Author Note : Yosh, bisa update chapter 4. Laevi gak nyangka ada yang riview :') Semoga chapter ini tidak mengecewakan. Maaf bila penjelasannya kurang bagus.
Tanda […] berarti penglihatan Kagami ketika menyentuh sesuatu.
Psychometry
All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi
Warning
OOC, typo, sho-ai, ada OC lewat doang dan lain sebagainya
Chapter 4
"Aku akan pergi ke kantor polisi dulu." Ucap Aomine yang sudah bersiap di depan pintu. "Oh ya, kau punya handphone Kagami?" lanjutnya.
Kagami yang baru saja bangun tidur, menguap sesaat sebelum menjawabnya. "Aku punya. Kenapa?" jawabnya malas.
"Bisa ku pinjam sebentar?"
Kagami langsung menyipitkan matanya, menatap Aomine. "Untuk apa?"
Aomine yang ditatap seperti itu hanya menghela napas bosan. "Bisakah kau tidak menatap ku seperti itu? Kau membuat ku terlihat seperti penjahat dibandingkan seorang polisi."
Kagami mendengus kesal. Dengan terpakasa memberikan handphonenya. Aomine langsung mengambilnya, dan mengetikan sederet angka dengan cepat sebelum menekan tombol hijau, mencoba menelepon seseorang.
KRIIINNG KRRIINNG
Suara handphone yang Kagami tau berasal dari Aomine, memperjelas semuanya. "Aku sudah punya nomor mu dan menyimpan nomor ku disitu." Jelasnya sembari menyerahkan handphone Kagami. "Kalau ada apa-apa hubungi aku." lanjutnya.
Aomine langsung melangkahkan kakinya keluar dari apartemen. Baru beberapa langkah, dirinya langsung berhenti menatap Kagami. "Di dalam kulkas ada es batu. Kompres pipimu itu supaya sembuh." Dan diapun pergi begitu saja.
'Apa-apaan dia? Sok keren begitu.' Batin Kagami.
xxxxx
Seperti biasa kantor kepolisian masih ramai dengan banyaknya pertanyaan. Setelah berita kematian Elena Akira, berita tentang penculikan sekaligus pembunuhan anak belum lagi terdengar. Sepertinya saat ini pelaku sedang melakukan aksi tiarap sesaat.
Aomine melangkahkan kakinya asal mencari seseorang. Sakurai yang tengah membereskan file-file, melihat Aomine dan menghampirinya. "Ah! Aomine-san! M-maaf mengganggu. Tumben kau datang ke sini, apa ada yang kau butuhkan?"
"Memang aku tidak boleh kesini? Aku kan juga kerja disini." Gumam Aomine malas.
"Ah, maafkan aku! Maafkan aku!" Sakurai membungkuk minta maaf.
"Hentikan itu. Kebetulan sekali aku sedang mencarimu." Ucap Aomine.
Sakurai menghentikan acara minta maafnya, menatap Aomine bingung. "A-Aomine-san mencari ku? Ada perlu apa?" tanyanya polos.
"Aku mau lihat file rincian semua korban. Kau memegangnya kan?"
Sakurai tidak menjawab. Bola matanya bergerak gelisah. "Umm, itu…aku…"
Aomine tau Sakurai tidak mungkin memberikan file tersebut, karena Aomine sedang tidak boleh mengurusi kasus secara resmi. Hukuman tentu saja masih berlaku. Oleh karena itu Aomine mencari Sakurai. Pemuda itu pasti akan menuruti kemauannya. "Nanti aku yang bicara pada kapten. Sepertinya dia juga tidak mempermasalahkan itu."
Sakurai berpikir sebentar. Mau bagaimanapun perintah kapten adalah mutlak. Tapi menurut Sakurai, Aomine juga berhak tau apa yang terjadi. "Umm, b-baiklah. Tunggu sebentar."
Dan setelah itu Aomine menyeringai puas penuh dengan kemenangan. Mungkin dengan melihat data itu, dia sedikit bisa tau keberadaan pelaku.
"Ini Aomine-san. Data-data itu terdiri dari tiga korban yang sudah ditemukan." Sakurai memberikan file-file tersebut.
Bola mata Aomine bergerak perlahan, menyusuri setiap kata yang tertulis di file tersebut. Lembar demi lembar telah dia baca. Hampir lembar terakhir, sebuah kesimpulan terlintas di pikirannya.
"Kau ikut aku. Sekalian aku minta tolong ambilkan peta." Ajak Aomine ke bangku yang tidak jauh dari dirinya. Sakurai hanya mengangguk mengikuti.
Dari semua korban, kalau dipikir-pikir tempat ditemukannya mayat tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lainnya. Aomine melingkari rumah susun putih, tempat dia bertemu dengan Kagami sebagai pusat dengan spidol hitam. 'Korban pertama Haruka Hisegiro, ditemukan di tempat sampah. Sebelah Timur, tidak jauh dari tempat Kagami tinggal. Kira-kira jaraknya kurang lebih beberapa ratus meter.' Aomine melingkari tempat tersebut dengan spidol merah.
Setelahnya, polisi muda tersebut melirik file korban selanjutnya. 'Korban kedua, Arisa. Ditemukan warga di dalam tangki air.' Aomine yang selama ini berkeliaran mencari informasi, tentu saja tidak tau kejadian mendetail dimana korban di temukan. Yang dia tau hanya sekilas keadaan korban meninggal dan ditemukannya. Tidak sampai letak ataupun barang yang ditemukan.
"Nnn, Ryo? Bagaimana Arisa bisa ditemukan di tangki air?" Tanya Aomine memastikan.
Sakurai tersentak kaget. "M-maafkan aku! Saat itu Arisa tidak sengaja ditemukan oleh seorang gadis yang hendak bunuh diri di sebuah restoran makan."
Aomine mengangakat alisnya bingung. "…"
"Gadis itu baru saja diputusi oleh pacarnya dan hendak bunuh diri. Saat dia pergi ke atap restorant untuk terjun bunuh diri, dia melihat tangki air yang tidak tertutup dengan air yang tumpah seperti kepenuhan. Karena penasaran, dia melihat keadaan tangki tersebut dan menemukan anak kecil yang sudah meninggal di dalamnya." Jelas Sakurai panjang.
Aomine tertegun mendengar kronologis kejadian itu. Si pelaku benar-benar kejam. "Hnn, terima kasih." Tangan kanannya kembali bergerak mencari letak restoran itu. Letaknya juga tidak terlalu jauh dari tempat korban pertama. Kalau rumah susun menjadi pusatnya, jadi letak korban kedua berada di Selatan, kurang lebih beberapa ratus meter. Lingkaran kedua sudah dia dapati.
Yang terakhir koban ketiga, Elena Akira. Ditemukan di dekat sungai yang Aomine ketahui berada di Barat dari rumah susun. Dengan begini sebuah pola akan terlihat.
Aomine menarik garis mulai dari Timur kebawah, bertemu dengan Selatan lalu ditarik kembali menemui Barat. Sebelum ditarik melewati rumah susun bertemu dengan letak korban pertama. Akan didapat sebuah pola berbentuk segitiga terbalik. Kalau diperhatikan kembali, ada kemungkinan pelaku melakukan aksinya di dalam pola segitiga tersebut. Jadi…
"Wah, Aomine-san pemikirannya sama dengan yang lainnya." Sahut Sakurai tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Kapten dan yang lainnya langsung bergerak cepat setelah menemukan pola segitiga itu kemarin. Tadi pagi mereka langsung pergi melakukan pencarian di dalam pola tersebut. Sayangnya aku tidak bisa membantu karena harus mengurusi data-data yang lainnya." Jelas Sakurai.
Aomine membatu. Jadi, dia sudah keduluan?
