Chapter 7 selesai :3
Selamat membaca :3
Semoga suka :'3
.
.
.
.
Tiba-tiba Gakupo muncul di atas tangga.
"Semuanya segera berkumpul di markas besar" Ucap sang Wakil Ketua, Gakupo. Aku, Maika, Lily, dan Lui pun segera pergi ke sana.
Saat sampai disana, aku melihat banyak masyarakat dari berbagai tempat ada disana.
"Ada apa ini?" Tanyaku yang terheran-heran.
"Kita tak bisa membiarkan mereka terkena hujan beracun ini" Jawab Gakupo.
Raut wajah mereka semua terlihat amat ketakutan. Salah satu dari mereka, mengatakan bahwa sebelum di bawa kemari, dia melihat dua orang wanita, yang satu berambut panjang selutut dan berjalan di tengah hujan tanpa mengenakan alas kaki dan yang satunya lagi rambutnya tidak terlalu panjang dan disampingnya ada tengkorak dengan kapak raksasa ditangannya. Semua anggota 12 Dewan Sihir yang ada disana sudah bisa menduga bahwa salah satu dari wanita itu pasti Yukari.
"Saat di perempatan jalan mereka berdua berpisah, salah satu dari mereka berjalan menuju arah sekolah dan yang satunya lagi menuju bukit surga" Ucap salah satu warga yang lain.
"Bukit Surga?!" Lui terkejut.
"Ini gila…" Ucap Gumi yang sedang meneliti sampel hujan merah yang ada diluar.
"Ada apa Gumi?" Tanya Maika yang menghampirinya.
"Hujan ini…berasal…dari darah manusia…" Jawab Gumi. Semua warga yang mendengar pun berteriak histeris. Mungkinkah mereka membunuh massal warga di tempat lain? Seperti ini kah bentuk balas dendam mereka?
"7 Warlords memang tidak bisa dibiarkan…" Ketua datang menghampiri Gumi.
Tidak lama kemudian 3 lingkaran sihir teleportasi muncul di tengah-tengah ruangan.
"Kalian kembali lebih cepat rupanya…" Lui melirik orang-orang yang muncul dari lingkaran sihir tersebut.
"Oliver, Luo, Ring"
"Aku tidak bisa diam saja ketika orang-orang yang memperlakukanku dengan baik berada dalam masalah" Ucap anak laki-laki bernama Oliver.
"Senang bisa melihat kalian lagi" Gakupo menghampiri mereka bertiga. Ketua mendekati Gakupo.
"Gakupo, Kaito, Oliver, Lui…" Panggil Ketua. "Luka, Lily, Maika, Rin, Gumi, Luo, dan Ring"
Kami semua langsung berbaris dihadapan ketua. Semua warga yang ada disana langsung mengarahkan pandangan mereka kepada kami semua.
"Inikah ke 12 Dewan Sihir?"
"Aku baru pertama kali melihat mereka berkumpul semua"
"Apa mereka bisa menghentika terror 7 Warlords?"
"Semoga mereka bisa mengalahkan 7 Panglima Perang terkutuk itu"
Suara orang-orang pun terdengar jelas di telinga kami semua. Mereka semua menaruh harapan besar pada kami semua.
"Jangan khawatir, kita akan menang" Ucap Ketua sambil membuka topengnya walaupun tidak sampai seluruh wajahnya terlihat. Tiba-tiba Luo mengangkat tangannya.
"Ketua ada yang ingin aku sampaikan. Sebelum aku sampai ke tepat ini, aku melihat puluhan bahkan ratusan jasad manusia berterbangan dilangit" Ucap Luo. Sontak para warga pun semakin ketakutan.
"Aku juga melihat Yukari bersama seorang wanita dengan gaun pendek berwarna oranye pergi ke arah Bukit Surga" Sambung Ring.
"Itu Miku!" Kataku.
Ketua menghela napas panjang dan meminta Luo untuk mengirimkan semua warga yang ada disana kedalam dunia cermin, dengan begitu mereka bisa terlindungi. Luo pun mengerti.
"Spiegelwelt"
Semua warga pun masuk kedalam dunia cermin milik Luo. Luo pun memperluas jangkauan sihirnya sampai mencapai batasnya.
"Aku sudah memasukkan warga dari berbagai tempat kedalam duniaku, tapi aku tak bisa menjangkau mereka yang berada sangat jauh dari sini" Ucapnya.
"Itu lebih baik, dari pada tidak ada yang bisa di selamatkan" Ucap Lui.
"Akan lebih baik jika tak ada korban" Ketua membalikkan badannya dan kembali memasang topengnya dengan benar.
"Sepertinya aku pernah melihat seorang laki-laki yang mirip denganmu" Oliver mendekati Rin. "Dia berdiri di atas menara di tengah hutan dan melihat ke arah sekolah dan kemudian menghilang" Lanjut Oliver.
"Itu memang kakaknya, dan sepertinya dia diculik" Maika mengelus kepala Rin.
"Kalau diculik, mungkin benar. Tapi…aku merasakan hal yang aneh padanya" Ucap Oliver lagi.
Kami semua langsung pergi ke atas menara sekolah untuk melihat apa yang terjadi di luar. Hujan darah memang sudah berhenti, tapi racunnya masih tersisa. Tak lama kemudian kami semua melihat banyak lingkaran sihir di atas langit bukit Surga. Mulai dari ukuran yang terkecil sampai yang terbesar. Cahaya yang besarpun jatuh tepat di atas bukit Surga. Lama kelamaan cahaya itu pun bercampur dengan cahaya berwana hitam.
