Menatap pantulan dirinya di cermin tajam, kedua tangannya menelusuri setiap bercak merah di leher dan bahunya. Ino meninju pantulan dirinya sendiri di cermin yang terlihat menjijikan dengan senyuman sinis. Dia benci laki-laki, sangat benci. Ino masih sangat ingat bagaimana hancurnya ia dulu karena laki-laki berengsek. Ino berkumur menggunakan antiseptik, jijik dengan ciuman dan kulumannnya pada laki-laki yang bergumul dengannya tadi. Wanita itu kembali terdiam melihat pantulan dirinya di cermin. Seorang pria berambut hitam, makan di lestoran mewah, janji manis, hotel, hubungan intim, pergi meninggalkannya dengan janji dia akan kembali, lalu kembali dengan surat undangan pernikahan. Bibir Ino merengut manahan isakan, dia kembali memukul vanti kabinet di depannya. Laki-laki berengsek itu menghancurkannya, tidak peduli pada dirinya yang sudah dibuang keluarga yang menangis memohon sebuah pertanggung jawaban, tidak peduli padanya yang sedang hamil besar, laki-laki itu mengusirnya, membuangnya, mengatakan kalo dia tidak mengenal dirinya. Tidak mengakui bayi yang ada dalam perutnya. Saat itu Ino bersumpah dia hanya melakukannya dengan laki-laki itu, tapi laki-laki berengsek itu malah memakinya di depan wanita yang akan dia nikahi. "Kau berengsek! Aku membencimu, sangat membencimu." Gumam Ino parau sembari mencuci wajahnya yang terlihat mengenaskan. Setiap kali mengingt masa lalu, Ino tidak bisa untuk tidak menangis. Dia ingin menjadi wanita kuat, tidak mudah menangis, tapi itu sulit. Ino tidak bisa.

Dia mendekati pintu toilet, membuka lalu menutupnya perlahan. Seorang pria bertubuh gempal di atas tidur memperhatikan Ino yang berjalan mendekati meja kaca hotel dengan tatapan menggoda, seolah dia belum puas dan meminta kembali dipuaskan.

Ino mendengus samar. Dia mendekati tempat tidur mengambil tas kecilnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Tangan pria bertubuh tambun itu bergerilya di paha mulus Ino, meraba sensual dan meremasnya, Ino memakai dress ketat pendek. "Kita sudah selesai, mana bayaranku." Ucap Ino dengan nada dibuat selembut dan seanggun mungkin, membuatnya ingin muntah.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

Disebuah kamar mewah dua manusia tengah saling mencumbu. Pria berambut perak disisir rapih ke belakang setengah telanjang itu begitu antusias mendominasi wanita berambut merah muda yang setengah telentang di atas ranjang. Memagut bibir wanita itu bernapsu, tangan pria itu meraba punggung polos wanita itu membuat sang wanita mengerang karena rabaan sensualnya.

Melepas lumatannya pria itu melepas seluruh kancing kemejanya lalu membuang kemeja itu asal. Wanita yang tadi dicumbunya meresot jatuh dari atas tempat tidur sangking lemasnya, tubuh polos penuh ruam kemerahan wanita itu terkulai lemas di lantai. Mata seindah batu emeraldnya mengerjap-erjap kelelahan, wajah polosnya dihiasi cairan kental aneh, begitu juga rambut merah mudanya. Dia menatap wanita yang kini meringkuk di lantai dengan seringai miring. Dalam satu kali gerak dia mengangkat tubuh wanita itu lalu membantingnya ke ranjang. Wanita merah muda itu menggeliat lemah dengan tatapan sayu karena lelah. "Kita bahkan belum sampai setengah permainan, tapi kau kau sudah kelelahan, huh?" Ejek pria itu. Tapi dalam hati dia tersenyum senang melihat ketidak berdayaan wanita merah muda itu.

