Welcome
.
.
Forever
by
GemmaElectra
Disclaimer :
Harry Potter © J.K. Rowling & The Twilight Saga © Stephenie Meyer
Warning :
Typo? OOC? Gaje? "Sorry"
.
.
Happy reading xoxo
"Ada apa Draco?" Edward berdiri dan mendekati Draco.
"Aku butuh bantuanmu" Draco mengatur nafasnya.
"Mmm, sebaikinya kau duduk dulu. Aku akan_" Bella berniat akan ke dapur, tetapi ucapannya sudah di potong oleh Draco.
"Tidak perlu! Maksudku, thank's Bell's tapi tidak perlu. Edward bisakah kau ikut aku ke Inggris?" Draco menatap Edward serius.
"Apa?! Sebenarnya ada apa Draco? Kau tau saat ini aku sedang_" Edward menatap Draco tidak percaya.
"Aku tau kalian sedang berbulan madu tapi aku mohon kau ikut aku sekarang ke Inggris. Nanti aku akan menjelaskan semuanya kepadamu, aku mohon" Draco mengatakannya sungguh-sungguh.
"Baiklah" Edward mengangguk setuju.
"Bella, aku akan ikut Draco ke Inggris sekarang. Aku janji tidak akan lama" Edward mencium bibir Bella singkat.
"Dan Bell's sebaiknya kau mengganti pakaianmu saat aku pergi" Edward memegang tangan Draco dan mereka ber-apparate.
"Ke_kemana mereka pergi?!" Bella hanya membulatkan matanya lebar-lebar karena Edward dan Draco langsung menghilang begitu saja. Sebelum mereka menghilang yang terakhir Bella dengar hanya suara Edward yang berkata "Jaga matamu Drac!".
Draco hanya menyeringai, bagaimana tidak saat Draco datang Edward dan Bella saat itu sedang bermain catur dan saat itu Bella hanya memakai tank top berwarna hitam dan memakai celana short berwarna putih.
Draco dan Edward pun sudah menampakan kembali ke duia kaki mereka kembali di atas tanah.
"Dimana kita?" Edward melihat sekelilingnya semuanya berwarna putih, dia melihat sebuah ranjang dan di atasnya berbaring seorang wanita dan di sebelah ranjang itu terdapat box bayi. Edward berjalan ke ranjang tersebut.
"Di rumah sakit" Draco menjawab singkat dan berjalan ke arah ranjang yang di atasnya sudah berbaring seorang wanita yang sangat ia cintai.
"Dia..?"
"Istriku" Draco duduk di tepi ranjang dan menggengam tangan Hermione erat.
"Dia.. dia sudah pergi. Jadi alasanku meminta bantuanmu adalah.. hidupkan istriku kembali" Draco menatap Edward.
"Apa?! maksudmu kau mau aku mengubahnya menjadi sepertiku?"
"Ya itu satu-satunya cara agar ia hidup kembali"
"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya"
"Kenapa tidak?"
"Apa kau sudah gila, aku tidak bisa melakukannya. Seharusnya kau memanggil Carlisle bukan aku! Maaf Draco aku tidak bisa melakukannya"
"Aku sudah kehilangan pikiranku saat itu, dan tiba-tiba hanya namamu yang terbayang dalam pikiranku. Tolong, aku sangat minta tolong kepadamu sebagi saudara kau ingat"
"Tapi aku tidak bisa melakukannya" Edward menatap Draco tajam.
"Kenapa tidak bisa Diggory?!" Draco bangkit dan mendekati Edward.
"Malfoy!"
Karena suara berisik, suara tangisan bayi pun menggelegar.
"Silencio, kau dengar Diggory ohh maaf maksudku ED-WA-RD. Apakah kau mendengarnya, ha? suara bayi itu?" Draco merampalkan mantra silencio dalam ruangan tersebut dan menunjuk box bayi yang berada Scorpius di dalamnya.
"Apa kau mendengarnya, ha? Dia anakku dan Hermione, Hermione meninggal karena melahirkannya. Bukankah dulu kau menyukai Hermione, sebelum kau dibunuh oleh si kepala botak itu tanpa hidung itu. Dan akhirnya Carlisle menemukanmu dan mengubahmu, kau saja punya kesempatan ke dua untuk hidup kembali. Kenapa dia tidak, orang yang dulu kau sukai dan orang yang sangat aku cintai saat ini!" Draco mencengkram kerah kemeja Edward.
"Malfoy!" Edward mendorong Draco sampai ke dinding.
"Apa?! kau merasa sedih juga kan melihatnya seperti itu. Cobalah mengobrak-abrik pikiranku, aku sangat kasihan kepada Bella ternyata kau masih menyukai Hermione" Draco mendengus.