"Kenapa kau tidak memberitau ku dari tadi, Ryo?" Tanya Aomine kalem namun memancarkan aura hitam.
Sakurai langsung merinding. "Ma-maafkan aku! Maafkan aku Aomine-san! Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku! Maafkan aku!"
Aomine menghela permintaan maaf Sakurai akan memotong waktunya. Diapun berlalu pergi tanpa memberitahu Sakurai yang sedang membungkuk berkali-kali.
Xxxxxx
"Aku sudah membagi tim pencarian dan sampai saat ini kita belum menemukan tempatnya." Ucap kapten tiba-tiba.
Saat ini, Kapten, Haizaki dan Imayoshi sedang berada di dalam mobil patroli. Mereka berkeliling untuk menemukan tempat yang mencurigakan. Namun nihil. Sejak tadi mereka belum menemukan petunjuk sedikitpun.
"Setidaknya kita sudah bisa mempersempit pencarian." Sahut Haizaki. "Ah ya, mengenai pelaku, apa masih belum bisa dipastikan identitasnya?" tanya Haizaki pada Imayoshi yang sedang menyetir.
"Aku sudah meminta rekaman dari restoran tersebut dan Susa sudah menyelidikinya. Menurutnya, si pelaku sudah mengetahui letak pasti kamera tersebut, sehingga kita hanya bisa mendapatkan gambarnya saat pelaku berada di tangga." Jelasnya.
"Lalu, saksi?"
Imayoshi menggelengkan kepalanya. "Saksi yang kita punya hanya gadis yang tidak sengaja menemukan korban. Karena saat itu hari libur, pengunjung yang membawa anak kecil sangat banyak. Jadi tidak ada yang menyadari sesuatu yang aneh."
Ketiganya terdiam.
Penyesalan selalu datang belakang bukan?
Andai saat menghilangnya Haruka mereka semua langsung cepat menyelidiki. Andai saat itu mereka tidak terlalu meremehkan laporan dari ibu Haruka. Pasti mereka bisa mencegah jatuhnya korban.
Sang kapten mengangguk mengerti. "Kita harus cepat, sebelum pelaku melakukan aksinya kembali."
xxxxx
Berkeliling menggunakan sepeda dicuaca yang panas cukup melelahkan bagi Aomine. Apalagi dia berkeliling tanpa tujuan yang pasti. Seharusnya pencariannya akan lebih mudah kalau Kuroko mau membantu. Tapi Kuroko sedang ada kerjaan katanya.
"Bagaimana aku bisa mencarinya kalau begini?" gumam Aomine pasrah.
Diapun duduk sementara untuk menjernihkan pikirannya, sekaligus mengistirahatkan tubuhnya. Andaikan saat ini dia sedang berada dalam kelompoknya pasti akan mudah.
Merasa bosan, dia mengambil handphone flip nya. Mengetikan sesuatu.
To : Tetsu
Oi, Tetsu! Menurutmu, kalau seseorang mau melakukan kejahatan, dia akan melakukannya dimana?
Belum sempat Aomine menutup handphone nya, sebuah pesan diterimanya. 'Cepet banget.'
From : Tetsu
Aku bukan penjahat, Aomine-kun. Aku tidak tau.
Aomine menjambak surai birunya frustasi.
To : Tetsu
Aku tau kau bukan penjahat! Setidaknya berikan ku sebuah petunjuk.
Beberapa detik terlewat. Pesan kembali diterimanya.
From : Tetsu
Kalau aku jadi penculiknya, pasti akan ku lakukan di tempat yang jarang ada orangnya. Mungkin di rumah kosong. Hmm, atau di tempat yang tidak mencolok, supaya aku bebas melakukan …
Perkataan Kuroko ada benarnya juga. Kenapa dia tidak kepikiran hal itu? Ah, mungkin dia terlalu lelah.
To : Tetsu
Kau menyeramkan Tetsu. But, thanks.
Tapi walaupun mendapatkan petunjuk seperti itu, dia tetap kesulitan untuk mencarinya. Dia harus tau pasti, daerah mana saja yang memliki tempat seperti itu. Setidaknya dia harus mempersempit pencarian agar lebih mudah.
Seorang gadis kecil yang baru saja pulang dari sekolah, datang menghampiri Aomine. Gadis itu penasaran karena melihat wajah Aomine yang begitu kusut dan suram. "Paman, kok mukanya jelek begitu?"
Merasa ada yang berbicara padanya, Aomine kaget dan bola matanya menangkap sosok gadis kecil bersurai coklat pendek. 'Paman?Aku masih muda tau.' Rutuknya.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya sedang bingung." Jawab Aomine seadanya.
"Bingung kenapa, Paman? Kali aja aku bisa bantu. Kata ibuku, kalau ada orang yang kesusahan itu harus dibantu." Ucap gadis kecil itu.
Kalau dari penglihatan Aomine, sepertinya gadis ini berumur lima atau enam tahun.
"Oh begitu ya? Paman lagi bingung mencari tempat." Jawab Aomine agak kaku. Entah kenapa memanggil dirinya sendiri dengan kata 'Paman' jadi aneh.
"Tempat? Tenang aja, pasti aku bantu. Aku kan suka main disini jadi pasti tau." Senyuman di wajah gadis itu melebar.
"Benarkah? kalau begitu, kamu tau dimana tempat yang sepi? Ah, maksud Paman seperti rumah kosong yang jarang di pakai orang atau tempat yang jarang dilewati?" Tanya Aomine ragu.
Gadis kecil itu tampak berpikir. Mungkin Aomine terlalu berharap banyak dengan gadis ini. "Kalau kamu tidak tau, tidak apa-apa." Sahut Aomine.
"Enggak, aku mau membantu Paman. Tunggu sebentar, aku kayaknya tau." Jawab Gadis itu cepat.
Aomine tersenyum tipis.
"Aha! Aku tau. Tapi aku taunya cuma satu tempat, Paman. Ada apartemen yang udah lamaaaa banget enggak dipakai. Apartemen itu juga udah gak dikunjungin orang. Tapi, tempat itu udah gak boleh dimasukin lagi Paman." Jelasnya.
Aomine langsung terpana dengan pengetahuan dari gadis kecil itu. "Dimana?" tanya Aomine antusias.
"Hmm, kalau dari sini Paman lurus aja. Kalau ada pertigaan, baru belok kanan. Terus kemana lagi ya?" Gadis kecil itu berpikir keras. "Oh iya, Paman jalannya liat ke arah kanan aja, pasti nanti ketemu gang kecil. Abis itu masuk gang, ikutin jalan aja, nanti paman ketemu apartemen yang udah gak kepakai itu deh."
Aomine merogoh sakunya, mengambil sebuah peluit sebagai tanda terima kasih. "Ambil ini." Aomine menyerahkan peluit hitamnya. "Kalau ada orang aneh yang mengajakmu bicara, tiup ini keras-keras."
Gadis kecil itu menerimanya dengan senang. "Terima kasih, Paman. Ada yang bisa aku bantu lagi?"
Aomine menggeleng cepat.
"Kalau begitu, aku pulang ya Paman. Dadah!" Gadis kecil itu melambaikan tangannya.
Sembari melambaikan tangan Aomine tersenyum. Kalau kita mau berusaha, pasti ada saja bantuan yang akan datang. Itulah yang ada di pikiran Aomine. Gadis kecil itu seperti petunjuk yang diberikan oleh Tuhan. Semoga saja tempat yang ditunjukan gadis itu benar.
xxxxx
Aomine memandang horror apartemen yang ada di hadapannya. Keadaannya lebih pantas dibilang rumah hantu dibandingkan apartemen. Aomine jadi parno sandiri kalau bersangkutan dengan hantu. Apa dia menelepon Kuroko saja, untuk menemaninya? Tidak, tidak, tidak! Kuroko pasti akan mentertawainya.