Kedua mata wanita merah jambu itu mengerjap, 'Belum sampai setengah permainan? Setelah hampir dua jam melakukan itu, belum sampai setengah permainan? Laki-laki ini gila!' Batinnya tidak percaya. Wanita merah muda itu kemudian memekik saat pria di atas tubuhnya menjambak rambutnya serta melumat bibirnya kasar. "Mhhmhh..."

"Kuberi tahu satu hal, aku menyukai permainanmu." Kedua lengan berotot pria itu memeluk tubuh mungil wanita berambut merah muda, menggeser tubuh wanita itu ke tempat lebih tinggi. Dia menciumi setiap lekuk tubuh wanita di bawahnya sensual meninggalkan lelehan-lelehan saliva. Satu tangannya menjambak rambut merah muda Sakura, nama wanita itu, sementara tangannya yang lain meremas dan memilin buah dadanya. Bagian tubuhnya yang di bawah menggesek bibir lubang kenikmatan Sakura, cairan-cairan kental miliknya yang tertanam di lubang kenikmatan wanita itu meleleh menempel dialat vitalnya yang menegang. "Arrrgghhh...! Kau benar-benar menggodakku!" Geramnya tertahan. Mencumbui wajah, leher, serta bahu wanita itu dia kembali menjambak rambut merah muda Sakura, memaksa Sakura menungging. Hidan, nama pria beringas itu, dengan satu kali hentak kembali memasukan miliknya ke dalam bibir bawah kenikmatan Sakura. Dia kembali menjambak rambut Sakura, menjambaknya lebih kuat memaksa wanita itu mendongak menatapnya. Hidan menyeringai melihat air mata menetes dari sudut mata Sakura, dia merasa senang melihat wanita itu mengeluarkan air mata. Perlahan seringainya menghilang, entahlah... ada perasaan berbeda yang aneh melihat wanita itu terlihat tersiksa. Dia melepas jambakannya, pelacur juga manusia. Dia memang membenci pelacur, dia menyiksa pelacur-pelacur itu sampai menyesal atau memilih mati bunuh diri. Helaian merah muda menempel di telapak tangannya, dia mengusap pipi wanita itu lalu berbisik. "Kenapa menangis, hm? Bukankah ini menyenangkan?" Bisiknya. Kepala Hidan menggeleng pelan, dia tidak boleh bersikap manis, tidak dengan wanita pendosa pelacur seperti Sakura. Hidan kembali memacu miliknya, lebih cepat dan dalam. Juga menjambak rambut merah muda Sakura.

"Anhhh... Ouh!" Desahan-desahan Sakura kembali menguasai seisi kamar besar itu, dan jangan lupakan geraman tertahan Hidan yang keenakan.

Kedua mata Hidan terpejam menikmati miliknya yang dipijat lorong kenikmatan Sakura. "Sial, Annhhh... kau sempit!"

Mereka menyatu, tubuh keduanya bergerak seirama. Derit ranjang, desahan, lenguhan, dan geraman menjadi satu.

.

.

.

Ino keluar dari lift sembari memegangi handphone, sementara tangannya yang lain membawa tas tangan kecil. Wanita berambut pirang itu memakai dress mini ketat berwarna biru dengan rambut diikat tinggi dan memakai kaca mata hitam. "Kau mau jadi model film bokep?" Ino mengambil kunci mobil dari tas tangan lalu menekam tombol buka kunci otomatis. Dia membuka pintu mobilnya lalu menutup perlahan. "Jadi bagaimana?" Tanyanya sembari menghidupkan mesin mobil, detik berikutnya wanita itu tersenyum. "Aku tau kau tak kan menolak."

Cadillac Escalade ESV berwarna putih milik Ino melaju perlahan membelok ke jalan meninggalkan gedung apartemen tempatnya tinggal, mobil SUV mewah itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan Konoha.

.

.

.

.

.

