Chapter 2 : A Servant!? What Dafuq!?
A/N :
Ini dia chapter 2 [Konohagakuen : Academy for Knights]!
Saya terlalu senang karena baru beberapa jam saya tinggal udah ada lebih dari 100 orang yang membaca fic ini. Jadi untuk tidak memperpanjang mukaddimah, saya persembahkan chapter 2!
Mungkin ada yang bertanya-tanya siapa Hunters itu. Untuk lebih sederhananya, Hunters adalah makhluk berwujud manusia. Mereka hanya bisa hidup dengan membunuh manusia. Jadi, manusianya diapakan? Ga diapa-apain. Hunters mampu bertahan setelah "mencuri kehidupan". Kalau pecandu Narkoba bisa sakaw kalau ga "make" beberapa lama, begitu pula hunters. Mereka akan sakaw kalau tidak membunuh. Kalau udah sakaw mereka akan berusaha untuk mencari orang untuk dibunuh. Kalo ga ada mereka akan menusuk diri mereka berkali-kali untuk memuaskan nafsu membunuh mereka. Hunters hanya bisa mati kalau kepala mereka yang diserang. Jadi mereka ga masalah kalau cuma menusuk diri sendiri.
Now, ON TO THE STORY!
Disclaimer & warning bisa dilihat di chapter pertama (malas nulis :v lol)
STORY, START!
Hari kamis.
Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku tetap bangun jam 4.30 pagi untuk latihan. Itu hal biasa yang kulakukan selama disini. Aku juga tetap mandi setelah latihan pagi.
"Ini pakaian anda, Naruto-sama." Dan pelayan pribadiku seperti biasa akan menyiapkan pakaianku setiap aku—
Bentar.
"Hinata, sudah kubilang aku bisa menyiapkan semuanya sendiri."
"Tidak. Anda tidak boleh membuang stamina berharga anda hanya untuk mengambil pakaian. Hamba yang akan membawakan pakaian anda setiap anda selesai mandi. Apa anda ingin hamba memakaikan pakaian anda?"
"Tidak! Aku bisa sendiri!"
"Kalau begitu hamba akan menyiapkan sarapan anda—
"Tidak perlu. Aku sudah mempersiapkan apa yang ingin ku masak. Jadi untuk pagi ini aku yang masak."
Oh, aku baru ingat. Ada hal yang baru.
Yah, tidak terlalu baru sih…
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Akademi, jam makan siang.
Biasanya aku makan onigiri di bawah pohon di halaman akademi. Sendirian. Hahaha, menyedihkan memang. Aku tahu.
Sayangnya, sekarang aku ga sendiri lagi.
"Silahkan, Naruto-sama. Aaaa~"
"Hentikan, Hinata. Aku bisa makan sendiri."
"Apa anda tidak ingin makan masakan hamba? Hiks, hamba jadi sedih."
"Mana ada orang nangis dengan nada datar gitu!?"
"Oh, kalau gitu… huuu… huuu…"
"Malah kedengarannya macam setan!"
Yak, sekarang aku sedang makan siang bersama bishoujo tercantik di angkatan kami, Hyuuga Hinata, yang seminggu yang lalu menyatakan dirinya sebagai pelayanku. Sejak saat itu dia selalu berada di dekatku. Seperti yang dikatakannya.
Selalu.
Bahkan pernah menawarkan dirinya untuk menggosok punggungku saat mandi. Tentu saja aku menolaknya.
Bagaimana dengan malam hari? Kami tidur sekamar. Jangan mikir mesum dulu! Kami tidur beda tempat. Awalnya kami memang tidur bersama untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba asramaku diserang. Tapi setelah tahu kalau Hinata tidurnya ga teratur, aku terpaksa mengungsi ke sofa malam itu. Jadinya aku harus membeli satu futon lagi untuk Hinata.
"Naruto-sama, sekelompok orang melihat anda dengan tatapan mencurigakan. Boleh hamba bereskan?" Hinata mencabut rapier di pinggangnya.
"Yang mereka lihat itu kau. Dan itu bukan tatapan mencurigakan. Tapi tatapan penuh nafsu. Kau ga sadar pakaian maid yang kau kenakan tidak menutupi semua dada dan pahamu?"
"Ini demi anda. Hamba khawatir anda tidak tertarik dengan wanita. Karena itu hamba memakai ini untuk memancing birahi anda."
"Ganti pakaianmu dengan seragam normal. Aku akan menunggu."
"Baik, Naruto-sama." Hinata bangkit dari duduknya dan pergi. Tapi tidak lama kemudian dia kembali.
"Apa lagi?"
"Hamba khawatir kalau anda sendirian. Hamba akan menunggu anda selesai."
"… terserah…" Sasuke pernah bilang aku lemah terhadap wanita. Kau benar, bung…
Aku selalu menang berdebat melawan laki-laki. Tapi aku tidak pernah menang kalau adu argumen dengan wanita.
