Chapter 10 selesai X'D

Untuk siapapun yang udah baca sampai sini makasih banyak yaa...

Yosh...Hajimeru yo...

.

.

.

.


"Omnia Magna Stella Rex Prae"

"Kata-kata itu…" Ketua terkejut.

"HENTIKAN ZATSUNE!" Teriak Meiko yang terlihat ketakutan.

"Zatsune, sudah cukup. Hentikan semua ini" Tulis Yukari.

Miku tidak mendengarkan kata-kata dari Yukari maupun Meiko dan Ketua.

Pemandangan langit saat ini sangat mengerikan. Langit seakan-akan terbelah menjadi dua sehingga kami bisa melihat ribuan bahkan jutaan bintang dengan jelas. Seluruh planet berhenti berotasi. Perlahan tapi pasti, ratusan, ribuan, bahkan jutaan meteor jatuh dan menghujani seluruh penjuru bumi. Ledakan demi ledakan pun tak dapat di hindari. Kami yang terlindungi oleh sihir ketua pun hanya dapat menyaksikan betapa mengerikannya sihir Miku. Sejauh mata memandang kami hanya melihat ledakan demi ledakan. Yang ada dipikiran kami saat ini adalah bagaimana nasib mereka, orang-orang yang berada sangat jauh dari kami semua. Rin menangis histeris saat meteor melesat menuju tempat pemakaman pahlawan, tempat dimana Haku dimakamkan.

"HAKU-NEE!" Rin berteriak.

Sudah cukup! Aku benar-benar sudah tidak tahan. Jika membunuh Miku adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kedamaian. Aku akan Melakukannya.

"K-Kaito?" Panggil Ring.

"Aku…akan membunuh Miku"

"Apa?!" Luka terkejut.

"Apa kau sanggup melakukannya?" Tanya Ring.

"Aku harus sanggup…" Jawabku. "Ayo maju Excalibur…" Excalibur merespon dengan cara menambah cahayanya. Aku pun terbang ke arah Miku dan langsung menyerangnya dengan Holy Explosion. Miku mencoba menahannya dengan senjatanya, dan saat itu lah aku langsung menyerangnnya secara fisik dari belakang. Melukainya dengan cara seperti ini, sejujurnya membuat hatiku sakit. Aku tidak pernah mau melukai orang yang aku cintai, terlebih lagi dia adalah pacarku. Saat Miku berbalik, aku pun langsung memeluknya.

"Apa yang kau lakukan!" Miku melawan sekuat tenaga untuk lepas dari pelukanku.

Dugh…aku pun sengaja membenturkan kepalaku pada kepala Miku.

"Kepalaku sakit…" Miku menjatuhkan senjatanya. Aku mencium kening Miku. "Apa yang ka—"

Aku langsung mengunci bibir Miku. Aku menciumnya. Mungkin…ini adalah ciuman kami yang terakhir.

"Apa yang kau lakukan?! Apa kau menciumi semua mu—kepalaku sakit…" Ucapnya sambil menatap mataku.

"Apa kau benar-benar sudah melupakanku?" Tanyaku. "Apa kau benar-benar sudah melupakan semua kenangan tentang kita?" Aku membelai pipinya.

"Apa maksudmu?" Miku menatapku dengan pandangan sedih.

"Aku mencintaimu…Miku…" Miku terdiam. "Aku mencintaimu…apapun yang terjadi perasaan cintaku tidak akan pernah berubah"

"HENTIKAN!"

"Miku?"

"Setiap kau berkata soal cinta, kepalaku terasa sakit, dadaku terasa sesak, hentikan…lepaskan aku…" Ucapnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.

"Aku tidak akan melakukannya…Hatsune Miku…" Balasku sambil menatap matanya, Miku berulang kali mengalihkan pandangannya seolah-olah menghindari kontak mata denganku. Dia terus berkata sakit, sakit, sakit, dan sakit. Meskipun dia terlihat kesakitan, tapi sihir meteornya masih belum berhenti. Miku pun terdiam dalam sakitnya.

"KAITO! INI ADALAH SAATNYA! KAU HARUS MEMBUNUH MIKU!" Teriak Gumi.

