Chapter 3 : THIS. IS. WAR, MADAFAKKA!
A/N :
Chara Profile
Name : Uchiha Sasuke
Date of Birth : July 23rd, 2015
Rank : B (Top-tier)
Fighting Style : Templar-Blade
Weapon : Longsword, Shield
Speciality : Strength and Enhanced Eyesight
Known Acquintance : Uchiha Family
Ga banyak bacot kali ini. Langsung aja!
Disclaimer & warning bisa dilihat di chapter pertama (malas nulis :v lol)
STORY, START!
Kami mencari tempat aman untuk menyusun strategi dan menemukan sebuah pondok kecil di tengah gurun ini. Ketua kami, Haruno-senpai, mulai menyusun strategi menghadapi hunters yang bergerombol di depan sebuah batu besar.
"Oke, pertama-tama kita tentukan formasi kita terlebih dahulu. Anggota kita terdiri dari enam orang, jadi kita bisa menggunakan formasi diamond. Sasuke-kun, posisimu didepan. Dengan perisai sebesar itu pasti kamu bisa menahan serangan langsung dari depan bukan? Posisi tengah akan diatasi oleh Hyuuga-san. Musket hanya bisa menembak dari jarak sampai 100 meter. lebih dari itu akan sulit untuk—
"Sebenarnya, musket ini bisa digunakan sebagai sniper. Jadi tidak masalah menembak dari jarak berapapun." Potong Hinata.
"Baiklah. Aku mengerti. Posisi kiri dan kanan akan diisi oleh aku sendiri dan Uzumaki-kun. dibelakang Hyuuga-san kita posisikan Inuzuka-kun. Kamu akan jadi pertahanan terakhir kita andaikata formasi kita tertembus. Kenapa harus pakai formasi? Karena kita akan menerobos ke tengah-tengah posisi mereka. Dan formasi ini lebih cocok untuk menerobos. Ada pertanyaan lain?" Hinata mengangkat tangan.
"Bagaimana dengan Aburame-dono?"
"Aburame-kun berada di posisi paling belakang. Karena senjata Aburame-kun tidak cocok digunakan untuk pertarungan di arena terbuka. Tapi kita bisa mengandalkan Aburame-kun untuk element of surprise. Untuk sekarang, Aburame-kun, gunakan senar itu untuk membuat jebakan di tempat kita sekarang. Ini akan jadi markas sementara kita. Mengerti?"
"""HAI!"""
Aku mengangkat tangan untuk bertanya, "Satu pertanyaan lagi, kenapa kita harus menerobos ke tengah posisi mereka?"
"Aku memprediksi kalau batu itu (Haruno-senpai menunjuk batu besar dimana para hunters bergerombol) adalah gua persembunyian sementara mereka. Jadi kita akan meledakkan batu besar itu dengan bom ini." Haruno-senpai mengeluarkan bom yang berbentuk seperti pasak besar, "Bom ini dibuat oleh Orochimaru-sensei dengan mencampurkan berbagai bahan yang bisa menghasilkan ledakan super besar hanya dengan satu tetes campuran. Hebat kan?" aku mengangguk. Paham kalau guru gila satu itu bisa membuat satu pulau tenggelam hanya dengan satu bom kecil.
"Baiklah, aku mengerti sekarang."
"Oke, sekarang persiapkan senjata dan perlengkapan kalian. Kita akan langsung menerobos ke tengah-tengah."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Mengerikan.
Sangat mengerikan.
Tempat yang tadinya kami kira adalah persembunyian ternyata adalah tempat dimana para hunters membunuh para manusia. Seperti yang kulihat di video kemarin tapi ini versi HD-nya. Aku bisa melihat dengan jelas mayat para Knight yang membusuk. Ada yang kepalanya membengkak, ada yang ususnya dikerubungi belatung, ada yang bola matanya dimakan tikus, dan banyak lagi. Entah berapa kali aku dan yang lain muntah hari ini.
"Jadi gimana, senpai?" tanyaku.
"… bunuh semua hunters. Jangan sisakan satupun." Jawab Hinata menggantikan Haruno-senpai. Tanpak tangannya bergetar menahan marah. Kiba pun juga kelihatannya ingin mengayunkan gauntlet-nya.
Dan seperti kata Hinata tadi, kami membantai semua hunters disana. Semua. Tanpa terkecuali.
