Author Note : Chapter 5 sudah update :) Semoga chapter ini tidak mengecewakan. Maaf bila penjelasannya kurang bagus.

Tanda […] berarti penglihatan Kagami ketika menyentuh sesuatu.


Psychometry

All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi

Warning

OOC, typo, sho-ai, ada OC lewat doang dan lain sebagainya


Chapter 5

"Kalian tidak juga mengerti? Aku tau semua bukti dan tempat, karena akulah yang membunuh anak-anak itu. Aku yang membunuhnya!" Kagami tersenyum licik. Seringai yang tidak pernah Aomine lihat, kini terlukis jelas di wajah pemuda itu.

Aomine terdiam. Butuh beberapa detik baginya, untuk menyadari apa yang dikatakan oleh Kagami.

"Cih, jangan bodoh Kagami! Aku tau kau tidak berbohong! Aku tau kau hanya mencoba untuk melarikan diri. Iyakan?!" bentak Aomine marah.

Sungguh Aomine tidak tau apa yang dipikirkan oleh Kagami saat ini. Dia tau kalau pemuda itu marah padanya. Tapi kenapa dia harus mengaku sebagai pelakunya? Tidak mungkin kan Kagami membunuh anak-anak itu?

"Hahahaha! Aomine, ternyata kau itu benar-benar bodoh ya?"

Aomine menatap Kagami bingung.

"Jadi, selama ini kau percaya dengan cerita karangan ku itu? Kau percaya dengan kemampuan ku? Apa namanya? Ah! Psychometry itu ya?" tanya Kagami dengan seringainya.

Perkataan Kagami sukses membuat Aomine semakin marah. Tangannya terkepal kuat, menahan agar dirinya tidak melayangkan tinju ke wajah pemuda itu.

"Apa maksudmu Kagami?" desis Aomine tajam.

Kagami tersenyum penuh arti pada Aomine. Bolamatanya memancarkan kesedihan sekaligus sinar kemarahan.

"Yang ku ceritakan padamu itu….."

Aomine sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi.

"…semuanya adalah bohong."

BUGH!

Pukulan telak menghantam wajah Kagami tanpa adanya perlindungan. Kagami jatuh dari kursinya dan tidak ada niatan untuk bangkit melakukan perlawanan.

"Jangan bodoh Kagami! Kau bilang kau yang membunuhnya?!" Aomine berjalan menghampiri pemuda itu cepat. Dengan kasar polisi muda itu menarik kerah bajunya, membuat jarak diantara mereka menipis. "Tatap mataku dan katakan yang sejujurnya?!" bisik Aomine datar penuh dengan intimidasi.

Pemuda itu tidak langsung menjawab.

Tidak ada senyuman ataupun tatapan mengejek yang biasa Kagami lihat dari Aomine. Yang terlihat sekarang hanyalah amarah, kekecewaan dan kesedihan. Melihat hal itu membuat Kagami kembali menyeringai.

Sedangkan Aomine, dia mengharapkan pemuda itu mengakui kebohongannya. Munkin saja dia dan rekan-rekannya sengaja untuk mengerjainya, atau mungkin hari ini adalah April Mop? Ah ya, pasti sebentar lagi Kagami akan tertawa padanya dan mengatakan 'Kau tertipu Ahomine. Hari ini kan April Mop…Hahaha.' Tapi semua itu sirna setelah dirinya kembali melihat seringai yang membuatnya muak itu. Tidak ada keraguan sama sekali yang terlihat dari iris crimsonnya, membuat Aomine semakin yakin kalau Kagami sedang tidak main-main.

"Aku…membunuh…anak-anak…itu. Puas?" ucap Kagami enteng.

Kagami tersenyum santai seakan tidak terjadi apa-apa.

Kedua tangan Aomine terlepas begitu saja dari baju Kagami. Tiba-tiba saja, tubuhnya lemas tidak dapat dia gerakan. Inikah yang dinamakan shock?

Aomine menatap Kagami yang masih tersenyum itu. 'Tolong jangan pasang wajah seperti itu, Kagami.'

Kapten yang sedari tadi diam mengamati, akhirnya bertindak.

"Aomine, cukup!" Perintahnya. "Kalian berdua, segera borgol tangan pemuda itu dan bawa ke ruangan lain."

Kedua petugas yang berjaga, masuk ke dalam ruangan dan memborgol tangan Kagami sebelum dibawanya keluar.

Bolamata Aomine mengikuti pergerakan pemuda itu dalam diam. Sebenarnya apa yang terjadi? Ini semua nyata kan? Semua yang telah dia dan Kagami lakukan itu nyata kan?

'Cih! Kagami. Jangan membuat ku bingung seperti ini.'

xxxxx

Di dalam ruangan yang hanya ada kursi dan meja, Kagami terdiam merutuki kekesalannya pada Aomine. Kagami tidak tau apa yang baru saja dia lakukan. Mengaku sebagai pelaku? Hah, itu adalah hal yang paling bodoh yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

'Cih, jangan bodoh Kagami! Aku tau kau tidak berbohong! Aku tau kau hanya mencoba untuk melarikan diri. Iyakan?!'

Perkataan Aomine tadi terngiang di kepalanya.

"Melarikan diri?" gumam Kagami pelan.

Apa yang dikatakan Aomine ada benarnya. Dia memang ingin melarikan diri dari semua yang telah terjadi. Dia sudah tidak tahan hidup seperti ini. Dia ingin bebas, dia ingin hidup normal seperti orang kebanyakan. Lagipula mereka semua tidak mempercayai kemampuannya itu. Dan bukankah sejak awal dia adalah seorang pembunuh? Karena kemampuannya itu sang ibu meninggal. Jadi menurutnya, dia pantas untuk dituduh sebagai pembunuh dengan mengaku sebagai pelakunya.

'Cih! Seharusnya dari awal aku tidak usah percaya dengannya.'

Kalau dipikir-pikir, apa tindakan Kagami ini terlalu kekanakan? Apa dia terlalu egois, sampai tidak mau menerima ajakan Aomine untuk menemukan korban?

Sungguh Kagami tidak bermaksud untuk menolak ajakan Aomine. Dia benar-benar khawatir dengan gadis kecil itu. Tapi, rasa kesalnya pada polisi muda itu benar-benar sudah mengalahkan hati nuraninya. Apa selama ini dia hanya dimanfaatkan?

Jangan salahkan Kagami yang bertindak egois seperti ini. Bukankah dia berhak juga untuk merasa marah pada Aomine?

xxxxx

Aomine bingung apa yang harus dia lakukan. Tiga puluh menit lagi Kagami akan dibawa ke markas pusat. Jika itu terjadi, tidak akan ada lagi kesempatan baginya untuk menyelamatkan pemuda itu.

Kopi hitam yang baru saja diminumnya, cukup membuat perasaannya sedikit lebih tenang. Kenapa penyesalan itu selalu datang terakhir? Andai Aomine bisa mengontrol emosinya saat itu pasti kejadiannya tidak akan serumit ini.

Kenapa tiba-tiba dia tidak mempercayai pemuda itu?

Sejak awal seharusnya Aomine tau kalau Kagami sedang bersandiwara padanya. Semua yang dia katakan itu tidak benar. Kenapa dia tidak menyadari hal itu dari awal?

Memang awalnya, dirinya juga menduga Kagami sebagai pelaku. Tapi kalau dipikir-pikir, apakah berbohong harus serepot ini? Apakah dia perlu menggambar di dinding dengan sudut pandang yang tidak biasa itu? Kenapa Kagami tidak langsung membunuhnya dari awal jika berniat untuk berbohong?

"Cih! Sekarang apa yang harus ku lakukan?" rutuknya sembari mengacak surai birunya frustasi.

Aomine menatap jam yang ada di dinding. Sepuluh menit terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan kebodohannya saja. Sedangkan dirinya belum memiliki rencana sama sekali. Mungkin ada, tapi kemungkinan berhasilnya sangat tipis.

Pertama, meminta kapten untuk melepaskan Kagami dan menjelaskan ulang apa yang terjadi itu sudah tidak mungkin dilakukan. Kagami pasti tidak akan mau menunjukan kemampuannya dan Kapten pasti tidak akan percaya dengan hal-hal yang berbau supranatural itu.

Kedua, menyusup ke ruangan dimana Kagami disekap juga tidak mungkin. Banyak petugas yang berjaga, mengingat status Kagami saat ini adalah tersangka.

Ketiga? Ah, Aomine belum memikirkannya.

