Sasuke yang tertidur nyaman di atas tempat tidur mengendus mencium bau sesuatu yang aneh. Dengan malas bungsu Uchiha itu membuka mata, dia Memiringkan kepala bingung, matanya yang setengah terbuka menatap pada sesuatu yang aneh tepat di depan hidung mancung nya, benda aneh itu terbungkus kulit tan kecoklatan, bentuknya seperti burung tapi tidak memiliki bulu dengan dua buah bola menggantung di bawahnya. Setengah sadar Sasuke terkekeh pelan melihat benda aneh di depannya. "Burung tanpa bulu." katanya seraya tertawa kecil.
Seingatnya semalam dia bercinta dengan seorang wanita muda berambut pink bersama Naruto di apartemen Naruto.
Dia ingat benda di depan hidungnya dan sangat mengenali benda itu.
Dia terlihat sama seperti miliknya di bawah sana, Sasuke mengerutkan kening, "Sama?" lalu bergumam bingung.
Di liriknya lagi benda aneh di depannya. Matanya mengikuti setiap lekuk dimana tempat benda itu berada. Sasuke melirik kebawah, dia menemukan perut rata berkulit tan dengan separu terbungkus selimut tebal. melirik lagi benda aneh di depannya teruss.. Memperhatikannya sampai atas, dia menemukan paha yang sama, berkulit tan dan sepasang kaki? Mata Sasuke melebar saat ingat dengan benda aneh di depan wajahnya, itu bukan benda, tapi..
Sasuke meloncat dari ranjang saat menyadari sesuatu,
bukan kah itu... Dengan reflek dia menendang sesuatu yang terbungkus selimut tebal di bawahnya. 'Sial! Itu milik Naruto, dasar bodoh! Bagaimana bisa kepala Naruto di bawah dengan burung tepat di depan wajah ku.' umpat Sasuke kesal.
Brukh!
Naruto yang separu tubuhnya tebungkus selimut jatuh ke lantai, Sasuke menendang Naruto sampai terjungkal di bawah ranjang.
"Sakit! Teme!"
Sasuke mendengus acuh, mengabaikan erangan sakit Naruto di bawah sana.
'Debu' by G-life. Naruto milik Masashi Kishimoto.
Sejelek dan seabal-abalnya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
Saya bersedia menanggung Dosa Author.
Kabuto kecil menuntun adiknya Gaara, Kimimaru mengikuti di belakang, bocah berambut putih panjang itu berpegangan pada dinding usang untuk membantunya berjalan.
Ketiga bocah itu baru selesai mandi menggunakan air hujan yang Sakura tampung beberapa hari lalu dengan ember bekas cat yang di pungutnya di tempat sampah.
Sakura yang baru selesai merapikan tempat mereka makan pagi tadi-membuang pembungkus ramen dari pelastik dan merapikan alas tempat tidur, (kardus bekas.) dari sisa kuah ramen yang tumpah. menghampiri ke tiga adiknya yang baru selesai mandi. mengelap wajah kusam Kabuto lembut dengan jaket yang di pinjamkan Ino padanya semalam, Wajah Kabuto tidak begitu basah masih banyak debu menempel di pipi chabi kusam bocah itu. Sakura beralih pada bocah kecil berambut merah di samping Kabuto Mengusap lembut tubuh basah bocah berambut merah yang kurus, tak jauh berbeda dengan Kabuto, Wajah polos Gaara masih tersisa banyak debu bahkan rambut merah bocah itu tidak basah. Masih dengan mengelap tubuh kurus Gaara, Sakura menatap sedih bocah berumuran 5 tahun di depannya. Gaara bocah yang tampan dengan mata hijau lumut yang indah, Tapi sungguh sayang, mata indah itu tidak bisa melihat. Selesai mengelap tubuh Kabuto dan Gaara Sakura berdiri dari jongkoknya menghampiri Kimimaru yang sedang kesulitan berjalan, membantu Kimimaru.
Ke tiganya berdiri bertelanjang, Kimimaru lebih dulu mengambil bajunya yang tergeletak di lantai di ikuti Kabuto setelahnya.
