Selamat datang di Chapter 4 XD

Langsung aja ya ...

.

.

.


"Kau Ma—"

"Grrraaaa…grraaauuuu…grrrr" Para makhluk aneh segera melindungi wanita yang aku kenali itu.

"Maika…"

"Are? baKaito?"

Wanita bernama Maika itu adalah salah satu anggota dari 12 dewan sihir. Ini adalah kedua kalinya aku bertemu dengannya. Dia selalu berada di tempat yang sulit di tebak. Selain itu aku juga tidak begitu mengetahui kemampuan sihir yang dimilikinya. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya disini.

"Maaf, aku kira kau musuh" Kata ku sambil menurunkan Excalibur.

"Kalau musuh yang kau cari, mungkin kau bisa melihatnya disana" Maika menuntunku ke kumpulan makhluk menyeramkan miliknya.

Aku terkejut saat melihat sesosok makhluk yang sepertinya pernah aku lihat. Wujudnya seperti tengkorak manusia…dan aku melihatnya…saat itu! Benar! Saat Yukari datang ke rumahku.

"Aku pernah melihatnya…" Kataku.

"Sayangnya aku tidak berhasil membunuh Yukari" Ucapnya sambil menghancurkan tulang-tulang yang berserakan itu.

Lalu Maika bertanya padaku mengenai penyerangan pada ketua kemarin dan dia malah tertawa saat mendengar ketua harus kehilangan tangan kanannya. Dia berkata jika ketua tidak akan mati dengan mudah dan dia mengaku kalau dirinya sudah mencoba lebih dari empat ratus kali untuk membunuh ketua. Kenapa? Karena siapapun yang berhasil membunuh ketua nantinya akan jadi ketua yang baru.

"Mereka ini makhluk apa?" Tanyaku yang cukup takut dengan penampilan makhluk disekelilingku ini.

"Oh mereka hanya pelayanku, tenang saja. Meski terlihat seperti manusia, mereka bukan manusia. Aku menciptakan mereka dari alam, seperti daun, batu, pasir, air, dan yang lainnya" Jawabnya dengan santai. "Sudah lama aku tidak kembali kesini" Lanjutnya lagi.

"Selama ini kau berkelana kemana?" Aku bertanya lagi.

"Awalnya aku hanya mencari uang tambahan dengan menjadi seorang bodyguard—"

"Apa bagimu gaji 90 juta perbulan tidak cukup?" Aku menyela ceritanya.

"Huh kau ini, seorang wanita itu membutuhkan perawatan tubuh yang ekstra sekalin itu aku juga harus membeli macam-macam benda yang aku sukai" Katanya sambil menghela napas panjang. "Aku lanjutkan ya, saat aku menjadi bodyguard aku kira aku hanya akan melindungi klien ku dari mafia biasa, tapi ternyata aku harus melindunginya dari seorang pelayan 7 warlords" Ekspresi wajah Maika berubah.

"Pelayan?"

"Ada dua anggota yang memiliki pelayan disampingnya, dan salah satunya adalah Yukari. Tapi orang itu berkata jika tuannya bukanlah Yukari" Jawabnya.

Malam itu pun aku jadi bisa bicara banyak dengan Maika yang sudah bergabung sangat lama dengan 12 dewan sihir. Maika ternyata orang yang baik.


Pagi ini aku mendapat informasi dari Gumi jika sekolah akan diliburkan sampai masalah dengan 7 Warlords berakhir. Dan hari ini juga diadakan pertemuan tertutup dengan 3 perwakilan 7 Warlords untuk membicarakan soal masalah dan mencari jalan keluarnya.

Pertemuan dilakukan di markas utama 12 dewan sihir yang berada dibawah tanah. Aku dan Gumi tidak ikut bertemu dengan 3 perwakilan itu. Kami diminta untuk berjaga di depan pintu masuk ruangan pertemuan. Di dalam sana hanya ada Ketua, Maika, dan Gakupo, sedangkan Lily berada di ruangan sebelahnya sambil mengaktifkan penetral sihir. Dan tidak lama kemudian 3 perwakilan itu pun datang dengan mengenakan jubah hitam yang menutupi wajahnya. Tapi salah satu dari mereka justru dengan sengaja membukanya, dan itu adalah Yukari.

"Konnichiwa" Yukari memperlihatkan kertasnya pada kami dan lalu masuk kedalam bersama 2 perwakilan lainnya.

