Author Note : Maaf update kelamaan… Akhirnya Ujian Nasional selesai juga :D dari pada banyak catetan, ini dia chapter 2 nya.

tanda […] berarti penglihatan Kagami ketika menyentuh sesuatu ya.


Psychometry

All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi

Warning

OOC, typo, sho-ai, ada OC lewat doang dan lain sebagainya


Chapter 2

"Kasus penculikan anak akhir-akhir ini, membuat resah masyarakat. Elena Akira, murid taman kanak-kanak berumur 4 tahun kemarin dilaporkan hilang oleh orang tuanya. Korban yang pergi main bersama temannya, tidak juga kembali kerumah hingga malam hari. Sampai saat ini polisi masih berusaha untuk mencari korban dan menemukan pelakunya."

Berita tentang penculikan anak cepat sekali menyebar di lingkungan masyarakat. Setelah penemuan mayat Haruka beberapa hari lalu, korban lainpun diberitakan menghilang. Rupanya kepolisian cukup dibuat repot oleh sang pelaku. Biasanya korban penculikan anak ini hanya untuk meminta uang atau memaksanya memberikan sesuatu, tidak sampai membunuhnya.

Remote tv di atas meja langsung disambar oleh sang kapten sebelum ditekannya tombol merah, sehingga layar tv berubah gelap. Saat ini mereka -para polisi- sedang melakukan rapat disebuah ruangan, yang berisikan sepuluh orang.

"Elene adalah korban ketiga yang masih belum ditemukan. Sebelumnya Arisa ditemukan tewas, di dalam tangki air yang ditemukan oleh warga." Ada jeda 5 detik sampai sang kapten melanjutkan ucapannya. "Ada petunjuk?"

"Dari pola pembunuhan, dapat dipastikan kalau sang pelaku mengincar anak berumur 4-6 tahun. Barang bawaan yang seharusnya ada bersama korban tidak ditemukan di tempat kejadian. Kemungkinan besar pelaku sudah menyimpannya ditempat lain atau dilenyapkan." Jelas Imayoshi, seorang polisi berkaca mata dengan wajahnya yang licik.

Sakurai membolak-balikan beberapa kertas melihat hasil pemeriksaan korban. "Ma..maaf. Dari hasil otopsi yang dilakukan pada korban, ditemukan juga beberapa luka lebam. Lalu sesuatu yang tidak lazim ada di dalam perut korban. Sepertinya pelaku memaksa korban untuk memakannya. Korban pertama, Haruka Sigehiro, dibiarkan sekarat dalam kantong plastik sampai ditemukan tewas kedinginan serta kekurangan oksigen. Arisa, dibuang ke dalam tangki air yang sebelumnya memang sudah meninggal."

Semua polisi yang berada di ruangan terdiam, merutuki betapa kejamnya si pelaku. Anak kecil yang masih polos, tidak berdosa, harus dibunuh dengan cara seperti itu.

"Dan sampai sekarang, kita belum tau motif pelaku yang sebenarnya. Ada kemungkin korban sakit jiwa." Sahut sang kapten memecah keheningan.

"Atau mungkin pelaku seorang pedofil yang berangsur menjadi psikopat." Sarkas Aomine tiba-tiba.

Sang kapten menatap Aomine sebentar sebelum mengangguk setuju.

"Baiklah, aku akan buat tim untuk mengurusi kasus ini. Aku, Haizaki, Sakurai, Susa, Hyuuga dan Imayoshi akan bekerja di lapangan. Sisanya kecuali Aomine, akan mencari informasi. Kalian bisa bubar sekarang." Dengan berakhirnya penjelasan sang kapten, ruangan kembali sepi. Dan yang tersisa hanya Aomine, Haizaki, Sakurai dan sang kapten.

"Kenapa aku tidak diperbolehkan ikut?" tanya Aomine tenang, namun terdengar nada paksaan di kalimatnya.

"Ingat hukumanmu Aomine." Balas sang kapten.

