Vampire knight bukan milik Usagi mau pun Neko, Vampire knight milik Matsuri Hino-san.
Karakter didalamnya juga milik Matsuri Hino- san, kecuali Kou yang merupakan OC milik Usagi dan si gadis (yang masih tanpa nama) adalah OC milik Neko.
Hanya sebentar.
Tidak ada kesempatan lain yang akan datang.
Dulu aku beruntung dapat menyegel masion keluargaku agar tidak ada yang berusaha memanupulasi atau pun membunuhku. Tapi sekarang aku tidak dapat membuat segel itu lagi, bahkan satu minggu setelah aku bangun dengan cepat asosiasi hunter dan putra keluarga Kuran dapat mengetahuinya. Aku harus lebih menutupi aura ku. Aku sudah sangat beruntung mereka hanya menyangka bahwa aku hanyalah pure Blood, kini yang harus kulakukan hanya mempertahankan aura yang dapat mereka rasakan hanya sebatas ini saja.
Entah sudah yang keberapa kali aku kembali menghela nafas, mungkin sejak aku naik mobil dimana aku dikelilingi empat pasang mata yang lurus memandangku. Aku harus tenang, aku tidak sendiri, Kou ada disampingku. Walau aku mencoba untuk tenang,rasanya sungguh sulit bila harus terus mendapat tatapan curiga dari Kaname, dan tatapan penuh kebencian yang Zero tunjukan terang terangan,sementara orang yang seharusnya membuatku tenang kini melempar tatapan membunuh pada dua pria yang duduk dihadapan kami berdua.
Aku benar benar merasa lelah sepanjang perjalanan yang seharusnya tidak memakan waktu lama itu. Sepanjang perjalanan itu kami semua tetap diam dengan keadaan itu tanpa ada satu pun yang memecah kehingan, bahkan aku dapat merasakan aura ketakutan supir yang mengantar kami, ketika akhirnya ia harus memecah keheningan saat menyatakan bahwa kami sudah sampai di Cross Academy.
Kou membantuku turun dari mobil limousin hitam itu,sementara supir malang itu membuka bagasi dan mulai mengeluarkan barang-barang milikku dari sana. Sang supir yang malang. Dia mungkin manusia yang terlalu sensitif sehingga merasakan aura Kaname juga auraku yang merupakan aura pure blood yang sangat kental terasa diudara, dan tentu saja aura Kou dan Zero yang juga merupakan Vampire yang jelas-jelas musuh manusia seperti dirinya. Perhatianku teralihkan dari supir paruh baya yang masih sibuk mengeluarkan barangku,ketika seorang gadis berlari lari kecil kearah ku.
"Selamat dat – Zero?!" gadis yang terlihat seperti Kaname Kuran itu tecengan melihat Zero yang turun dari limousin hitam itu tepat setelah aku turun. Zero belum sempat bereaksi,tapi gadis itu membuka suara lagi dengan nada lebih terkejut." Kaname – senpai?!"
"Selamat malam Yuuki" Sapa Kaname lembut. Wajah gadis itu memerah seketika setelah Kaname tersenyum kearahnya.
Yuuki? Apakah itu nama gadis ini? Rambutnya pendek tertiup angin membuka celah diantara lehernya yang terlihat mulus. Tanpa sadar aku menghirup aromaitu kuat – kuat. Aroma yang memabukan, tapi yang membuatku terdiam cukup lama bukan hanya itu, ketika aroma itu melewati penciumanku, ada aroma lain yang sempat ikut tercium oleh indraku. Aroma yang amat sangatku kenal. Aroma yang amat sangatku rindukan. Menyadari bahwa vampire yang ku cari mungkin benar – benar ada di Cross Academy membuatku kehilangan kendali atas diriku. Dengan amat sangat ceroboh aku mengeluarkan aura yang lebih kuat berharap vampire itu akan menyadari kehadiranku. Sepasang tangan yang dingin lalu memukul leher belakangku dan dengan cepat aku kehilangan kesadaran.
"Kou..."panggilku pelan ketika menyadari aku berada ruangan yang sama sekali tidak kukenali.
Tidak lama setelah aku memanggilnya, Kou datang dan berdiri disamping ranjang tempatku terbaring. Aku memiringkan kepalaku agar dapat melihat wajah Kou lebih jelas. Kou tidak mengatakan apa pun,tapi aku tau benar bahwa dia merasa bersalah setelah memukulku.
"aku tidak apa. Kau melakukan hal yang benar,Kou." Kataku santai. Aku duduk diatas tempat tidur bersprei merah itu mencoba menatap iris aqua milik Kou yang menghindari iris sewarna madu milikku.