"A-apa itu…" Luka terkejut. Begitu juga dengan kami. Cahaya itu pun menghilang, tapi setelah itu muncul aurora berwana hitam di atas langit bukit Surga. Aura membunuh yang amat kuat pun terasa oleh kami semua. Aura membunuh itu benar-benar membuatku gemetar. Ntah kenapa rasanya sangat menakutkan.
"Ketua…" Panggil Gakupo dengan wajah yang penuh keringat dingin.
"Monster…" Ucap Ketua. Kami semua terdiam.
"Apakah makhluk panggilan Yukari?" Tanya Gumi.
"Bukan…ini aura membunuh dari satu orang…" Jawab Ring yang terlihat ketakutan.
"Satu orang?!" Gakupo terkejut.
Jika satu orang saja aura membunuhnya terasa seperti ini, bagaimana jika mereka semua mengeluarkan aura membunuhnya secara bersamaan? Aku benar-benar penasaran siapa yang memiliki aura mengerikan seperti ini? Mungkinkah dia memiliki dendam yang paling besar diantara 6 Warlord lainnya? Miku…tunggu aku…aku pasti akan menyelamatkanmu…
"Tidak ada pilihan lain, buang rasa takut kalian! Kita serang mereka sekarang juga!" Ucap Ketua dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Kami semua pun langsung menuju bukit Surga dengan teleportasi milik Maika.
Saat sampai di sungai dekat bukit Surga, aura membunuh pun semakin terasa kuat. Tidak lama kemudian seseorang datang.
"Selamat datang di pintu kematian, para 12 Dewan Sihir yang terhormat" Ucap seorang wanita berambut biru. Tanpa pikir panjang Maika pun langsung memanggil para pelayannya, mereka pun langsung menyerang wanita itu tanpa henti.
"Menjijikan.." Wanita itu mengibaskan tangan kirinya, dan seketika semua pelayan milik Maika pun terkurung dalam benda yang mirip dengan es.
"K-kau…" Maika kesal.
"Pengguna sihir es…" Ucapku.
"Sayang sekali, aku bukan pengguna sihir es. Aku Aoki Lapis, pengguna sihir Kristal" Balasnya dengan ekspresi kesal.
"Pengguna sihir langka…" Ucap Ketua.
"Pulang lah, dan nikmati sisa hidup kalian…" Ucap wanita kristal itu. "Pintu Leiden akan segera terbuka" Lanjutnya. Dia pun menghilang. Dengan segera kami pun berpencar dan mengejarnya. Aku pergi bersama Rin, Gakupo bersama Luka, Gumi bersama Oliver, Maika bersama Lui, Lily bersama Ring, dan Luo bersama Ketua.
Saat sampai di bukit Surga, aku dan Rin melihat 7 Warlords tapi yang kami lihat hanya 5, diantaranya ada Yukari, Pico, Iroha, dan wanita yang tadi Aoki, juga satu orang lainnya wanita dengan rambut panjang selutut tanpa alas kaki.
"Kalian siapa?" Tanya seseorang. Aku dan Rin pun membalikkan badan dan melihat seorang anak kecil.
"M-m-mo-moeeeee!" Teriakku dalam hati ketika melihat gadis kecil itu.
"Apakah kalian musuh Ai?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang manis. Kami pun hanya diam dan tidak menunjukkan respon apapun. "Kalau bukan musuh, Ai harus pergi" Anak kecil itu pun berlari menuju ke-5 orang yang ada disana.
Dimana Miku…aku benar-benar sangat mengkhawatirkannya, bagaimana kalau mereka…membu—tidak! Aku tidak boleh berpikiran seperti itu.
"Enyahlah kalian semua!" Teriak seseorang yang sangat ku kenal, Gakupo. "Menarilah Masamune!" Angin pun berhembus kencang, bahkan bentuk anginpun sampai terlihat seperti pisau. Ke-6 anggota 7 Warlords pun tersayat serangan Masamune milik Gakupo.
"Ledakkan mereka wahai para periku" Lily memanggil peri nya. Dan lalu mengenai mereka semua.
Bagus! Kalau seperti ini mereka pasti bisa dikalahkan dengan mudah!
"Hapuskan rasa sedih mereka, sinarilah kegelapan hati mereka…Holy Word" Luka menggunakan sihir cahayanya.
Mereka ber-6 pun terjatuh ke tanah. Mungkinkah kita berhasil? Aku dan anggota yang lainnya pun segera menghampiri Gakupo.
"Ugh…" Salah satu dari mereka mencoba bangkit.
"Dimana Miku?!" Tanyaku sambil mencengram bahunya. Dia hanya tersenyum. "DIMANA MIKU?!" Aku pun semakin mencengram bahu wanita itu dengan kuat. Tiba-tiba sebuah pedang melesat tepat ke arah ku tapi Gakupo segera menangkisnya.
Kemudian muncul seorang wanita dengan gaun berwarna hitam dengan mata berwarna merah.
"G-gaun itu…aku mengenal gaun itu" Aku menatap wanita bergaun hitam itu.
"Miku…"
Makasih banyak yang udah baca sampai disini :3
Chapter 8 masih dalam proses .. mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung kokoro kalian X'D maaf juga kalau sampai saat ini ceritanya masih nggak menarik :'3
Nyawn, sampai bertemu di chapter 8 XD
