AU, OOC, ANEH, KACAU, BERANTAKAN DAN GAK ENAK DI BACA.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

Dunia malam adalah aktifitas yang ada saat malam hari, dimana para penikmatnya adalah orang-orang yang mencari hiburan atau hanya sekedar melepas lelah setelah menjalankan aktifitas sehari-hari. Dunia malam sangat identik dengan tempat hiburan malam, party sampai pagi, minuman keras, obat-batan terlarang.

Musik sedang dimainkan oleh DJ dan mengalun dalam ritme cepat dan energik. Ada tiga orang dancer perempuan cantik berkebangsaan philipina sedang beraksi dengan meliuk-liuk di tiang yang berada di meja keliling berukuran panjang tujuh meter itu yang mengundang mata para lelaki untuk memandangnya. Ketiga dancer ini menggunakan pakaian ketat yang sangat minim.

Wanita-wanita dengan dandanan mencolok dan pakaian yang ketat terlihat seksi hilir-mudik di ruangan eksklusif ini melayani para pengunjung yang berdompet tebal.

Seorang pria berrambut kuning dengan setelan jas abu-abu duduk di sudut Clap di temani botol-botol minuman yang masih utuh yang tertata rapi beserta gelasnya di atas nampan di mejanya. Tak berapa lama seorang wanita berambut indigo berpakaian minim mendekati pria itu. Wanita itu memakai dress mini tanpa tali memamerkan seperempat payudara besarnya yang di atas rata-rata.

"Tidak Terimakasih." Tolak Naruto saat seorang wanita menawarkan diri untuk menemaninya duduk di sofa merah maroon yang dia dudukki. Wanita itu mendengus kecewa lalu meninggalkan Naruto sendiri mencari mangsa baru. Naruto menatap setiap sudut ruangan mencari wanita berambut merah muda yang kemarin malam bercumbu dengannya, dia membutuhkan wanita itu di ranjangnya malam ini, tanpa Sasuke tentunya.

Pria itu tersenyum tipis saat melihat wanita berambut pirang cantik, teman si Pinky, duduk di pangkuan seorang pria bertubuh gempal seraya berciuman panas di ujung ruangan, mungkin dia bisa menanyakan keberadaan si pinky pada wanita itu.

Berdiri dari duduknya dia menghampiri wanita cantik berambut pirang yang sedang di grepe-grepe pria bertubuh gembal yang memangku tubuhnya.

Naruto menepuk bahu telanjang wanita itu pelan. Pria bertubuh gempal itu memelototi Naruto sementara wanita berambut pirang itu menatap Naruto sayu, pipi wanita itu penuh liur, bibir bawahnya merah dan membengkak, seperempat payudaranya menyembul keluar yang di remas pria bertubuh gempal yang memelototi Naruto. Payudara yang bagus.

Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya tersenyum kikuk, "Maaf, bisa bicara sebentar Nona?"

"Ck, jangan menganggu blonde. Kau bisa mencari wanita lain yang bisa kau sewa, dia milikku malam ini." Sengit pria bertubuh gempal itu seraya menatap Naruto tajam. Naruto berdecak, dia tidak suka di panggil blonde. Wanita berambut pirang itu menggeliat manja, dia kembali menciumi dan menjilati rahang pria yang memangkunya sensual. Tangannya tak tinggal diam, melepas satu persatu kancing kemeja hitam pria itu sampai terlepas seluruhnya. Dia melirik Naruto lalu tersenyum miring, "Kau dengar, aku tidak ada waktu melayanimu tuan. Aku sudah ada yang memesan." Wanita cantik bertubuh indah itu kembali mencium bibir pria yang meremas payudara serta bokongnya. "Ahh..."

"Tidak." Naruto membantah. Siapa juga yang mau mengganggu, dia hanya mau menanyakan keberadaan si pinky, itu saja tidak lebih. "Bukan itu maksudku." Terdiam beberapa saat Naruto melanjutkan kata-katanya, "Apa kau melihat wanita berambut merah muda? Temanmu yang kemarin datang bersamamu nona, apa kau melihatnya."