"Malfoy.." Draco mencengkram kerah kemeja Draco balik.
"Dengar! Sebaiknya kau jaga kata-katamu, kalau tidak aku tidak akan menolongnya" Edward melepaskan cengkraman tangannya dari kerah kemeja Draco.
"Cepat! Selamatkan Hermione sekarang!" Draco mendorong Edward.
Edward berjalan keranjang Hermione, Edward menatap Hermione sejenak. 'Dia bertambah cantik' itulah yang berada dipikirannya. Dia dulu memang sangat menyukai Hermione saat mereka di Hogwarts, dia selama itu berpacaran dengan Cho hanya untuk membuat Hermione cemburu tapi kenyataanya Hermione cuek terhadap dirinya. Dia ingin sekali mengatakan perasaanya kepada Hermione tapi apa daya sebelum mengatakannya maut sudah menjemputnya terlebih dahulu. Saat turnamen triwizard di tugas terakhirnya dia terbunuh oleh Voldemort, sampai saat jasadnya di bawa oleh keluarganya untuk di makamkan di pemakaman muggle, orang tuanya bertemu oleh Carlisle dan memintanya untuk menghidupkannya kembali. Cedric pun berubah menjadi vampire, agar tidak menimbulkan kerusuhan saat itu di dunia sihir dia pun mengikuti Carlisle ke Amerika dan menjadikannya anak angkat, dan merubah namanya menjadi Edward Cullen. Kedua orang tuanya meninggal saat terjadinya perang di dunia sihir saat itu. Cedric atau sekarang bernama Edward bersekolah di Forks bersama saudara-saudaranya Alice, Emmet, Rosalie dan Jasper. Terkadang ia masih memikirkan Hermione dan dunia sihir, dan ia merindukan tongkatnya. Ya semenjak berubah menjadi vampire Edward tidak bisa menggunakan sihir kembali, tetapi ia mempunyai kekuatan khusus saat ini yaitu membaca pikiran. Sampai akhirnya Bella datang menjadi anak baru di sekolahnya, menurutnya Bella seseorang yang unik karena Edward sama sekali tidak bisa menembus pikiran Bella. Bella akhirnya pun tau kalau Edward adalah seorang vampire, mereka berdua semakin dekat dan menjalani sebuah hubungan. Walau terkadang banyak hambatan di depan mereka seperti kehadiran James, Laurent dan Victoria yang mengincar Bella, Volturi yang menginginkan Bella untuk segera diubah menjadi vampire karena sudah mengetahui keberadaan mereka, dan werewolf tentang perbatasan, perjanjian dan semacamnya. Tapi akhirnya mereka pun menikah, tetapi entah mengapa ketika Edward melihat Hermione berbaring tak berdaya di atas ranjangnya membuat hatinya bergetir, dia mencintai Bella.. sangat sangat mencintainya. Tetapi entahlah.
Edward mengelus pipi Hermione dan mulai mendekati wajahnya ke leher Hermione dan mulai mengigitnya. Draco yang melihatnya segera mengalihkan pengelihatannya ke arah lain, dan terus berperang dengan pikirannya. Selain menggigit leher Edward juga mengigit pergelangan tangan dan kaki Hermione. Setelah itu dia memegang ke dua pipi Hermione dan berbisik "Sadarlah". Draco berjalan mendekati ranjang Hermione setelah melihat Edward yang sepertinya sudah melakukan tugasnya dan saat ini sedang terduduk di atas lantai.
"Terimakasih" Draco menengok ke arah Edward dan mengulurkan tangannya untuk membantu Edward berdiri.
"Sudah seharusnya" Edward menerima uluran tangan Draco dan berdiri.
Draco mendekati Hermione dan menggengam tangan Hermione dan menciumnya. Dan suara tangisan Scorpius entahlah sejak kapan berhentinya.
"Jadi bagaimana kau akan mengaturnya?" Edward menatap Draco.
"Maksudmu?" Draco megerutkan dahinya.
"Dia akan berubah sepertiku, bagaimana kau akan mengatur masalah pemakamannya?"
"Well, aku akan mengatur pemakamannya. Dan.. Hermione aku akan membawanya ke Amerika ke rumah Carlisle, aku yakin mereka akan menjaganya saat aku akan mengurus semuanya. Setelah pemakaman aku akan menceritakan kepada Potter dan lainnya bahwa aku dan anakku akan pindah ke luar negri, dan sebelum dia benar-benar sadar aku akan sangat yakinkan diriku dan anakku sudah berada di sana untuknya"
Edward hanya diam tidak menanggapi ucapan Draco.
"Jadi kapan kau akan membawaku kembali ke dekapan istriku?"
Draco mendengus mendengarnya.
