Chapter 8 hadir XD

Semoga suka :3

.

.

.

.


"Miku…"

"Zatsune apa persiapanmu sudah selesai?" Teriak Pico yang mencoba bangkit.

"Zatsune?" Aku masih menatap wanita yang mirip dengan Miku itu.

"Hatsune Miku memanglah milikmu, tapi Zatsune Miku adalah milik kami" Ucap Wanita yang langsung melepaskan cengkramanku.

"Apa maksudmu?" Tanyaku.

"Sejak awal Hatsune Miku itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah Zatsune Miku" Jawab Pico sambil tersenyum.

Wanita yang mereka panggil Zatsune itu pun hanya menatapku dengan pandangan yang dingin. Rasanya memang bukan seperti Miku, tapi aku yakin dia adalah Miku. Gaunnya…gaun yang dia pakai adalah gaun yang aku belikan saat kami berkencan.

"Kami tidak akan membiarkanmu membuka pintu Leiden!" Oliver langsung menyerang Zatsune dengan kemampuan petir miliknya.

"Sampah.." Ucapnya. Oliver langsung terhempas begitu saja.

Tidak lama kemudian luka dari ke-6 orang yang tadi Gakupo serang pun langsung pulih. Mereka ber-6 pun langsung berdiri disamping Zatsune.

"Aura membunuh yang kita rasakan tadi berasal dari wanita bergaun hitam itu" Ucap Ring.

"Miku!" Aku memanggilnya sambil berteriak. Dia hanya diam dan menatapku dengan dingin. Bagaimana pun dia adalah Miku. Aku yakin dan sangat yakin akan hal itu.

Tanpa kami sadari, Ketua sudah ada dibelakang Zatsune Miku sambil mencengram lehernya dari belakang.

"Necromancer" Ucap Ketua. Miku terlihat terkejut.

"Dari mana kau pelajari kata itu" Ucap Miku. Semua anggota 7 Warlords dan 12 Dewan Sihir pun terkejut. Ketika Iroha akan menyerang Ketua, Ketua langsung mengancam jika ada salah satu dari mereka yang bergerak, maka Ketua akan langsung memutus kepala Miku dan tubuhnya. Tak ada satupun dari mereka yang bergerak.

"Dimana Len, pemilik sihir api terkutuk?" Tanya Ketua. Miku hanya diam.

"Kembalikan kakakku" Rin maju dan mengarahkan tongkatnya pada wajah Miku. "Kau bukan Miku yang aku kenal! Kembalikan kakakku"

"Zatsune…" Pico khawatir.

Tidak lama kemudian lingkaran sihir muncul dibawah kaki Miku. Ketua dan Rin yang terlambat menyadarinya pun langsung terkena serangan cahaya yang terlihat seperti pelangi itu. Tak lama setelah itu ke-6 orang lainnya langsung berpencar dan menyerang balik kami. Sedangkan Miku hanya diam dan memperhatikan.

"Excalibur…" Aku pun menahan serangan Pico.

"Sungguh tidak adil, 7 melawan 12" Cetus Iroha. Yukari pun langsung menggunakan sihir pemanggilnya, dan makhluk tengkorak pun muncul dan langsung melesat menyerang Lily. Rin yang terlihat hanya sedikit terluka pun langsung bergegas menghampiri Maika yang di serang dua orang sekaligus.

"Api Suci, sucikan jiwa mereka!" Api suci pun langsung mengarah pada wanita bernama Aoki dan gadis kecil bernama Ai.

"Lawanmu bukanlah mereka…" Ucap Miku pada Rin.

"Steigen"

Seseorang dengan jubah hitam pun muncul disamping Miku. Kemudian dia membuka jubahnya…

"LEN!" Panggil Rin. Tapi Len hanya diam.

"Kau siapa?" Tanya Len. Rin terdiam. Sepertinya apa yang dikatakan Oliver memang benar. Ada yang tidak beres dengan Len, dia seperti dikendalikan.

"Bunuh dia" Miku memberi perintah pada Len.

"Dengan senang hati, Yang Mulia" Len langsung mengeluarkan api kutukannya yang berwarna hitam.

"Y-Yang Mulia?" Rin terdiam. Pelayan Maika segera melindungi Rin.

