermain Spinel manis kita tidak akan diganggu mereka...selama dia masih terus bermain untukku,"

...Maksudnya itu?

"Tadi adalah bajak laut,"

Sang pria mulai melangkah pergi, "Aku sebenarnya tak memberi pembeda. Siapapun yang menghalangi tujuanku akan kuatasi," Ketika melewati perempuan itu, senyum khas dia tersungging kembali, "Kau beruntung situasi tadi termasuk salah satunya,"

Bonney terdiam.

"Kuharap kau tahu apa yang sedang kau lakukan, Glutton-ya," Tangan Law melambai singkat, tanpa menengok dari balik bahunya seiring dengan menjauhnya dia, "Nasib kebebasanmu masih di tanganku,"

Bonney mencibir, sekali lagi teringat akan kebetean dia beberapa jam terakhir, walau harus mengakui kalau cukup tak menyangka Law akan memegang kata-katanya. Ia pikir pria itu hanyalah bajak laut arogan seperti yang lain...

"Spinel-chan, jadi orang tadi berbahaya?"

Bonney menoleh ke si penanya, "Uhn, bahaya. Hati-hati kalau bertemu dia lagi, oke?" Bajak laut dengan inteligensi tinggi adalah lawan yang paling Bonney tidak sukai.

"Oh...oke. Tapi aku bersyukur ia menolongmu, Spinel-chan,"

Sang gadis tersenyum. Andai dia tahu apa yang menggerakkan si pria untuk berbuat itu.

"Spinel-chan," Melly di hadapannya menyodorkan sesuatu, "Aku mau beri ini padamu, sebagai ucapan terima kasih,"

Bonney mengerutkan dahinya, "Ini..."

"Kastanyet. Pernah lihat? Kita juga suka pakai ini untuk bermain~"

"Oooh, suaranya lebih bagus lho!"

"Akrobat Spinel-chan pasti akan makin keren~"

"Hee..." Bukan kali pertama Bonney melihatnya. Hanya saja ketimbang alat musik, dia lebih senang diberi yang bisa dimakan,

*RUMBLE*

Dengar? Perutnya saja menyetujui. Efeknya kali ini bahkan plus-plus karena si gelang batu.

"Hihihihi, Spinel-chan lapar ya?" Melly tertawa geli, "Ah, mau berkunjung ke rumahku? Kebetulan Mama masak enak hari ini~ Aku juga punya banyak cokelat~"

"Uwoah, benarkah?!" Salah besar kau telah menyebut informasi itu di depan Bonney, Nak. Stok makanan rumahmu secara official akan dijarah habis olehnya, "Mau! Aku mau!"

"Asyik~ Ooh! Aku akan kenalkan juga pada Papa. Papa pasti senang mendengar kamu telah menolong anak-anak pulau ini. Biasanya dia sibuk, tapi hari ini dia pulang cepat. Bajak laut sedang tidak terlalu banyak,"

Bonney seketika membeku, "Papamu Navy?"

"Haha, bukan, bukan," Tanpa Melly sadari, Bonney sesungguhnya baru saja menghela napas amat, amat lega. Masa dia harus kehilangan kesempatan makan gratis enak karena Navy? "Papaku walikota,"

...

...Heh.

Bonney mulai bertanya-tanya apakah angin keberuntungan sudah berhembus kembali ke arahnya.

"Oke, tunjukkan saja jalannya, girlie,"

Melly tersenyum geli lagi, "Kamu tahu, Spinel-chan, gaya bicaramu kadang suka aneh deh. Misalnya kalau sama orang dewasa. Seolah umurmu jauh lebih tua begitu,"

Sang kapten mungil mendengus. Kau tidak tahu betapa pernyataanmu sangat tepat sasaran, Nak.

|
xXx
|

Wen Gu sedang galau.

Ia berdiri di balik pagar pembatas koridor lantai tiga, bangunan utama Markas Besar Navy, memandang lautan Grand Line dengan sorot mata berpikir. Tak banyak yang ia lakukan selain diam, atau sesekali menghela napas. Bila ada rekan Navy yang lewat dan menyapanya, maka dia akan membalas dengan senyum terbaiknya. Wen Gu tidak mau orang lain tahu dia galau.

Fokus kegalauannya tak lain dan tak bukan adalah target dia, si bajak laut wanita rakus itu. Padahal ia sempat mau membangun strategi baru untuk menangkapnya. Wen Gu begini-begini amat menyesal tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Perairan itu adalah zona patrolinya. Bisa kalah di kandang sendiri sakitnya tuh di sini (tunjuk dada).

