Halo XD

Chapter 5 hadir ...

Silahkan di baca TvT *ngumpet*

.

.

.


Saat kami kembali, raut wajah Maika, Lily, Gakupo, dan Ketua pun tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ketua maju dan mendekati ku yang menggendong jasad Haku. Ketua menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya, lalu ketua membelai wajah Haku dengan lembut. Ketua meminta Lily untuk segera memanggil para anggota yang lainnya untuk menghadiri upacara pemakaman Haku.

Air mata Rin, Gumi, Lily, dan Maika pun tidak dapat terbendung lagi. Aku dan Gakupo pun diminta untuk segera menyiapkan peti jenazah untuk Haku. Sedangkan Rin terus berada disisi Haku bersama Ketua. Upacara pemakaman Haku akan dilaksanakan besok pagi. Gakupo terlihat sangat sedih. Aku bisa menyadarinya dari tatapan matanya. Lalu aku menyentuh pundaknya.

"Ah…maafkan aku" Ucapnya.

"Kau terlihat amat sedih…" Kataku sambil mengajaknya untuk duduk sesaat. Gakupo mulai meneteskan air mata.

"Aku dan Haku sudah berteman sejak kecil…kami hanya anak desa kecil yang sangat jauh dari sini. Kami selalu bermain bersama, berlatih sihir bersama, sampai akhirnya dia berada jauh diatasku. Haku sudah seperti kakak perempuan bagiku. Saat usiaku baru menginjak 6 tahun dan dia 10 tahun, aku berkata jika aku ingin tumbuh kuat dan menjadi bagian dari dewan sihir agar bisa melindunginya. Tapi setelah itu dia mengaku kalau dia sudah lebih dulu bergabung dengan 12 dewan sihir. Selama 3 tahun dia menyembunyikannya dariku. 10 tahun kemudian aku baru bisa menyusulnya bergabung dengan dewan sihir dan saat itu dia memujiku untuk pertama kalinya. Lalu aku merasa tertinggal olehnya lagi ketika dia dipilih sebaga wakil ketua. Dan setelah menjabat sebagai wakil ketua, dia jadi jarang ada disini dan aku pun jadi jarang bertemu dengannya. Aku benar-benar menyayanginya sebagai kakakku."

Gakupo menceritakan masalalunya saat bersama Haku. Ini adalah pertama kalinya Gakupo berbagi cerita denganku. Selain itu aku sama sekali tidak menyangka jika mereka ternyata berteman sejak kecil. Malam itu Gakupo menangis cukup kencang, tapi aku bersikap pura-pura tidak mendengarnya. Aku tahu rasanya pasti sakit di tinggalkan orang yang sangat disayangi. Aku berjanji akan memusnahkan pintu Leiden demi Haku yang sudah menyelamatkan nyawaku.


Pagi harinya semua persiapan telah selesai. Jenazah Haku yang terbaring dalam peti berwarna putih pun diletakkan di aula sekolah agar para pelayat bisa memberikan penghormatan terakhir padanya yang sudah mengabdi selama 14 tahun sebagai salah satu Dewan Sihir. Sebelum itu, Ketua pun memberikan pidato mengenai perjalanan hidup Haku selama ini.

"Wanita yang ada dihadapan kita ini adalah seorang wanita yang tangguh. Dia adalah penyihir wanita pertama yang bisa menaklukan Naga Es Abadi. Bertahun-tahun yang lalu dia hanyalah seorang gadis kecil. Dia datang dari desa yang amat jauh hanya untuk bertemu denganku. Kemudian dia berkata bahwa dia ingin bergabung, saat itu memang ada satu kursi kosong. Tapi aku menaruh kepercayaan padanya, lalu aku berkata jika dia berhasil membuat Naga Es Abadi tunduk padanya, maka dia akan aku jadikan anggota dewan sihir. Dengan senyumannya dia pun menganggukan kepalanya dan segera pergi. 3 bulan kemudian dia datang kembali, dan saat itu dia langsung mengucapkan mantra sihir pemanggilan Naga Es Abadi dan aku benar-benar terkejut! Saat itu juga aku mengadakan upacara penobatan anggota dewan sihir yang baru. Namun sekarang dia sedang beristirahat dalam tidur panjangnya. Dia mengorbankan nyawanya demi mempersulit 7 Warlords yang ingin memusnahkan umat manusia secara perlahan dengan membuka pintu Leiden. Usahanya tidak sia-sia. Berkatnya kekuatan Ratu Api Suci berhasil di bangkitkan"

Ketua menarik Rin ke depan untuk berdiri bersamanya.