"Orang itu! Orang itu lah yang membunuh klienku. Orang yang pernah aku ceritakan padamu, Kaito!" Teriak Maika yang sedang menahan berbagai serangan Iroha dan Ai.

"Kalau begitu, Len adalah…pelayan Miku?!" Kataku. Maika menganggukan kepalanya.

"Berhati-hatilah! Dia seorang Necromancer! Dia bisa membangkitkan orang-orang yang sudah mati!" Ucap Ketua yang topengnya mulai retak.

"Kau sunggu pintar, Dell Hon—" Ketika Miku mengatakan nama seseorang, Ketua langsung melesat dengan cepat sambil mengarahkan pedang yang terbuat dari cahaya ke leher Miku.

"Ku bunuh kau!" Ketua menebaskan pedangnya pada Miku, tapi wanita berambut panjang yang tak mengenakan alas kaki langsung menghilang dari hadapan Gumi dan tiba-tiba ada dihadapan Miku. Serangan ketua pun mengenai wanita itu.

"SeeU!" Teriak Pico. Miku segera menyentuh bagian luka wanita bernama SeeU itu dan dengan cepatnya luka itu menghilang.

Aku mendekati Luo dan bertanya apakah dia bisa mengirimku dan juga Miku kedalam dunia cermin miliknya. Aku ingin bicara dengan Miku. Aku ingin bertanya apakah dia sedang di kendalikan atau tidak. Aku ingin menghentikannya tanpa harus melukainya. Luo pun menjawab…

"Beri aku waktu untuk membuat dunia yang baru, berbahaya jika aku mengirim kalian berdua ke dunia dimana para warga ada di dalamnya"

Luo pun langsung menjaga jarak dari lawannya, Yukari. Aku pun langsung menangani Yukari dan Pico sekaligus.

"Aku akan membalas kematian Haku" Aku mengarahkan Excalibur pada mereka berdua.

"Kalau begitu kami akan membalas kematian keluarga kami" Tulis Yukari. Pico tersenyum.

Sementara itu, Rin dan Len saling berhadapan. Rin hanya terdiam dan berteriak tidak ingin melawan Len, tidak ingin melukai Len. Len yang sepertinya sudah dicuci otaknya itu pun hanya memasang wajah tanpa ekspresi, api hitam pun mengelilingi mereka berdua.

Rin tidak mau bertarung melawan Len, Lily berusaha sekuat tenaga melawan Zellaby pelayan Yukari, Maika mati-matian melawan Iroha dan Ai, Ketua melawan wanita bernama SeeU, Oliver kembali dan langsung membantu Maika, Gumi pun langsung bergegas membantuku yang harus melawan Yukari dan Pico, Ring bertarung dengan Aoki sang pemilik sihir langka, Gakupo berlari menolong Rin yang sama sekali tidak melakukan apa-apa saat diserang Len, Luka melindungi Luo yang sedang membuat dunia cermin baru dengan sihirnya. Yang mengesalkan bagi kami, 12 Dewan Sihir adalah ketika kami menyerang dan berhasil melukai mereka, dengan cepatnya luka mereka pulih. Kami terlalu sibuk menghadapi lawan yang ada di depan mata sampai lupa untuk mengawasi Miku.

"Dunkelheit Schmerz…"

Tiba-tiba semua anggota 7 Warlords yang sedang bertempur pun langsung menjaga jarak dengan kami.

"Leiden Liebe Zerstoren…"

"MENGHINDAR!" Teriak ketua.

"Xixixi, percuma! Pintu Leiden akan terbuka" Ucap Iroha.

"Capture Hass"

Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. Kemudian sebuah pintu muncul di hadapan kami, inikah pintu Leiden? Lalu kami mendengar jeritan manusia yang ntah darimana asalnya. Dan itu membuat konsentrasi kami berantakan.

"Jangan…" Gumi jatuh terduduk sambil berlinangan air mata.

"Gebroch—"

Sebelum Miku sempat menyelesaikan mantra pembuka pintu Leiden, Luo berhasil memindahkan Miku kedalam dunianya.

"KAITO!" Teriak Luo. Aku pun menganggukan kepala tanda aku siap masuk kedalam dunianya. Lingkaran sihir milik Luo pun menarikku kedalamnya.


"W-Whaaaaaaaa" Aku jatuh dari langit dan menghantam tanah. "S-sial" Aku bangkit dan membuka mataku. "Miku!" Panggilku.