"Setelah aku membawa Hermione ke Carlisle, setelah itu aku akan mengantarmu kembali ke dekapan istrimu" Draco mulai menggendong Hermione ala bridal style dan ber apparate.
Setelah Draco pergi membawa Hermione ber apparate, Edward mendekati box bayi yang di dalamnya berada seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki sedang tertidur lelap. Edward tersenyum melihatnya 'Malfoy sekali' itulah yang ada di pikirkannya.
"Ibu mu akan baik-baik saja, ya setelah ini dia akan baik-baik saja"
Edward membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang tadi Hermione tiduri, Edward memikirkan semuanya kembali, setidaknya dia sudah melakukan suatu hal yang benar untuk menghidupkan kembali seseorang yang dulu pernah ada di dalam hatinya. Dia mencintai Bella, dan dia tidak mau menyakiti Bella. Karena Hermione hanyalah masa lalu nya, sedangkan Bella adalah saat ini nya dan masa depannya.
Draco pun kembali.
"Sudah siap?" Draco mengulurkan tangannya kepada Edward.
"Bagaimana?" Edward bagun dari posisinya.
"Aku sudah menceritakan semuanya kepada merea, dan mereka mengerti. Dan Carlisle menawarkan diri agar Hermione menjadi anak angkat mereka, aku mengatakannya agar menunggu Hermione untuk sadar terlebih dahulu dan menanyakannya. Alice terlihat senang, Jasper tidak ada ekspresi, Emmet hanya menyeringai, Rosalie pergi entah kemana" Draco menjelaskannya dengan tenang, ada nada dan ekspresi kelegaan dalam dirinya.
"Baguslah" Edward menerima uluran tangan Draco.
"Bagaimana denganmu?"
"Apa maksudmu?"
"Semua keluargamu memiliki tanggapan mereka sendiri mendapati Hermione dalam keluarga mereka. Bagaimana denganmu?"
"Malfoy, huft. Draco dengar, mungkin iya aku menyukai Hermione dulu. Tapi itu DULU, ingat di garis bawahi itu DULU. Sekarang aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku, dan Bella adalah orang yang selama ini sudah aku tunggu untuk melengkapi hidupku yang datar ini. Dan aku dengan sangat senang hati menerima Hermione di keluargaku, dan berarti aku akan menjadi saudaranya, dan pasti aku akan menjaganya. Dan jauhkan pikiranmu yang macam-macam itu"
"Jangan membaca pikiranku lagi"
Mereka pun ber-apparate.
Isle Esme
"Bell's!" Edward berteriak sesampainya mereka di flatnya.
"Hai" Bella baru saja keluar dari kamar mereka dan mendekati Edward.
Edward mencium puncak kepala Bella.
"Maaf kalau aku lama" Bella hanya menggeleng.
"Jadi apa yang kalian lakukan?" Bella menatap Edward dan Draco bergiliran.
"Biar Edward yang menjelaskannya, sekali lagi aku berterima kasih mate. Aku pulang dulu karena ada sesuatu yang harus aku urus. Bye Bell's" Draco pergi ber-apparate.
"Jadi dia itu apa?" Bella mendongak melihat Edward.
"Mmm?"
Bella hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Dia penyihir" Edward menggendong Bella dan membawanya ke kamar mereka.
"Dan apa yang kalian lakukan?" Bella awalnya terkejut ternyata Draco adalah seorang penyihir, tapi kalau dia pikir-pikir dia memang sudah di kelilingi oleh makhluk-makhluk selain manusia seperti vampire, werewolf dan sekarang penyihir! Dunia ini begitu unik dengan segala kemisteriusan di dalamnya.
"Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu" Edward mendudukan Bella di tempat tidur mereka.
"Apa itu?"
"Mmm, aku dulunya seorang penyihir" Edward mendudukan dirinya di sebelah Bella dan merangkulnya.
"Apa?!"
"Ya aku dulu adalah seorang penyihir…"
Edward pun menjelaskan semuanya kepada Bella tentang dirinya yang dulu adalah seorang penyihir dan satu sekolah dengan Draco, dan mereka beda asrama dan tingkatan Edward tiga tingkat di atas Draco, Edward dulunya adalah seorang seeker dan kapten dari asramanya yaitu Hufflepuff untuk Quiditch. Tentang turnamen Triwizard yang harus merenggut nyawanya, dan akhirnya ia di ubah oleh Carlisle.
"Kenapa kau baru menceritakannya sekarang? Jadi cerita yang dulu kau katakan kepadaku bohong?" Bella menatap Edward kecewa dan tidak percaya.
"Maaf, aku tidak tau harus bagaimana cara menceritakannya kepadamu. Kau tau bahwa penyihir juga mempunyai peraturannya sendiri, dan para manusia tidak boleh mengetahuinya begitu saja"
"Mmmm"
"Bella"
"Mmm?"