"Oleh karena itu…mari kita berikan penghormatan terakhir untuk Haku…" Lanjut Ketua. Orang-orang yang ada disana pun tidak bisa menahan air matanya.

Rin menjadi orang pertama yang memberikan penghormatan terakhir. Rin membelai pipi Haku dan mengucapkan terimakasih. Kemudian Ketua, dan lalu aku. Saat melihat wajah Haku, aku benar-benar terkejut ketika melihat wajahnya yang tersenyum.

"Terima kasih atas segala bantuannya" Ucapku sambil membukkukan badan. Setelah itu, giliran Gakupo yang memberikan penghormatan terakhirnya, lalu Maika, Gumi, dan Lily.

"Mereka datang…" Ucap Ketua. Dan saat aku menoleh ke arah jasad Haku, ke-5 anggota lainnya pun turut hadir dan memberikan penghormatan terakhir mereka.

Satu persatu orang-orang yang datang pun mulai memberikan penghormatan terakhir mereka. Mereka yang datang tidak hanya dari kalangan penyihir, tapi ada juga dari kalangan orang biasa, baik itu berasal dari kota maupun dari desa.

Ketika semua orang sudah kembali ke tempatnya masing-masing, Ketua pun kembali memanggil Rin ke depan.

"Di hadapan Haku, di hadapan ke-11 dewan sihir, dan di hadapan semua orang yang ada disini. Ku nobatkan dirimu, Rin Kagamine sebagai anggota ke-12 dewan sihir menggantikan kursi Haku" Ucap Ketua. Rin pun terkejut bukan main, begitu juga dengan semua orang yang ada disana. Kemudian Rin berlutut sambil menghadap ke semua orang dan berkata…

"Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk melindungi semuanya, sebagai pemilik kekuatan Api Suci" Ucap Rin. Semua yang ada disanapun bertepuk tangan.

Setelah itu Haku pun di makamkan di pemakaman pahlawan di sebuah bukit suci dengan hamparan bunga dan pepohonan yang menyejukkan hati. Semua pelayat yang mengantar sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Gakupo terus menatap ke arah makam Haku.

"Haku sudah beristirahat dengan tenang. Kalau kau sedih itu akan membuatnya sedih"

"Aku tau itu. Terimakasih Luka" Ucap Gakupo.

Setelah itu ke-12 dewan sihir pun kembali berkumpul di markas besar. Berkumpul ber-12 ini jarang sekali terjadi. Karena beberapa diantara kami terkadang memiliki misi yang membuat kami tidak bisa kembali dalam waktu yang lama.

Pertemuan kali ini membahas mengenai wakil ketua yang baru. Kemudian ketua menunjuk Gakupo sebagai wakilnya yang baru dan semuanya menyetujuinya. Gakupo pun menerimanya dengan senang hati. Setelah itu beberapa dari kami kembali pergi untuk melanjutkan tugasnya masing-masing. Markas pun kembali sepi.

"Tanganku sudah pulih" Ucap ketua.

"Lain kali anda tidak boleh lengah seperti itu ketua" Ucap Luka, penyihir cahaya yang cantik dan baik hati.

Luka adalah penyihir yang di taksir Gakupo selama ini. Dia sudah menolak Gakupo berkali-kalai walau sebenarnya aku yakin jika Luka juga menyukai Gakupo. Cinta mereka sungguh rumit.

Setelah semuanya selesai aku pamit pulang pada ketua dan yang lainnya.


Ketika sampai di depan rumah, aku melihat sesosok makhluk sedang berdiri tepat di depan pintu. Dia berjubah hitam dengan sebuah kapak raksasa di tangannya.

"Oi!" Kataku. Dia membalikkan badannya. "Tengkorak yang waktu itu?!" ucapku dalam hati. Kemudian makhluk itu datang mendekatiku.

"Oh…selamat siang Tuan Kaito" Ucapnya sambil membungkukkan badannya.

"K-kau…makhluk tengkorak yang saat itu bersama Yukari?" Tanyaku.