Aku dan Gumi pun hanya diam tanpa mengatakan apapun padanya. Pintu pun tertutup dan pertemuan pun dimulai.

"Aku penasaran dengan pembicaraan mereka" Ucap Gumi sambil berusaha menguping.

Aku juga penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Sambil menunggu, aku dan gumi pun bermain gunting, kertas, batu. 2 jam berlalu kami pun semakin bosan dan tiba-tiba…

"Aku tidak bisa menyerahkan anak itu pada kalian!" Suara ketua terdengar sampai keluar. Aku dan Gumi segera bersiap untuk membuka pintu dan menyerang jika Lily sudah memberikan aba-aba penyerangan dari perwakilan 7 Warlords. Tidak lama kemudian lonceng pun berbunyi, aku, Gumi, dan Lily pun segera masuk dan berdiri di depan ketua, begitu juga dengan Maika dan Gakupo. Dua dari mereka pun melompat ke atas.

"Tidur"

Mata ku terasa berat, aku juga merasa sangat mengantuk. Ini kah kemampuan Yukari yang diceritakan ketua?

Beberapa menit kemudian aku pun terbangun, dan saat membuka mata aku sudah berada di halaman sekolah bersama yang lainnya.

"Kau sudah sadar?" Tanya ketua yang kelihatannya tidak terpengaruh ucapan Yukari. Maika dan yang lainnya pun mulai terbangun.

Kalau diingat-ingat dua dari mereka melompat untuk menghindari perkataan dari Yukari. Kalau begitu mereka sudah merencanakan semua ini. Yuzuki Yukari, dia adalah orang yang masih aku pertanyakan posisinya. Apa dia masih berpihak pada 12 dewan sihir atau pada 7 panglima perang. Dia orang yang benar-benar misterius.

"Ketua apa yang mereka inginkan?" Tanyaku.

"Segera cari Haku dan lindungi Rin!" Ucap Ketua.

"T-tapi kenapa?" Tanya Lily.

"Mereka menginginkan Rin!"

Aku dan yang lainnya terkejut, kecuali Maika yang tidak mengenal Rin. Kemudian ketua mengatakan semua pembicaraan tadi pada kami. Mereka mau berdamai asalkan Rin diserahkan pada mereka. Selama kekuatan Rin belum bangkit, maka mereka bisa membuka pintu Leiden atau pintu penderitaan. Itu akan berbahaya karena dapat memusnahkan semua umat manusia yang tidak patuh pada mereka.

"Oleh karena itu, aku utus kalian berdua untuk menemui Haku di kota Lamia" Ketua menunjukku dan juga Gumi. Kami berdua pun tidak bisa menolak perintah dari ketua.


Sore harinya aku mengirim pesan pada Miku dan menceritakan apa yang terjadi hari ini, juga mengenai tugas yang mengharuskan ku pergi ke kota Lamia yang cukup jauh darisini.

"Aku mengerti, jaga dirimu ya. Aku akan selalu menunggumu"

Aku pasti akan segera kembali. Aku pergi ke kamar untuk beristirahat tapi saat masuk kamar…

"Yo!"

"Yo! Kaito!"

Maika dan Gumi ada disana.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?!" Tanyaku.

"Tidak baik berteriak pada seorang wanita, cepat bersiap aku akan segera mengirim dirimu dan Gumi ke kota Lamia" Jawab Maika sambil melemparkan bantal ke wajahku.

"S-sekarang?"

"Iya, ayo!" Gumi melompat ke arahku.

"Hati-hati ya…" Maika melambaikan tangannya.

Aku dan Gumi pun dikirim ke kota Lamia dengan teleportasi tingkat atas miliknya.


Saat kami sampai betapa terkejutnya kami berdua ketika melihat bahwa kota itu sudah hancur. Kami berteriak memanggil nama Haku. Kemudian Haku pun keluar dari sebuah rumah yang hampir roboh.

"Apa yang terjadi disini?!" Gumi kebingungan.

"Kota ini hancur beberapa tahun yang lalu. Sekarang kota ini menjadi kota mati" Jelas Haku.

"Ano kami kesini karena perintah dari ketua" Ucapku.

"Aku sudah tau…" Ucapnya yang melangkah mendekat pada kami berdua.

