A/N: S'got nothing to excuse. Many thanks and kisses for those who're still keeping track of this (...is there?). Y'all my rock! And for those wondering, yes I've got the plots covered. The only problem arose when the suck me suck at sewing them together.
DISCLAIMER: Can't even properly finish a chapter on time so to what reason do I deserve thing as grand as One Piece?
++-++
Kecil Lada Api, Besar Limau Abung
++-++
Ooh maksudmu ini? Uhn, yang ini memang spesial.
...
...Hei.
Apa...Apa karena ini aku diusir dari sini?
++-++
Keramaian di Puerde Ri tidak pernah surut, bahkan ketika senja telah lama berlalu. Lampu kerlap-kerlip kini menata rapi penerangan di sudut-sudut pusat kota. Bila siang waktunya bocah bersenang-senang, maka malam adalah gilirannya orang dewasa.
Dengar? Pub ini saja sudah riuh dengan derak tawa.
"Whoo~! Ini baru festival! Tak kenal waktu! Tancap teruuus~!" Shachi mengangkat tinggi gelasnya, mengadukannya dengan gelas paman di sebelah sok akrab.
"Ohohoho sepertinya kau tahu bagaimana caranya berpesta, anak muda!" Si paman balas merangkul bahunya dengan gestur yang sama.
"Tentu saja, paman! Kami kan bajak laut! HAHAHAHA~!" Di hadapan mereka, Penguin ikut nimbrung, menyikut si lelaki tua sembari nyengir lebar. Wajahnya kemerahan tanda mabuk.
"Hooooo~ Bajak laut! Pantas, pantas!" Untuk kesekian kalinya paman itu menggoyangkan gelasnya keras-keras, "Pria laut memang paling tahu bagaimana menjalani hidup! HAHAHAHA~! BERSULANG!"
"UOOOOOHH~!"
Di meja bar, di sudut pub, sepasang bulir hitam Teddy Bear milik Bepo hanya melongo. "Pesta itu...tak peduli status kriminal ya..." Kedua cakarnya mengeratkan pelukan pada Kikoku—si nodachi hitam ketika melirik ke pemiliknya, "Tidak apa-apa kah, Kapten?"
Ujung bibir Trafalgar Law tertarik kecil. Tidak ada satu gumaman pun, namun dari gerakan tangan kanannya yang menggoyang cangkir ale dengan ringan, Bepo tahu nakama-nya ini sudah dapet restu dari sang bos besar.
Pintu ganda pub mengayun terbuka.
"Ah," Bepo menoleh, "Kapten, mereka datang."
Pria-pria dengan berbagai varian tinggi dan volume badan bermunculan masuk. Segala artikel khas pelayar melekat di tubuh mereka. Tidak sampai selusin jumlahnya, namun satu kepala saja sudah dimodali jambang tebal, koleksi luka, serta sorot mata yang membuat anak kecil berpikir tiga kali buat menangis.
Rombongan kekar tersebut tepat melangkah di belakang gadis kecil bersurai merah muda panjang yang lagaknya sudah bak kepala geng.
Kenyataannya, dia kepala geng.
"Hnnnng...?" Pandangan si paman teman minum Bajak Laut Heart menyipit, bangkit dari duduknya, "Hoi, hoi, kau nona mungil! Sedang apa di sini pukul segini?! Orang tuamu nan—hngg? Siapa lelaki-lelaki ini?"
"There there there there there..." Penguin menggaet lelaki tua itu kembali ke kursinya, "Biarkan saja dia, tidak perlu diurusi,"
"Yeah, nggak perlu diurusin! Bukan liganya kita!" Sambung Shachi, nadanya tarik ulur tak keruan. Sudah hampir menuju ke dunia sana rupanya, "SEKARANG BERSULANG!"
Masih bingung sebenarnya si paman, namun karena diajak bersulang, manusia mana yang sanggup menolak? "UOOH! BERSULANG!"
Sang perempuan mungil memutar bola matanya saat melewati mereka, tak mengubah laju langkahnya menuju bangku kosong di sebelah kapten Bajak Laut Heart dan semi-peliharaannya.
"Itu kru yang kau bawa untuk menemuiku?" Baru duduk, si dara sudah disuguhi seringai khas sang dokter kematian yang kabarnya sudah menjatuhkan banyak korban kaum Hawa.
"Mereka lapar," Jewelry Bonney berujar singkat, "Aku dan Balunn saja cukup," Mengendikan kepala ke pria besar yang berdiri membayang di belakangnya.
Benar saja. Di bagian meja bar seberang sana sudah mulai baku hantam memperebutkan perhatian bartender agar pesanannya dibuatkan terlebih dahulu. Nggak kapten nggak anak buah, sama saja.
"Fufu...sepertiya ada yang sedang kehabisan stok makanan di kapal. Bukan kasus baru kutebak, bila mengingat kaptennya."
"Urus masalahmu sendiri, Trafal—Jangan mengangguk, Balunn! Kau ini berpihak pada siapa sih?!" Si Glutton mendecak lalu menggebrak meja, "OI, BARTENDER! SEBELUM MEREKA, BAWA 15 LOYANG PIZZA KEMARI DULU! NGGAK PAKAI LAMA YA!"
Law tertawa.
"Jadi..." Pria itu masih memainkan cangkir ale-nya, "...apa yang kau bawa untukku hari ini?"
"Keinginanmu."
Alis kiri Law naik singkat. "Cepat."
"Kecepatan adalah spesialisku, Trafalgar. Bisa kukumpulkan kurang dari dua hari bila kumau, tapi aku melakukan sedikit ad-lib sebagai servis, bersyukurlah," Bonney mengibas rambutnya, "Dan efisien. Not a single tidbit left in my plate, y'know."
"Sepertinya Sea Stone itu tidak mengganggu kinerjamu," Senyum Law hanya dibalas dengusan. Tubuhnya bergeser agar berhadapan-hadapan dengan Bonney, "Well...if you please."
"Oh, not so fast," Dengan santai sang kapten mungil mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menaruhnya di atas meja bar, tepat di antara mereka, "Now you will explain yourself, goatee."
Sebongkah perhiasan. Kerlip permata besar di tengahnya sukar untuk dikatakan palsu. Metal emas yang membungkusnya menambah angka nol pada nilai Beri yang mungkin dikantongi dari benda tersebut.
Ekspresi Law tak banyak berubah, senyumnya saja yang semakin melebar.
"...Kau ingin pendapatku?"
"Yang sebenar-benarnya."
Sang pria mendekat, menurunkan wajahnya agar suara bak bisikan setan itu menghembus tepat di telinga Bonney, "Nice jewelry...but I'd rather wear you on me, Jewelry-ya..."
"!?"
Tersentak. Bonney mendorong badan Law jauh-jauh, "MESUM!"
"Katanya kau ingin pendapatku yang sebenar-benarnya," Law tak menutupi tawa gelinya, wajahnya tertopang pada sebelah tangan, "Ternyata kau lebih pure dari yang terlihat..."
"Kau yang terlalu corrupted, pedo!" Jari sang gadis mengacung tajam, "Dan berhenti bercanda! Kau tahu bukan itu yang kumaksud!"
Sekarang si dokter yang mengernyit, "Berapa kali kukatakan aku bukan pedofil!"
"Tapi terlihat begitu dari sini," Balunn dan Bepo menyahut bersama.
"Apa aku tampak seperti butuh pendapat ekstra?" Intonasi Law sarkastik.
Yang disemprot mingkem. Sementara Bonney tetap membungkam, menunggu konfirmasi. Law akhirnya mengangkat bahu, suaranya setenang biasa.
"...Di mana kau menemukannya?"
"Di tempat yang tak akan pernah kau tahu sebelum kau memberi tahuku apa yang kau tahu," Bonney melempar seringai memancing, "Kau tahu sesuatu tentang benda ini, Trafalgar. Jelas bukan kerajinan pulau ini, I know that much. Desainnya kuno. Simbol yang tercetak juga tak terlihat di pulau ini—kemungkinan lambang peradaban luar."
"...Mungkin memang tepat memanggilmu Jewelry-ya [1], huh?" Komentar Law berbuah cibiran Bonney saja, "Lalu kau berkata aku tahu sesuatu tentang itu?"
"Aku mendengar cerita—informasi, jika kau lebih memilih demikian. Saat menjalankan kesepakatan kita, tentunya. Ini muncul di tengah pencarianku. Aku bisa membedakan gosip belaka dan rumor kuat. Yang kudapat sudah mendekati fakta," Si dara menyilangkan kaki, memberi gestur acuh tak acuh, pun demikian intensinya jelas ingin mengasung reaksi.
"Kau yang bilang untuk mencari sendiri apa intensimu soal ini semua. Aku berada tepat di depan pintumu, Trafalgar. Sekarang kau yang menentukan akan membukanya dan membiarkan aku masuk, atau terjebak dalam ruang terbatasmu itu tanpa ada yang menjebolnya."
Untuk beberapa detik Law menatapnya, sampai senyumnya perlahan terbit, "…Sepertinya aku memang tidak salah orang. Akan tidak menarik kalau permainan ini jadi berat sebelah."
Alis Bonney mengedut. "Kau mempermainkanku."
"Aku mengetesmu," Sang dokter kematian terkekeh pelan, "Tapi kau tak sepenuhnya salah. Sudah kubilang akhir-akhir ini aku sedang kekurangan bahan menarik."
Si Glutton mendengus, "Hah, tidak mengejutkan bila itu dirimu. Aku telah mengiranya semenjak kita memulai 'kesepakatan' ini."
"Fufu...sekarang, untuk hadiah kecil yang kau inginkan..." Law tersenyum kalem, "Aku juga tidak tahu."
"..."
"Ahaha, jangan menatapku begitu, aku berkata sejujurnya," Gelas ale-nya digoyang lambat, "Aku tidak tahu benda itu berasal dari daerah mana, tapi satu yang pasti..." Mengayunkannya pada sang gadis, "Apa yang kau dapat mengkonfirmasi teoriku."
"Teori?"
Gestur Law tetap tak terburu, santai ketika memulai penjelasannya, "Kau pasti juga mengalaminya saat menuju pulau ini. Cuacanya terlalu buruk, bahkan untuk standar lautan Paradise. Salah navigasi sedikit saja taruhannya nyawa. Kupikir karena itu pula tak banyak Navy yang ditempatkan di sini. Tanpanya pun sudah banyak yang terseleksi, mana yang pantas menuju belahan laut selanjutnya dan yang tidak."
"Yeah...aku tahu." Hari super melelahkan bila Bonney boleh bilang. Padahal kondisinya dengan si Sea Stone laknat itu sendiri sudah beban, pakai ditambah cuaca begitu pula. Grand Line memang tidak pernah pandang bulu kepada siapa pun.
"Well, tidak sepertimu, kami tidak terpaku pada kondisi angin untuk melakukan perjalanan. Kapalku bergerak di dalam laut."
"Submarine, eh..." Sungguh transportasi tak awam yang lelaki ini pilih. Dia lebih picky dari yang Bonney duga.
"Karenanya aku melihat sedikit pemandangan tersembunyi yang menarik..."
Pandangan bertanya Bonney bertemu dengan senyum tertahan Law yang kemudian berkata dengan timbre rendah, "Kapal karam," Masih, pandangan Bonney bertanya, "Ada ratusan, malah mungkin ribuan kapal karam yang tersebar di lantai laut sekitar pulau ini. Agaknya korban cuaca tersebut sudah menumpuk sejak berabad lalu."
Senyuman Law kemudian penuh maksud, "Hanya ada satu hal tertinggal saja bukan bila bertemu kapal karam?"
Seketika itu juga sesuatu tersambung dalam otak si surai merah jambu. "Oh, jangan katakan..."
"Well, benda apalagi menarik minat bajak laut?"
"Bodoh," Cemooh Bonney langsung, "Iya kalau kapal karamnya di tengah laut kosong. Ini adanya di dekat pulau berpenghuni, hei! Harta yang kau inginkan itu sudah pasti lama hilang dinikmati penduduk sini."
"Tentu. Aku juga sudah salvage beberapa kapal untuk membuktikannya. Hasilnya seperti yang diduga...dan itu juga yang menarik."
"Hah?"
Law menopang dagunya, "Katakanlah aku punya bukti, kalau harta tersebut tidak diambil lewat salvage keluar permukaan laut," Jeda, "Semua terbenam ke dasar laut."