"Betul sekali tuan. Nama saya Zellaby" Jawabnya dengan yaa…sangat sopan.

"Tapi bukankah kau sudah mati? Dibunuh oleh Maika?" Tanyaku lagi.

"Saya tidak bisa mati tuan. Jiwa saya terhubung dengan jiwa tuan saya. Saya hanya bisa mati jika tuan saya mati" Jawabnya.

"Lalu yang aku lihat waktu itu?"

"Yang anda lihat memang benar saya. Tulang-tulang yang nona itu hancurkan memang tulang saya. Akan tetapi setelah itu saya akan kembali ke wujud saya yang semula" Jelasnya.

Lalu aku pun menanyakan maksud kedatangannya kemari. Dia pun menjawab jika dia di perintahkan Yukari untuk menemui ku dan memberikan sebuah surat. Setelah itu tengkorak itu pun mengucapkan salam dan menghilang. Tanpa berpikir dua kali aku pun langsung membuka surat itu.

"Pintu Leiden. Bukit Surga. Jeritan Manusia."

Apa maksudnya? Sebuah teka-teki? Aku harus segera memberitahukan ini pada yang lainnya. Aku pun langsung menggunakan sihir teleportasi walaupun aku tidak yakin akan berhasil.


Dan pada akhirnya aku malah sampai di dalam hutan. Saat aku memutuskan untuk berjalan menuju tempat ketua, tiba-tiba aku melihat Luka dan Gakupo di dekat air terjun. Karena penasaran, aku pun mengintip dari balik pohon.

"Kalau kau terus bersedih, Haku tak bisa beristirahat dengan tenang…wakil ketua" Ucap Luka yang menghampiri Gakupo yang sedang duduk dan merendamkan kakinya didalam air.

". . ." Gakupo tidak berkata apapun. Kemudian Luka pun memeluk Gakupo dari belakang.

"Teruslah bersamaku…Luka" Ucap Gakupo. Luka menganggukan kepalanya.

"Mulai sekarang aku akan selalu disampingmu"

Mereka berdua pun berdiri dan berpelukan. Dan setelah itu…

"K-K-K-KI-KIS-KISSU!" Aku terkejut. T-tapi kenapa aku harus terkejut! Sial…melihat mereka berdua aku jadi teringat Miku. Oh iya! Gara-gara melihat mereka berdua aku jadi lupa akan tujuanku. Lebih baik aku segera menemui ketua. Tapi…saat aku membalikkan badanku…

"Kau juga lihat ya?"

"G-GUMI?!"

Ternyata Gumi pun melihatnya. Kami bicara dengan suara yang amat sangat pelan. Kemudian aku pun menggendongnya ala gendong karung (?) dan pergi secepat mungkin sampai akhirnya sampai di sekolah. Aku pun menurunkan Gumi dan segera ke ruangan ketua di lantai 3. Tapi ternyata disana hanya ada Maika dan Rin.

"Mana ketua?" Tanyaku. Rin menggelengkan kepalanya.

"Ntahlah. Kenapa kau kembali?" Maika balik bertanya sambil melemparkan kulit kacang.

"Maika! Maika!" Lily berlari memanggil-manggil Maika.

"Ada apa?"

"Gumi muntah-muntah!" Lily datang sambil menggendong Gumi.

"Ada apa Gumi? Kau hamil?" Tanya Maika dengan enaknya. Gumi tidak menjawab karena sibuk menahan mual.

"B-benarkah?!" Lily terkejut.

"He?!" Rin ikut terkejut.

"K-Kaito…Kaito yang melakukannya" Ucap Gumi yang langsung berlari ke kamar mandi.

Aura membunuh dari Maika dan Lily pun langsung memenuhi ruangan ketua.

"KA I TO" Lily mengeluarkan para peri miliknya.

"Sejak kapan kau…." Maika memanggil para pelayannya.

"A-AKU TIDAK MELAKUKAN APA-APA!" Kataku sambil berlari berlindung di belakang Rin.

"Kaito.." Rin tersenyum dan mengambil telpon sambil berkata "Halo, Mik—" . Aku langsung membanting telpon milik ketua. Tidak lama kemudian Gumi pun keluar dari kamar mandi.