"Mana Rin?" Tanyaku. Dia pun meminta kami untuk mengikutinya. Haku membawa kami masuk ke bangunan tempat dia keluar tadi, lalu membawa kami ke ruangan bawah tanah. Aku melihat Rin yang tertidur didalam sebuah penjara yang terbuat dari api berwarna putih.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gumi.

"Kalau dia bangkit maka 7 warlords akan kesusahan" Jawab Haku.

Tiba-tiba seseorang yang tidak diundang datang ke hadapan kami.

"Aku tidak bisa biarkan itu terjadi" Ucap seseorang yang tidak kami kenali.

"Kaito, Gumi, lindungi Rin" Haku maju dan bersiap melawan orang asing itu.

"Lebih baik kau maju berdua" Ucap orang itu. Tidak lama kemudian seseorang muncul dari kegelapan.

"Yukari!" Haku terkejut.

"Halo. Apa kabar?" Tulis Yukari.

Tanpa pikir panjang, aku pun maju dan meminta Gumi menjaga Rin. Kali ini aku memasukan penutup telinga yang di berikan Maika sebelum kami di teleportasi kemari.

"Firasatku mengatakan jika Yukari akan ada disana. Karena itu bawa dan pakailah ini"

Firasatmu benar Maika. Aku pun memberikan sepasang pada Haku. Kami bertiga pun segera memakainya. Yukari hanya diam dan memperhatikan kami dan lagi-lagi dia mengangkat jari nya seperti waktu itu. Awalnya aku mengira bahwa dia akan memanggil salamander lagi, tapi kali ini berbeda. Makhluk yang muncul adalah Hydra, naga air yang memiliki lima kepala dalam satu tubuh.

"Aku serahkan hydra dan yukari padamu" Ucap Haku yang langsung menyerang orang asing berambut putih tersebut.

"Berhati-hati lah Pico" Tulis Yukari.

"Ah! Aku pasti akan menang" Ucap orang itu.

Orang bernama Pico itu pun langsung menyerang Haku dengan sihir yang sama dengan Haku, yakni sihir es.

"Mari kita buktikan es siapa yang paling kuat" Ucapnya dengan percaya diri.

"Aku tidak akan termakan ucapan seorang bocah" Balas Haku.

"im Namen des Eis Herzen rufe ich euch, o ewige Eis Drache"

Haku mengucapkan mantra yang baru pertama kali aku dengar. Suhu ruangan semakin dingin lingkaran sihir pun mulai muncul dan kemudian naga es abadi pun muncul. Naga itu benar-benar membuat Pico terdiam dan tidak bicara apa-apa lagi. Tapi setelah itu Yukari bertukar tempat dengan Pico.

"Yukari!"

"ewige Flamme"

Yukari menuliskan mantra pada selembar kertas. Salamander datang dan segera melindungi Yukari dengan sayapnya. Sekarang dihadapan kami ada dua ekor naga. Yang satu naga es dan yang satunya lagi adalah naga api. Hydra pun menghilang. Mereka pun pergi dengan menghancurkan langit-langit bangunan tersebut. Terlihat pertarungan sengit diantara mereka berdua di atas langit mendung itu.

"Jangan abaikan aku" Pico tiba-tiba menyerangku.

"Sayang ya, kau tidak sebanding dengan Haku" Kataku memprovokasi emosi Pico.

". . ." Pico hanya diam.

"Excalibur…" Aku memanggil Excalibur dan segera menahan serangan demi serangan dari Pico.

"Kaito! Dibelakang mu!" Teriak Gumi. Saat aku berbalik, sebuah pendang es raksasa langsung menebasku. Beruntung aku masih bisa bertahan.

"Kau lemah" Ucapnya.

"Akan ku buktikan siapa yang lemah"

Aku pun mulai memusatkan konsentrasiku. Fokus untuk mengalahkannya hanya dengan satu serangan. Disaat Pico terus menerus menyerangku, aku hanya bisa bertahan dan terus focus pada Excalibur.
Excalibur adalah pedang peninggalan guruku yang sudah lama menghilang sejak ledakan dihari itu. Ledakan yang terjadi 7 tahun yang lalu.

"Ex—"

Yukari langsung melompat dari atas salamander untuk melindungi Pico.

"Calibur!"

