Hai :3

Makasih yang udah mau lanjut baca sampe kesini TwT *terharu*

Yuk mulai (?)

.

.

.

.


"Dia adalah mantan anggota 12 dewan sihir" Ucap ketua yang ntah muncul darimana.

"Mantan anggota?" Gumi bingung.

"Dia bergabung saat kalian belum bergabung. Suatu hari terjadi konflik diantara dia dan wakil ketua sebelumnya, kemudian dia menyerang wakil ketua. Saat aku masuk ke ruanganku aku melihat wakil ketua berlumuran darah, lalu dia berkata bahwa Yukari bisa menggunakan sihir terlarang setelah itu wakil ketua meninggal dunia. Dan lalu aku memilih Gumi sebagai pengganti kursi dewan sihir yang kosong" Ucap ketua sambil melihat ke langit.

"Lalu apa anda tidak menanyakan motif penyerangan itu?" Tanyaku. Ketua menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak pernah menanyakan apapun padanya. Setelah itu dia bersikap seperti biasa. Dia diam di perpustakaan seperti biasa. Awalnya aku tidak menyadari jika perempuan dengan salamander yang kau ceritakan adalah Yukari. Tapi saat aku periksa perpustakaan barulah aku menyadari jika buku pemanggilan makhluk terlarang telah hilang"

"Aku belum pernah bertemu bahkan mengetahui namanya" Ucap Gumi. "Lalu apa yang menyebabkannya keluar?" Tanya Gumi pada ketua.

"Yukari tidak pernah berbicara pada 11 anggota lainnya. Dia hanya berbicara melalui tulisan. Tapi dia tidak bisu. Aku pernah satu kali mendengarnya bicara dengan seekor rusa di danau sana" Lanjut cerita ketua sambil menunjuk ke arah danau.

"Apa yang dia katakan?" Aku dan Gumi bertanya secara bersamaan.

"Mati…"

Aku dan yang lainnya terdiam. Lalu ketua melanjutkan ceritanya.

"Setelah itu rusa tejatuh dan mati" Ketua mengepalkan kedua tangannya. Kami semua terkejut.

"Untung saja aku masih lebih kuat darinya. Jadi saat itu kekuatannya tidak berpengaruh padaku. Keesokan harinya aku mendapati selembar surat yang berisikan kata perpisahan dan setelah itu aku meresmikan jika dia keluar dari 12 dewan sihir. Akhirnya aku memutuskan untuk memilihmu sebagai anggota yang baru" Ketua menunjuk ke arah ku sambil tersenyum.

Setelah selesai berbicara dengan ketua, aku berlari kembali ke kelas untuk menemui Miku.

"Miku!" Aku langsung memeluknya.

"Kaito.."

"Kau tidak apa-apa?" Tanyaku. Dia menganggukan kepalanya.

Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana jika serangan Iroha tadi mengenai Miku. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai Miku. Aku akan melindungi Miku apapun yang terjadi.

"Kaito! Syukurlah kau baik-baik saja" Ucap Rin yang langsung memeluk Miku.

Akibat dari kejadian hari ini, proses belajar pun jadi terganggu. Sebagai seorang kepala sekolah, Ketua pun membubarkan sekolah lebih awal. Aku pun harus berpisah dengan Miku karena aku masih harus tinggal di sekolah. Padahal aku ingin sekali saja pulang bersama dengannya.

"Sampai nanti ya" Miku melambaikan tangannya dan pulang bersama Rin.

Sekolah pun mulai sepi. Hanya ada aku, Gakupo, Gumi, Lily, dan Ketua saja. Kami semua tidak diperbolehkan pulang sebelum wakil ketua datang. Gumi sibuk berguling-guling di lantai, Lily sibuk membaca buku, Gakupo sibuk bermain Shogi dengan ketua, sedangkan aku sibuk mengkhawatirkan Miku.

"Bosan.." Kata Gumi yang masih berguling-guling di lantai. Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang. Semakin lama suara langkahnya semakin mendekat.

"Hohoho kau sudah sampai?" Kata Ketua yang masih bermain shogi dengan Gakupo.

"Aku kembali, Ketua"

"Yo! Haku selamat datang" Gakupo melambaikan tangannya.

Ini dia si wakil ketua yang berkepribadian dingin. Dia kemudian menatapku dengan pandangan dinginnya. Aku merasa tidak disukai olehnya.

"Dimana perempuan berambut pirang itu?" Tanya Haku padaku.

"Dia disini!" Gumi menarik rambut Lily.

"Itai baka!" Lily merengek.

"Bukan si kutu buku yang ku maksud. Tapi teman makhluk ini" Haku menyentuh kepalaku.

