Hai, aku kembali..
Makasih reviewnya:"). Buat yang kasih masukan tentang tulisan misi yg harus di Bold. Maaf sekali, aku mengetik FanFic ini menggunakan Hp, Laptopku rusak. Jadi maaf sekali, tolong di sesuaikan saja ya:")

-

Desclaimer : BBB milik Monsta

Pairing : HaliTau,Fangem,dan AirApi.

Genre : Romance, humor -mungkin:v

Warning: Yaoi, typo, gaje, etc.

Happy reading

***
MISI 3 : mengajak Kencan.

Ketiga prince school itu nampak asik menikmati hidangan di cafe dekat sekolah, sesekali berbincang mengenai tiga pria aneh di sekolahnya.

"Kenapa hari ini mereka tidak mengganggu kita ya?" Ucap Fang memecah keheningan.

Halilintar tersenyum sinis, "Kenapa? Kau merindukannya?" Tanya Halilintar dengan nada meledek.

Perempatan imajer di kepala Fang muncul, "Apa kau bilang?!" Geram Fang. Halilintar tertawa senang melihat lawannya marah.

"Aku dengar-dengar mereka sakit hari ini. Mungkin karena kalian berdua."Ucap Air tiba-tiba, membuat kedua pria itu menoleh kearah Air.

"Mereka sakit? Hem. Bisa jadi sih, kemarin aku menghajar pria bertopi biru itu dengan sadis karena berani memecahkan balon di depanku." Ujar Halilintar dengan wajah tenang. Fang dan Air menatap Halilintar horror.

"Aku jadi merasa bersalah, kemarin aku menghajar pria yang bernama Gempa itu, tapi ia malah memberiku sekotak donat lobak merah." Ucap Fang.

"Aku menertawai bocah jingga itu, sepertinya dia shock dan depresi karena ayahnya membawanya ke dokter gigi." Ujar Air polos. Tentu hal itu membuat Halilintar terbahak-bahak, OOC banget gitu.

"Kedokter gigi? Depresi? HAHAHAHAH." Semua terpesona melihat Halilintar yang pertama kali tertawa lepas.

"Sudahlah. Lebih baik nanti kita menengok mereka masing-masing. Bagaimana pun, ini salah kita juga." Ucap Air bijak. Halilintar mendengus dan Fang hanya memilih diam.

***
Api menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Sesekali merintih kesakitan.

"Hei apa kau baik-baik saja?" Tanya seseorang membuat Api terlonjak kaget. Ia segera membuka selimutnya.

Api terbelalak melihat siapa yang datang, "Bagaimana kau tau rumahku?" Tanya Api bingung. Ternyata yang menjenguknya adalah Air.

Air menatap Api datar, "Aku bertanya di guru TU." Sahutnya sambil duduk di pinggir ranjang Api.

"Kau kenapa? Sampai tidak masuk sekolah?" Tanya Air.

Api tersenyum lebar, "Kau mengkhawatirkanku?" Tanya Api dengan cengiran khasnya.

Air ingin tertawa sebenarnya, namun ia tahan, "Tidak." Sahutnya singkat membuat Api cemberut. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan, hingga lagi-lagi Air meneguk ludahnya dan mengalihkan pandangannya.

"Lalu kau datang kemari ingin apa?" Tanya Api ketus. Ia terlanjur kesal dengan sikap Air tadi.

Air menghela nafas, "Hanya menjengukmu. Kau sakit apa?" Tanya Air .

Api mendengus, "Gigiku di cabut kemarin. Dan sampai sekarang masih terasa sakit." Ketus Api memegang pipinya.

"Baiklah, aku minta maaf, jangan marah. Apa yang kau inginkan agar kau memaafkanku?" Tanya Air tenang.

Api terdiam, ia berfikir sejenak. Lalu ia mendapat ide cemerlang, "Ah, kalau begitu. Aku mau kita kencan!" Pekik Api gembira. Air melotot.

"Kencan?!"

***
Gempa meringkuk di dalam selimutnya, ia merasakan tubuhnya merasa lemas.

"Hei bodoh! Kau kenapa?" Tanya seseorang membuat Gempa terlonjak kaget. Ia segera membalikan badannya. Dan ternyata orang yang ia lihat adalah FANG.