Beruntung di sini Grand Line. Kalau tidak, fakta seperti itu bakal susah untuk dicerna lawan bicaranya ini, "Jadi, kau ingin memberi-tahuku kalau di bawah dasar laut, katakanlah, ada daerah lain?"
"Topik yang menarik, bukan?"
Sang kapten mungil menghela napas, "Biar kutebak. Mengingat letaknya di dekat pulau berpenghuni dan hartanya sendiri hilang, kau berpikir penduduk sini membangun jalan bawah tanah semacamnya yang tersambung ke dasar laut? Itu kenapa kau ingin aku mencari letak jalan tersebut."
"Fufu, sepertinya pembicaraan kita bisa maju lebih cepat."
"...Teori gila," Bonney menggeleng, "Kalaupun ada jalan di dasar laut, aku tetap tidak mengerti cara mereka mengambil harta tersebut. Bisa jadi malah itu lapisan volcano laut biasa," Begitu ia bilang, namun seringai kecil terkembang di bibirnya, "Teori gila...tapi tak buruk juga untuk dibuktikan."
"Ah, apa akhirnya pemikiran kita bisa searah, Glutton-ya?"
"Tolong. Jangan kelompokkan aku dengan otak sinting bin pedo-mu itu," Bonney bergidik, "Teorimu itu satu hal, namun setidaknya tak menyangkal info yang kukumpulkan."
Law mengulum senyum, hanya memandang; tahu tanpa berucap pun gadis rakus itu akan membuka sendiri padanya.
"Bergembira lah, penduduk sini memang mengumpulkan apa yang kau inginkan," Jemari si perempuan menyentuh perhiasan itu lagi, "Benda ini kudapat dari mereka. Sudah kukatakan ini kemungkinan berasal dari peradaban lama, bukan? Dan katamu beberapa kapal ada yang karam berabad lalu. Kalau dua hal ini tidak berhubungan, aku tak punya penjelasan lain yang lebih bagus."
"Aku terkesan dengan kemampuan mencurimu."
"Oh, jangan menunduhku dulu, smirky. Mereka yang memberiku ini," Bonney mengangkat bahunya, "Ingat para bocah yang kau takuti dengan 'operasi'-mu kemarin-kemarin itu? Salah satu dari mereka adalah anak walikota sini," Ia menyisir surai panjangnya angkuh, "Well, dengan sedikit pesona dan trik kecilku, aku berhasil bertemu ayahnya dan mengajaknya...'bicara'. Perhiasan ini hanya sebagian kecil dari buah hasilnya."
"Hoo..." Law mencondong ke sisi, lihai saat menyelipkan lengan ke bangku kosong di sebelah Bonney sehingga secara tak langsung merangkul pinggang rampingnya dari belakang. "...Aku penasaran dengan 'pesona' yang membuat walikota itu tertunduk padamu," Suaranya menurun bahaya, "Tak keberatan menunjukkan padaku juga?"
Alih-alih raut muak, Bonney melirik ke atas, pandangannya bertumpu pada wajah Law yang telah dihiasi seringai khasnya itu.
"Fufu, kau ingin melihatnya? Aww...ditatap begitu, aku jadi tak punya pilihan selain menunjukkannya padamu kan," Sengaja mendekatkan diri ke arah sang pemeluk, bibirnya melengkung nakal. Tangan kanan dia beringsut naik, meniti pola smiley di baju pria tersebut, "Tapi hati-hati, kalau kau ikut terpincut..."
Berhenti. Telunjuknya menusuk keras dada Law. "...artinya kau 110% pedofil."
Dan seketika kelegitan killer-smirk Law luntur.
"OI, OI, ANAK MUDA! DARIPADA MENGGODA BOCAH MENDING SINI KITA MINUM BERSAMA!"
"JANGAANN!" Inginnya Shachi menepuk bahu si paman, tapi apa daya tenaga orang mabuk tak bisa dikontrol. Jadilah si paman menyusruk ke Penguin dengan 'ugh' lemah, "Kapten sedang, uuuh...ada kencan pennnnting malam ini!"
"Penting! Penting!" Penguin membeo.
"Dengan bocah?"
"Uuuh-huh."
Si paman terkekeh, "Orientasi kaptenmu suram, ya?"
"Ssshhhh...jangan keras-keraaaasss!" Tapi suara Shachi menggema sampai satu pub, "Kapten suuennnsitif soal seleranya itu, kita saja ngegosipnya harus sembunyi-sem—hng?" Matanya menangkap sesuatu.
"Oooooh…" Penguin cegukan, tepuk tangan bahagia, "Dinding pub berubah warna lhoooo~! Biru transparan! Mirip warna Room Kapt—Ah."
Terus diam. Pandang-pandangan dengan Shachi.
Oh. Crap.
Detik selanjutnya, tak ada yang lebih menyayat telinga ketimbang jeritan Shachi yang tergantung terbalik di lampu langit-langit pub.
"Sepertinya Shachi sudah terlalu banyak minum jadi biarkan dia begitu sampai sadar. Kau bisa menurunkannya nanti, Penguin."
"A-Aye, Cap'n!" Suara perintah Law terbukti efektif menjernihkan sebagian pengaruh alkohol Penguin. Dia ogah ikutan di-Takt kaptennya. Bahkan kru Bonney di seberang sana secara insting menggeser meja agak jauhan dari sang duo kapten, kalau-kalau ada sesi Takt lanjutan berhubung ikut menggosip.
Cengiran terhibur terplester di wajah Bonney, "Aku suka kru-mu."
Sang dokter tidak terkesan. Ia menarik diri dari posisi terakhirnya, "Bisa kita mulai bicara tentang dimana jalan tersembunyinya?"
Sang kapten mungil masih menyumpal sisa tawanya sebelum menjawab, "Ah, kalaupun ada semacam itu, mengetahuinya akan lumayan tricky."
"Maksudmu?"
Ia berdehem kecil, "Mereka memang mengumpulkan hartanya, namun bukan lewat salvage kapal," Manik keunguan Bonney membulir dramatis, "Mereka menemukan—tidak, seseorang memberikannya pada mereka."
Berita baru tersebut sanggup membuat ekspresi Law berubah—sang lelaki tertarik, "Kau tahu siapa dia?"
"Nope." Bonney mengibaskan lengannya, "Aku juga tak dapat detil rupanya. Tapi informasi ini tetap valid," Ia terdiam sesaat, tampak mempertimbangkan sesuatu, "Tak semua orang mendapatkan hartanya. Semacam...harus berada di kondisi tertentu dulu."
"Kondisi?"
"Aku mendengar banyak testimoni, rata-rata berkata mereka hampir akan selalu menemukan ini di hutan," Si dara menunjuk perhiasan di hadapannya, "Tahu-tahu muncul tergeletak begitu saja di tengah jalan mereka. Lokasinya pun acak. Penduduk sini telah mencoba menggali area dimana beberapa harta ditemukan. Nihil. Karenanya mereka percaya ada seseorang yang sengaja meletakkannya, meski tak tahu tujuannya apa."
Dan perkataan terakhir Bonney tergantung di udara ketika lima loyang pizza disuguhkan ke hadapannya. Merengut, bulir ametisnya menyorot tajam pada si bartender. "Sisanya sedang dipanggang, Nona mungil," Sang pria membalas hambar. Bonney mendecih, tapi tangannya tetap meluncur untuk menyobek sepotong pizza dan melahapnya habis dalam kurun waktu rekor.
Law tak memberi komentar menyebalkan seperti biasanya, tampak tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Perempuan itu memaklumi. Ia pun juga butuh waktu untuk berkontemplasi akan info tersebut saat pertama kali mempelajari kebenarannya. Mana tahu dibalik lahan penuh gempa random ini ada cerita semacam itu? Sepanjang karir perbajak-lautannya, Bonney telah banyak makan asam garam perihal mendapat kekayaan cuma-cuma dan percayalah, yang seperti ini hitungannya unik.
"Jadi," Nada datar Law menghidupkan kembali diskusi mereka, "Di sini ada dermawan rendah hati, atau malah kelewat pemalu sampai-sampai tak ingin menunjukkan muka ke orang yang didermanya?" Tawa rendahnya mengalun, "Dan tadinya aku berpikir keadaan tidak akan lebih menarik lagi. Alih-alih seluruh penghuni kota, lawan bermainnya satu individu misterius, huh?"
"Bila benar satu,"
"Well, mengambil harta dari bawah laut memang bukan pekerjaan satu orang, terlebih lagi sebanyak itu dengan cara tak umum. Namun ketimbang itu..." Gelas ale yang selama ini dimainkannya mendarat di meja bar, menoleh dengan raut sedikit lebih serius—setidaknya menurut Bonney, "...aku tetap belum mendengar 'kondisi' yang kau maksud, Glutton-ya. Yang kau berikan tadi samar, sebatas pinggiran inti sebenarnya. Kuharap sudah saatnya kau mengelaborasi lebih lanjut, hmm?"
Di balik kesibukannya mengunyah, sang kapten mungil masih dapat terkekeh. Ini dia kenapa lawan jeli itu menyebalkan, tapi tak pernah memberi hidupnya kebosanan, "Dan hal itu, my fellow captain..." Dia menelan rotinya, "...yang membawa kita ke kesepakatan selanjutnya,"
"'Scuse me? Kau—"
"—Na-ah, kau mungkin ingin mendengar ini dulu sebelum melanjutkan khotbah kecilmu, Trafalgar," Bonney menggoyangkan telunjuknya, yang tak lama merayap kembali ke loyang-loyang setengah isi di depannya, "Sangkal lah sekeras mungkin jika perlu, kau tetap akan memerlukan aku dalam permainan ini."
Ketika tidak mendapat reaksi apa-apa, Bonney menganggap ini sebagai tanda untuk terus berbicara. Seraya mengunyah segigit besar pizza baru, tentu, "Tidak semua orang mendapatkan hartanya, yeah? Sebab dermawan pemalu kita ini spesifik memberi ke satu kelompok tertentu saja. Mau tebak siapa?"
Bibir Law menipis. Bila perempuan itu amat percaya dirinya pasti dibutuhkan... "You don't mean it."
"Hate to burst your bubble but I do," Sang dara menggestur ke seluruh tubuh mininya, lalu mengangkat bahu, "Nampaknya kalian cocok jadi teman curhat-curhatan berhubung sesama pedo."
Hal terakhir yang Law ingin ketahui sekarang adalah nyamuk di pulau ini ternyata juga penggemar anak kecil. Spare him the itch though.
"Kau positif?"
"Aku anti memberi info setengah-matang, mesum."
"Dan kau yakin aku akan mengikuti kesepakatan tambahan dari yang awal telah kita diskusikan?"
"Kau akan." Tangan bebas Bonney mengibas ke arah pendampingnya.
Balunn mengangguk, "Kami menginflitrasi diam-diam markas Navy dan mengetahui orang yang bertanggung jawab atas kunci Sea Stone Kapten adalah orang yang pernah dikalahkan Kapten. Dia sedang menuju pulau ini. Dengan sedikit taktik, mendapat kunci Kapten bukan lagi masalah."
"Big boys manisku memang gerombolan otot, tapi mereka digerakkan oleh otak setara 125 juta Beri," Sang kapten mungil tersenyum kalem, "Kuharap kau tidak meremehkan performa mereka."
Law belum kehilangan senyumnya sendiri, "Pertanyaanku belum terjawab, Glutton-ya. Apa yang membuatmu yakin aku tak akan menggunakan anak kecil sungguhan untuk kali ini?"
"Sebab aku punya sesuatu yang tidak mereka miliki."
"Tentunya kau punya. Namun bila kemampuanku dapat menutupi kekurangan mereka?"
"Tsk, tsk, kau terlalu meremehkan ini, Trafalgar," Bonney memutar pizza baru di tangannya, "Aku paham apa rencanamu secara garis besar. Menggunakan bocah sebagai umpan sementara orang-orangmu berjaga di perimeter. Tapi tentu kau tahu itu telah dicoba oleh penduduk sini? Well, katakanlah kau punya sesuatu untuk meng-counter ini dan kemampuan kru-mu tak bisa disamakan dengan warga sipil. Meski demikian aku percaya ada trial and error panjang. Tetapi denganku, kau tak perlu membuang banyak waktu di sini," Sebuah lambaian, "Masih ada setengah Grand Line lagi menunggu untuk diarungi, bukan?" Dan pizzanya masuk ke mulut Bonney seutuhnya.
