Author Note : Maaf update kelamaan. Ini dia chapter 3 nya.

Tanda […] berarti penglihatan Kagami ketika menyentuh sesuatu.


Psychometry

All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi

Warning

OOC, typo, sho-ai, ada OC lewat doang dan lain sebagainya


Chapter 3

"Pergilah! Aku tidak pernah punya anak seperti kau!" seorang wanita paruh baya membentak anaknya di pinggir jalan, membuat pejalan kaki menoleh singkat ke asal suara.

"M-maaf aku tidak akan melakukannya lagi." Pemuda berusia 16 tahun yang masih mengenakan seragam sekolah itu berusaha membujuk ibunya.

"Tidak! Kau sama saja seperti lelaki itu! Kalian berdua adalah monster!"bentakan sang ibu semakin kencang. Pemuda yang ada di hadapannya tertunduk, wajahnya tertutup oleh surai merah gelapnya.

"Jangan temui aku lagi!"lanjutnya.

Pemuda itu mencoba meraih sang ibu yang langsung ditepis kasar. "Jangan coba menyentuh ku! Dasar monster!" desisnya kasar berlalu pergi.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba sang ibu tersandung kerikil yang ada di jalan tersebut. Keseimbangannya oleng dan hendak jatuh ke jalan raya. Sang anak tidak tinggal diam. Dia langsung berlari menahan sang ibu agar tidak terjatuh. Ketika tangan sang anak memegang tangan ibunya, mencoba untuk menahannya agar tidak terjatuh, sebuah penglihatan muncul di kepalanya.

[Ibunya yang membentak ayahnya, Ibunya yang berjalan dengan pria lain, dan Ibunya yang entah kenapa melakukan hal yang tidak seharusnya.]

"Bu…pria itu?"

Mendengar anaknya menggumamkan kata yang tidak ingin dia ketahui, buru-buru sang ibu menepis tangannya kasar dan langsung melayangkan tamparan di pipinya.

"Lancang sekali kau!"

GREB

Pemuda itu menggenggam bahu sang ibu dengan kuat meminta penjelasan. "Bu, aku mohon. Apakah pertengkaran ibu dengan ayah karena kesalahan ibu? Apa benar sampai ayah meninggal ibu tetap menyakiti ayah?"

Sang ibu gemetar ketakutan, wajahnya pucat. Dirinya berusaha untuk lepas dari cengkraman sang anak "L-Lepaskan!"Cengkraman yang kuat itu akhirnya terlepas juga. Sang ibu menyebrangi jalan dengan gegabah. Pemuda yang menyadari ada truk yang tengah melintas, segera menghampiri sang ibu.

TIIIIINNNNN

"…." Pemuda itu mencoba menggapai sang ibu. Suara klakson truk yang sangat kencang menyadarkan sang ibu atas kecerobohannya. Melihat anaknya mengulurkan tangan, wajahnya pucat.

Tangan itu selalu membawa masalah.

Tangan itu tidak boleh menyentuhnya.

Tanga itu adalah kutukan.

"Jangan menyentuh ku, dasar monster!"

TIIIIINNNN! BBRRAAAKKK!

Kagami terbangun dengan wajah yang sangat kacau. Matanya menatap shock kedua tangannya, hembusan napasnya tidak teratur, dan keringat membasahi pakaiannya.

Dia bermimpi.

Mimpi yang bukan sekedar menjadi bunga dalam tidur, melainkan kejadian nyata yang pernah mengisi hidupnya. Kenangan yang membuat dirinya dihinggapi penyesalan seumur hidup.

Karena dirinya, sang ibu meninggal.

Ya, Kagami adalah seorang pembunuh. Setidaknya itulah yang berada di dalam pikirannya selama ini. Dia telah membunuhnya. Seandainya saat itu dia tidak menghampiri sang ibu, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.

"Mimpi itu lagi." Gumamnya.

Kagami memperhatikan jendela yang tertutup oleh ordeng. Cahaya matahari masuk ke celah-celah ordeng itu. "Sudah pagi?". Tatapannya dialihkan memandang setumpukan lukisan yang berantakan akibat kejadian kemarin.

Pertengkarannya dengan seorang polisi yang baru dikenalnya. Seketika senyuman tipis terlukis di wajahnya, melupakan mimpi yang baru saja terjadi. Disatu sisi dia senang ada orang yang ingin berbicara dengannya, disatu sisi lagi dia takut untuk bertemu dengan orang.