Sakura memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku. Wanita berambut merah muda itu berdiri di halte bus dengan satu tangan membawa kantung pelastik besar berisi makanan. Ini sudah sore, apa adiknya sudah makan? Pikir wanita itu gelisah memikirkan Kimimaro, Kabuto dan Gaara. Dia ingin segera pulang setelah hampir seharian berada di rumah Hidan, pria itu gila sex, bahkan setelah Sakura tak sadarkan diri pria itu tetap menyetubuhinya. Tapi... Sakura membuka kantung pelastik di tangannya mengambil selembar brosur perumahan. Selembar brosur yang sudah dia coret menggambarkan bundaran membentuk smile di atas gambar rumah kecil nan minimalis. Satu bundaran smile itu Sakura beri nama Sakura, Kimimaro, Kabuto dan Gaara. Sakura ingin memiliki rumah tempatnya dan ketiga adiknya pulang dan merasa aman dan nyaman, tidak kedinginan, tidak kehujanan dan tidak diusir orang. Sudah lama dia memimpikan sebuah rumah, dan karena itu Sakura memutuskan untuk tidak pulang malam ini. Dia ingin mengumpulkan banyak uang, lalu membeli rumah untuk adik-adiknya.

Menghela napas Sakura masuk dalam bus yang sejak tadi ditunggunya. Dia duduk di kursi kiri paling pojok dekat jendela. Sakura menyandarkan kepala di punggung kursi, matanya menatap setiap kendaraan yang melewatinya tapi pikirannya melayang memikirkan ketiga adiknya.

.

.

Ino bersandar di body mobilnya menunggu Sakura, wanita merah muda itu benar-benar lelet membuatnya kesal menunggu. Tak berapa lama kemudian Sakura datang, wanita merah muda itu berlari dengan napas terputus-putus, dia memakai pakaian yang beberapa hari lalu Ino berikan padanya. Ino mendengus. "Kau memiliki uang banyak, kenapa kau tidak membeli pakaian yang lebih pantas, bukan pakaian jelek seperti itu!" Omel Ino.

Sakura diam di tempatnya berdiri, kepalanya menunduk mencari sesuatu dalam kantung belanjaan miliknya. "Aku sedang berhemat" Senyum Sakura sembari menunjukkan brosur perumahan kecil pada Ino. "Untuk membeli ini."

Ino terdiam. "Kau tidak punya rumah?" Tanyanya menatap Sakura dengan tatapan tak terbaca.

Senyum Sakura mengembang, wanita itu kembali menunjukkan brosurnya pada Ino. "Sebentar lagi punya." Ucapnya senang.

Entah apa yang dipikirkan Ino, perlahan wanita itu menggeleng lemah lalu kembali menatap Sakura tajam seperti biasa. Dia tidak boleh terlalu baik pada wanita merah muda itu, tidak boleh, mereka bahkan belum lama saling kenal. "Terserah." Ucap Ino dengan nada dibuat tidak peduli. Ino mengambil paksa kantung belanjaan Sakura, mengabaikan tatapan wanita merah muda itu yang menatapnya tak mengerti dia membuka pintu mobilnya lalu memasukkan kantung belanjaan Sakura kedalam dan mengambil kantung terbuat dari karton. Dia memberikan kantung itu pada Sakura lalu menyuruh wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Sakura menurut, dia memutari mobil Ino lalu membuka pintu mobil yang lain. Ino masuk dalam mobilnya, "Kita tidak punya banyak waktu, duduk di belakang." Ino menghidupkan mesin mobil. Mendapat tatapan tak mengerti Sakura, wanita pirang itu menoleh. "Ganti bajumu di belakang. Tenang saja, kaca mobilnya gelap, tidak akan ada yang lihat."

.

.

.

Utakata, sutradara tampan pembuat film bokep. Lelaki itu ingin membuat film sex dengan sedikit berbeda, tidak hanya adegan sex saja melainkan juga adegan kekerasan, pemaksaan, serta pemerkosaan. Karena jujur saja, dia juga menyukai vidio-vidio porno yang seperti itu.