Sang dokter kematian menggeleng, ujung bibirnya menekuk tertarik, "Katakan apa yang membuatmu merasa lebih spesial."
"Pertama, aku imut. Bila pedo sepertimu terjerat daya tarikku, kupikir begitu juga dengan pedo lainnya."
Law bersumpah mendengar Bepo mendengus, walau saat ia melirik, beruang itu telah memasang ekspresi sepolos temboknya kembali.
"Aku buk—"
"—Kedua, cakupan inderaku mendeteksi sekitarku lebih luas dari normalnya manusia..." Jeda, "...jika kau tahu apa maksudku."
Diamnya Law kemudian bukan menandakan ia tak tahu. Sebaliknya, sesuatu membuatnya ragu, "...Observation Haki, huh?" Kemampuan misterius yang dimiliki setiap orang, namun tidak semua orang bisa membangkitkannya. Semakin mendekati New World, pemilik kemampuan tersebut katanya akan tersebar dimana-mana. Law benci mengakui tapi dia masih dalam tahap menguasainya, "Bepo bercerita kau kewalahan menghindari kejaran Navy sebelum bertemu dengannya. Dan kau masih berkata mempunyai Haki itu?"
Mendecak. Hanya karena Bonney benci diingatkan lagi akan pengalaman itu, "Cobalah hidup bersama Sea Stone selama tiga hari penuh dan aku penasaran apa gurat di bawah matamu itu tak semakin hitam karenanya," Dia mengacungkan lengan bergelang batunya, "Terima kasih atas hobi maniakmu, makananku beberapa hari terakhir ini terasa tak memuaskan."
"Setidaknya bukan penghalang nafsu makanmu," Sang dokter tertawa, "Jadi kau benar mampu mendeteksi keberadaan orang itu nanti?"
"Dalam kondisi primaku, ya. Area Haki-ku luas, takkan kubiarkan seorang pun lolos,"
Terdiam kembali. Bulir keabuan sang kapten Bajak Laut Heart terfokus padanya cukup lama, "Satu pertanyaan lagi."
"Heh, kau sangat perhitungan ya."
"Kenapa kau memberitahu semua info tadi sebelum mengajakku membuat kesepakatan baru? Kupikir keuntungan sedang berada di pihakmu?"
Kini Bonney yang terheran, "Kau benar-benar perlu bertanya itu, huh?"
"Humor me."
Menghela napas, "Asal tahu saja, pirate, aku paham mana perjanjian yang pantas untuk masih ditegakkan dan mana yang tidak," Sela sejenak. Bibir Bonney menekuk acuh, meski intonasinya lebih turun hingga berupa bisikan saja, "...Kau menegakkannya sekali, aku membalasnya. Hanya itu."
There now. Ekspresi itu bukan sesuatu yang kau lihat setiap hari, dan seorang Law tak akan membiarkannya terlewat begitu saja, "Apakah aku menolongmu saat itu sangat berarti banyak untukmu?"
Si gadis memutar bola matanya, "Simpan seringaimu. Akankah kita menuju pembicaraan kesepakatan selanjutnya atau tidak? Aku tak punya waktu semalaman menghiburmu."
"Playing hard, eh?" Law tertawa pelan, "Baiklah, mari dengar tawaranmu."
"Pembagian harta, tentu. Memangnya apalagi yang menarik dalam kasus ini?"
"Aku kosong untukmu, kau tahu."
Roger, Bonney rasa pria ini butuh digantung terbalik juga kalau-kalau kewarasannya mengendap di dengkul, "Apa wajah ini terlihat se-desperate itu dimatamu?"
"Kau hanya malu."
"Dan kau hanya tak tahu malu." Si Glutton memutar posisi duduknya agar bertemu muka dengan rekan aliansinya, "Cukup dengan kevulgaranmu dan mari bicara bisnis," Dia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan sang pria; gelang batu hina itu berjuntai tak berbahaya. Begitu mata telanjang mengartikan, tapi sesungguhnya sedaritadi—sedari sekian hari terakhir ini, tak pernah sedetik pun benda itu tidak membuat hidup Bonney terasa bagai neraka.
Dan Law tahu persis neraka semacam apa.
"Bicara. Sepakat. Ini lepas." Bonney mendikte padat. Mimiknya tenang saat mengangkat sedikit dagunya, bak ratu yang tetap sanggup bermuka angkuh di tengah keadaan pelik pun. Tangannya masih mengulur, mengisyaratkan jabat tangan untuk mengikat kesepakatan, "Atau berencana untuk berpikir lain?"
Dengan senyum khas terpoles di wajah, sang dokter kematian raih pergelangan tangan tersebut, mengusung ke bibirnya dan alih-alih mengecup punggung tangan seperti yang Bonney kira, dia menjilat sisa saus tertinggal di jemari mungilnya. Sorot keabuannya mantap melekat di manik keunguan si dara...
...yang omong-omong mulai kehabisan tenaga menjaga regalianya selagi sensasi itu masih menginvasi ujung-ujung jarinya.
Semua salah Sea Stone, salah lidah Trafalgar Law dan jejak hangatnya yang berbekas di kulit Jewelry Bonney.
"Nah, mungkin merubah sedikit alur permainan tidak begitu buruk."
|
xXx
|
"Semua itu, dan kaptenmu belum mengakui orientasi meyimpangnya juga?" Balunn berbisik melalui sela bibir terkatupnya.
Bepo berkedip, memastikan tidak ada kubah biru transparan yang menyelimuti mereka, "Dia tsundere."
|
xXx
|
Adalah keesokan harinya ketika beberapa orang tampak berjalan beregu meninggalkan kota pelabuhan utama Puerde Ri, menuju area hutan yang memadati sebagian besar pulau. Dan kru bajak laut aliansi dadakan tersebut mengemban dua misi di tangan. Karenanya mereka memecah diri menjadi dua grup yang masing-masing beranggotakan campuran dari kedua kru.
Tim Bonney memegang misi utama, memancing target mereka untuk keluar dari persembunyiannya. Berbekal informasi yang didapatnya, dia dan timnya sudah bergerak ke daerah-daerah yang telah dipersempit menjadi beberapa titik area saja.
Sementara Tim Law mempunyai perannya tersendiri.
"...Tapi omong-omong hutan ini luas sekali, ya..."
Balunn mengipasi lehernya dengan telapak tangan, "Pulau musim gugur sih, musim gugur. Kalau seharian dipakai berjalan sana-sini tetap saja buat gerah," Beberapa orang baik dari kru Heart maupun Bonney yang tersebar di sekelilingnya manggut-manggut menyetujui, sembari melakukan hal yang ditugaskan. Hutan barat daya ini—daerah kerja mereka ini memang luas. Sudah semenjak pagi mereka menyisir, baru ketika matahari makin bergulir ke barat setengah lebihnya tertelusuri. Untuk apa, kau tanya?
"Hei, Death Surgeon, sehabis ini tinggal satu area lagi kan?"
Berdiri di tengah lahan sepi pepohonan, Trafalgar Law membisu. Pun demikian matanya aktif menyusur detil sekitarnya.
"Hei!"
"Kalau memang kaptenmu tak salah memberi info," Law tidak berbalik saat berbicara padanya.
Balunn mengangkat bahunya kasual, "...Kapten tidak akan salah. Rumor-rumor kecil semacam ini sengaja dia telusuri untuk double-check."
"Perfectionist, huh?"
"That's Cap'n for ya," Awak kru Bonney itu menghela napas. "Makanya aku bertanya-tanya, apa kita sendiri aman berada disini lama-lama."
Giliran sang dokter yang mengangkat bahu, "Well..."
.
"Orang hilang?"
"Yep. Pergi ke hutan dan tiba-tiba 'poof!', menghilang tanpa jejak. Kebanyakan korbannya bajak laut. Hanya sebatas rumor sih, tapi beberapa area tempat harta ditemukan ada yang bersinggungan dengan tempat hilangnya orang-orang tersebut."
"Rumor, eh?"
"Bagaimana? Tertarik memeriksanya?"
"Orang menghilang secara misterius di tempat harta ditemukan, pastinya ada sesuatu di balik itu...begitu yang ingin kau sugestikan padaku, bukan?"
"Bagianku tak perlu banyak orang, katakanlah aku hanya memberimu hal lain untuk membunuh waktu."
"My, how considerate of you. Baiklah, mari lihat seberapa jauh rumor yang kau percaya ini menghiburku."
"Kalau begitu sekarang hanya tingg—Trafalgar Law, berani sentuh tanganku sekali lagi kukuliti kau hidup-hidup dan jangan pikir akan kuhentikan meski akhirnya kau mengaku pedo lahir batin."
"Hm? Bukan yang tadi itu kau sendiri yang mengulurkan tanganmu padak—"
"—YA TAPI BUKAN UNTUK KAU EMUT, MESUM!"
.
"...semenjak tadi belum ada seorang pun yang hilang dari tim ini. Artinya sang pelaku belum tertarik dengan kita?"
"Belum, huh?" Mereka sengaja tidak berpencar, berpindah dari satu titik ke titik area lainnya dalam tim untuk memastikan tak ada anggotanya yang tiba-tiba menghilang. Namun karena tim mereka cukup besar, anggotanya bisa dipecah menjadi dua sub-tim demi mempercepat kerja. Di sub-tim ini, Balunn berpasangan dengan ketua timnya sendiri.
Ia berjongkok di depan sebuah semak-semak, "Kita sendiri belum menemukan apa-apa. Kupikir tempat-tempatnya akan penuh kabut atau apa begitu yang membuat orang mudah tersesat dan menghilang. Nyatanya normal-normal saja. Kalaupun ada tanda kekerasan tertinggal...hmm..." Dia memiringkan kepalanya, "...pohon dan semak-semak agak miring? Tanahnya tidak rata."
"Kemungkinan pengaruh gempa, bekas tanahnya bergeser natural."
"Gempa..." Sang lelaki besar kembali berdiri, "Mungkin saja, terjadinya sering begitu. Omong-omong gempa yang tadi itu terasa lebih kuat dari biasanya ya?"
Law bergumam menyetujui.
Kurang lebih setengah jam yang lalu gempa random itu datang lagi. Bukan hal mengejutkan memang, hanya saja skalanya lebih besar dari yang pernah mereka rasakan sekian hari di pulau ini. Berlangsung beberapa detik saja sebelum kembali normal. Sang dokter memanggul Kikoku pada bahunya, berputar menghadap Balunn, "Bagaimana dengan tempat di dekat teluk itu?"
"Ah, pelabuhan terbengkalai itu?" Tak jauh dari tempat mereka sekarang berada, terdapat tempat bertambatnya kapal-kapal yang sudah lama tak terpakai, "Kami sudah memeriksa beberapa kapal tertinggal tapi tak ada hal menarik selain bahwa itu milik bajak laut. Ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya mungkin, entahlah."
"Areanya?"
"Nope, sama saja. Sebenarnya ada gua, tapi setelah ditelusuri, jalan buntu. Aku dan orang-orangmu sempat memeriksa sekali lagi kalau ada pintu rahasia semacamnya. Sayangnya benar buntu."
"I see," Law menutup matanya, "Kita hampir selesai dengan area ini."
"Kapten Bonney belum menghubungi?"
Sang kapten Heart menggeleng, tangan bebasnya refleks menyentuh Baby Den Den Mushi di dalam sakunya.
"Hhh...mereka belum berhasil memancing keluar targetnya juga, huh?"
Hening lagi. Bunyi burung mengepakkan sayap dan hewan-hewan malam yang mulai keluar dari sarangnya sesekali memecah keheningan itu. Law memutuskan untuk mengakhiri pencarian mereka di area tersebut, "Kita bergabung dengan grup Shachi-Penguin dulu." Dan tangannya telah meraih alat komunikasinya.
PURU PURU PURU. PURU PURU PURU. KATCHA.
"O-Oh! Kapten!"
Suara Penguin.
"Di sini telah selesai. Bagaimana dengan kalian?"
"Te-Tentu sudah selesai! Yaaah...tapi tetap tidak menemukan apa-apa, ya kan Shachi?"
"Yeah!"
"...Kalian yakin?"
"Yakin, Kapten! Astaga, masa' tidak percaya, sih?"
Jeda, "...Baiklah. Kita ke area selanjutnya, temui aku di tempat yang sudah kita tentukan."