Ngomong-ngomong soal Sasuke, pertandingannya saat ujian melawan… uh… siapa namanya itu…? Tachi-apalah namanya, pertandingan mereka berakhir seri setelah Sasuke mematahkan cutlass Tachi-whatever itu dengan tinjunya. Akhirnya mereka jadi adu tinju. Tapi karena sama-sama kehabisan tenaga, seri deh. Akibatnya mereka berdua dilarang ikut kelas praktek selama tiga minggu. Tapi itu tidak masalah untuk Sasuke. Karena nilai teorinya bisa menutupi nilai kosong tiga minggu itu.
"Naruto-sama, bel akan berbunyi tiga menit lagi. Saya sarankan untuk segera ke kelas agar tidak terlambat." Kata Hinata. Memang benar, tiga menit kurang. Itu waktu yang kubutuhkan untuk kembali ke kelas.
"Ayo. Aku bisa makan sambil jalan." Aku meraih tangan kecil Hinata dan berjalan ke kelas. Oh, aku lupa bilang kalau sejak Hinata jadi… pelayanku… dia dipindahkan ke kelasku dan duduk disebelahku. Tetap dengan pakaian Ero-Maid-nya. Kuharap dia mengganti pakaian itu nanti…
Sampai di kelas, semua orang menatapku dengan tatapan jijik dan marah. Sepertinya rumor aku memperbudak Hinata menyebar. Itu udah biasa. Malah aku pernah difitnah "main serong" dengan guru penjaga UKS, Shizune-sensei. Jujur saja, apa menariknya cewe pettanko?
"Oke, sekarang semua keluarkan buku tulis dan catat apa yang sensei tulis. Dan Uzumaki," sensei memanggilku.
"Ya?"
"Kepala akademi ingin bertemu denganmu sepulang sekolah."
"Uh… oke… memangnya ada apa?" aku bertanya. Ga biasanya murid ranking E dipanggil kepala akademi.
"Nanti juga tahu. Sekarang catat yang dipapan tulis!"
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Sepulang sekolah, Kantor Kepala Akademi,
"Oh, sudah datang? Tunggu sebentar, Uzumaki-san." Pinta kepala akademi. Aku duduk di sofa yang tersedia.
Kepala Knight's Academy ini, Sarutobi Hiruzen, adalah seorang kakek tua yang pernah ikut [Hunters Hunt] ke-14 dulu. Sekarang berhenti bertempur dan ditunjuk memimpin sekolah ini. Beliau adalah kepala akademi ke-3. Kabarnya beliau sedang mencari Knight penggantinya untuk memimpin sekolah.
"Baiklah, Uzumaki-san. Apa kau tahu alasan dipanggil kesini?" tanya kepala akademi.
"Sayangnya tidak. Memangnya kakek butuh sesuatu apa dari murid ranking E?" jawabku. Memang kedengarannya ga sopan, tapi kakek tua ini sudah sangat dekat denganku sehingga pada saat-saat terentu aku memanggilnya "kakek". Lagipula dialah yang dulu merawatku setelah guruku sebelumnya menghilang.
"Hohoho, tidak sopan seperti biasanya, ya. Tapi rapopo lah. Aku memanggilmu karena ini." Kakek menunjukkan sebuah foto kepadaku. Foto seorang wanita berambut merah sepunggung dengan pedang berwarna merah menyala di tangannya. Wanita yang sangat kukenal.
"Foto darimana?"
"Salah satu Knight yang dikirim pemerintah melawannya di Chiba."
"Kapan?"
"Tiga hari yang lalu."
"… Chiba… apa ada orang lain disana? Seperti seorang pria berambut orange jabrik dan seorang pria berambut perak yang membawa pedang besar?"
"Sayangnya aku tidak tahu. Knight itu juga saat itu kembali dalam keadaan terluka."
"…" aku menatap foto itu dengan seksama.
"Naruto-sama… apa dia…"
"Ya. Hinata, bisa tolong lacak keberadaannya dengan kamera satelit? Keluarga Hyuuga bisa melakukannya dengan koneksi mereka 'kan?" pintaku pada Hinata.
"Maaf, Uzumaki-san. Tapi hal itu percuma. Hyuuga Hiashi juga sebelumnya pernah kuminta melacaknya."
"Chichi-ue? Apa benar?" tanya Hinata agak kaget. Baru kali ini kulihat ekspresinya sekaget ini. Bahkan saat aku keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang Hinata tidak kaget sama sekali.
"Itu benar. Kami sudah melakukan segalanya untuk melacak wanita ini. Sayangnya, setiap informasi yang ada sudah kadaluarsa." Mendengar itu aku agak kecewa.
"Karin-nee tidak akan semudah itu ditemukan. Tentu saja… aku baru sadar…" aku menyandarkan punggungku.
"Uzumaki Karin. Orang yang pernah menjadi gurumu dulu. Kalau tidak salah dia sepupu jauhmu. Benar?"
"… ya. Kakek, bisa aku bertemu dengan Knight yang melawannya?" pintaku penuh harap.
"Knight yang kau maksud mungkin tidak akan bisa kau temui."
"… eh? Kenapa?"
"… [Knight yang bertemu dan bertarung dengan Uzumaki Karin tidak akan selamat]. Pernah dengar rumor itu?" pertanyaan itu—tidak, jawaban itu sudah cukup untuk meruntuhkan harapanku.
"… setidaknya aku tahu dia masih hidup…" tanpa sadar aku meneteskan air mata.