"Sepertinya ini tidak terlalu buruk."

xxxxx

"Ini data dari korban yang beberapa jam lalu ditemukan." Imayoshi memberikan salinan data hasil penyelidikan kepada sang kapten. "Elena Akira, yang dua hari lalu diberitakan menghilang, ditemukan warga di dekat sungai dalam keadaan tidak bernyawa. Sepertinya korban meninggal akibat dicekik oleh pelaku." Lanjutnya.

Sang kapten menghela napas. Beberapa menit yang lalu mereka baru saja sampai di gedung kepolisian setelah menyelidiki tempat kejadian. Dan sampai saat ini kepolisian masih belum menemukan apapun.

Deringan telepon saling sahut menyahut tiada hentinya, menanyakan kasus yang belum terselesaikan ini. Masyarakat yang khawatir menyayangkan pihak polisi yang belum juga menemukan si pelaku.

"Kapten, apa kau melihat Aomine?" tanya Haizaki penasaran.

"Tidak, akhir-akhir ini aku jarang melihatnya berkeliaran di gedung ini." jawabnya.

"Apa dia menyerah?" gumam Haizaki yang masih dapat di dengar.

Sakurai yang tau tentang Aomine, datang menghampiri mereka. "Ah, maafkan aku mengganggu. Akhir-akhir ini aku melihat Aomine-san mondar mandir ke ruang informasi sebelum pergi entah kemana. Maafkan aku! Aku hanya bisa memberitahu hal itu. Maafkan aku!" jelasnya.

"Hmm, kalau begitu dia pasti sedang berkeliaran di luar mencari informasi. Kau juga tidak boleh kalah Haizaki." Ucap sang kapten menggoda.

"Cih, siapa juga yang akan kalah dengan orang seperti dia." Balas Haizaki kesal.

xxxxx

Aomine berdiri di hadapan seorang pemuda berwajah datar, yang tengah menikmati segelas vanilla shake hasil dari traktirannya. Dirinya sudah mencapai batasan untuk menyogok sang pemuda agar memenuhi permintaanya.

"Jadi kau akan membantu ku lagi kan, Tetsu?" tanya Aomine was-was.

"Tergantung keadaan, Aomine-kun." Jawabnya datar.

"Gyaah! Aku sudah mentraktirmu segelas besar minuman yang namanya entah apa itu Tetsu! Itu sudah mengurangi isi dompetku." Balas Aomine kesal.

"Namanya Vanilla shake, Aomine-kun."

"Ya..ya terserah namanya apa itu. Yang penting kau mau mengatar ku lagi."

"Ongkos jalannya?" tanyanya datar tanpa rasa bersalah.

Aomine menepuk jidat melihat tingkah laku temannya. "Akan ku belikan kau vanilla shake, seminggu penuh! Puas?!"

Kuroko menggangguk bahagia, walaupun wajahnya masih tetap datar dengan senyumnya yang juga datar.

"Lagipula, aku tidak bisa terus diam setelah korban lain berjatuhan." Gumam Aomine pelan namun meyakinkan.

Kuroko menatap temannya datar. "Baiklah, mau ku antar kau kemana Aomine-kun?"

"Rumah susun yang kemarin."

xxxxx

Kagami bukan tipe yang mengharapkan seseorang mengetuk pintunya, datang berkunjung. Tapi, pikiran itu sekarang dia tepis jauh-jauh. Entah kenapa sekarang dia mengharapkan kedatangan Aomine. Bukan bermaksud apa-apa. Mendengar seseorang yang menggendor pintu tempat tinggal mu dengan kencang sambil berteriak untuk keluar pasti membuat siapa pun takut bukan?

Itulah yang sekarang dialami Kagami. Entah apa masalahnya, beberapa hari ini dua sampai tiga orang sering mengunjungi dirinya, memaksa meninggalkan tempat ini. Perasaan dirinya tidak telat membayar sewaan. Atau sering membuat masalah. Tapi kenapa dirinya disuruh pindah?

CKLEEKK

"Ada apa kau mencari ku?" tanya Kagami tenang.

Tiga orang pria berdiri sangar di depan pintu Kagami. "Cepat bereskan barang-barang mu dan pergi dari tempat ini." sahut seorang pria bertubuh kekar.

