Rakuzan High School. Sekolah elit yang sudah memiliki nama di Prefektur Kyoto dengan jumlah murid mencapai 500 siswa. Dari sekian ribu calon murid yang mendaftar, hanya mereka yang memiliki prestasi diatas rata-rata atau kekayaan diluar nalar yang bisa masuk kesana. Bahkan tidak sedikit petinggi-petinggi negara menyekolahkan anak mereka kesini. Begitupula dengan Nijimura Shuuzo. Bukan hanya tentang ayahnya yang secara khusus menjadi tangan kanan Duta Besar Jepang, namun karena ketampanan dan prestasinya sebagai murid dengan nilai 10 teratas membawanya menjadi 'the most prince charming'.
Chevrolet Corvette memasuki pelataran parkir sekolah serta merta mengundang tatapan antusias baik siswi maupun siswa yang sama-sama baru memarkirkan mobil mereka. Beberapa gadis berbisik-bisik histeris begitu menyadari siapa pria dibalik kemudi mobil convertible tersebut. Setelah mengunci mobilnya, Nijimura dengan gaya 'walk out like a boss' nya yang disambut tatapan kagum gadis-gadis pemujanya. Sapaan kecil dilayangkan Nijimura sebagai bentuk apresiasi terhadap pujian-pujian orang terhadapnya. Ia memang tak pernah bisa bersikap dingin dan passionless apalagi kepada perempuan. Tapi juga tidak dengan menebarkan rayuan atau senyum tampan kepada sembarang orang.
Sebelum ia bertemu dan mengenal salah satu anak dari partner kerja ayahnya.
Akashi Seira.
Ngomong-ngomong, ia belum bertemu si merah pagi ini.
"Yo! Nijimura!" Pemuda dengan surai pendek kuning kecoklatan menepuk bahu Niji cukup keras. Senyum dibibirnya semakin lebar saja.
"Ada apa, Kotarou? Tidak biasanya. Aku mencium ada yang tidak beres." Sebaliknya dengan Nijimura. Wajahnya berubah serius.
"Santai, bro..tampangmu seperti orang kebelet, tuh"
"Sial-"
Hayama Kotarou, mendeklarasikan diri sebagai tangan kanan Nijimura dan berjanji akan mengabdikan dirinya untuk menjual berita pada Nijimura hanya demi mendapat tempat tinggal sementara di Kyoto.
"Kau ini sangat tidak sabaran. Itu tidak baik untuk hubunganmu dengan keluarga Akashi." Kotarou sok memberi nasihat.
"Apa hubungannya?"
"Tentu saja ada hubungannya. Lagipula sepertinya nona muda Akashi menyukai laki-laki lain. Kau harus cepat bertindak, Nijimura.."
Menyukai laki-laki lain. Kalimat itu seharusnya bukan hal besar yang menjadi ketakutan Nijimura. Akashi Seira masih remaja dan dia seorang perempuan. Hormonnya masih berkembang sehingga hal-hal sepele seperti itu bisa saja terjadi. Nijimura tidak ambil pusing. Untuk apa? Toh, mau dibolak-balik, revisi sana-sini, tetap saja apa yang sudah tertulis tak akan bisa diubah.
Kenyataan bahwa...
"Shuuzo-nii!"
Akashi Seira. Yang sedang berlari kecil menghampiri Nijimura.
"Kemana saja? Tumben tidak bertemu dijalan-"
...akan selalu bergantung padanya.
###¥¥¥¥###
Perpustakaan masih sepi. Kelas baru saja dimulai. Yang datang kesini hanya beberapa siswa yang sedang tidak ada guru atau memang diberi tugas mencari buku untuk bahan belajar.
Miyaji Kiyoshi, duduk dikursi paling pojok berdampingan dengan jendela kaca yang sedikit berembun. Ia menoleh dan mendapati hujan mulai turun cukup deras. Ditemani sekaleng minuman bersoda, ia menyibak lembar demi lembar 'Kinshu: Autumn Brocade (1982)' karya sastrawan kontemporer Jepang, Teru Miyamoto. Menyelami perjumpaan klise tokoh Aki dan Yasuaki pasca perceraian membawanya sedikit larut dalam nuansa romansa yang tidak picisan. Sejujurnya, ini terlalu cheesy untuk seorang Kiyoshi yang kebetulan lebih tertarik pada kisah detektif -kepala telur dengan kumis berminyak (baca: Hercule Poirot) atau Holmes yang doyan mencari petunjuk sambil merangkak.