Benar, mungkin ini adalah saat yang tepat. Miku terlihat sedang tidak berdaya. Ini adalah saat yang tepat…

"Sayonara…Miku…"

"Kaito…"

JLEB…Ingatan Miku kembali beberapa detik sebelum Excalibur menembus perutnya. Aku telat menyadarinya sehingga Excalibur terlanjur melukainya. Aku pun langsung membawa Miku turun ke tanah. Sihir meteor pun mulai menghilang.

"Ka…ito?" Panggil Miku dengan lirih.

"Miku…kau mengingatku" Kataku dengan sedikit panik karena darah terus mengalir keluar dari tubuh Miku.

"Hm…Kaito…pria yang selalu aku cintai" Balas Miku sambil tersenyum. Lalu Miku melihat ke sekelilingnya dan kemudian kembali meneteskan air mata. "Aku kah yang sudah melakukannya?" Tanyanya. Aku tidak menjawab. "Aku benar-benar iblis ya.."

"Miku…" Aku membelai pipinya dan menghapus air matanya. Teman-temanku pun langsung datang menghampiriku dan juga Miku.

"Tuan Dell apa aku akan dihukum atas apa yang sudah aku perbuat?" Tanya Miku pada Ketua.

"Mengingat kejadian yang telah menimpa desamu, kau mungkin hanya akan menerima setengah hukuman" Jawab Ketua.

"Pintu Leiden…masih ada…" Ucap Miku yang melihat ke arah pintu Leiden. Yukari langsung berlari dan menggenggam tangan Miku.

"Miku.." Ucap Yukari tanpa suara.

"Yukari…gom..enna..sai…" Miku mengusap pipi Yukari.

"Aku akan menghentikan pendarahannya" Ucap Luka, akan tetapi tiba-tiba Miku memaksakan diri untuk bangkit. Miku berkata bahwa dia tidak pantas di tolong mengingat apa yang sudah dia lakukan. Miku mencoba berjalan menuju pintu Leiden.

"Aku sempat berniat ingin membunuh seluruh umat manusia yang ada dimuka bumi ini. Tapi saat aku bertemu dengan Kaito, sedikit demi sedikit niatku mulai pudar. Aku mulai menyadari bahwa setiap manusia memiliki sisi baiknya masing-masing. Selain itu semua orang yang ingin aku bunuh, semuanya sudah mati. Saat aku mulai jatuh cinta padamu, teman-temanku mulai khawatir. Khawatir jika tujuan kami tidak akan tercapai. Karena itulah Ai menghapus ingatanku tentang Kaito dan teman-temannya. Yang tersisa hanyalah ingatanku tentang balas dendam. Aoki berkata tak apa jika orang yang ingin kami bunuh sudah tidak, tapi keturunan mereka masih ada. Itulah kenapa kami tetap ingin membuka pintu Leiden.." Ucap Miku.

"Miku…" Aku berdiri dan melihat ke arahnya yang sedang berdiri disamping pintu Leiden.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ring.

"Jangan bilang kau masih ingin membuka pintu Leiden" Teriak Rin.

"Iya.." Jawabnya sambil tersenyum. Semuanya pun langsung bersiap menyerang jika Miku mengucapkan mantra pembuka pintu Leiden lagi. Kemudian Miku mengulurkan tangannya padaku. Aku pun langsung berlari dan menggenggam tangannya.

"Saat pintunya kembali tertutup. Segera hancurkan pintunya" Bisik Miku. Aku tidak tau apa yang dia rencanakan, tapi…aku akan menghancurkannya. Miku pun melepas genggaman tangan kami.

"Tubuhku…bertahanlah…" Ucapnya sambil menyentuh bagian yang terluka.

"Leiden Schmerzen Finsternis zu zerstoren sie alle immortalisierten Liebe, Gluck, Zum Schutz der Unschuldigen"

"Mantranya terdengar sangat asing…" Ucap Gakupo.

"Itu mantra penghapus penderitaan…" Sahut Meiko. "Mantra sebenarnya dari pintu Leiden" Lanjutnya.

"Mantra sebenarnya? Apa maksudmu?" Tanya Luka.

"Sejak awal pintu Leiden diciptakan untuk menghapus penderitaan umat manusia" Jawab Ketua.

"offnete die Tur Radiergummi Leiden. . ."