"Ini bukan masalah hukuman. Aku hanya tidak bisa diam setelah melihat anak itu mati! Aku sudah berjanji pada ibunya!" Aomine menaikan nadanya satu oktav lebih tinggi.

Sang kapten menghela napas panjang. Haizaki diam tidak berminat meladeni. Sakurai bingung tidak tau apa yang terjadi.

"Baiklah, aku bekerja sendiri."

Pintu ruangan dibanting keras. Meninggalkan tiga orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Umm, apa tidak apa-apa membiarkan Aomine-san bekerja sendiri, kapten?" tanya Sakurai ragu.

"Heh? Biarkan saja dia." Sahut Haizaki malas.

"Ah! Iya, maafkan aku."


Aomine sudah tidak lagi peduli tentang hukumannya. Persetan dengan kaptennya yang tidak mengizinkannya ikut. Toh, dia sudah tidak peduli sekarang. Apapun resikonya nanti, dia harus bisa menemukan pelakunya. Ya, dia harus bisa menemukan pelakunya.

Tapi, bagaimana caranya?

Jujur, Aomine tidak terlalu pintar. Tapi bukan berarti dia bodoh juga. Pengalaman selama tiga bulan cukup bagi Aomine untuk tau bagaimana caranya menyelidiki orang.

Satu hal yang dia tau, dia harus bisa menemukan pemuda itu!

"Baiklah, pertama-tama apa yang harus ku lakukan?" Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memikirkan rencananya.

Setelah beberapa detik berlalu, sebuah ide muncul di pikirannya. Pergi ke gang waktu itu, melihat gambarnya sekali lagi. Mungkin dia dapat menemukan petunjuk disana.

.

.

.

.

.

.

"Tidak bisa! Kau ini anak nakal rupanya." Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal menatap sinis Aomine.

Sujud syukur Aomine datang tepat pada waktunya. Jika tidak, mungkin gambar yang ada di dinding akan segera hilang oleh wanita paruh baya itu. Walaupun sebenarnya memang sudah terhapus sedikit waktu itu.

"De-dengarkan sebentar penjelasan ku, Nyonya. Aku seorang polisi dan aku bisa menjamin gambar ini adalah barang bukti yang sangat berharga. Jadi jangan lanjutkan pengecatannya." Jelas Aomine ragu. Meladeni seorang wanita paruh baya adalah hal terburuk baginya.

"Barang bukti? Aduh, nak! Ini tuh kerjaannya anak jalanan yang tidak bertanggung jawab. Sudah baik aku sebagai warga mau mengecat kembali dinding ini, sehingga terlihat bagus."

"Nyonya, aku_"

"Dan lagi, kau ini tidak pandai berbohong nak! Kau yang seorang polisi adalah kebohongan yang paling bodoh_" potong wanita itu.

'Bodoh?'

"_tampangmu itu tidak meyakinkan. Sudah item, tampang kayak preman gitu_" lanjutnya.

'Item? Tampang preman?'

"_pokoknya kau membohongiku. Jangan pikir kau bisa membohongiku ya, polisi amatiran."

JLEB

Sebuah inner pedang yang tak terlihat menusuk jantung Aomine. Sang wanita yang tanpa sadar telah membuat Aomine terpuruk, melanjutkan kegiatan mengecatnya tanpa rasa bersalah.

Andai saja dia seorang lelaki, pasti Aomine sudah menghadiahkan tonjokan mautnya. 'Sabar Aomine! Mungkin wanita itu sedang dibutakan dengan ketampanan mu.' Innernya pasrah.

Dari pada tambah sakit hati lama-lama disini, dengan malas Aomine merogoh sebuah handphone flip di saku celananya, memfoto gambar yang sudah sebagian terhapus itu.

CKLIK

Wanita itu menoleh, melihat Aomine memfoto dirinya. Kesalahpahaman pun terjadi.

