CONUNDRUM

Chapter II :

[ Ketika sang Kesatria Udara bertemu dengan Dewi Api, banyak hal bisa terjadi.]

.

.

.

.

Terbangun dari tidur karena bunyi alarm jam di pagi hari, itu sudah biasa. Terbangun karena dering telepon panggilan tugas mendadak, bagi Rivaille itu juga bukan hal aneh lagi. Bahkan sekali waktu, ia pernah dibangunkan langsung oleh Komandan Dot Pixis yang menggedor-gedor pintu rumahnya—lengkap dengan satu pleton prajurit yang berbaris dengan sikap sempurna di beranda menunggu perintah sang kapten—namun bahkan waktu itu Rivaille masih bisa bersikap tenang sambil pasang tampang jaim-jaim sok keren.

Tapi demi Tuhan... sampai hari ini, detik ini, dia sama sekali masih belum bisa terbiasa dibangunkan dari mimpi indahnya oleh bunyi raungan alarm kebakaran.

Yap, sirene alarm kebakaran. Di dalam rumah. Sebuah momen yang jelas bakal jadi sepotong adegan film thriller yang amazing, kalau dikombinasikan dengan insting prajurit dari sekian tahun pengalaman Rivaille di pusat pelatihan—insting yang membuat sistem gerak refleksnya bisa bereaksi tujuh detik lebih awal daripada sirkuit saraf volunternya. Maka tidak heran lagi kalau entah sudah berapa kali dalam minggu ini Rivaille mengawali harinya dengan terlonjak dari ranjang, banting pintu, berlari lompat perabot menuju sumber suara, lalu menyambar tabung pemadam api terdekat—

"..."

—sebelum kemudian akhirnya berhenti di ruang makan, saat kesadarannya sudah terkumpul seratus persen.

Rivaille menghela nafas. Ah, bagus. Tertipu lagi. Serasa jadi manusia paling bodoh sedunia.

"Oh, hei! Bonjour, Ravioli! Akhir-akhir ini kau rajin bangun pagi, ya... ada apa?"

Pemuda itu pun langsung memutar mata, ketika mendengar sebuah suara familiar dari dapur—yang hampir-hampir terasa seperti de javu saking terprediksinya.

'Ada apa', katanya? Ada orang yang tertangkap basah sedang melakukan tindak kriminal, dan dia masih bertanya, 'ada apa'!?

Well, sebuah sapaan yang sekilas kedengaran kasual dan bersahabat, memang—kalau saja kau tidak melihat konteksnya. Karena kalau yang mengucapkannya adalah seorang wanita yang sedang berdiri di atas meja makanmu, tampak tergopoh-gopoh meniupi asap dari sensor pendeteksi kebakaran, lengkap dengan baju basah kuyup karena semburan air dari sprinkler di plafon dapur...

...kadang kau jadi bisa memahami perasaan orang-orang yang bunuh diri dengan melompat dari puncak menara Eiffel.

"Turunkan. Kakimu. Dari. Mejaku. SEKARANG JUGA," titah Rivaille, seraya meletakkan tabung merah yang dibawanya ke lantai dengan gebrakan yang kentara sekali dilebih-lebihkan. Kemudian sambil memijit pelipisnya, pemuda itu memberi isyarat pada Hanji untuk segera menyingkir. "Tch. Kukira kemarin kita sudah sepakat kau tidak akan mensabotase propertiku."

"Ah, maaf maaf, aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa! Tadi aku cuma mau memanaskan pizza beku yang ada di lemari es, lalu tiba-tiba saja... dia berasap... dan makin lama makin tebal… dan— "

"Memanaskan? Kalau yang kaumaksud 'meledakkanya di oven', itu bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal, Hanji."

"Hei, memang ovenmu yang bermasalah, kok... lagipula bukan salahku kalau sistem alarm kebakaran apartemen ini tidak kompeten..." elak Hanji, membela diri—mengambil celah dari kelemahan Rivaille yang dari dulu memang rabun-rabun ayam soal masalah teknis. "Yang benar saja, Ravioli... ini sudah hampir milenium ketiga, dan kau masih pakai sensor radioisotop untuk deteksi kebakaran? Itu tidak efektif, mestinya kau pasang kombinasi sensor temperatur dan detektor optik!"

