Dulu, salah satu profesor Hanji pernah bilang, bahwa energi bisa berada dalam berbagai bentuk dan wujud. Bisa konkrit, bisa abstrak. Ada yang bisa diraba dengan panca indera, ada yang hanya bisa dirasakan dengan hati.
Teori yang bagus, bisa jadi—tapi waktu itu Hanji cuma menanggapinya dengan tawa. Cinta masih jadi konsep yang asing baginya, jadi ia selalu menganggap itu cuma sebuah sindrom aneh yang bergantung pada variabel usia, merubah para remaja menjadi satu jenis spesies idiot baru (yang mana membuat Hanji diam-diam bersyukur karena tidak ikut terjangkit). Dan yang jelas, tidak peduli bagaimanapun para rekan sebayanya mengelu-elukan bahwa cinta adalah bentuk energi paling tinggi; Hanji muda selalu memutar mata kalau kebetulan topik itu dibahas di kelas-kelas.
Tapi sekarang, dia jadi merasa kena karma.
Dan memang benar kata orang… bahwa jauh lebih mudah menunjukkan seberapa besar energi yang kau punya dengan menghitungnya dalam joule, daripada mengungkapkannya dengan kata-kata.
.
.
.
CONUNDRUM
Chapter III—end.
.
.
.
Kalau ada seratus kata dari Kamus Besar yang bisa Rivaille pilih untuk menggambarkan dirinya sendiri, 'perhatian' jelas bukan salah satunya.
Bukannya itu kata yang buruk. Hanya saja, dari dulu Rivaille memang tidak pernah suka mengurus masalah orang lain. Yah, mungkin kecuali kalau itu menyangkut hajat hidup orang banyak, higienitas personal, atau pelanggaran eksplisit terhadap aturan publik internasional 'buanglah sampah pada tempatnya'.
Tapi bahkan Rivaille sendiri juga tidak sepenuhnya paham apa yang barusan dilakukannya, ketika siang itu, ia mengekor barisan para ilmuwan Divisi Riset keluar dari ruang rapat. Sebuah kesalahan yang lumayan fatal memang, mengikuti agenda Departemen semacam ini tanpa punya latar belakang khusus—karena rupanya susah juga memasang wajah sombong di sepanjang presentasi, ketika Rivaille bahkan belum pernah mendengar sekian lusin kosa kata yang mereka gunakan.
Namun kalau dipikir-pikir lagi... yah, sudahlah. Setidaknya para petinggi direksi pun juga tampak sama clueless-nya ketika tadi Mina Carolina—pengganti darurat sang quartermaster—menjabarkan spesifikasi teknis Titan. Malah kalau boleh Rivaille menggeneralisir, satu-satunya bagian di mana mereka terlihat benar-benar antusias adalah hanya ketika para ilmuwan menjelaskan soal berapa megaton efek destruksinya.
Karena memang cuma itu yang ingin mereka tahu.
Levi mendecih jijik. Tentu saja, pikirnya. Belakangan ini, memang sudah bukan rahasia lagi bahwa hubungan NATO dengan beberapa negara Timur sedang memanas; dan bahkan dokumen berisi daftar negara-negara yang dianggap 'potensial' sudah beredar di kalangan tertentu. Justifikasi dilakukan dengan dalih protokol keamanan, padahal semua orang tahu kalau sebenarnya dominasi adalah yang mereka inginkan.
Dan sampai detik ini, entah sudah berapa kali Rivaille hadir sebagai pihak oposisi operasional Titan dalam rapat-rapat internal Departemen. Berusaha sedetail mungkin menjelaskan dampak pembangunan Titan dari aspek sosial dan politik (hal-hal yang berada di luar jangkauan para ilmuwan, tentu saja); tapi para Jenderal dan minion-minion idiot di bawahnya tetap saja kukuh pada pendirian mereka. Alhasil, debat panas pun tidak bisa dihindari—dan demi Tuhan, Rivaille butuh pengendalian diri yang luar biasa kuat untuk tidak melempar gelas atau menggebrak meja.
(Tapi setidaknya tadi Hanji tidak di sini. Rivaille tidak akan sampai hati untuk mengatai para ilmuwan dengan sebutan apatis kalau ada wanita itu di antara mereka.)
Pria itu memijit pelipisnya sambil menghela nafas. Drama ini melelahkan.
Merapatkan jaketnya, Rivaille pun akhirnya melangkah kembali ke base-nya di sektor Gamma. Well, tinggal menunggu waktu saja sampai ia menjadi bahan bahasan rapat-rapat rahasia para petinggi departemen dan dicap sebagai pembangkang. Tapi apa boleh buat. Rivaille cuma melakukan bagiannya; dan paling tidak ia punya pembelaan jika kelak setelah mati ia ditanya soal keterlibatannya dalam penghancuran dunia pada abad kedua puluh satu.
"Ugh. Kau berhutang padaku untuk semua energi yang terbuang hari ini, Hanji."
Sesampainya di ruangan, Rivaille segera menyalakan ponsel. Ia memang terbiasa mematikan gadgetnya kalau sedang sibuk, karena benda itu bisa jadi distraksi terbesar kalau ia berusaha untuk fokus. Tapi kali ini, belum ada sepuluh detik menyala, tiba-tiba saja layar ponselnya sudah banjir notifikasi.
8 e-mail, 48 pesan dan 83 missed call?
Pria itu memicingkan mata menelusuri daftar log. Lalu mengerutkan dahi—ketika sadar bahwa hampir semuanya bersubjek nama Hanji Zoe.
Oh, yeah. Tentu saja.Ingatannya pun otomatis terputar kembali ke malam kemarin—di mana ketika intensitas racauan Hanji sudah melampaui batas toleransi, Rivaille akhirnya angkat tangan… dan memberikan tranquilizer sekedar supaya ia bisa diseret pulang. Jadi efeknya mungkin baru hilang tadi pagi; dan Rivaille bisa membayangkan bagaimana reaksi Hanji ketika ia bangun tidur di sebuah apartemen kosong yang terkunci rapat dari luar.