"Sekarang kembalilah ke asrama. Hyuuga-san, tolong rawat Uzumaki-san dengan baik."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Aku kembali ke asrama setelah membeli bahan masakan untuk beberapa minggu ke depan. Di pulau ini kami bisa mendapatkan bahan masakan gratis selama kami masih murid Knight's Academy. Hanya bahan masakan. Bukan makanan sudah jadi. Cukup dengan menunjukkan kartu pelajar, kami dapat bahan masakan gratis. Praktis, kan?
Sayangnya, aku bukan murid ranking B. Murid ranking B keatas bisa dapat diskon makan di beberapa kedai makan disini. Murid ranking D bisa dapat diskon makan siang di kantin akademi sebanyak 20%. Bahkan bisa dapat snack gratis kalau kau murid ranking A-. Untuk sekarang bahan masakan gratis saja sudah cukup untukku. Jadi aku bisa menyimpan stok untuk beberapa minggu bahkan bulan ke depan.
"…" disebelahku Hinata berjalan menunduk. Entah sudah berapa kali kepalanya terantuk tiang karena tidak memperhatikan jalan.
"Hinata, tegakkan kepalamu. Nanti nabrak lagi, lho…"
"…" masih diam…
"Oi, Hina—
"Hamba mohon maaf, Naruto-sama." Akhirnya Hinata buka suara.
"Maaf kenapa?" tanyaku.
"… bukan apa-apa… " ? bukan apa-apa katanya?
"… terserah. Yang penting, nanti bantu aku masak. Sasuke katanya mau datang main ke asrama."
"Baik, Naruto-sama."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Seperti yang kukatakan. Sasuke MEMANG datang untuk MAIN. Di kamar asramaku ada banyak game console yang kubeli dari uang tabunganku. Biarpun cuma game lama dengan grafis 32 bit. Setidaknya ini sudah cukup mengusir kebosananku. Tiap kamar asrama dilengkapi fasilitas free Internet dan satu PC. Tapi spesifikasi PC yang tersedia tidak cukup untuk main game yang grafisnya diatas 64 bit.
"Naruto, aku udah sampai di dungeon lantai lima. Sekarang gimana cara ngalahin boss-nya?"
"Equip senjata dengan afinitas elemen air. Kalo ga ada balik dulu ke tempat kau terakhir melawan mini-boss. Nanti bisa dapat [Aqua Blade]. Boss dungeon ini berelemen api. Dengan memakai senjata elemen air kau bisa dapat critical hit lebih sering. Jangan pakai senjata elemen angin. Kalau kau bisa bertahan dengan HP diatas 50 persen kau akan dapat bonus item. Kalau aku sih kemaren dapat [Stealth Cloak]. Ga tau kalau sekarang." Aku menjelaskan panjang lebar sementara aku dan Hinata memasak. Ini sudah biasa. Kadang aku yang main ke asrama Sasuke dan dia yang menyiapkan makanan. Sekarang karena ada Hinata aku bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
"Naruto-sama, natto-nya (kacang merah fermentasi) mau diapakan?"
"Simpan aja dulu. Kalau nanti perlu kita keluarkan."
"Naruto-sama, dagingnya sudah matang."
"Angkat dan bawa ke meja makan."
"Baik, Naruto-sama." Seperti inilah setiap hari. Aku dan Hinata selalu menyiapkan makan bersama-sama. Tapi Hinata-lah yang paling banyak kerja. Dia takut kalau saat aku mengiris bahan, tanganku akan terluka. Atau saat masak nanti aku kena percikan minyak panas.
"Oy, Sasuke. Makan malam sudah siap." Aku memanggil Sasuke. Tak lama kemudian dia datang dan duduk manis seperti anak kecil menunggu makan malam favoritnya.
"Nih, nikujaga (daging dan kentang rebus) pake tomat dengan saus tomat dan irisan tomat ekstra. Minumnya jus tomat murni ga pake es dan susu." Aku menghidangkan masakan untuk Sasuke. Serba tomat? Yep. Anak klan elit satu ini ga bisa bertahan dua hari tanpa tomat.
"Silahkan, Naruto-sama. Miso ramen dengan tambahan daging dan bakso ikan ekstra tanpa rebung favorit anda. Minumnya teh tarik." Hinata menghidangkan makanan dan minuman favoritku. Aneh? Memangnya kenapa? Aku suka ramen. Dan teh tarik adalah salah satu yang terbaik!
Sedangkan makanan Hinata…
Salad. Cuma seporsi kecil salad dan jus jeruk. Ga ada tambahan lain.
"Naruto, kau majikan yang kejam." Tiba-tiba Sasuke mengatakan itu.
"EH!? Kenapa!?"
"Kau memberikan porsi kecil makanan untuk pelayanmu? Majikan macam apa…"
"Bukan! Itu Hinata sendiri yang bikin! Tiap malam makannya emang cuma secuil itu. Katanya untuk menjaga pola makan." Aku membela diri atas tuduhan Sasuke. Yah, ini emang pertama kalinya aku mengajaknya makan malam sejak Hinata tinggal bersamaku.
"… dikit amat…" ujar Sasuke dengan wajah tidak percaya.