Gempa menghernyitkan dahinya, "Sedang apa kau di sini?" Tanya Gempa dengan lemas.

Fang sedikit khawatir melihat kondisi pria di hadapannya, "Tak apa. Hanya menjengukmu." Ucap Fang dengan nada santai.

Gempa mendengus mendengar ucapan Fang, "Ini salahmu!" Ketus Gempa kesal.

Fang terkejut, "Apa? Salahku? Enak sekali kau bicara. Apa salahku memangnya?" Tanya Fang tidak terima.

"Karena kau menghajarku kemarin hingga aku sakit begini." Ketus Gempa membuang muka.

"Baiklah, ini salahku. Lalu agar kau memaafkan ku. Aku harus apa?" Tanya Fang sedikit kesal.

"Kencan denganku." Ucap Gempa dengan seringainya.

Fang melotot, "APAAA? KENCAN DENGANMU?"

***
Halilintar berjalan menuju rumah Taufan dengan lambat, ia mendengus kesal karena harus kerumah si biang kerok itu.

TING...TONG...

Ceklek..

"Kamu siapa? mau cari siapa?" Tanya seseorang berambut pirang.

Halilintar menatap datar seseorang di depannya, "Aku ingin bertemu Taufan." Sahut Halilintar.

Pria berambut pirang itu meng'o'kan mulutnya, "Oh, dia ada di kamarnya. Badannya panas karena luka lembam yang terlalu lama di biarkan." Ucap pria itu kepada Halilintar.

Halilintar terkejut tapi ia menetralkan wajahnya menjadi datar, "Boleh aku melihatnya?" Tanya Halilintar.

Pria itu mengangguk, "Silahkan, kamarnya yang berwarna biru itu." Ucap pria itu menunjuk salah satu kamar. Halilintar masuk dan menuju kamar Taufan.

Ceklek..

Halilintar dengan hati-hati membuka pintu lalu menutupnya, ia segera menuju ranjang Taufan, ia melihat pria itu tertidur pulas dengan pipi yang lembam dan agak membiru.

Halilintar sedikit terkejut melihat Taufan yang separah itu, mungkin karena Halilintar menghajarnya dengan sadis, karena waktu itu Halilintar tidak dapat mengendalikan Emosinya.

Di sentuhnya pipi Taufan lembut, ia memerhatikan kelopak matanya yang tertutup, bibir mungilnya yang tertutup rapat. Dan selimut yang menutupi setengah tubuh mungilnya.

Taufan terkejut saat merasa ada yang menyentuhnya, ia membuka matanya membuat Halilintar menjauhkan tangannya.

"Ha-Halilintar." Ucap Taufan tanpa mengeluarkan suara. (Kayak bahasa isyarat gtu).

"Kau kenapa?" Tanya Halilintar singkat.

Taufan menggeleng lemah lalu mencoba tersenyum, namun ia meringis.

Halilintar sedikit kasihan pada Taufan, kalau ia ingat-ingat, kan Taufan tidak tau kalau Dia Phobia Balon meletus.

"Cepat sembuh." Ucap Halilintar singkat.

Taufan mengangguk, "Nanti kita kencan yuk, aku ingin membawamu ke kedai ice cream favoriteku." Ucap Taufan lagi-lagi tanpa suara. Halilintar terdiam sebentar lalu mengangguk.

Taufan ingin berteriak senang, namun karena ia belum bisa menggerakkan mulutnya, maka ia hanya tersenyum tipis.

"Kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Halilintar namun naas tiba-tiba Hujan turun dengan derasnya.

"Hujan..." Dengus Halilintar kesal, ia kembali duduk di ranjang Taufan.

"Kenapa kau tidak tidur lagi?" Tanya Halilintar.

Taufan menggeleng, "Aku tidak bisa tidur." Ucapnya tanpa suara.

Halilintar mendengus lalu mengelus puncak kepala Taufan dengan lembut membuat Taufan merasa nyaman.

"Tidur cepat, aku akan menemanimu." Ujar Halilintar.

Taufan mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Tak lama setelah itu Taufan tertidur pulas.

Tanpa sadar Halilintar tersenyum melihat Taufan tertidur dengan wajah polosnya, ia bangkit dari ranjang Taufan dan menuju keluar kamar karena hujan sudah reda dan ia ingin pulang...

TBC

review please!