Sembari menunggu artis dan aktornya, Utakata duduk di depan laptop mengedit sesuatu. Ini hanya film pendek berdurasi hampir satu jam, tidak akan menghabiskan waktu lama membuatnya terlebih ini film sex. Aktor-aktornya sangat ahli dalam hal ini, mereka dapat dipercaya. Jadi, Utakata memiliki banyak waktu untuk bersantai. Dalam vidio dewasa kali ini menceritakan tentang seorang ibu tiri yang menjual tiga anak perempuannya, tidak hanya itu dia juga menjadi penonton dan tertawa melihat penderitaan ketiga anaknya.

Utakata memperhatikan ketiga aktornya yang berdiri tidak jauhnya darinya, penampilan mereka sudah jauh dari kata oke dengan celana jeans belel dan kaus ketat yang mencetak otot-otot liat mereka. Utakata mengepulkan asap rokoknya, lelaki tampan itu melirik dua artisnya. Sara dan Shion, tinggal menunggu dua artisnya lagi.

Ino, si pirang cantik sudah datang bersama temannya. Utakata bersiul melihat wanita merah muda yang baru dilihatnya yang berdiri di samping Ino. Penampilan wanita itu polos dengan gaun sederhana, di tangannya dia menggenggam kantung pelastik besar bukan tas tangan cantik.

Ino menepuk jidadnya. "Sudah kubilang, tinggalkan di mobil." Bisiknya gemas.

Sakura meringis tidak enak, dengan kaku dia menyelipkan anak rambutnya. "Maaf Ino, aku lupa." Ino hanya menghela napas mendengarnya. Tanpa yang lain sadari Juugo memperhatikan Sakura, menatap wanita merah muda itu tertarik dengan senyuman miring.

Utakata kembali memperhatikan Sakura dari atas ke bawah, sangat kampungan. Tapi tak apalah, setidaknya dia memiliki wajah cantik juga body yang oke. "Kita kerjakan sekarang."

Tanpa basa-basi lelaki berambut jingga menarik lengan Sakura sampai wanita merah muda itu jatuh dalam pelukkannya. Pria berambut jingga bertubuh tinggi besar dan berotot itu menatap mata hijau Sakura sejenak sebelum berkata. "Aku si merah muda." Tidak ada yang memprotes. Begitu juga dengan Utakata, pria tampan berambut kecoklatan itu hanya mengepulkan asap rokok lalu mendengus. "Siapkan kamera kalian." Setelah mengatakan itu pada para Krunya, yang hanya terdiri dari tiga orang, Utakata berjalan lebih dulu.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang didekorasi menjadi seperti ruang makan keluarga, ada sebuah meja panjang dan enam kursi di sana. Utakata dan teman-teman setimnya juga sudah menyiapkan sebuah ruangan yang di dominasi warna putih gading dengan satu sofa tidur merah maroon (sofa yang juga bisa dijadikan tempat tidur.) satu futon warna yang sama dan satu ranjang di lapis sprei merah maroon berbahan katun, yang nantinya akan digunakan di take kedua. Dia juga sudah menyiapkan sebuah kamar mandi besar yang (lagi) didominasi warna putih gading, seperti tirai mandi, bathub dan yang lainnya. Tirainya berwarna putih dengan motif polkadot berwarna biru, bathubnya besar bisa menampung tiga orang, seperti kolam renang ukuran mini. Tentu bathub itu cukup untuk menampung tiga pasangan bercinta.

Semua sudah selesai disiapkan. Utakata duduk di kursi sembari mengawasi ketiga aktornya dan pasangannya masing-masing, mereka bermainan dengan insting kelelakian mereka. Begitu liar, kasar, dan gagah.

Sara yang berperan sebagai ibu tiri duduk di kursi tengah paling ujung menikmati minuman teh hangatnya sembari menonton Ino, Shion dan Sakura yang sedang digrepe-grepe pria. Wanita itu tampak tenang, sesekali dia menampilkan senyum liciknya. Dia begitu mendalami perannya.

