Hai :3
Chapter 3 muncul (?)
Yang berkenan ... yuk baca XD
.
.
.
"Rin…"
"Onii-chan ku masih hidup?"
"Ini bukan saat yang tepat untuk gadis kecil sepertimu bangun" ucap Haku sambil beranjak pergi masuk kedalam. Rin mengikuti Haku. Jika Len masih hidup, lalu apa kematiannya saat itu hanya kepalsuan belaka? Tapi itu tidak mungkin. Saat itu tubuh Len memang benar-benar sudah dingin, jantungnya pun sudah berhenti berdetak.
Saat matahari mulai terbit, kami semua sarapan bersama dikantin sekolah. Sebenarnya hari ini sekolah libur tapi kantin tetap buka karena pekerjanya adalah makhluk sihir. Aku melihat Rin yang tidak menyentuh makanannya sama sekali. Aku sedikit khawatir tapi Haku mulai menyuapinya. Orang dingin seperti dia sepertinya punya sisi yang hangat juga.
"Terimakasih atas makanannya" Kataku yang beranjak pergi.
"Kau mau kemana?" Tanya Lily.
"Aku ada janji dengan seseorang" Jawabku sambil melambaikan tangan pada semuanya. Kemudian Haku berdiri dan membekukan kakiku. "Apa yang ka—"
"Aku akan membawa Rin dalam tugasku kali ini. Jadi aku minta padamu untuk tidak khawatir" Ucap Haku yang lalu menghilang bersama Rin. Es di kakiku pun menghilang.
Aku tidak tau apa yang sudah Haku katakana pada Rin tadi malam. Tapi sepertinya ada hubungannya dengan Len. Jika dia memang masih hidup, itu bagus kan? Dengan begitu Rin tidak akan merasa kesepian.
Setelah aku pulang dan membersihkan diriku, aku bersiap untuk menjemput Miku. Sebenarnya ini adalah kencan pertamaku dengan dia. Aku belum lama pacaran dengannya, yaa bisa dibilang baru 11 hari saja. Karena itulah kami sedang mesra-mesranya.
Saat aku menjemputnya, dia sudah menunggu di depan rumahnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan padaku.
"Ohayou" Sapanya.
"O-Ohayou" Balasku sedikit gugup.
Kami pun langsung pergi dari sana. Bagaimana ini…aku gugup sekali. Padahal aku sudah sering memeluknya tapi untuk menggenggam tangannya aku masih tidak berani.
"Nee…Kaito kita akan pergi kemana?" Tanya Miku.
"Ng…Kita ke kota dan berjalan-jalan di mall. Aku akan membelikan apapun yang kau sukai" Jawabku dengan percaya diri. Miku hanya tersenyum. Aku bersyukur karena gaji sebagai anggota dewan sihir sangat besar!
Saat kami sampai di mall, Miku terlihat senang.
"Waaah besarnyaaa" Ucapnya yang terkagum-kagum.
"Kau baru pertama kali kemari?" Tanyaku. Miku langsung mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Ngh..me-memalukan ya?" Tanyanya dengan wajah yang cukup memerah. Aku pun mengelus kepalanya.
"Tidak juga" Jawabku sambil tersenyum. Miku ikut tersenyum. Kami pun melanjutkan perjalanan ke dalam.
Kami mengunjungi satu toko ke toko lain dan langkah Miku terhenti saat melihat sebuah gaun berwana hitam di balik kaca sebuah toko.
"Haaa cantiknya" Ucapnya. Aku pun tersenyum dan menariknya kedalam toko.
"Aku ambil gaun yang itu ya" Kata ku pada petugas toko. Miku terkejut.
"K-kau mau mengenakan itu?" Tanya Miku dengan ekspresi wajah yang lucu. Aku menggelengkan kepalaku.
"Kau yang pakai" Jawabku.
"Tuan, apa nona ini yang akan memakainya?" Tanya petugas toko itu. Aku pun menganggukan kepalaku. "Kalau begitu nona silahkan ke ruangan ini untuk mencobanya" Ucap si penjaga toko yang langsung menarik tangan Miku.
Aku pun menunggu cukup lama, tapi saat Miku keluar…semua mata yang ada disana tertuju padanya. Dia memakainya dengan wajah yang tersipu malu.