Naruto menelan ludah melihat pemandangan panas di depannya. Wanita pirang dan pria bertubuh gembal itu menyatu di clap tanpa merasa malu pada orang-orang yang menatap mereka dan dirinya yang berdiri di depan mereka, "Katakan ya atau tidak, setelah itu aku akan pergi." Putra Namikaze Minato itu mendengus, kesal di acuhkan, seraya melipat tangan di depan dada.

Yamanaka Ino menggeliat dan mendesah nikmat saat pria yang memangku tubuh setengah telanjangnya menusuk lebih dalam, "Ouhhh... apa yang kau maksud Haruno, emhh..." Dia mendesah di sela menjawab pertanyaan Naruto yang menatapnya bosan dan jijik. Tatapan yang biasa dia dapat setiap kali ada orang yang menatapnya, 'Cih menyebalkan. Apa mereka pikir mereka lebih baik.'

Ino bediri lalu merapikan kembali mini dress ketatnya. Perempuan cantik berambut pirang itu menoleh ke arah Naruto lalu tersenyum sinis, "Kau dan temanmu yang kemarin becinta dengannya kenapa bertanya padaku." Kata wanita itu dengan wajah datar.

Selesai memakai kembali kemejanya Chouchi, pria bertubuh gembal tadi, menarik ressleting celananya yang sempat terbuka. "Biar ku tebak." Pria itu menoleh ke arah asal suara. Ino, wanita yang di belinya untuk malam ini, bersedekap dada. Seperempat payudara padat wanita itu mengintip keluar. Chouchi memeluk tubuh ino, mengecup belahan payudara juga bahu wanita itu penuh nafsu. Tubuh Ino benar-benar indah dan menggoda. "Anhhh..."

"Enghhh... " Ino balas meraba dada Chouchi seraya melanjutkan kata-katanya, "Mungkin kalian bermain terlalu kasar sampai anak baru itu tidak masuk malam ini" mereka kembali saling meraba dan meremas tubuh pasangannya, "Laki-laki seperti kalian tidak mungkin mau bergantian"

Naruto diam, "biar ku tebak, salah satu diantara kalian memasuki bagian belakangnya. apa aku benar?" Naruto kembali mengingat percintaannya dengan Sasuke dan wanita berambut pink itu di kamar partemennya. Tubuhnya memanas, bagian bawahnya mulai berdiri "Shit!" Wanita pirang itu sengaja.

Choichi terkekeh melihat Ino lalu merangkul mesra pinggangnya. "Ayoo, aku sudah memesan kamar besar dan nyaman untuk kita berdua."

Ino melambai, "Byee... blonde. Semoga kau bisa menahannya sampai besok malam." Dia terkekeh Puas melihat wajah menderita Naruto yang menatapnya kesal.

OoO

Seorang gadis kecil berdiri di tengah deras hujan. Tumpukan sampah di mana-mana, tempat itu begitu kotor, bau dan gelap. Gadis kecil berpakaian kumal itu duduk bersimpuh di depan jasad nenek tua yang tidak jauh berbeda kumal dengannya, dia menangis memeluk tubuh kaku nenek itu. "Oba-san. Jangan pergi." Isaknya. Beberapa menit lalu satu-satunya orang yang peduli padanya pergi untuk selamanya, nenek itu sakit yang entah sakit apa gadis kecil itu tidak tahu, mengingat dia tidak pernah memeriksakan neneknya karena tidak punya uang. Rumah brdinding dan beratap kardus yang dia buat bersama sang nenek sudah di gusur siang tadi, mereka terpaksa berlindung dari air hujan yang deras di tumpukan sampah. Dia pikir neneknya tertidur tapi saat dia menyentuh kening keriput neneknya yang sangat dingin dia sadar satu-satunya orang yang menyayangi, memungutnya dari kardus, yang merawatnya sejak kecil sudah pergi.