Hunters tidak bisa dibunuh cuma dengan menusuk jantungnya. Mereka seperti zombie. Harus dibunuh dengan cara dipenggal atau hancurkan kepalanya. Dan memang itulah yang kami lakukan. Penggal, hantam, tusuk, tembak.
DOOOR!
Dan tembakan terakhir itu mengakhiri nyawa hunter terakhir yang kami bunuh. Moncong musket Hinata terlihat masih berasap.
"Ini yang terakhir. Jadi, kita pulang sekarang?" tanyaku lemas. Tidak sanggup melihat pemandangan ini lebih lanjut lagi. Yang lain juga sepertinya begitu. Diperkirakan disekitar kami saat ini berserakan sekitar 50 mayat hunters.
"Ya. Kita pulang. Uzumaki-kun, bawa satu kepala hunters untuk diperlihatkan pada Komandan nanti." Perintah Haruno-senpai. Dengan enggan aku mengambil satu kepala yang terpotong. Kepala dengan ekspresi wajah yang mengerikan.
Wajah seorang maniak. Maniak yang menjijikkan.
Sebelum pergi kami meledakkan bom buatan Orochimaru-sensei di sana. Aku yakin dimanapun ular tua itu berada dia pasti sangat bangga dengan bomnya yang satu ini.
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Sayangnya pertempuran kami belum berakhir.
Markas sementara kami diserbu sekitar 50 orang hunters lainnya. Beberapa diantaranya tersangkut di jebakan senar Shino. Jadilah, kami melanjutkan pembantaian berat sebelah ini.
Tapi ada satu hunter yang tidak bisa kukalahkan. Hunter terakhir yang menggunakan tongkat sebagai senjatanya. Dari caranya memainkan tongkat terlihat dia sangat ahli.
Untuk pertama kalinya sejak melawan Karin-nee, aku menarik kedua pedangku.
Sebelumnya saat melawan Hinata dan Haruno-senpai aku menggunakan Katana dan Kodachi. Kali ini aku membawa kedua katana peninggalan Karin-nee. Kurohikari dan Shirokage. Satu pedang dengan warna hitam segelap malam tanpa bintang dan rembulan, satu lagi berwarna putih seputih salju yang menutupi tanah.
"Jarang melihatmu memakai dua pedang, Naruto." ujar Sasuke. Kulihat perisai Sasuke sudah penyok dan pedangnya juga retak. Tidak mungkin dia bertarung lagi.
"Jarang melihatmu kewalahan seperti itu, Sasuke." Balasku. Saat ini yang bisa bertarung cuma aku dan Haruno-senpai. Kiba sudah kelelahan, senjata Sasuke juga tidak mungkin digunakan, Senar pemotong Shino sudah habis, dan Hinata tidak bisa bergerak lagi karena kelelahan. Dialah yang paling banyak menyerang hunter terakhir ini tadi. Seragam dan armor kami sudah dipenuhi noda darah.
[Manusia… bunuh… darah… darah… bunuh…] hunter tadi berdiri tegak sambil menggumamkan kata-kata tadi. Tidak bergerak sama sekali. Sepertinya menunggu kami bergerak. Kalau itu yang dia mau, kita beri dia.
Aku maju dan mengayunkan kedua pedangku. Dia menahannya dengan tongkatnya. Sementara dia menahan seranganku, Haruno-senpai menyerangnya dari samping. Sayangnya dia berhasil mengelak dari serangan Haruno-senpai dan mundur. Dia memutar tongkatnya dan menyerang Haruno-senpai. Kucoba menusuknya dari belakang, tapi punggungnya terlalu keras. Pedangku tidak bisa menembusnya!
Kalau begini, kami akan kalah!
"Haruno-senpai, kita harus mundur!" ujarku.
"Mundur kemana? Markas sementara kita tidak mungkin dipakai lagi karena sudah ketahuan! Jadi mau mundur kemana?"
"Bisa tolong tahan dia selama sepuluh detik? Aku akan mengirim pesan!" pintaku.
"Ya udah! Cepat!" serunya. Aku langsung mengambil PDA dari tas pinggangku dan mulai mengetik dengan sangat cepat.
[NEED HWLP. ASAP!] aku tahu aku salah ketik, tapi ya sudahlah. Ga ada waktu lagi, kirim!