Tangan Haku terasa sangat dingin. Rasanya seperti es. Brrrr dingin sekali. Apa mungkin semua pengguna sihir es memiliki suhu tubuh sedingin ini?

"Yang kau cari itu Rin?" Tanya Gakupo yang menyudahi permainan shoginya.

"Aku harus membunuhnya" Jawab Haku yang lalu menghilang.

Ucapan Haku tentu saja membuatku terkejut. Aku pun mengejarnya dengan sihir teleportasi milikku.


NIat mau langsung sampai di rumah malah sampai dibelakang toko roti.

"Aku memang tidak berbakat sihir teleportasi" Batin ku.

Aku pun memilih berjalan kaki menuju rumah karena jaraknya tidak begitu jauh. Tapi saat melewati pintu depan toko roti, aku bertemu dengan seseorang yang tidak terduga.

"Miku?"

"Kaito?"

Aku bertemu dengan Miku. Tanpa pikir panjang aku pun malah mengantarkannya pulang terlebih dahulu daripada langsung pulang ke rumah.

"Terimakasih sudah mengantarku" Ucapnya dengan manis.

Dhegh…senyumannya memang benar-benar bisa membuat hati ku meleleh. Saat Miku hendak masuk tiba-tiba aku menarik tangannya dan lalu memeluknya.

"K-Kaito?"

"Besok, ayo kita kencan" Kataku yang masih memeluknya. Miku menganggukan kepalanya dengan wajah yang terlihat sedikit merah. Aku pun langsung berpamitan dan kembali menggunakan sihir transportasi.

Lagi-lagi aku gagal. Aku malah sampai di tepi danau dan jaraknya malah jadi lebih jauh dari rumahku!
Aku pun memutuskan untuk berlari saja, dan itu memakan waktu 10 menit. Aku berharap Haku tidak melakukan hal buruk pada Rin. Saat aku sampai dan membuka pintu rumah…

"Jadi apa yang akan kau lakukan jika suamimu ternyata tidak mengakui perselingkuhannya?"

"Aku akan tetap menceraikannya! Apapun alasannya"

". . ." Aku terdiam.

"Oh kau sudah datang" Ucap Haku yang tadinya sedang asyik mengobrol dengan Rin.

"Ah? Okaerinasai!" Ucap Rin sambil tersenyum.

"A-apa yang kalian bicarakan…" Tanyaku dengan raut wajah yang tidak karuan.

"Haku-neechan bertanya soal rumah tangga ku di masa depan" Jawab Rin dengan riang gembira. Aku melirik ke arah Haku. Haku hanya diam dengan wajah dinginnya.

"Jadi sebenarnya apa niatmu yang sebenarnya?" Tanyaku pada Haku. Lalu Haku membelai pipi Rin.

"Tanpa harus bertanya, sebenarnya aku sudah tau…" Jawabnya yang langsung memeluk Rin.

"Huuuuuu…." Rin menggigil kedinginan.

"Aku bisa membaca memori seseorang dengan hanya menyentuhnya" Ekspresi Haku berubah. "Tinggal lah bersamaku"

Ajakan Haku pada Rin tentu saja membuat diriku dan Rin terkejut. Haku pun berkata jika dia tidak akan pergi sebelum Rin menerima ajakannya. Aku yakin pasti ada alasan dibalik ajakan Haku. Rin pun menatap ke arahku. Rin memang sudah cukup lama tinggal denganku. Karena suatu alasan dia jadi hidup sebatang kara. Selain itu dia juga adalah adik dari sahabatku, Len.

"Ikutlah bersamanya.." Kataku meyakinkan Rin. Rin sempat terdiam sampai akhirnya dia menerima tawaran Haku. Mereka pun langsung pergi begitu saja.

Aku yakin Rin akan baik-baik saja jika dia bersama Haku. Lagipula Haku adalah wakil ketua yang kuat. Saat aku pergi ke dapur, jantungku hampir berhenti berfungsi saat melihat seluruh perabotanku membeku.

"APA YANG DILAKUKAN SI PUTRI SALJU ITU?!" Teriakku.

Butuh waktu berjam-jam untuk mencairkannya. Sihir es level tinggi memang luar biasa. Setelah selesai membereskannya aku menemukan selembar kertas dibawah pintu. Dan di kertas itu ada tulisan "Tolong buka pintunya". Perasaan ku mulai tidak enak. Aku pun memberanikan diri untuk membukanya dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku memegang Excalibur. Saat aku membuka pintu, aku benar-benar terkejut saat melihat Yukari yang berdiri di depan pintu sambil memegang selembar kertas bertuliskan 'Konnichiwa'.

"Apa mau mu?" Kataku yang dengan segera mengarahkan Excalibur padanya. Dia pun mengeluarkan kertas lagi yang ntah darimana asalnya.