"Ah, soal itu, bagaimana kalau kumpulnya di, uh, rumah dekat situ? Tidak jauh kok Kapten, kau pasti bisa menemukannya!"
"Rumah?"
"Iya, rumah!" Kali ini suara Shachi, "Dari areamu lebih dekat malah."
"...Kenapa rumah?"
"Mmm...soalnya—"
"Ah, Shachi apa kamu—"
"—WAAAAAAAA! Pokoknya sampai berjumpa di dekat rumah, Kapten!"
KATCHA.
Sunyi. Law memegang Baby Den Den Mushi yang sudah kembali ke mode tertidurnya dalam diam.
"Err, yang terakhir itu...suara wanita?" Balunn akhirnya berkomentar. Law masih bergeming, "Sekedar membantu, aku mungkin tahu rumah mana yang dimaksud kru-mu."
Kalimat itu berhasil memancing si dokter untuk menoleh.
"Di sebelah sana," Lelaki besar itu menunjuk ke sisi kirinya, "Gubuk sebutan yang lebih tepat menurutku. Kupikir langka sekali ada yang mau tinggal di hutan semacam ini, makanya aku ingat. Lagipula...um..."
"Lagipula?"
Balunn ragu, namun kemudian mengangkat bahu, "...Aku melihat duo kru-mu itu masuk ke sana sejam yang lalu, karenanya aku tak mengingatkanmu untuk memeriksa rumah itu, kan sudah ada mereka."
Urat kening Law berkedut bahaya, "...Sejam? Tanpa laporan?"
"Itu...bukan aku yang menyimpulkan, ya," Balunn mengangkat tangan. Apa yang bakal terjadi dengan duo kru itu bukan urusannya, tapi sebagai sesama anggota awak kapal bajak laut, dia hanya bersimpati. Si pria paham bagaimana rasanya ketahuan molor di tengah pekerjaan. Begitu-begitu, kapten mungilnya seram lho. Saat seperti itu saja kau akan berharap si gadis masih lebih suka melahap pizza ketimbang orang.
Sang dokter kematian menghela napas, lalu mengeraskan suaranya saat menghadap ke arah yang ditunjuk Balunn, "Kita pergi dari sini!"
Gumaman 'oke' dengan berbagai varian nada terdengar dari timnya. Namun fokus telinga Balunn sekarang ada pada gumaman sang kapten Heart setelahnya, "Kuharap mereka menemukan hal menarik di rumah itu..."
Kalau Balunn berharap ekspresi haus darah yang sekilas tampak berbayang di wajah pria itu hanya ilusi matanya saja.
Perjalanan kesana tidak memakan banyak waktu, pemandangan rumah sederhana tak lama tampak ke hadapan mereka. Pagar kayu reyot mengitari bangunan tersebut. Hampir seluruh dindingnya ditutupi sulur-sulur, membuatnya bersatu dengan dedaunan di sekitarnya. Meski demikian ada tanda-tanda bahwa gubuk itu masih dihuni. Salah satunya adalah kebun kecil terawat yang ditumbuhi berbagai sayuran segar di halaman depannya.
Dan di situ pula dua manusia ber-jumpsuit putih terlihat melambaikan tangan mereka.
"Kapteeeeeen!"
"Di sini lhoooo!"
Menurut Balunn, kedua orang tersebut sepertinya amat tangguh karena perlu keberanian tingkat tinggi memilih wajah sumringah sebagai reaksi untuk menyambut kapten mereka yang saat ini telah lebih dari siap menunjukkan pada dunia mengapa ia disebut 'dokter kematian'. Tebali kata 'kematian'.
Atau sederhananya, mereka kuuki yomenai [2].
"Satu menit..." Tanpa basa-basi, Law menancapkan nodachi hitamnya ke tanah tepat di depan kedua orang tersebut.
"Hah?" Shachi dan Penguin berkedip.
Sang pria melipat tangannya di depan dada, menutup mata, "...adalah waktu kalian untuk menjelaskan segalanya," Jeda, "Dimulai dari sekarang."
"EH!?"
"S-Satu menit!? Biasanya kau memberi waktu lebih panjang, Kapten!"
Law masih menutup mata.
"A-Ah, umm, darimana—sebentar..." Padahal tadi Penguin sudah latihan berargumen dengan Shachi, tapi mendengar waktu mereka tak selama yang diduga, tiba-tiba dia nge-blank, "Oh! Jadi kami pergi mencari petunjuk di area yang kau suruh. Serius dicari kok, Kapten!"
"Benar! Dan memang tak ada apa-apa!" Shachi menimpali, lalu berbisik, "...H-Harusnya..."
"W-Well, kau tahu kan pagi ini kami sedikit, err, hangover. Sedikit kok, sedikit! Makanya kami masih percaya diri untuk memimpin sub-tim satu lagi. Dan aku, khususnya, tidak mudah tumbang hanya karena hangover. Tidak seperti Shachi yang—"
"—Oke, cukup, Penguin. Tak perlu diingatkan," Membicarakan itu lagi membuat kepala Shachi berdenyut. Ya, siapa juga yang tidak kalau sedang mabuk malah digantung terbalik, "I-Intinya sore ini ketika kami merasa...merasa..." Dia mengeluarkan suara memilukan, tangan menengadah ke langit, "...merasa bahwa neraka itu memang kejam—"
"—Hangover Shachi mencapai klimaks. A-Aku juga sih, tapi tak separah dia—"
"—dan apinya membakar jiwamu pelan-pelan—"
"—Shachi muntah sepanjang jalan. Kau harus lihat wajahnya—"
"—tapi kemudian nyanyian malaikat yang datang terasa bagai embun penyegar—"
"—Di tengah jalan kami bertemu nenek ini. Oh, sungguh dia penyelamat hidup!"
"Hee..." Di barisan belakang Law, Balunn bergumam pada seorang kru Heart di sisinya, "Sekarang aku mengerti kenapa kaptenmu membatasi dengan waktu," Telunjuknya mengacung, "Apa itu normal?"
"Kau mesti lihat bila waktunya lebih panjang," Si kru mengangkat bahu, "Mereka sempat membuat pentas boneka."
Sementara itu, Shachi keluar dari mode pujangganya, "Dia membawa kami ke rumahnya. Katanya punya ramuan obat semacamnya."
"Dan ramuannya manjur sekali. Semua neraka itu—whoosh! Hilang begitu saja~!"
"Lalu dia membuat kue! Kuenya enak lho, Kapten! Dia bahkan mau memberi kami lagi untuk bekal."
"Sayang kayu bakar untuk oven habis. Jadi kami membantu memotongkan kayu untuknya."
"Oh, tenang! Kami tidak membuang waktu dengan hanya memotong kayu!"
"Kita masih punya kerjaan, 'kan? Satu area lagi yang harus ditelusuri."
"Yep, makanya untuk menghemat waktu, selama kami sibuk memotong kayu di sini—
"—kami menyuruh sisa sub-tim untuk membantu mengaduk adonan kue di dapur."
...
Sunyi.
"P-Percayalah, Kapten! Di area yang kau suruh itu benar tidak ada apa-apa!"
"Adanya hanya, uh, pohon-pohon miring?"
"Tanya yang lain deh, mereka akan berkata hal yang sama!"
"Kami di sini sekalian menunggu kueaargh—maksudku, Kapten saja, kok! Sungguh!"
"Hei," Balunn bergumam lagi di tempatnya, "Perasaanku saja atau sejak awal mereka...memohon kepada pedang panjang itu? Dan ah..." Sebelah alisnya naik, "...mereka bersujud padanya. Yang mengerikan bukannya kaptenmu, ya?"
"Sungguh," Si kru menggeleng, "Kau akan sangat ingin bersujud pada pedang itu di situasi mereka."
Dan ketika Law tetap tak berkomentar sepatah kata pun, sang duo kru Heart merasa lima detik sebelum penentuan hidup mereka itu amat menyiksa jiwa raga.
"Ah," Shachi menyeletuk tiba-tiba, suaranya surprisingly tenang, "Tunggu, Kapten, kau tak akan sempat menghukum kami sebab habis ini ada tempat yang perlu kau lihat."
"Ah," Giliran Penguin yang menyeletuk, "Benar juga. Sehabis ini seseorang mau mengajak kami ke tempat aneh."
Sunyi lagi.
"...Aneh?"
Betapa suara sang kapten yang berkumandang tepat di dua detik terakhir waktu mereka itu mengembalikan vitalitas mental Penguin dan Shachi ke atas nol. Law sudah menatap mereka kembali.
"Yeah, aneh. Soalnya di situ—"
"Oh?"
Suara baru mengalihkan perhatian seluruh tim ke belakang Shachi dan Penguin berdiri. Seorang wanita tua berjalan lambat keluar dari pintu rumah menuju mereka, "Apa ini orang yang kalian tunggu itu? Mengapa mengobrol di luar, masuklah ke dalam."
Bukan, Nek, tadi itu bukan 'mengobrol', tapi 'perhelatan hidup dan mati'—begitu yang ingin Penguin sampaikan, sayang keburu didahului kaptennya.
"Terima kasih, tapi kami punya agenda lain untuk dijalankan," Law menimang sesaat, "Nampaknya anggota kru-ku sempat berada dalam perawatanmu, aku sangat menghargainya."
"Fufu, tak perlu sungkan, mereka pemuda yang manis sekali. Cukup untuk menghibur nenek yang kesepian ini."
"...Kau tinggal sendiri?"
"Aku tahu yang kamu pikirkan, Nak. Namun tak ada yang lebih diinginkan lansia sepertiku selain menghabiskan sisa hidupnya dalam damai di tengah alam."
Lagi, sang dokter memberi jeda, "Kupikir hutan ini cukup berbahaya, dengan adanya rumor banyak orang menghilang itu?"
"Aah, kamu sudah mendengarnya, ya?" Nenek itu tersenyum, "Apa kamu juga mendengar kalau yang menghilang kebanyakan bajak laut? Mereka yang lebih harus waspada ketimbang aku," Pandangannya pada Law kemudian penuh makna, "Bagaimana dengan kalian? Apa kalian perlu merasa waspada?"
Ujung bibir Law melengkung naik, "Perlu pun, kami tak merasa harus. Tapi kami sangat tertarik dengan sesuatu dibalik yang 'perlu untuk diwaspadai' itu."
"Sebaiknya kalian berpikir lagi," Orang tua itu terkekeh, "Umur kalian masih terlalu panjang untuk berhenti di 'menghilang'. Walau, yah...menurutku kalian anak muda yang berani."
"Jalan hidup yang memaksa demikian."
"Mengesankan," Sang perempuan tersenyum simpul, "Tapi kadang keberanian bisa membawa kepada bahaya. Meski kalau wanita renta ini berpendapat, kalian bukan tipe penarik bahaya yang dimiliki pulau ini."
"Sayangnya," Kapten Heart itu menanggap ringan, "Kami tipe yang mencari bahaya."
Untuk beberapa detik si nenek berkedip, lalu tertawa, "Oh, aku tahu kalian memang pemuda yang menarik."
TAP! TAP! TAP!
"Nenek!"
Suara lain muncul dari balik pintu rumah, diikuti derap langkah kaki, kemudian berhenti. "Ah," Suara itu berseru, "Kamu kan—"
|
xXx
|
Kebebasan adalah ketika pizza pagi ini terasa lebih gurih, daging ayam terasa lembut di lidah, spaghetti teruji amat kenyal sampai meluncur begitu saja di kerongkongan, bahkan rum tak pernah terasa sesegar ini di badan.
Kebebasan adalah ketika Jewelry Bonney bisa menikmati makanannya lagi seperti sedia kala.
Viva la libertà.
Lalu ada baiknya untuk tidak menyebut-nyebut kata Sea Stone di hadapannya selama beberapa hari ke depan bila tetap ingin punya nyawa untuk menikmati makananmu esok hari.
Mood Bonney bahkan masih berada di puncak saat dia kembali beraksi sebagai 'Spinel', berjalan-jalan di sejumlah titik area di hutan tenggara Puerde Ri demi memancing target utama misinya. Sang gadis malah terlihat jauh lebih natural sebagai anak kecil dengan kondisi itu.
Namun itu adalah narasi untuk sekian jam yang lalu.
Sekarang Bonney masih berjalan di tengah hutan, berada di ukuran tubuh kecilnya, menuju area berikutnya. Segala senyum dan senandung yang ia lantunkan selama beberapa waktu terakhir sirna, digantikan oleh raut serius, terpekur dalam pemikirannya sendiri.