Yukari terlihat menggunakan sihir pertahanan. Tapi lama-kelamaan pertahanan itu mulai retak. Yukari mendorong Pico dan serangan Excalibur pun mengenai Yukari. Salamander pun menghilang. Lalu Haku pun datang menghampiriku.

"Das letzte eis"

Pico langsung menggunakan sihir es berbentuk 15 pisau yang langsung melesat menuju ke arahku dengan cepat. Aku yang tidak sempat menghindar pun hanya bisa terdiam, akan tetapi…

"HAKU!" Teriakku. Haku hanya tersenyum. Ke-15 pisau itu pun langsung menusuk tubuh Haku, bahkan sampai menembus tubuhnya.

"Aku sudah tidak ingin bermain-main lagi" Pico pun berjalan menuju tempat Rin. Gumi segera bersiap menyerang.

"Sudah bangkit…" Ucap Haku.

"Jangan banyak bicara ku mohon!" Aku mencoba menutupi luka Haku yang sebenarnya sulit untuk tertutupi.

"Bangkitlah Raj— hm…tidak, Ratu Api Suci" Ucap Haku sambil menatap ke arah Rin.

Rin pun bangkit dengan api suci berkobar disekelilingnya. Penampilannya pun ikut berubah. Rin bangkit dengan gaun pendek berwarna putih dan sebuah tongkat dengan permata berwarna putih di tengahnya. Pita putihnya pun berubah menjadi kobaran api suci.

"Apa?!" Pico terkejut.

Api yang mengelilingi Rin pun berubah menjadi naga yang langsung menyerang Pico. Tapi Pico selamat karena Yukari segera menolongnya.

"Yukari! Dia…selamat?" Batinku.

Api suci milik Rin pun menyebar kemana-mana. Yukari pun segera mengangkat tangannya untuk memanggil salamander dan kabur dengan Pico.

"Haku!" Gumi segera menghampiri Haku dan mencoba mengobati luka nya dengan sihir penyembuhan elemen air nya.

"Hen..tikan" ucap Haku dengan suara yang terdengar kesakitan. "Es itu sudah menembus 15 bagian tubuhku. Termasuk jantungku" Lanjut Haku. Rin segera berlari dan menggenggam tangan Haku.

"Haku-nee…" Panggil Rin. Haku membelai pipi Rin.

"Aku sudah tau ini akan terjadi" Ucapnya sambil tersenyum.

"Kenapa kau melindungiku?" Tanyaku yang tidak kuasa menahan air mata.

"Kalau kau yang mati…ugh…maka pintu Leiden tidak bisa dihancurkan…hanya tuan dari Excalibur yang bisa menghancurkannya" Jawabnya.

"Ayo kita kembali, dengan begitu kau bi—" Haku menghentikan ucapan Gumi.

"Haku-nee…" Rin menangis sambil terus menggenggam tangan Haku.

"Kau adalah seorang Ratu api suci. Kau penyihir dengan kekuatan suci. Kau akan menjadi penyihir yang kuat Rin…" Haku membelai kepala Rin. "Kakak mu masih hidup" Lanjutnya.

"Petualanganku sampai disini…sam…paikan…salamku…pada ketua dan yang lainnya…" Haku pun menutup matanya, tangannya yang membelai Rin pun jatuh ke tanah.

"HAKU-NEE!"

"HAKU!"

Rin dan Gumi menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Aku tidak pernah menyangka jika hidupku akan diselamatkan oleh sang wakil ketua, Yowane Haku. Penyihir es terkuat yang pernah aku temui. Naga es milik Haku pun mulai menghilang perlahan.

"Tuan…"

Naga itu memanggil Haku dan akhirnya menghilang. Yowane Haku. Bergabung dengan 12 dewan sihir di usia nya yang masih kecil yakni 7 tahun. Dan saat usianya menginjak 21 tahun…sang Wakil Ketua beristirahat untuk selamanya.

"Terimakasih karena sudah menyelamatkanku…Wakil Ketua" Aku memeluk tubuh Haku yang sudah tidak bernyawa itu.

Tidak lama kemudian, lingkaran sihir teleportasi pun muncul mengelilingi kami ber-4. Dan kami pun kembali ke markas utama 12 dewan sihir.


Yosh! Chapter 4 selesai disini :D

Chapter 5 segera menyusul ... arigato buat siapapun yang udah baca X3 ~

Maaf kalau ada salah-kata TvT *ngumpet*