"B-bagaimana?" Tanyanya padaku. Aku hanya terdiam dalam kekaguman.
"Kakak kau sungguh cantik" Sahut seorang gadis kecil yang langsung menghampiri Miku.
"Te-terimakasih…" Miku semakin tersipu malu.
"Kalau sudah besar nanti aku ingin tumbuh cantik sepertimu" Lanjut anak kecil itu sambil tersenyum manis pada Miku.
"Eh…" Miku terkejut dan anak itu pun berlari ke mamanya.
"Yosh! Kita beli yang ini" Kataku dengan bersemangat.
Miku pun kembali mengunakan pakaian semula.
"Baiklah, harganya 14 juta tuan" Ucap kasir toko itu. Miku terkejut.
"K-Kaito…harganya mahal sekali lebih baik jangan dibeli" Bisik Miku padaku. Aku pura-pura tidak mendengarnya.
"14 juta? Baiklah" Kataku sambil menyerahkan kartu pada kasir itu.
"H-heee?!" Miku semakin terkejut.
"Anda pasti sangat menyayangi nona ini" Ucap salah seorang pelanggan yang ada disana sambil tersenyum padaku.
"Tentu saja. Aku sangat menyayanginya" Kataku sambil merangkul Miku. Miku kembali blushing.
"Terimakasih atas pembeliannya" Ucap para petugas di toko itu.
Aku dan Miku pun keluar dari sana dan masuk ke sebuah café.
"Ini, untukmu" Kataku sambil memberikan gaun itu padanya.
"A-apa tidak apa-apa? Ini kan mahal sekali" Miku ragu saat menerimanya.
"Kalau kau tidak menerimanya aku akan sedih" Aku memasang wajah mengenaskan. Miku pun langsung menerimanya dan lalu memeluknya.
"Aku terima! Aku terima! Terimakasih banyak" Ucapnya dengan ekspresi panik yang lucu. Aku pun tertawa melihatnya.
Karena haus dan lapar, kami pun membuka buku menu yang ada disana. Miku terlihat sangat bingung. Aku pun menunggu Miku sampai dia memutuskan ingin memesan apa. Tapi sudah 15 menit berlalu dan dia belum memutuskan ingin memesan apa.
"Jadi Miku mau pesan apa?" Tanyaku. Miku meletakan buku menu dan menatap ke arahku.
"Semuanya mahal, aku tidak bisa putuskan" Jawabnya. Aku tersenyum dan kembali merangkulnya.
"Jadi mana yang paling kau sukai?" Tanyaku. Miku pun menunjuk ke minuman rasa strawberry mint dengan es krim vanilla dan jelly rasa anggur diatasnya.
"Lalu makanannya kau ingin yang mana?" Tanyaku lagi. Miku pun membuka buku menu bagian terakhir dan menunjuk cake dengan rasa vanilla dan jeruk dan dibalut dengan coklat berwarna biru. Aku pun tersenyum.
"Baiklah, permisi…kami pesan ini, ini, ini, dan yang ini ya" Kataku pada pelayan café tersebut. Miku kembali terkejut.
"K-Kaito…" Panggilnya sambil mengembungkan pipinya.
"Hari ini aku akan memberikan semua yang kau mau" Kataku sambil menusuk pipi nya dengan kedua jari telunjukku. Miku kembali tersipu malu.
Saat pesanan datang, Miku hanya melihat pesanannya dengan kagum.
"Aaaaa…" Aku mencoba menyuapi Miku dengan makanan pesananku. Miku sempat terdiam dan akhirnya membuka mulut kecilnya.
"Oishii" Ucapnya sedikit malu.
Aku berharap bisa terus seperti ini dengannya. Aku berharap 7 Warlords berhenti menyerang dan bisa menyelesaikan segalanya dengan baik-baik. Setelah selesai makan kami pun melanjutkan kencan kami. Aku mengajak Miku ke sebuah toko sepatu. Aku melihat matanya tertuju pada sebuah sepatu berwarna hitam dengan pita yang mungkin bagi anak perempuan sangat lucu. Tapi ketika aku tanya apa ada sepatu yang dia sukai, dia bilang tidak ada. Tapi aku yakin kalau dia menyukai sepatu itu.
"Kaito…" Panggilnya.
"Ada apa?" Tanyaku yang masih melihat-lihat sepatu.