Tapi bagaimanapun malasnya dia menghadapi omelan Hanji yang sudah pasti bakal menerjang bak tsunami kalau dia menelpon balik; tetap saja Rivaille perlu tahu apa kabar rekannya yang satu itu. Jadi akhirnya, setelah memastikan ia mengambil jarak aman dengan speaker ponsel, Rivaille pun menekan tombol recall. Hanya terdengar dua kali nada sambung sebelum panggilannya diangkat.
"RAVIOLIIIII! KAU DI MANAAAAAAA?"
Nah, kan. "Aku berada tepat sepuluh senti dari ponsel, Hanji, jadi tolong... kau tidak perlu teriak."
"Aku serius, Ravioli!" sentak suara di seberang sana. Dan nadanya memang tidak main-main." Apa kau sekarang di headquarter? Kenapa tidak membangunkan aku tadi pagi? Kepalaku juga rasanya agak tidak beres, apa kemarin kau memberiku obat tidur atau sesuatu? Dan yang paling penting, kenapa tidak angkat teleponku? Kenapa tidak buka pesanku? Kenapa tidak balas emailku? Astaga, kau sama sekali tidak bisa dihubungi! Iya, aku tahu kalau kau selalu mematikan ponselmu kalau sedang rapat atau latihan—tapi kan bisa tinggalkan pesan dulu!"
Menginterupsi bukan ide bagus kalau Hanji sedang dalam mode berserk seperti ini; jadi Rivaille memilih diam—dan menunggu sampai ada jeda yang cukup panjang untuk dia bicara.
"Dan kenapa semua pintu terkunci? Kau lupa kalau aku sekarang jadi penghuni rumahmu, atau kau memang sengaja, hah? Ravioli, aku ada rapat penting dengan Departemen Pertahanan hari ini! Harusnya sudah mulai dari berjam-jam yang lalu, aku pasti terlambat!"
Kemudian hening sejenak, di mana Rivaille hampir bisa membayangkan Hanji berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya, terlalu bingung sampai akhirnya kehabisan kata-kata. Sering terjadi kalau dia tertekan.
"Sudah kutangani. Sana tidur lagi."
"Tidak tidak, kau tidak bisa menangani yang ini. Mungkin yang lain, tapi bukan yang satu ini. Kau… kau tidak mengerti. Presentasi yang ini benar-benar penting—"
"Aku tahu apa yang kaubicarakan, Hanji, karena aku ada di sana; dan biar kuberitahu kalau rapat itu sudah selesai lima belas menit yang lalu."
"H-hah? Apa?"Hanji terdengar kaget. Mungkin lupa dengan fakta bahwa Rivaille seringkali lebih hafal jadwal kegiatannya daripada dirinya sendiri."Kau tahu? Apa aku pernah memberitahumu? Eh, tunggu sebentar—memangnya kau juga diundang?"
Tentu saja tidak, Rivaille membatin. Dia bahkan masih ingat bagaimana tadi hampir semua orang menatapnya dengan aneh ketika ia masuk ke ruangan. Tapi entah kenapa tidak ada yang berani menegurnya—barangkali karena sudah jadi rahasia umum kalau dia adalah orang dekat Erwin Smith, komandan paling disegani di seantero organisasi.
"Ta-tapi—astaga, kalau kau tahu, lalu kenapa kau meninggalkanku di rumah, Ravioli? Apa nanti kata mereka!?"
Rivaille mendengus. "Kau tidak boleh keluar rumah sebelum otakmu dikalibrasi. Aku tidak mau melepas ilmuwan psikomaniak berkeliaran di dunia luar."
"Kau ini bicara apa, sih?"
"Tidak usah sok amnesia."
"Hah?"
Jeda sebentar.
"Oh, astaga." Hanji menepuk dahi. "Oke, oke. Aku minta maaf soal itu, tapi sungguh, kemarin aku cuma tidak bisa berpikir lurus. Kau ini seperti baru kenal aku saja. Kan bisa tidak usah terlalu mendramatisir—"
"Bye."
"Ehhh iya iya maaf! Jangan tutup teleponnya!" sergah Hanji cepat, untungnya tepat sebelum Rivaille betulan mengakhiri panggilannya. "Jangan ngambek begitu ah, aku cuma bercanda! Ha ha." Tawa dipaksakan. "Jadi... jam berapa kau pulang? Aku ada shift nanti malam, jadi kalau sampai kau tidak ke sini dan bukakan pintu, aku telepon 911, nih!"
Rivaille memutar mata. "Di sini nomor darurat bukan 911, tapi 112, Mata Empat. Catat itu—kalau saja suatu saat nanti kau tidak sengaja membakar apartemenku waktu aku sedang tidak di rumah, " ujarnya, sarkastis, "Tapi baiklah. Aku akan pulang waktu jam istirahat siang. Tunggu 60 menit, dan tolong jangan mencoba keluar rumah dengan mencongkel pintu. Alarm keamanan akan berbunyi."
Hanji mengerang.
"Ya ampun, itu juga salah satu alasan kenapa aku berusaha meneleponmu dari tadi, Ravioli! Kenapa di rumahmu banyak sekali alarm? Kenapa tidak dilengkapi autentikasi untuk sistem yang lebih foolproof?" omelnya cepat, "Dan yang lebih penting lagi... bagaimana cara mematikannya!?"
Oh. Ya ampun.
Tanpa menjawab apa-apa lagi, Rivaille pun langsung menekan tombol end call dan menyambar kunci mobil di meja.
.
.
.
.
Lima belas menit tanya-jawab dengan security setempat (dan selembar surat keterangan bahwa tidak ada tindak penculikan) kemudian, barulah Rivaille dan Hanji bisa melanjutkan urusannya dengan tenang. Pun kalau bukan karena Rivaille ingat ada hal tentang keselamatan dunia yang jauh lebih penting daripada reputasinya sebagai salah satu warga negara teladan yang tidak pernah melanggar peraturan, ia pasti sudah menceramahi Hanji habis-habisan di ruang tamu.
Jadi akhirnya Rivaille menghempaskan diri di sofa, berseberangan dengan sang rekan. Setengah mati berusaha untuk tidak menggerutu—
"Aku akan pura-pura ini tidak pernah terjadi."
—yang untungnya, berhasil.