"Sudah siap! Sekarang kita perlahan mundur! Aku akan menahannya sementara senpai memindahkan teman-teman!"
"Jangan bodoh! Mana mungkin aku akan meninggalkanmu disini!"
"UDAH CEPAT! BURUAN SANA! KAU MAU SATU ORANG MATI ATAU ENAM ORANG MATI!?" seruku. Senpai akhirnya pasrah dan membantu Hinata berdiri. Sementara Sasuke dan Shino memapah Kiba.
Dan disinilah aku. Sendirian dengan hunter abnormal ini.
"Oke, yang lain sudah pergi. Sekarang, aku harus bertahan disini sampai bantuan datang."
Bantuan datang sepuluh menit setelah aku mengirim pesan. Bantuan dalam wujud seorang pria kekar berambut hitam panjang yang menggunakan sepasang gauntlet besar bersama beberapa orang Knight. Bentar, orang ini mirip…
"Anda baik-baik saja, Uzumaki-dono?"
"Eh? Anda tahu saya?" tanyaku heran.
"Hehe, tentu saja. Hinata selalu membicarakanmu di telpon." Jawabnya. Hinata?
"Yah, setidaknya dia aman-aman saja sekarang. Nanti akan kita bicarakan lagi. Sekarang pergilah! Hyuuga Hiashi ini akan menahan hunter ini." serunya. Tanpa pikir panjang lagi aku mundur ke tempat teman-teman.
-_- Konoha Knight's Academy -_-
"Chichi-ue datang? Tidak mungkin! Beliau bukannya sedang bertugas di Macau?" seru Hinata saat kubilang ayahnya datang sebagai bala bantuan.
"Tidak salah lagi. Beliau terlihat sangat mirip denganmu, Hinata. Jadi aku yakin itu dia." Ujarku.
"… dasar, chichi-ue…" gumam Hinata.
"Jadi sekarang, apa rencana kita?" tanya Sasuke.
"Kita kembali ke tenda. Untuk sekarang kita mundur sampai dapat pemberitahuan lebih lanjut. Kita juga harus beristirahat dan memperbaiki senjata kita." Jawab Haruno-senpai. Kulihat tombaknya juga retak.
Setibanya di tempat kami mendarat tadi sudah berdiri beberapa tenda. Kami pergi ke salah satu tenda dan langsung tumbang. Baru kali ini aku kehabisan tenaga sampai selelah ini. Latihan dengan Karin-nee saja tidak pernah selelah ini. Aku tertidur selama kira-kira dua jam. Saat bangun yang lain masih tidur kecuali Shino yang tidak terlihat. Aku pergi ke salah satu tenda besar untuk membersihkan pedangku. Kulihat Shino sedang menggulung senar-senar di sebuah kumparan yang diletaknya di pinggang belakangnya. Ternyata dia disini…
"Oh, sudah bangun Naruto-kun?" sapa Shino.
"Ya. Baru kali ini aku selelah ini. Kau cepat juga bangunnya." Ujarku.
"Sudah kebiasaan." Balasnya. Lalu kembali berkutat dengan gulungan senarnya.
"Ano, dari tadi aku penasaran. Dari apa senar itu dibuat? Hunter berpedang yang tadi saja tidak mampu memotong senar itu." Tanyaku penasaran.
"Kau tahu laba-laba pedang logam?" tanya Shino.
"Setahuku itu adalah laba-laba dengan jaring terkokoh yang pernah ada. Untuk menghancurkan sarangnya saja harus dibakar. Dan laba-laba itu tersisa sangat sedikit di dunia. Benar kan?" jawabku. Shino mengangguk.
"Senar ini bahan dasarnya adalah jaring laba-laba itu. Disebut laba-laba pedang logam karena laba-laba ini menggunakan jaringnya untuk memotong mangsanya. Campurkan beberapa bahan khusus lalu pintal benangnya. Maka kau akan mendapat senar ini." ujar Shino.
"Darimana kau dapat bahan dasarnya?" tanyaku.
"Keluargaku mengembangbiakkan laba-laba ini." jawaban singkat yang sangat mudah dimengerti. Kami melanjutkan kesibukan dengan senjata masing-masing.
"Oh, Naruto udah bangun ternyata." Kiba masuk sambil membawa gauntlet-nya.
"Oh, met datang. Perawatan senjata juga?" sapaku. Kiba mengangguk.