"Maaf, tapi sepertinya Anda salah kamar. Aku membayar tempat ini dan aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan." Kagami masih mencoba untuk tenang. Dia tidak mau berurusan dengan orang lain.

"Maaf saja, tapi kami membayar lebih besar untuk tempat ini. Silahkan tanya pada owner."

"Heh? Kalian tidak bisa melakukan itu! Aku yang lebih berhak dengan tempat ini! Kalian kira aku akan menyerah begitu saja?" sahut Kagami mengejek.

"Sebaiknya kau serahkan saja bocah, kalau kau tidak ingin menyesal."

"Aku tidak mau." Balas Kagami.

Enak saja. Kalian pikir aku akan menyerahkannya begitu saja.

"Kurang ajar!" pria itu melayangkan tinjunya ke wajah Kagami. Kagami yang tidak siap, menerimanya begitu saja hingga dirinya terjatuh.

"Hahaha! Rasakan itu."

Sabar, Kagami. Mereka tidak sendiri, mereka ada tiga orang dan kau sendiri!

Pikiran-pikiran kecil terngiang di kepalanya. Tapi, namanya bukan Kagami kalau mau menerima pukulan orang lain begitu saja. Apalagi kalau dirinya tidak bersalah.

BUGGHH

Kagami melayangkan tinjunya ke perut pria tersebut. "Cih, jangan pikir kau bisa mengusirku begitu saja." Lawan Kagami sembari mengelap darah yang keluar dari bibirnya.

Kedua pria yang melihat temannya tersungkur tidak tinggal diam. Pria botak langsung menendang Kagami dengan kaki kananya.

DAKK

Kagami terdorong ke dalam kamarnya, walaupun bisa menangkis kaki tersebut. Sedangkan pria berambut panjang satunya lagi, bersiap melayangkan tinjunya tepat ke wajah Kagami. Refleks Kagami menghindar. Kalau saja Kagami tidak cekatan, mungkin dia sudah pingsan saat itu juga.

Tidak menunggu lama, sebuah tinju kembali dilayangkan oleh pria berambut panjang tersebut. "Rasakan ini!"

Kagami menggeser badannya ke samping sebelum menangkap tangan pria tersebut, dan menarik tubuh pelaku mendekati dirinya sebelum kembali menendang perut pelaku dengan dengkul kakinya.

BUGHH

"Aaakkhh.." ringis pria tersebut.

Tanpa Kagami sadari, si pria botak langsung mengunci kedua tangannya di belakang punggung sembari berseringai puas. "Kau tidak bisa bergerak lagi."

Cih!

Kagami kini terkunci. Dua orang pria yang tadi berhasil dia lumpuhkan kini bangkit dan menghampirinya.

"Karena kami orang baik, kami tidak akan membunuhmu. Tapi_"

BUGHH

"_kami hanya memberikan peringatan. Aku mau nanti malam ruangan ini sudah kosong dan aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."

Pukulan kembali dilayangkan ke perut Kagami, cukup kencang sampai Kagami tersungkur tidak berdaya. Penglihatannya memudar. Dirinya bisa melihat samar ketiga orang itu pergi meninggalkan dirinya begitu saja, sebelum warna hitam memenuhi penglihatannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Baiklah, seperti biasa kau menunggu ku disini." Ucap Aomine yang baru saja tiba di depan rumah susun tersebut.

Kuroko tidak langsung menjawab, dirinya ikut keluar dari mobil van hitamnya. "Aku tidak mau menunggu seperti kemarin, Aomine-kun."

"Eh?"

"Aku akan ikut dengan mu." Ucapnya datar namun terdengar nada paksaan di kalimatnya.

"T-Tidak boleh, dia itu orangnya aneh Tetsu. Pasti kau tidak akan menyukainya." Balas Aomine panik.

Bagaimana ini? aku sudah berjanji pada Kagami untuk tidak memberitahukannya pada siapapun.

"Kalau begitu, aku akan meninggalkan mu disini. Dan kau harus mentraktir ku apapun yang aku mau setahun penuh. Bagaimana, Aomine-kun?" tanya Kuroko.

"Eh?! Persedian uang untuk majalah Mai-chan ku akan habis! Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Tetsu." Raung Aomine.

"Aku ikut atau majalah mai-chan Aomine-kun tidak kebeli?"

Beberapa detik terlewat.

"Baiklah, kau menang."