Sampai kabar itu datang.

Sungguh, reaksinya nano-nano.

Pertama, Wen Gu bangga dan senang rencananya jadi berhasil. Sekarang yang ia perlukan hanyalah membawa pasukan, kembali ke pulau tempat targetnya berada dan meringkusnya. Namun itulah yang lalu membawanya ke reaksi kedua...

"Hhhh..."

"Sedang lihat apa? Ikutan dong," Tahu-tahu ada yang nimbrung di samping.

"Hah? Oh, tidak hanya sedang meli—UWOAAH!" Badan Wen Gu secara harafiah melenting menjauh, nyaris jatuh bokong duluan saat mengambil jarak dari figur yang datang dan berbicara secara tiba-tiba itu, "L-L-L-L-L-L-Laksamana Madya Garp?!"

"BWAHAHAHAHA! Reaksimu epic sekali!" Garp the Fist, yang sedang terkenal di kalangan bawah Navy dengan nama Cracker-Monster Garp atau Garp the Donut Hero, mengeluarkan tawa khasnya. Tak berkurang sedikit pun gelegarnya meski sudah dimakan usia.

"L-Laksamana Madya Garp! M-Maaf, saya tidak segera sadar kalau itu Anda!"

"Nah, santai saja, santai saja!" Ia menepuk-nepuk punggung si pria. Gesturnya bersahabat, sayang kekuatan tepuknya yang tak bersahabat untuk ukuran Haki Wen Gu. Oh ya, kadang kau tak punya pilihan selain harus mengaktifkan itu dalam aktivitas tersantai sekali pun bersama sang pahlawan Navy, "Kalau sadar duluan, gagal dong aku mengagetkanmu, bwahahahaha!"

"A-Ah, begitu,"

"Tapi aku memang penasaran kau sedang lihat apa," Garp menunjuk wajah Wen Gu, "Habis tampak serius sekali. Aku sudah tiga kali lewat sini dan kau masih diam pasang ekspresi sama,"

"Eh?! Ya ampun, maaf saya tidak sadar Anda lewat sini tadi!" Wen Gu buru-buru membungkuk.

"Bwahaha, kan sudah kubilang santai saja. Jadi? Ada masalah?"

"Ah...hanya masalah kecil, Laksamana Madya. Masalah bajak laut yang mengacau di perairan seperti biasa," Wen Gu menunduk agak malu, "Saya tahu Markas Besar sedang dalam persiapan menghadapi masalah yang lebih besar lagi, jadi Laksamana Madya tak perlu ikut memikirkan ini,"

Bukan sembarang masalah besar, namun benar-benar besar. Apalagi kalau bukan eksekusi salah satu kriminal terkenal, Komandan Divisi II Bajak Laut Whitebeard, Portgas D. Ace. Hukuman mati yang ditimpakan padanya menjadi suatu kemenangan tersendiri untuk Navy, namun tentu tak bisa semudah itu, terkait kemungkinan tinggi kaptennya yang akan datang menyelamatkannya. Satu dari Empat Kaisar di New World, Edward Newgate. Dan itu...adalah masalah. Besar.

Karenanya semua prajurit elit Navy dipanggil ke Markas Besar, termasuk Wen Gu. Ia tentu dengan senang hati akan menjalankan tugasnya...bila pikiran mengenai target lamanya tidak memberatkan otak a.k.a reaksi kedua Wen Gu. Padahal kesempatan sudah ada, namun dia tak bisa membawa pasukan aslinya berhubung masih dalam pengaruh buah iblis perempuan tersebut. Dia juga tak yakin Markas Besar akan mengijinkannya membawa banyak pasukan baru kesana. Di sini lebih dibutuhkan.

Jadi Wen Gu pusing tidak sih?

"Heh, jangan begitu. Bajak laut tetap bajak laut. Mau sekecil apapun kekacauan yang mereka perbuat, tetap warga sipil yang jadi korban. Tugas kita adalah untuk memastikan itu tak terjadi,"

"Laksamana Madya Garp..." Wen Gu memancarkan raut kekaguman.

"Sama saja dengan stok Senbei dan donat. Wah, kalau kau tidak sering perhatikan jumlahnya, bisa-bisa saat ingin makan, malah habis. Sering sekali itu! Hal sekecil itu bisa jadi bencana! Tch, heran...padahal aku makannya segitu-segitu saja tetapi kenapa cepat sekali dia habis?"