Nah. Kalau perdebatan sudah sampai tahap ini, Rivaille cuma bisa memijit pangkal hidungnya—karena pagi hari jelas bukan waktu yang tepat untuk lempar-lemparan panci. Dan memang kalau kau tinggal serumah dengan makhluk semacam Hanji Zoe, banyak hal bisa terjadi, kan?

"Alright, alright. Sudah cukup kekacauan untuk hari ini. Sana ganti baju, sibukkan dirimu dengan televisi atau sesuatu," ujar sang tuan rumah, akhirnya. Menyerah, sekalian membuat catatan mental untuk menambahkan wilayah dapur ke dalam zona terlarang yang tidak boleh dimasuki Hanji; karena tidak semua barang di apartemennya diasuransikan, dan membiarkan sang quartermaster Divisi Pengembangan Senjata itu dekat-dekat api adalah kebodohan yang tidak bisa ditoleransi. Well, kalau balon helium saja bisa jadi peledak berbahaya di tangan Hanji Zoe, bagaimana dengan kompor dan setabung penuh liquid petroleum gas? "Sekarang keluar; atau aku yang menyeretmu keluar. Biar aku yang tangani dari sini."

Hanji memang bandel, tapi kalau sudah diberi perintah dengan alis terkait plus tampang algojo seperti itu, dia tidak pernah membantah. Lagipula toh dia tidak pernah suka sesi bersih-bersih, jadi diam-diam memang paling senang kalau Rivaille sudah mengambilalih bagian yang itu.

"Oke, oke... santai saja, Ravioli. Aku ada di sofa depan kalau nanti kau mencari." Dan bersamaan dengan Rivaille yang mulai menggulung lengan bajunya sampai siku, Hanji melesat lenyap di balik bingkai pintu. Dasar.

Akhirnya demi menghindari bahaya berkelanjutan, Rivaille pun terpaksa bertindak layaknya bapak rumah tangga yang bertanggungjawab: membereskan semua kekacauan, sekalian menangani sensor kebakaran yang konon katanya bermasalah—padahal demi Tuhan, sebelum Hanji datang alat itu baik-baik saja. Barulah setelah semua beres dan dapur kembali aman terkendali, Rivaille beralih membuat sarapan pagi. Manusia hiperaktif seperti Hanji butuh asupan gula di awal hari, atau setidaknya itu yang ia baca dari majalah kesehatan.

Dan benar saja, ketika sepiring pancake disodorkan ke arahnya, Hanji langsung menerima benda itu dengan mata bling-bling bahagia—seakan-akan ia baru saja ditawari makanan mewah keluaran dapur restoran. Apalagi ketika Rivaille (yang tumben sekali baik hari ini) memberikan ekstra segelas susu; dengan dalih karena dia merasa belakangan ini Hanji agak kurusan. Tapi rasa-rasanya itu perhatian yang agak salah sasaran, sih—karena kemudian yang bersangkutan bukannya berterimakasih, malah mengembalikannya dengan alasan kurang ajar: "Ini buatmu saja, deh. Susu mengandung banyak protein lho, bagus untuk masa pertumbuhan."

Dan well, bisa dibilang keajaiban dunia kedelapan ketika selanjutnya Rivaille tidak langsung membanting meja bufet. Cuma menoyor kepala Hanji dengan tenaga berlebih—yang rasa-rasanya lumayan berpotensi membuat orang jadi gegar otak ringan.

"Katakan itu sekali lagi, dan kau jadi gelandangan di Paris."

"Ahahahaha. Bercanda, bercanda! Merci beaucoup!"

"Nah. Begitu lebih baik." Rivaille membalas ucapan terimakasih dari sang rekan dengan anggukan singkat, lalu mengambil tempat duduk di sebelah kiri Hanji. Kemudian sambil menuang sirup ke rotinya sendiri, pria itu menghela nafas panjang.

Ah, ya... ia bisa terbiasa dengan semua ini. Bangun pagi, bersih-bersih rumah, membuat sarapan, mandi (opsional: menggedor pintu kamar sebelah untuk membangunkan si putri tidur), baru kemudian makan dan berangkat ke headquarter. Sebuah kombinasi yang kelewat domestik untuk ukuran seorang perwira lembaga pertahanan Atlantik Utara, memang... tapi siapa sih yang tidak ingin sekali-sekali hidup normal? Siapa peduli dia salah ambil role jadi istri, yang penting nggak forever alone. Rivaille sudah bosan. Masa iya setiap hari di log teleponnya cuma ada Erd dan Auruo, di inbox e-mailnya berjejalan spam foto gadis-gadis Italia (tebak saja ini kerjaan siapa), dan di kotak suratnya berserakan amplop bersubjek nama Komandan Dot Pixis?