Angin pun berhembus sangat lebut. Pintu Leiden mulai terbuka perlahan. Langit kembali cerah. Miku pun tersenyum padaku dan langsung terjatuh ke tanah. Dan saat aku akan menghampirinya…Pintu Leiden…Terbuka…

Cahaya yang teramat terang keluar dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tak ada yang bisa terlihat kecuali cahaya yang amat menyilaukan itu. Karena terlalu menyilaukan, kami pun menutup mata kami. Cahaya itu pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, seiring dengan pintu Leiden yang mulai menutup. Saat kami kembali membuka mata, bukit Surga yang tadinya sudah sangat hancur kembali seperti semula. Begitupun dengan berbagai tempat lainnya.

"Kaito…sekarang!" Teriak Miku. Aku pun langsung menebaskan Excalibur ke arah pintu Leiden.

"Excalibur!"

Pintu Leiden pun terbelah dua dan kemudian hancur tak bersisa.

"Hancur…" Ucap Gumi yang masih terkejut.

"Apa sudah berakhir?" Ucap Oliver yang baru bangun.

"Hm…" Meiko menganggukan kepalanya.

Apakah aku berhasil…menghancurkan pintu Leiden secara permanen?

"Miku!" Aku langsung menghampiri Miku.

"Ka..ito? apa pintunya sudah hancur? Ugh.." Tanya Miku.

"Sudah…sudah hancur Miku.." Jawabku yang langsung memeluknya.

"Dingin…" Ucapnya. Aku langsung memeluknya lebih erat lagi.

"Sudah hangat?" Tanyaku.

"Apa kau se..dang memeluk..ku?" Miku balik bertanya.

"Hm.."

"Maafkan aku…hiks…aku…tidak bi..sa merasakan apa-apa..aku juga…ti..dak bisa mel..ihat mu.." Ucapnya sambil menangis.

"Miku.." Aku membelai rambutnya yang berwarna hitam itu.

"Yukari, Len, Kaito, semuanya…maafkan aku"

"Aku sudah memaafkanmu" Ucap Len. Yukari langsung menggenggam tangan Miku sambil menangis.

"Tuanku juga meminta maaf pada anda, Nona Zatsune" Ucap Zellaby mewakili Yukari.

"Kami semua juga minta maaf dan kami semua juga memaafkanmu" Ucap Ketua. Miku pun tersenyum dan berterimakasih.

"K..kai..to" Panggilnya.

"Ada apa Miku?" Tanyaku.

"Cium aku…"

Aku pun menuruti keinginannya. Aku menciumnya walaupun tau mungkin dia tak akan bisa merasakannya.

"Arigato…" Ucapnya. Aku tidak bisa menahan air mataku. "Aku..ingin lebih lama bersamamu..selamanya ingin bersamamu..Kaito.."

"Aku juga, selalu ingin bersamamu…selamanya Miku!" Miku mencoba meraba wajahku walaupun dia tau jika dia tak akan merasakannya.

"Nee…Kaito.."

"Hm?"

"Aku..mencintai..mu.."

Miku tersenyum sambil membelai pipiku. Tapi itu tak berlangsung lama…tangan Miku kemudian jatuh. Yukari yang menggenggam tangannya yang satunya lagi pun terlihat shock. Tubuh Miku yang berada dalam pelukanku pun mulai dingin.

"Miku! Miku! Miku!" Aku mencoba memanggilnya. Tapi dia tak meresponku sama sekali.

"Kaito…" Rin menyentuh bahu ku.

Aku pun terdiam tapi air mataku tak bisa ikut diam. Mereka terus mengalir ke pipiku dan jatuh ke wajah Miku. Hatiku hancur…rasanya seperti tidak punya alasan untuk hidup lagi…Sekarang...

"Aku sudah tidak bisa mendengar suaramu…"

"Aku sudah tidak bisa bermain bersamamu…"

"Aku sudah tidak bisa berkencan denganmu…"

"Aku sudah tidak bisa melindungimu…"

"Aku sudah tidak bisa ada disampingmu…"

"Aku tidak tau apakah aku bisa bertahan tanpamu…"

"Miku…"

Andai aku menyadarinya lebih cepat…menyadari bahwa ingatan Miku telah kembali saat itu…mungkin aku tak akan menusuknya dengan Excalibur…dan mungkin kelanjutannya tidak akan seperti ini…Miku…Maafkan aku…


Chapter 10 selesai disini XD

Last Chapter akan segera menyusul XD

Jaa ne X'D