"Iya, iya, aku minta maaf... tapi yang tadi itu benar-benar tidak sengaja, Ravioli! Nanti aku ganti biaya denda sekalian perbaikannya, deh. Atau kalau kau mau, aku akan buatkan sistem keamanan yang lebih canggih—"
"Ou pas."
Hanji menunduk cemberut."...Ya sudah."
Beberapa helaan nafas kemudian, barulah kepala Rivaille betul-betul dingin untuk mengingat tujuan utamanya pulang ke rumah. Dan akhirnya bisa agak sedikit lega ketika Hanji bilang tadi pagi ia sudah menghubungi Mike, yang . Rivaille mengangguk mendengarkan.
"Aku mungkin tidak bisa memberikanmu akses penuh pada Titan, Rivaille. Tapi aku akan mengusahakannya supaya paling tidak, kau punya kekuasaan untuk menggagalkan penyerangan. Aku mau kau punya... semacam hak veto?"
Rivaille mengusap dagu."Yang ini tidak terlalu buruk."
"Sebenarnya aku bahkan tidak begitu yakin ini akan berhasil. "Hanji mengangkat bahu."Tapi intinya begini. Aku akan mencari celah untuk menyabotase sistem. Aku sudah bertemu beberapa orang dalam yang bisa diajak bekerja sama."
"Kedengarannya rumit."
"Well, sebenarnya jauh lebih rumit daripada kedengarannya," kata Hanji seraya membetulkan letak kacamatanya. Rivaille hampir bisa melihat wanita itu menyusun skema kemungkinan imajiner dalam kepalanya, dan merunut satu demi satu cabang untuk mencari solusi terbaik. Tapi tetap saja, ia masih kelihatan gamang—karena biasanya, Hanji tidak pernah membicarakan ide dengan orang lain sebelum ia sendiri punya gambaran yang cukup jelas. "Kita akan coba melakukannya selangkah demi selangkah. Bagaimanapun, aku harus membereskan masalah yang aku mulai, kan?"
"Senang akhirnya kau menyadari itu."
Hanji menangkupkan kedua tangannya di depan dagu. "Tapi terlepas dari semua ini, Rivaille, aku masih bergantung padamu. Selama masih ada kemungkinan negosiasi dengan Jenderal, coba dulu. Teknologi mungkin memang lebih canggih, tapi bagaimanapun... aku masih jauh lebih mengandalkanmu."
Rivaille tertegun, refleks mendongak untuk menatap ke lawan bicaranya. Ah, mungkin ia akan lebih senang mendengar pujian itu di lain waktu, kalau saja mereka tidak sedang berada dalam tekanan seperti sekarang.
"Oke, aku terima tanggungjawab itu. Tapi bagaimanapun, kau sedang merancang sebuah pelanggaran level internasional, Hanji. Jadi sebelumnya aku cuma ingin memastikan, kau sadar seberapa besar konsekuensi dari apa yang sedang kaulakukankan sekarang."
Hanji tertawa getir. "Yah, begitulah. Makanya aku juga mulai berpikir... harusnya kita tidak boleh terlalu dekat. Yah, mungkin memang tidak 'dekat' dalam definisi itu sih, tapi tetap saja. Mungkin aku harus mencari flat baru untuk tempat tinggal. Untuk jaga-jaga saja, sih... karena kalau nanti rencana ini terbongkar, orang-orang terdekatku pasti akan terseret—"
"Sebelum kau bertanya; tidak," potong Rivaille cepat, "Aku tidak memberimu izin untuk keluar dari rumah ini. Erwin mungkin membackup-mu dari belakang, dan Mike mengawasimu dari jauh. Tapi aku tidak. Aku akan tetap di sampingmu, dan aku tidak takut."
Senyum Hanji mengembang lebar dari telinga ke telinga.
"Haha. Tepat seperti apa yang bisa diharapkan dari seorang sahabat," ujarnya, bangga. "Deal.Aku mengajukan tiga syarat, kalau begitu."
Rivaille menyandarkan diri ke punggung sofa. Memberi isyarat untuk melanjutkan.
"Continuez."
"Umm... yang pertama, izin tinggalku harus diperpanjang. Mungkin beberapa bulan lagi... tapi akan kucari-cari alasan untuk itu," ujar Hanji, "Karena modifikasi mungkin akan sulit, atau mungkin akan sangat sulit."
Rivaille mengedikkan bahu. Menandakan bahwa dia setuju dengan syarat pertama, tanpa pertanyaan. Kalau buat Hanji sih, jangankan cuma beberapa bulan. Untuk seumur hidup pun dia tidak keberatan!
"Syarat kedua... tolong, sekali ini saja percaya padaku. Kau bisa berhenti menungguku pulang malam, aku tahu jadwalmu di pagi hari sangat padat. Mulai sekarang, kita bekerja paralel: aku mengerjakan bagianku di Alfa, dan kau bisa kembali fokus pada pekerjaanmu di Gamma. " Hanji langsung mengangkat tangannya begitu melihat Rivaille siap untuk protes, dan segera melanjutkan kalimatnya. "Tapi bukannya aku tidak suka kautemani, sungguh. Aku bahkan berharap kapan-kapan kita bisa makan di Chez Prune dekat kanal St. Martin, atau jalan-jalan ke Rue Oberkampf—tapi... ada hal lain yang harus diprioritaskan, kan?"
Ah, ya.Rivaille menghela nafas lagi, dan menelan kembali protesnya. Prioritas.Mudah sekali mengabaikannya kalau dia sedang dekat-dekat Hanji.
"...Oke."
Wanita itu kelihatan agak kaget. Mungkin tidak menyangka sekali ini Rivaille bisa mudah sekali diajak kompromi.
"Thanks."Hanji tersenyum. "Dan syarat ketiganya... adalah yang paling penting. Aku mau asistenku didatangkan dari Pangkalan Edwards."
Sampai di sini, Rivaille menautkan alis. Asisten? Dari Edwards?
Sebentar, sebentar.
"Moblit?"tebaknya. Rivaille kenal si pemuda pirang itu, tentu saja—karena kalau ada satu orang di dunia ini yang lebih mengenal Hanji daripada dirinya, itu sudah pasti Moblit. Orang yang jangankan hafal agenda kerja harian Hanji, jumlah kalori yang dia makan per-hari saja sepertinya pemuda itu tahu. Orang yang pernah membuat Rivaille sirik setengah mati; karena dulu ketika ia dipindahtugaskan ke Perancis, deskrip lokasi kerja bocah satu itu tetap saja tidak berubah : 'idem dengan Hanji Zoe'.