Yah... yang jelas mau sebangga apapun Rivaille menyandang status jomblo bahagia, tapi tetap saja ada sebagian kecil hatinya yang mencelos tiap kali melihat Komandan Nile berjalan bersama istri dan anak-anaknya di taman kota. Entah mereka sengaja pamer (mentang-mentang punya keluarga yang sakinah mawadah warohmah... ugh), atau memang dasar Rivaille saja yang kelewat sentimen. Baru kelihatan ngobrol berdua saja Rivaille sudah lirik-lirik sinis, nah jangan ditanya bagaimana reaksinya kalau mereka sudah mulai gandengan tangan dengan mesranya. Langsung deh serasa pengen lempar lembing pakai tiang listrik.

...Iya, Rivaille memang sirik sih orangnya.

Namun meski Rivaille sudah jelas-jelas kelihatan berharap banyak dengan kedatangan Hanji Zoe, entah kenapa ia tidak pernah mau memberi konfirmasi kalau ditanya soal spesifikasi hubungan mereka berdua. Paling- paling ia cuma akan menjawab sang penanya dengan tatapan sinar X sampai pipis di tempat; dan Hanji pun tidak membantu—karena seringkali dia pun cuma menimpali dengan tawa ambigu. Alhasil, tidak ada seorangpun yang tahu apa mereka sepakat untuk menyembunyikan sesuatu, atau pada dasarnya relationship diantara mereka memang terlalu kompleks.

"Hei, Hanji... apa kau tidak pernah terpikir untuk tinggal di sini? Di Paris?" tanya Rivaille, akhirnya. Cuma tersisa beberapa minggu lagi sebelum Hanji kembali ke habitatnya di Pangkalan Edwards, dan terkutuklah kalau sampai akhir ia belum juga bisa menentukan sikap.

Sejujurnya, Rivaille cuma tidak tahu bagaimana mendefinisikan perasaannya sendiri. Ia dan Hanji jelas sudah melewati fase 'teman' sekian milenium yang lalu, dan rasa-rasanya belakangan ini ia juga sedikit tersinggung kalau wanita itu menyebutnya sekedar sahabat lama. Jadi dia harus bagaimana? Bagaimana caranya mengatakan pada orang-orang 'Hei, sekarang wanita ini sekarang memang belum resmi berada di bawah kepemilikanku, tapi suatu saat nanti akan jadi seperti itu; jadi lebih baik kau jangan dekat-dekat atau tanggung sendiri akibatnya'; tanpa ia terdengar menyedihkan?

Hanji kelihatan berpikir sebentar sebelum menjawab. "Eh? Soal itu... err... bagaimana, ya. Sebenarnya negara ini lumayan keren sih, tapi mungkin aku belum bisa pindah dalam waktu dekat. Direktur Zacklay bilang aku masih dibutuhkan di Lab California."

Rivaille mendengus. Positif, Hanji memang sama sekali tidak peka dengan kode-kodean.

"Lab California? Bukannya proyek Titan sudah selesai? Ada urusan apa lagi kau di sana?"

"Err... kalau soal itu... memang, sih," jawab Hanji sambil tertawa garing, "Tapi sebenarnya... seminggu sebelum aku berangkat ke sini, kontrakku untuk pengembangan Titan sudah diperpanjang dua tahun. Ahahaha."

Rivaille memutar mata. Yah... ia tidak menyebut Hanji ambisius tanpa alasan; dan inilah salah satunya. Titan lagi, Titan lagi. Sampai kapan sih ia mau menjadikan senjata pembunuh raksasa itu sebagai orientasi utama hidupnya? Kenapa tidak memulai dari hal-hal yang sedikit realistis saja, seperti... menikah dan punya anak, misalnya?

"Maaf ya, kemarin aku tidak minta pendapatmu dulu. Habis kupikir itu kesempatan langka... hehehe."

"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja," potong Rivaille cepat, sebelum Hanji mengajukan berbagai dalih pembelaan diri yang akan membuatnya semakin muak. "Tapi mulai saat ini, kita tidak lagi membahas tentan g Titan di meja makan, oke? Ini merusak selera makanku."