Dengan tidak rela Sakura, nama gadis kecil itu, berjalan menjauh dari orang yang di sayanginya setelah dia menutup tubuh kaku itu dengan koran kumal yang dia temukannya. Ingin sekali rasanya Sakura memakamkannya dengan layak tapi bagai mana bisa? Uang segalanya di sini dan dia tidak memiliki sepeser pun uang untuk membeli tanah pengistirahata terakhir neneknya. Mengusap pipi dengan punggung tangan Sakura kembali menoleh ke belakang. "Aku janji suatu hari nanti aku akan kembali dan memberikan rumah yang layak untuk Oba-san, aku akan berusaha." Ucap di sertai isakan kecil. Selesai mengatakan itu Sakura berlari secepat yang dia bisa, tidak jarang dia terjatuh dan tersengkur tapi apa dia peduli, dia tidak peduli. Dunianya sudah terlalu sering memberikan rasa sakit sampai dia tidak lagi merasakan sakit, tapi hatinya tidak bisa kebal seperti tubuhnya, sakit sekali. Nafas yang memburu, perut yang berbunyi tidak dia hiraukan. Dia harus mencari air untuk mencuci wajahnya yang kotor lalu mencari pekerjaan, mencuci piring misalnya.

Ternyata sangat sulit mencari orang yang mau percaya dan memberi pekerjaan untuknya. "Kalau seperti ini aku tidak bisa mendapatkan uang." Lirihnya dengan kedua lengan menutup bagian wajah. Dia duduk bersandar di dinding kumal di sudut gang yang kotor dan sempit. Ini sudah tengah malam tapi tidak ada seorang pun yang memberinya pekerjaan, mencuci piring sekalipun. Pedahal yang Sakura lihat di pasar tradisional konoha tadi banyak orang yang mendapatkan pekerjaan dengan mudah, seperti mengantar sup miso ke pelanggan, mengelap meja kumal yang kotor, mencuci piring dan yang lainnya. Tapi tidak ada satu pun yang mau menerimanya. lama duduk dengan posisi yang sama Sakura tertidur sampai tidak menyadari seorang pria membawa botol minuman menatapnya lapar. Pria itu menyeringai lalu melempar botol di tangannya ke dinding. Sakura yang kaget langsung membuka mata dan betapa terkejutnya gadis kecil itu saat tangan kasar dan dingin orang tak di kenal menarik kakinya paksa.

"Kyahhh! Lepaskan aku!"

"Kau sangat manis sekali..." Sakura menangis saat pria bau alkohol yang menariknya paksa berusaha mencium bibirnya, tangan kecilnya tidak tinggal diam. Memukul kepala pria itu kasar.

OoO

Brak!

Suara atap roboh, petir dan hujan deras membangun seorang wanita yang tidur meringkuk dengan tubuh bergetar seperti ketakutan, tak jarang pekikan dan isakan lolos dari bibir wanita itu. Kelopak matanya terbuka menampil sepasang mata emerald cantik yang memerah menahan tangis.

Sakura terbangun dengan keringat dingin di kening, nafas memburu dan kedua emarld yang memerah. Mimpi itu lagi... mimpi buruk yang menimpanya lima tahun yang lalu, kenyataan yang menghancur segalanya, kenyataan yang tidak bisa membuat tidurnya tenang, kenyataan yang membuatnya selalu ketakut dan selalu was-was, kenyataa...n yang sangat menyedihkan yang kini menjadi masa lalu kelam yang tidak bisa dia lupakan. Menjadi pelacur atau pun tidak itu sama saja, tidak ada lagi yang bisa dia jaga, kesucian yang harusnya sesuatu yang dia jaga sudah hilang di usia belia. Sakura mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan lalu melirik Kimimaro, Kabuto dan Gaara yang tidur berpelukan. Sakura menghela nafas lega, setidaknya suara bising atap yang roboh itu tidak mengganggu tidur ke tiga adiknya. Wanita berrambut merah muda itu beringsut mendekati Kimimaro, Kabuto dan Gaara, merapikan rambut ketiga bocah itu dengan hati-hati. Dia menatap ke tiga adiknya dalam diam, mereka bertiga bernasib sama sepertinya, tidak di inginkan, di buang, hidup sebatang kara di dunia yang kejam. Sakura ingat saat pertama kali dia bertemu dengan Gaara, seorang anak laki-laki yang mungkin lima tahun lebih tua darinya, yang menolong saat untuk ke tiga kalinya seorang pria dewasa mau memperkosanya, satu-satunya teman yang dia miliki, satu-satunya orang yang peduli padanya dan orang pertama yang mengecup sudut bibirnya lembut, menemukan Gaara dan mengajaknya merawat Gaara bersam-sama.