Dan demi apapun. Tolong jangan ingatkan dia lagi tentang skandal yang pernah membuat duo ilmuwan itu jadi objek gosip di seantero pangkalan Edwards.
"Ada aku, ditambah dua ratus peneliti dan teknisi terbaik di Eropa... kau masih ingin membawa asisten sendiri dari rumah?"
Jangan salahkan Rivaille kalau nada bicaranya jadi agak sengak. Dia cuma masih agak sensi kalau ingat kejadian tempo dulu di California, sewaktu mereka berpesta merayakan kenaikan pangkat dan Hanji minum terlalu banyak sampai dia mabuk. Di mana kemudian Mike iseng menanyainya tipe laki-laki seperti apa yang dia suka, dan Hanji menjawab tanpa pikir panjang: 'yang cerdas seperti Julius Robert Oppenheimer, dan yang keibuan seperti Moblit''.
Alhasil di hari-hari selanjutnya, cuma Hanji Zoe seorang yang tidak paham kenapa asistennya selalu izin ke kamar kecil tiap kali Rivaille masuk ke jarak pandang.
"Ini proyek rahasia di dalam proyek rahasia, Ravioli. Tidak semua orang ada di pihak kita, aku butuh orang yang benar-benar bisa dipercaya. Dan aku senang kau bersedia mendukung misi ini, tentu saja... tapi terakhir kali aku ingat, kau bahkan panik setengah mati waktu laptopmu kena virus... jadi jangan marah kalau aku menyimpulkan kau tidak tahu banyak soal meretas program."
Kalau sudah terpojok begini, Rivaille tidak punya celah untuk membantah. Ya sudahlah. Mungkin nanti ia cuma mesti lebih sering 'mampir inspeksi' ke Departemen Riset saja. Kalaupun nanti Hanji mengira Moblit diare karena bolak-balik kamar mandi... itu urusan lain.
"Oke, oke. Kau beruntung karena aku sekarang tidak sedang berada dalam posisi untuk menolak. Soal izin akan kusampaikan ke Komandan Pixis. Kuusahakan segera, tapi aku tidak janji."
"Aku mengerti." Hanji menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mengangguk dengan riang. "Ah, baiklah. Sepakat. Sekarang kau bisa kembali ke headquarter..."
Pernyataan Hanji membuat Rivaille spontan mengecek jam tangannya—dan tersentak kaget. Sudah sepuluh menit lewat dari rencananya semula, jadi sudah mepet sekali kalau ia mau kembali ke markas tepat waktu. Rivaille pun langsung berdiri, mengenakan jaket yang disampirkannya ke kursi sambil menghitung dalam hati berapa kecepatan minimal sebelum rekor kedisiplinannya tercoreng lagi untuk yang kedua kali hari ini.
Tapi begitu ia duduk di jok mobil dan memasang sabuk pengaman, tiba-tiba saja Hanji mengetuk kaca penumpang—entah sejak kapan sudah siap dengan blazer dan laptop.
"Apa?"
"Aku ikut!"
Rivaille menurunkan kaca jendela. "Pertanyaan keamanan: Jadi apa kau masih menganggap bahwa peledakan Titan itu ide brilian?"
"Umm... tidak?"
Pria itu mengecek jamnya sekali lagi. Tidak ada waktu untuk interogasi, jadi akhirnya ia memberi isyarat pada Hanji dari jendela mobil. "Masuk, kalau begitu," ujarnya, "Tapi kuperingatkan kau satu hal: jangan kaget kalau nanti orang-orang melihatmu dengan aneh, atau para petinggi Departemen mendadak bicara padamu dengan nada yang tidak semanis kemarin. Banyak hal berubah selama kau absen pagi ini... jadi sebaiknya biasakanlah dirimu."
.
.
.
.
Malamnya, Hanji dapat jatah shift di laboratorium konstruksi. Meski bukan berarti dia tidak datang ke sana kalau sedang tidak ada shift, sih. Hanji bahkan pernah bilang kalau tempat itu adalah tempat favoritnya di Rozanoff; jadi kalau ia tidak sedang menghuni habitatnya di Alfa, kemungkinan besar Hanji bisa ditemukan di sana.
Namun sayangnya, dari semua area di headquarter, sektor Beta ini termasuk salah satu yang sistem keamanannya paling ketat. Jadi bahkan Rivaille yang kemana-mana seringkali tampil ganda campuran dengan Hanji, paling malas kalau si ilmuwan berkacamata itu sudah bertugas di sini. Karena siapapun orang luar yang mau masuk harus punya ID khusus tamu—dan sialnya, sampai sekarang pun, Departemen Riset masih tidak melihat apa perlunya seorang kapten pilot Angkatan Udara masuk ke laboratorium konstruksi (meski toh Rivaille sudah beberapa kali menyelundup bersama Hanji; dan jangan tanya bagaimana caranya).
Laboratorium konstruksi di Airbase Rozanoff, adalah sebuah bangunan besar berbentuk oval berkubah tinggi. Didominasi warna putih, bisa dibilang tempat ini menjadi tempat semua ide-ide diwujudkan. Di satu sisi bangunan ada panel kontrol untuk mengendalikan semua tuas, katrol dan lengan-lengan mekanis, sementara di bagian tengahnya ada pelataran luas tempat Titan dirakit dengan mesin-mesin raksasa.
Dan kalau ada kesempatan menyusup seperti sekarang, Hanji seringkali mengajak Rivaille naik ke lantai empat ruang kontrol—sebagian karena karena di sana tidak terlalu banyak orang, dan sebagian lagi karena view-nya ke bawah lumayan bagus.
"Tampan sekali, ya?"
Rivaille otomatis tersedak. Untuk sesaat ia mengira pujian itu ditujukan ke dirinya, tapi kemudian membantahnya sendiri—karena jelas sekali, mata Hanji masih mengarah ke lantai bawah. Tapi untungnya, sesaat sebelum kalimat pedas seperti 'Lobus oksipitalmu pindah ke lutut, ya?'terlontar dari mulutnya, Rivaille sadar kalau ini bukan yang pertama kali.