"Kapten, apa perlu kita hubungi tim lain terlebih dulu?" Kuki berjalan di sisinya, "Hari sudah memasuki sore dan kita belum saling bertukar laporan satu pun."
"Nah," Sang perempuan mengibaskan tangannya, "Kalau mereka belum menghubungi, artinya keadaan mereka tak lebih bagus daripada kita. Dan kau tahu success rate misi kita seharusnya lebih tinggi daripada sekedar rumor yang mereka telusuri."
"Seharusnya..."
"Yeah," Bonney mengelus leher belakangnya, "Seharusnya."
Sudah dia duga kalau ini tak semudah yang terdengar. Meski harusnya sesederhana itu. Dari setiap testimoni dan rumor yang ia dengar, dia tidak menemukan benang merah lain selain bahwa anak kecil adalah kuncinya. Di setiap tempat di hutan yang telah si gadis singgahi, Haki Bonney tak mendeteksi keberadaan manusia mencurigakan yang mendekatinya. Bahkan timnya hanya terdiri dari tiga orang, dua sisanya dibiarkan stand-by di perimeter yang menurut Bonney tak akan mengundang kecurigaan.
Apa masalahnya hanya keburuntungan saja?
"Tsk, berpikir selalu membuatku lapar," Si dara mengulurkan tangannya ke samping, "Kuki, aku mau pizzaku!"
"Apapun selalu membuatmu lapar, Kapten," Kuki mengoreksi seraya memberi makanan yang diminta kaptennya dari dalam tasnya. Bonney mendengus, tapi tidak balas mengoreksi.
"Omong-omong, ada yang bisa kau beritahu aku selama stand-by tadi?"
"Bila orang mencurigakan yang kau maksud, aku tidak menemukannya. Yang lewat di hutan ini bisa dihitung dengan jari dan semuanya terlalu...mencolok untuk melakukan sesuatu sembunyi-sembunyi."
"Yeah, aku juga lihat dari tempatku," Bonney melirik ke sisinya yang lain, "Dan beruang di sana, lihat sesuatu tidak?"
Jeda.
"Tidak."
Mengernyit, si gadis berhenti, "Oke, cukup." Dia berkacak pinggang, berbalik menghadap rekan timnya satu lagi itu, "Daritadi kalau ditanya kau hanya menjawab 'ya' atau 'tidak', sisanya kau diam saja. Aku sebenarnya tak peduli dengan masalahmu tapi kalau sampai kau sengaja menyembunyikan hal penting dariku, jangan harap kau lolos begitu saja, Bepo."
Jeda lagi. "Aku tidak menyembunyikan apa-apa."
"Jadi? Kalau tak suka berada di tim ini seharusnya kau bilang kaptenmu tadi!"
"Aku tak keberatan berada di sini."
"Lalu?"
Bepo mengedipkan manik hitamnya ke arah Bonney, "Aku masih benci dirimu."
Dahi si kapten mengkerut, "Hah?"
"Kau ternyata memang bukan anak kecil."
Duh. Bonney menepuk jidat, "Bukannya kaptenmu sudah memberi tahu, ya?"
Bepo menunduk, "Tapi baru lihat tubuh aslimu hari ini."
"Memangnya ada yang salah dengan tubuh asliku?"
"…Gosip pedofil Kapten bakal hilang,"
Eh, itu masalahnya!?
"Terus kau ingin aku tetap di tubuh kecilku begitu?"
Kali ini Bepo berkedip lama, "Spinel kecil lebih menarik, tapi dia pernah menipuku."
"Euh, jadi kau suka yang mana?"
Bepo menerawang jauh, pipinya memerah, "Aku suka beruang betina."
"SUKA-SUKA LO DEH, BERUANG!" Bonney lelah sendiri bicara dengan hewan ini.
"There now, Captain," Kuki tersenyum simpul, kasihan juga melihat kaptennya terbawa pace si beruang. Dia menghadap hewan tersebut, "Memangnya benar tidak ada hal aneh yang kau temukan untuk diceritakan?"
Si beruang meretaskan diri dari imajinasi betina pujaannya sebelum membalas, "Tidak ada orang aneh lewat."
Bonney menghela napas, entah kenapa semakin lelah. Tidak, tunggu. Ia tahu kenapa lelah, "Jadi hutan hari ini isinya hal normal saja kah?"
"Hutan ini tidak begitu normal, kok."
Celetukan Bepo mendapat pandangan tanya dari kedua rekannya, "Maksudmu?"
"Umm..." Hewan itu berpikir dengan ekspresi datarnya, "Ada banyak lahan yang tidak rata jadi pohon-pohonnya miring?"
"Ah, itu aku juga melihatnya," Si gadis melipat tangannya di depan dada, "Juga sempat kuperiksa. Bekas miringnya bukan disebabkan manusia."
"Natural, ya," Kuki menimpal, "Mungkin ada hubungannya dengan gempa yang sering terjadi itu."
"Kemungkinan besar, sih." Bonney menoleh lagi, "Ada yang lain, Bepo?"
"Bagaimana ya..." Bulu-bulu wajah Bepo mengkerut, "Hmm...suasananya agak suram begitu..."
"Bisa kau jelaskan dalam bahasa manusia?"
"Ya suram," Dia memiringkan kepalanya, "Hutannya...penghuninya..."
"Penghuni?" Sebelah alis Kuki terangkat, "Maksudmu hewan semacamnya?"
Si beruang mengangguk, "Seperti ada yang membebani—tidak...mengintimidasi?"
Bonney mendongak, melihat kesana kemari, "Well, aku sih tidak merasakan apa-apa. Tapi kalau yang kau katakan benar, mungkin itu kenapa tidak banyak hewan buas yang menyerang kita semenjak tadi."
"Ah, benar juga," Sang koki bajak laut bergumam, "Padahal semakin jauh dari kota, kita seharusnya akan banyak menemui hewan buas."
"Dan kau tahu, aku jadi tersadar,"Perempuan itu menatap kru-nya, "Anak kecil yang menemukan harta itu semua bisa selamat keluar dari hutan ini. Padahal orang dewasa belum tentu bisa keluar tanpa luka."
Bepo berkedip, "Apa dermawan itu yang menjaga keselamatan mereka?"
"Bisa saja...heh," Sang kapten mendengus, "Apa benar ada orang sebaik itu tanpa motif tertentu?"
Kuki mengangkat bahu, "Well, dari sudut pandang bajak laut, orang seperti itu memang termasuk langka."
"Yea—hng?" Menghentikan langkah, Bonney melirik ke sebelah kanan.
"Ada apa, Kapten?"
Dia masih tampak memperhatikan sesuatu, "Tidak...hanya ada sekelompok orang di sana,"
"Memangnya ada apa dengan mereka?"
Bonney tidak menjawab, dalam sekejap bertransformasi ke ukuran tubuh normalnya dan segera bergerak menuju ke arah tersebut. "Kapten?" Kuki menyusulnya. Tidak mau ditinggal, Bepo mengikuti mereka. Jalur yang mereka tempuh penuh dengan semak dan bebatuan besar, tetapi Bonney agaknya tak berminat untuk mengurangi kecepatannya sedikit pun. Tak lama, ia berhenti di belakang sebuah pohon.
Kuki berlari ke sebelahnya, "Kapten, ada ap—"
"—HWAAAAAA!"
"Ooo-ooh! Masih belum mau bicara juga!?"
"Cepat katakan dimana kau menemukan permata itu!?"
"Atau kau lebih senang untuk bermain kasar? Huuh!? Tak masalah, itu adalah spesialis kami, kehehe!"
Beberapa meter di hadapan mereka, empat—tidak, lima orang pria tampak berkumpul. Dari sela-sela bodi kekar dan besar itu, Kuki dapat melihat mereka sedang mengelilingi seorang bocah lelaki yang meringkuk ketakutan. Dari gelagatnya saja sudah terlihat jelas sedang terjadi praktik perampokan.
"Permata?" Suara bass Bepo datang dari sisi Bonney yang lain. Mereka bertiga masih belum beranjak dari tempatnya di balik pohon, "Apa anak itu juga mendapatkannya dari target kita?"
"Mungkin. Kondisinya cocok," Si koki berkomentar, "Hei, Kapten. Apa kau mau menolong anak itu? Atau menunggu siapa tahu target kita masih ada di seki—huh? Kapten?"
Saat sang pria menoleh ke kaptennya, ia melihat sebentuk seringai terkembang lebar di bibir gadis itu.
"Heh," Bonney mendengus, "Akhirnya kutemukan juga kalian, bajingan tengik."
"Eh?"
"Maaf, Kuki," Perempuan itu memutar sendi bahu kanannya, tampak bersemangat, "Sampah ini saja yang ingin aku buang sendiri."
Seorang Jewelry Bonney tidak biasa mengingat sampah. Tapi kali ini hanya mereka saja—sampah-sampah itu saja yang tak akan si dara ini lupakan sebelum ia bisa melumat mereka dengan tangannya pribadi. Sampah yang membuatnya terpaksa harus menerima pertolongan dari si janggut kambing hanya karena dirinya masih terkekang batu sialan itu. Bonney bahkan juga sampai terlilit hutang janji yang entah bagaimana kelak digunakan oleh dokter maniak tersebut.
Oh, dosamu sungguh besar, sampah.
"HWAAAAAA!"
"Menangislah sekerasnya! Haha! Tak ada orang lain yang bisa mendengarmu disini!"
"Oh, tapi aku bisa mendengarnya," Bonney berjalan super kasual, keluar dari tempatnya, "Suara nista kalian yang memohon ampun padaku dan menangisi nasib karena dilahirkan sebagai sampah, hah!"
Penampilannya jelas mendapat sambutan tak bersahabat dari pihak seberang.
"Huuuh!?"
"Siapa gadis ini, tiba-tiba—"
"—Tak perlu tahu siapa aku," Si gadis berdiri santai di depan mereka, "Hanya ingatlah bagaimana rasanya sebentar lagi dikubur hidup-hidup dengan tangan ini."
Salah satu dari mereka menghadapnya dengan wajah merah mendidih, "Kau mau mengganggu urusan kami, perempuan!? Atau kau memang suka mencari masalah!?"
"Tolong, aku tidak tertarik dengan urusanmu. Selera buruk kalian pada bocah sama sekali tak berubah. Dan kau salah," Dia membunyikan buku-buku jarinya, "Kalian sudah mencari masalah denganku."
Kelima orang itu telah melupakan si bocah, kini berjejer di seberang Bonney, bersiap mengeluarkan senjata mereka, "Kau akan menyesal meminta pertarungan dari kami!"
"Salah lagi. Ini bukan pertarungan," Kedua tangan si gadis membuka lebar, rautnya menggelap bahaya, "Ini adalah aku yang memberi kalian neraka."
"Kkkkhh!" Pria-pria tersebut maju bersamaan, "HEAAAAAAAAA!"
RATTLE! RATTLE! RATTLE!
"!?"
Semua yang ada di situ terkejut saat tanah tempat mereka berpijak berguncang hebat. Kegiatan mereka terpaksa dihentikan berhubung tak bisa berdiri dengan sempurna.
"Tch!" Bonney berlutut dengan satu kaki ketika guncangannya tak juga berhenti, "Gempa lagi!? Di saat seperti ini!?" Sudah berapa kali coba fenomena random ini menginterupsi urusannya? Dari sudut matanya, sang gadis dapat melihat Kuki menggunakan kesempatan itu untuk mendekat diam-diam, lalu menggendong si bocah menjauh dari gerombolan tersebut. Dan omong-omong, getaran kali ini lebih besar dari yang pernah ia rasakan selama di pulau ini.
"Argh, kenapa tidak berhenti-berhenti!?" Agaknya para lelaki itu tak menyadari kalau telah kehilangan korbannya.
"Gempa sialan! Ka—WHOA!"
Tanpa peringatan, tanah di bawah kaki salah satu pria membentuk sebuah lubang, menelan jatuh dirinya.
"Apa—WHOA!" Lubang itu melebar cepat hingga menyeret jatuh keempat orang sisanya.
