Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

Sakura membuka pintu usang dimakan rayap di hadapannya perlahan. Dia masuk ke dalam dengan langkah terseret-seret, di tangan kiri-kananya membawa kantung pelastik besar. Cahaya matahari menyusup dengan leluasa melalui atap yang berlubang, puing-puing atap berserakan di lantai, tikus, kecoak dan serangga kecil lainnya berlarian di setiap sudut dan tempat. Langkahnya terhenti melihat ketiga adiknya tertidur pulas di sudut paling pojok. Dia menatap ketiga adiknya dengan wajah pucat dan lesu dalam diam. Perlahan dia tersenyum, kedua kantung belanjaannya dia letakkan begitu saja lalu mendekati Kimimaro, Kabuto dan Gaara. Wanita muda itu duduk bersimpuh di depan Kimimaro, Kabuto dan Gaara yang tidur berpelukannya. Diusapnya kepala berbeda warna itu bergantian.

"Engghhh..." Kimimaro mengerang lemah lalu membuka kelopak matanya perlahan. "Nee- chan." Gumam bocah itu dengan nada terkejut, tak lama kemudian dia tersenyum.

Sakura tersenyum. "Kimimaro, hebat." Puji Sakura tulus. Melihat espresi bingung Kimimaro Sakura melanjutkan kata-katanya. "Sudah bisa menjaga Kabuto dan Gaara."

Kimimaro tersenyum senang mendapat pujian.

Kabuto membuka kelopak matanya lalu mengucek pelan dengan punggung tangan. "Nee- chan!" Teriaknya senang begitu melihat Sakura, sontak Gaara terbangun dari tidurnya mendengar teriakan Kabuto. Kabuto berdiri dan langsung menghambur memeluk Sakura. "Nee- chan sudah pulang!" Teriakan senang itu teredam dalam pelukkan Sakura karena Kabuto yang memeluk Sakura erat.

Sakura terkekeh sembari menarik Kimimaro dan Gaara dalam pelukkannya. "Bagaimana tidurnya, nyenyak?"

Ketiga bocah itu menggeleng kompak. Melepaskan pelukkan ketiga adiknya Sakura tersenyum, dia merapikan rambut Gaara yang sedikit berantakan di dahi. "Nee- chan, kenapa baru pulang?" Wanita muda itu tersenyum mendengar pertanyaan Gaara.

Kabuto duduk di depan Sakura, bocah itu menatap Sakura dengan bibir cemberut. "Apa Nee- chan akan pergi lagi?"

Sakura menggeleng sembari tersenyum. "Kalian cepat mandi, sudah waktunya sarapan."

Kabuto berdiri lalu melompat-lompat, senang mendengar kata 'sarapan' "Apa Nee- chan membawa Ramen?" Tanyanya sembari terus melompat. Kimimaro tersenyum melihat tingkah hiper aktif Kabuto, sementara Gaara duduk diam di pangkuan Sakura.

Sakura menggeleng. Kabuto berhenti melompat, wajah senangnya berubah sedih. "Ramen tidak baik untuk kesehatan. Kalian cepat mandi, pakaiannya ada dalam pelastik itu." Sakura menunjuk kantong pelastik orange. "Setalah mandi kita sarapan."

.

.

.

Sakura membawa ketiga adiknya ke perumahan sederhana. Dia hanya tersenyum melihat wajah kagum ketiga adiknya saat melihat rumah-rumah kecil tapi minimalis itu. Kabuto yang berjalan di samping kiri Sakura tidak henti-hentinya mengucapkan kata 'wah' di setiap langkah kakinya menginjak batu-batu ubin. Bocah itu menggerakkan gerakkan tangannya yang digenggam tangan Sakura membuat wanita muda itu menoleh menatapnya dengan senyum. "Nee- chan, kenapa kita ke sini?"

"Apa kita mau membeli rumah?" Kimimaro bertanya seraya menolehkan kepalanya ke kanan-kiri, melihat rumah-rumah yang sudah jadi.

"Mungkin." Senyum Sakura.

"Nee- chan tidak seru!" Protes Kabuto dan Gaara. Sakura terkekeh.