"Jangan membuatku jadi merasa berdosa begitu, ah. Tapi kalau itu maumu..." Sampai sini, Hanji membuat gestur meretsleting mulutnya rapat-rapat, "Deal."

Rivaille menghela nafas.

Well... pada dasarnya, Hanji Zoe memang tidak menyederhanakan hidupnya yang sudah terlanjur rumit. Wanita itu hanya memberi warna berbeda. Dan aroma berbeda, tentu saja—apartemen yang biasanya berbau desinfektan bak rumah sakit, sekarang lebih didominasi aroma segar buah-buahan (oh, kecuali di area-area tertentu yang Rivaille berani bersumpah ada bau bekas asap). Pun meski Rivaille tahu bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah terbiasa dengan kehadiran manusia yang cerewetnya setara dengan mercon renteng (terlebih lagi yang hobi membahas betapa tampannya otak Julius Oppenheimer, hell no)... tapi ia bisa membiasakan diri dengan perasaan nyaman yang muncul ketika di sampingnya ada orang yang selalu bisa diandalkan.

Ah, entahlah. Agak aneh juga kalau dipikirkan, bagaimana kehadiran satu orang saja sudah berarti begitu banyak untuk orang lain...

.

.

.

.

Sejak awal, memang tidak banyak yang Rivaille tahu soal proyek Titan. Sejauh ini, sebagai kapten Skuadron Recon, ia cuma kebagian porsi politiknya saja—dan memilih untuk tidak pernah ambil pusing soal masalah teknis. Lagipula karena di samping tidak mau dituduh mengorek-ngorek informasi tentang proyek rahasia, Rivaille juga sedang pening luar biasa berkat kasus Ukraina yang memang sedang panas-panasnya. Pun berdasarkan pengalaman, terakhir kali Hanji mengisi acara kuliah tamu di universitas Oregon, satu pertanyaan tentang reduksi bahan bakar hidrogen cair saja bisa membuat jadwal penutupan mundur satu setengah jam. Dan... yah, waktu Rivaille jelas terlalu berharga untuk disia-siakan dengan mendengarkan ocehan tentang hukum ketiga Newton, demi Tuhan.

Tapi satu hal yang Rivaille tidak habis pikir, adalah justru ketika proyek berkode sandi Charlemagne yang memakan waktu hampir setahun itu sudah nyaris jadi seratus persen, Hanji malah makin sibuk. Alhasil, duo perwira yang tadinya kemana-mana berdua bak sepasang atom dengan ikatan hidrokarbon rangkap tiga itu, sekarang sudah mulai berjalan sendiri-sendiri.

Tapi apa mau dikata. Hanji bersikeras tidak mau merepotkan Rivaille lebih jauh dengan menunggunya pulang sampai larut malam, jadi sekarang wanita itu memutuskan untuk bawa mobil dinas sendiri. Walaupun sebenarnya bagi Rivaille tidak begitu banyak bedanya, sih—toh ia tetap belum bisa tidur tenang kalau Hanji belum pulang dengan anggota tubuh lengkap ke rumah; safe and sound.

Dan meski biasanya Rivaille masih cukup sabar menahan kantuk dengan kafein dan film tengah malam, akhir-akhir ini ia mulai jengkel juga karena jam pulang Hanji selalu makin mundur setiap harinya.

Bahkan malam ini, jarum jam sudah lewat angka dua, alias sudah hampir dini hari—tapi Rivaille masih terpaksa terjaga di depan televisi. Lengkap dengan cangkir kopi di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri. Apalagi kalau bukan karena sang rekan, yang entah kenapa hobi sekali membuat orang lain khawatir.

'Holaa, di sini Hanji Zoe! Kalau kau mendengar pesan ini, mungkin aku sedang sibuk di headquarter, atau ketiduran, atau mungkin aku lupa di mana meletakkan ponselku. Hahaha. Anyway, silakan tinggalkan nama dan pesan setelah bunyi bip... aku akan segera menghubungimu balik. Ciao!'