"Kalau kotor nanti suaranya ga mulus. Jadi tiap hari musti dibersihin." Jawabnya. Kalau diingat-ingat saat Kiba memamerkan gauntlet-nya tadi tidak ada suara yang keluar sama sekali.
"Menurut kalian berapa lama lagi kita harus disini?" tanya Shino tiba-tiba.
"Entahlah. Itu tergantung juga kan?" jawab Kiba.
"Ya. Tergantung perintah dari atas. Kalau sudah diperintahkan mundur, kita ga bisa nolak." Sambungku.
Kami melanjutkan perawatan senjata masing-masing. Aku membersihkan pedangku, Kiba membongkar gauntlet-nya, dan Shino memintal senarnya. Setelah selesai, kami mendapat pesan dari pimpinan pasukan bahwa beberapa orang Knight dan calon Knight yang ditugaskan ada yang tewas. Kami diminta untuk membawa mereka.
Dan pemandangan yang tersaji di hadapan kami sama mengerikannya dengan yang tadi.
Mereka memang bilang mayat, tapi mereka ga bilang mayatnya ga utuh.
Beberapa diantaranya cuma tersisa setengah badan hingga kepala, ada juga yang cuma ketemu setengah kepalanya, dan ada juga yang cuma bagian badan tanpa tangan, kaki, atau kepala. Kiba yang paling banyak muntah diantara kami. Tentu saja, aku ga akan minta para pembaca untuk membayangkan.
"Ini yang terakhir, pak." Ujarku memasukkan potongan tangan ke satu kantong yang diberi label bertuliskan [Incomplete].
"Terima kasih, sekarang kembalilah ke tenda. Kami yakin kalian butuh waktu menenangkan diri." Ujar Knight yang menyampaikan perintah tadi.
Memang itulah yang kami butuhkan…
Saat kembali ke tenda Sasuke dan Haruno-senpai sudah bangun. Sasuke sedang membuka kotak berisi perlengkapannya yang baru. Haruno-senpai memasang bilah tombaknya ke tongkat yang baru. Hinata masih belum bangun.
"Darimana tadi kalian?" tanya Sasuke. Aku menunjuk Kiba yang muntah-muntah di luar tenda. "Oke, aku ngerti."
"Berapa banyak orang yang mati?" tanya Haruno-senpai. Aku mengangkat bahu sembari menggeleng.
"Banyak mayat yang ga lengkap. Tadi aja waktu kami datang beberapa Knight sedang memasukkan usus ke salah satu perut mayat yang—
"BWRHOEEEEKKKK!" Kiba yang baru masuk kembali memuntahkan makan siangnya. Lemah banget ni anak…
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku.
"Istirahat dulu. Siapa tahu kita akan diminta bertarung lagi."
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Sejam kemudian kami mendapat perintah untuk bertarung melawan hunters yang mendekat ke tempat kami sekarang. Mereka berada kira-kira 5 kilometer dari posisi kami sekarang. Kalau pesawat kami terlihat, mereka akan langsung menyerbu tempat ini.
Dan itu bisa jadi akhir hidup kami.
Jadilah, kami dan beberapa tim lainnya dikirim ke medan pertempuran. Ada sekitar 50 tim beranggotakan masing-masing enam orang termasuk kelompok kami. Dan hunters yang kami lawan berjumlah kira-kira 500 orang. Kami memang kalah jumlah, tapi rata-rata orang disini menggunakan senjata jarak jauh semua. Jadi setidaknya kami bisa mengurangi jumlah mereka sebelum bertarung dalam jarak dekat.
Tadinya itu yang kami pikirkan sebelum sampai ke medan tempur.
Sebelumnya aku pernah bilang kan kalau seorang hunter bersenjatakan sumpit ditangan bisa menghabisi satu kelompok kecil? Nah, yang ini beda. Mereka menggunakan great sword. Kuulangi lagi, G-R-E-A-T=S-W-O-R-D. Sedangkan satu yang menggunakan tongkat saja membuat kami kewalahan, apalagi lima ratus yang menggunakan great sword!?