"Dasar anak zaman sekarang tidak tau diuntung! Malah memfoto ibu-ibu. Hapus foto itu sekarang!" geramnya sembari memukuli Aomine dengan tangannya.

"Tu-tunggu, Nyonya salah paham. Aku tidak bermak_Aww! Sakit tau!"

Sabar Aomine. Memukul wanita sama saja, menghancurkan harga dirimu sebagai seorang lelaki. 'Kenapa diriku selalu sial.' Batin Aomine merutuki dirinya sendiri.

"Pergi kau, sebelum merasakan pukulan mautku." Perintah sang ibu.

'Harusnya aku yang berkata seperti itu.'

Mau tidak mau, Aomine pergi. Lagi pula dia sudah mendapatkan apa yang dia mau. "Aku tidak akan mau berurusan dengan ibu-ibu lagi." Gumamnya horror.


Di bangku taman yang kosong, Aomine memperhatikan foto yang tadi diambilnya. Gambar yang sangat bagus kalau boleh dikatakan, dengan penggambaran yang sangat detail seolah-olah si penggambar mengetahui seluk beluk tempat tersebut dari atas langit. Tapi bagaimana bisa seseorang yang mengaku tidak tau apa-apa tentang kejadian itu, bisa menggambar dengan sangat baik. Apalagi dengan sudut penggambarannya, yang bisa dikatakan aneh.

Aomine menghela napas lelah memikirkan petunjuk untuk mencari pemuda aneh itu. Gambar yang ada di dinding sudah jelas-jelas menunjukan letak mayat. Lalu gambar bangunan putih itu? Apa hubungan mayat dengan rumah susun itu?

"Sebaiknya aku minta bantuan Tetsu." Aomine mengetikan sebuah nomor yang sudah dia hapal untuk menelepon seseorang.

Suara 'tuut' terdengar cukup lama di telinganya, membuat kaki polisi muda itu bergerak tidak sabaran.

"Halo?"

"Tetsu, bantu aku sekarang. Penting!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, kau menelepon ku hanya untuk mengantar mu ke rumah susun itu, Aomine-kun?" tanya Kuroko datar, ada sedikit nada penyesalan di kata-katanya.

"Ini penting Tetsu, menyangkut karirku."

"Kenapa kau tidak cari taxi saja?" tanyanya lagi.

"Geez, sudahlah Tetsu! Cuma kau yang bisa ku percaya saat ini." gerutu Aomine kesal.

Kuroko menoleh ke arah sahabatnya itu, sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya. "Baiklah, tapi Aomine-kun harus membayar ongkos jalannya."

"Apa?! Kau ini memang iblis dibalik wajah polos mu itu, Tetsu." Umpat Aomine.

Mereka berdua kini berada di dalam mobil van hitam milik Kuroko, sedang dalam perjalanan menuju rumah susun.

Kuroko sudah mengenal Aomine sejak lama, bahkan ketika mereka masih di sekolah menengah. Aomine bukan orang yang mudah minta tolong kepada orang lain. Sekalinya minta tolong, pasti itu sesuatu yang penting baginya.

"Kita sudah sampai Aomine-kun."

Satu kalimat dari Kuroko menyadarkan Aomine dari tidurnya. Mereka berhenti tidak jauh dari bangunan tersebut. Bola mata navy itu bergerak liar memperhatikan sekitar. Biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan. Ini sama seperti perumahan biasa. Rumah makan, tempat perbelanjaan, dan sebuah toko lukisan. Tunggu, toko lukisan?

"Tetsu, kau tunggu di sini! Jangan kemana-mana, oke!" Aomine turun dari mobil dengan tergesa-gesa, meninggalkan Kuroko yang terdiam tanpa kata.


TRINGG TRINNGG

Bel kecil yang berada di atas pintu toko lukisan tersebut langsung berbunyi ketika Aomine membuka pintu tersebut. Tepat seperti dugaannya, di toko ini menjual berbagai macam cat. Tanpa menunggu lama, polisi muda itu menghampiri sang penjual.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

Aomine memperhatikan barang dagangan yang dipajang di dinding sebelum bertatap muka dengan sang penjual. "Apa beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang datang membeli pilok?"