Mungkin dengan berkeliling kantor sebentar, ide yang lain akan bermunculan.

xxxxx

Berita tertangkapnya pelaku penculikan sekaligus pembunuhan anak, cepat sekali terdengar ke telinga masyarakat. Banyak wartawan, reporter tv, dan masyarakat yang sudah menunggu di depan kantor polisi. Padahal pihak kepolisian baru memberitakan orang yang ditangkap ini adalah terduga dan bukan tersangka.

Tentu kalian tau apa bedanya bukan?

Tapi bagi masyarakat yang sudah muak dengan aksi pelaku, itu tidak masalah. Mau orang itu terduga atau tersangka yang penting mereka bisa meluapkan amarahnya.

Haizaki mengalihkan pandangannya dari kumpulan massa yang sudah berkumpul di depan kantor. Dia tidak menyangka kalau masyarakat akan datang sebanyak ini. Kalau begini pasti akan sulit membawa Kagami pergi.

"Bagaimana persiapannya?" tanya kapten.

"Hampir selesai. Sekarang kita tinggal membawa Kagami masuk ke dalam mobil." Jawab Imayoshi. "Haizaki, kau yang akan menemani Kagami di dalam mobil. Dan dua orang petugas lainnya akan mengawalmu dari depan." Jelasnya.

"Baik…baik, aku mengerti." Ucap Haizaki santai.

"Ah, ma-maaf. Apa kalian tidak merasa ini aneh?" ucap Sakurai tiba-tiba.

"Maksudmu?"

"Be-begini, bukankah pengakuan yang dilakukan oleh Kagami-san itu terlalu cepat. Lagi pula, apakah Aomine-san bisa sebodoh itu sampai tidak menyadari ada pelaku di dekatnya? Ma-maafkan aku, aku hanya ingin membantu saja. Maafkan aku." Jelas Sakurai.

Sang kapten setuju dengan apa yang Sakurai katakan. Sejujurnya dia juga masih curiga kenapa pemuda yang bernama Kagami itu mengaku sebagai pelaku. Entah kenapa, dia merasa ada yang hilang dari teka-teki itu.

"Jelas-jelas karena Aomine itu ceroboh, Sakurai. Dan pengakuan Kagami itu menurutku tidak aneh. Dia bisa mengetahui tempat dan barang bukti korban dengan tepat. Bagaimana mungkin orang yang tidak tau apa-apa bisa tau semua itu, kalau bukan dia pelakunya?" sanggah Haizaki.

Ini yang membuat kapten bingung. Apa yang dikatakan Haizaki juga ada benarnya. Bagaimana mungkin orang biasa bisa tau tempat dan barang bukti hingga sedetail itu. Apa mungkin indra keenam itu memang ada?

"Ta-tapi bukankah Aomine-san bilang kalau Kagami-san memiliki kemampuan psychometry? Jadi aku pikir itu tidak aneh." Sahut Sakurai membela.

"Kau percaya dengan hal yang tidak masuk akal seperti itu? Ayolah Sakurai! Ini zaman modern. Coba kau pikirkan, mana ada pelaku yang tidak berbohong. Setau ku, semua pelaku kejahatan itu pasti akan melakukan segala cara agar kejahatannya tidak ketahuan. Jika kita lalai sedikit saja, pelaku akan mudah kabur dan melakukan kejahatannya lagi." Jelas Haizaki.

Sakurai diam tidak bisa membalas.

Sejujurnya Haizaki juga tidak yakin dengan apa yang dia katakan. Mau bagaimanapun mereka harus melakukan penyelidikan lebih lanjut, untuk memastikan bahwa Kagami adalah pelaku sebenarnya atau bukan. Dan tidak langsung menggiring pemuda itu ke dalam penjara.

Mungkin desakan dari masyarakat juga ikut andil dalam masalah ini. Sehingga kepolisian harus bekerja cepat dengan menangkap orang yang bisa dijadikan tersangka.

TOK TOK TOK TOK

Seorang petugas masuk ke ruangan, menghampiri kapten. "Sekarang waktunya."

Kapten mengangguk sebelum mengisyaratkan Haizaki untuk keluar ruangan.

.

.

.

.

.

Kagami bisa mendengarkan suara yang cukup berisik, ketika dia keluar dari ruangan. Pipinya masih terasa sakit akibat pukulan telak dari Aomine. Sepertinya polisi muda itu benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk memukulnya.

"…"

Wajahnya terlihat berantakan. Pipinya sedikit membiru dengan darah kering yang menghiasi sudut bibirnya. Kedua tangannya diborgol di depan, cukup menyusahkan karena dia tidak bisa bergerak secara leluasa.

Dua orang petugas terus menggiringnya melewati koridor. Kagami tidak tau dirinya akan dibawa kemana, tapi yang pasti itu bukanlah sesuatu yang baik untuknya.

'Apa dia membenciku?' batinnya.

Memikirkan hal itu membuat mood Kagami berubah buruk. Kenapa dia harus memikirkan perasaan orang itu?

"Bagaimana keadaanmu?"

Kagami melihat seorang polisi bersurai abu-abu menghampirinya. Siapa dia?

"Kau tidak usah menatap ku seperti itu. Aku hanya ingin tau keadaan mu saja." Ucap Haizaki.

Kagami menyipitkan matanya memandang Haizaki. Entah kenapa dia tidak menyukai orang ini. "B-biasa saja."

"Baguslah kalau begitu." Balas Haizaki tersenyum memandang Kagami. "Ah! Aku jadi penasaran. Sejak kapan kau mengenal Aomine?"

Mendengar nama orang itu disebutkan, membuat perasaan Kagami bertambah buruk. "Bukan urusanmu." Jawabnya ketus.

Haizaki hanya tertawa kecil meladeni jawaban Kagami.

"Oh ya perkenalkan namaku Haizaki Shougo. Aku yang akan menemanimu ke markas pusat." Ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya.

Kagami tidak membalas dan hanya melihat tangan kanan yang terjulur kepadanya itu. "Kalau begitu salam kenal." Ucapnya datar. "Dan kau tau, sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri. Aku yakin kau sudah tau namaku dengan sendirinya. Lagipula, apa kau bermaksud menghinaku dengan mengulurkan tangan seperti itu? Oh aku tau! Mungkin matamu itu cukup buta karena tidak melihat tanganku yang terbogol ini." Balas Kagami sarkastik.

Haizaki cukup kaget mendengar jawaban Kagami. Dia tidak menyangka ucapannya akan dibalas seperti itu.

"Hahaha, ternyata kau tidak mempunyai rasa takut ya?" Haizaki menatap tajam Kagami. "Ah benar juga, kenapa seorang pembunuh harus mempunyai rasa takut?" Balasnya.

Kagami tidak menjawab. Andai saja tangannya tidak terbogol, pasti dia sudah menghatamkan tinjunya pada wajah Haizaki.

"Baiklah itu tidak penting. Lupakan saja. Kita sudahi basa-basi yang menyenangkan ini. Sekarang yang lebih penting adalah membawa mu keluar dari sini dengan selamat." Ucapnya.

'Huh?'

"Kau akan mengerti sebentar lagi." Jawab Haizaki seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Kagami.

Haizaki meminta masker dan topi hitam yang dibawa oleh salah satu petugas.

"Kau harus menggunakan ini." ucapnya sembari memasangkan topi dan masker hitam itu ke wajah Kagami. "Saat ini kau harus menyembunyikan identitasmu agar kau dan orang terdekat mu tidak celaka. Status mu saat ini masih terduga dan bukan tersangka." Jelasnya.

"Baiklah ayo kita pergi. Aku harap kau tidak kaget dengan keadaan di luar sana." Lanjutnya.

Kagami pun di bawa keluar kantor dengan pengawalan yang cukup ketat. Suara warga yang berteriak sekaligus memaki mulai terdengar jelas di indera pendengarannya

JEBREET!

FLASH!

Cahaya dari kamera sempat membutakan penglihatannya sementara. Warga yang berkumpul semakin berteriak anarkis ketika Kagami melewati mereka. Beberapa polisi berusaha untuk membuka jalan dengan menghadang warga yang marah itu. Mungkin kalau polisi itu tidak ada, warga dengan anarkisnya akan menghampiri Kagami dan memukulnya tanpa ampun.

"Dasar pembunuh!"

"Kurang aja kau!"

"Kembalikan anakku!"

"Enyahlah dari dunia ini, pembunuh!"

"Mati saja kau!"