"Bukan cuma kau sendiri yang pernah bilang itu." Ucapku. "Kau akan kaget kalau tau apa sarapannya." Tambahku.
"Sebutir nasi?" tebak Sasuke.
"Bukan. Sarapan Hinata terdiri dari diantaranya telur goreng, yakisoba (mi goreng), ramen, nikujaga, daging panggang, roti panggang, dan burger. Semuanya dalam porsi ekstra." Jawabku. Sasuke kembali kaget.
"Hamba butuh banyak energi dari pagi. Pola makan yang baik yang diajarkan ayahanda adalah pagi seperti babi, siang seperti ratu, dan malam seperti pengemis." Ujar Hinata.
"Bisa tolong jelaskan itu?" pinta Sasuke.
"Pagi : makan banyak macam babi untuk suplai energi seharian. Siang : makan yang tidak terlalu banyak yang setidaknya cukup untuk melanjutkan hari. Malam : porsi sangat sedikit macam fakir miskin karena kita tidak melakukan aktivitas lagi dan tidak perlu energi banyak. Begitulah kira-kira." Jelasku.
"Kalau kau yang jelasin kedengarannya aneh tapi aku cepat ngerti…" tanpa basa-basi lagi kami mulai makan hidangan yang tersedia.
Selesai makan malam Sasuke kembali melanjutkan game-nya yang tadi tertunda. Aku juga ikut main di PXP kesayanganku (anggap aja plesetannya PSP—oops… nyebutin merk. Lol :v). Sedangkan Hinata memperhatikanku.
"Mau coba?" tawarku pada Hinata. Pada awalnya Hinata menolak dengan alasan tidak pandai. Aku menawarkan untuk mengajari Hinata. Setelah beberapa menit Hero Character Hinata berhasil mencapai level 5. Memang tidak secepatku yang mampu mencapai level 15 hanya dalam waktu 15 menit bermain. Tapi itu merupakan pencapaian yang luar biasa untuk pemula seperti Hinata.
"Naruto, boss dungeon lantai tujuh menjatuhkan item." Sasuke melapor dan aku melihat Sasuke mendapat item yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"[Crescent Pole], senjata tipe tongkat berelemen cahaya. Whao! Sasuke! Siapa sangka kau bisa dapat item ultra rare! Bahkan aku yang sudah sampai lantai 15 belum pernah mendapatkannya!" aku berseru setelah melihat item yang didapat Sasuke.
Kami terus bermain game hingga jam menunjukkan pukul 1.44 am. Tanpa sadar kami sudah terlalu lama bermain. Dan seperti biasa, Sasuke menginap ditempatku.
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Besoknya aku pulang ke Tokyo bersama Hinata untuk menemuai seseorang. Seseorang yang kukenal sudah sangat lama. Kami berangkat dari pulau Yuusha menggunakan helikopter pribadi Hinata (entah kenapa dia bisa punya izin sebagai pilot helikopter). Sampai di Tokyo kami naik kereta lagi ke Akihabara. Disanalah aku akan menemui Akimichi Chouji. Orang yang pertama kali mengenalkanku ke dunia video game. Dia menjalankan usaha toko game disini. Toko "Shichinin Nakamatachi (Tujuh Sahabat)". Haha, memang nama yang aneh…
"Oh, Naruto. Silahkan masuk! Ada apa kau berkunjung ke tokoku?" Chouji menyapaku dengan ramah seperti biasa.
"Aku mau beli joystick baru. Punyaku yang lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Apa kau masih punya tipe yang seperti punyaku dulu?" tanyaku penuh harap.
"Ya. Beruntung pembeli sebelumnya tidak jadi beli. Ini stok terakhir." Chouji menyerahkan joystick yang kuinginkan padaku. "Seperti biasa. Kau tidak perlu membayar."
"Jangan begitu. Aku jadi tidak enak cuma aku yang dapat keistimewaan seperti ini. Nih, 5000 yen, kan?" aku meletakkan selembar uang 5000 yen di meja Chouji. Ia hanya menerima dengan pasrah.
"Satu lagi, Naruto. Kau pasti tahu kabar 'itu' bukan?" pertanyaan Chouji sedikit menarik perhatianku. Untung di toko ini cuma ada kami.
"Kabar soal Karin-neechan yang menyerang seorang Knight? Ya."
"Tadi aku melihat Suigetsu." Ucapan Chouji membuatku menjadi tambah yakin Karin-neechan ada di Jepang.
"Apa kau melihat Karin-neechan dan Juugo-nii?" tanyaku.
"Tidak. Aku cuma melihat Suigetsu. Seperti biasa. Dia masih membawa-bawa pedang kelewat besar itu."
"Kubikiribocho (Pemenggal leher). Itu namanya."
"Terserah. Yang penting, aku melihatnya sekitar jam 6 pagi tadi saat baru datang ke toko. Dia terlihat waspada."
"… tadi pagi… terima kasih infonya. Oh, satu lagi. Sasuke pesan gaming mouse tipe yang sama dengan yang dulu. Sekarang aku pergi dulu. Jaga diri, Chouji."