Ino, Shion dan Sakura diciumi kasar pasangannya masing-masing. Puas mencumbu wanita-wanitanya, pria-pria itu mangangkat tubuh kecil pasangannya ke atas meja setelah sebelumnya menarik taplak meja membuat benda yang ada di atasnya jatuh berserakan di lantai. Juugo menyentak kasar tubuh Sakura di atas meja, wanita itu memekik sakit karenanya. Juugo menarik paksa gaun tipis Sakura sampai sobek seutuhnya menampilkan tubuh polos wanita itu yang masih ada ruam-ruam kemerahan, Juugo tersenyum sinis melihatnya. Dia lalu mengangkangkan kaki Sakura lebar-lebar, menarik paksa celana dalam wanita itu lalu menghentak kasar miliknya ke dalam lorong kenikmatan Sakura.

"Akh!" Sakura memekik lirih, sudut matanya berair. Hidan sudah menghancurkan tubuhnya, dan kini pria berambut jingga itupun melakukan hal yang sama. Rasanya sakit dan perih.

Dengan geraman tertahan Juugo semakin gila menghentak-hentakkan miliknya, tidak peduli wanita di bawah tubuhnya yang memekik-mekik kesakitan.

"Arggh! Shit! Kau sempit!" Gigi Juugo bergemelutuk menahan geraman.

.

.

.

Kimimaro duduk di sudut rumah tak terpakai menghindari air hujan yang menetes deras dari atap rumah yang bocor. Dalam dekapannya Gaara menyandar di dadanya, kedua tangannya memeluk tubuh kecil Gaara yang kedinginan. Sementara Kabuto duduk di sampingnya, kepala kecil Kabuto menyandar di bahu Kimimaro. Mereka duduk dengan saling berpelukan membagi kehangatan satu sama lain. Perlahan, kepala Gaara mendongak menatap kosong Kimimaro yang menatap rintikan air hujan. "Nii- chan," panggil Gaara bergetar karena kedinginan.

Kimimaro mengalihkan tatapannya pada Gaara, satu tangannya mengelus rambut basah Gaara karena terkena cipratan air. "Ya." Gumam Kimimaro dengan nada lirih. Kepala Gaara semakin menyusup di dada Kimimaro, Kimimaro mengeratkan pelukkannya. Kabutopun melakukan hal yang sama, semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Kimimaro mencari kehangatan. Kimimaro melepas pelukkannya pada Gaara lalu menarik tubuh Kabuto dalam dekapannya. "Kemarilah..." Di peluknya Kabuto dan Gaara erat sementara pikirannya menjelajah memikirkan dimana Nee- Channya berada.

"Kenapa Nee- chan belum pulang?" Tanya Gaara melanjutkan kata-katanya yang sempat tertunda.

"Apa Nee- chan baik-baik saja, kenapa belum pulang?" Kabuto ikut bertanya. Bocah kecil itu sangat mengkhawatirkan keadaan Nee- channya di luar sana, sejak pagi sampai hampir tengah malam Sakura belum pulang membuat ketiga adiknya gelisah menghkawatirkan keadaannya.

"Semoga saja tidak terjadi apa-apa." Doa Kimimaro yang disambut anggukan lemah kepala Kabuto dan Gaara.

Mereka saling berpelukan. Hujan deras dan petir di luar membuat ketiganya tak bisa terlelap. Yang ada dalam pikiran mereka sama, di mana Nee- chan?

.

.

.

.

Thanks to...

hanazori yuri, Jun30, lovelychrysant, Lala Yoichi, aerizYuii, Guest, Kyu Harusaki, Teman, elqykun, Luluk Minam Cullen, hiruko onna, hanriran, Guest, hira yukiko, raine de, helsidwyana6, meong.

Sedikit pesan dari Kim-Z. Untuk yang gak suka sad ending, lebih baik stop baca fic ini dari sekarang. Karena jujurnya aja aku ngetik endingnya aja sampe mewek, entah aku yang cengeng atau emang endingnya sedih ;(.