"Ah, begitu..." Raut Wen Gu tadi seketika memudar.

"Heh, tapi yang penting semangat saja...euh...siapa namamu, omong-omong?"

Wen Gu langsung menegakkan tubuhnya sembari memasang hormat khas Navy, "Komandan Wen Gu dari markas G-3, siap bertugas, Laksamana Madya Garp!"

"Bwahahaha, itu baru semangat! Kalau ada masalah lagi, bilang saja, oke?"

Sang komandan tersenyum, "Laksamana Madya terlalu baik..."

"Nah, yang baik itu Bogart, soalnya dia semua yang kerjakan, bwahahahaha!" Wen Gu sweat-dropped, sementara Garp menepuk (atau lebih bagus disebut menabok) punggung pria itu sekali lagi sebelum berbalik pergi dan melambaikan tangannya, "Jangan kebanyakan berpikir keras-keras, nanti cepat tua seperti Sengoku. Ah, tapi aku juga sudah tua sih, bwahahahaha!"

Wen Gu hanya bisa tertegun di tempat. Memang sang Laksamana Madya senior itu sesuatu sekali.

"Komandan! Komandan Wen Gu!"

Pria yang dimaksud berbalik.

"Lapor, Komandan!" Seorang Navy yang Wen Gu kenal sebagai bawahannya memberi hormat, "Saya sudah mendapatkan ijinnya. Kita bisa membawa beberapa prajurit ke pulau Puerde Ri untuk meringkus Bajak Laut Jewelry Bonney,"

Wajah Wen Gu jelas berseri, "Benarkah?!" Ternyata dewi keberuntungan belum sepenuhnya meninggalkan dia, "Baiklah, kita bisa mulai persiapannya sekarang,"

"Aye, Komandan!"

"Kita butuh..." Sang komandan melangkah sembari terus berbicara pada bawahannya, memberi instruksi-instruksi berguna untuk kelengkapan pasukannya. Mereka terus berjalan menuruni tangga markas, "...dan begitu. Kira-kira apa lagi yang kurang?"

"Eh? Ah...Umm, maaf saya tidak punya saran apa-apa..."

Wen Gu menaikkan alisnya, "Tapi kau mendengarkan, bukan? Kulihat fokusmu seperti sedang di tempat lain,"

"Oh, m-maaf, Komandan. Saya hanya, umm, sedang memikirkan sesuatu. T-Tapi tentang misi kita, Komandan, bukan yang lain!"

"Katakan apa yang kau pikirkan, prajurit,"

"Eh? Umm..." Navy muda itu ragu sejenak, "Tentang tempat yang akan kita tuju, rasanya saya pernah mendengar satu dua rumor mengenai itu,"

"Pulau Puerde Ri?" Wen Gu mengerutkan dahinya, "Aku hanya pernah dengar penduduknya sangat menyukai anak kecil. Memangnya kenapa dengan itu?"

"Ah, ya itu juga. Tapi kalau tidak salah pulau itu sendiri pun sedikit, umm...aneh?" Sang prajurit menggaruk pipinya bersalah, "Saya tidak tahu pasti anehnya bagaimana. Seperti, umm...apa ya? Katanya kau akan mengerti sendiri kalau sampai disana, yang tampak tak seperti terlihatnya...begitu sih,"

Wen Gu menghentikan langkahnya, berpikir, "Kuharap bukan sesuatu yang dapat mengganggu misi kita. Pasukan Navy di sana dari awal tak banyak meski beberapa bajak laut sering melewatinya,"

"Saya harap juga begitu...Ah! Tapi saya tahu satu hal pasti, hanya nama lain pulau itu sih,"

"Apa itu?"

"Pulau Puer Dei. Saya dengar nama aslinya memang dieja begitu. Mungkin karena ada artinya,"

"Arti?"

Sang Navy muda mengangguk seraya menatap komandannya.

"The Child of God," [3]


[1] One Piece Manga - Chapter 662, Law tahu ada Sea Stone di jitte Smoker tanpa menyentuhnya.

[2] One Piece Manga - Chapter 581, Komentar Scratchmen Apoo tentang kebrutalan Law. - Chapter 659, Komentar kru G-5 tentang Law yang creepy.
(Komentar saya sih doi tamfan #gaadaygnanya)

[3] Arti asli dari bahasa latin Puer Dei.