Kuroko tersenyum tipis merayakan kemenangannya. Mereka berdua memasuki rumah susun tersebut, meninggalkan mobil hitam yang telah terpakir.

Dalam perjalanan menuju kamar Kagami, mereka berdua melihat tiga orang pria jalan berlawanan arah dengan mereka. Tidak mau ambil masalah, keduanya sama-sama tidak main mata dengan orang-orang terebut.

"Kau yakin kamarnya ini, Aomine-kun?" tanya Kuroko memastikan.

"Cih, kau meremehkan ingatan ku? Begini-begini aku seorang polisi tau." Balas Aomine sewot.

Perasaan Kuroko hanya mencoba memastikan deh, tidak bermaksud meledek. Pemuda berwajah datar itu hanya menghela napas. "Tapi kenapa pintu kamarnya terbuka dikit seperti ini?"

Aomine juga menyadari keanehan tersebut. Hal ini sama seperti kejadian kemarin. Tapi kalau kemarin alasannya karena dirinya sadar kalau sedang diikuti. Apa Kagami sedang kedatangan tamu? Tidak, tidak. Mengingat kamarnya yang berantakan itu, hampir dipastikan kalau Kagami jarang menerima seorang tamu.

TOK TOK TOK

"Oi! Kagami! Kau ada di dalam?"

Tidak ada jawaban.

Aomine dan Kuroko saling memandang bingung.

"Kagami, ini aku Aomine! Orang yang kemarin menemui mu." Sahut Aomine kembali.

Masih tidak ada jawaban.

"Sebaikanya kita langsung masuk saja ke dalam Aomine-kun. Sepertinya temanmu itu tidak mendengarnya." Saran Kuroko.

Dengan ragu Aomine membuka pintu kamar itu lebih lebar sebelum masuk ke ruangan tersebut, diikuti Kuroko. "Kagami! Aku masuk."

Kuroko terlebih dulu masuk ke dalam ruangan tersebut, sedangkan polisi muda itu tengah menutup pintu. Bola mata berwarna baby blue itu tersentak kaget, ketika melihat seseorang tergeletak tidak berdaya.

"Aomine-kun!"

"Ya? Kenapa kau memanggil ku kencang seperti itu Te_Oh, shit! Kagami!" Bola mata Aomine membulat melihat Kagami tergeletak begitu saja. Dengan cepat dihampirinya Kagami, sebelum dilihatnya keadaan pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu.

Luka lebam menghiasi pipinya dan darah segar mengalir dari mulutnya. Aomine yakin pasti bibirnya robek akibat pukulan telak. "Kagami! Oi, Kagami!" Aomine menepuk pelan pipi Kagami berharap sang pemuda sadar. Kuroko yang berada di samping Kagami dapat melihat kilat khawatir dari bola mata temannya itu.

"Kagami, bangunlah." Panggil Aomine masih mencoba membangunkan. Ada perasaan kesal sekaligus khawatir melihat pemuda yang baru dikenalnya itu terluka.

"Nng, ukhh."

"Kagami? Oh Tuhan! Syukurlah kau baik-baik saja."

Kagami mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba untuk menjernihkan penglihatannya. Baru ingin membuka mulutnya, rasa ngilu langsung menyerangnya. "S-siapa?" tanyanya lemas.

"Tenang saja, aku Aomine. Kemarin kita sudah bertemu." Jelas Aomine.

Kagami masih mencoba untuk memeperjelas penglihatannya. Surai baby blue yang belum pernah dia lihat, membuatnya langsung terlonjak kaget bangun dari tidurnya. "Siapa kau?!" tanyanya panik.

"H-hei, Kagami tenanglah. Dia temanku, Kuroko Tetsuya." Sahut Aomine cepat.

Kagami menatap tajam Aomine meminta penjelasan. Seakan tau apa yang dipikirkan Kagami, buru-buru polisi muda itu menenangkan Kagami.

"Aku tau aku salah, tapi aku berani sumpah padamu kalau Tetsu tidak akan membocorkan rahasia mu pada siapapun." Jelas Aomine. Kagami masih menatap Aomine kesal.

Kuroko yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Sebelumnya perkenalkan namaku Kuroko Tetsuya. Maafkan aku kalau aku datang tiba-tiba seperti ini, ehmm…"

"Kagami Taiga." Sahut Kagami.