Sang penjual terkejut, dia berfikir sesaat. "Ini cukup sulit, karena toko ku ini dekat dengan sekolah seni jadi banyak siswa yang membeli benda itu."

Aomine mendesah pelan.

"Tapi, belum lama ini ada seorang pemuda yang mendatangiku malam-malam." Lanjut sang penjual. Aomine kembali menatapnya tertarik.

"Kalau tidak salah, malam itu toko ku sudah mau tutup karena sudah malam. Tapi seorang pemuda aneh datang membeli pilok dengan jumlahnya yang banyak. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup hoodie jaketnya."

Aomine tersenyum tipis, itu dia!.

"Dia sangat aneh, seperti orang yang ketakutan. Bahkan aku belum sempat mengambalikan kembalian uangnya, karena dia langsung pergi setalah mendapatkan barang yang dibelinya." Jelas sang penjual. Aomine terdiam berfikir sebentar.

"Kalau begitu terima kasih, aku permisi." Ucap Aomine yang dibalas anggukan oleh sang penjual.

Senyuman tipis terlukis jelas di wajahnya. Tunggulah! Aku akan menangkapmu.

Baru saja Aomine ingin keluar dari toko tersebut, sebuah pemandangan yang membuatnya hampir tertawa keras dan melompat girang tersaji tidak jauh dari hadapannya.

Pemuda yang selama ini dicarinya kini berjalan masuk ke rumah susun tersebut. Aomine tertawa kecil yang tanpa sadar dipandang aneh oleh sang pemilik tokoh. "T-Tuan?"

Aomine menoleh melambaikan tangannya pelan "Maaf, aku hanya sedang senang karena buruan ku ketemu juga."

Sang penjual hanya mengangguk mengerti. Aomine keluar dari toko tersebut, setelah memastikan target masuk ke gedung. Dengan langkah santai, Aomine berjalan menuju gedung tersebut. Kuroko hanya diam memperhatikan sembari mengesap vanilla shake yang baru dibelinya beberapa waktu yang lalu.


Bola mata Aomine tidak lepas memandang kemana sang pemuda melangkah. Cukup sepi sehingga Aomine sesekali bersembunyi di balik tembok agar tidak terlihat. Setelah cukup jauh, sang polisi muda kembali mengikuti target yang tengah menuju ke dalam lift.

Sial.

Pintu lift tertutup, meninggalkan Aomine yang tengah mengumpat dengan bahasa yang kasar. Kakinya bergerak tidak sabar di hadapan pintu lift, melihat nomor yang terus menerus bergerak. Ketika lift tersebut berhenti di angka 4, Aomine langsung berlari kencang menaiki tangga yang tidak jauh dari lift tersebut.

Berlari melewati tangga hingga lantai 4, cukup membuat keringat bercucuran dari dahi Aomine. Cukup beruntung dirinya memiliki kelincahan dan kecepatan di atas rata-rata, sehingga bisa menyusul sang pemuda yang tengah berbelok.

Bagaikan seekor hariamau yang menemukan mangsanya, Aomine berlari mengejar sang pemuda yang sudah hilang di belokan tersebut. Gerakannya perlahan berhenti, untuk memperhatikan keadaan sekitar. Diliriknya belokan tersebut yang hanya dia dapati sebuah pintu. Keadannya cukup aneh, karena pintu tersebut tidak tertutup melainkan dalam keadaan terbuka sedikit.

Ini aneh. Kenapa pintunya tidak dia tutup? Apa dia sengaja memancingku? Aomine menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin ketawan kan? Mungkin dia hanya lupa menutupnya saja. Pikir Aomine.