Rivaille memutar mata. Pesan voicemail yang sama sudah ia dengar berpuluh kali sejak empat jam yang lalu, bahkan sampai ia hafal teksnya di luar kepala, tapi belum juga ada jawaban. Sedang apa sih bocah tengil satu itu? Memangnya seberat apa pekerjaan seorang quartermaster, sampai-sampai tidak sempat angkat telepon segala? Well, Hanji memang tipe manusia pekerja keras yang tidak bisa disuruh berhenti sebelum pekerjaannya selesai; tapi satu hal yang Rivaille tahu pasti, adalah dari dulu sampai saat ini Hanji masih belum juga bisa mengaktivasi mode nokturnalnya. Berapa kali ia bermalam di kantor, niatnya sih mau begadang sampai pagi untuk merampungkan tugas, tapi toh akhirnya paling-paling juga ketiduran di atas keyboard. Yah, memangnya apa sih yang bisa benar-benar Hanji selesaikan tanpa bantuan Moblit, sang asisten?

Dan bunyi beep yang terdengar kemudian, akhirnya sukses menjebol lapis terakhir kesabaran Rivaille.

"Oke, Mata Empat, sekarang aku mulai ragu kau masih hidup. Aku ke HQ sekarang, dan lebih baik kau ada di sana... atau kita bahas ulang mengenai aturan jam malam."

.

.

.

.

.

"Tch, merepotkan."

Sambil merapatkan jaketnya, Rivaille berjalan di sepanjang lorong bernuansa putih-biru. Matanya menyisir deretan ruangan yang jadi jauh lebih sunyi selepas jam kerja; dan di samping ia sudah lumayan familiar dengan sektor sini, tentu saja bukan perkara sulit menemukan satu spot yang lampunya masih menyala penuh di antara ruangan remang-remang.

Dan di depan pintu kesepuluh yang sudah ia hafal benar, Rivaille berhenti. Tidak ada suara dari dalam. Jadi tanpa basa-basi ia langsung memutar kenop dan melangkah masuk; sudah siap mental menghadapi pemandangan paling absurd sekalipun. Karena setelah beberapa hari terakhir ini mendapati Hanji tertidur dalam berbagai pose fotogenik (tidur telentang di lantai dengan satu kaki naik ke sofa, tidur memeluk prototipe Titan, tidur meringkuk di kolong meja karena merosot dari kursi)... tidak akan ada yang bisa membuat Rivaille kaget kecuali kalau mendadak wanita itu tidur menggantung di plafon dengan kepala di bawah.

"Hei, mata empat, apa yang kaulakukan sampai jam segini? Ke mana ponselmu? Tch, kalau tiap hari kau tidur di kantor, lebih baik sekalian angkut barang-barangmu ke sini—"

Dan sementara Rivaille mengomel, Hanji sama sekali tidak bergerak dari posisinya—berbaring melintang di sofa panjang, dengan kepala menggantung ke belakang dari sandaran lengan. Ujung rambutnya yang terurai menyentuh karpet. Semula ia kelihatan tertidur, tapi begitu Rivaille menutup pintu dengan sentakan, kelopak matanya terbuka sedikit.

"Halo, Kamiya Hiroshi..."

Suaranya serak. Seperti orang bangun tidur. Atau lebih tepatnya... seperti orang yang hangover parah sehabis minum alkohol. Kalau saja Rivaille tidak mengenal Hanji lebih baik.

Rivaille memutar mata. "Bodoh," gerutunya setengah hati sambil memungut kacamata Hanji yang tergeletak di lantai, lalu memakaikannya ke sang pemilik dengan satu tangan. Tapi yang bersangkutan tetap tidak merespon, meskipun Rivaille sudah mengetuk dahinya dengan jari telunjuk. "Tch—apa kubilang, kau butuh istirahat. Empat hari berturut-turut kau pulang malam terus, pantas saja."

Wanita itu mengerjap beberapa kali, untuk sesaat tampak agak susah mengatur fokus. Mungkin karena gaya gravitasi menarik otaknya dari sisi yang salah, entahlah.

"Err... Ravioli?" Baru setelah jeda yang kelewat lama untuk ukuran buffering manusia normal, Hanji bicara lagi. "Kapan kau datang? Kenapa... kau berjalan di atap? Kenapa ruanganku jadi terbalik?"

Sang pemuda langsung mengerutkan dahi. Ada yang tidak beres dengan rekannya yang satu ini, tidak salah lagi. Alhasil sebelum pertanyaan konyol lain sempat diajukan, sebuah sambitan dengan gulungan kertas sudah keburu mendarat di kepala berambut cokelat. "Bicaramu melantur. Kau mabuk propelan, ya?"