"Aku tidak ingin bertarung" Tulisnya di kertas itu.

"Kalau tidak ingin bertarung lalu ingin apa?" Tanyaku lagi.

"Lindungi ketua" Jawabnya dalam tulisan.

Setelah itu Yukari pun pergi bersama makhluk menyerupai tengkorak manusia. Ketua kan kuat. Tapi kenapa dia bilang lindungi ketua? Aku rasa ada hal yang aneh! Aku harus segera memberi tau yang lainnya. Saat aku baru saja mengunci pintu, hujan meteor pun terlihat menuju ke arah sekolah. Panik akan hal itu, aku pun menggunakan sihir teleportasi agar mempersingkat waktu.


Kali ini sihir ku berfungsi dengan sempurna! Setelah sampai di depan gerbang, aku pun melihat Lily yang sedang menggunakan sihir penangkal. Disana juga ada Rin. Aku segera menghampiri mereka.

"Dimana ketua?" Tanyaku.

"Di ruangannya" Jawab Haku.

"Jangan biarkan ketua sendirian! Lindungi ketua!" Kataku yang langsung berlari ke ruangan ketua dilantai 3.

"Aku tidak tau maksudmu. Tapi rasanya ada hal serius" Gakupo pun langsung menyentuh pundakku dan menggunakan teleportasi.

Sesampainya disana, kami berdua melihat ketua yang tergeletak di lantai.

"Ketua!" Gakupo pun membantunya untuk bangun.

"Ketua tanganmu!" Kataku yang melihat tangan kanan ketua terbakar api berwarna hitam.

"Ini sihir kutukan. Gakupo gunakan masamune dan potong lengan ku" Ucap ketua yang terlihat menahan sakit.

"Ta-tapi…"

"Cepat lakukan sebelum kutukan ini menyebar keseluruh tubuhku!" Bentak Ketua. Gakupo pun langsung memanggil masamune dan dengan cepat dia pun menebas lengan kanan ketua. Menyadari ketua sedang terluka, Haku langsung datang dan segera membekukan bagian luka ketua.

"Andai saja dia ada disini kita tidak perlu memotong lengan ketua" Ucap Gakupo.

Ketua pun melarang kami untuk menyentuh lengannya yang terbakar itu. Mungkinkah Yukari yang melakukan semua ini?

"Apa yang terjadi?" Tanya Haku.

"Tadi ada seseorang berjubah hitam datang dan menyerangku dengan cepat. Aku tidak tau dia laki-laki atau perempuan. Tapi hawa nya sangat mengerikan" Jelas ketua.

7 warlords mulai mengincar ketua. Hujan meteor pun mulai berhenti dan Lily terlihat cukup kelelahan. Tidak lama kemudian Rin datang dan tidak sengaja jatuh dan tangannya menyentuh tangan ketua yang terbakar api hitam. Jelas saja itu membuat kami semua terkejut bukan main! Tapi…yang terjadi adalah…api itu justru menghilang!

"Hoooo! Andai kau datang lebih cepat mungkin aku tidak akan kehilangan lenganku!" Teriak ketua penuh penyesalan.

"Jangan khawatir ketua, setelah dia pulang kita akan menyambungkan tanganmu kembali" Ucap Haku yang mengambil lengan ketua dilantai.

Gakupo terus menerus menatap ke arah Rin tanpa berkedip sedikitpun. Aku pun mendekati Gakupo.

"Ada apa?" Tanyaku. Gakupo menggelengkan kepalanya dan langsung ke tempat Lily dan Gumi.

Saat semua sedang tertidur lelap, aku melihat Haku sedang berdiam diri di balkon sendirian. Aku menghampirinya.

"Kau terlihat bimbang, ada apa?" Tanyaku yang berdiri di sampingnya.

"Mengenai anak itu…" Haku melirik Rin yang tertidur pulas bersama Gumi dan Lily.

"Rin?"

"Apa dia punya seorang saudara?" Tanya Haku.

"Bukankah seharusnya kau sudah mengetahuinya?" Aku balik bertanya.

"Dalam ingatannya…kakak nya meninggal dihadapannya…"

"Itu benar" Kataku.

"Tapi rasanya aku pernah bertemu dengan kakaknya disuatu tempat…" Ucap Haku.

"Maksudmu kau bertemu Len disuatu tempat?"

"Begitulah. Aku yakin jika aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu"

"Dengan kata lain, Len masih…hid—" Ucapanku terhenti saat melihat Rin ada di pintu.

"Onii-chan ku…" Rin mulai meneteskan air mata.

"Onii-chan ku masih hidup?"


Makasih yang udah baca :'3 maaf ceritanya begini *colek"tembok(?)*

Chapter 3 ntar menyusul ya *gulingguling*

Sampai nanti XD ~ fufu