"Kagami-kun. Aku yang memaksa Aomine-kun untuk ikut menemui mu. Jadi sekali lagi aku minta maaf."

Keadaan menjadi hening. Entah kenapa Kagami jadi merasa tidak enak mendapat permohonan maaf dari orang yang baru dikenalnya. Lagipula ini bukan salah Kuroko.

"Hah, baiklah. Maafkan aku juga yang tiba-tiba berteriak seperti itu." Kagami menghampiri Kuroko sembari mengulurkan tangannya.

"Salam kenal."

Awalnya Kuroko terdiam sebentar sebelum menerima uluran tangan Kagami. "Salam kenal juga, Kagami-kun."

Seketika itu juga, pikiran Kagami sudah masuk ke dalam diri Kuroko.

["Sensei, Ken jahat padaku nih?" seorang bocah kecil memeluk Kuroko erat meminta pertolongan]

[Kuroko yang tengah berjalan sendirian memungut seekor anjing kecil. "Mulai sekarang namamu Nigou."]

[Aomine dan Kuroko yang pulang bersama setelah latihan basket.]

Kuroko cukup bingung melihat Kagami tidak juga melepaskan tangannya. "Umm, Kagami-kun?"

Panggilan Kuroko berhasil menyadarkan Kagami. "Ah maaf. Aku hanya memastikan sesuatu."

Kuroko menatap Kagami meminta penjelasan lebih. Orang yang dipandang hanya diam mengalihkan pandangannya kepada Aomine.

"Aku percaya padanya." Kagami bingung melihat Aomine yang menatapnya dengan intens. "Apa lihat-lihat?" tanya Kagami sembari mengelus pipinya yang agak bengkak.

Aomine tidak membalas langsung pertanyaan Kagami, dirinya diam memandang luka lebam yang ada di pipi pemuda tersebut. "Apa yang terjadi?"

"Bukan masalah serius, hanya aku yang ceroboh karena tidak melihat bangku lalu terjatuh." Jelas Kagami asal.

"Kau tidak pandai berbohong Bakagami. Kau pikir orang terjatuh itu bisa menyebabkan pipinya bengkak? Setidaknya berilah alasan yang masuk akal." Ejek Aomine.

Kagami mendengus kesal. "Ba-Bakagami? Enak saja kau memberiku nama seperti itu! Ini bukan masalah mu Ahomine."

Aho?

Kuroko berdiri mematung tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sejauh ini yang dapat dia tangkap adalah hubungan keduanya sangat akrab. Tapi, baru kali ini Kuroko bertemu dengan teman Aomine yang bernama Kagami ini. Bukannya sok tau, tapi setidaknya dia mengenal beberapa teman Aomine.

"Maaf, bisakah kalian tidak mengabaikan ku?" sahut Kuroko memotong pertengkaran kecil keduanya.

Baik Aomine dan Kagami saling memandang sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke Kuroko.

"Ah! Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, Kuroko." Ucap Kagami.

Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Geez, bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Kagami. Sebagai seorang polisi aku tidak bisa diam saja melihat orang yang terluka." Oceh Aomine.

Kuroko tersenyum tipis memandang Aomine.

"Aku juga tidak tau sebenarnya apa masalah orang-orang itu. Tiba-tiba saja menyuruhku meninggalkan ruangan ini, lalu karna aku tidak terima jadinya seperti ini." jelas Kagami acuh. "Dan mereka mengancamku untuk meninggalkan ruangan malam ini juga." Lanjutnya.

Baik Aomine maupun Kuroko, sama-sama terdiam. Kagami yang menyadari hal itu, mengutuk dirinya sendiri karena sudah berbicara bodoh.

"A..ah, lupakan saja apa yang tadi kubicarakan. Ngomong-ngomong ada perlu apa kalian ke sini?"

Aomine mendudukan dirinya di lantai, diikuti yang lainnya. Bola mata Aomine memandang Kagami serius. "Sebelum itu, bolehkah aku menceritakan dirimu pada Tetsu dulu?" tanya Aomine.

Kagami terdiam sebentar sebelum mengangguk mengizinkan. Aomine pun menceritakan semuanya pada Kuroko dari awal pertemuan mereka dan tentang kemampuan Kagami.

"Jadi itu sebabnya kau menggenggam tangan ku lama, Kagami-kun?" tanya Kuroko memastikan.