Setelah membayar uang muka dan tetek bengek lainnya, pihak perumahan bilang rumahnya akan jadi dalam waktu tiga bulan, Sakura membawa ketiga adiknya ke taman bermain, penampilan mereka yang tidak kumal dan kini sedikit lebih rapih membuat orang-orang tidak menatap mereka remeh dan sebelah mata. Sakura membawa adik-adiknya bermain seluncur skeatboard : sebuah permainan meluncur dari ketinggian menggunakan benda yang mirip skeatbort, bedanya benda ini sedikit lebih besar.

Kabuto meluncur bersama Kimimaro, bocah berambut perak itu tidak henti-hentinya menjerit senang saat meluncur. "Ayo Kimimaro, cepat!" Dia berteriak penuh semangat seraya berjalan dengan benda meluncur bagian depan di tangan kanannya, mereka mengangkat benda itu sama-sama.

Kimimaro tersenyum lebar, susah payah dia menyamai langkah Kabuto di depan. "Iya-iya."

Sakura meluncur bersama Gaara, Sakura duduk di belakang dan Gaara duduk di depan. "Kau siap Gaara?"

Gaara mencengkram erat sketnya, jantungnya berdetak lebih cepat. Argenalinnya Merasa tertantang. Dia mengangguk pelan dan merekapun meluncur dengan kecepatan sesuai tinggi tempat mereka meluncur. Seperti layaknya anak kecil Sakura menjerit saat meluncur, ini pertama kali dia bermain seperti ini. Tawa Sakura terhenti saat sadar Gaara diam saja sejak meraka meluncur. "Gaara." Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat dengan Gaara. "Gaara baik-baik saja?" Tanya dengan nada khawatir. "Gaara." Panggil Sakura lagi. Tidak ada respon. "Kita pulang saja, bagaimana?"

"Aku tidak mau." Sakura menatap Gaara dengan tatapan menyesal, dan dia terkejut saat tiba-tiba Gaara berdiri lalu melompat. "Ini sangat menyenangkan. Aku ingin meluncur lagi Nee- chan, boleh?" Sakura tersenyum dia baru akan menjawab 'ya' ...

"Andai aku bisa melihat. Pasti jauh lebih menyenangkan." Kepala Gaara menunduk cukup lama. Sakura hanya bisa memeluk punggung Gaara. Mendongakkan kepalanya Gaara tersenyum. "Ayo main lagi!"

"Suatu hari nanti Gaara pasti bisa melihat, Nee- chan janji."

"Sungguh?"

"Ya." Sakura berdiri lalu menarik tangan Gaara. "Ayo. Kita masih bisa bersenang-senang."

.

.

.

Selesai bermain seluncur dan permainan lainnya, Sakura membawa ketiga adiknya ke kedai es krim. Kabuto tidak henti-hentinya melompat, tidak sabar menerima es krimnya. Gaara terus menarik tangan Sakura, merengek meminta es krimnya lebih dulu. Hanya Kimimaro yang tidak merepotkan Sakura dan tidak hiper aktif, bocah berambut putih yang sebentar lagi remaja itu menunggu es krimnya dengan sabar.

Mereka duduk di bangku panjang yang ada di bawah pohon besar. Memakan banyak es krim seolah esok mereka tidak dapat menikmatinya lagi. Sakura, Kimimaro, Kabuto dan Gaara sama rakusnya. Mereka tertawa lepas tanpa peduli dengan tatapan orang yang menatapnya aneh, remeh dan rendah.

.

.

.

.

Ino menyalakan pematik di ujung rokoknya lalu menjepit rokok itu di bibir, dia melirik Utakata yang duduk di berhadapan dengannya yang menatapnya kesal. Pria berambut coklat itu mengerang kesal dengan tingkah menyebalkan Ino. Apa sulitnya memberi alamat atau nomor ponsel wanita berambut merah muda itu padanya. "Ayolah, Ino. Aku hanya meminta alamat rumahnya, kalau kau tidak punya, nomor ponselnya juga tidak apa-apa." Bujuk Utakata setengah kesal.

Saat ini mereka sedang ada di apartemen Ino. Wanita berambut pirang itu menuangkan bir ke dalam gelas besarnya. "Mau Bir?" Dia menawarkan, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku sedang tidak butuh Bir." Jawab Utakata setengah kesal. Diliriknya Ino sinis.