"Ya, ya. Hati-hati Naruto."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Setelah ke toko Chouji aku mengajak Hinata makan siang di maid café di sana. Café satu ini adalah langgananku karena aku mengenal pemiliknya dan beberapa pegawai disana.
"Ah, okaerinasai, Naruto-sama~! Tempat seperti biasa?" tanya salah satu maid yang ada disana. Namanya Hanayama Akane, teman sekelasku waktu SMP dulu.
"Ya. Kali ini untuk dua orang." Ujarku sambil menunjuk Hinata di belakangku.
"Oya? Kali ini Naruto-sama membawa teman? Oke, silahkan ikuti saya~!" kamu pun mengikuti Akane ke meja belakang. Kami memesan seporsi omelette rice. Sambi menunggu pesanan aku membaca koran yang kuambil dekat meja kasir. Disana aku melihat berita tentang seorang gadis berambut merah tertangkap kamera sedang beradu pedang melawan seorang Knight. Aku membaca isi berita dengan seksama sampai seseorang datang menghampiri mejaku.
"Jadi kau sudah tahu berita itu?" tanya orang itu. Aku menahan Hinata yang hendak mencabut pedangnya.
"Sebenarnya kouchou-jiji (kakek kepsek) yang memberitahuku. Apa kau juga sudah lama tahu, Shion-senpai?" tanyaku kembali.
Sang pemilik maid café, Hijiri Shion, adalah kenalan yang kumaksud. Beliau adalah seniorku waktu SMP dulu. Kudengar dia berhenti kuliah karena hendak melanjutkan bisnis keluarganya—menjalankan maid café—dan membantu keuangan keluarganya setelah ibu beliau meninggal.
"Saat kejadian itu berlangsung salah satu pegawaiku melihatnya. Tentu aku tahu. Lagipula tidak semua orang bisa secara langsung melihat sang legenda "Kurenai Suisei" (komet merah darah) bertarung. Apalagi yang dilawannya adalah salah satu Knight peringkat tinggi." Jawab Shion-senpai.
"Senpai, dari berita-berita yang beredar dikalangan Knight dan anggota badan pemerintahan aku mendengar kabar tidak baik tentang kelompok Karin-neechan. Apa senpai tahu tentang [Hunter's Hunt] sebelumnya?" tanyaku.
"Ya. [Hunter's Hunt] saat itu kalau tidak salah yang terburuk sepanjang sejarah. Dari 1500 Knight yang dikerahkan cuma 15 orang yang selamat. Dan dari 3780 Hunter mereka cuma berkurang sekitar 1200-an orang. Kita benar-benar kalah total." Jawab Shion-senpai lagi.
"Saya juga mendengar kalau dari 15 orang Knight yang selamat tujuh diantaranya mengalami gangguan jiwa setelah bertarung melawan Hunter." Ujar Hinata menambahkan.
"Oya? Kau belum mengenalkan teman barumu, Naru-kun." Shion-senpai menatap Hinata lekat-lekat.
"Hyuuga Hinata. Teman satu sekolah." Jawabku singkat.
"Saya juga pelayan Naruto-sama." Tambah Hinata.
"Oya? Akhirnya Naru-kun tertarik pada wanita sampai punya maid?" Shion-senpai melirik ke arahku.
"Ceritanya panjang. Yang jelas dari ujian praktek beberapa hari yang lalu untuk pertama kalinya aku menang dan Hinata membacakan sumpah setia Knight yang ditujukan untukku." Sayangnya Shion-senpai tidak mendengarku.
"Ne, ne, Hina-chan. Tau ga? Waktu SMP dulu aku pernah nembak Naru-kun tapi ditolaknya! Padahal aku udah make baju maid paling ero yang pernah ada lho! Bahkan dia sendiri yang bilang kalau dia ga tertarik sama cewek!" GEH!
"OY!"
"Hamba sebenarnya mengkhawatirkan hal itu. Karena itu hamba memakai seragam yang minim. Sayangnya Naruto-sama melarang."
"Sayang sekali ya~ Padahal ganteng. Tapi ga nyangka kalo Naru-kun ga tertarik sama cewek…"
"OY! Jangan ngomongin orang seolah-olah orangnya ga ada disini!"
"Fufu, becanda kok, Naru-kun. Jangan dianggap serius."
"Meh, bilangin orang ga tertarik sama cewek. Emang siapa yang dulunya ketangkep di ruang ganti cewek lagi masang kamera tersembunyi buat "bahan referensi"?"
"I-i-i-i-i-i-i-itu bu-bu-bu-bukan—
"Ngomong-ngomong rasanya Maid Café ini tambah luas ya?"
"Jangan ngalihin pembicaraan! Hiks, Naru-kun jahat!" ah, Shion-senpai mulai mewek.
"Udah, jangan nangis. Ntar kalo nangis hilang sudah gelar "Senpai Tercantik Tokyo Chuugakko." Jujur aja, senpai kalo nangis jelek banget."
"Hweeee~" cih, sepertinya aku cuma memperburuk keadaan. Untung café lagi sepi dan kami duduk di pojok.
"Oke, sekarang serius. Ada yang ingin kutanyakan." Mendengar nada seriusku Shion-senpai berhenti nangis (secara misterius air mata tadi hilang) dan mendengarku dengan seksama.