Meneguk soda yang tinggal tersisa sedikit di kalengnya, Kiyoshi mulai menguap. Bosan. Apa pustakawan belum menyediakan bacaan baru? Bukan maksud mengatakan novel ini bikin ngantuk, tapi Kiyoshi mudah terbawa ke alam bawah sadar jika dibawa mengkhayal ke kehidupan yang dramatis dan penuh tragedi.
"Permisi..apa benar kau, Miyaji-san?" Suara ini hampir saja teredam ranai hujan jika Kiyoshi tidak fokus. Ia mendongak dan mendapati seorang gadis jangkung dengan surai kelabu sedang menatap dingin padanya.
"...itu aku. Ada apa?" Kiyoshi berusaha menemukan suaranya yang sempat ditenggelamkan keheningan.
"Tasku- tertinggal di klub. Pintunya terkunci dan aku tidak bisa masuk kelas tanpa itu," ucapnya datar hampir tak ada intonasi. Kiyoshi sampai bingung membedakan antara orang memohon dengan pembaca berita.
"kau bawa kuncinya, kan?"
"Tentu. Baiklah, ayo kita kesana. Tunggu sebentar,"
Kaleng soda masuk tong sampah, isinya tinggal seperenam. Diminum pun hanya sampai di lidah. Novel ditutup dan diselipkan rapi di rak tempatnya berasal. Kursi didorong agar sejajar dengan deretannya dan..selesai. Kiyoshi selalu meninggalkan semuanya dengan rapi. Perpustakaan.. bisa dibilang cinta pertamanya di sekolah elit ini. Dengan buku melimpah, ia bebas memanjakan mata dan mengistirahatkan hati serta melatih otak dengan bimbingan setumpuk buku yang mengajarkannya banyak hal.
Kiyoshi diikuti gadis kelabu berjalan beriringan menuju ruang klub bahasa. Disana memang sudah sepi karena kegiatan belajar mengajar. Tentang Kiyoshi yang masih berkeliaran, tak ada guru yang mempermasalahkan selama juara umum masih disandangnya.
"Kau ikut klub bahasa..?" Tanya Kiyoshi diselimuti rasa heran. Pasalnya, ia baru melihat sosok kelabu itu, ya diperpustakaan itu. Bagaimana mungkin jika satu klub tapi ia tak mengingatnya sedikitpun?
"Aku seangkatan denganmu, sepertinya.."
Pintu terbuka! Dua pasang kaki melepas sepatu masing2 dan mulai memasuki ruangan beralas kayu diplitur.
"Tapi aku tidak pernah melihatmu. " rasa penasaran Kiyoshi semakin menjadi. Ia melihat ekspresi gadis di sampingnya, berharap ada progress tapi...nihil.
Ia seperti kesulitan merepresentasikan apa yang dia fikir dan dia rasa.
Tungkai kurusnya berlari kecil menimbulkan suara 'dak duk dak duk' mengundang senyum simpul Kiyoshi.
"Ketemu..?"
Dipelukan gadis itu, tas yang daritadi ia cari.
"Hmm...arigatou."
"Yokatta. Sekarang kita bisa pergi. Ayo-"
Tidak usah menjawab, hanya derap langkah mengikuti Kiyoshi sudah jadi pertanda setuju. Mungkin dia sedang mogok ngomong buat demo uang jajan, atau apalah. Biarkan saja. Ingat, Kiyoshi terlalu apatis untuk memusingkan kenapa dan bagaimana-nya hidup seseorang.
"Kiyoshi-senpai! Disini!"
Suara itu..Kiyoshi mendapati sesosok tubuh mungil nan rapuh melambaikan tangan ke arahnya. Senyumnya mengembang indah seperti sayap kupu-kupu. Rema merah mengawai halus tertiup angin.
Tapi Kiyoshi mengurungkan langkahnya. Gadis itu tak sendiri. Pria jangkung bersurai hitam mengintimidasinya dilangkah pertama. Tidak berniat cari masalah, Kiyoshi hanya melempar senyum pada Seira yang tampak bahagia berjumpa dengannya.
"Apa kau mengenal gadis itu?" Si Kelabu bertanya, masih mempertahankan emosi wajahnya yang samar senada pasir pantai.