Kedua tangannya bersiaga, perlahan dirinya memasuki ruangan tersebut. Aomine tidak tau ruangan ini bisa disebut tempat tinggal atau bukan. Lihat saja ruangan tersebut hampir kosong tidak berisikan apapun, hanya ada lukisan yang tergeletak tidak teratur, cat air yang sebagian sudah mengering, dan sebuah kasur lipat, selebihnya kosong. Hanya ada satu kursi dan satu meja di ruangan tersebut. Mungkin pemilik kamar ini tidak pernah menerima tamu. Penerangan cahaya juga buruk. Semua jendela tertutup rapat oleh ordeng, hanya sedikit cahaya yang masuk dari celah ventilasi udara.

Tidak menemukan yang dicari, Aomine melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.

BRAAKKK

Sebuah suara cukup membuatnya sadar, kemungkinan targetnya bersembunyi berada di balik pintu yang kemungkinan kamar mandi. Belum sempat Aomine mendobrak pintu tersebut sebuah pukulan langsung muncul dari balik pintu.

DAAKK

Aomine menangkis pukulan tersebut. Seorang pemuda bersurai merah gelap keluar dari ruangan yang langsung menghadiahkan pukulan ke wajah Aomine. Tidak mau kalah, Aomine juga melancarkan tinjunya ke wajah sang pemuda.

BBUUUKK

Sang pemuda, dengan cepat menangkisnya dengan kedua tangannya. Namun sayang, tangan Aomine yang bebas langsung terayun memukul perut pemuda itu cukup kencang. "Ugh..Apa yang kau lakukan disini, polisi brengsek!" geram pemuda crimson itu.

Aomine melangkah mundur, mencari jarak aman. "Aku hanya ingin penjelasan darimu."

Bukannya menjawab, pemuda tersebut kembali melayangkan tinjunya kepada Aomine. Aomine yang memang sudah terlatih dalam menghadapi pertaruangan, dengan cepat menghindar dan meninju wajah pemuda tersebut hingga menabrak tembok, akibatnya darah mengalir begitu saja dari bibirnya yang robek.

"Ugh…"

"Aku tidak mau bermain kasar, tapi kau yang memaksa. Ikut dengan ku dan jelaskan tentang pembunuhan itu." Ucap Aomine tenang.

Sang pemuda hanya terdiam, memandang Aomine kesal sebelum menyunggingkan senyum mengejeknya. "Aku hanya seorang pelukis jalanan." Dan setelah kalimat tersebut keluar dari mulutnya, Aomine kembali melontarkan tinjunya. Namun kali ini tinju tersebut dapat di tahan oleh sang pemuda. Tangan Aomine yang lain kembali ingin melayangkan tinjunya, namun kembali di tahan. Kini kedua tangan Aomine tidak bisa berkutik karena sudah digenggam kencang oleh sang pemuda.

Senyuman kembali tersungging diwajahnya.

"Heh, kuat juga kau ternyata."

Tidak ada balasan.

Kini Aomine menatap pemuda di hadapannya bingung. Bola mata crimson yang sedari tadi memancarkan sinar kebencia kini mulai meredup seakan-akan dirinya sedang tidak berada di tubuhnya sendiri. Tapi senyuman mengejek itu masih tersungging jelas di wajahnya. Tidak mungkin kan, pemuda ini kesurupan?

"O-oy, kau tidak apa-apa?" tanya Aomine khawatir.

Tanpa Aomine sadari, pikiran sang pemuda tengah berkelana ke dalam dirinya.

[Seorang bocah kecil bersurai navy dan seorang gadis kecil bersurai merah muda tengah bermain di sebuah taman.

"Dai-chan! Bagaimana dengan penampilan ku hari ini? Cantik kan? Kaa-san kemarin membelikan ku baju baru ini loh." Aomine melirik sekilas. "Apaan tuh? Biasa aja ." Momoi menggerutu kesal.

"Satsuki kalau lagi main, pakai baju biasa aja dong. Jangan norak gitu."]

"K-kau punya teman bernama Momoi Satsuki." Ucap Pemuda itu tiba-tiba. Bola mata Aomine membulat.