Kou tetap menghindari kontak mata denganku, namun terpancar jelas dari iris aqua milik Kou yang menunduk tanpa benar – benar memperhatika lantai hitam itu, bahwa ia masih merasa bersalah. Kaname, Zero,dan gadis bernama Yuuki itu pasti sangat terkejut. Pikirku. Aku berharap mereka tidak salah paham pada Kou, tetapi bagaimana cara menjelaskannya?. Aku harus menyusun sebuah kebohongan yang tidak akan membuatku dicurigai, dan aku tidak boleh gegabah lagi. Sementara aku berfikir keras Kou tiba tiba bendaratkan kepalanya dibahu kananku membuatku sedikit kaget, namun kemudian aku ingat bahwa semenjak aku terbangun dari tidur panjangku, aku sama sekali tidak memiliki waktu bahkan hanya untuk menanyakan kabar Kou.
"kau pasti ." kataku sambil menepuk pelan kepala Kou yang masih bersandar di bahuku.
Kou hanya menggeleng pelan, masih menyembunyikan wajahnya di bahuku. Rambut pirang Kou mengelitik telingaku sehingga aku mencoba melepaskan Kou, namun Kou mempererat pelukannya. Saat itu aku sadar selama ini Kou pasti sangat kesepian. Kou menungguku seorang diri di masion tua yang bahkan telah dilupakan oleh kaumku. Menungguku terbangun selama dua ratus tahun lamanya. Hanya seorang diri.
"...Maafkan aku...selama ini..kau pasti sangat menderita..." bisikku lemah dengan perasaan bersalah yang kini menguasaiku sepenuhnya.
Kou kembali menggelengkan kepalanya masih dalam posisi yang sama. Aku menghela nafas,tau bahwa setengahnya adalah kebohongan. Tanganku mengusap ngusap rambut pirangnya yang masih terasa lembut seperti dua ratus tahun yang lalu.
" Kou duduklah dengan benar" kemudian melepaskan pelukannya dan duduk disampingku. "Aku akan menggembalikan suaramu...maaf telah mencurinya"
Kou kembali menggeleng pelan, aku hanya bisa menatapnya penuh penyesalan dan kini Kou hanya menduduk. Benar. Gara gara aku mencuri suara milik Kou sebelum aku tertidur, kini Kou hanya dapat menggeleng dan mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Membayangkan Kou yang menungguku selama dua ratus tahun ditambah suaranya yang telah aku curi, pasti sudah banyak sekali hal sulit yang telah dialami oleh Kou. Dan itu semua karena kelemahanku. Andai saja saat itu aku dapat mengendalikan amarahku, Kou tidak perlu terkurung bersamaku karena segel yang tanpa sadarku pasang dan juga Kou tidak akan kehilangan suaranya.
Sekarang aku harus menggembalikan suara milik Kou. Suara yang selalu memanggilku sebelum aku tertidur. Aku menyentuh pipi Kou yang pucat dan terasa dingin. Iris Aqua milik Kou terlihat seakan merindukan sentuhan yang sering didapatnya ketika dia masih sangat kecil. Aku tersenyum mengingat bahwa anak laki laki yang dulu selalu mengikutiku seperti seekor anak anjing kecil kini telah tumbuh menjadi pria kuat yang bahkan sekarang lebih besar dibandingkan aku yang masih terjebak dalam penampilan gadis berumur 16 tahun. Pertumbuhan yang dialami tubuhku memang sangat lambat, bahkan lebih lambat dibandingkan para pure blood.
Aku mencoba menyingkirkan perasaan nostalgia yang sesaat menguasaiku, dan mencoba kembali fokus pada Kou. Aku akan menggembalikan suara miliknya yang dulu aku ambil karena dikuasai amarah. Semakin aku fokus,iris mataku kini berganti warna merah cerah bagaikan darah segar. setelah cukup lama aku berhenti berkonsentrasi dan perlahan menurunkan tanganku dari wajah Kou.
Iris Aqua milik Kou masih berfokus padaku bahkan setelah aku yakin suara milik Kou telahku kembalikan. " Selamat datang kembali."bisik Kou. Itu adalah pertama kalinya aku mendengar juga melihat Kou tersenyum setelah kebangkitanku.
"Aku pulang." Kataku merasa senang sekaligus sedih bila mengingat aku memperlakukan Kou sangat tidak baik.
Neko :" Hallo semuanya. "
Usagi : "Ciao"
Neko : "Semoga kalian menikmati cerita yang NekoUsagi buat. Hehehe. Terima kasih sudah menyempatkan waktu berharga kalian untuk membaca fanfic pertama kami dan dengan senang hati kami menerima kritik juga saran. Ah! Review juga. Jadi jangan sungkan. Iya kan Usagi?."
Usagi :" O-oh tentu saja kritik adalah salah satu cara agar bisa menjadi lebih ."#berbalik." Uuwaa!"
Neko : # menarik telinga usagi. "US-AG-I-CHAN. Kita belum membungkuk meminta maaf pada semua setelah kejadian perkenalan diprolog waktu itu kan ?"# meremas telinga Usagi.
Usagi : #mengangguk gugup. #membungkuk minta ampun.
Neko : " Nah semuanya kami minta maaf atas apa yang terjadi. Jika berkenan silahkan review,kritik juga saran. Bye-bye"
Usagi : "ciao..."