Hinaan dan caci maki semakin terdengar dimana-mana. Walaupun Kagami bukan orang yang membunuh anak-anak itu, mendengar hinaan dan caci maki yang ditunjukan padanya, menjadi serangan psikologis tersendiri untuknya. Yang dia dapat lakukan sekarang hanyalah menunduk. Dia tidak berani untuk menatap warga yang marah itu.

Dilain pihak, seorang pria dengan kasarnya mendorong petugas dari kerumunan sehingga dia dapat menggapai Kagami yang ada di hadapannya. Dengan kasar pria itu memukul kepala Kagami hingga topi hitamnya terjatuh.

"Dasar pembunuh!" desis pria itu.

Dan kilatan flash kamera kembali menyala ketika topi itu tidak menutupi surai merah gelapnya lagi.

"…"

"Pembunuh!"

"Tidak usah menyamar kau!"

Jantung Kagami berdetak semakin cepat. Bukan karena marah ataupun sejenisnya. Melainkan rasa takut yang sangat besar. Dia tidak bisa membayangkan kalau manusia bisa semengerikan ini. Kehidupan dulunya yang selalu sendiri, membuatnya merasa tidak nyaman dengan kumpulan orang.

Pria yang memukul Kagami langsung dibawa salah satu petugas, menjauhinya.

"Dasar pembunuh!" teriak pria itu lagi.

Kagami melihatnya. Ya, dia bisa melihatnya dengan jelas. Bolamata yang memancarkan kebencian dan amarah itu benar-benar sudah tidak terbendung lagi. Bahkan perasaannya itu langsung tersalurkan ke dirinya.

Kagami terdiam.

Semarah inikah warga pada pembunuh itu?

"Ayo jalan!" Kesadarannya kembali ketika dia diseret masuk ke dalam mobil oleh petugas.

Apa yang harus dia lakukan?

xxxxx

Sepuluh menit sebelum Kagami dibawa Haizaki ke dalam mobil.

"Kenapa harus ada yang mengawal, bikin repot saja." Gumam Aomine kesal.

Setelah mendengarkan pembicaraan rekan-rekannya secara sembunyi-sembunyi, Aomine langsung bergegas menuju ruangan Kagami ditahan. Namun disana dia tidak menemukan siapapun.

'Pasti sudah dibawa pergi.'

Dia tidak menyangka kalau Kagami akan dikawal seperti itu. Dia pikir hanya Haizaki yang akan membawanya. Sial! Kalau begini rencananya akan gagal.

Ayo berpikir Aomine! Gunakan otak jeniusmu!

Kalau cara yang biasa gagal, berarti dia harus menggunakan cara yang ekstrem. Bukankah begitu?

"Benar juga, kenapa aku tidak menggunakan cara itu saja?" ucapnya tiba-tiba. Diapun merogoh handphonenya sebelum mengetikan sederet angka dengan cepat.

"Tetsu? Kau ada dimana sekarang?" tanya Aomine cepat setelah Kuroko mengangkat teleponnya.

"Aku sedang berada di toko buku Aomine-kun, ada apa?"

"Aku butuh bantuanmu! Ini menyangkut Kagami. Dia dituduh sebagai pelaku penculikan." Jawabnya.

"Bagaimana bisa?" Aomine bisa mendengar kalau sahabatnya itu kaget.

"Sudahlah, nanti aku akan menceritakannya! Aku sedang terburu-buru. Tetsu, kau bisa membantuku kan?" Tanya Aomine sekali lagi.

"…" Diseberang sana Kuroko tengah berpikir sebentar. Sepertinya masalah kali ini akan lebih rumit dari yang sebelumnya.

"Tetsu, aku mohon." Aomine sebenarnya tidak mau menyeret Kuroko masuk ke dalam masalahnya. Tapi saat ini dia sudah tidak punya pilihan lain.

Mendengar Aomine memohon, semakin memperkuat dugaannya. Tidak biasanya Aomine memohon dengan nada yang seperti itu.

Kuroko pun menghela napas panjang, berharap masalah yang menimpanya hilang begitu saja.

"Aku akan membantu Aomine-kun, asal Aomine-kun mau menjawab pertanyaan ku dengan jujur." Ucap Kuroko akhirnya.

"Apa itu?" balas Aomine cepat.

"Kau yakin Kagami-kun tidak bersalah?"

Aomine terdiam.

"Aku yakin!" balas Aomine mantap.

Kuroko tersenyum tipis di seberang sana. "Baiklah, aku akan membantumu Aomine-kun. Apa rencanamu sekarang?"

"Hmm, begini. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku yakin rencana ini akan berhasil."

"…" Walaupun tidak menjawab, Aomine tau kalau sahabatnya ini penasaran dengan penjelasannya.

"Ah ya begini. Nanti akan ada dua mobil polisi. Yang mengemudi paling depan hanya berisi dua orang petugas, sudah termasuk supir mobil. Mereka hanya bertugas mengawal Kagami. Tapi tidak menutup kemungkinan mereka membawa senjata." Aomine menarik napas terlebih dulu sebelum melanjutkan. "Dan mobil yang di belakangnya, berisi tiga orang. Di mobil itu akan ada Haizaki yang menjaga Kagami." Jelasnya.

"Mereka akan melewati daerah Y sebelum sampai ke markas pusat. Kita beruntung daerah tersebut sepi dan hanya beberapa mobil saja yang lewat. Lalu di daerah situ kau pasti akan melewati pertigaan, kau tau tempat itu?"

"Ya, sepertinya aku mengetahuinya." Jawab Kuroko.

"Bagus. Mereka akan datang dari arah Barat. Dan Tetsu, aku harap kau tidak marah denganku. Aku ingin kau berpura-pura menjadi warga yang sedang mengalami masalah dalam mengemudi. Berpura-puralah menabrak mobil yang mengawal Kagami itu. Tentu saja untuk melakukan itu kau harus datang dari arah yang berlawanan." Jelas Aomine.

"Kau gila, Aomine-kun!" Ucapnya datar namun tajam.

"H-hei tunggu! Aku kan tidak menyuruhmu untuk benar-benar menabrak mobil mereka. Aku bilang berpura-pura. Untuk membawa Kagami pergi, kau harus membuat petugas yang mengawalnya sibuk Tetsu. Aku tidak bisa mengatasi mereka semua sendirian."

"Mendengar penjelasanmu, membuat ku semakin yakin kalau kau benar-benar meminta ku untuk menabrak mobil polisi itu, Aomine-kun. Tidak adakah cara lain selain itu?" tanya Kuroko tidak yakin.

"Jika aku punya, pasti aku tidak akan menyuruh mu untuk melakukan itu." Balasnya.

Kuroko memijat palanya yang tiba-tiba pusing. "Aku tidak yakin bisa melakukan itu. Tapi akan ku coba. Jika gagal ku harap kau tidak marah."

"Aku tidak akan marah. Kau menerima tawaranku saja sudah cukup membantu ku, Tetsu." Ucapnya. "Maaf sudah merepotkan mu."

Kuroko tersenyum kecil. Sepertinya dia memang harus membantu sahabatnya ini. "Aku tidak menyangka kau bisa meminta maaf, Aomine-kun. Setan macam apa yang merasuki mu hingga seperti itu."

"Cih! Sialan kau Tetsu. Su-sudahlah, ada yang harus ku lakukan. Sisanya akan ku beritahu nanti."

Telepon diputus secara sepihak oleh Aomine. Baiklah yang sekarang harus dia lakukan saat ini adalah memperhatikan keadaan.

Diapun bergegas keluar kantor setelah memasukan ponselnya ke saku celana. Suasana berubah semakin memanas diluar sana. Setau Aomine, tadi tidak sericuh ini. 'Ada apa?'

"Dasar pembunuh!"

"Kurang aja kau!"

"Kembalikan anakku!"

"Enyahlah dari dunia ini, pembunuh!"

"Mati saja kau!"

Bolamata Aomine menangkap sosok Kagami yang tengah melewati kerumunan itu. Walaupun tertutup dengan topi, Aomine masih dapat mengenalinya dari postur tubuhnya yang tinggi.

Melihat hinaan itu dilontarkan kepada Kagami, membuat perasaannya tidak enak. Tangannya terkepal kuat menahan emosi. Sudah sepantasnya Kagami tidak mendapatkan hinaan seperti itu. Dia tidak bersalah.

Aomine bisa melihat, seorang pria menerobos polisi sebelum mendekati Kagami dan memukulnya.