["Kan biar orang-orang tau kalau Dai-chan punya teman secantik aku..hehe." goda gadis kecil tersebut.

Aomine mendengus "Nanti kalau diculik aku tidak tanggung ya." Momoi tersenyum lebar memandang Aomine.

"Kan aku punya kau. Aku pasti akan selalu aman kalau bersama Dai-chan. Iya kan?" Aomine tertegun melihat teman yang sudah dianggapnya sebagai adik itu berbicara seperti itu. "Ya, kau aman. Aku kan kuat. Pasti tidak ada yang berani mencelakaimu."]

"Ohh, kau sudah berjanji pada gadis itu untuk melindunginya ya. Ugh…" Darah tiba-tiba mengalir dari hidung sang pemuda. Wajah Aomine berubah pucat. Dirinya tidak bisa berkutik mendengar ucapan sang pemuda. Jangan dilanjutkan, aku mohon…

[Seorang pencopet yang tengah lari dari kejaran polisi, mengambil pistol dari balik punggungnya dan menodongkan asal ke arah pengunjung taman. "Jangan bergerak atau akan ku tembakan peluru ini asal!"

Aomine dan Momoi terdiam. Kejadian itu berlangsung cepat. Ketika beberapa polisi segera membekuk sang pencopet, suara tembakan bergema. Beberapa peluru asal yang di tembakan sang pencopet berhasil menelan dua korban, seorang ibu dan gadis kecil. Momoi Satsuki tertembak tepat di kepalanya ketika lari menjauh bersama Aomine. Kejadian itu begitu cepat, sampai Aomine tidak sadar kalau teman, sahabat, yang dia anggap adik itu telah tiada.]

Darah segar kembali mengalir dari hidung sang pemuda, dirinya mengabaikan begitu saja. Kini sang pemuda tengah menikmati pemandangan di hadapannya. Polisi brengsek yang sudah mengganggunya kini tengah berwajah pucat tidak bisa berkata apa-apa.

"Tapi kau gagal bukan?" ucap pemuda itu santai.

"Dia mati dengan mudahnya di hadapanmu. Dia bahkan tidak sempat mengucapkan kalimat perpisahan. Mungkin temanmu itu kini tengah mengutuk dirimu di alam sana. Hahaha."

Tubuh Aomine menegang. Ada sensasi tersetrum listrik mengalir di tubuhnya. Keringat dingin bercucuran deras. Ingatan lama yang dipendam kembali terbuka. "Hentikan.." gumamnya pelan.

"Hoo, menjadi polisi rupanya bukan keinginanmu ya? Kau hanya mencoba lari dari masa lalu mu dengan menjadi polisi kan?"

"Hentikan…" gumam Aomine lagi.

"Dengan menjadi polisi kau bisa menangkap banyak penjahat dan membuat kota ini aman bukan? Tapi_"

Aomine semakin pucat.

"Lagi-lagi kau gagal melindungi orang."

Aomine melepaskan gengaman sang pemuda dan mendorong keras pemuda itu hingga terjatuh. Bola matanya menatap sang pemuda horror. Bagaimana dia bisa tau?

Warna crimson yang sedari tadi kosong kini mulai bercahaya. Sang pemuda menatap Aomine tajam. Senyuman yang tadi terpampang, sekarang sudah tidak ada. Pemuda itu kembali seperti semula.

"Ba-Bagaimana kau bisa tau itu semua?" Aomine memandang pemuda yang tengah sibuk menghapus darah dari hidungnya. Perasaannya saja atau wajah pemuda itu terlihat agak pucat.

"Jika kau ku beri tau bagaimana aku bisa tau itu semua, apa kau akan percaya?" ucap pemuda itu.

Aomine berfikir sebentar sebelum mengangguk. "Sebelum itu, siapa namamu?"

"Taiga, Kagami Taiga." Kagami berusaha berdiri yang langsung oleng begitu saja kalau tidak di tangkap Aomine. "O-oy, kau tidak apa-apa?"