Hampir semua pemikir hebat dunia punya anomali, begitu kata pepatah; Rivaille mengingatkan dirinya sendiri. Jadi selama Hanji tidak bertindak kelewatan (menikahi Titan, misalnya? Siapa tahu?) sebisa mungkin Rivaille akan berusaha untuk tidak protes.
"Well, koreksi kalau aku salah; tapi kurasa… ini tidak jauh berbeda daripada terakhir kali aku melihatnya."
Wanita itu mengangguk, bahkan tanpa sedikit pun mengalihkan fokus dari Titan—yang menjadi pusat dari semua kesibukan di lantai dasar. "Iya, memang. Kemarin kami hanya memperbaiki kerusakan di launcher.Tapi mumpung dia masih ada di sini, kami juga melakukan beberapa upgrade kecil. Tidak akan kelihatan kecuali kau melihatnya dari dekat. Itu pun kalau kau tahu harus melihat ke mana."
Rivaille mengantongi tangannya di saku jas putih yang ia kenakan untuk menyamar. Yah, kadang dia merasa dirinya dan Hanji memang diciptakan untuk satu sama lain seperti sepasang blok Lego; tapi kadang juga ia merasa mereka berdua berada di kutub yang sama sekali bertolak belakang.
Dan obsesi Hanji pada Titan, adalah salah satu misteri mekanisme pikiran manusia yang belum bisa dia pecahkan.
Tapi kalau diingat-ingat lagi, rasanya baru kali ini Rivaille melihat Hanji diam selama itu hanya untuk menatap terpesona pada satu benda. Lengkap dengan mata berbinar dan senyum lebar. Sekilas, orang pun barangkali akan mengira dia sedang jatuh cinta kalau tidak tahu apa yang ada di sisi seberang.
"Kau... sebenarnya masih keberatan, kan?"
Hanji spontan menoleh. Lalu berdehem kikuk. "Err… tidak, kok. Kenapa kau berpikir begitu?"
Rivaille mengerutkan alis. Entah bagaimana setelah sekian lama, Hanji masih saja kaget setiap kali ada orang yang menyuarakan perasaannya—yang mana kalau boleh jujur, sebenarnya memang tidak begitu sulit untuk dibaca di waktu-waktu tertentu. Seperti sekarang, misalnya.
"Biar kutebak. Kau masih ingin duduk di kursi VIP dalam uji coba perdana Titan, mengenakan kacamata hitam, melihat kubah api di langit, merasakan bumi bergetar dan angin yang menerpa ketika bomnya meledak di kejauhan."
"..."
"Karena kau selalu ingin menguji sejauh mana kemampuanmu. Membuktikan bahwa kau bisa, meski hanya pada dirimu sendiri."
Menyadari kalau tidak ada gunanya berdebat dengan sang rekan, Hanji pun akhirnya menyerah dengan tawa kikuk. "Ah... ya ampun, Ravioli. Tidak perlu dipertegas, please.Jangan membuatku jadi merasa seperti maniak."
Si pria berambut hitam setengah mati menahan diri untuk tidak bertanya, memangnya selama ini kau tidak merasa?
Sementara itu di bawah sana, sebuah konstruksi raksasa berdiri dengan megahnya di antara enam tiang penyangga. Untuk alasan efisiensi, Titan dibuat dalam bentuk blok-blok yang dipisahkan berdasarkan fungsinya. Barulah setelah semua selesai, satu demi satu modul akan diluncurkan dan dirakit langsung di orbitnya.
"Tapi Ravioli, kalau dipikir-pikir lagi... bukankah sebenarnya semua orang di organisasi ini maniak?" celetuk Hanji kemudian, sambil menumpu dagu dengan tangan kirinya."Kita semua makhluk maniak dengan spesifikasi yang bervariasi. Yah, maksudku—sebenarnya, kita semua bisa saja menghancurkan dunia dengan cara yang berbeda. Erwin dengan manipulasi, Jenderal dengan kekuasaan, kami dengan Titan, dan kau... mungkin dengan pesawat Transformer. Siapa tahu."
"Kalau kau sedang berada di pengadilan dan menggunakan argumentasi itu sebagai pembenaran, aku cukup yakin kau akan langsung dijatuhi hukuman maksimal."
Wanita itu melirik pria di sebelahnya, melempar cengiran konyol, lalu tertawa sendiri.
"...Baiklah, aku akui. Bukankah wajar, Rivaille, kalau manusia tidak bisa begitu saja melepas apa yang sudah mereka perjuangkan sekian lama?"
"Oui, oui.Tapi sekarang kita sedang membicarakan soal—"
"Soal benda mengerikan yang bisa menghancurkan satu negara dalam lima detik?" potong Hanji cepat, "Bisa jadi. Tapi tahukah kau, kalau proyek ini berhasil, Titan adalah sebuah lompatan besar dalam teknologi nuklir? Kalau kau melihatnya dari sisi lain, ini adalah hasil kerja keras ratusan orang yang mendedikasikan diri pada ilmu pengetahuan. Yang bekerja siang malam. Yang mengerahkan energi tidak sedikit hanya untuk menarik keluar benda ini dari dunia imajinasi dan membuatnya jadi nyata."
"Kadang aku berpikir, dunia tidak adil ketika seorang arsitek bisa membangun apapun yang ia sukai… tapi aku tidak. Aku scientist, bukan teroris, Rivaille. Aku tidak mau membunuh orang. Aku hanya anak kecil di taman bermain raksasa, bereksperimen dengan apa saja yang bisa dia temukan."
"Ah, sudahlah. Lupakan saja. Aku tidak bisa memaksa semua orang untuk mengerti. Toh aku juga tidak pernah paham bagaimana kau bisa melompat dari pesawat berketinggian 13 ribu kaki tanpa membuat nyawamu tercecer di sepanjang perjalanan menuju bumi. Ha ha."
Sekilas Rivaille bisa menangkap kilatan kacamata Hanji beserta iris cokelat di bawahnya, ketika kemudian ia kembali menatap Titan. Tapi sekarang sorotnya sedih. Yah, sejak awal, dia memang tidak pernah peduli apa kata orang. Bahkan sampai sekarang pun, Rivaille masih belum sepenuhnya bisa memahami pola pikir Hanji Zoe—yang agaknya memang sedikit melenceng dari logika Aristotelian.