"Tempat apa ini.." Miku mengeluarkan puluhan bahkan ratusan pedang yang dia arahkan ke sembarang arah.

"Percuma saja, kau tak akan bisa keluar dari sini" Kataku yang berjalan menuju Miku. Dia pun membalikkan badannya dan menatap padaku. Aku berjalan mendekat pada Miku.

"Apa yang kau inginkan?" Miku mengarahkan kira-kira 20 pedang ke arahku.

"Aku menginginkanmu" Jawabku sambil menebas pedang-pedang yang datang ke arahku.

"Jangan bercanda" Miku berkata seolah-olah dia tidak mengenalku sama sekali.

"Apa kau tidak mengingatku?" Aku berhasil mendekati Miku.

". . ." Miku sempat terdiam dan lalu berkata "12 Dewan Sihir". Aku pun tersenyum dan menyentuh pipinya tapi dengan segera dia menyingkirkan tanganku lalu menjauh.

Dia terus menyerangku dengan berbagai sihir yang asing bagiku. Apa ini yang namanya sihir terlarang? Aku terus bertahan walau ada beberapa sihir yang mengenaiku.

"Meteor Doom"

Tiba-tiba langit berubah menjadi oranye kemerah-merahan. Kemudian meteor mulai muncul dan menghujani dunia milik Luo itu. Kalau di ingat-ingat, Meteor ini sangat mirip dengan yang aku dan Gakupo lihat waktu itu. Meteor yang mempertemukan aku dan Gakupo dengan Yukari.

"Patron"

Aku menggunakan pelindung suci, Meteor itu pun tak bisa mengenaiku. Miku terlihat kesal. Aku pun segera maju dengan kekuatan penuh.

"Blitz Puni—"

Aku berhasil meraih tubuh Miku sebelum dia menyelesaikan mantra sihirnya.

"Apa yang kau lakukan! Menjijikan! Lepaskan aku!" Ucapnya.

"Fisikmu tak sekuat sihirmu" Balasku yang memeluknya. Miku semakin kesal.

"Lepaskan aku atau aku akan menghancurkan jantung mu!" Miku menanamkan lingkaran sihir berbentuk bintang pada dada bagian kiriku. Aku pun langsung mengarahkan Excalibur ke punggung bagian kiri Miku.

"Kalau begitu, aku akan menusuk jantung mu" Balasku. Miku terdiam dan menatapku dengan ekspresi marah.

"Kaito? Kaito apa kau dapat mendengarku?"

Suara Luo.

"Aku mendengarmu Luo!"

"Aku tidak punya banyak waktu, jadi dengarkan aku. Dia bukan Hatsune Miku yang kau kenal. Sejak awal dia adalah Zatsune Miku. Keturunan penyihir terkuat desa Meteor. Dia menyamar sebagai Hatsune Miku untuk mendapatkan informasi mengenai 12 Dewan Sihir darimu"

"Benarkah itu?" Aku bertanya pada Miku. Miku hanya terdiam tanpa berkata sepatah katapun.

"Salah satu dari 7 Warlords telah menghapus ingatannya sebagai Hatsune Miku! Karena itu lah dia tak akan mengingatmu"

"K-Kenapa?!"

"Karena Miku jatuh cinta sungguhan padamu!"

"Kalau begitu kita minta saja orang itu untuk mengembalikan ingatannya" Balasku pada Luo.

"Itu mustahil! Lily mengamuk dan membunuhnya"

"Kalau begitu aku akan berusaha membuatnya ingat"

"Aku percayakan padamu. Sadarkan dia. Selama dia berada disana, dia tak akan bisa membuka pintu Leiden! Oh iya satu lagi, Yukari berada di pihak kita"

"Apa?!" Aku terkejut. "Luo apa yang terjadi disana? Luo?" Luo tidak menjawab.

"Penghianat!" Ucap Miku yang mencoba melepaskan pelukanku sekuat tenaga.

"Weg von mir"

Aku langsung terhempas cukup jauh. Miku mengangkat tangannya dan semacam bola api berwarna hitampun berkumpul diatas tangannya. Saat aku melihat ke langit, aku melihat tulisan dari awan.

"Bunuh Miku dan Pintu Leiden akan menghilang"


Makasih yang udah mau baca sampe sini :D
Chapter 9 segera menyusul :3