Liar : Chapter 2

Warning : Shonen-ai, Cross-dressing!Taufan!, Halilintar x Taufan!, Nyesek dah ilang :v

Maaf karena keterlambatan author dalam mengupdate Fic ini… Author merasa bersalah… Salahkan sekolah dan kakak – kakak author menguasai computer mulu!

Dari pada basa – basi, Mari kita baca FF ini!

Selamat Menikmati~!

"Aaaaaarrrggghhh! Aku tidak bisa tidur!" Teriak Halilintar di dalam bantalnya.

'Mungkin kalau aku tidur dengan Taufan, aku bisa tidur…' Batin Halilintar.

Halilintar turun dari ranjangnya lalu di saat hendak mengambil langkah pertama…

'Apa yang aku lakukan? Taufan sudah tidak ada disini lagi…' Batin Halilintar lagi dengan nada sedih.

Seketika lampu ber5 watt muncul di atas kepala Halilintar yang bertopi.

Halilintar lompat dari lantai 2, keluar rumah lewat jendela rumahnya.

"Gerakan Kilat!" Halilintar menggunakan kuasanya untuk sampai di tujuan, yaitu… Rumah Fang.

Halilintar sudah ada di depan rumah Fang berkat kuasanya.

Lalu kembali ia lompat menuju kamar Fang.

Dan yang pertama kali ia lihat adalah… ranjang berukuran king size yang di tiduri oleh 2 pemuda yang tengah berpelukkan, dan yang di peluk itu Taufan.

'Sebesar ini kah Taufan membenciku?' Batin Halilintar ingin meneteskan air matanya.

Halilintar mulai memasuki wilayah kamar Fang, lalu ia mendekati Taufan yang di peluk Fang.

'Berani – beraninya kau merebut Taufan! Akanku rebut balik!' Batin Halilintar kesal.

Halilintar melepaskan pelukan ke2 pemuda itu, lalu ia ikatkan sapu tangannya di kepala Taufan hingga mata Taufan tertutup. Lalu mengambil tali berbahan halus untuk mengikat ke2 pergelangan Taufan.

Setelah semua sudah siap, Halilintar menggendong Taufan yang masih tertidur dengan gaya bridal, lalu Halilintar melompat lagi dari jendela dan mendarat di depan rumah Fang, dan kembali Halilintar menggunakkan kuasanya untuk mempercepat langkahnya menuju rumahnya.

Halilintar lagi – lagi melompat memasuki kamarnya melewati jendela layaknya seorang ninja. Lalu menidurkan Taufan di ranjangnya, dan tidur sembari memeluk Taufan yang masih di tutupi matanya dan di ikat pergelangan tangannya.

"Jangan pernah meninggalkanku, my love… Aku mencintaimu melebihi sebatas saudara… Melebihi siapapun di alam semesta ini… Aku sangat menyesal atas perbuatanku yang telah membuatmu membenciku… Tapi, tolong… Berikanlah aku 1 kesempatan lagi… Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untukmu… Aku akan melindungimu… Aku akan membuatmu bahagia… Tolong maafkan diriku…"

Bisik Halilintar di hadapan wajah Taufan dengan air mata yang menetes deras dari kedua kelopak matanya.

Paginya…

'Dimana aku? Kenapa gelap? Kenapa tanganku terikat? Apa aku… DI CULIK?!' Batin Taufan dengan keheranannya dan kepanikannya.

"Taufan…" Suara panggilan terdengar jelas oleh Taufan.

"Si – Siapa?! Mau apa kau?!" Tanya Taufan mulai ketakutan.

"Ini aku… Kakakmu…" Jawab Halilintar sembari melepas ikatan kain pada mata, dan pergelangan tangan Taufan.

"Kakak…?" Taufan terdiam sebentar lalu berlari sekencangnya menuju pintu kamar kakaknya, tetapi tubuhnya di kurung dekapan erat Halilintar dari belakang.

"Jangan pergi, Taufan!" Larang Halilintar masih mendekap Taufan.

"Tidak! Biarkan aku pergi!" Bentak Taufan.