Kagami melepaskan pegangan Aomine dan mengangguk.

"Kalau aku ceritakan, apa kau akan berjanji untuk tidak memberi tau siapa pun?" tanya Kagami.

"Iya, aku janji."

"Siapa pun? Walaupun itu atasanmu?" tanya Kagami meyakinkan.

"Iya-iya, cepat ceritakan." Sanggah Aomine tidak sabar.

Kagami terdiam sebentar. Sudah lama dia tidak berinteraksi dengan orang-orang. Dan dirinya cukup kesulitan menghadapi polisi baru itu. Setelah meyakinkan kalau Aomine berkata jujur, Kagami mulai angkat bicara.

"Aku memiliki kemampuan yang bernama Psychometry. Aku bisa membaca masa lalu hanya dengan menyentuhnya. " jelas Kagami.

Aomine terdiam. Penjelasan seperti itu belum cukup baginya. Di zaman seperti ini, Aomine tidak percaya dengan hal seperti itu. Tapi itu cukup membuktikan kenapa dia bisa tau masa lalunya.

"Tunggu, itu belum bisa menjadikan bukti bagaimana kau tidak terlibat dengan kasus pembunuhan tersebut." Bantah Aomine.

Kagami menghela napas panjang. Kepalanya berdenyut nyeri.

"Akan ku tunjukan padamu sesuatu." ajak Kagami yang melangkah pergi meninggalkan ruangan menuju dalam lift. Tidak mau menunggu lama, Aomine mengikutinya dari belakang.

Di dalam lift suasana kembali hening. Lift tersebut tengah menuju ke lantai atas. "S-Siapa namamu?" tanya Kagami tiba-tiba.

"Huh?"

"Namamu?" tanya Kagami sekali lagi.

"Aomine Daiki, 21 tahun. Seorang polisi." Jelasnya. Lengkap sekali, batin Kagami.

"Berarti aku lebih muda dua tahun dari mu." Gumam Kagami.

Aomine mendelik kesal, mendengar nada penghinaan dari Kagami. Atau itu hanya perasaannya saja.

TIIINNNGGG

Pintu lift terbuka. Cukup sepi dengan pencerahan lampu yang seadanya. Dapat Aomine simpulkan, penghuni lantai atas hanya ada beberapa orang. Kagami terus melangkah tanpa mempedulikan Aomine yang asik memperhatikan sekitar.

"Kita sampai."

Polisi muda itu tertegun sebentar. Jadi dirinya di bawa ke lantai atas hanya untuk berdiri di atap rumah ini? Angin berhembus cukup kencang. Dapat dilihat awan hitam mulai bergerak dan berkumpul menjadi satu. "Tunggu! Apa hubungannya dengan semua ini?"

Kagami tersenyum tipis sebelum meletakan ibu jari dan telunjuknya di mulut dan setelah itu suara siulan yang cukup kencang terdengar. Tidak lama setelah itu, beberapa burung datang menghampirinya. Aomine memperhatikan.

"Kau tau burung-burung inilah yang memberitau ku." Seekor burung berhenti tepat di atas lengan Kagami.

Aomine bingung.

"Aku tau semua kejadian yang dilihat oleh burung-burung ini." jelas Kagami sembari mengelus puncuk kepala burung tersebut.

Aomine semakin bingung. "Aku tidak mengerti, jelaskan dengan lebih jelas."

"Seperti yang tadi aku bilang, aku bisa melihat masa lalu dengan menyentuh sesuatu." Aomine mengangguk. "Burung-burung ini sebelumnya telah melihat banyak kejadian yang terjadi. Kebetulan ketika aku menyentuh burung ini, aku melihat mayat seorang gadis yang diletakan begitu saja. Mereka ini bagaikan mata-mata ku."

"Jadi, kau tau pembunuhan itu dari penglihatan burung-burung yang terbang ini?" tiba-tiba Aomine menjadi susah untuk menelan ludahnya.