Bonney terbelalak, "Kuki! Bepo! Ke atas pohon!" Teriaknya lantang seraya melompat ke atas pohon terdekat sekilat mungkin. Ia bahkan tak mau mengambil resiko mundur menjauh dulu bila melihat kecepatan lubang tadi melebar. Sesampai di pohon, baru tersadar dia kalau Baby Den Den Mushi miliknya tergeletak di tanah, mungkin tak sengaja keluar dari sakunya saking besarnya kekuatan gempa. Jadilah si siput ikut tertelan ke dalam lubang. Berdecak, fokus Bonney tak meninggalkan tanah. Ia telah siap untuk bertolak ke pohon di belakangnya jika pohon ini ikut tertelan juga.
Namun momen itu tak kunjung datang.
Setelah membuka lebar, tanah di bawahnya menutup dengan sama cepat, tak menyisakan jejak bahwa pernah ada lubang menganga sebelumnya. Dan seketika itu pula gempa berhenti. Hening. Bonney masih terpaku di posisinya.
"B-Barusan tadi it—Ack!" Ia melompat ke pohon sebelah, menghindari sesuatu yang meluncur cepat ke arahnya dari samping. Sesuatu itu menubruk keras batang pohon tempat Bonney sebelumnya berada, "Tanah!? Kenap—siapa disa—WHOA!" Lagi, sekumpulan butiran tanah menyerupai batu berdesing cepat, menyerangnya. Bonney turun ke bawah.
Tapi kembali melompat ke pohon lain ketika merasakan tanah di bawah kakinya bergetar, "Tch, daratan juga tidak aman, kah?"
"A-Apa-apaan iniiiiiiiiiiiiiiiiiii!?" Agaknya kedua rekannya juga mengalami masalah yang sama di sisi lain. Butiran batu tanah kembali menghujani si gadis, kali ini dari beberapa arah berbeda sekaligus. Lebih dari satu orang, kah? Dia masih terus menghindar tanpa menginjak tanah di bawah. Serangan ini menyebalkan, walau sedikit banyak bisa ditangani selama pohon-pohon yang menjadi sarana kaburnya masih saling berdekatan. Lagipula, ada hal lain yang menyita pikiran dia.
Bonney tidak mendeteksi keberadaan siapapun di sekitarnya.
Mendecih, dia menghadap ke arah salah satu datangnya serangan dan meluncur maju. Sesekali menggunakan pohon-pohon terdekat untuk menghindar, terus meluncur maju. Siapa? Asap debu akibat debuman serangan yang menerjang pohon merebak di sekitarnya. Siapa? Haki Observasi-nya aktif mencari. Siapa?
Lalu serangan dari arah itu berhenti.
"Hah?" Bebatuan tanah masih menghantamnya dari arah lain. Bonney mengernyit. Apa penyerang di arah itu kabur?
...Tidak. Bonney tidak merasakan keberadaan siapa-siapa disana. Tapi yang jelas serangan berhenti ketika ia hampir sampai di area yang sekiranya adalah sumber serangan itu, "Heh," Sang gadis bersalto ke pohon lain, bebatuan tanah berseliweran melewatinya, tak berkutik di hadapan Haki-nya, "Ingin bermain petak um—eh?"
Sekilas Bonney merasakannya.
Ia mendarat di sebuah pohon, memusatkan fokusnya ke daratan. Tidak ada apapun disana kecuali normalnya lantai tanah hutan. Tapi pupil Bonney melebar.
"A...Apa ini..."
Momen itu terpaksa dihentikan oleh batuan tanah yang terus agresif menyerang, "Tsk," Menghindar. Serangan kemudian datang dari segala arah. Tampaknya sang penyerang ingin segera mengakhiri permainan mereka.
"KAPTEN!"
"Apa!?" Telapak Bonney menyentuh cabang pohon tempat ia hinggap, memusatkan tenaga. Mungkin sudah saatnya ia perlu mengambil langkah serius dan menggunakan Devil Fruit-nya, "Aku sedang sibuk!"
"JADI ANAK KECIL SEKARANG!"
"Hah!?"
"SEKARANG!"
"Tch," Bebatuan tanah datang melaju cepat bersamaan dengan menyusutnya tubuh Bonney menjadi bocah.
Dan berhenti.
Bebatuan tanah itu melayang diam sejenak di depan sang gadis sebelum melebur jadi pasir, jatuh ke bumi.
"...Kenapa?" Bonney menatap lahan bawah dari atas pohonnya. Apapun yang ia rasakan tadi hanya berupa jejak samar. Tetap membungkam, si dara melompat turun. Tidak ada lagi tanda-tanda akan membukanya lubang di tanah.
"Kapteeen!" Kuki berlari tergesa-gesa dari sebelah dia, menggendong bocah lelaki yang diselamatkannya di punggung. Bonney dapat melihat Bepo juga mengekor di belakang pria itu, "Kapten, kau tidak apa-apa?"
"Yeah. Ketimbang itu, Kuki," Si perempuan mungil mendongak, "Kenapa kau tahu menjadi anak kecil bisa menghentikan serangannya?"
"Ah, karena dia," Sang koki mengendikan kepalanya ke bocah di gendongannya, yang tampak menyembunyikan diri, tak mau menunjukkan wajah, "Bebatuan tanah itu hanya hilir mudik menutupi jalan di sekitarku namun tak pernah sekalipun menyerangku langsung. Awalnya kupikir semacam gertakan saja, tapi kulihat kau dan Bepo dihujani tanah habis-habisan. Setelah lama aku berpikir apa yang membedakan aku dengan kalian sehingga tak diserang, aku teringat anak ini. Jadi kupikir kalau kau jadi bocah, serangan padamu mungkin berhenti."
Bonney menyentuh dagunya, berpikir, "...I see."
"Tapi harusnya kan dia tahu kau bukan anak kecil asli," Bepo menyeletuk, "Apa begitu tetap dihitung?"
"Itu dia yang aku bingung," Kuki mengangkat bahu, "Dan bukan hanya Kapten, serangannya padamu juga berhenti. Semua serangan tadi malah. Seolah—"
"—Penyerangnya kaget dengan perubahan mendadak di medan dan memilih mundur terlebih dulu," Kapten mungilnya menyambung datar.
Sang koki berkedip, "...Err, aku sebenarnya bukan mau bilang itu sih."
"Hmph," Bonney berucap lagi, kali ini dengan nada mantap, "Baiklah, kita pending dulu misi lama kita dan ganti ke agenda baru."
"Eh?"
"Hei, kau, Nak!" Dia mengacung pada si bocah lelaki. Anak itu bergidik, sebelum menyembulkan kepalanya dari balik bahu Kuki, "Apa benar kau menemukan permata?"
"Hii!"
"Jangan takut, bodoh! Dan jangan samakan aku dengan sampah-sampah hina itu! Bukan permatamu yang kuinginkan! Aku tanya apa kau menemukan permata itu di hutan ini apa tidak!?"
"Eh? Umm..." Si bocah ragu, "...I-Iya..."
"Lihat siapa yang meletakkannya?"
"T-Tidak. Tergeletak begitu saja di tanah."
"Ada hal aneh yang kau rasakan sebelum menemukannya?"
"Aneh? Tidak..."
"Apapun. Bayangan, bunyi..."
"Bunyi?" Anak itu mengkerutkan keningnya, "...Bunyi 'dug' begitu?"
"Dug?"
"Umm...kupikir ada buah jatuh ke tanah. Setelah kuperiksa, yang kudapat malah permata,"
Jeda, "Bunyi jatuh...atau bunyi tanah beradu?"
"Eh? Uh...mungkin? Aku tak begitu ingat...tapi setelah dipikir-pikir lagi, bunyinya memang lebih kasar. Seperti...gesekan?"
Sang gadis melipat tangannya di dada, "Oke, sekarang dimana rumahmu?"
"E-Eh?"
"Jangan 'Eh', kau mau pulang tidak? Paman ini akan mengantarmu."
"Eh? Aku?" Sekarang Kuki yang kaget.
"Benarkah? Uwah, terima kasih!" Mata si bocah berbinar senang, "Dekat kok, di desa sebelah sana."
"Kau dengar dia, Kuki. Antar dia lalu segera bergabung lagi denganku di area terakhir rencana kita di hutan barat daya pulau ini."
Sang koki terheran, "Hutan barat daya?"
"Itu bukannya hutan tempat Kapten berada ya?" Bepo menanggapi, "Buat apa kau kesana?"
"Bukan aku saja, kau juga," Bonney berputar, mulai beranjak pergi dari posisinya, "Baby Den Den Mushi-ku tertelan lubang aneh tadi jadi kita tak punya sarana untuk menghubungi dokter gilamu itu."
"Eh?" Bepo mau tak mau ikut berjalan cepat mengikutinya, "Tapi kenapa?"
"Kujelaskan di perjalanan," Sang gadis kini berlari cepat seiring dengan berubahnya tubuh dia ke ukuran normal. Sekilas pandangannya menengadah ke langit senja sebelum fokus lagi ke depan, "Heh, mari lihat bagaimana reaksi si janggut kambing saat tahu pulau apa yang kita singgahi ini..."
|
xXx
|
"Ng?" Law menurunkan pandangannya ke sosok mungil yang baru mendekat, keluar dari rumah.
"Ah." Sosok itu berseru, "Kamu kan kakak pedofil."
Hening.
Urat kening Law berkedut.
Ada banyak yang ingin dia lakukan, termasuk menjampikan Mes pada jantung duo kru-nya yang tertangkap sedang saling berbisik 'uwah...gosipnya sudah menyebar sampai sini.' dan menghindari tatapan terkejut mempelajari dari wanita renta di hadapannya, namun itu bisa menunggu. Untuk sekarang...
"Aku bukan pedofil." Sungguh, kenapa tiba-tiba kredibilitas orientasi seksualitas Law selalu dipertanyakan semenjak sampai di pulau ini? Berlabuh di sini juga baru kemarin hari, nenek moyangnya punya dosa apakah, begitu? "Dan siapa kau?"
"Eh, bukan? Hee...tapi kata Spinel-chan begitu..."
"Spinel?" Law akhirnya dapat menarik benang merah situasi ini, "Kau teman...perempuan kecil bersurai merah muda itu?"
"Yep, kita teman lho~! Oh, namaku Melly, omong-omong," Bocah itu mengangkat sebelah tangannya gembira, "Kakak yang menolong Spinel-chan waktu itu kan? Terima kasih lagi, ya, Kak~! Aku tidak lihat bagaimana menolongnya sih...soalnya sibuk nangis, hehe..."
Sang dokter tak berkomentar, meski masih mencatat fakta kalau anak ini adalah salah satu bocah yang ada saat ia menolong si gadis rakus kemarin-kemarin itu.
"Aah...jadi dia yang menolongmu, Melly?" Sang nenek, tak lagi terkejut, memandang Law dengan berseri-seri.
"Yep, yang satu lagi. Teman-teman bilang dia—aaaaah! Nenek, sekarang bukan saatnya untuk itu!" Melly menarik-narik lengan neneknya, "Kamu harus ke dapur! Paman-paman brewokan itu tidak tahu caranya menggunakan oven! Nanti kuenya gosong lho!"
"Oh my," Orang tua itu menyentuh pipinya, "Baiklah, aku akan kesana. Permisi dulu, tuan-tuan." Ia mengangguk kecil dan berlalu ke dalam rumahnya.
"Shachi-chan dan Penguin-chan juga!" Melly berkacak pinggang, "Katanya mau membantu memanggang kue! Aku sudah siapkan apron untuk kalian lho~!" Dia mengadukan kedua tangannya riang, "Manis deh! Pasti kalau dipakai kalian akan lebih imut ketimbang yang dipakai paman-paman itu. Ah," Berpikir sejenak, "Tapi mereka juga manis koook~!"
"Anu..." Penguin mendekati gadis kecil itu, sebisa mungkin tidak mau berpapasan dengan pandangan kaptennya karena sudah sangat tahu sorotan seperti apa yang lelaki itu beri sekarang padanya, "Kami tidak bisa membantumu memanggang kue sekarang, Melly-chan."
"Eeh? Kenapa?"
"Soalnya kami harus pergi. Coba ingat, janji membantunya hanya sampai orang yang kami tunggu datang, kan?" Shachi ikut menimpali.
"Mmmm...iya sih..."
"Tapi tadi sudah membantu sebentar jadi jangan sedih, ya...Dan, oh!" Telunjuk Penguin mengangkat, "Kau juga sudah janji akan membawa kami kesana kan? Ke tempat yang kau bilang itu!"
"Ah ya, benar, benar! Orang ini juga sangat ingin melihat tempat itu." Shachi mengacungkan jempolnya ke arah Law.