Dilihat dari keadaannya, tempat ini memang pantas untuk melakukan kejahatan. Jarang dilewati orang dan juga tempatnya yang tidak strategis. Untung dia menggunakan sepeda. Jadi tidak terlalu capek masuk ke gang nya.
GLUP
"Kalau siang hari, pasti tidak akan ada hantu Aomine!" yakinnya pada diri sendiri.
Diapun memasuki apartemen tersebut, berkeliling mencari sesuatu yang terlihat mencolok.
'Aku heran tempat ini sudah berapa tahun tidak ditempati. Berantakan sekali.'
Tibalah dia di basemant yang sudah tidak terpakai lagi. Saat Aomine memasukinya, keadaannya lumayan gelap sehingga dia membutuhkan penerangan tambahan.
Cahaya dari handphone pun dia gunakan sebagai penerangan. Basemant tersebut cukup berantakan. Sebuah lemari yang berdiri kokoh di ujung ruangan, berhasil menarik perhatian polisi muda tersebut. Dan tanpa Aomine sadari, seseorang sedang mengamatinya.
'Lemari ini terlihat aneh.' Aomine menghampiri lemari itu.
Belum sempat membuka lemari, sebuah siluet bayangan seseorang mendekati Aomine. Ketika seseorang itu hendak menyerang Aomine, dengan cepat Aomine melindungi dirinya.
BUGH
Sekilas, tapi dia bisa melihat kalau orang itu mempunyai sorot mata yang tajam. "Siapa?" tanyanya. Andai saat itu Aomine bisa melihat wajah orang itu jelas, pasti dia dapat melihat seringai yang menyeramkan.
Aomine berusaha melakukan penyerangan sebisa mungkin karena penerangan yang kurang cukup. Namun sayang, seseorang itu berhasil kabur setelah meninju perut Aomine.
'Sial!'
Tidak tinggal diam Aomine mengejar orang itu keluar dari apartemen. Penglihatannya mulai jelas dan Aomine langsung tau kalau orang itu adalah seorang lelaki. Tapi wajahnya tidak terlihat karena mengenakan topi dan tertutup oleh hodie jaketnya.
Pengejaran berlangsung hingga mereka berdua keluar gang. Disitu Aomine tersandung hingga sepatu di kaki kanannya terlepas. Namun dia tidak mempedulikannya, dan melanjutkan mengejar lelaki itu.
xxxxx
Haizaki berhasil menemukan apartemen yang diduga sebagai tempat pelaku melakukan aksi penculikannya. Para polisi lainnya langsung berdatangan ke tempat kejadian setelah mendapatkan laporan dari kelompok Haizaki.
Barang bukti milik korbanpun ditemukan di dalam lemari basemant dan sedang diteliti oleh pihak penyelidik.
"Kenapa pelaku meninggalkan barang-barang korban di tempat seperti ini?" Gumam Hyuuga.
"Mungkin saja pelaku sengaja melakukan itu untuk mengelabui kita. Dia melakukan aksinya secara terpisah." Balas Imayoshi memperhatikan apartemen yang ada di hadapannya.
"Maksudmu?"
"Pelaku melakukan aksinya secara terpisah agar kita percaya kalau dia berada disekitar sini. Kalau menurut analisa ku, setelah korban diculik, pelaku akan meninggalkan barang-barang korban yang tidak perlu dan melakukan aksinya di tempat yang berbeda." Jelas Imayoshi sembari membersihkan kacamatanya.
Haizaki berpikir sebentar mencerna kalimat Imayoshi barusan. 'Kalau ini jebakan, berarti…'
"Berarti kita sudah masuk ke dalam permainan pelaku." Ucap Haizaki tiba-tiba.
"Permainan?" tanya opsir lainnya.
"Mungkin saja pola segitiga yang kita temukan itu juga jebakan, agar kita percaya pelaku melakukan aksinya di dalam wilayah pola segitiga tersebut." Balas Haizaki.
"Berarti selama ini kita sudah terjebak?"
"Hmm..Tidak juga. Aku rasa pelaku memang sengaja menuntun kita untuk menemukannya." Haizaki tersenyum tipis. "Dia menantang kita untuk bermain petak umpat." Lanjutnya.
"Cih, sok sekali dia. Lihat saja nanti kalau sudah ditemukan." Sahut Hyuuga kesal.
Pembicaraan mereka terhenti, setelah Aomine datang dengan keadaan yang sedikit kacau. Pakaian yang sedikit kotor serta sepatunya yang hilang sebelah.
"Kau?! Kenapa kau disini?" tanya Aomine kaget, menunjuk Haizaki.
"Dia menemukan tempat ini, Aomine. Hebat bukan?" Sahut Hyuuga melirik Haizaki.
"Dia? Tunggu, tunggu, tunggu! Yang menemukan tempat ini adalah aku dan bukan dia." Jelas Aomine kesal sembari menghampiri kerumunan temannya.
Sebenarnya Aomine cukup kaget saat dirinya kembali ke apartemen lama itu, tentunya setelah gagal menangkap lelaki yang menyerangnya. Dirinya terkejut saat rekan-rekannya berkumpul dan sudah memasangi police line mulai dari depan gang.
Haizaki memandang Aomine, tersenyum meledek. "Lalu kenapa kau baru muncul?"
"Aku baru saja mengejar seseorang. Dia menyerangku saat ada di basemant." Jelas Aomine.
Haizaki tersentak.
"Pokoknya yang pertama kali menemukan tempat ini adalah aku." Tambahnya.
"Haizaki yang menemukan pertama kali, Aomine. Mungkin kau, tapi yang menemukan buktinya adalah Haizaki." Sahut kapten tiba-tiba, menghampiri mereka.
"Lagi pula, tau dari mana kau lokasi ini?" lanjut sang kapten
"Jangan bilang kau menodong Sakurai, minta informasi yang dia pegang?" tanya Haizaki.
Aomine mendengus kesal. "Ti-tidak seperti itu! Aku menemukan tempat ini dengan cara ku sendiri." Walaupun aku memang meminta file dari Sakurai. Batinnya.
"Ternyata kau lumayan juga." Ejek Haizaki.
"Cih! Sudahlah, aku tidak peduli apa katamu."
Aomine sangat membenci Haizaki. Entah kenapa Haizaki selalu terlihat bagus di mata rekan-rekannya. Bahkan kaptennya sendiri juga mengakui. Aomine tidak iri ataupun cemburu. Tapi dia tidak suka dengan sifatnya Haizaki yang selalu meremehkan dirinya. Hal tersebut membuatnya terlihat bodoh di hadapan rekan-rekannya.
KRINNG KRIINNG
Handphone sang kapten berdering, bertepatan dengan pesan yang masuk ke ponsel Aomine.
From : Sakurai Ryo
Aomine-san, sebaiknya kau kembali ke kantor. Ada saksi mata yang berhasil lolos dari pelaku penculikan. Sekarang dia berada di kantor dan akan memberikan keterangan.
Aomine langsung menutuphandphone flipnya. Tanpa ba-bi-bu lagi dia meminjam sepeda motor salah satu opsir –meninggalkan sepedanya- untuk bergegas pergi. Tapi sebelum itu, dia mengambil salah satu barang bukti tanpa ada yang menyadarinya.
.
.
.
.
.
.
.
Di salah satu ruangan di kantor polisi, seorang gadis kecil dan ibunya tengah duduk, ditemani beberapa polisi. Gadis kecil itu hampir saja menjadi korban penculikan kalau dirinya tidak langsung berlari menemui polisi yang kebetulan sedang bertugas.
Aomine dan yang lainnya yang baru saja tiba di kantor polisi, langsung menghampiri sang gadis untuk mendengarkan kronologisnya.