"Bisa dibilang begitu."

Penjelasan Kagami cukup membuat pertanyaan di kepalanya sedikit berkurang. Sekarang dia tau, kenapa lukisan di tembok beberapa waktu lalu bisa sangat detail bagaikan sang pelukis berada di atas langit, jawabannya karena burung yang sedang terbanglah yang melihatnya.

"Lalu kenapa kau tidak melaporkan hal itu kepada polisi?"

Kagami maju ke arah Aomine, membuat burung-burung kembali berterbangan. "Kau pikir mereka akan percaya dengan ku? Yang ada mereka akan memasukan ku ke dalam penjara atau membawa ku ke rumah sakit terdekat, Bodoh!"

"O-oy siapa yang kau sebut bodoh itu." Sanggah Aomine. Sial juga aku harus berurusan dengan orang yang tidak jelas ini.

Rasa kecewa terlintas begitu saja. Orang yang selama ini dia kira menjadi pembunuh, ternyata hanya masyarakat sipil biasa. Dia pikir dengan mencari pemuda crimson ini, dia bisa memasukan pembunuh itu ke dalam penjara. Dan sekarang dia malah dibuatnya semakin bingung karena omongan hal yang berbau supranatural seperti itu. Aku kira orang ini bisa membantuku. Tunggu! Dia bisa membantuku! Dia bilang dia bisa meliahat masa lalu denan memegang sesuatu. Jika aku berikan benda yang berhubungan dengan korban pasti dia bisa tau tersangkanya! Kau jenius Aomine. Senyuman terlukis di wajahnya.

"Hei, bagaimana kalau kau mem_"

DRRRTTT DRRRTTT

Aomine mengehentikan kalimatanya, segera mengambil handphonenya yang bergetar. Membuka satu pesan yang baru saja masuk.

From : Tetsu

Aomine-kun, mau sampai kapan kau bermain terus? Sebentar lagi hujan dan aku mempunyai urusan yang lain. Jika tidak menemuiku lima menit lagi, akan ku tinggal.

PS : Aku serius dengan ongkos jalannya Aomine-kun.

Perempatan siku-siku muncul di dahi Aomine, hampir saja dia membanting handphone tersebut menjadi berkeping-keping. Kenapa disaat seperti ini Kuroko harus mengirimnya pesan.

"Ada apa?" tanya Kagami santai.

"Sial! Aku harus pergi sekarang." Aomine langsung pergi meninggalkan Kagami. Baru beberapa langkah tidak jauh dari pemuda crimson itu, Aomine menoleh. "Besok aku akan datang menemui mu lagi. Dan jangan berusaha kabur."

Kagami tersenyum tipis, setelah sekian lama dia tidak berbicara dengan orang asing akhirnya ada seorang polisi yang Aho berinteraksi dengannya.


"Geez, Testu! kau menggangguku di saat yang kurang tepat." Dengus Aomine.

"Benarkah? Kalau begitu aku minta maaf, Aomine-kun."

Kau tidak terlihat benar-benar minta maaf Tetsu. Aomine memandang Kuroko kesal. "Setidaknya aku mendapatkan sesuatu yang baik, Tetsu."

"Apa itu, Aomine-kun?"

"Rahasia."

Pertemuan yang memang takdir atau kebetulan akan membawa pelaku ke dalam scenario yang tak terduga. Dan saat itulah, hal yang tak terduga akan segera dimulai.

Lanjut ke chapter berikutnya…


Balasan Riview

.5872682 : thanks ya riviewnya.. Ini udah di lanjut :)

Hoshikasa : terima kasih riviewnya. Engga tau kenapa Aomine kalau begitu keren..hehe Ini udah dilanjutin :)

Leavi mau ngucapin terima kasih yang sudah bersedia baca, riview, fav atau follow :) *bow*

Dan maaf karena telat update nya..hehe

Jika berkenan, bisa tinggalkan riviewnya :D

Review, please