Sakura terdiam memperhatikan Kimimaru dan Kabuto yang sedang memungut pakaian di lantai lalu melirik kaki Kimimaru yang hanya ada satu. Dulu Kimimaru memiliki dua kaki sama seperti orang-orang pada umumnya sebelum dia menjadi korban tabrak lari. Sakura bersyukur ada dokter muda yang mau menolongnya, merawat Kimimaru waktu itu mebayar semua tagihan rumah sakit Kimimaru. ada juga yang mau menolongnya saat ia tidak memiliki uang.
Sakura mengambil baju di tangan Kimimaru dan Kabuto. Kabuto dan Kimimaru menatapnya bingung. "Nee-chan, kenapa?" tanya Kimimaru bingung.
Sakura tersenyum, lalu mengelus rambut Kimimaru. "Aku rasa sudah waktunya berganti pakaian, ini sudah tidak bisa di pakai." baju itu memang sudah tak layak pakai dengan lubang di sana sini, bau, dan kumal. Itu memang dapat dari tumpukan sampah. Sakura menggenggam tiga tangan kecil adiknya seraya tersenyum sedih.
Kabuto manatap takjub benda yang ada di tangan Sakura. "Ini, untukku!" dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, pakaian baru.
Sakura mengangguk. "Ini untuk Kimimaru, dan ini untuk Gaara."
"Nee-chan," panggil Kimimaru serak. Sakura menoleh menatap adiknya. "Trimakasih." gumam Kimimaru haru kemudian mencium pipi Sakura.
Sakura terdiam, 'Trimakasih, trimakasih untuk apa.' kalau saja itu bukan dari hasil menjual tubuhnya, Sakura pasti akan sangat bahagia.
Sakura memeluk Kimimaru, "Maaf.." gumamnya lirih, Air mata menetes di pipinya yang tirus.
Kabuto melompat memeluk Sakura dan Kimimaru, dia bahagia.
Gaara yang tidak tahu apa-apa hanya diam, matanya melirik kekiri dan kanan tapi dia tidak bisa melihat apa-apa, semua gelap.
Sakura membuka mata saat mengingat sesuatu, Gaara. Melepaskan pelukan Kabuto dan Kimimaru dia menarik Gaara dalam pelukkannya. "Kalian senang, Nee-chan juga senang. Ayo pakai, apa perlu Nee-chan bantu?" tanya Sakura.
"Aku bisa pakai sendiri," kata bocah berambut abu-abu itu bangga.
Kimimaru hanya membalasnya dengan senyum.
Sakura mencium pucuk kepala Gaara lembut. "Ada apa?" tanya Gaara yang bingung dengan keadaan sekitarnya.
Kabuto mendekati Gaara, lalu menepuk bahu mungil Gaara. "Kau tahu?" dia bertanya penuh semangat. "Nee-chan membeli baju, ini." lalu mununjukan baju miliknya pada Gaara. "Kau harus melihatnya Gaara." teriak Kabuto riang.
Gaara menundukkan kepala, Lihat? Apa yang bisa di lihat, Dia bahkan tidak bisa melihat apapun.
Sakura terdiam, lalu memeluk ke tiga adiknya. "Pakai baju kalian, Kimimaru bantu Gaara ya, Nee-chan mau mandi." lalu mencium kening Kimimaru, Gaara dan Kabuto kemudian pergi meninggalkan ke tiga bocah itu.
0oOO
Sasuke membuka kaca mobilnya untuk melihat sesuatu yang mencolok di sebrang jalan, kening pemuda tampan berrambut raven itu mengerut . Di sebrang jalan dia melihat wanita merah muda yang bercinta dengannya semalam mengganteng dua tangan kecil bocah laki-laki berambut putih dan abu-abu sambil menggendong bocah berambut merah yang lebih kecil dari bocah abu-abu dan putih. "Apa itu anaknya?" gumam Sasuke. Tapi bagaimana bisa? Wanita itu bahkan terlihat lebih muda darinya, bagaimana bisa dia memiliki tiga anak laki-laki dengan wajah dan postur tubuh seperti remaja? Atau jangan-jangan dia wanita tua yang mengoperasi wajahnya agar terlihat cantik dan awet muda. Sasuke mendengus 'apa peduliku.' batinnya tak mau peduli kemudian melajukan mobilnya yang sempat menepi di pinggir jalan.