Kami bertarung sebisa kami. Hampir 4/5 dari kami dibantai habis. Sedangkan hunters cuma berkurang seratus orang. Aku sudah kehabisa tenaga. Begitu juga yang lain dari kelompokku. Sekarang kami cuma tersisa 20-an orang dari total 300 orang. Belakangan aku tahu kalau semua orang yang dikirim adalah murid akademi. Semua. Yang tidak kusangka adalah sementara kami bertarung mempertaruhkan nyawa, pimpinan Knight yang memerintahkan kami bertarung tadi memindahkan markas ke posisi yang sangat jauh dari posisi semula. Informasi ini kudapat dari mencuri dengar lewat radio komunikasi salah satu prajurit yang tewas. Mungkin mereka mengira kami sudah dihabisi semua.
Jadi kau mengirim kami cuma sekedar untuk jadi tumbal untuk memperlambat hunters sialan ini!?
Kenapa kami yang dikirim?
Seharusnya kami tidak dikirim ke gurun panas ini! Kamilah yang nantinya akan melanjutkan perjuangan kalian, Knight sialan!
"Naruto-kun, senarku sudah habis. Yang lain juga sudah tidak sanggup bertarung. Kita harus kembali!" ujar Shino. Kulihat kacamata hitamnya sudah pecah sebelah.
"Aku tahu, Shino. Tapi sekarang mustahil kita kembali." Ujarku putus asa. Aku tidak sanggup lagi mengangkat pedangku. Sementara itu hunters (yang posisinya jauh dari kami) memutilasi mayat-mayat pasukan kami.
"Kenapa?"
"… mereka sudah memindahkan markas ke tempat yang sangat jauh." Jawabku. Semakin kupikirkan semakin lelah aku jadinya.
"K-kenapa?" tanya Kiba terbata-bata. Gauntlet-nya sudah rusak sebelah. Ada beberapa bagian yang lepas.
"Tentu saja agar mereka aman. Apa lagi? Kita cuma umpan agar mereka bisa menjauh seperti pengecut!" salah satu calon Knight yang ikut duduk bersama kami mengumpat. Aku ingat dia senpai dari kelas 3-D, Mizuki Agata.
"Sekarang kita tidak bisa kemana-mana. Kita akan mati disini." Yang lain berkata dengan pesimis. Semua orang mulai kehilangan harapan hidup.
Aku sendiri cuma bisa terbaring diam. Mungkin ini memang akhirnya. Aku akan mati sebelum aku sempat minta maaf ke Karin-nee.
DOR!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Suara tembakan yang berasal dari senapan musket milik Hinata.
"APA YANG KAU LAKUKAN!? SEKARANG HUNTERS SIALAN ITU TAHU DIMANA KITA!" seru Mizuki-senpai. Hinata berjalan kearahnya dan—
BUAGH! Menghantam perutnya dengan lutut.
"Kau, apa kau punya orang tua?" tanya Hinata. Mizuki-senpai mengangguk sambil menahan sakit. "Apa kau punya adik? Kakak? Kekasih?" Mizuki-senpai mengangguk tiga kali.
"Kalau begitu, bangun. Tenagamu masih ada, nyawamu masih di badan, pedangmu belum patah, darahmu masih mengalir, jantungmu masih berdetak. Baru segini aja udah pesimis. Kalau begini kau tidak akan pernah bisa jadi Knight!" BUAGH! Kali ini Hinata memukul wajahnya.
"Guh! K-kau…! Lihat sekelilingmu! Apa kau pikir—ugh—kita bisa menang dalam keadaan begini!? Hah!?" balas Mizuki-senpai.
"Tuh, kalau kau masih sanggup mengumpatku begitu berarti kau masih kuat kan?" ujar Hinata. Hinata berjalan kearahku dan memberi botol kecil kepadaku.
"Ini…?"
"Minumlah. Anda akan membutuhkannya, Naruto-sama." Ujarnya. Aku meminum botol itu. Entah kenapa rasa lelahku hilang begitu saja. Aku merasa sangat bersemangat!
"Apa ini? Rasa lelahku hilang! Hahaha!" seruku girang. Aku bisa mengangkat pedangku lagi!
"Sekarang, aku masih punya tujuh botol lagi. Tujuh orang yang cukup berani untuk bertarung kecuali yang luka, maju ke depan!" ujar Hinata. Yang cukup berani untuk maju kedepan adalah Sasuke, Haruno-senpai, Kiba, Shino, dan tiga orang lain dari akademi. Hinata memberi mereka botol-botol kecil itu.