"Nah Lisa, paman akan bertanya pada mu beberapa hal. Kamu tidak usah takut ya. Ceritakan saja apa adanya, mengerti?" ucap salah satu petugas dengan lembut.
Gadis bernama Lisa itu mengangguk mengerti.
"Saat kamu ingin diculik, apakah kamu bisa melihat wajahnya?" tanya seorang petugas.
Gadis kecil itu menggeleng.
"Kamu sama sekali tidak melihat sesuatu yang menarik dari penculik itu.?"
Gadis itu kembali menggeleng.
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Dia bilang, dia butuh bantuan karena anjingnya sedang sakit. Dia meminta ku untuk melihatnya. Anjingnya ada di dalam mobil." Jelas gadis kecil itu ragu-ragu. Sang ibu yang berada di sampingnya mengelus punggung sang anak lembut.
"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya salah satu petugas lagi.
"Aku enggak masuk ke dalam mobil, soalnya anjing itu aneh. Anjingnya beku ketika aku pegang." Jelas sang gadis.
"Beku?"
"Iya, s-sepertinya anjing itu sudah mati. A-aku takut melihatnya." Suara gadis kecil itu mulai bergetar, mengingat kejadian buruknya.
Melihat sang korban yang mulai mengalami trauma, polisi menghentikan kegiatannya. "Baiklah itu cukup."
Aomine yang mendengar penuturan korban, bingung dengan motif sang pelaku. Sebenarnya apa motif dia menculik anak-anak dan membunuhnya? Aomine berfikir sebentar. Sepertinya tadi ada yang aneh 'Anjingnya membeku?'
xxxxx
Malam harinya Aomine kembali ke apartemen dalam keadaan kaget.
"K-Kagami? Makanan ini semuanya kau beli dimana?" tanya Aomine melihat meja makannya penuh makanan asing.
Kagami menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak membelinya, aku yang memasaknya."
Aomine diam.
"Habisnya saat aku mau mengambil es batu di kulkas, aku melihat bahan-bahan makanan yang hampir busuk. Daripada kebuang sia-sia, mending aku buatkan k-kau makanan." Jelas Kagami agak malu.
Aomine terpana. Kebetulan sekali perutnya belum diisi karena sibuk mengurusi kasus. "Kebetulan sekali aku sedang lapar. Ini sangat luar biasa Kagami!"
Kagami kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Semburat merah tipis terlihat di wajahnya. Entah sejak kapan, Kagami tidak pernah mendengar dirinya dipuji. Yang Kagami ingat adalah ejekan dan hinaan yang selalu diberikan kepadanya.
"J-jangan berlebihan, itu biasa. Makanlah. Kau kan lapar."
"Oke!" Dihampirinya meja makan itu. "Oh ya, kau sudah makan?" tanya Aomine.
Sebenarnya Kagami sengaja belum makan menunggu Aomine pulang. "B-belum, tenang saja tapi tadi aku sudah makan."
Aomine tersenyum iseng. "Sudahlah ayo makan bersama. Kan tidak mungkin aku menghabiskan makanan sebanyak ini."
Awalnya Kagami ragu, tapi tidak buruk juga makan bersama polisi muda ini. Lagipula dia sudah lama tidak makan bersama orang lain. "Baiklah, kupikir tidak buruk juga makan bersama mu."
"Hei! Apa maksudmu dengan tidak buruk juga?" dengus Aomine kesal.
Merekapun makan malam bersama untuk pertama kalinya. Setidaknya dengan begini hubungan mereka tidak terlalu canggung lagi.
"B-bagaimana?" tanya Kagami agak takut mengecewakan.
Aomine masih mengunyah makanan, terdiam saking menikmati rasanya.
"Aomine?"
.
.
.
.
.
.
"Enaak! Ini sangat enak, Kagami. Bagaimana kau bisa masak seenak ini sedangkan kau itu seorang lelaki?" tanya Aomine yang kembali memasukan makanan lainnya ke dalam mulut.
"Yaa, karena aku tinggal sendiri jadinya aku sering belajar memasak. Dan kenapa kalau aku lelaki?! Zaman sekarang itu lelaki lebih baik memasaknya daripada perempuan tau." Gerutu Kagami.
"Ya ya, terserah apa katamu. Tapi ini benar-benar enak."
Walaupun Kagami memandang kesal Aomine, namun di hatinya cukup senang. Melihat Aomine yang memakan masakannya dengan lahap, membuatnya tersenyum tipis.
Aomine yang menyadari senyuman Kagami, pura-pura tidak tau. Dia dengan enaknya mengisi perutnya yang kosong itu. Walaupun di hatinya dia juga ikutan senang melihat pemuda itu sudah mulai terbuka kepadanya.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai semuanya, Aomine dan Kagami berkumpul di ruang tengah.
"Katamu kau bisa melihat masa lalu kan?" tanya Aomine. Kagami mengangguk.
"Karena itu aku sudah membawa barang milik korban. Sekarang kau bisa membantu ku?" Aomine meletakan sweater pink di atas meja.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha melihatnya. Karena kenangan itu akan memudar tapi akan ada yang diingat. Oh ya, aku masih belum bisa mengendalikan kemampuan ku sampai saat ini. Jadi jika aku sudah tidak terkendali, tolong ambil sweater itu dan lepaskan dari tanganku." Jelas Kagami, lalu mengambil sweater pink itu.
'Tidak terkendali?'
Tiba-tiba saja, perasaan Aomine menjadi khawatir.
Kagami menggenggam sweater itu. Pikirannya mulai dia pusatkan kepada benda yang dia pegang. Beberapa detik kemudian pandangannya berubah kosong. Aomine yang melihat hanya was-was dan menunggu.
[Kagami melihat seorang gadis kecil yang dia tau bernama Haruka, sang korban.]
[Seringai menakutkan terlihat jelas, tapi Kagami tidak bisa melihat jelas wajah orang yang menyeringai itu.]
[Kilatan kamera dari handphone. Lelaki itu tertawa puas sambil memfoto Haruka.]
[Haruka yang terkurung di dalam penjara yang berisi bola kecil berwarna warni. Tergeletak tidak berdaya.]
Darah segar mengalir dari hidung Kagami. Aomine tersentak kaget.
[Kagami kembali mendengar tawa lelaki itu.]
[Ada beberapa anjing yang Kagami lihat, terkurung di dalam kandang. Tapi dia tidak yakin dengan apa yang dia lihat karena memudar.]
[Rak buku yang tertata rapi dan almamater yang di kantongnya bergambar anak kecil yang bergandengan.]
Kagami mulai tidak terkendali, tubuhnya bergetar hebat. Darah terus mengalir dari hidungnya. Aomine mulai panik.
"Kagami? Oi, Kagami?"
Tidak ada jawaban.
"Kagami?" panggil Aomine memastikan.
"…."
"Shit!"
Aomine langsung bergegas melepaskan sweater itu dari tangan Kagami. Cukup sulit karena Kagami menggenggam nya dengan sangat erat. "Kagami! Lepaskan sweaternya!"
Sweater pink itu terlepas, Aomine melemparnya ke sembarang tempat. Kagami kembali sadar. Wajahnya sedikit pucat. Napasnya tidak teratur.
"Kertas..." gumam Kagami.
"Iya?"
"Ambilkan aku kertas dan pensil, Aomine." Sahut Kagami.
Aomine langsung mengambil kedua benda yang disebutkan oleh Kagami. Pemuda itu dengan segera menumpahkan penglihatannya ke dalam kertas. Tetesan darah menodai kertas tersebut, karena Kagami secara spontan menggambar tanpa mempedulikan darah yang keluar dari hidungnya.
Aomine yang melihat pemandangan itu hanya bisa terdiam sementara.