"Ah ya, aku membaca masa lalu mu. Maaf." Kagami bergumam kecil merasa bersalah.

"Apa yang kau lihat?"

"Hanya kau yang bekerja sebagai guru di taman kanak-kanak, masa lalu mu dengan Aomine dan anjing bernama nigou itu."

Kuroko memandang Kagami takjub, walau tidak terlihat dari ekspresi wajahnya. Namun pancaran matanya berbeda. Sinar tidak percaya terlihat jelas dari sorot matanya.

Merasa dipandang seperti itu membuat Kagami risih. Kehidupannya yang selama ini, selalu dijalaninya dengan kesendirian. Karena dirinya takut membuat orang susah karena kemampuannya. "Umm, bisa langsung ke intinya saja?"

Aomine tersentak. "Ah, jadi begini. Aku berfikir kau mungkin bisa membantuku."

"Maksudmu?"

"Aku mau kau membantuku untuk memecahkan kasus penculikan anak akhir-akhir ini." ucapnya mantap.

Bola mata Kagami membulat. "Aku tidak mau." Jawabnya cepat.

"K-kenapa? Bukankah dengan kemampuan mu itu, kau bisa membantu banyak orang Kagami?" Tanya Aomine.

"Aku tidak mau membantu mu dalam hal itu, Aomine." Ucap Kagami tajam.

"Kenapa? Kau takut untuk bertemu dengan polisi lainnya, hah? Bukankah aku sudah berjanji padamu, Kagami? Aku tidak akan melakukan hal itu."

"Bukan itu masalahnya." Gumam Kagami.

"Lalu apa? Jangan bilang kau tidak peduli dengan bocah-bocah yang diculik itu." Sahut Aomine yang mulai emosi.

Kagami diam.

"Jawab aku, Kagami!"

Aomine tau tindakannya saat ini tidak benar. Seharusnya dia tidak membawa Kagami masuk lebih dalam, ke dalam masalahnya sendiri. Seharusnya dia tidak memaksakan kehendak pemuda bersurai merah ini. Tapi…

"Psychometry, aku tidak peduli kau itu paranormal atau apalah, tapi aku tau kau tidak berbohong dengan semuanya. Oi, Kagami. Kau tau? Aku iri loh dengan kemampuanmu itu." Kagami menatap Aomine tidak percaya.

Kuroko melirik Aomine, diam mengikuti alur pembicaraan.

"Jika bisa, aku ingin membeli kemampuan mu. Aku ingin membeli kemampuanmu untuk mempermudah pekerjaan ku. Pasti kalau aku mempunyai kekuatan seperti itu, aku tidak akan kerepotan seperti sekarang ini." Aomine menghela napas panjang.

"Tapi, kau tidak tau apa-apa tentang semuanya. Kau pikir aku senang punya kemampuan seperti ini? Kau pikir aku bahagia? Apa kau tau, Aomine. Karena kemampuan ku ini, ibu ku meninggal." Jelas Kagami sinis.

Aomine dan Kuroko kaget dengan apa yang baru saja Kagami bicarakan. Keduanya sama-sama bingung sekaligus penasaran.

"A-apa maksudmu?" tanya Aomine.

"Gara-gara tangan ini, ibuku tidak mau menyentuhku. Karena hal itu, dia sampai tidak relanya untuk menyentuh tangan ku, walaupun nyawanya saat itu sedang dalam bahaya." Tubuh Kagami bergetar, wajahnya pucat mengingat masa lalunya itu.

"Saat itu aku habis bertengkar dengan ibuku, aku tidak sengaja menyentuh tangannya dan aku melihat semuanya. Dia marah dan berlari tanpa tau truk sedang menuju ke arahnya. Aku sudah membunuhnya! Dan itu karena kemampuan ku ini!" lanjutnya.

Kuroko mengelus pundak Kagami pelan mencoba menenangkan sang pemuda. Keadaan menjadi hening sesaat, sebelum Aomine memulai pembicaraan kembali.

"Hah? Jangan terlalu melodramatis, Kagami. Sampai kapan kau akan hidup dalam penyesalan seperti itu? Kau sudah menyia-nyiakan hidupmu dalam ketepurukan. Bocah seperti mu pasti tidak punya teman." sahut Aomine sarkastis.

"Aomine-kun!" Kuroko menatap Aomine tajam, menyuruh berhenti.