Pria itu terdiam. Menghela nafas panjang.
Ditatapnya raksasa itu sekali lagi, dari atas ke bawah. Kulit logamnya berkilau di bawah cahaya lampu yang terang-benderang.
Mungkin, iajuga tidak sebenci itu pada Titan.Benda itu hanya alat. Harusnya dia membenci orang-orang di belakangnya—yang dengan liciknya memanfaatkan kecintaan orang-orang seperti Hanji pada ilmu pengetahuan, untuk kepentingan mereka sendiri.
Rivaille tersentak ketika tiba-tiba Hanji meninju bahunya.
"Tapi jangan khawatir, aku akan tetap melanjutkan rencana kita, kok. Kalau tidak, aku akan jadi manusia paling egois di muka bumi. Iya kan? Hahaha."
Wanita itu tertawa. Membuat Rivaille sedikit lega.
"Mungkin aku akan resign saja setelah masalah ini selesai. Lalu mendaftar jadi dosen di tempat aku kuliah dulu."
"Demi Tuhan, Mata Empat, jangan. Jangan dosen," sahut Rivaille cepat. Serius, dia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau ia menyebarkan virus ideologinya yang menjurus sesat itu ke semua orang. Satu Hanji Zoe saja sudah cukup untuk satu planet, terima kasih. "Pindah instansi saja. Aku yakin Departemen Energi akan senang menerimamu."
Hanji tertawa lepas.
"Akan kupikirkan," ujarnya, sambil kemudian menggandeng lengan Rivaille dan menariknya menuju lift ke gedung sebelah. "Ayo. Kita mulai tahap pertama operasi kita. Bagaimana kalau dengan… minum kopi?"
.
.
.
.
"Argh, astaga. Perangkat lunak memang bukan spesialisasiku!"
Hanji mengerutkan dahi ketika menghadapi kode-kode di layar komputer. Kontras sekali dengan semangatnya ketika ia berhasil masuk ke ruang server, dan sekali lagi menyusupkan satu pilot tanpa kartu ID ke dalamnya. Tapi terlepas dari erangan frustrasinya setiap lima detik, Hanji masih tampak serius menggulir halaman-halaman—dan bahkan mencatat sesuatu di notebook—, jadi sepertinya ia tahu apa yang ia lakukan.
Dan sementara sang rekan bekerja, Rivaille hanya bisa mengamati dari belakang, untuk pertama kali dalam hidupnya merasa tidak berguna. Well, Hanji tidak hiperbolis ketika bilang dirinya payah di hal-hal semacam ini. Mungkin lebih baik tadi dia tinggal di luar, atau sekalian saja kembali ke ruangannya.
"Harusnya Mike ada di sini," bisik Rivaille. "Dia akan bisa membantu."
"Yeah. Atau Moblit."
"Bukankah Mike lebih ahli untuk urusan… seperti itu?"
"Tentu, tidak ada yang pernah meragukan Mike Zakarius. Mungkin Tuhan tidak sengaja meng-upgrade chipnya terlalu tinggi waktu menciptakan dia."
"Hmm. Kalau begitu… kenapa tidak panggil Mike sekalian?"
"Kurasa belum perlu. Akan mencurigakan kalau dia tiba-tiba datang ke sini," jawab Hanji. "Lagipula, Moblit lebih sering bekerja denganku, jadi pengetahuan praktisnya soal fisika dan kimia akan sangat membantu."
Rivaille menghembuskan nafas keras-keras. Lama-lama kesabarannya menipis juga. "Ada apa sih sebenarnya antara kau dengan Moblit? Kalian baru berpisah beberapa bulan, astaga."
Hanji mendadak berhenti, lalu memutar kursinya ke arah Rivaille. "Apa katamu? Harusnya aku yang bertanya! Ada apa sih antara kau dengan Moblit? Mau di Edwards, mau di Rozanoff, masih saja kucing-kucingan! Kalian ini sebenarnya kenapa, hah?"
Rivaille yang tadinya tidak mengantisipasi counter-attack, otomatis langsung speechless. Sial, bagaimana caranya menjawab pertanyaan semacam itu tanpa mengimplikasikan kalau dia cemburu?
Cukup lama keheningan menggantung di ruangan, sampai akhirnya Hanji tidak tahan lagi. Ia berdiri, membereskan peralatan, lalu mengeluarkan kartu ID dan alat peretas dari kantong jasnya. Wanita itu melangkah melewati Rivaille, menuju ke pintu.
"Sudahlah. Mungkin kita memang perlu sedikit refreshing," katanya kemudian, bersamaan dengan denting yang familiar ketika pintu kaca bergeser terbuka. "Katamu Airbase ini tidak sebesar pangkalan kita di California, benar? Jadi… tidak keberatan kalau kita jalan-jalan sebentar, kan?"
.
.
.
.
"Di sini sepi, ya."
Begitu komentar Hanji waktu mereka berdiri di puncak menara prisma, bangunan tertinggi Airbase Rozanoff yang ada di sektor Gamma. Rivaille mengangguk membenarkan. Kalau dilihat dari atas, memang hanya beberapa titik saja yang kelihatan sama aktifnya dengan di siang hari.
"Jadi kita hanya berdua."
"Iya."
"Hmmm." Jeda sejenak. "Jadi… bagaimana, Ravioli?"
Rivaille refleks menoleh ketika namanya dipanggil. Tapi pandangan Hanji masih terfokus ke kubah Beta di kejauhan.
"Jadi apa?"
"Kau… masih tetap tidak mau mengatakannya?"
"Oui?Mengatakan apa?"
Rivaille mengerutkan dahi, tidak mengerti. Tapi kemudian ketika Hanji menoleh ke arahnya dengan sebelah alis terangkat dan senyum lebar, dia tertegun. Entah kenapa perasaannya langsung jadi tidak enak.
"Tiga kata ajaibnya. Padahal aku sudah datang sejauh ini untuk menemuimu, menyeberangi separo bumi."
—Eh...?