.

.

.

OoO

"Sakura..." seorang laki-laki remaja berlari kecil dengan kardus berukuran sedang di tangannya. "Coba lihat apa yang aku bawa." Remaja laki-laki berrambut perak itu berteriak dengan nada senang memanggil gadis kecil berrambut merah muda berpakain kumal yang duduk dengan satu bungkus roti berjamur di tangannya. Gadis itu menoleh dengan senyum manis di wajahnya yang kusam dan berdebu. Di tatapnya laki-laki yang tak jauh berbeda kumal sepertinya dengan tatapan penasaran. Remaja laki-laki berrambut perak itu meletakkan kardus yang di bawanya di tumpukan sampah yang berserakan di mana-mana lalu membuka penutup dari kardus itu. "Aku tidak sengaja menemukannya di gunung sampah, saat aku melewati tempat sampah yang tinggi seperti gunung aku mendengarnya menangis, separu wajahnya merah terbakar matahari." Saat penutup dari kardus itu terbuka gadis kecil berrambut merah muda itu menutup mulut tidak percaya, seorang bayi kecil yang hanya di bungkus kain tertidur di dalam sana. Rambut tipisnya berwarna merah bata, kulitnya putih kemerahan. "Siapa yang tega melakukan ini." Sakura menangis melihat bayi mungil yang mengemut ibu jari di dalam kardus itu. Dia seperti melihat dirinya sendiri saat dia di temukan oleh nenek baik hati yang kini sudah tinggal di surga.

"Kita bisa merawatnya." Sakura menoleh ke asal suara. Laki-laki yang sebenarnya tampan dengan masker di wajahnya itu tersenyum, terlihat dari kedua matanya yang menyipit. "Aku yakin kita bisa merawatnya bersama." Remaja laki-laki itu kembali meyakinkan Sakura.

.

.

OoO

Sakura sangat merindukan orang itu. Tapi dimana dia bisa menemukannya, dimana? Tangan kurusnya menyelimuti Kimimaro dengan mantel kemudian berhenti tepat di kaki bocah itu yang hanya tinggal separu, hanya bagian paha. Dia menggigit bibir bawahnya. Kimimaro dan Kabuto bukan adik kandungnya, mereka bertemu saat Sakura meninggalkan Gaara, yang saat itu baru berusia dua tahun, sendirian untuk mencari makanan.

Saat itu Kabuto dan Kimimaro sedang memperebutkan satu bungkus roti tak layak konsumsi. Roti dengan hiasan jamur di permukaannya itu terjatuh tepat di hadapan Gaara yang sedang menangis mencari Sakura dan karena lapar. Tanpa sengaja tangan kecil Gaara menyentuh roti itu, reflek bocah yang tidak bisa melihat itu mengambilnya lalu mengigiti pebungkus roti. Kimimaro dan Kabuto terdiam melihat bocah kecil yang kesulitan membuka pembungkus roti, rasa kasihan menjalar di hati keduanya melihat bocah kumal dengan pipi di penuhi air mata yang terlihat lapar itu menggigiti roti yang mereka temukan di tong sampah. Mereka mendekati Gaara, menatap anak kecil itu sejenak mereka saling berpandangan lalu mengambil roti di tangan kotor Gaara. Bocah berbadan kurus itu kembali menangis.

"Cepat Kimimaro." Ucap Kabuto panik.

Kimimaro membuka pembungkus roti itu terburu-buru "Tunggu sebentar." Lalu menyerahkan roti yang tadi dia perebutkan dengan Kabuto pada Gaara.