"Kau marah?"
"Tidak"
"Kau yakin?"
"Mmm_"
Edward mencium bibir Bella dan menlanjutkan aktivitas mereka seperti yang mereka lakukan di malam-malam sebelumnya.
"Apa kau mau pindah ke luar negri?" Harry menatap Draco tajam.
Setelah pemakaman Hermione Draco mengajak Harry dan Ginny ber-apparate untuk berbicara sebentar di Manor. Karena pemakaman Hermione, Draco lakukan di dunia Muggle di sebelah makam ke dua orang tua Hermione.
"Ya aku dan Scorpius, aku ingin menenangkan diriku di sana. Setelah kepergian Hermione.." Draco menundukan kepalanya.
"Huff, tapi kau tidak akan melakukan hal yang macam-macam kan?" Ginny melipat kedua tangannya.
"Tidak, aku masih menyayangi hidupku. Hermione pergi berarti ia menitipkan sepenuhnya Scorpius kepadaku, aku akan menjaganya. Itu pasti yang Hermione inginkan. Setelah Scorpius sudah berumur sebelas tahun mungkin aku akan kembali ke Inggris untuk memasukannya ke Hogwarts, atau mungkin ke sekolahan sihir yang lain"
"Jika itu keputusanmu baiklah, aku mengerti. Aku akan menceritakan semuanya kepada keluarga kami" Harry bangkit untuk pergi ke the burrow.
"Thank's"
"Jaga Scorpius baik-baik, jangan sampai membuat dia terluka, nanti Hermione akan sangat sedih di alam sana. Kalau kau sampai melakukan hal macam-macam Draco Lucius Malfoy, aku akan segera mengutukmu" Ginny mendekati Harry.
"Tentu saja" Draco mendengus.
"Bye Malfoy" Ginny dan Harry mengangguk dan ber-apparate kembali ke the burrow.
Setelah Harry dan Ginny, Draco sudah menyiapkan semua keperluan untuk dirinya, Scorpius dan tentu saja untuk Hermione. Dan ia meminta peri rumah untuk membawakannya ke tempat keluarga Cullens, setelah semuanya selesai, ia menggendong Scorpius dan ber-apparate.
The Cullens
"Draco!" Esme memeluknya.
"Bagaiaman keadaanya?" Draco mengikuti Esme menuju ruang tamu mereka.
"Kau liat saja sendiri nanti, jadi... dia anakmu?" Esme tersenyum dan meminta untuk menggendong Scorpius.
"Yeah" Draco memberikannya kepada Esme.
"Siapa namanya? dia sangat tampan"
"Scorpius Hyperion Malfoy"
"Identik"
"Hey mate!" Emmet merangkul Draco sesampainya Draco di ruang tamu mereka.
"Hey, hey semua" Draco mendudukan dirinya di salah satu sofa.
"Akhirnya kau datang, Hermione sudah berubah secara perlahan. Kita tunggu saja" Carlisle memperhatikan Draco.
"Hey boleh aku menggendongnya?" Rosalie diri di depan Draco.
"Sure"
Rosalie mengambil Scorpius dari dekapan Esme dan membawanya entah kemana. Draco tersenyum melihatnya karena ia tau, bagaimana Rosalie sebenarnya. Walau ia terlihat orang yang cuek, tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat perduli.
"Oh, Hey Draco" Alice baru saja datang dengan Jasper.
"Hey"
"Hey Drac" Jasper menepuk bahu Draco.
"Hey"
"Apa kau tidak mau melihat Hermione, aku rasa sebentar lagi ia akan sadar" Alice berdiri di depan Draco.
"Benarkah?"
Alice mengangguk.
Draco dan yang lainnya pun pergi ke sebuah kamar yang di tempati Hermione. Sesampainya di kamar itu, Draco menedekati tempat tidur yang sedang ditiduri oleh istrinya tersebut. Draco menatap Hermione, dia terlihat berbeda dan terlihat sangat cantik. Hermione secara perlahan mengerjapkan matanya, semua orang yang berada di ruangan tersebut segera keluar untuk meberikan waktu untuk Hermione dan Draco. Hermione secara perlahan membuka matanya, dan memposisikan dirinya duduk. Draco mendekati Hermione dan menatapnya, mata Hermione sudah berubah menjadi merah. Draco memegang pipi Hermione.
"Hey" Draco mengusap pipi Hermione.
"Siapa kau?" Hermione menatap Draco kosong.
Hai reader^^
Read dan Review please, terima kasih^^
Maaf ya kalau banyak kesalahan dengan ff ini atau kalian ngga suka, atau ceritanya ngga jelas atau bagaimana.