"Lega nya.." Ucapnya sambil tersenyum. "E-eh? Apa yang kalian bertiga lakukan pada Kaito?" Tanyanya dengan polos.

"Orang ini sudah melakukan itu padamu kan?" Tanya Lily yang sedang menjambak rambutku.

"Itu?" Gumi bingung.

"Bayi…" Ucap Rin yang mencekik leherku.

"Bayi?" Gumi semakin bingung.

"Kaito memaksamu untuk melakukan itu dan membuat bayi kan?" Tanya Maika yang menginjak perutku. Otak Gumi mulai berjalan. Wajahnya mulai memerah.

"Aku tidak pernah melakukannya dengan Kaito!" Jawab Gumi sambil berteriak. 3 wanita yang sedang menyiksaku pun terdiam.

"Lalu kau melakukannya dengan siapa?" Tanya Lily dengan wajah kebingungan.

"Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun! Aku mual karena makhluk ini menggendong ku seakan-akan aku adalah karung beras!" Jawabnya sambil menunjuk-nunjuk pada hidungku. Tiga wanita itu pun terdiam. Dan tidak lama kemudian seorang laki-laki masuk kedalam ruangan ketua. Saat dia membuka pintunya dan melihat posisiku yang sedang disiksa oleh 4 wanita sekaligus, dia pun terdiam.

"Ah…maaf sudah mengganggu" Ucapnya yang kemudian menutup pintunya kembali.

"LUI INI TIDAK SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN!" Teriakku, Gumi, Lily, dan Maika.

"Lui?" Ucap Rin. Maklum saja Rin ken belum pernah bertemu dengannya.


Kami pun menjelaskan semuanya pada Lui. Untungnya Lui mau mengerti walau kelihatannya dia sedikit memaksakan untuk mengerti. Oh iya…dia Hibiki Lui, salah satu dari 12 dewan sihir juga. Sangat jarang melihatnya ada disini.

"Aku tidak tau harus bicara apa…" Ucap Lui sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Ahem! Ada apa ini?" Tanya ketua yang baru kembali ke ruangannya.

Kami pun menjelaskan segala yang terjadi pada ketua. Tiba-tiba aku teringat dengan surat yang aku dapatkan dari tengkorak itu.

"Ketua, tadi saat aku pulang. Pelayan Yukari memberikan ini padaku" Aku memberikan surat itu pada Ketua. Tidak lama kemudian Gakupo dan Luka pun datang.

"Hmmm…" Ketua membaca surat itu. "Ini seperti teka-teki…tapi aku punya firasat buruk soal ini" Lanjutnya.

Ruangan itu pun hening untuk sesaat.

"Sepertinya aku harus memanggil mere—APA YANG TERJADI PADA TELPONKU?!" Ketua histeris. Aku panik teringat saat membanting telponnya. Kemudian lagi-lagi aku menjelaskan semuanya pada ketua. "GAJIMU AKAN DI POTONG SEBANYAK 85%!" Ucap Ketua. Aku hampir terkena serangan jantung. "Untung aku punya cadangan" Ketua mengeluarkan telpon cadangan dari laci mejanya.

Ketua pun berbicara pada mereka, anggota 12 dewan sihir yang lainnya. Beberapa menit berlalu dan ketua pun menutup telponnya.

"Mereka bertiga akan kembali dalam 2 hari. Dan selama itu kita harus mengawasi bukit Surga" Ucap Ketua dengan serius. "Gakupo, Kaito, Maika, Luka, Lily, Gumi, Lui, dan Rin" Panggil Ketua. Kami pun langsung berdiri sambil memegang senjata kebanggaan kami masing-masing. "Perang akan segera dimulai…" Lanjut ketua. Kami pun menganggukan kepala tanda siap untuk berperang.

"A-ano…"

"Hm?"

"Ketua…apa aku boleh tau apa yang menyebabkan perang ini terjadi?" Tanya Rin.

"Benar juga, kau belum tau apa-apa ya. Baiklah akan ku ceritakan dari awal…" Ucap Ketua yang meminta Rin untuk duduk di sofa depan mejanya.

"Bersiaplah untuk….mendengar ceritaku yang panjang…"

.

.

.


Chapter 5 berakhir disini :3

Mohon maaf kalau ada salah kata & jalan cerita yang kurang dimengerti TvT ... sampai bertemu di chapter 6 *kabur*