Dengan isakan kecil Gaara melahap rotinya buas. "Sepertinya dia sangat lapar." Kekeh Kabuto seraya mengusap rambut kusut Gaara. Bocah berusia empat tahun itu meneteskan air mata, dia seperti melihat pantulan dirinya di masa lalu, bedanya dia sedikit beruntung, setidaknya dia bisa melihat.

Kimimaro tersenyum lalu mendudukkan pantatnya di samping kiri Gaara.

Sakura yang baru datang dengan dua mangkuk berisi ramen beberapa menit lalu, berdiri tidak jauh dari Kabuto, Kimimaro dan Gaara, tersenyum melihat Kimimaro dan Kabuto yang sedang mengelus rambut merah Gaara. Gadis itu mendekati tiga bocah yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mengusap rambut Kabuto dan Kimimaro bergantian Sakura bergumam. "Terimakasih sudah menjaga adikku." Dengan senyuman manis.

Kedua bocah itu terkejut sementara Gaara tertawa senang mendengar suara familyar Sakura, dengan reflek Kabuto dan Kimimaro menoleh ke arah Sakura. Mereka menatap lama seorang gadis berrambut merah muda yang tersenyum manis itu.

Kriyuuuk~

Mereka menunduk malu saat perut mereka berbunyi dengan merdu. Sakura tertawa lalu meletakkan satu mangkuk ramen di depan Kabuto dan Kimimaro. "Untuk kalian." Ucapnya kembali tersenyum.

Drttt... Drttt... Drttt...

Sakura tersadar dari lamunannya karena getaran handphone di genggaman tangannya. Di lihatnya pesan dari Ino, membaca pesan itu sejenak Sakura kembali menatap ke tiga adiknya. Dia tersenyum lalu mengecup kening mereka satu persatu.

OoO

"Ayame-Nee..." sapa Sakura ceria pada gadis berrambut coklat yang sedang sibuk mencuci mangkuk. Ayame, gadis cantik berrambut coklat putri tunggal teuchi. Dia mengelola kedai iciriku bersama ayahnya, Teuchi, awal pertemuan Sakura dengan Ayame di kenalkan oleh pemuda berrambut perak yang kini entah ada di mana. Ayame begitu baik, tidak jarang Sakura suka membantunya mencuci mangkuk, mengelap meja, dan mengantarkan ramen ke pelanggan. Mereka sudah seperti kakak dan adik.

Gadis yang di panggil Ayame itu menoleh lalu tersenyum saat tahu Sakura yang menyapanya. "Ah, Sakura-chan." Ucapnya dengan senyum. "Tumben sekali pagi-pagi sudah kemari."

"Aku ingin minta tolong." Gumam Sakura lirih.

"Katakan." Ucap Ayame tanpa beban. Dia tidak merasa keberatan membantu Sakura karena dia sudah sangat mengenal gadis ini dan menganggapnya seperti adik sendiri. Ayame menghentikan kegiatannya mengelap mangkuk lalu mendekati Sakura yang duduk tidak jauh darinya.

"Jam tujuh pagi nanti tolong antarkan Ramen ke rumah, aku mau berangkat kerja."

"Sepagi ini?"

Sakura mengangguk lalu meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. "Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku."

OoO

"Shhh... akh!" Hidan, pria berrambut perak yang di sisir rapi kebelakang, mendesah nikmat. Satu tangannya menjambak rambut merah muda wanita yang sedang mengulum dan menghisap penisnya satu tangannya yang lain meremas buah dada sedang wanita berrambut muda itu membuat sang empunya mendesah. "Anhh..."

Aku ingin hidup adikku lebih baik, bukan masalah sekalipun aku harus menjual tubuhku pada lelaki yang berbeda setiap malam. Bukan masalah sekalipun aku merasa jijik dan harus menghisap dan mengulum penis kotor laki-laki itu, bukan masalah sekalipun aku harus merasa perih dan sulit berjalan setelahnya, bukan masalah sekalipun aku menjadi hina dan murahan di mata mereka. Bukan masalah... bukan masalah... bukan masalah... bukan masalah kalau itu untuk adik-adikku.

.

.

.

Chap depan full hard lemon HidanSaku.