"Kenapa Tetsu? Biarkan saja bocah itu. Biar dia sadar apa kesalahannya. Keterpurukannya itu membuatnya buta dengan kemampuan yang telah diberikan Tuhan itu. Jika dia sadar, seharusnya dia sangat bersyukur dengan kemampuannya itu. Pasti saat ini dia sudah banyak membantu orang." Kagami terbelalak.

Aomine sadar dirinya egois. Egois karena tidak peduli dengan perasaan Kagami. Egois karena menginginkan bantuan dari pemuda itu. Masa bodo dengan anggapan konyolnya itu. Tapi, melihat pemuda di hadapannya terpuruk seperti itu membuatnya jengkel. Aomine bukan orang yang lembut. Jadi untuk menyadarkan si pemuda, dia harus mencari caranya sendiri. Terserah Kagami mau beranggapan apa tentangnya.

"Oi, yang terjadi pada ibumu itu bukan salahmu. Itu hanya kecelakaan. Mau sampai kapan kau hidup dalam masa lalu? Aku yakin pasti ibumu bangga padamu." Ucap Aomine panjang lebar, menjelaskan sekaligus menyindir.

Saat ini di pikiran Kagami sedang berkicamuk antara ego dan perkataan Aomine. Dia tau apa yang dikatakan Aomine ada benarnya. Tapi, bukan berarti dia bisa langsung menerimanya begitu saja.

"Cih, kau pikir semudah itu, hah?!" teriak Kagami kesal dan mendadak suara ketukan pintu terdengar.

TOK! TOK! TOK!

Kuroko dengan cepat bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu. "Biar aku yang membukakan."

Sesaat setelah Kuroko membukakan pintu, tiga orang prialah yang terlihat. "Oh ada tamu rupanya, bisa bertemu dengan yang punya?" tanya salah satu pria acuh.

"Tunggu sebentar." Jawab Kuroko tenang sembari menutup pintunya kembali.

"Siapa?" tanya Kagami was-was.

"Tiga orang pria, yang satu botak, berambut panjang, dan berwajah sangar. Mereka mencari mu, Kagami-kun." Jelas Kuroko.

"Cih! Itu mereka. Ngapain mereka kesini, padahal ini belum malam." Kagami bangkit menghampiri pintu dan langsung membukanya kasar.

"Ada apa? Aku sedang sibuk saat ini." sahut Kagami kesal.

"Sekarang juga kau pergi dari ruangan ini. Kami butuh tempat ini sekarang juga."

"Bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak mau. Sebaiknya kalian pulang." Balas Kagami.

"Kau tau kan, peringatan kali ini akan berakibat fatal kalau kau tidak menyetujuinya." Sebuah tinju kembali melayang ke wajah Kagami, yang langsung ditahan oleh Aomine.

"Bocah ini bakal meninggalkan tempat ini, siang ini juga. Jadi kalian bisa pergi sekarang." Timpal Aomine. Bola matanya menatap tajam ketiga pria itu, menahan untuk tidak memukul.

"A-apa yang kau bicarakan Aomine?! Ini te_" ucapan Kagami terputus oleh bekapan tangan Aomine di mulutnya.

"Bisa ku pegang perkataan mu?"

"Ya." Balas Aomine.

Dan setelahnya, ketiga orang itu pergi. Aomine melepaskan bekapannya yang langsung dihadiahi pukulan Kagami dan ocehannya. Tidak mau ambil pusing, Aomine membiarkannya.

"Aku tinggal dimana kalau tempat ini diserahkan ke orang itu, hah?" tanya Kagami sewot.

"Kau tinggal di apartemen ku mulai saat ini." balas Aomine tenang.

Baik Kagami maupun Kuroko sama-sama kaget.

xxxxx

Malam harinya di apartemen Aomine, suasana berubah canggung. Setelah mengantar Aomine dan Kagami, Kuroko kembali pulang dengan alasan masih banyak pekerjaan yang menunggu.

"Jadi, karena di sini hanya ada satu kamar tidur, aku akan tidur di sofa dan kau di kamar ku." Ucap Aomine.

"Lebih baik aku yang di sofa." Balas Kagami pelan.

Aomine memandang Kagami lucu. "Disini aku yang berkuasa, jadi ikuti saja dan jangan membantah. Tenang, aku tidak akan melakukan hal aneh padamu kok."