Halilintar membalikkan tubuh mungil Taufan lalu melingkarkan tangan kirinya di pinggang Taufan dan tangan kanannya memegangi dagu Taufan.

"Tenang… Tenang…" Ujar Halilintar.

Taufan terdiam. Melihat Taufan terdiam, Halilintar segera menempelkan bibirnya dengan bibir Taufan.

Taufan mebelalakkan matanya, ingin memberontak tetapi sangat menyukai ciuman dari Halilintar, jadi ia memejamkan matanya untuk menikmati ciuman ini dan melingkari leher Halilintar.

Halilintar merasa lehernya di lingkari ia lingkarkan ke2 tangannya di pinggang Taufan.

Ciuman terlepas saat keduanya puas berciuman. Wajah Taufan merah padam.

"Mau memaafkanku?".

Taufan mengangguk ragu.

"Tetapi janji akan selalu bersamaku? Melindungiku? Menjagaku? Selalu ada untukku? Selalu menciumku setiap malam? Dan… Mencintaiku…?" Tanya Taufan bertubi – tubi.

Halilintar tersenyum bahagia sekaligus hangat.

"Iya… Aku janji… Janjiku tak akan aku larang kali ini…" Taufan tersenyum lega. Taufan menarik lengannya yang sedari tadi ia lingkarkan di leher kakaknya, untuk memeluknya.

"Mauku cium lagi?" Tanya Halilintar yang sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya.

"Um!" Taufan mengangguk mantap.

Halilintar memutuskan jarak antara bibirnya dan bibir Taufan.

Keduanya saling memperdalam ciumannya dengan saling memeluk.

Halilintar melepas pelukkannya.

"Sayang… Mandi dulu. Nanti kita berangkat bareng…" Ucap Halilintar lalu mencium kening Taufan.

"Baik, kak… Memang kakak sudah mandi?" Tanya Taufan.

"Sudahlah… Kita nanti telat, ayo cepat mandi." Perintah Halilintar lembut dan tulus.

"Um!" Taufan mengangguk semangat.

Taufan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Halilintar tengah menyiapkan baju dan buku untuk Taufan sekolah nanti.

Ceklek!

Pintu kamar mandi terbuka. Halilintar menoleh menatap Taufan… Yang memakai handuk seperti gaya perempuan memakai handuk. Dada, perut, dan paha terselimuti oleh handuk. Badan yang basah, rambut yang agak berantakan dan basah menempel di leher Taufan. Seketika Halilinta-

Brush~!

Seketika Halilintar menjadi air terjun darah dengan sumber di hidungnya.

"Ka – Kak Hali! Kakak! Kakak! Bangun kakak! Jangan tinggalin Taufan!" Taufan mendekati Halilintar lalu membangunkannya sedikit mengguncangkan tubuh Halilintar yang tergeletak di lantai.

"Ta – Taufan… Dari... mana… kau… belajar menggunakan… handuk seperti… itu…?" Tanya Halilintar terputus karna darahnya terus menerus mengalir keluar melewati hidungnya.

"Em… Dari Xiang Qi, kemarin malam dia ajari Taufan pakai handuk begini." Jawab Taufan dengan nada dan wajah polos.

'Good Work, Xiang Qi!' Puji Halilintar di batinnya.

"Kak… Kakak gak papa?" Tanya Taufan dengan muka yang suuuuuuuuuuuuuuuuper IMUT DAN UNYU dengan kepala yang di miringkan ke samping dan wajah yang polos menambah ke imutan di wajah Taufan.

Brush~!

Semburan darah dari hidung Halilintar menderas, membuat Taufan semakin panik.

"Kak! Kak! Kak Hali!" Panggil Taufan yang mungkin sudah menangis.

"Kenapa, Sayang? Kakak baik – baik aja kok…" Ujar Halilintar untuk menghilangkan rasa sedih dan khawatir Taufan.

"Sudah, yuk! Pakai bajumu!" Perintah Halilintar.

"Ok!" Taufan melangkah menuju ranjang yang sudah tersiapkan seragamnya dan seragam Halilintar.

'Eh? Kok rok? Bukannya tadi aku siapinnya celana?' Batin Halilintar saat menatap rok tadinya adalah celana.