"Ketus sekali." Ino mencibir sembari mematikan rokoknya. Wanita itu menghembuskan asap rokok terakhirnya tepat ke wajah Utakata. Pria itu semakin kesal dibuatnya. Ino terkekeh. "Dengar tuan sutradara, kenapa kau tidak tiduri saja model-modelmu, huh! Sakura sibuk. Dari dua malam yang lalu seorang pria blond sibuk mencarinya, mau memakai jasa menghangat ranjang. Kalau kau benar-benar menginginkannya tunggu dua atau tiga hari lagi, dia sedang laris-larisnya. Kau harus mengantri."

Utakata melipat tangan di depan dada. "Ino, kau sudah seperti Germo." Dia mengucapkannya dengan nada sinis dan menyindir.

Ino kembali terkekeh, dia kembali mengambil rokok di atas meja. "Aku hanya mau membantunya." Dia menunduk, memainkan abu rokok yang hampir penuh di dalam asbak. Karena melihat Sakura seperti melihatnya di masa lalu. Terbuang, terpontang-panting tanpa arah, tidak memiliki jalan pulang. Ino memainkan jemari lentiknya di bibir gelas Bir, memutari lingkaran bibir gelas dengan tatapan kosong.

.

.

.

.

Sakura memakai mantel tebal guna menutupi dress mini ketat yang dipakainya ;Sakura memakai gaun pendek ketat tanpa lengan dengan kerutan membentuk bra di bagian dada, dia tidak memakai bra karena bajunya sudah cukup menampung buah dadanya. Dia tidak mau adik-adiknya melihat. Dia merasa telanjang memakai dress pendek ketat tanpa lengan ini, seperti hanya dililit handuk. Wanita muda itu mendekati ketiga adiknya yang sedang bermain game dan mendengarkan musik di atas futon. Gaara asik dengan I-pot barunya, mendengarkan musik yang dia sukai. Sementara Kabuto dan Kimimaro main game dengan I-pet secara bergantian. Itu hadiah kecil dari Sakura untuk ketiga adiknya, jadi saat dia tidak ada di rumah adiknya masih bisa sedikit bersenang-senang dengan benda kecil bernilai uang besar itu. Sakura duduk di antara Kabuto, Kimimaro, dan Gaara. "Jam lima sore nanti jangan lupa pergi ke rumah Ayame- Nee, Nee- chan sudah menitipkan kalian padanya." Dia tersenyum seraya mengusap rambut ketiga adiknya bergantian.

Kabuto, Gaara dan Kimimaro mengangguk bersamaan lalu kembali fokos pada mainan keren baru mereka, bagi mereka, lagi. Dengan uang yang ia miliki, Sakura juga membeli tenda dan futon, jadi ketika hujan mereka tidak kebasahan lagi. Sebelum pergi wanita muda itu mengecup kening mereka bergantian yang di balas pelukkan, mereka memeluk Sakura bersamaan. "Nee- chan, trimakasih. Hari ini kami senang sekali." Ucap Kimimaro mewakili kedua adiknya. Gaara dan Kabuto sontak mengangguk. Sakura tersenyum sayu lalu melepaskan pelukkan ketiga adiknya. Dia melambai seraya tersenyum sebelum melangkah menjauh dari Kimimaro, Gaara dan Kabuto yang menatapnya dengan senyum lebar. "Hati-hati Nee- chan." Teriak mereka bersamaan.

"Ya. Kalian juga, hati-hati."

.

.

.

.

Ngobrol di meja bar, minum Bir lalu mengajak Sakura ke lantai dansa dan melakukan gerakan foreplay di lantai dansa Naruto menarik tangan Sakura ikut dengannya keluar club, dia sudah tahan. Miliknya sudah ereksi sejak tadi meminta dipuaskan.

Naruto membuka pintu apartemennya terburu-buru. Setelah pintu apartemen terbuka Naruto menarik Sakura masuk lalu mengunci pintu dan langsung menyeret Sakura ke kamarnya. "Ah, Sakura- chan." Panggilnya setengah mendesah. Dia mengapit Sakura dengan tubuhnya ke pintu kamar. Diciuminya bahu telanjang wanita itu tak sabar sementara tangannya merayap kebawah gaun pendek Sakura, mengusap paha mulus wanita itu pelan dan sensual.