"Tadi waktu aku ke toko Chouji dia bilang dia lihat Suigetsu. Apa senpai tidak melihat Suigetsu atau Juugo? Biasanya mereka selalu bareng, kan?" tanyaku penuh harap.
"Sayangnya aku tidak melihat siapapun. Tapi aku melihat seseorang yang membawa pedang besar."
"Berarti itu—
"Bukan." Senpai memotong pembicaraanku. "Pedang itu bukan kubikirobocho. Pedang itu sejenis great sword berukuran lebih besar dari normal. Pedang itu berwarna coklat tua dan di sisi pedang itu terdapat huruf kanji [bumi]." Jelas Shion-senpai.
"Great sword dengan kanji [bumi]? Jangan-jangan itu…!"
"Ya. [Great Earth]. Pedang legendaris yang sangat kuat sampai dikatakan dalam legenda bisa membelah bumi. Dan orang yang kulihat juga membawa busur berwarna hitam." Sambung Shion-senpai.
"Tidak salah lagi. Orang itu… Mangetsu Hozuki… masih hidup." Aku bergumam dengan suara kecil namun masih dapat didengar.
"Bukan. Hozuki bukan masih hidup."
"Eh?"
"Hozuki dihidupkan kembali."
"!? Dihidupkan kembali? Maksudnya?"
Shion-senpai menunjukkanku selembar foto tua, "Dari foto ini apa kau melihat seseorang yang familiar?" aku memperhatikan foto itu dengan seksama. Tidak ada yang aneh sebenarnya. Tapi tanggal diambilnya foto inilah yang menurutku tidak masuk akal.
"Tanggal 19 april 2000? Bukannya itu sudah 30 tahun? Tapi kenapa…"
"Ya. Itulah yang mencurigakan. Orochimaru mengajar di Akademi Konoha kan? Dan dari tampangnya umurnya kira-kira baru kepala tiga. Tapi di foto ini dia terlihat lebih tua. Kira-kira sekitar empat puluhan tahun. Benar?" aku memijit pelipisku.
"Orochimaru-sensei mengajari renkinjutsu (Alkimia/Alchemy) di akademi. Mungkin saja itu yang membuatnya lebih muda." Ujarku. Tapi senpai menggeleng.
"Bukan. Yang membuatnya seperti itu adalah karena dia bereinkarnasi."
"Reinkarnasi? Maksudnya mati trus hidup lagi dalam wujud yang beda gitu?"
"Kurang lebih begitu. Tapi Orochimaru bereinkarnasi dengan tubuh yang sama."
"… aku ga ngerti…"
"Haah… gini nih kalo udah lama ga make otak. Dasar, kalau gitu gimana mau lulus jadi Knight?"
"Berisik. Orang yang berhenti kuliah buat jadi maid diam aja!" ah, salah ngomong…
"Hweeeeee~!" cih, mulai lagi deh ni anak mewek…
"Cup, cup, cup."
"Hinata, dia ga akan diam kalo nada ngomongmu datar gitu…" ujarku deadpanned.
"Kalau gitu, cup, cup, cup~! Nanti kalau nangis cantiknya ilang lho~!"
"Masih sama! Haaah, udah deh. Kalo gitu kami ke tempat lain dulu senpai. Omelette rice-nya enak, tapi masih kebanyakan garam. Daaah~!" aku pergi meninggalkan senpai. Diatas meja sudah ada dua piring yang sudah kosong bersama uang 1000 yen.
"Okeh, tempat selanjutnya…"
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Hasilnya negatif. Kami tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang Karin-nee. Yang jelas Karin-nee tidak berada di Tokyo sekarang. Akhirnya setelah beberapa lama kami memutuskan untuk kembali ke pulau.
"Naruto-sama, radar mendeteksi benda asing mendekat. Sepertinya helikopter lain. Bagaimana?" suara Hinata dari intercom menyentakku.
"Helikopter lain? Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kecepatannya rendah. Kemungkinan benda asing tersebut adalah helikopter sangat tinggi."
"… kita prioritaskan untuk kembali ke pulau. Tambah kecepatan!" Perintahku. Hinata menambah laju helikopter. Helikopter tadi mengikuti. Dan saat kami mendarat di helipad pulau Yuusha helikopter tadi juga ikut mendarat. Dari helikopter itu kulihat seorang wanita berambut pirang membawa pedang besar yang bahkan lebih besar dari ukuran dada—ehm… tubuhnya sendiri. Wanita itu menuju helikopter kami.
"Uzumaki Naruto! Kami membawa pesan dari Perdana Menteri Jepang untukmu! Turunlah!" seru wanita itu. Keras juga suaranya sampai terdengar ke dalam heli ini…
Aku pun keluar dari heli dengan membawa katana tumpulku untuk jaga-jaga. "Saya Uzumaki Naruto." ujarku. Wanita itu melempar amplop coklat kepadaku. Setelah kulihat isinya uang. Uang yang sangat banyak dalam mata uang Dolar Amerika.
"Apa ini?" tanyaku.
"Kau akan menerima sisanya nanti setelah membalas pesan Perdana Menteri." Wanita itu kembali ke helinya dan pergi begitu saja.