'Ada surat…' Lanjut batin Halilintar lalu membaca surat itu.

Dear Kak Halilintar dan Taufan…

Ini aku, Xiang Qi. Aku sudah tau Kak Taufan ada di rumah 5 Kembaran… Tadinya… Xiang Qi mau suruh Kak Taufan pake rok di pagi hari… Tapi Kak Taufannya ngga ada di kamar Kak Fang, jadinya Xiang Qi kirim ke sini!

Note :

Xiang Qi tambahin bonus untuk Kak Taufan… Jepitan Cyclone dan Pita ikatan rambut warna biru tua! Pakai ya, Kak Taufan~! Ada juga kertas di antara jepitan dan pitanya, isi kertasnya cara memakai jepitan dan pita dengan benar agar Kak Taufan lebih cantik~! Kan mumpung ini hari pertama sekolah!

Salam,

Xiang Qi

'Sekali lagi, Good Work, Xiang Qi!' Puji Halilintar lagi di dalam batinnya sembari membayangkan Taufan memakai Rok, Jepitan Cyclone dan Pitanya… Dan juga seringai di bibirnya.

"Taufan, Kau sudah pakai-" Halilintar mengakhiri kalimatnya yang seharusnya di lanjutkan karena melihat Taufan yang sudah memakai semua barang yang di ekspor ( ?! ) Xiang Qi ke sini.

"Bagaimana penampilan Taufan?" Tanya Taufan polos.

'Tidak Hali! Tidak! Jangan di lahap dulu! Nanti di sekuel Happiness in Our Live chapter Halifan yang judulnya Let's Make a Baby ajah!' Batin- ( Kak Hali! Jangan spoiler dong! ) Halilintar sembari menahan hasrat ingin melahap Taufan hidup – hidup.

"Ca… Cantik… Makin imut kok. Sudah, yuk! Kita berangkat!" Ajak Halilintar dan mereka pergi menuju sekolah sembari bergandengan tangan.

Di kelas…

"Salam Kenal~! Aku Taufan!" Salam Taufan dengan senyuman manis membuat kaum adam bersorak Cantiknya!, Manisnya!, Kencan yuk, Taufan~! dan sebagainya hingga ada yang mengatakan Menikahlah denganku, Taufan~! Dan semua hal itu membuat Sang Kilat Merah Halilintar berdarah mendidih.

"Aku Halilintar, Taufan istriku." Salam Halilintar pedas, sinis, dingin dan membuat murid – murid yang melamar Taufan diam seketika.

FIN

Akhirnya selesai juga~! Mari kita balas reviewan para readers~!

Kalau ada yang nanya

"Sejak kapan Halifan jadi Husband and Wife?"

Jawabannya "Sebelum Proposing You di publish" –Halilintar, Suami Taufan.

Terima Kasih kepada :

Angel Nam'Woohyunie ( Au tuh, Kak Hali! #dihujaninpedanghalilintar Terima Kasih sudah mereview~! Kak- Kak Angel~! :v )

Charllotte-chan ( Aku juga kasihan sama Taufan… Terima Kasih sudah mau review~! )

DesyNAP ( Ini sudah aku lanjut… Ehehehe… Padahal aku ngga bisa buat FF hurt lho… Terima Kasih sudah beri review~! )

Aqari Cliste ( Aku juga kasihan sama Taufan… Terima Kasih sudah semangatin author~! Terima Kasih sudah mereview~! )

Black Sweet Princess ( Kak Hali masih punya hati kok, semua orang punya… Terima Kasih sudah mereview~! )

Kirana Rahmani ( Cie yang ngeblush~! Suka Hali ya? Suka apa Cinta~? Tapi maaf, Hali sudah mempunyai :v Terima Kasih sudah mau kasih review~! )

Putri ( Ini sudah aku lanjutkan… Bukan cengeng, tapi terharu… Terima Kasih sudah mereview~! )

Wu Zi Mei ( Wkakakakakak! Disini juga banjir! Terima Kasih sudah mau kasih review~! )

Ada yang mau request FF?

Aku terima kecuali yang berkaitan dengan Ying dan Yaya ya?

Review please~!