OoOo
kabuto menatap takjub gedung besar tak jauh di depannya. diatas gedung itu tertulis 'KONOHA MALL' yang tentu saja tidak Kabuto tahu tentang tulisan tersebut. Bocah tampan berambut abu-abu itu belum bisa membaca dia baru bisa membaca waktu(?).
Sakura tersenyum, adiknya terlihat senang saat mereka tahu kemana mereka akan pergi, dan disini mereka sekarang, Konoha Mall. Mereka sudah sangat sering melihat tapi baru kali ini menginjakkan kaki disana.
"Ayo, masuk." Sakura menarik tangan Kimimaru di genggamannya, tangan Kimimaru yang lain menggenggam tangan Kabuto.
Meski hanya memiliki satu kaki Kimimaru bisa berjalan hanya dengan berpegangan pada tangan Sakura, dia sudah terbiasa (walau sedikit sulit.)
mereka melihat-lihat, semua yang ada didalam sana terlihat indah dan m-ahal.
Kabuto menatap takjub mobil mainan berwarna kuning cerah di depannya, Dia baru akan menyentuhkan telunjuknya di sana, "Tidak membeli tidak boleh menyentuh." salah satu karyawati menugur sambil menatapnya tajam.
Dengan cepat Kabuto menarik tangannya lalu menunduk takut.
OoOoO
Dari kejauhan Sakura melihat Kabuto yang ketakutan, Sakura segera menghampiri adiknya meninggalkan Kimimaru dan Gaara.
"ada apa?" tanyanya pada karyawati yang menugur adiknya seraya memeluk tubuh Kabuto yang bergetar takut. bocah kecil itu menenggelamkan wajahnya di perempatan bahunya lalu mengisak, "Nee-chan, hikss.. Hiks.." ini pertama dari 3 tahun yang lalu dalam hidupnya di bentak seperti itu, dulu Kabuto memang sering mendapat perlakuan kasar, bentakan, makian, dan hinaan menjadi makanan sehari-hari dalam hidupnya, sebelum dia bertemu Sakura. Sakura tidak pernah membentak sekalipun dia melakukan kesalahan, Nee-chan tersayangnya akan menegurnya halus, menasihatinya sampai dia menangis lalu menyesali perbuatannya sendiri.
Sakura mengelus punggung Kabuto mencoba menangkan adiknya.
"berapa harganya? Aku ambil," katanya dengan nada tidak suka. Sakura tidak suka adiknya di bentak seperti tadi, apa karena mereka miskin jadi tidak layak mendapatkan perhatian yang sama seperti pengunjung lainnya, apa mereka terlihat seperti pencuri?
Karyawati itu terdiam, bingung mau menjawab dan berbuat apa.
OoOo
Dari kejauhan seorang pria berrambut pirang panjang memperhatikan Sakura yang memeluk Kabuto dalam gendongannya dengan tatapan yang sulit di artikan, pria itu melangkah mendekati Sakura, lebih tepatnya etalase mainan lalu mengambil mobil mainan yang tadi di sentuh Kabuto. dia melirik Sakura sekilas, "Aku ambil semua." gumamnya seraya menatap karyawati itu dingin.
"Aa.. Baik. Deidara-sama." jawab karyawati itu gelagapan lalu mengangguk patuh, terlihat ketakutan.
Pria berambut pirang panjang itu mengelus kepala Kabuto lalu tersenyum tipis. Satu tangannya yang bebas mengambil kantung pelastik besar yang di sodor sang Karyawati, "Sudah, jangan menangis. ini untukmu," lalu menyerahkan semua mainan yang di borongnya pada Sakura yang menatapnya tidak mengerti.
Merasa tak enak hati, dengan ragu Sakura menerima kantung besar itu. saat pria itu akan pergi Sakura memanggilnya. "Tuan,"
pria tampan berambut pirang panjang itu berhenti tanpa menoleh ke arah Sakura, "Trimakasih." dia tersenyum tipis mendengar ucapan trimakasih dari Sakura. Tanpa mengatakan sepatah katapun dia meninggalkan Sakura yang menatapnya bingung.