-_- Konoha Knight's Academy -_-
"Jadi ini maksudnya?" ujarku saat tiba di asrama. Setelah aku memeriksa e-mail yang masuk ternyata ada e-mail pribadi dari perdana menteri Jepang yang berbunyi, "Jangan cari Uzumaki Karin. Uang itu seharusnya cukup untuk menahanmu di pulau itu. Kalau menolak, pulau Yuusha akan tenggelam."
"Apa maksudnya, Naruto-sama?" tanya Hinata disebelahku.
"Pakai baju dulu, Hinata. Tidak sopan bagi wanita berjalan telanjang di kamar seorang pria." Perintahku. Hinata pergi ke kamar sambil melenggokkan pinggul montoknya.
"Kalau anda sudah selesai, saya sudah siap sedia di futon. Tidak perlu pakai pengaman, hari ini aman kok."
"PAKAI BAJU SANA!" teriakku jengkel sambil melempar bantal. Sebenarnya dia berhasil memancing birahiku. Apalagi tiap malam dia menyusup ke futon-ku dengan bertelanjang. Untungnya aku masih bisa mengendalikan diri.
Aku kembali membaca e-mail dari perdana menteri. Ini sudah jelas pesan ancaman. Perdana menteri mengawasiku. Tapi tidak mungkin perdana menteri memintaku untuk berhenti mencari buronan paling dicari sedunia. Seharusnya dia senang kalau aku membantu mencari Karin-nee untuknya, kan?
PEEP… PEEP… PEEP e-mail baru masuk lagi. Kali ini dari Sasuke.
"Buka link ini sekarang!" Sasuke mengirimkan link suatu situs padaku. Mataku langsung membelalak saat melihatnya.
Foto satu pasukan Knight habis dibantai oleh satu orang bertudung hitam dengan pisau kecil di tangannya. Hunter. Fotonya tidak cuma satu. Sasuke mengirimkan berapa link sekaligus. Aku tidak kuasa menahan muntahku. Pasalnya foto itu sangat… tidak manusiawi. Semua Knight yang habis dibantai tadi dipenggal kepalanya, dikeluarkan otaknya, tubuhnya dimutilasi, isi perut berhamburan, bahkan ada beberapa yang dikuliti hidup-hidup. Sasuke juga mengirimkan link video. Tapi aku tidak berani membukanya.
"Dari mana kau dapat ini?" kukirim pesan tadi ke Sasuke dan jawaban yang kudapat tidak mengherankanku lagi.
"Haruno-senpai."
Haruno Sakura, senior yang setingkat diatas kami. Dia adalah calon Knight terbaik se-angkatan. Selain cerdas caranya memainkan tombak sudah tidak diragukan lagi. Aku pernah bertarung sekali melawannya dan itulah satu-satunya saat dimana aku bertarung serius. Pertandingan berakhir setelah kami sama-sama kehabisan tenaga. Selain calon Knight terbaik dia juga punya jaringan terluas. Semua informasi dari seluruh dunia ada di tangannya.
"Hinata," panggilku.
"Ya, Naruto-sama?"
"Bisakah keluarga Hyuuga mencari sumber dari foto-foto dan video ini?" tanyaku.
"Akan hamba tanyakan." Hinata mengeluarkan HP, tab, dan laptopnya dan mengoperasikan semuanya bersamaan. "Foto-foto dan video ini didapat dari seorang mata-mata dari Prancis. Foto dan video ini diambil di daerah sekitar gurun Gobi."
"Oh, cepat juga. Ada informasi lainnya?"
"Hm… sayangnya tidak. Besok keluarga cabang akan mengirimkan info tambahan kalau ada." Hinata menutup laptopnya.
"Ok. Kalau gitu kita cuma bisa nunggu."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Besoknya kepala sekolah mengumumkan tentang video tadi malam. Dan tepat seperti dugaanku, para Knight dan calon Knight ranking C keatas akan dikirim untuk melawan hunter ini. Berarti Sasuke, Hinata, dan beberapa murid lainnya akan pergi. Aku? Sayangnya aku tidak pergi. Aku cuma murid ranking E. Jadi sementara mereka keluar menghabisi hunter diluar sana mungkin aku akan menghabisakan waktu dengan memainkan game yang kubeli tapi belum pernah kumainkan.
Tadinya itu yang kupikirkan saat—
"Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Aburame Shino, dan Inuzuka Kiba. Kalian juga akan dikirim untuk membasmi hunter sebagai satu kelompok. Jadi persiapkan apa yang kalian butuhkan untuk perjalanan ke gurun Gobi."
Ternyata tuhan berkehendak lain…
Setelah pengumuman kepala sekolah kami tidak belajar. Murid-murid yang ditunjuk tadi harus mempersiapkan diri untuk "perang" ini. Aku mengambil pedang yang kusimpan di asramaku. Pedang yang diberikan Karin-nee padaku, Kurohikari (Cahaya Hitam) dan Shirokage (Bayangan Putih).
"Naruto-sama, kita akan berangkat dua jam lagi." Ujar Hinata. Dia sedang mengelap pedangnya. Pedang itu berkilau terkena cahaya lampu kamar.