"T-toilet.." Jawabnya sambil menarik lengan bajuku. Aku hanya tersenyum dan mengantarkannya ke toilet. Saat Miku masuk, aku berlari kedalam toko sepatu dan membeli sepau yang dilirik oleh Miku tadi.
"Harganya 8,9 juta tuan"
Setelah aku membelinya aku segera kembali ke depan toilet wanita dan beruntung Miku sepertinya belum keluar. Beberapa saat kemudian Miku pun keluar.
"Maaf lama" Ucapnya dengan manis. Aku langsung menariknya dan menyuruhnya untuk duduk di sebuah kursi dekat toko jaket.
"Ada apa?" Tanya Miku.
"Aku membeli hadiah untuk seseorang tapi aku tidak tau apakah ini pas atau tidak, dan setau ku ukurannya sama sepertimu" Jawabku sambil mengeluarkan sepatu yang tadi kubeli. Miku terlihat cukup terkejut tapi dia terlihat seperti berusaha menyembunyikannya.
Miku pun mencoba memakai sepatu itu.
"Oh… jadi pitanya dililitkan ke kaki sampai bawah lutut? Aku baru tau…" Ucapku yang terheran-heran dengan sepatu itu. Kemudian Miku segera melepaskan sepatunya dan mengembalikannya padaku.
"Kau mau memberikannya pada siapa?" Tanya Miku yang terlihat sedikit murung. Aku pun hanya menahan tawa saat melihat ekspresi wajahnya.
"Aku mau berikan ini pada pacarku" Kataku sambil memberikan sepatu itu padanya. Miku kembali terkejut dan menteskan air mata. Aku panik. "M-Miku! Kau kenapa?"
"Hari ini Kaito banyak memberiku hadiah dan aku tidak bisa memberimu apa-apa" Jawabnya sambil menangis.
"Sudah sudah…asal Miku selalu disisiku, aku sudah merasa sangat senang" Kataku sambil mengelus kepalanya. Miku langsung melompat dan memelukku.
"Arigato…" Ucapnya.
Hari mulai sore dan kami pun memutuskan untuk berkunjung sebentar ke taman. Miku terlihat sangat senang saat sampai disana. Kemudian seseorang menghampiri kami dan menawarkan jasanya.
"1…2…3…"
"Ini pertama kalinya kita berfoto bersama" Kata Miku padaku.
"Tuan, Nona kita lakukan sekali lagi ya…kali ini tolong perlihatkan ekspresi terbaik kalian"
Kami pun berpose senatural mungkin.
"B-bagus sekali!" Ucap fotografer tersebut.
Beberapa saat kemudian dia pun memberikan hasil fotonya pada kami. Tapi saat aku menanyakan harganya, dia bilang itu gratis karena kami special. Kami berdua pun berterimakasih padanya.
"Aku akan menjadikannya sebagai hartaku yang paling berharga" Ucap Miku yang terus memandangi foto kami berdua.
Kencan kami hari ini pun berakhir. Aku harap saat hari libur selanjutnya tetap bisa berkencan bersamanya.
Setelah mengantar Miku pulang, aku pun bergegas untuk pulang ke rumah. Tapi saat melewati taman bermain, aku melihat banyak orang berbaris disana. Merasa ada yang tidak beres aku pun bersembunyi untuk melihatnya dari dekat.
"Grrrr…Graaa…Graaaa…Uuuuu" Mereka mengeluarkan suara yang aneh. Rasanya seperti bukan manusia.
"Dengarkan aku wahai pasukanku" Ucap seorang wanita yang berdiri diatas ayunan.
Aku tidak bisa melihat wanita itu dengan jelas karena dedaunan pohon yang menghalanginya.
Trek…kakiku menginjak kaleng minuman bekas yang ada disana dan itu membuat para makhluk yang ada disana meraung-raung.
"Siapa disana?" Ucap wanita itu.
Aku pun memanggil Excalibur untuk bersiap menyerang. Wanita itu pun terlihat berjalan mendekat, tanpa pikir panjang aku pun langsung maju dan menyerangnya.
"Kau Ma—"
Chapter 3 berakhir disini X'D
Menurut kalian gimana? maaf ya kalau masih nggak menarik...di chapter selanjutnya aku bakal lebih berusaha buat lebih baik lagi X'D
Yosh...sampai jumpa di chapter 4 ...