"Umm..." Melly menatap lekat-lekat pria yang dimaksud itu, "...Kakak benar-benar ingin melihat tempatnya?"
Sebelah alis Law terangkat. Ia melirik sekilas ke Shachi dan Penguin yang menganggukkan kepala mereka antusias, membujuknya untuk melakukan hal yang sama, baru kembali ke anak itu, "...Iya?"
Melly masih mengulum bibirnya. "Ummm...baiklah!" Dia mengaitkan jemarinya ke belakang punggung dengan riang, "Kata Papa janji harus ditepati~!"
"Benar, benar! Melly-chan pintar ya~!" Duo kru Heart itu memujinya dengan sama riang.
"Oke, aku minta ijin Nenek dulu ya!" Sang gadis pun berlari masuk ke dalam rumahnya.
Shachi dan Penguin berbalik menghadap kaptennya, yang dari pandangannya saja sudah mengisyaratkan ia menunggu penjelasan.
"Ingat kan saat kubilang ada seseorang yang mau mengajak kami ke tempat aneh?"
"Anak itu yang tahu tempatnya."
Law bergeming, "Tempat aneh seperti apa?"
Shachi dan Penguin masing-masing memberinya senyuman lebar, berbicara bersamaan, "Jalan rahasia."
Sang dokter masih bergeming, "...Kalian yakin?"
"Dia bilang sih begitu. Tapi kurasa tak ada salahnya untuk dicek," Shachi mengangkat bahu, "Tahu kan, Kapten, anak-anak kadang sangat sensitif soal ini. Banyak orang dewasa tak percaya kalau mereka menemukan sesuatu seperti jalan rahasia."
"Jadi kami menggodanya sedikit agar dia memberi tahu semua yang ia ketahui untuk mengira-ngira kebenarannya. Testimoninya sih cukup meyakinkan," Sambung Penguin.
"Anak itu suka sekali berbicara, dipancing sedikit, keluar semua tak berhenti-henti."
"Lagipula area yang kita telusuri daritadi tidak banyak memberi hasil. Siapa tahu yang ini lebih baik."
Sunyi. Untuk beberapa saat Law tak berkomentar.
"Kupikir tak ada salahnya mengikuti saran kru-mu," Dari belakang, Balunn angkat suara, bergeser lebih dekat ke mereka, "Kapten Bonney juga banyak mengikuti rumor dari anak kecil di pulau ini, karenanya ia bisa dapat semua hal tentang harta itu."
Jeda, "Baiklah," Dokter itu mencabut Kikoku dari tanah, memanggulnya dengan kasual, "Aku ikut gagasan kalian ini."
"YEAH~!" Shachi dan Penguin ber-high-five, lega setidaknya punya alasan bagus untuk menutupi fakta mereka memang molor selama sejam di rumah itu. Sambil ngemil pula.
Melly tak lama muncul keluar, diikuti neneknya dan segerombolan pria sangar yang merupakan anggota sub-tim Shachi-Penguin (beberapa lupa melepas apron-nya, oh the horror). Setelah meyakinkan wanita tua itu kalau cucu manisnya akan dijaga baik-baik (Melly beralasan mereka mau menemani mengambil jepit rambut favoritnya yang tertinggal), mereka pun segera beranjak pergi dari rumah itu.
Tempat yang mereka tuju ini katanya akan memakan waktu beberapa menit berjalan kaki. Hari semakin gelap. Walau ada penerangan berupa obor yang mereka bawa, masih butuh usaha lebih untuk melihat keadaan sekeliling. Pun begitu, Melly berjalan riang di sebelah Law, sesekali bersenandung. Melihatnya, sang pria memutuskan untuk angkat suara.
"...Kau tidak takut? Berjalan di hutan malam hari, bersama rombongan asing seperti ini?"
"Hm?" Si gadis mendongak, "Oh, bukan orang asing. Aku membuat kue bersama Shachi-chan, Penguin-chan, dan paman-paman itu jadi kita sudah teman. Lagipula kakak teman Spinel-chan kan? Teman Spinel-chan berarti temanku juga."
'Teman' Spinel-chan, huh?
"Dan lagi aku tidak takut berjalan di hutan," Melly kembali menatap depan, "Anak kecil pasti aman di sini."
"Aman?"
"Uhn!"
Well, omong-omong soal aman, entah kenapa tim mereka juga jarang bertemu dengan hewan buas selama berada di hutan ini. Tak tahu apa alasannya, namun Law berharap itu akan terus berlangsung malam ini.
"Karena kau terbiasa tinggal di hutan?"
"Ah, aku tinggal di kota kok, bersama Papa dan Mama. Hanya Nenek yang tinggal sendiri di sini, aku kadang datang untuk bermain atau minta dibuatkan kue. Kue buatan Nenek enak lho!"
Law percaya. Duo kru-nya berani meninggalkan pekerjaan mereka demi itu.
"Nenek lebih suka tinggal di sini, padahal sudah diajak untuk tinggal bersama kami. Katanya di sini bisa lebih dekat dengan teman lamanya."
"Teman?"
"Yep," Perempuan mungil itu memiringkan kepalanya, "Teman lama yang sudah tak bisa dijumpa...katanya sih."
Sang dokter tidak berkomentar.
"Oh iya," Bocah itu mendongak padanya lagi, "Apa Spinel-chan memang begitu?"
Law melempar pandangan tanya pada pertanyaan out of topic itu, "Apa?"
"Itu lho, nafsu makan dia biasanya apa sebesar itu?" Melly tertawa, "Aku mengundangnya makan di rumahku kemarin-kemarin dan dia menghabiskan baaaaaaaanyak sekali cokelat. Permen dan kue juga. Papa sampai terheran dibuatnya, hahaha!"
Sang pria mendengus. 'Terheran' pastinya masih jauh dari reaksi orang tua gadis ini yang sebenarnya, "Itu adalah gelarnya," Law berkata jujur. Tanya saja Navy. Kemudian ia tersadar akan sesuatu, "...Apa ayahmu walikota?"
"Yep. Spinel-chan yang cerita?"
"Katakanlah begitu," Sang dokter bertanya-tanya apakah ayah si bocah juga semudah ini untuk diajak bicara. Tak heran gadis rakus itu tidak kesulitan mendapatkan info, "Beri tahu aku, apa tempat yang kita tuju ini benar punya jalan rahasia?"
Bersungut, gestur si perempuan mungil kemudian defensif, "Apa? Kakak tidak percaya?"
"Karena percaya aku ingin dengar ceritamu lebih jauh. Seperti mengapa kau bilang itu jalan rahasia misalnya."
"Oh! Tentu saja jalan rahasia~!" Ekspresi berbunga sekejap menggantikan perasaan tak nyamannya yang lalu. Jempolnya teracung, "Sebab awalnya itu tidak ada!"
Manik keabuan Law menjentikkan ketertarikan, "Tidak ada?"
"Umm...tidak tahu sih," Dahi Melly melipit, "Terakhir aku kesana bersama Nenek, tempatnya normal-normal saja. Lalu tadi pagi, aku ingin main ke dekat sana untuk memetik bunga—bunganya cantik lho! Sampai di sana, lubang besar itu sudah muncul begitu saja."
"Lubang besar? Bukan jalan?"
"Jalan, kok, jalan! Lubang besarnya mirip terowongan."
"Kau tak cerita ke siapapun setelah itu?"
"Cerita! Aku cerita ke Nenek! Dia bilang 'Oh, jalan rahasia, ya. Pasti kau bangga menemukannya, ya.' terus sudah," Pipi bocah itu menggembung sebal, "Pasti Nenek berpikir aku bohong! Padahal Nenek juga suka cerita hal-hal aneh dan aku percaya tuh! Nenek payah!"
"Well, orang dewasa rata-rata lebih percaya bukti nyata daripada cerita."
"Mmmh, aku tak tahu harus kasih bukti apa, tak pernah masuk lagipula, hanya melihat dari pinggir lubang. Ah." Wajah Melly memucat, merenggut ujung roknya, "Kalau sekarang aku tak mau masuk."
"Mengapa?"
"Habis..." Ia mendadak berhenti, membuat Law dan rombongannya ikut menghentikan langkah kaki mereka. Sang gadis mengulurkan satu jari ke depan, "...tempatnya di situ."
Mengikuti arah tunjuknya, kelompok pria-pria ini dihadapkan pada sebuah pemandangan yang cukup untuk membuat terpana sejenak. Area itu tak lagi didominasi sekumpulan pohon, melainkan lahan terbuka yang mana terlihat dipenuhi reruntuhan tua. Tapi bila hanya itu yang disebutkan, tentu tak akan menjelaskan kenapa panorama tersebut begitu membuat tercengang. Dari semuanya, yang paling mencolok adalah lubang menganga tepat di ujung terjauh tempat tersebut; mencuri spasi, mendesak reruntuhan apapun yang sebelumnya disitu untuk bergeser ke sisi-sisi. Dari sini samar apakah itu hanya lubang atau terdapat jalan di dalamnya. Lalu ketika awan-awan gelap tak lagi membayang, sinar bulan akhirnya memberi bantuan penerangan untuk menyenteri seluruh area, membuat mereka dapat menyimpulkan satu kata saja yang bisa dengan tepat menggambarkan tempat apakah itu.
"H-Hii!" Suara memekik Shachi memeluk rekan duo-nya yang pertama memecah keheningan.
"M-Melly-chan..." Penguin menelan ludah, "Kau tak pernah bilang kalau tempatnya adalah pemakaman."
Seakan menegaskan kalimatnya, sinar rembulan semakin mengilapi batu-batu nisan, baik yang utuh maupun yang sudah berupa bongkahan saja.
"Eh?" Yang dituding berkedip, "Aku tak pernah bilang, ya?"
"TIDAK!"
Beberapa sibuk dengan reaksinya masing-masing. Law sendiri perlahan melangkah maju, tenang. Reaksi yang terlihat di dirinya hanyalah senyum khas yang biasa ia sunggingkan saat melihat sesuatu menggelitik perhatiannya, "...Harus kukatakan ini diluar perkiraanku."
"Yeah..." Balunn menimpali, masih terpana, "Kupikir jalannya akan lebih...terstruktur? Kalau yang begini seolah—"
"—muncul begitu saja." Law mengutip perkataan Melly untuk menutup kalimat tersebut, "Well, ini memang menarik untuk ditelusuri," Ia melirik ke sisinya, "Kau betul tidak mau ikut masuk?"
"Na-ah!" Si bocah menggeleng keras, "Seram tahu!"
"Kau bilang pernah mendekati lubang itu."
"Kan siang, mana ada hantu keluar!" Dia berkacak pinggang, "Memang Kakak tidak tahu, ya?"
Sang dokter mengangkat bahu saja atas itu, "Kami akan masuk kesana. Kau mau menunggu?"
"Nope, aku ingin pulang, mau makan kue," Mengangkat sebelah tangan, Melly berujar ceria, "Kapan-kapan main lagi, ya! Nanti kakak juga bisa bantu buat kue~! Bye!" Berbalik, dan beranjak pergi.
"Oi, tunggu."
"Hah?"
Jeda, Law pun sesungguhnya heran kenapa ini harus ditanyakan, "Kau mau pulang sendiri? Melewati hutan? Di malam hari?"
"Uhn," Angguk polos.
"...Tidak seram?"
"Oh, kan sudah kubilang," Melly mengangkat bahu, "Anak kecil pasti aman di sini."
Dokter kematian itu memutar bola matanya. Ia memang tak paham dengan logika anak ini. Kemudian dia menunjuk satu orang di tim, "Kau, bawa anak ini pulang ke rumahnya dan kembali lagi kemari."
"Eeh...tapi aku bisa pulang sendiri..."
"Biar kau punya teman mengobrol di jalan."
Si bocah berkedip, "Oh, benar juga!" Dengan riang ia menggaet tangan orang yang ditunjuk Law tadi, "Ayo, Paman, antar aku pulang~! Kita bisa cerita baaanyak di jalan!" Kedua orang itu pun berlalu.
Law menggeleng, mengeratkan genggaman pada nodachi hitamnya yang tak lagi dipanggul, kini berbalik menghadap area pemakaman lagi, "Kita masuk. Shachi, Penguin, sampai kapan kalian mau berpelukan di sana?"
Masih bergidik, sang duo Heart bergumam, "...Y-Ya..."