Sampai sini, pemuda itu terkesiap. Jangan bilang Hanji bicara soal—
"Atau mungkin... ternyata kita memang tidak sedekat yang kukira?"
Lalu jeda lagi. Lama. Tapi sepertinya Hanji tidak keberatan menunggu, karena selanjutnya ia hanya diam saja sambil mengangkat alis; seperti sengaja tidak menginterupsi Rivaille yang mendadak kelabakan—tidak tahu bagaimana ia harus merespon. Hei,bukankah seharusnya pria yang mengambil langkah pertama untuk hal-hal semacam ini? Supaya dengan begitu dia bisa punya ruang untuk mengambil langkah-langkah strategis; dan bukannya dikejutkan dengan pertanyaan aneh yang muncul dari antah berantah seperti ini!?
"Pepatah Cina kuno bilang, bahwa di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa disembunyikan... yaitu bersin dan cinta. Hahaha," ujar Hanji, setelah Rivaille rupanya masih saja diam setelah beberapa menit yang kikuk. "Tapi itu cuma hipotesa, sih. Karena menurut satu buku yang pernah kubaca, manusia terprogram untuk cenderung menyukai apa yang familiar bagi mereka. Benda-benda yang paling sering kita lihat, tempat-tempat yang paling sering kita datangi, orang-orang yang paling sering kita jumpai. Jadi bisa dibilang, determinan utama dalam ketertarikan interpersonal adalah kedekatan fisik."
Rivaille memicingkan mata.
"Jadi? Hari ini kau beralih dari ilmuwan jadi psikolog?"
"Itu pemikiran Robert Zajonc yang sudah diakui secara global sejak abad 19. Dasar teori dari hipotesa nomor satu: bahwa kau..."
Hanji tidak melanjutkan kalimatnya. Lalu sunyi, lagi.
"Oh. Jadi selama ini kau tahu?" tanya Rivaille, akhirnya, tidak yakin harus bagaimana supaya tidak kelihatan terlalu awkward. Dia mencoba tertawa, tapi kemudian malah nada sarkastis yang muncul entah dari mana. "Ha. Aku merasa… dibodohi."
Hanji melirik sang rekan dari ujung mata. Senyum jahilnya entah bagaimana kelihatan agak lebih menjengkelkan dari biasanya. "Yah… sebenarnya... aku cuma ingin mendengarnya langsung darimu."
"Untuk apa? Kau kan sudah tahu."
"Kau masih sama keras kepalanya seperti terakhir kalinya kita berpisah di California, ya," ujar Hanji sambal menggelengkan kepala. "Kukira jarak dan waktu akan meluluhkanmu, tapi ternyata tidak juga. Hahaha."
Satu cengiran lagi. Kali ini lebih lebar."Padahal kalau kau bertanya, Ravioli, aku yakin kau sudah tahu apa jawabanku."
Rivaille memutar mata. "Tentu saja aku tahu. Kau akan menolak semua pria hanya demi menunggu Robert Oppenheimer bangkit dari kubur untuk melamarmu. Atau kalau akal sehatmu masih tersisa, Moblit mungkin akan jadi pilihan yang paling logis. Dia akan selalu bisa berada di sekitarmu untuk memastikan kau tidak mati konyol."
Hanji menggaruk kepalanya, tidak paham bagaimana arah pembicaraan ini jadi melenceng ke mana-mana. Apalagi ketika nama Moblit dibawa-bawa, lagi (bocah malang, dia pasti bersin-bersin terus seharian ini di Edwards sana). Dan Rivaille segera menyadari itu, tentu saja—tapi apa boleh buat. Sudah kepalang basah. Akhirnya ia menghela nafas panjang... dan melanjutkan argumentasinya.
"Tapi asal kau tahu saja, keibuan itu normalnya bukan sifat bawaan kromosom Y, jadi sebaiknya coret itu dari daftar kriteria pria idamanmu."
Wanita itu makin bengong. Dan bukan sepenuhnya salah Hanji sih kalau dia tidak paham. Lagipula Rivaille masih seratus persen yakin, Hanji tidak cukup peka untuk menebak kenapa beberapa tahun belakangan ini dia jadi agak sensi ke sang asisten.
"Kau ini bicara apa, sih?"
"Sudahlah. Lupakan."
Jeda. Agak lama. Rivaille mulai bertanya-tanya apa dia salah bicara. Ia tidak pernah punya pengalaman dengan wanita di luar hubungan profesional, demi Tuhan.
Setidaknya, sebelum Hanji berceletuk lagi.
"Kalau menurutmu kata 'keibuan' itu tidak boleh dipakai untuk pria, lalu... bagaimana aku menyebut orang sepertimu?"
"...Pardon?"
"Orang yang selalu bisa bangun pagi tanpa alarm, yang membuat sarapan tanpa membuat roti tawarnya gosong di dalam toaster. Yang mengingatkanku untuk hal-hal kecil, yang punya kekuatan ajaib untuk menemukan barang-barang yang selalu lupa aku letakkan di mana."
Rivaille mendengus."Tetap saja, kata 'keibuan' itu benar-benar gender-specified. Aku tidak percaya kau belum pernah mendengar kata 'kebapakan'."
"Noooo. Kalau 'kebapakan', itu berarti orang yang bekerja full time untuk menghidupi keluarganya, orang yang bisa mendadak jadi sopir dengan skill pembalap professional ketika kau terlambat, orang yang selalu tidur lebih larut menunggumu pulang, orang yang tidak pernah mengaku kalau dia sayang padamu—tapi akan jadi pembelamu yang paling depan kalau kau terlibat masalah."
"..."
Rivaille diam. Hanji diam. Keduanya saling melirik, dan ada kontak mata sekilas sebelum Rivaille membuang muka dan Hanji tertawa lagi.
"...Eh. Entah kenapa aku punya firasat kau akan jadi single-parent yang baik. Traits-mu bagus di kedua sisi. Hahahahaha."
Rivaille menjitak Hanji. Pujian macam apa itu.
"Tapi jujur saja, Ravioli… sebenarnya dari awal aku tidak pernah berharap banyak padamu. Karena mau dilihat dari manapun, kau tidak tampak seperti orang yang tertarik dengan komitmen."
"Dan kau, tampak seperti orang yang akan menjadikan anakmu sendiri objek penelitian mutasi genetik pembuatan manusia super."