Sabar Aomine! Aturlah emosi mu. Ada yang lebih penting saat ini.

Dengan terpaksa dia meninggalkan tempat itu, menuju parkiran belakang. Dia sudah menyiapkan kunci mobil yang berhasil dicurinya saat berkeliling kantor. Salahkan Sakurai yang meletakan kuncinya sembarangan. Apa jangan-jangan, karena ini kantor polisi dia berpikir tidak akan ada yang mencuri kunci mobilnya?

Suara sirine mobil polisi terdengar menandakan keberangkatan Kagami. Mendengar itu Aomine bergegas menyalakan mobil dan memulai rencananya.

xxxxx

Di dalam mobil, baik Haizaki dan Kagami tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Walaupun sesekali Haizaki melirik Kagami untuk memastikan keadaan pemuda itu.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Haizaki memulai pembicaraan.

Kagami tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

"Kalau kau berniat untuk meloncat dari mobil, jangan harap rencanamu akan berhasil. Sebelum kau melakukan itu, kupastikan kau akan kuhentikan terlebih dahulu."

"Aku tidak akan melakukan itu." Jawab Kagami tanpa memandang Haizaki.

"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Rupanya kau cukup pintar untuk membaca situasi ya." Balas Haizaki.

Keadaan menjadi hening kembali.

.

.

.

.

.

Kuroko memarkir mobilnya di pinggir jalan. Setelah mendengar rencana Aomine, dia langsung bergegas pergi begitu saja dari toko buku. Untung saja jarak antara toko buku dan daerah Y cukup dekat, sehingga Kuroko berhasil datang lebih dahulu.

DRRTT DRRRTT

From : Aomine

Tetsu? Apa kau sudah melihat mereka?

Bolamata baby blue itu memandang dari balik kaca mobil. Tidak ada yang terlihat. Keadaan jalan cukup sepi.

To : Aomine

Mereka belum datang Aomine-kun. Sebaiknya kau cepat atau rencanamu tidak akan berjalan.

Baru beberapa detik, sebuah pesan kembali masuk.

From : Aomine

Aku tau. Oh ya, jangan lupa dengan pesanku tadi.

Kuroko menutup handphone flipnya, sebelum bersender merilekskan tubuhnya pada kursi mobil.

Dia jadi teringat dengan pesan Aomine yang diterimanya beberapa saat lalu.

'Jangan memulai rencana jika kau melihat mereka dari jauh. Tunggu sebentar, hingga mereka mendekatimu. Kita akan memulai rencana jika mereka mulai mendekati titik pertemuan antara kau, aku dan mereka. Aku akan datang dari arah Selatan. Aku tidak tau bagaimana kau akan membuat petugas itu sibuk. Tapi aku yakin kau pasti berhasil. Selagi mereka mulai panik, aku akan melakukan tugasku. Ku harap kau tidak kaget dengan apa yang ku lakukan nanti, Tetsu.'

"Membuat mereka sibuk?" Kuroko menatap pemandangan di depannya bosan. "Apa aku mencoba cara itu saja ya?" Gumamnya sembari membayangkan salah satu adegan di film action.

.

.

.

.

.

Di tempat lain.

Aomine menggas mobilnya dengan cepat melewati jalan pintas. Sesekali dia hampir menabrak warga yang sedang melewati jalan. Salahkan dirinya yang tidak memperhatikan jalan saat itu.

Perkiraannya jika dia tidak salah, pasti saat ini Haizaki akan melewati daerah itu sebentar lagi. Berarti dia harus cepat sebelum semuanya terlambat.

.

.

.

.

.

Kembali ke daerah Y.

Samar-samar Kuroko mendengar sirine polisi yang semakin mendekat. Dia bergegas menyalakan mobilnya dan bersiap untuk melakukan rencana.

NING NONG NING NONG

Matanya menajam setelah melihat mobil polisi yang berjalan kearahnya. Ada dua mobil, tepat seperti yang Aomine katakan. Sekarang dia harus bersabar menunggu mobil itu mendekati titik temu.

To : Aomine

Aomine-kun, aku melihatnya. Ku harap kau sudah sampai di posisimu.

Kuroko memasukan ponselnya. Kaki kanannya menginjak pedal gas secara perlahan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksinya.

Sepertinya dia sudah tertular kegilaannya Aomine. Menabrak mobil polisi secara tidak sengaja, menurutnya terlalu biasa. Bagaimana jika dia mencoba sesuatu yang lain? Misalnya, menggas mobil dengan kecepatan penuh, sebelum menghindari mereka. Bagaikan adegan di film-film action yang pernah dia tonton. Sepertinya itu lebih menyenangkan dibandingkan rencana Aomine. Tapi jika dia salah sedikit saja dalam mengambil keputusan, mungkin saat itu juga nyawanya akan melayang.

Setelah merasa jarak mobil polisi dengan mobilnya cukup, kaki kanannya menekan lebih dalam pedal gas untuk menambah kecepatan.

Sedangkan di dalam mobil polisi.

Kedua orang petugas yang mengendarai mobil paling depan itu, memandang curiga mobil Kuroko. Awalnya mereka tidak peduli dengan mobil yang berlawanan arah dengan mereka itu. Tapi, semakin mendekat, mobil itu semakin melaju kencang kearah mereka.

"Hei, mobil itu melaju kencang kearah kita. Apa sebaiknya kita tidak berhenti saja?" tanya salah satu petugas.

"Biarkan saja, nanti dia juga menghindar." Jawab sang supir santai.

Tapi setelah beberapa meter, mobil Kuroko tidak juga menghindar. Malahan semakin melaju cepat. Kepanikan melanda mereka berdua.

"Hei! Bagaimana ini? Apa dia berniat bunuh diri dengan menabrakan mobilnya pada mobil kita?" ucap sang supir sembari menyalakan klaksonnya.

TIN! TIN! TIN!

Kuroko terus menggas mobilnya kencang, tanpa memperdulikan suara klakson dari polisi itu. Tinggal beberapa meter lagi. Dan dia harap rencananya akan berhasil.

Setau Kuroko, orang normal pasti akan menghindar jika ada mobil yang melaju kearahnya dengan kecepatan yang tidak wajar. Mereka pasti akan panik, dan berusaha untuk menghindari mobil kencang itu.

Itulah yang dipikirkan oleh Kuroko. Dia sengaja melakukan itu agar petugas polisi yang mengawal Kagami panik.

"Oh tidak, dia tidak main-main. Seto kita harus menghindar!" teriak salah satu polisi panik.

Kedua mobil yang berjalan cepat itu hampir mendekati titik pertemuan. Mereka sudah tidak dapat menghindari satu sama lain lagi. Jika sang polisi berusaha untuk berhenti mendadak itu tidak mungkin, mereka tidak yakin kalau mobil yang dikendarai Kuroko akan ikut berhenti juga. Satu-satunya cara adalah menghindar.

"Seto! Menghindar!" Teriak petugas itu.

"Aku tau!" balas Seto ikutan panik.

Kuroko semakin menggas mobilnya tanpa dia sadari. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Jantungnya berdetak cepat, mengikuti hormon adrenalin yang dihasilkan dari tubuhnya.

Sepuluh meter, sebelum kedua mobil itu bertemu.

"SETOOO!"

.

.

.

.

.

Sepuluh meter.

"…"

.

.

.

.

.

Lima meter.

.

.

.

.

.

"SETO!"

.

.

.

.

.

"Sekarang!" seru Kuroko pada dirinya sendiri, setelah merasakan waktu yang tepat untuk melakukan aksinya.

Kuroko langsung membanting setirnya ke kanan. Kaki kirinya dengan cekatan menginjak pedal rem sehingga menimbulkan suara decitan antara ban mobil dan aspal sebelum mobil itu benar-benar berhenti.

SRAAKK!

BRAAKKK!

Sedangkan mobil polisi itu menghindar dengan membanting setirnya ke kiri. Kuroko kaget dan panik setelah dilihatnya mobil itu menabrak pembatas jalan. Benturan akibat tabrakan itu cukup keras, terlihat dari kerusakan yang ada di mobil tersebut.

'Oh Tuhan! Apa yang telah ku lakukan?!' batinnya was-was.

Bohong kalau Kuroko tidak merasa takut ataupun khawatir. Tindakannya tadi hampir membuat kedua polisi itu meninggal. Dia tidak menyangka kalau polisi itu akan terus mengendarai mobilnya. Kalau tau begini, dia tidak akan coba-coba melakukan aksinya itu. Lebih baik dia mengikuti saran Aomine.