Derap kaki mereka kembali terdengar. Tidak ada pagar yang mengelilingi pemakaman tersebut, pembatasnya hanya pepohonan yang berjejer. Sekitaran sini sepi, namun toh memang begitu dari awal. Hanya karena ada penambahan batu-batu nisan dan reruntuhan tua saja sensasinya jadi agak berbeda.
"Death Surgeon," Balunn memanggil seraya melirik beberapa gundukan yang ia lewati, "Kupikir kita perlu melaporkan ini pada Kapten Bonney."
Bulir keabuan sang dokter tetap meneliti tanah sekitar jalur langkahnya saat mengeluarkan Baby Den Den Mushi dari dalam saku, mengulurkannya pada kru Bonney itu, "Lakukanlah. Dan beritahu dia kalau tempat kumpulnya berganti jadi di sini," Dia melompati salah satu gundukan besar, "Aku mau memeriksa sekitar lubang itu."
Balunn mengangguk mengerti.
Keadaan tanah pemakaman ini lebih buruk dari yang Law duga. Nyaris tak terlihat lagi mana gundukan kuburan mana gundukan biasa. Namun tampaknya pemakaman ini termasuk tua dan terbengkalai—potongan-potongan nisan yang tergeletak di sana sini rapuh. Ditinjau dari bekas pergeseran tanah, lubang besar di situ seolah muncul dan membesar hingga menjadi seluas itu.
Law sampai di mulut lubang. Dari sini akhirnya terlihat jelas. Alih-alih langsung menghujam ke bawah seperti sumur, tanah dalamnya landai, menjorok ke dalam bumi. Melly tidak salah. Terowongan adalah kata yang tepat. Dibilang landai pun kemiringannya tidak didesain nyaman untuk berjalan. Ujung dasarnya tak terlihat.
"Kapten..." Shachi berceletuk, mendekatinya, "Kau yakin ini jalan tersembunyi yang kita cari-cari?"
"Karena kau tahu..." Penguin di sebelahnya menyambung, merendahkan suaranya dramatis, "...mungkin saja ini...jalan menuju Underworld...?"
Law mendengus, "Mungkin," Manik abu-abunya berkilau dimainkan cahaya bulan saat melirik mereka dengan seringai khasnya, "Cepat atau lambat bajak laut seperti kita akan mengunjunginya, kenapa tidak mengintip isinya dari sekarang? Fufu, bisa saja Cerberus sedang menunggu di dasar lubang ini."
"K-Kapten!"
Terkutuklah guratan gelap di bawah mata kapten mereka yang membuat efek horor di wajahnya makin menjadi.
"Well, karena tak ada yang berjaga di mulut lubang jadi siapa tahu..."
"KAPTEN!"
Tapi penjaga yang dipikir Law harusnya ada itu memang tak tampak...kalau memang ini jalan yang ia cari. Bila bocah tadi berkata benar, lubang ini seharusnya tidak ada di sini sebelumnya. Tersembunyi. Lalu mengapa kini tiba-tiba dibiarkan muncul ke permukaan? Dan penggalian lubang ini juga bukan dengan cara konvensional. Fenomena natural?
Atau oleh kekuatan tak natural?
"Heh," Teringat dia akan seseorang dengan kemampuan merubah bentuk geografi tanah, mirip seperti ini. Pemilik kekuatan dalam kru orang itu.
Tanpa sadar cengkeramannya ke Kikoku mengerat.
"Hmm..." Balunn masih menatap siput di tangannya yang terus ber-purupuru, "Ini aneh. Aku tidak bisa menghubungi Kapten."
"Mungkin dia tidak mendengar?" Penguin berkomentar.
"Atau sedang sibuk?" Tambah Shachi.
"Hmm...kalaupun sedang sibuk, kuharap bukan sesuatu yang kritis..."
"Mau apapun itu, pada akhirnya tim dia akan pergi menuju tempat berkumpul yang kita sepakati," Law berjalan menjauhi mulut lubang, "Kita akan kirim orang untuk menjemput mereka bila masih belum bisa dihubungi." Berdiri di gundukan agak tinggi, ia mengeraskan suaranya, "Kalian semua, persiapkan camp, kita bermalam disini."
Gumaman 'Eh? Di kuburan?' terdengar bersahutan di dalam rombongan.
"Tidak usah protes, laku—SEMUA MENUNDUK!"
Terkejut, semua orang refleks melakukan perintah Law.
BOOM!
Bunyi bebatuan menghujani daratan mengudara di seluruh pelataran makam. Benda itu datang menyerbu terus menerus dengan kecepatan tinggi dari seluruh arah, "Aaaaaaah ada apa iniiiiii!?" Namun mereka tak banyak melakukan hal lain selain berusaha menghindari serangan tersebut. Law mengaktifkan Room-nya, membelokkan semua yang mengarah padanya. Ia berusaha mencari keberadaan penyerangnya di balik tirai debu tanah dan gelapnya hutan.
Sukar.
Lalu berhenti.
CRACK!
"WAAAAAAAAAAAAA!"
Puluhan tangan mendadak menyeruak muncul dari dalam tanah kuburan.
Tangan tulang belulang.
"AAAPPPPUUUAAAAA INNNIIIIIII!?" Tangan-tangan itu masih terus naik, merayap, mencengkeram kaki-kaki para pria yang berada di dekatnya. Semua orang berusaha melepaskan diri, namun meski putus dari tulang lengannya, tangan itu masih tetap bergelayutan di kaki mereka. Dan ketika tanah yang tadi hanya berupa retakan mulai terbuka lebih lebar, tak hanya tangan, tulang anggota badan lainnya pun perlahan ikut merangkak naik ke permukaan.
Dalam sekejap, area pemakaman dipenuhi oleh sepasukan tengkorak yang berdiri mengintimidasi. Mereka semua dilengkapi dengan pedang, hampir seluruhnya tampak tua karatan namun tetap saja tajam.
"Sudah kubilang itu jalan menuju Underwoooooooorld!"
"W-Whoaa!"
"Kalian semua! Diam dan tenanglah sedikit!" Suara Law bergema di antara mereka, "Ini hanya musuh lain dalam rupa berbeda! Jangan takut hanya karena mereka tengkorak yang bisa berjalan!"
Mendengar itu, sedikit demi sedikit kepanikan mulai mereda. Beberapa telah memperoleh ketenangannya kembali dan berancang untuk menyambut apapun yang akan dilakukan makhluk-makhuk itu, "Y-Yeah!"
"Kalian bajak laut, bukan!?"
"YEAH!"
"Haha, yeah!" Shachi menyiagakan tinjunya, berhadap-hadapan dengan sekawanan tengkorak yang maju sedikit-sedikit dengan menyeret tulang kaki mereka, "Maju sini, tulang jelek! M-Mau dari kuburan kek, underworld kek, apa kek, Shachi-sama akan membereskan kalian. Hah! Kalian pasti sebangsa zombie dengan kecepatan itu. Kalau begitu biar ak—"
WHOOSH!
"—TENGKORAKNYA BISA TERBANG DONG!"
Dia buru-buru menunduk, menghindari sabetan pedang dari dua tengkorak yang melayang cepat ke arahnya.
"Tsk," Law mengayunkan Kikoku ke samping. Tiga tengkorak tertebas sekaligus. Namun empat lainnya telah maju mendekati. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan di hadapan permainan pedang lelaki itu. Itu pun tanpa menggunakan buah setan. Makhluk-makhluk tulang ini hanya menyebalkan di jumlah serta di kegigihan mereka yang tetap terus mendekati Law meski sudah terbelah menjadi lima potong.
Sungguh, tidak disangka penjaga yang ia kira bakal ada benar berasal dari dunia sana.
Tiga tengkorak tanpa kaki merayap ke betisnya, enam meluncur di udara sembari menghunuskan pedang. Sang dokter berdecih. Ada berapa jumlah orang yang dikubur di pemakaman ini sebenarnya?
Law bertukar posisi dengan sebuah bongkahan nisan, mendarat di gundukan kosong, "Ini tidak akan selesai-sele—ugh!" Dari dalam gundukan, tujuh buah tangan mencengkeram kakinya, sementara para tengkorak yang tadi gagal menangkapnya kembali menuju dirinya. Tanah di bawahnya tiba-tiba membuka sedikit, mengubur kakinya sampai betis, "Hah?" Delapan pedang melayang begitu saja, meluncur cepat ke arah dia, "Oh, brother..."
Meregangkan jemari, "Room," Semua pedang dibelokkan melewatinya. Tanpa menghabiskan waktu, dia menebas kelompok tengkorak yang mendekat menjadi beberapa bagian lagi. "Hmph, keras kepal—"
"—KELUAR DARI SANA, BODOH!"
BUMP!
Tanpa peringatan—atau mungkin sebenarnya ada—sebuah tenaga mendorong tubuh Law keras hingga kakinya terbebas lalu mendarat tak jauh dari sana, punggung duluan. Seiring dengan itu, empat pisau tahu-tahu meluncur keluar dari dalam daratan, tepat di area tadi kakinya terbenam.
"Oh kau bisa jadi sate." Bonney berbaring di atas dada sang dokter, tubuhnya mungil. Dia menoleh ke tempat munculnya pedang tersebut, "Tadi itu nyaris."
"Apa yang kau laku—tsk!" Sebelah lengan Law melingkari tubuh penerjangnya itu, membawanya berdiri, sekaligus bertolak mundur untuk menghindari keempat pedang yang nampaknya jadi berbelok arah ke mereka.
"Heh," Masih di pelukan sang lelaki, Bonney bertransformasi ke tubuh aslinya, "Cara ini sudah tak mempan kah?"
Alis Law terangkat, "Kau tahu sesuatu tentang ini?"
"Mungkin," Sang gadis melepaskan diri, memungginya, "Sebelum itu kita harus keluar dari sini,"
"Hah?"
"Tak ada waktu," Ia mengambil napas, "OI, KALIAN SEMUA! HENTIKAN PERTARUNGAN! KITA PERGI DARI SINI!" Jeda, "DAN JANGAN BANYAK TANYA!"
"Ooooh!"
"K-Kapten Bonney!"
Tidak ada yang protes. Mereka sendiri bahkan menanti perintah itu daritadi.
"Kita juga," Melirik Law sekilas, perempuan itu berancang pergi, "Hati-hati deng—"
RATTLE! RATTLE! RATTLE!
Tanah di pelataran makam bergetar hebat.
"Speak of the devil..." Bonney berjongkok, lalu berteriak lantang, "SEMUANYA! PANJAT POHON TERDEKAT KALIAN! SEKARANG!"
"...Hah? O-OKE!"
Law tidak banyak bertanya, berusaha menstabilkan posisi berdirinya di tengah guncangan, "Nampaknya kita akan mengobrol panjang lagi sehabis ini."
"Untuk sekali ini, dokter..." Merasa bisa sedikit beradaptasi, sang gadis bersiap untuk berlari, "...aku setuju."
Namun satu lengan sang pria yang merangkul pinggang Bonney dari belakang menghentikan geraknya, "Terlalu lama, Nona." Jemari bebas Law terangkat, "Roo—"
CRACK!
Puluhan tangan dari bawah tanah menggerayangi kaki, bahkan meniti sampai paha mereka. Jurus sang dokter terinterupsi, "AP—" Bersamaan dengan itu, ratusan tulang belulang meluncur datang secepat kilat dari segala penjuru arah; menumpuk, menutupi seluruh badan mereka hingga tak memberi celah untuk menggerakkan sendi sedikit pun. Seolah semua tengkorak yang tadi tersebar di pelataran makam memilih untuk menyerang mereka saja.
Bonney tak bisa merasakan tubuhnya, tapi sebelum pandangannya sendiri dihalangi oleh tulang-tulang kotor, ia mendengar bunyi gesekan keras dan seketika gravitasi membawanya turun dan turun.
Ke dalam kegelapan.
[1] Mengacu pada penjelasan Yagou [屋号] di chapter 1, Jewelry-ya arti harafiahnya adalah 'penjual perhiasan'.
[2] Kuuki yomenai = orang yang tidak bisa membaca keadaan.
A/N: Guess I've outdone myself this time (stare at 11.134 words). I swear I've tried to keep it low but it just...flowed. I think I won't likely beat this number in the future chapters.
...Nah. Who am I kiddin'?
Keep the reviews rollin', dearies, and I'll try to get the next part ASAP *winks*