Suara tawa tertahan lolos dari bibir keduanya, bersamaan.
"Jadi?"
"Kita akan jadi keluarga yang aneh."
"Kedengarannya patut dicoba…."
"Sepakat."
Rivaille mendekat selangkah, memiringkan kepala. Sampai akhirnya mereka cuma berdiri berhadapan, berjarak satu rengkuhan tangan. Setelahnya tidak ada yang berani bergerak lebih dari itu. Tapi setidaknya, baru kali ini Rivaille tahu kalau rupanyaseorang Hanji Zoe juga bisa tersipu.
"Kurasa kita sudah terlalu tua untuk drama."
Kemudian pria itu menjentik kacamata Hanji, dan mundur lagi ke jarak standar. Hanji Zoe lebih tinggi lima senti darinya, ditambah ekstra lima senti lagi dari hak sepatunya, dan dia benci mendongak ke atas ketika memandang orang. Well,tapi tetap saja… kadang Rivaille masih susah sekali percaya, kalau rekannya yang satu ini sudah betulan tumbuh dari gadis nekat yang pernah menyamar jadi prajurit laki-laki cuma demi jatah makanan ekstra, menjadi ilmuwan yang masuk ke nominasi penghargaan Nobel.
"Baiklah, begini saja. Kalau nanti kau bisa menyelesaikan proyek ini... aku turuti keinginanmu. Pendak atau panjang, aku akan katakan semua yang mau kau dengar," ujar Rivaille, akhirnya. Membuat sang rekan yang tadinya cemberut langsung kembali menatapnya dengan mata berbinar bak anak kecil ditawari permen.
"Oh ya? Serius, nih?" tanya Hanji, dengan antusiasme yang entah bagaimana membuat Rivaille langsung menyesali tawarannya sendiri.
"Kan tadi kau yang minta."
"Iya, iya." Senyumnya melebar. "Dalam bahasa Prancis?"
Rivaille memutar mata. Ia masih belum sepenuhnya paham bagaimana seseorang bisa punya fetish terhadap sebuah bahasa; tapi toh ia menerima syarat itu juga. Lagipula barangkali nanti ia bisa membacakan prakiraan cuaca dari Meteo French International, dan Hanji tetap akan mengira itu semacam surat cinta.
"Pas de problème.Tidak masalah."
"Ditambah puisi Edgar Allan Poe?"
"Apa-apaan itu."
"Dan meneriakkanya dari ketinggian 20 ribu kaki?"
"Yang ini sama sekali tidak relevan."
Hanji tertawa."Kalau kau tidak mau menerima tantangan, dari mana serunya? Ayolaaah."
Oke, bahkan sampai detik ini pun, Rivaille masih tidak paham; bagaimana wanita yang ingin dia lamar dan ilmuwan psikomaniak yang menunggu untuk dilempar dari pesawat ke belantara Afrika, bisa berada dalam satu tubuh.
"Aku masih tidak percaya kalau motifmu untuk semua request konyol ini adalah untuk kemajuan hubungan kita, dan bukannya untuk membuatku dipecat dari Armee de l'Air gara-gara tindakan memalukan."
"Hahahahahahahahaha."
"Tapi sebentar." Nada serius Rivaille yang tiba-tiba, langsung membuat tawa Hanji surut. "Sebelum kita lebih jauh lagi, aku harus tahu sesuatu."
"Ya?"
"Ini tentang... kau dan Moblit. Gosip yang beredar di Edwards. Yah, kau tahu..."
Hanji menelengkan kepala, bingung."Huh? Gosip yang mana?"
"Yang soal kau… berciuman dengan Moblit di ruang kerja," jawabnya "Semua orang di headquarter berpendapat kalau tindakan semacam itu di depan umum dan saat jam kerja itu sangat tidak profesio—"
Kalimat Rivaille berhenti di tengah-tengah, ketika tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya. Tanpa peringatan. Pria itu melongo, lagi, matanya membulat. Dan sama sekali tidak membantu, ketika kemudian klarifikasi yang diterimanya dari Hanji hanya sebuah kalimat singkat.
"Seperti itu."
Entah sudah berapa kali Rivaille merasa konyol hari itu. Dan ini puncaknya. Oke, mungkin mestinya dia senang. Tapi kau tidak pernah bisa benar-benar senang kalau kau bingung. "A-apa?"
"Berani sumpah, hanya seperti itu," jelas Hanji, "Hampir refleks, malah. Hari itu Moblit membantuku menulis laporan kerja satu tahun dalam lima jam; dan itu adalah tindakan penyelamatan paling epik di sepanjang karirku. Tapi ya ampun, sampai sekarang pun aku masih tidak bisa mengerti kenapa kejadian kecil begitu bisa jadi berita besar. Bukankah yang seperti itu terjadi setiap hari? Kita mencium sebuah buku bagus ketika menemukannya di perpustakaan. Kita mencium slip gaji. Kita mencium ponsel ketika mendengar kabar baik dari telepon. Kita mencium layar kalau tokoh favorit kita muncul di televisi. Bagian mananya yang salah?"
"Objeknya, Hanji. Objeknya."
Si wanita berkacamata kemudian terbahak. "Ah, harusnya kau melihat reaksi Moblit. Dia biasa saja pada awalnya, karena dia kenal aku seperti apa. Tapi kemudian gosip bodoh menyebar, dan baru berbulan-bulan setelah itu dia baru berani menatap aku lagi. Hahaha. Anak yang malang."
Rivaille memicingkan mata. Dia tidak menangkap bagian mananya yang lucu.
"Kau yakin hanya seperti itu?"
"Kurang lebih, iya."
"Baiklah, baiklah. Aku percaya. Dan aku terima yang tadi sebagai permintaan maaf."
Rivaille menjilat bibirnya. Kemudian memastikan Hanji menatap matanya sebelum ia melanjutkan. "Tapi sebenarnya, bukan begitu caranya mencium orang di Prancis. Pernah dengar tentang French kiss?"
.
.
.
.
[ End. ]
P.S. : 5k words lebih wkwkwk. Maap kalau ada salah-salah kata, materi disini banyak yang ngarang-ngarang. Anyway, thanks for reading! :))))