Perasaannya berubah lega ketika melihat petugas itu keluar dari mobil, walaupun pada akhirnya mereka berdua pingsan juga di jalan.

Mobil yang ditumpangi Haizaki dan Kagami langsung berhenti mendadak ketika mobil yang ada di depannya menabrak pembatas jalan.

Keadaan hening sesaat.

Kejadian itu begitu cepat, sehingga mereka membutuhkan proses untuk mengolahnya.

"A-apa yang terjadi?" gumam Haizaki tidak percaya.

Begitu juga Kagami yang sedari tadi terdiam. Bolamatanya membulat setelah melihat mobil polisi di depannya dalam keadaan setengah rusak. Apalagi setelah melihat mobil hitam yang tidak jauh darinya. Mobil itu terlihat tidak asing, apa dia pernah melihatnya?

"Ah! Kuroko?" ucap Kagami tiba-tiba.

"Apa katamu?" Belum sempat Kagami menjawab pertanyaan Haizaki, dari arah Selatan, sebuah mobil hitam melaju dengan cepat kearah mereka.

Aomine datang tepat pada waktunya.

Mobil hitam yang melaju cepat itu langsung menghantam mobil polisi yang ditumpangi Haizaki dan Kagami.

"Hyaaaa!" serunya.

BRAKK!

SRAAKK!

Bolamata Kuroko membulat, melihat kegilaan Aomine yang menabrakan dirinya pada mobil polisi itu. Apa Aomine tidak memikirkan keselamatan penumpang di dalamnya?

Dorongan yang sangat kuat menyebabkan mobil polisi itu terguling sebanyak satu kali, yang menyebabkan penghuni di dalamnya mengalami benturan yang cukup kuat. Tidak hanya mereka. Aomine pun juga mengalami benturan di kepalanya setelah menghantam mobil polisi itu. Untung dia menggunakan sabuk pengaman, sehingga benturan yang dirasakan tidak terlalu parah.

Para pejalan kaki yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Ada yang terdiam, memfoto kejadian langka ini, dan ada yang langsung menghubungi polisi. Serpihan kaca akibat tabrakan itu tersebar di jalan. Tidak hanya itu, bagian-bagian kecil dari mobil juga ikut terlepas dan berserakan.

"Aomine-kun!" Kuroko keluar dari mobilnya, menghampiri Aomine.

Benturan di kepalanya sukses membuat darah segar mengalir begitu saja. Rasa pusing yang menyerangnya tidak dipedulikan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Kagami. Dia harus menyelamatkan pemuda itu dan cepat membawanya pergi.

"Aomine-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Kuroko.

Aomine melangkahkan kakinya mendekati mobil polisi itu. Butuh beberapa detik baginya agar bisa kembali berjalan normal. "Aku baik-baik saja. Kau masuklah ke dalam mobilmu itu, jika orang-orang tau wajahmu bisa gawat." Ucapnya.

Awalnya Kuroko ingin menolak. Tapi melihat keyakinan dari mata Aomine dia tidak bisa menolaknya begitu saja. "Baiklah, aku akan menunggumu dan Kagami-kun di dalam mobil. Cepatlah!"

Aomine mengangguk. Dia langsung melihat keadaan orang-orang di dalam mobil. Syukurlah mereka semua selamat. Walaupun terdapat beberapa luka yang dihasilkan.

Pintu mobil dibuka, dilihatnya Kagami yang tengah pingsan itu. Keadaannya tidak terlalu parah, walaupun bisa juga dibilang tidak terlalu baik.

Aomine menepuk pipi pemuda itu perlahan untuk memastikan keadaan pemuda itu.

"Hei, Kagami?"

Tidak ada jawaban.

Aomine kembali menepuk pipi Kagami pelan. "Kagami, kau tidak apa-apa?"

"Ughh…" Walaupun hanya mendengat rintihan sakit dari Kagami, itu cukup membuat Aomine merasa lega. Setidaknya pemuda itu masih hidup. Sekarang, dia harus mengeluarkan pemuda itu dari dalam mobil.

'Ugh...susah sekali.' Batinnya.

Setelah bersusah payah akhirnya dia berhasil mengeluarkan Kagami. Sekarang tinggal membawa pemuda itu pergi. Tapi, melihat kedua tangan pemuda itu terborgol, dia tidak bisa asal pergi begitu saja. Dia harus menemukan kuncinya terlebih dahulu. Diapun kembali masuk ke dalam mobil, merogoh saku celana Haizaki untuk menemukan kunci borgol itu.

"Ugh…A-Aomine?" tanya Haizaki yang baru bangun dari pingsannya.

"Sssst, diamlah. Dimana kau menaruh kunci borgol Kagami?" tanya Aomine, memanfaatkan ketidaksadaran Haizaki.

"Saku celana kanan. Tunggu, bu-buat apa kau bertanya?" Haizaki belum menyadari Kagami yang hilang dari sisinya.

Aomine merogoh saku kanan celananya. Gotcha! Dia mendapatkannya.

"Tidak apa-apa." Jawab Aomine cepat.

Setelah melepaskan borgol dari tangan Kagami, Aomine menggendong pemuda itu di punggunya.

"Tetsu! Ayo kita berangkat!" panggil Aomine.

Kuroko menggas mobilnya mendekati Aomine.

Tanpa Aomine sadari, salah satu petugas yang tadi pingsan mengarahkan senjatanya pada Aomine, untuk menghentikan pemuda itu.

"Kau tidak bisa kabur." Ucap petugas itu.

Kuroko yang melihat petugas itu langsung berteriak panik pada Aomine.

"Aomine-kun! Di belakangmu!"

.

.

.

.

.

.

.

.

DORR!

"Ugh!"

Darah mengalir begitu saja dari bahu kanan Aomine. Sebenarnya Aomine tidak akan terluka karena ada Kagami di belakangnya. Jika peluru itu ditembakan, pasti Kagamilah yang terkena. Ingat! Dia sedang membawa Kagami dibelakangnya. Karena itu dia sengaja membalikan badannya agar pemuda itu tidak tertembak dan hasilnya, peluru itu langsung bersarang di bahunya.

Keseimbangan Aomine hampir saja hilang kalau Kuroko tidak langsung membantunya berdiri dan membawa mereka berdua ke dalam mobilnya.

"Ugh...Kita harus ke dokter, Tetsu." Erang Aomine.

Kuroko mengangguk sebelum membawa mobilnya pergi. Meninggalkan Haizaki dan beberapa petugas yang pingsan.

xxxxx

"Apa?! Kagami dibawa pergi?" tanya kapten tidak percaya.

Hyuuga mengangguk. "Baru saja aku mendapatkan berita kalau mereka mengalami kecelakaan. Saksi mata yang melihat kejadian tersebut mengatakan, ada dua buah mobil berwarna hitam yang melaju ke arah mereka. Dan menurut penuturan Haizaki yang saat ini berada di rumah sakit, pelakunya adalah Aomine."

"Aomine?! Bagaimana dia melakukan itu?" tanya kapten.

TOK TOK TOK

Sakurai masuk ke dalam ruangan. "Ma-maaf, apa ada yang melihat kunci mobil ku?" tanya Sakurai ragu-ragu.

Dan disaat itu juga, pertanyaan sang kapten terjawab dengan sendirinya. Mobil Sakurai pasti dipakai Aomine untuk melakukan aksinya. Tidak salah lagi, yang mencuri mobilnya Sakurai adalah dia. Kapten dan Hyuuga langsung menghela napas begitu saja. Sakurai yang melihat hal itu langsung merasa tidak enak.

'Apa aku membuat kesalahan?' batinnya.

xxxxx

Di salah satu ruangan di kantor polisi.

Imayoshi dan Susa kini masih mengintograsi dua orang pemuda yang berprofesi sebagai relawan di salah satu Yayasan Anak itu. Keduanya memakai almamater berwarna hitam, dengan gambar anak kecil yang saling bergandengan di kantong dada kirinya.

Awalnya, Sakurai lah yang mencurigai tempat Yayasan itu. Dia merasa aneh dengan kasus pembunuhan ini. Setelah dia menyelidiki data dari masing-masing korban, dari mulai kenalan, orang terdekat, hingga sesuatu yang bersangkutan dengan korban, akhirnya dia menemukan kesamaan. Setiap korbannya pasti berhubungan dengan yayasan itu. Nama mereka tercatat di daftar anggota, yang memang terdaftar itu adalah anak-anak kurang mampu.