"Aku baik-baik saja..."

"Kalau begitu coba duduk tegak sambil bacakan hukum Geiger-Nutall."

"Ginger… siapa?"

Nah. Terkonfirmasi. Sekarang Rivaille yakin seratus persen kalau ada yang tidak beres dengan rekannya yang satu ini.

Mulanya Rivaille pikir ia cuma menggigau karena kurang tidur. Tapi ketika kemudian Hanji mulai meracau tidak jelas dengan nada naik-turun, Rivaille terpaksa bertindak lancang dengan mengobrak-abrik laci demi mencari obat antidepresan. Firasatnya tidak enak melihat Hanji yang kelihatan... sedikit lebih abnormal dari biasanya. Well, rasanya Rivaille memang benar-benar butuh mata kuliah satu semester dari Moblit, soal bagaimana cara menangani makhluk ini….

"Kau benar, Rivaille. Kau menang..." gumam Hanji tiba-tiba. Suaranya sendu.

Pria berambut hitam itu menoleh ke arah sang rekan, setengah dongkol karena ia tidak bisa menemukan apa-apa di kotak obat. "Aku memang selalu benar," ujarnya ketus, "Kita sedang membicarakan hal yang mana?"

"Yeah. Harusnya dari awal aku mendengarkanmu... Harusnya aku tidak menandatangani kontrak itu... Aku sudah lelah menutup mata dan berpura-pura idealis…."

"Biar kutebak. Kita... sedang membahas soal Titan?"

Hanji menghela nafas. Tapi alih-alih menjawab, ia cuma mengulurkan tangan ke arah meja, meraih satu dari beberapa teko keramik—lalu menuangkan isinya sembarangan ke cangkir kosong di sebelahnya. Kopi hitam meluber dari bibir gelas sampai tumpah menggenang ke meja, tapi Hanji mengabaikannya. Namun sebelum wanita itu sempat meraih pegangannya, Rivaille sudah keburu menarik cawan dan menyingkirkan benda itu ke luar jangkauan.

"Segelas lagi, kau overdosis kafein."

Hanji mengerang. "Aku baik-baik saja, Ravioli..."

"Aku yang tidak," tukas Rivaille cepat. Jelas ia tidak baik-baik saja, karena kalau besok pagi Hanji teler di tengah rapat internal dengan Departemen Pertahanan, segala konsekuensi sudah pasti akan langsung dilimpahkan ke babysitternya. Dan kalau sudah begitu, siapa juga nanti yang repot? "Secara tidak resmi, kau masih berada di bawah tanggung jawabku."

Hanji meraih selembar dokumen dari atas meja, lalu menyodorkannya pada Rivaille. "Lihat. Ini surat untukku, dari Sekjen Pertahanan," ujar wanita itu, dari nada bicaranya kentara sekali kalau dia sedang frustrasi. "Tawaran untuk bergabung dalam perancangan konsep konstruksi baru, yang diberi nama Collosal Titan. Itu semacam sistem pertahanan luar angkasa yang saling terintegrasi satu sama lain... dan kalau sukses, berarti ia akan jadi jaringan senjata nuklir ekstraterestrial terbesar yang pernah dibuat manusia sepanjang sejarah."

Pemuda berambut hitam itu mengangguk paham; Collosal Titan sudah bukan berita baru lagi baginya. Isu ini sudah pernah dibahas di Konferensi Brussels dua tahun yang lalu, bahkan persetujuan kerjasama dari kontinen-kontinennya pun sudah mulai digalang diam-diam. Hanya saja dulu Rivaille tidak begitu peduli, karena waktu itu semua masih terasa sangat mustahil. Tapi siapa yang tahu, betapa teknologi bisa berkembang begitu pesat cuma dalam dua tahun?

"Kalian... benar-benar berniat membuatnya?"

"Tidak! Ini tidak boleh dilanjutkan!" bantah Hanji cepat, "Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, Demi Tuhan! Mereka menciptakan monster atas nama ilmu pengetahuan, Rivaille! Mereka tidak tahu seberapa hebat kerusakan yang mungkin ditanggung oleh dunia hanya karena sebutir neutron!"