'Jadi maksud mu tidak terkendali, seperti itu? Cih, itu sama saja dengan bunuh diri tidak langsung.' Umpat Aomine dalam hati.
"Sebaiknya kau elap dulu darahmu itu. Kertasnya jadi kotor kan." Aomine memberikan sapu tangannya kepada Kagami acuh, walaupun sebenarnya dia khawatir.
"Ah, terima kasih." Kagami tersentak, sembari mengelap darah yang keluar dari hidungnya.
Beberapa menit terlewati. Aomine masih setia menemani Kagami yang melukiskan penglihatannya di sebuah kertas.
Kandang anjing.
Penjara yang berisi bola warna warni.
Almamater dengan symbol dua orang anak kecil.
Gambar selesai. Kagami menyerahkan gambarnya pada Aomine.
"Bola warna warni seperti ini, biasanya ada di tempat penitipan anak bukan?" tanya Aomine memperhatikan kertas-kertas itu.
"Aku tidak tau. Mungkin saja." Jawab Kagami singkat. Tangan kanannya sibuk memijat palanya yang mulai pusing.
Aomine menatap Kagami penuh arti. "Kau sakit?"
Tangan kirinya yang bebas di lambaikan di depan Aomine. "Tidak, tidak. Ini hanya efek dari kemampuan ku. Setelah melihat kenangan yang seperti itu, biasanya pikiran dan ingatan ku akan terganggu. Kadang aku tidak bisa membedakan, mana ingatan ku yang asli dan mana ingatan yang ku sentuh." Paparnya.
"Lalu, apa kau bisa merasakan sesuatu? Ah, maksud ku, apa kau bisa merasakan emosi dari pemiliknya juga?" Aomine semakin penasaran.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak, hanya penasaran saja." Balas Aomine.
Kagami menghela napasnya. "Aku bisa dan itu sangat sangat mengganggu ku. Terkadang emosi nya itu bisa merubah mood ku menjadi buruk kau tau."
"Berarti kau bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Haruka?"
Kagami memandang Aomine tajam. "Sebaiknya kau tidak usah tau. Dan berhentilah memberikan ku pertanyaan."
Aomine tersentak kaget. Apa yang dikatakan Kagami benar, sebaiknya dia tidak bertanya seperti itu. Pasti Kagami sedang menutupi perasaanya yang tengah kacau itu. Entah apa yang dirasakan pemuda crimson itu, pasti bukanlah sesuatu yang baik.
"Kalau begitu istirahatlah. Aku sudah cukup terbantu dengan itu semua." Aomine mengelus surai merah Kagami lembut sebelum meninggalkannya.
'Lagi-lagi sok keren.'
xxxxx
Keesokan harinya Aomine meminta teman-temannya untuk berkumpul. Setelah mendapatkan sebuah petunjuk yang diberikan Kagami, Aomine tidak akan menyia-nyiakannya. Yaa, tentu saja dia tidak akan membongkar kalau Kagami yang telah memberitahukannya.
Bekerja secara kelompok lebih baik dari sendiri bukan? Kali ini Aomine mencoba untuk tidak egois. Dia berharap dengan begini, kepolisian akan mendapatkan pelakunya lebih cepat dan tidak akan ada lagi korban yang berjatuhan.
"Jadi, ada perlu apa kau memanggil kami Aomine?" Tanya sang kapten. Sedangkan yang lainnya menatap Aomine.
"Sebenarnya kemarin aku mengambil salah satu barang bukti." Ucap Aomine memulai yang langsung dibalas kesal oleh Susa.
"Hah? Pantas saja kemarin aku merasa ada yang hilang dari TKP. Kenapa kau tidak bilang padaku terlebih dulu, Aho? Jadinya kan aku tidak berkeliling TKP seperti orang bodoh." Dengus Susa.
"Maaf, maaf." Jawab Aomine malas. "Tapi karena itu aku bisa mendapatkan sebuah petunjuk." Senyuman terlukis di wajah Aomine.
"Petunjuk?" tanya Imayoshi.
Aomine mengangguk. "Ketika aku mengecek sweater itu di laboratorium, aku menemukan zat polikarbonat di dalamnya." Ucapnya tidak sepenuhnya bohong.
"Bukankah zat itu yang biasanya terdapat dalam botol minuman atau bola mainan yang ada di kolam bola Aomine-san?" tanya Sakurai.
"Ya, sepertinya begitu."
Haizaki menatap Aomine menyelidik.
"Jadi kau mau bilang kalau korban di sekap di tempat bermain anak? Karena kemungkinan lainnya tidak tepat dan yang mendekati hanya kolam bola?" Tanya Haizaki.
"Lebih tepatnya kita harus memeriksa tempat yang memiliki kolam bola. Tidak hanya tempat bermain anak. Untungnya tempat yang menyediakan kolam bola sangat jarang." Jawab Aomine tidak langsung to the point. Dia harus berhati-hati agar teman-temannya tidak curiga.
"Aku rasa pencarian ini tidak akan semudah itu." Balas Haizaki. Aomine memicing tidak suka.
"Setidaknya kita sudah mempersempit kembali pencarian." Sahut Aomine.
"Kau yakin dengan itu semua?" tanya sang kapten.
"Hmm, aku tidak bisa bilang kalau presentase pencarian ini bakal seratus persen, tapi aku menjamin kita bisa mencari petunjuk dari itu semua." Aomine menggaruk kepalanya memikirkan sesuatu. "Ah ya, kita juga harus memeriksa handphone pelaku. Aku pikir pelaku juga mempunyai hobi aneh. Dia akan memfoto koban-korbannya."
"Tau dari mana?" tanya Hyuuga.
"Kemarin aku mencarinya di internet, kebanyakan orang seperti itu suka mengabadikan korban-korbannya yang tersiksa." Jawab Aomine bohong.
Haizaki tampak berpikir sebentar. "Sepertinya kita melupakan sesuatu."
Semuanya mengalihkan pandangannya ke Haizaki. "Menurut korban kemarin, pelaku menggunakan seekor anjing yang telah dibekukan. Apa ada kemungkinan pelaku seorang dokter hewan atau sejenisnya?"
Imayoshi tengah berpikir sebentar. "Bisa iya dan bisa juga tidak. Kita masih kurang informasi untuk itu. Ada kemungkinan pelaku hanya orang biasa yang kebetulan menemukan anjing yang sudah sekarat lalu di bekukan dan ditambah suntikan formalin." Jelas Imayoshi.
Semuannya mengangguk. Apa yang dikatakan Imayoshi ada benarnya juga.
Selagi anak buahnya sibuk berdebat, sang kapten tengah menganalisis semua petunjuk yang telah di berikan anak buahnya.
"Kesimpulannya, kita akan melakukan pencarian di tempat-tempat yang kemungkinan memiliki beberapa hewan dan kolam bola. Dengan begini kita bisa lebih mempersempit pencarian." Jelas sang kapten. "Kalau begitu kita mulai lagi pencariannya."
xxxxx
Investigasi di mulai. Semuanya bekerja keras dan menaruh harapan besar agar kasus penculikan ini cepat berakhir. Satu persatu tempat penitipan anak, toko hewan ataupun yang memiliki kriteria sama, mereka datangi.
Aomine kembali meminta tolong kepada Kuroko dan untungnya Kuroko menyetujuinya tanpa harus beradu mulut terlebih dulu.
"Tetsu, kau kan bekerja di TK. Apa ada TK yang memiliki kolam bola?" tanya Aomine sembari mengendarai mobil Kuroko. Kini gantian Aomine yang mengendarainya.
"Ada namun tidak semua. Tapi mendengar apa yang kau ceritakan tadi, pelaku tidak mungkin menyembunyikannya di TK, Aomine-kun." Balas Kuroko.