"Pedang yang bagus." Pujiku saat melihat pedang itu.
"Terima kasih. Ini pedang yang ditempa oleh paman hamba." Hinata kembali menyarungkan pedangnya. "Pedang anda juga bagus."
"… ini pedang Karin-nee. Sebenarnya aku tidak ingin memakai pedang ini. Tapi apa boleh buat." Ujarku sambil mengikat kedua pedangku di pinggang. "Oke, ayo kita temui yang lain."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Anggota kelompokku semuanya sudah hadir. Pertama kami berangkat ke Tokyo dengan helikopter. Dari Tokyo kami berangkat menggunakan sebuah pesawat besar. Aku dan yang lain memeriksa perlengkapan. Mereka terlihat sudah siap dengan senjata mereka. Sasuke dengan longsword dan perisainya, Haruno-senpai dengan tombaknya, Kiba dengan gauntlet-nya, dan Shino dengan… dia ga bawa senjata?
"Baiklah, kelompok 28 akan berangkat lima menit lagi. Periksa kembali perlengkapan kalian." Ujar instruktur kami. Sebenarnya ini baru pertama kalinya bagi kami (selain Haruno-senpai) untuk terjun di pertempuran sebenarnya melawan hunter.
"Shino, kau ga bawa senjata apa-apa?" tanyaku. Aku belum pernah melihat Shino bertarung sebelumnya. Jadi aku ga tau dia makai senjata macam apa. Lalu dia memperlihatkan sarung tangan yang ujung jarinya terdapat cakar berlubang. Dari lubang itu aku melihat benang—bukan, senar keluar dan terdengar suara sesuatu digulung.
"Aku memakai senar sebagai senjata." Ujarnya sambil memainkan senar itu dan membuat berbagai macam bentuk.
"Whoa! Hebat juga kau bisa membuat berbagai bentuk begitu." Ujar Kiba kagum.
"Kulihat gauntlet itu besar sekali. Apa ga berat?" tanya Sasuke ke Kiba. Kiba nyengir. Kemudian dia menyentakkan gauntlet-nya dan keluar cakar darinya.
"Inilah senjataku! Hehe, keren kan?" pamer Kiba. Dan bukan cuma cakar. Ada hidden blade, penembak peluru bius, grappling hook, bahkan laras senjata api.
"Kayak game Assassin's Creed aja…" ujarku.
"Hinata-san, untuk zaman sekarang kurasa senapan musket kurang efektif untuk menembak dari jarak jauh…" Ujar Sakura melihat senapan musket di punggung Hinata.
"Ini untuk elemen kejutan." Jawabnya datar. Oh, aku juga baru tau Hinata make senapan musket.
"Kelompok 28, waktunya berangkat!"
"""HAI'!"""
Chapter 2 : END
Chara Profile
Name : Hyuuga Hinata
Date of Birth : December 27th, 2015
Rank : A (Elite)
Fighting Style : Fencing-Style
Weapon : Rapier, Musket Rifle
Speciality : Speed and Enhanced Eyesight
Known Acquintance : Hyuuga Family
A/N :
Chapter dua diakhiri dengan terjunnya Naruto dan teman-teman ke pertempuran pertamanya melawan hunters. Chapter depan Naruto dan kawan-kawan akan bertempur melawan hunters untuk pertama kalinya. Apa yang akan terjadi? Kita bisa lihat chapter depan.
Di chapter ini Naruto dan Hinata berkeliling Tokyo setelah mengetahui bahwa Uzumaki Karin ada di Jepang. Di akhir pencarian mereka mendapat surat ancama dari PM Jepang yang meminta mereka untuk berhenti mencari Uzumaki Karin. Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai Uzumaki Karin jadi buronan paling dicari di Jepang? Tenang aja, ntar juga ketahuan. Yang sabar ya~?
Terima kasih untuk yang sudah membaca. Sekarang saya mau balas review dari user yang ga pakai akun.
Name Unknown : Saya memang pernah kepikiran memasukkan jurus milik Himura Battosai. Tapi setelah dipikir-pikir saya kesulitan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Thanks for reading and reviewing!
Oppai daisuki (Weleh... greget ni nama...) : Kenapa Hinata manggil Naruto Namikaze-sama? Hm... inilah salah satu misteri yang masih tersimpan di pikiran saya. Saya ga mau dihajar massa karena bocorin cerita. nanti ga seru dong... Thanks for reading and reviewing!
Guest : Terima kasih. Ini juga udah update.
kirigaya : Naruto disini menggunakan pedang Jepang atau lebih dikenal "Katana". Mungkin akan saya pertimbangkan lagi ide anda untuk karakter lain. Thanks for reading and reviewing!
Untuk chapter depan saya masih belum tau kapan bisa apdet. Jadi harap bersabar, para pembaca sekalian. Maaf kalo jadwal apdet saya ga tetap. Selain dirumah ga ada koneksi internet saya juga susah dapat inspirasi dan motivasi.
Ngomong-ngomong, ada yang tau kapan ultah Sasuke dan Sakura?
Udah dulu ya~? Bye~!
TO BE CONTINUED TO CHAPTER 2 :
THIS. IS. WAR, MADAFAKKA!
fazrulz21, logging out…