"Akashi Seijuuro, 22 tahun. Bekerja sebagai direktur utama di sebuah perusahaan ternama. Menghabiskan waktu luang di Yayasan Anak, dengan alasan meringankan beban mereka." Imayoshi menatap pemuda bersurai merah terang dengan warna mata yang senada dengan rambutnya itu.

Kini Imayoshi mengalihkan pandangannya, menatap pemuda bersurai hitam agak panjang. "Hanamiya Makoto, 23 tahun. Seorang freelancer. Ikut Yayasan anak karena ajakan seorang teman."

Imayoshi meletakan kertas yang berisi data itu di atas meja. Dibalik matanya yang sipit, sebenernya dia tengah mengamati kedua pemuda itu.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kami bisa di sini?" tanya Akashi to the point.

"Hoo, tenang-tenang. Saat ini kami hanya menjalankan tugas." Balas Imayoshi santai. "Pertama-tama, aku yakin kalian sudah mendengar berita tentang penculikan anak akhir-akhir ini."

"Oh aku tau, jadi kau menuduh kami pelakunya?" sahut Hanamiya tiba-tiba.

Imayoshi tersenyum penuh arti. "Aku hanya ingin berbincang-bincang sebentar dengan kalian."

Susa yang sedari tadi berdiri memperhatikan, kini mengambil sebuah kertas dan pulpen untuk menyatat. "Silahkan dimulai." Ucap Susa mempersilahkan.

"Baiklah. Hal pertama yang ingin aku bicarakan adalah, apa kalian menyukai anak-anak?" tanya Imayoshi.

Yang menjawab pertama adalah Hanamiya. "Suka? Aku suka anak-anak? Entahlah, aku sendiri tidak tau. Tapi melihat ekspresi mereka yang bermacam-macam itu, aku pikir aku menyukai mereka."

Sekarang Imayoshi menatap Akashi. "Apa kau mempertanyakan suka dalam arti lain? Maaf tapi aku bukan seorang pedofil. Aku hanya ingin membantu mereka, karena mereka membutuhkannya. Kalau kau mempertanyakan suka dalam arti kekeluargaan, aku menyukai mereka, karena kepolosan dan keluguan mereka." Jelas Akashi tajam.

Sebenarnya Imayoshi dan Susa cukup tertekan memandang tatapan yang dilontarkan Akashi itu. Begitu dingin dan mengintimidasi.

"Aku mengerti. Bisa kita lanjutkan lagi?"

Hanamiya mengangguk santai.

"Cepatlah, aku banyak urusan." Balas Akashi.

Imayoshi membenarkan kacamatanya. "Apa kalian menyukai binatang anjing?"

"Oi! Oi! Tunggu dulu. Pertanyaan macam apa itu? Apakah ini tes untuk mengukur kadar cinta kita pada hewan?" sarkas Hanamiya.

"Tentu bukan, sebaikanya kalian jawab saja kalau ingin cepat selasai." Sahut Susa tiba-tiba.

"Aku tidak suka. Karena mereka menyusahkan dan manja. Terkadang aku berpikir untuk membunuh mereka. Pasti menyenangkan." Perkataan Akashi sukses membuat tiga orang yang ada di ruangan menatapnya horror. Bahkan pulpen yang dikenakan Susa tiba-tiba terjatuh ke lantai saking kagetnya.

Merasa keadaan yang mulai terasa tidak enak, Akashi dengan cepat menepis ucapannya. "Maaf, aku hanya bercanda."

"Oh..uh..b-baiklah. Bagaimana dengan mu, Hanamiya?"

"Aku? Tentu aku sangat menyukai hewan berbulu itu. Mereka patuh dan setia. Saking sukanya, aku takut untuk kehilangan mereka. Aku ingin mereka menemaniku." Jawabnya penuh semangat.

Susa mencatat semua yang dikatakan kedua pemuda itu dengan rapi. Sedangkan Imayoshi tengah menyaring setiap perkataan yang di dengarnya.

"Maaf, apa kalian merasa tidak bersalah membawa kami begitu saja ke kantor polisi? Ditambah kami diberikan pertanyaan aneh seperti itu. Aku bingung, atas dasar apa kalian membawa kami?" tanya Hanamiya. Imayoshi kembali menatap kedua pemuda itu, setelah kembali dari khayalannya.

"Ah! Apa aku belum menjelaskannya? Maaf, maaf, kalau begitu biarkan rekan ku saja yang menjelaskannya." Imayoshi melirik Susa menyuruhnya menjelaskan.

"Baiklah! Kami mempunya alasan untuk membawa kalian berdua kesini. Pertama, semua korban yang meninggal mempunyai satu kesamaan. Mereka anak dari keluarga tidak mampu dan ikut dalam Yayasan kalian. Kedua, kenapa kami membawa kalian dan bukan yang lain. Karena kalian adalah pemegang dana bantuan untuk wilayah ini, tentu kalian mempunyai data pribadi mereka." Susa berhenti sebentar sebelum melanjutkan kembali.

"Dan ketiga, karena kalianlah yang paling sering melakukan kontak langsung dengan korban, walaupun tidak terlalu sering. Bisa dipastikan kalian mengerti seluk-beluk korban, mulai dari dimana sekolah mereka, teman mereka, dan kebiasaan mereka." Jelas Susa panjang lebar.

"Kalau itu hanya kebetulan, bagaimana?" balas Hanamiya.

"Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Kalaupun ada, itu adalah tanda bagi kita untuk menyadari sesuatu yang akan terjadi. Karena setiap kejadian memiliki benang merah yang saling terhubung satu sama lain." Dan yang barusan berbicara adalah Imayoshi. Dia takut jika Susa yang menjawab, akan terjadi keributan.

Hanamiya terdiam, malas untuk meladeni.

"Oh, aku melupakan sesuatu. Setelah pertanyaan terakhir ini, kalian akan diizinkan untuk pulang. Maaf, apa aku boleh melihat isi dari handphone kalian?" tanya Imayoshi.

"Tidak akan! / Tidak ku izinkan!" jawab Hanamiya dan Akashi bersamaan.

"Oh uh, baiklah." Ucap Imayoshi.

Akashi bangkit dari kursinya. "Karena aku sudah menjawab pertanyaan terakhir, aku akan pulang. Jika kau masih perlu dengan diriku, hubungi aku kapanpun. Aku tidak akan menolak."

Melihat Akashi keluar ruangan, Hanamiya pun ikutan keluar. "Kalau begitu, aku juga harus pulang. Oh ya, kalian boleh menghubungiku juga jika perlu." Ucapnya.

xxxxx

"Maaf mengganggu waktu luang mu, Midorima-kun." Ucap Kuroko tiba-tiba.

Pemuda berumur 22 tahun yang sedang mengobati Aomine itu hanya dapat menghela napas, melihat apa yang terjadi dengan temannya itu. Datang sore hari saat dirinya tengah bersantai, lalu membawa seseorang yang terluka ke apartemennya adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Midorima Shintarou. Tapi karena profesinya yang seorang dokter, dia tidak bisa diam saja melihat seseorang terluka.

"Jadi, bisa kalian jelaskan apa yang terjadi? Dan kenapa kalian membawa seseorang yang terluka ke apartemenku, nodayo?" tanya Midorima, setelah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu Aomine.

"Ughh… Bisakah kau lakukan itu dengan pelan-pelan, atau aku bisa mati tiba-tiba." Rutuk Aomine.

"Jangan berlebihan, nodayo. Aku tau apa yang aku lakukan. Jadi berhentilah merengek layaknya anak kecil." Balas Midorima acuh. Walaupun sebenarnya khawatir pada temannya itu.

Aomine mendengus kesal.

"Jadi, ada yang berminat menceritakan?" tanya Midorima lagi.

"Ah sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Aomine-kun menghubungi ku dan memberitahukan bahwa pemuda itu…" Kuroko menunjuk Kagami yang berada di tempat tidur. "…menjadi terduga kasus penculikan dan pembunuhan anak."

Midorima yang tengah membersihkan luka Aomine dengan antiseptik, tanpa sengaja menekan luka pemuda itu kencang akibat kaget mendengar ucapan Kuroko.

"Gyaaaa! Midorima apa yang kau lakukan?! Kau mencoba membunuh ku?" teriak Aomine.