"Aku tau." Ucap Aomine malas. "Hanya memastikan."
Aomine dan Kuroko beberapa kali mengunjungi beberapa tempat namun nihil, sedangkan hari sudah mulai malam. Baik Aomine maupun kepolisian sama-sama tidak menemukan apa-apa.
Kuroko mulai lelah namun Aomine tidak. Dia tetap percaya dengan apa yang Kagami katakan, hanya dia tidak tau tempat pastinya.
Mereka berdua masih menyusuri jalan. Di dalam perjalanan bolamata Kuroko melihat sesuatu yang ciri-cirinya hampir sama dengan apa yang dikatakan Aomine, kolam bola. Namun tidak ada hewannya.
"Aomine-kun rumah itu sepertinya mencurigakan." Sahut Kuroko tiba-tiba sembari menunjuk rumah yang berada di seberang jalan.
Aomine setuju dengan pendapat Kuroko. Di seberang jalan ada rumah makan yang menyediakan kolam bola.
Tanpa pikir lama, Aomine turun dari mobil diikuti oleh Kuroko.
Dia langsung masuk ke dalam, tidak mempedulikan pelanggan yang sedang memandangnya kaget.
"Polisi. Bisa aku bertemu dengan pemilik rumah makan ini?" tanya Aomine kepada salah satu petugas sambil menunjukan kartu identitasnya. Pelayan yang ketakutan hanya mengangguk dan mengantar Aomine menemui sang pemilik yang berada di halaman belakang.
"D-dia pemilik toko ini. Aku permisi kalau begitu."
Aomine memandang pria paruh baya yang ada dihadapannya menyelidik. Penampilannya tidak nyentrik dan terlihat belum begitu tua. Sedangkan pria yang didatangi Aomine tiba-tiba memandang takut Aomine.
"K-kalian siapa?" tanyanya panik.
"Aku polisi. Boleh aku melihat handphone mu Pak?" sahut Aomine tanpa basa-basi.
Pria itu terlihat ketakutan dan berusaha menghindari Aomine dan Kuroko. "A-aku tidak punya handphone."
Melihat gerak-gerik pria itu semakin membuat Aomine penasaran. "Aku tidak percaya, di zaman seperti ini sudah tidak ada orang yang tidak punya handphone." Sindir Aomine.
"Atau jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu?" selidik Aomine.
Bolamata pria itu melebar. Kuroko bisa melihat jelas kalau pria ini tengah menyembunyikan sesuatu. "Maaf, tapi kami hanya ingin memeriksanya saja. Kalau kau tidak menyembunyikan sesuatu pasti kau boleh meminjamkannya pada kami bukan?" tanya Kuroko.
Merasa tersudut, pria itu menendang Aomine dan berusaha kabur.
GREP
"Kau tidak bisa kabur semudah itu." Aomine menangkap pria itu dan menyuruh Kuroko menahan kedua tangannya. "Tetsu! Kau pegang kedua tangannya. Aku akan memeriksa handphone nya."
Kuroko mengangguk dan menahan kedua tangan pria itu. "Maafkan aku." Bisiknya pelan.
Aomine merogoh celana pria itu namun nihil. Diapun langsung merogoh kantung jaket yang dikenakan pria itu. Tada! Dia mendapatkan handphone nya.
"Jangan! Jangan liat handphone ku!" teriak pria itu.
Aomine tentu saja tidak mendengarkannya. Dengan beringas dia mengotak atik galeri foto pria tersebut.
"Aku mohon, jangan buka fotonya!" teriak pria itu lagi.
'Dimana? Dimana fotonya?' batin Aomine frustasi.
Dia tidak menemukan foto yang bersangkutan dengan anak kecil melainkan foto wanita dewasa semua yang ada di handphone tersebut.
Aomine mencengkram kerah jaket pria itu. "Katakan padaku apa kau suka menyimpan foto anak kecil?"
Pria itu ketakutan. "T-tidak! Aku tidak pernah tertarik dengan hal seperti itu. Aku hanya tertarik dengan wanita, karena itu a-aku takut kau menggeledah handphone ku dan menemukan foto itu. Aku mohon jangan penjarakan aku! Aku tidak akan menyimpan foto mesum lagi, Aku janji!" mohon pria itu.
Kuroko langsung melepaskan pria itu dan Aomine menyerahkan handphone nya. Jadi dia ketakutan, gara-gara takut ketawan menyimpan foto mesum?
Aomine lemas seketika. Lagi-lagi dia gagal.
Karena hari sudah malam, Aomine dan Kuroko menghentikan pencariannya. Dalam perjalanan Kuroko-lah yang gantian mengemudi. Dia takut kalau Aomine yang mengemudikannya akan celaka mereka.
"Aomine-kun?" ucap Kuroko memecah keheningan.
"Hmm?"
"Apa kau pernah dengar kalimat seperti ini? Apa yang kita cari biasanya ada di dekat kita?"
"Hmm? Maksudmu?" Tanya Aomine.
"Terkadang apa yang kita cari itu tidak selalu jauh dari diri kita. Mungkin karena kita terlalu gegabah atau tidak sabaran, kita tidak menyadari apa yang kita cari itu ada di dekat kita. Ah! Atau mungkin sesuatu yang kita lihat itu belum tentu benar. Ada kalanya sesuatu yang kita lihat menyimpan sesuatu yang lain." Jelas Kuroko.
Aomine cukup lelah mendengarkan penjelasan Kuroko yang menurutnya rumit itu. Mungkin karena hari sudah malam. "Hmm, mungkin saja." Gumamnya.
xxxxx
Di tempat lain.
Sebuah mobil yang terparkir diam di pinggir jalan, tiba-tiba menyala ketika seorang gadis kecil melintas. Gadis kecil itu adalah gadis yang tadi membantu Aomine. Dia baru saja pulang dari supermarket membelikan makan dan minum untuk sang ayah.
Mobil tersebut berjalan pelan hingga menghampiri sang gadis yang berada di lajur kiri. Gadis kecil yang bernama Aida Riko itu langsung berhenti, ketika pintu mobil itu terbuka.
"Anak manis, mau bantu Paman tidak?" ucap seseorang di balik mobil itu. Riko tidak bisa melihatnya, karena lelaki itu berada di sebelah kanan. Pasalnya orang itu tidak menyalakan lampu mobilnya padahal hari sudah malam.
Riko yang bingung hanya mengangguk. "Bantu apa Paman?"
"Hewan peliharaan Paman sakit, tapi Paman tidak tau dia sakit apa. Maukah kamu memeriksanya?" tanya orang itu. Riko bisa melihat anjing yang tengah tertidur di bangku kiri depan. Entah kenapa perasaan Riko tidak enak.
"Tidak usah ragu, kamu boleh menyentuhnya kok."
Dengan perlahan Riko menyentuh anjing yang tengah tertidur itu. Sensasi dingin langsung menyerang tubuhnya. "Paman, kok anjingnya dingin?"
Dibalik gelapnya malam, lelaki itu menyeringai. "Benarkah? coba kamu masuk ke dalam, lalu periksa lagi."
Riko ragu untuk masuk ke dalam mobil. Menurutnya anjing itu sangat aneh, dingin dan keras. Tapi dia ingin sekali membantu paman itu.
"Ayo masuk." Ajaknya.
Ketika kaki kanannya baru memasuki mobil, lelaki itu langsung menarik paksa Riko. "Paman! Lepaskan aku!" Teriak Riko berusaha untuk melepaskan diri. Untung saja dia tidak langsung masuk, sehingga dia dapat melepaskan diri.
Riko langsung berlari sekencang-kencangnya menghindari lelaki itu.
"Kau tidak akan bisa lari dariku."