"Aku tahu—"

"Aku ingin berhenti di sini, Rivaille... kumohon. Sudah cukup rasa bersalahku membuat dua Titan. Kalau lebih dari itu, bagaimana aku bisa bertanggungjawab seandainya senjata itu digunakan untuk tujuan yang tidak manusiawi? Argh, kau benar—ada beban mental yang tidak bisa kuabaikan..."

"Hanji, tenang dulu—"

Dan tanpa peringatan, tiba-tiba saja Hanji mulai terisak. Makin lama makin keras. Dan jelas saja Rivaille makin bingung, tidak tahu harus berbuat apa—karena jujur saja, ia sama sekali tidak punya basic di bidang psikologi. Alhasil yang bisa ia lakukan cuma prosedur standar seperti yang sering ditampilkan di televisi: peluk, tepuk-tepuk punggungnya, lalu bisikkan kata-kata yang menenangkan...

"Dasar cengeng. Tunjukkan profesionalismemu sedikit, ini sudah resiko dari pekerjaanmu. Dan sebelum kau bertanya; tidak. Aku tidak akan membantumu membayar pinalti untuk kontrak dua tahunmu yang akan datang."

Hanji makin histeris. Dan sekarang Rivaille mulai menyesal sudah repot-repot memeluk Hanji—karena jaketnya jadi tercemar ingus dan air mata.

"Oke, oke. Jadi maumu bagaimana?" tanya Rivaille akhirnya, to the point. Menghemat waktu karena berdasarkan pengalaman, memahami perasaan wanita itu jauh lebih rumit daripada fisika nuklir. Apalagi kalau berurusan dengan Hanji yang pikirannya ruwet bak labirin, jangan ditanya lagi.

"E-Erwin bilang aku harus berkonsultasi denganmu kalau melakukan apapun yang tidak linear dengan rencana semula, jadi..."

"Jadi...?"

Ragu-ragu, Hanji mengeluarkan selembar kertas kusut dari sakunya, dan menyerahkan benda itu ke Rivaille. "Sebenarnya aku punya rencana... tapi aku mau minta pendapatmu dulu," katanya, "Karena ini wilayahmu. Semua yang kulakukan di Rozanoff akan berdampak langsung padamu, Rivaille, makanya kurasa kau yang lebih berhak memutuskan..."

"Yeah, yeah. Selama kau tidak melakukan apapun yang tidak membahayakan dirimu sendiri," tukas Rivaille, sebelum mengamati sketsa kasar yang digambar di kertas itu. Di sana ada gambar tanda X besar, dikelilingi kurva-kurva dan garis yang saling berpotongan. Sudut-sudut kritis ditandai. Beberapa poin juga diperjelas dengan parameter yang Rivaille sendiri juga tidak begitu paham apa maksudnya. Tapi satu hal yang membuat firasatnya langsung tidak enak, adalah catatan perhitungan fisika di sudut kertas; yang akhirnya disimpulkan dengan kalimat berhuruf kapital:

'WAKTU PERKIRAAN LEDAKAN: 8,67 SEKON SETELAH PELUNCURAN.'

Rivaille melotot. Apa-apaan—

"Kalau kita bisa merubah sedikit konstruksi cincin O-nya, Titan akan langsung meledak ketika diluncurkan. Dengan begitu Titan akan lenyap, dan mungkin aku bisa langsung dipecat dari NATO. Jadi aku tidak perlu susah-susah menulis surat pengunduran diri, kan?"

Oh, Mon Dieu. Rivaille menepuk dahi. Dosa apa dia; sampai-sampai baru berapa hari saja Hanji berada di luar pengawasannya, wanita itu sudah berubah jadi ilmuwan psikomaniak? Bagaimana bisa dia cukup sadar untuk menghitung persamaan fisika mekanik, tapi tidak cukup waras untuk menyadari bahwa ia bisa didenda ratusan milyar dolar kalau sampai ketahuan?

"Hanji, ayo. Kuantar pulang. Kau butuh antidepresan."

.

.

.

.

To be Continued.

.

.

P.S.: Gomenne, beberapa bulan terakhir ini saya rada sibuk, jadi nggak terlalu aktif lagi di dunia FFn. Tapi beberapa hari yang lalu mendadak ada notif review masuk ke e-mail (heran juga sih, udah jadul gini masih ada juga yang baca hahaha)... dan somehow jadi semangat lagi ngerjain fic ini. Thanks, readers! XD