Sakura mendongak saat bibir Naruto menjajah lehernya, napas wanita itu berat dan memburu karena napsu. Tangannya merayapi punggung lebar nan tegap Naruto lalu merayap naik ke kepala pirangnya. Dia jambak rambut jabrik Naruto dan menekan kepala pria itu ke belahan dadanya yang menantang, memuaskan pelanggan itu tujuannya. "Anhh... Naruhh ... ouh, Naruuhh.. " Dia mendesah saat lidah Naruto menjilati payudara atasnya, mengecupnya lalu menghisapnya cukup keras meninggalkan noda merah pekat di payudaranya yang ranum.

Tangan Naruto naik ke kepala Sakura, menjambak rambut merah muda wanita itu dan menatap mata hijau hutan itu sama napsunya. Napas Naruto semakin memburu bagian vitalnya menekan perut bawah Sakura. Dia menarik Sakura masuk lalu menutup pintu kamar kasar. Dilepasnya kemejanya terburu-buru tanpa melepaskan tatapan dari Sakura yang sedang melepas celana dalam. Menyeringai Naruto membuang kemejanya asal lalu membuka pengait serta ressleting celana jeans.

Sakura membalik tubuh membelakangi Naruto saat menyadari pria itu terus menatapnya. Celana dalamnya jatuh begitu saja saat tiba-tiba Naruto memeluknya dari belakang, dia terkejut. Sejujurnya dia belum terbiasa dengan semua ini, melepas pakain di depan laki-laki. Lengan kekar Naruto meremas kedua payudara Sakura dari belakang. Bibirnya mengecupi punggung telanjang Sakura lembut. Dengan gerakkan perlahan dia menarik gaun Sakura sampai pinggang. Bagian tubuh atas wanita itu polos. Naruto meremas payudara Sakura lebih keras dari sebelumnya. "Annhh..." Sakura menggigit bibir bawahnya meraskan sakit di payudaranya karena remasan Naruto, tangan kanannya mencengkram leher Naruto. "Ouh... Narutohh ..,.."

Naruto membalik tubuh Sakura berhadapan dengannya lalu menyatukan keningnya dengan Sakura. Dia menatap Sakura lembut lalu tersenyum. Disentuhnya bibir atas Sakura lalu memiringkan kepala kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir lembut Sakura. Mengecup, menjilat, kemudian menghisap. Mengecup, menjilat, kemudian menghisap. Terus seperti itu berulang-ulang.

Naruto melepaskan ciumannya, satu tangannya menarik pinggang Sakura sampai wanita itu jatuh dalam pelukkannya, dada bidang Naruto menekan dada polos Sakura. Tangan Naruto yang lain mengusap pipi Sakura lembut. "Kau tau? Aku tidak berhenti memikirkan dan memimpikanmu disetiap pikiran kotor dan mimpi panasku. Kau sangat mengganggu sampai membuat aku ingin mengikatmu di kamarku, menyimpanmu hanya untuk memuaskanku. Aku tidak mengerti, aku tidak pernah seegois ini sebelumnya. Tidak pernah. Kau membuat aku egois." Bisik Naruto dengan nada berat dan serak. Naruto membimbing Sakura mendekati ranjangnya sampai wanita itu jatuh terlentang di atas ranjang. "Dan aku tidak akan menyianyiakan malam ini." Naruto menyeringai lalu menindih tubuh Sakura dengan tubuhnya.

.

.

.

.

Ketika kamu kebetulan ketemu sama fic Saku jadi antagonis, yang jahatnya kelewatan, cuma elus dada dan bergumam 'sabar.' Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Kalo jahat dibalas jahat gak akan ada akhirnya. Lebih baik mundur dan abaikan, ini bukan pengecut tapi lebih ke menghindar dari WAR. #ngumpet di bawah pohon toge sama kang Juugo.

#ditimpuk rame-rame.

Special thanks to ...

DaNar'uto Uzumaki, Lala Yoichi, Luluk Minam Cullen, helsidwiyana6, Lovesakura, hachiko desuka, , Guest, angodess, hanazono yuri, Kirei Apple.

:)

Endingnya ... masih lama. Kakashi aja belum nongol, Sasori juga belum, akang Pain juga belum. Konfliknya belum juga.