Lelaki itu turun dari mobilnya mengikuti Riko. Riko sangat ketakutan. Diapun mencoba bersembunyi di samping tempat sampah yang berada di pinggir jalan.
Lelaki itu melangkahkan kakinya pelan. Tapi karena suasana yang sepi, langkah sepatunya masih saja terdengar. Riko dapat merasakan kalau langkah itu semakin mendekat. Dan benar saja, dia bisa melihat kalau lelaki itu baru saja melewati dirinya yang tertutupi tempat sampah.
Dia merogoh sebuah peluit berwarna hitam pemberian Aomine untuk menenangkan dirinya.
Merasa lelaki itu telah pergi, Riko langsung bangkit dan hendak pergi. Namun, badannya menyenggol tempat sampah sehingga menimbulkan suara yang cukup berisik.
Lelaki itu membalikan badannya menatap Riko yang tidak jauh. 'Ku temukan.'
Riko langsung berlari kencang meniup peluitnya. Belanjaannya yang jatuh tidak dia pedulikan. Dirinya kini sangat ketakutan. Dikejar oleh penculik psycho yang mungkin akan mengakhiri hidupnya.
'Ayah…Ayah…Ayah'
Hanya kata itulah yang dapat dia pikirkan. Peluit pemberian Aomine masih ditiupnya, berharap ada yang mendengar. Riko tidak berani menengok ke belakang. Dia terus berlari sampai merasa dirinya aman.
Riko berhenti di sebuah gang, mengatur napasnya. Syukurlah lelaki itu sudah tidak mengejarnya.
Namun suara tawa langsung membuatnya merinding seketika.
"Nah, anak manis. Ayo ikut paman. Hahaha…" tawa lelaki itu begitu menyeramkan di telinga Riko. Air mata mengalir dari sepasang bola matanya. Peluit masih ditiupkan.
PRIIITT PRRIIITT
"Hahaha! Tidak akan ada yang mendengar suara peluit mu itu, anak manis." Lelaki itu tertawa senang sembari memfoto Riko menggunakan handphonenya. Memfoto Riko yang ketakutan menjadi kesenangan tersendiri bagi laki-laki itu.
"Jangan takut. Ayo kita bermain." Riko terus saja meniupkan peluitnya hingga peluit itu sudah tidak terdengar lagi, diikuti sosok Riko yang menghilang ditengah malam.
xxxxx
Keesokannya di kantor polisi.
Kejadian kemarin malam yang menimpa Aomine di rumah makan membuat kepolisian malu. Berita polisi salah tangkap menjadi buah bibir pagi hari di masyarakat.
"Hah, kau memalukan Aomine. Lain kali hati-hatilah dan jangan gegabah. Kau membuat malu kepolisian tau." Ucap Susa kesal.
Aomine mendengus kesal. Mau gimana lagi, diakan hanya mencoba untuk mencari pelaku.
Ngomong-ngomong soal pencarian. Polisi masih mengerahkan anggotanya untuk mencari petunjuk di beberapa tempat. Dan sampai saat ini mereka masih belum menemukan apapun.
"Aomine-san, kamu dipanggil kapten ke ruangannya." Panggil Sakurai.
Dengan malas Aomine melangkahkan kakinya menuju ruangan sang kapten. Belum sempat dia masuk ke ruangan sang kapten, bola matanya menangkap dua sosok pemuda seumurannya tengah diinterograsi oleh Imayoshi. Pemuda yang satu bersurai merah terang dengan warna mata yang senada. Sedangkan pemuda satunya lagi, bersurai hitam agak panjang, dengan alisnya yang tebal. Sepertinya Aomine tidak asing dengan almamater yang digunakan kedua pemuda itu.
Tanpa mempedulikannya, Aomine segera masuk ke dalam. Di dalam sana dia bisa melihat kalau Haizaki juga berada di ruangan itu.
"Aomine, kau bisa duduk disini." Ucap sang kapten tenang menyuruh Aomine duduk di sebalah Haizaki.
Polisi muda itu sekilas melirik Haizaki tidak suka. "Ada apa kau memanggil ku?"
"Kemarin aku menanyakan pihak laboratorium perihal kunjunganmu. Menurut mereka kau tidak pernah mengunjungi laboratorium, Aomine."
Aomine tersentak kaget.
"Dan setelah diperiksa, memang benar ada zat polikarbonat di pakaian korban. Bagaimana kau bisa tau kalau kau sendiri tidak pernah mengunjung laboratorium?" tanya sang kapten.
"A-aku konsultasi dengan detective swasta." Jawab Aomine ragu.
Bolamata sang kapten menyipit memandang Aomine. "Kau yakin? Tapi menurut anak buah ku, akhir-akhir ini kau bertemu dengan seseorang dan orang itu kini tinggal di rumah mu."
BINGO! Aomine ketawan!
'Bagaimana dia bisa tau?'
"Kau memata-mataiku, kapten?" tanya Aomine mencoba tenang.
BRAK!
Haizaki menggebrak meja kesal tidak sabar dengan tingkah Aomine. "Bisakah kau berkata jujur Aomine! Kemarin malam gadis kecil kembali menghilang kau tau?"
"Maksudmu?"
Kapten menyerahkan selembar foto kepada Aomine. "Kemarin malam, korban yang bernama Aida Riko tidak kembali ke rumahnya setelah membelikan makanan untuk sang ayah. Korban di duga diculik. Dan di TKP hanya di temukan sebuah peluit hitam."
'Tidak mungkin? Gadis ini kan? Dan peluit hitam itu?'
"Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya sang kapten melihat wajah Aomine yang pucat.
Aomine mengangguk. "Dia yang membantu ku menemukan apartemen itu."
"Dan apa kau tau? Ibu Haruka Sigehiro ditemukan tewas bunuh diri. Korban diperkirakan meninggal karena stress berat kehilangan anaknya."
Pernyataan Kapten sukses membuat Aomine merasa bersalah. Aomine jadi ingat kembali janji yang diberikan kepada ibu Haruka itu.
"Aomine, aku mohon. Bisakah kau beri tau kami siapa yang membantu mu?" pinta sang kapten.
Kini Aomine dilanda kebingungan. Disatu sisi dia sudah berjanji tidak akan memberitaukan Kagami pada siapapun, tapi nasib Riko bagaimana? Dia sudah tidak mau melihat korban lain berjatuhan.
"Aomine?"
Apakah ada cara lain? Dia sangat tidak ingin membuat Kagami kecewa. Aomine tau Kagami sudah menaruh kepercayaan yang besar padanya.
"Maaf, sebenarnya aku tau yang menemukan apartemen itu kau duluan. Aku hanya tidak sengaja melihat sepatu mu dan begitulah." Ucap Haizaki tiba-tiba.
Aomine langsung mencengkram kerah baju Haizaki. "Kau! Kenapa kau membohongiku?!"
Haizaki melepaskan cengkraman Aomine kasar. "Itu masa lalu. Sekarang ada yang lebih penting Aomine. Apa kau mau nyawa gadis itu menghilang? Apa kau mau orang tua korban yang lainnya bunuh diri?"
'Cih!'
xxxxx
Kagami merasa bosan berada di apartemen seharian. Rasanya seperti dia tinggal di rumahnya yang dulu.
'Aomine lagi apa ya? Apa dia sudah menemukan pelakunya?'
Senyum tipis tergambar di wajah Kagami membayangkan Aomine yang tengah berusaha menemukan pelaku. 'Apa aku mengirimkan pesan ke dia saja?'
Belum sempat Kagami membuka handphonenya, suara bel apartemen berbunyi nyaring di telinganya.
TING TONG! TING TONG!
"Aomine? Tumben sekali dia sudah pulang?" gumam Kagami.