OoOo
Menatap langit gelap melalui jendela tanpa kaca di rumah kosong tempatnya tinggal Sakura bergumam, "Sepertinya akan hujan," seraya menengokkan kepala merah mudanya ke arah tiga adiknya yang tertidur nyaman dilantai beralas kan kardus, menatap ketiga bocah itu sayu.
Menghela nafas berat Sakura kembali menatap langit gelap melalui jendala tanpa kaca di depannya lagi, satu tangannya masuk kedalam saku mantel mengambil handphone pinjaman Ino di sana lalu menempel benda kecil itu ke dekat telinganya. setelah menunggu beberapa saat, "Hallo, Yamanaka-san?"
'Kau dimana? Kenapa belum datang, ' tegur suara wanita di sebrang telfon.
"Maaf, malam ini aku tidak bisa masuk,"
'Hei anak baru, kau tidak bisa seenaknya kau harus masuk.' perintah wanita di sebrang sana.
Menatap rintikan air yang semakin menderas Sakura menjawab lirih, "Tapi aku tidak bisa, diluar hujan."
'jangan jadikan hujan sebagai alasan.' sengit wanita di sebrang telfon.
"Aku tidak bisa meninggalkan adikku, kau tidak tahu tempat seperti apa yang aku panggil tempat tinggal." lirih Sakura lalu mematikan sambungan telfon secara sepihak.
Sakura sangat berterimakasi pada Yamanaka Ino yang memberinya 'pekerjaan' tapi kalau seperti ini dia lebih baik di pecat dari pada harus meninggalkan ke tiga adiknya di dalam rumah tanpa atap yang siap ambruk kapan saja, Sakura takut. Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Mendekati ketiga adiknya Sakura melepas mantel yang dia pakai lalu menyelimutkan mantel itu ke tubuh kurus Kabuto dan Kimmimaru.
Mengecuk mata Kimmimaru bergumam, "emm.. Nee-chan, ada apa?" tanya Kimmimaru parau.
Sakura tersenyum lalu mengelus rambut panjang Kimmimaru, "Tidak apa-apa, tidur lah.." katanya seraya mengecup kening bocah itu lembut.
Setetes air mata jatuh di pipi Sakura terus turun sampai melewati dagu lancip wanita itu lalu jatuh di kening Kimmimaru.
"Nee-chan menangis," gumam Kimmimaru cemas.
Menggelengkan kepala merah mudanya Sakura tersenyum, "Tidak," dustanya. "Atap kita bocor." lanjutnya dengan nada di buat selucu mungkin.
Mengalihkan wajahnya dari tatapan Kimmimaru, Sakura mengangkat tubuh Gaara yang tidur di dekat dinding, "Kimmimaru, rapatkan tubuhmu dengan Kabuto, udaranya sangat dingin."
Mengangguk patuh Kimimaru menggeser tubuhnya sampai berdempetan dengan tubuh Kabuto, "Enghh~" kabuto melenguh pelan, tangan kecilnya menarik mantel Sakura erat.
Sakura tertidur miring berhadapan dengan Kimimaru dengan Gaara yang menggigil kedinginan dalam pelukkannya, "Nee-chan sudah bilang, Nee-chan tidak apa-apa," tegur Sakura pada Kimmimaru yang menatapnya intens.
"Tidurlah.."
Kimmimaru mengangguk patuh tangannya mencengram erat mantel Sakura yang di jadikan selimut lalu memejamkan mata.
Tbc.
TBC *Dear cruderabelica, kamu dimana? Kalo kamu membaca fanfic ini bisa kah kamu menyempatkan diri di kotak review? atau balas PM aku? Aku kengennn... #ngek!
Sangat jelek, aku tahu. Setidaknya aku sudah berusaha membuat fic ini menarik dan mudah di pahami, aku bukan Author hebat seperti mereka. #ambil buku kemudian pergi dengan wajah menekuk.
Oh, ya. Terimakasih buat yang kemaren menyempatkan diri di kotak review, Maaf lama, aku memang lelet.