"Siapa yang tidak kenal Akashi? Sekedar tahu, sih. Tidak lebih."
"Tapi sepertinya dia menyukaimu, Miyaji-san.."
Melanjutkan perjalanan, Kiyoshi hanya tersenyum disudut bibir. Ia tak berani atau argumen. Soal menyukai, itu hak orang menilai.
Mengantar sekolah dengan sepeda butut? Itu tidak masuk hitungan untuk dibuat menjadi alasan.
10 menit kemudian..
Berpisah di pertigaan koridor, Kiyoshi berniat kembali pada cinta pertamanya, perpustakaan.
Tapi.. apa itu?
"Nii-san- nii-san dimana? SHUUZO-NII! "
"A-akashi- AKASHI!"
Seira, dengan bingung dan hilang arah, menggapai apa yang ada disekitarnya. Mulutnya meracau tapi di matanya yang ada hanya kekosongan. Kiyoshi berusaha menahan keseimbangan diri tatkala Seira mulai terhuyung-huyung.
"Nii-san..."
"Kenapa begini- Akashi. Dimana laki-laki tadi?" Kiyoshi kalut. Dipapahnya tubuh kecil itu ke tempat aman dan terbuka.
Depan laboratorium. Disana ada kursi panjang dan Seira dipaksa duduk disana.
Matanya menyiratkan ketakutan. Mulutnya masih meracau satu nama.
"Apa kau mencari kakakmu?" Kiyoshi mengusap dahi Seira, menyibakkan poni yang mulai lengket bermandikan peluh. Panas.
"Toilet.."
"Ap-"
"Seira...seira..." gesekan sepatu dengan lantai menghentikan satu pertanyaan Kiyoshi. Pemuda rambut hitam tadi. Nafasnya terengah, mencengkram lutut saking lelahnya berlari. Kemudian duduk disamping Seira dan memeluk gadis itu.
"Daijobu?"
Seira hanya mengangguk. Ia menyentuh lengan pemuda itu, meraba, memastikan yang memeluknya bukan orang lain. Seketika bibirnya mengulas senyum.
"Shuuzo-nii..." lirih. Kiyoshi hanya memasang ekspresi teduh. Entah kenapa, lega melihat Seira tersenyum.
"Maafkan aku, Seira. Aku tidak akan meninggalkanmu seperti tadi."
"Jangan-..jangan lagi, Nii-san.." jemari langkai itu mencengkram lengan yang memeluknya posesif. Meninggalkan raut Kiyoshi yang sulit diartikan.
Masih dalam posisi berpelukan, pria itu membawa Seira berdiri namun seketika tersadar ada orang lain disana. Orang yang sudah menjaga Seira selama dia tidak ada.
"Terima kasih sudah menjaga adikku.."
"Tidak apa-apa. Tadi kami tanpa sengaja bertemu. Apa dia sedang sakit?"
Nijimura mengecup kening Seira, "Begitulah. Dia harus selalu dibawah pengawasanku. Oiya, ngomong2. Aku Nijimura Shuuzo. Kelas 3-A." Uluran tangan bersahabat yang disambut baik.
"Miyaji Kiyoshi. Kelas 3-B."
"Kalau begitu, aku pamit dulu, Miyaji-san. Senang berjumpa denganmu...ayo, Sei.."
"Mpph.." kepala gadis itu seperti sudah di lem super dengan bahu Nijimura, tak mau lepas.
"Aku juga senang berjumpa denganmu, Nijimura-san..." saling membungkukkan badan, keduanya berpisah dengan arah berlawanan.
Kiyoshi termangu. Mencoba bertahan dengan sikap masa bodoh yang menyelamatkannya dari banyak masalah hingga hari ini.
Tapi tidak bisa.
Dua minggu-nya dipenuhi senyum Akashi Seira dipagi hari. Dan hari ini ia menyambut fajar dengan teguran dan kejutan diluar akal dari gadis bersurai merah itu. Dengan sepedanya yang sudah karatan sana-sini, Kiyoshi sudah merasakan bagaimana mengantar anak seorang Diplomat pergi ke sekolah.
Bagaimana caranya untuk tidak peduli..
Ia ingin tahu. Kalau perlu merangkak sampai saluran air untuk mencari petunjuk tentang seorang Akashi.
-terimakasih sudah membaca^^