Kagami meraih kenop pintu sebelum membukanya. "Iya tunggu sebentar. Tumben sekali kau sudah pu_Hmmphhh!"
Telapak tangan yang besar mengunci mulut Kagami untuk berbicara. Kedua tangannya tiba-tiba tidak bisa digerakan, serasa ada tali yang mengikatnya. Dia langsung diseret kasar menuruni apartemen oleh orang-orang yang tidak Kagami kenal.
'Siapa?'
"Kau ikut kami dan jangan bertingkah macam-macam." Ucap orang aneh itu pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kagami sudah pernah merasakan yang namanya dikhianati. Bahkan itu salah satu hal yang sering Kagami rasakan.
Tapi kini yang Kagami rasakan berbeda. Setelah lama menutup lukanya, kini luka tersebut kembali terbuka dan menimbulkan rasa sakit yang tidak terbayangkan. Rasa sakit yang memaksamu untuk memaki, menyumpah serampah kepada orang itu, bahkan kau ingin sekali membunuhnya.
"Kagami?"
Pemuda itu mengucapkan namanya. Berani sekali dia!
"Kagami maafkan aku."
Aomine bisa melihat kemarahan dari mata Kagami. Bolamatanya tajam memandang dirinya. Sebenarnya Aomine cukup takut melihat pandangan itu.
Mereka berdua kini berada disatu ruangan yang hanya terdapat satu meja dan dua kursi serta lampu penerangan. Kagami bisa melihat ada dua kamera pengawas di ujung atas ruangan. Kaca gelap yang berada dekat pintu satu-satunya, Kagami yakini ada beberapa orang yang sedang menatapnya.
Kagami kembali mengalihkan pandangannya ke Aomine.
"Dengar, aku tau kau marah padaku. Tapi aku mohon Kagami, tunjukan kemampuanmu. Bantu kami untuk menemukan pelaku. Ada gadis kecil yang sedang membutuhkan bantuan kita." Jelas Aomine.
"Apa peduliku?" ucap Kagami cepat. Aomine tersentak kaget mendengar jawaban Kagami.
"Cih! Kau boleh memakiku atau membunuhku Kagami. Tapi aku mohon kali ini, tunjukan kemampuan mu."
Kapten dan Haizaki yang berada di luar ruangan melihat kejadian itu dari balik kaca. "Coba kau serahkan barang bukti itu Aomine." Perintah sang kapten melalui microfone.
Aomine dengan ragu memberikan Kagami sebuah pakaian. "Kagami, coba sentuhlah pakaian ini."
Ah! Kagami rasanya muak sekali. Dia pikir akhirnya dia bisa menemukan orang yang dia percaya. Nyatanya?
Tanpa pikir lama kedua tangan Kagami memegang baju itu. Badannya mulai bergetar dan darah mengalir dari hidungnya.
"Kagami!"
Aomine langsung melepaskan baju itu dan melempar asal dari tangan Kagami. "Kagami apa yang kau lihat? coba katakan."
Kagami mengusap darah dari hidungnya sebelum menatap Aomine. "Tidak ada. Aku tidak melihat apapun." Ucapnya.
"Kau bohong Kagami! Kau melihatnya kan?" bentak Aomine. 'Katakanlah Kagami, atau mereka akan menangkapmu.' Bisik Aomine.
Kagami tersenyum. "Apa maksud mu? Aku tidak mengerti."
Aomine menghentakan tangannya di meja keras. "Aku tidak berbohong! Dia mempunyai kemampuan psychometry! Aku yakin itu!" jelas Aomine menatap kamera pengawas.
"Aomine, itu cukup!" perintah sang kapten.
"Tapi, aku tidak berbohong. Dia tidak bersalah!"
Kini Aomine mengerti, kenapa Kagami tidak pernah mau melaporkan penglihatannya ke polisi. Ternyata memberi saran lebih mudah daripada melakukannya.
Aomine kembali menatap Kagami. "Kagami, aku tau kau ingin membantu gadis itu. Kau berbeda Kagami, kau memiliki kemampuan." Jelas Aomine tenang.
Kagami terdiam sesaat.
"Ya, aku memang beda. Karena aku ini monster. Ya aku ini monster!" bentak Kagami.
Aomine terdiam, dia benar-benar merasa bersalah. Bukan kemauannya memaksa Kagami. Jika Aomine tidak membawa Kagami ke polisi, mereka akan menangkapnya atas tuduhan pembunuhan. Hell! Mana mungkin Aomine membiarkannya begitu saja.
"Kagami, apa benar kau bisa melihat masa lalu?" kini suara kapten terdengar di ruangan itu melalui speaker.
"Tidak. Aku bukan paranormal. Jadi aku tidak bisa melihatnya." Aomine memandang Kagami kesal.
"Lalu bagaimana kau bisa membantu Aomine menemukan bukti?" tanyanya lagi.
Kagami terdiam.
"Kagami?"
"Ha..Haha..Hahaha, kalian semua bodoh! Mana mungkin aku bisa membantu Aomine kalau bukan aku yang melakukannya!" jelas Kagami.
'Kagami!'
"Maksudmu?"
Dan didetik selanjutnya, jawaban Kagami benar-benar membuat Aomine marah serta membuat polisi menetapkan dia sebagai tersangka.
"Kalian tidak juga mengerti? Aku tau semua bukti dan tempat karena aku-lah yang membunuh anak-anak itu. Aku yang membunuhnya!" Seringai muncul di wajah Kagami.
Dan didetik itu juga. Polisi langsung menghempaskan tubuh Kagami ke lantai sebelum memborgol tangannya.
Lanjut ke chapter berikutnya…
Balasan Riview
AoKagaKuroLover : Oke! Ini sudah lanjut. Semoga tidak mengecewakan. Terima kasih :D
KuroAmalia : Sudah! Sudah! Sudah! *ikutan ala demo* ini sudah lanjut, semoga tidak mengecewakan. Terima kasih riviewnya :)
Guest : Seneng deh baca riview kamu..hehe Awalnya aku berfikir kamu meriview untuk chp.3, ternyata setelah ku cek ulang kata 'item' itu ada di chp.2 ya? Terima kasih koreksinya :) Semoga chapter ini tidak mengecewakan..
Dominic Stratford : Di warning aku udah kasih tau kalau ini sho-ai, jadi mungkin ada hint-hint tertentu aja :) AoKaga ya? Sebenernya Leavi juga suka, tapi rasanya untuk cerita ini bagusan sho-ai. Terima kasih riviewnya.
Syalala uyee : Wah, Leavi juga maunya gitu. Tapi sepertinya imajinasi belum nyampe..hehe terima kasih riviewnya :)
Kusen-kun : Tau gak aku seneng baca riview kamu :D hehe.. Leavi masih banyak salah kok, kata-katanya masih banyak yang belibet. Belum ahli dengan fanfic beginian.. Yap, Leavi mencoba untuk tidak berat sebelah, tapi terkadang untuk pengemasannya cukup sulit._. Anoo, riview kamu ada yang Leavi tidak mengerti tentang plot itu, maaf ya. Terima kasih riviewnya. Semoga tidak mengecewakan :)
Scarletjacket : Aduh :3 makasih ya.. semoga tidak mengecewakan chapter ini..
Leavi mo ngucapin thank you yang sudah follow, fav, riview atau silent rider yang sudah membaca *bow*
Maaf update lama (_ _)v
Chapternya kepanjangan ya? Maaf kalau jadinya aneh. Kalau bingung tentang segitaga terbalik, coba deh ambil kertas terus dibuat polanya pasti ketemu. Sepertinya fanfic ini bakal tamat satu atau dua atau beberapa chapter lagi. Cukup segini aja, Leavi ngetiknya ini malem-malem, mata udah kunang-kunang.. maaf kalo ada typo..hehe
Akhir kata, riview?