Midorima tidak mempedulikan teriakan Aomine, padangannya masih terarah menatap Kuroko. "Penculikan dan pembunuhan? Kalau boleh tau, berapa umur pemuda itu?" tanyanya.

Kuroko mengangguk dengan wajah datarnya. "Sembilan belas tahun."

"Oh Tuhan! Kau membawa seorang penjahat ke tempat ku, Aomine? Dan apakah pemuda itu seorang psychopath?" Midorima bangkit dari duduknya sebelum melangkahkan kakinya mendekati Kagami yang tengah tertidur itu.

"Oi! Oi! Apa yang mau kau lakukan?" panggil Aomine yang juga ikutan bangun dari duduknya tanpa mempedulikan lukanya itu.

"Sudah tentu mengusir pemuda itu, nodayo. Aku tidak mau terlibat kasus yang menyusahkan itu." Jelas Midorima.

Aomine menarik lengan dokter itu dengan tangan kirinya menjauhi kamar tidur, sebelum menyuruhnya untuk duduk kembali.

"Tenang dan obati saja luka ku. Aku akan ceritakan semua yang sudah terjadi." Ucap Aomine.

Pada akhirnya, Aomine harus menceritakan rahasia Kagami. Jika dia tidak menceritakan yang sebenarnya pasti Midorima akan menuduh Kagami juga. Rekan-rekannya saja yang sudah diberitahunya tetap tidak percaya, apalagi jika dia tidak menceritakan kemampuan Kagami. Dan untungnya Midorima percaya, walaupun awalnya tidak begitu.

"Jadi indra keenam itu memang ada, nodayo. Aku tidak percaya bisa bertemu dengan orang yang memilikinya." Midorima mengambil kapas dan perban untuk menutup luka Aomine, untungnya luka tersebut tidak begitu dalam.

Kuroko memandang Midorima heran. "Kau percaya, Midorima-kun?"

"Aku percaya. Lagipula, menurut ramalan Oha-Asa hari ini, cancer diminta untuk mempercayai orang-orang nodayo."

Baik Aomine dan Kuroko langsung terdiam mendengar ucapan Midorima.

'Ahh aku terlalu bodoh sampai lupa kalau dia itu penggila ramalan.' Batin mereka berdua.

"Aku sudah selesai mengobatinya." Midorima merapikan alat kesehatannya. "Jangan terlalu banyak bergerak dan istirahatlah yang cukup. Aku akan memberikanmu vitamin."

"Bagaimana dengan Kagami?" tanya Aomine cepat.

"Sepertinya, dahinya itu tergores oleh kaca yang pecah, namun tidak terlalu parah. Selebihnya dia hanya mengalami luka lecet. Tenang saja, sebentar lagi dia juga akan bangun, nodayo." Jelas Midorima.

"Aku akan menyiapkan minum untuk kalian berdua, tunggulah sebentar."

Keadaan menjadi hening sesaat. Yang ada di ruang tengah saat ini tinggal mereka berdua.

"Aomine-kun?"

Aomine menatap Kuroko. "Hmm?"

"Ketika kau menabrak mobil polisi itu, apa kau tidak peduli dengan keadaan penumpang di dalamnya?" tanya Kuroko datar.

"T-tentu saja aku peduli." Balas Aomine cepat.

"Lalu kenapa kau melakukan itu?"

"Hah, sudah ku bilangkan aku kehabisan ide Tetsu. Yang terlintas di pikiran ku hanya itu. Dan aku tidak suka mendengar pertanyaan dari orang yang sama gilanya dengan ku."

Kuroko mentatap Aomine bingung.

"Kau pikir aku tidak menyadarinya? Mobil yang mengawal Kagami itu menabrak pembatas jalan dengan keadaan yang hampir hancur. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya kau lakukan?" lanjutnya.

"Aku juga tidak menyangka akhirnya akan seperti itu. Lagipula siapa yang menyuruhku untuk melakukan hal itu?" balas Kuroko tidak mau kalah.

"E-eh, itu… aku yang menyuruhnya." Aomine menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf sudah merepotkanmu. Aku tidak bermaksud menyeretmu dalam masalahku. Hanya saja, aku sudah tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi, Tetsu." Gumam Aomine.

Sepertinya hari ini akan turun badai.

"Kau sakit Aomine-kun? Aku yakin saat ini kau sedang sakit." Ucap Kuroko datar. "Atau kau kesurupan? Ya, kau pasti kesurupan. Kalau begitu, wahai Setan-kun bisakah kau kembalikan Aomine-kun seperti semula? Atau bumi sebentar lagi hancur."

GUBRAK!

"Ku-kurang ajar kau Tetsu!" teriak Aomine. "Dan jangan berbicara seperti itu dengan memasang muka tembok mu itu!"

"Maaf Aomine-kun, tapi wajahku memang seperti ini."

Dan Aomine hanya bisa terpuruk frustasi meladeni sahabatnya itu.

"Sebaiknya aku melihat keadaan Kagami." Ucap Aomine melangkahkan kakinya ke kamar tidur.

.

.

.

.

.

.

.

Pemuda crimson itu masih tertidur dengan perban putih yang melilit dahinya. Wajahnya begitu tenang dan damai, sangat berbeda dengan kepribadiannya yang temperamental itu.

Aomine mengambil posisi duduk di pinggir kasur sembari menatap wajah pemuda itu. Senyuman tipis terlukis di wajahnya mengingat awal pertemuan mereka. Andai saat itu mereka tidak bertemu, pasti tidak akan ada kejadian yang menimpa pemuda itu. Sepertinya pertemuan mereka itu memang ditakdirkan oleh Tuhan.

"Ugh…"

Hal yang pertama kali dirasakannya saat tersadar adalah rasa sakit yang menyerang kepalanya. Ah! Kagami baru ingat kalau dirinya baru saja mengalami kecelakaan.

Tunggu! Kecelakaan? Lalu ini dimana?

Kagami langsung bangkit dari tidurnya, bolamatanya bergerak liar memperhatikan ruangan yang tidak dikenalnya itu.

"Oh, sudah sadar?"

Kagami menoleh ke samping setelah mendengar sebuah suara. Suara berat yang sudah tidak asing di telinganya. Dan didetik berikutnya dia langsung turun dari kasur mencoba kabur dari ruangan itu.

"Oi! Kagami? Tunggu sebentar!" Aomine menarik lengan Kagami, sehingga pemuda itu membalikan badannya menatap tajam Aomine.

"Lepaskan aku sekarang juga!" desisnya tajam.

Aomine tidak menurut begitu saja.

"Kagami, dengarkan dulu penjelasanku! Berhentilah bersikap kekanakan!" sahut Aomine.

Kagami menatap tajam Aomine, dengan kasar dia melepaskan pegangan tangannya dari polisi itu. "Hah? Kekanakan katamu? Bukankah kau yang licik?"

"Aku? Licik? Apa maksudmu?"

"Cih! Tidak usah berpura-pura lagi kau. Aku tau selama ini kau hanya memanfaatkan ku saja. Aku tau selama ini kau hanya menganggap ku sebagai pion untuk keberhasilan profesimu. Kau sudah mengkhianati ku Aomine Daiki." Ucapnya pelan namun tajam.

Tanpa mereka berdua sadari, Kuroko dan Midorima langsung datang ke ruangan itu setelah mendengar pertengkaran mereka. Mereka berdua terdiam di daun pintu tanpa ada niatan untuk ikut campur.

"Tunggu…tunggu…tunggu. Apa kau bilang? Aku memanfaatkanmu?" Aomine memijat pelipisnya yang mulai berdenyut itu. "Kau salah paham Kagami, aku tidak pernah menganggapmu sebagai pion ku. Dan masalah di kantor polisi itu, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Bagaimana kau bisa mengerti kalau kau tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu?"

Kagami memalingkan wajahnya mendengus kesal.

"Aku tau kau marah padaku Kagami. Itu adalah hak mu dan aku tidak bisa melarangnya. Tapi, bisakah kita saling membuang ego satu sama lain dan mencoba untuk saling mengerti? Aku tau aku salah. Karena aku salah, aku ingin mencoba untuk memperbaikinya." Jelas Aomine.

Kuroko menatap takjub Aomine. Dia tau kalau temannya itu egois dan selalu bertindak sesuka hati. Namun terkadang dia bisa menjadi dewasa juga di saat yang bersamaan.

"Aku tidak peduli." Sahut Kagami.