Dan seketika itu juga Kagami langsung memandang horror Aomine, yang dibalas dengan tawa lebar polisi muda tersebut.

"Tidurlah, kau pasti sangat lelah." Ucap Aomine halus disertai senyuman. Bukan senyuman kasar atau mengejek yang sering dilontarkannya, melainkan senyuman tulus yang terpampang di wajahnya. Kagami terdiam sebentar sebelum mengangguk mengiyakan.

.

.

.

.

.

Sudah jam sebelas malam, Kagami belum juga tertidur. Mungkin karena masih asing dengan kamar barunya ini.

Perasaan tidak enak pasti ada. Tapi mau gimana lagi, yang punya kamar ini sangat keras kepala. Membantahnya hanya akan membuat pembicaraan semakin panjang dan Kagami lagi malas melakukan itu. Tiba-tiba dirinya penasaran apakah Aomine sudah tidur atau belum.

Dibukanya pintu kamar dan dilihat Aomine tengah tertidur di sofa. Wajahnya terlihat gelisah, pasti dia tengah mimpi buruk. Penasaran, Kagamipun menggenggam tangannya. Dapat dia lihat kalau Aomine tengah bermimpi tentang seorang gadis yang diketahui sebagai sahabatnya, bahkan dia anggap sebagai adiknya, Momoi Satsuki. Kejadian masa lalu yang membuatnya menyesal.

Melihat gelagat Aomine yang akan bangun, Kagami dengan cepat melepaskan genggamannya.

"Satsuki!" ucap Aomine kaget sekaligus terbangun dari tidurnya. Napasnya tidak teratur dan keringat membasahi tubuhnya. Sadar dengan keberadaan Kagami, Aomine langsung mengatur napasnya kembali. "Aku baru mimpi bertemu Mai-chan."

"Aku tau." Balas Kagami cepat.

Keadaan menjadi canggung seketika.

"M-maaf." Gumam Aomine.

Kagami menaikan alisnya bingung. "…."

"Maaf karena sudah memarahimu dan mengataimu. Maaf juga, karena sudah seenaknya menyuruhmu tinggal di apartemen ku." Lanjutnya.

Kagami menatap Aomine ragu. Ternyata orang ini bisa juga minta maaf. Dia kira, Aomine itu sangat mementingkan dirinya sendiri.

"Sudahlah, lupakan. Perkataan mu ada benarnya juga, aku terlalu terhanyut dalam masa lalu sehingga aku menutup diriku dan tidak memanfaatkan kemampuan ku." Jelas Kagami.

Tangan Aomine refleks mengelus surai merah gelap Kagami sembari tersenyum. "Terima kasih." Sontak Kagami yang diperlakukan seperti itu kaget dan memandang Aomine malu dengan wajah memerah. Aomine yang sadar, langsung menarik tangannya kembali.

"B-bagaimana aku bisa membantumu?" tanya Kagami ragu.

"Hah?"

"Se-setelah ku pikir-pikir, tidak ada salahnya aku membantumu." Gumam Kagami.

Seketika itu juga senyum merekah di wajah Aomine sebelum memeluk pemuda itu senang. Kagami hanya terbengong, "Beneran mau membantu ku?" tanya Aomine tidak percaya.

Kagami hanya mengangguk.

"Yosh, baiklah. Mulai besok kau akan membantu ku." Balas Aomine senang.

Tanpa sadar Kagami tersenyum merasa senang dengan tingkah Aomine. Setelah sekian lama, akhirnya ada orang yang mau menerimanya dan yang membutuhkannya. "Terima kasih." Gumamnya pelan tanpa Aomine sadari.

Lanjut ke chapter berikutnya…


Balasan riview

Syalala uyee : Ah! Maaf baru update.. ini chapter 3 nya. Terima kasih sudah riview :)

Rarateetsuuyaa : Terima kasih :) Tetsu ikutan kok, tapi enggak terlalu peran penting. Lihat chapter selanjutnya saja ya

KuroAmalia : Arigatou :D Hmm, silahkan Kuro bayangkan aja.. Maaf baru update, ini chapter 3 nya.

Leavi mo ngucapin thank you yang sudah follow, fav, riview atau silent rider yang sudah membaca *bow*

Maaf update lama (_ _)v

Disini udah ketawan kan masa lalu Kagami, dan chapter berikutnya akan masuk ke pencarian pelakunya. Akhir kata, Riview, please?