"Tapi aku peduli Kagami!" bentak Aomine. Kagami terdiam. "Kau tau, jika aku tidak memberitahu tentang kemampuan mu pada kapten, kau akan dijadikan tersangka tanpa adanya pembelaan. Apa kau pikir aku harus diam saja? Apa aku harus berpura-pura tidak tau dan melihatmu diseret ke dalam penjara? Aku tidak sebodoh itu Kagami."

"Aku pasti akan menemukan pelakunya dan membebaskanmu dari semua tuduhan. Tapi, tiba-tiba kau mengaku sebagai pelakunya dan mengatakan semua yang kau ceritakan itu bohong. Aku tau aku bodoh, karena percaya dengan kata-katamu di kantor itu." Gumamnya.

Kagami mengepal kedua tangannya erat. "Tapi aku berbeda, Aomine."

Aomine tersenyum tipis, keduanya tangannya bertumpu di pundak pemuda itu. "Karena kau berbeda, itu yang membuatmu spesial Kagami." Kagami mendongakan wajahnya menatap Aomine. "Dan kedua tanganmu itu adalah anugerah Tuhan yang diberikannya secara khusus untukmu. Tangan itu bisa menyelamatkan banyak nyawa."

"Tapi ibuku…"

Perkataan Kagami langsung diputus oleh Aomine. "Itu kecelakaan Kagami, tidak ada hubungannya dengan mu."

Entah kenapa mendengar perkataan Aomine membuat perasaanya lega. Rasa kesal yang memenuhi dirinya, tiba-tiba lenyap begitu saja. Benar kata Aomine, lebih baik dia mencoba untuk saling mengerti. Bukan hanya dirinya yang harus dimengerti.

"Jadi apa kau mau memaafkan ku?" tanya Aomine.

Kagami mengangguk pelan. Aomine tersenyum.

"Tapi sebelum itu, bisa kau lepaskan kedua tanganmu itu dari pundak ku? Entah kenapa aku merasa aneh." Ucap Kagami ragu-ragu.

"A-ah! Maaf!" Aomine langsung melepaskan tangannya dari pundak Kagami.

Suasana berubah hening.

"Kalau begitu kau istirahat dulu saja. Aku akan mengambil minuman untuk mu." Aomine meninggalkan Kagami yang masih berdiri itu. Baru beberapa langkah, dirinya langsung dikagetkan dengan keberadaan Kuroko dan Midorima. "T-Tetsu! Midorima! Sejak kapan kalian disitu? Apa kalian menguping pembicaraan kami?" Semburat merah tipis terlihat jelas di wajah Aomine.

"Kami disini sejak kalian memulai pertengkaran, Aomine-kun." Jawab Kuroko datar.

"Kalian mendengarkan semuanya?" tanyanya lagi.

"Kami mendengar semuanya, nodayo." Ucap Midorima sembari membenarkan kacamatanya.

"Dan kami sangat bangga padamu Aomine-kun. Karena kau sudah tumbuh lebih dewasa." Ucap Kuroko datar.

Aomine menjitak Kepala Kuroko. "Sialan kau Tetsu! Sudah ku bilang jangan memasang wajah datar mu itu!"

Kagami yang melihat pertengkaran mereka tersenyum tipis. Entah sejak kapan dirinya mulai terbiasa dan merasa nyaman dekat dengan orang lain.

"Jitakan mu sakit Aomine-kun. Kalau aku pingsan bagaimana?" Kuroko mengelus kepalanya pelan.

"Masa bodo!" balas Aomine acuh. "S-sebaiknya kita istirahat. Besok kau akan membantuku lagi untuk mencari pelaku sebenarnya."

"Hanya aku? Bagaimana dengan Kagami-kun?" tanya Kuroko.

Aomine menatap Kagami. "Aku sudah membuatnya terkena masalah. Sepertinya, akan lebih baik kalau aku tidak menyeretnya lagi ke dalam masalahku."

Kagami menghampiri Aomine sebelum menjitak kepalanya kuat.

CTAAKK!

"S-sakit sialan! Apa yang kau lakukan?"

"Itu hukuman mu karena sudah bertindak sesuka hati. Aku tidak yakin kau akan menemukan pelaku tanpa bantuan ku." Kagami melipat kedua tangannya di dada.

"Kau meremehkan ku? Akan ku buktikan kalau aku b…"

Kagami memotong perkataan Aomine. "Aku akan membantu mu."

"Eh?"

"A-aku akan membantu mu. Jadi jangan melarangku untuk tidak melakukannya. Lagi pula aku tidak akan tenang kalau pembunuh itu masih berkeliaran." Aomine bisa melihat semburat merah tipis di wajah Kagami.

'Ah, dia malu mengatakannya.'

"Kalau kau menawarkan, tentu aku akan menerimanya dengan senang hati." Aomine tersenyum. "Baiklah, besok kita mulai menyusun rencana kembali."

Lanjut ke chapter berikutnya…


Balasan Riview

Scarletjacket : Terima kasih atas riviewnya :) Kuroko pelakunya? Leavi senyum sendiri bacanya. Bagaimana jika dua karakter baru muncul, apakah Scarlet-san masih menduga Kuroko pelakunya? Iya, Leavi juga sudah tidak ada niatan untuk merubah genre kok. Kalau masalah pair, sebenernya Leavi juga bukan fujoshi._. Cuma sekedar suka sho-ai #plak… sekali lagi terima kasih dan maaf kalau mengecewakan :)

Mimijjwkrissy : Hayo, apa benar-benar Kuroko pelakunya? Hehehe… ada dua karakter muncul yang dianggap sebagai terduga juga.. apa masih menganggap Kuroko pelakunya? Terima kasih sudah meriview dan maaf jika mengecewakan :D

AoKagaKuroLover : Leavi juga merasa puas ngetiknya…hehehe..sudah terjawab di chapter 5 ini.. Terima kasih riviewnya, maaf kalau mengecewakan :)

ShilaFantasy : Terima kasih :) Leavi juga suka cerita misteri… Aomine memang Aho #plak… Sankyu sudah meriview, maaf kalau mengecewakan :)

Syalala uyee : Sudah terjawab di chapter 5 ini ditambah dua karakter baru…hehehe maaf update lama, terima kasih sudah meriview dan maaf jika mengecewakan :D

Evilfish1503 : Hehe udah terjawab di chapter ini kan? :D Waduh, Kuroko ya? Kalau ada dua karakter baru, apakah evil-san (apa boleh manggil seperti itu?) tetap mengira pelakunya Kuroko? Terima kasih riviewnya, ini dia chapter limanya :)

Guest : Saya sendiri masih belum bisa dalam penggunaan kata baku…hehe tapi bakal Leavi usahain kok :D Mungkin bukan romance hanya sekedar hint-hint saja.. Ahh, terima kasih banyak *bow* wah, kamu bisa baca bahasa Indonesia? Keren.. Terima kasih sudah meriview dan maaf jika mengecewakan :)

Seidocamui : Friendship ya? Hmm, mungkin bisa dibilang seperti itu juga…Hehe…Leavi usahain penggunaan bahasanya dan maaf bila ada typo.. Masalahnya Leavi cukup sulit untuk mempresentasikan pikiran ke dalam tulisan agar pembaca mengerti, karena itu Leavi telat update..Oke terima kasih atas sarannya :) Doain aja biar gak WB ya.. Terima kasih riviewnya dan maaf bila mengecewakan :)

Leavi mo ngucapin thank you yang sudah follow, fav, riview atau silent rider yang sudah membaca *bow*

Di chapter kemarin banyak yang menduga Kuroko pelakunya ya? :D

Tapi kalau dua chara masuk tiba-tiba, apa masih menduga Kuroko pelakunya? Tapi kalau Leavi pikir, Kuroko jadi pembunuh itu keren juga ya…hahaha

Sepertinya kemarin banyak yang kurang engeh sama chapter 4 pas bagian Aomine ingin masuk ke ruangnya kapten.. Sebenernya ada cluenya disitu..Tapi udah Leavi perjelas kemunculannya Akashi sama Hanamiya di chapter ini. Dan kalau ada yang nanya Midorima bakal ikutan ngebantu atau enggak, jawabannya tidak. Midorima hanya muncul sementara.

Maaf update lama, akhir-akhir ini Leavi susah untuk mempresentasikan apa yang ada di pikiran Leavi. Sebenernya ide udah ada, tapi susah buat jelasinnya. Jadi maaf kalau chapter ini mengecewakan *bow*

Selamat Hari Raya Idul Fitri :D Mohon maaf lahir dan batin ya..

Akhir kata, Riview?