"Woah! Aku semangat lagi!" seru Kiba bersemangat.
"Woooah! Perisai ini tidak pernah terasa seringan ini!" bahkan Sasuke juga! Haruno-senpai, Shino, dan yang lain juga mulai bersemangat lagi.
"Ne, Hinata, sebenarnya minuman apa ini?" tanyaku penasaran.
"Minuman rahasia keluarga Hyuuga yang meningkatkan produksi hormon adrenalin lima belas kali lipat dari normal. Tenang saja, tidak berbahaya kok." Jawab Hinata santai. Entah kenapa kedengarannya mencurigakan…
"Oh, Shino, kau tidak punya senjata kan? Pakai saja pedangku dulu." Aku memberikan pedangku pada Shino. Dia menolak dan mengeluarkan pisau dari lengan bajunya.
"Ini saja cukup." Ujarnya. Woah, hebat juga ni orang…
Kiba membuang gauntlet kanannya yang rusak. "Aku cuma butuh satu." Ujarnya.
"Baiklah semua, dari sini aku, Haruno Sakura, yang akan mengambil alih komando. Apa ada protes?"
"NO, MA'AM!"
"SIAPAPUN YANG INGIN PULANG, LAWAN! MEREKA CUMA ADA EMPAT RATUS KURANG, MAJU!" seru Hinata semangat. Semua (termasuk aku) berteriak maju. Beberapa murid yang tadinya sudah pesimis dengan hidup mereka mulai mengangkat senjata mereka dan ikut maju bersama kami.
Pertarungan ini memang berat sebelah. Tapi setidaknya kami berhasil membunuh hampir sekitar 50 hunters. Kebanyakan yang membunuh adalah Hinata. Diikuti Haruno-senpai (yang membabat habis hunters didepannya). Dan ketakutan kami berakhir saat dari kejauhan terlihat helikopter datang. Dari heli itu terjun kira-kira lima belas orang Knight menolong kami.
"Maaf terlambat. Kami mengalami sedikit masalah dengan para petinggi." Ujar seorang Knight wanita yang menolongku berdiri.
"Kenapa?" tanyaku.
"Para petinggi memerintahkan kami untuk segera berangkat dan meninggalkan kalian. Heh, yang benar saja. Kalian itu penerus kami. Mana boleh penerus mati duluan dari pendahulu!" ujar Knight lain.
"Terima kasih… padahal aku tadi sudah berprasangka buruk tentang kalian…" aku berterima kasih dengan menundukkan kepalaku.
"Hehe, ga masalah! Sekarang pergilah! Kembali ke akademi! Yang ini biar kami yang urus." Aku menurut dan memapah salah satu murid (aku ga tau namanya) naik ke tali heli. Ada empat helikopter yang datang menjemput kami. Kami langsung diterbangkan ke pulau Yuusha kembali.
"Tunggu! Bagaimana dengan mereka! Mereka jangan ditinggal!" seruku pada pilot sambil menunjuk Knight dibawah.
"Heli lain akan menjemput mereka! Prioritas utama adalah kalian, murid akademi!" seru pilot lewat intercom. Aku cuma bisa memandangi lima belas orang Knight yang bertarung habis-habisan melawan ratusan hunters dibawah sana.
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Kami pulang.
Ya, kami pulang.
Yang ada dihadapan kami adalah gedung mewah asrama kami. Asrama murid akademi. Asrama yang sangat nyaman dengan ranjang empuk, AC sejuk, koneksi internet gratis dan cepat, juga stok makanan selama seminggu.
Aku masih terbayang pasukan Knight yang kami tinggal beberapa jam yang lalu. Apa mereka sudah dijemput? Apa mereka terluka? Apa ada yang tidak berhasil kembali?
"…to-sama…"
Bagaimana perjalanan pulang mereka?
"…ruto-sama…"
Dimana mereka sekarang?
"Naruto-sama!"
"E-eh, i-iya? Ada apa Hinata?" suara Hinata menyentakku.
"Anda tidak tidur? Ini sudah jam dua." Ujar Hinata. kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2.08 am.
"Maaf. Aku lagi banyak pikiran…" jawabku lemas.
"Istirahatlah. Besok kita harus menemui Sarutobi-sensei." Hinata menarikku ke futon.
"Jangan menarikku begitu. Tanganku masih sakit." Ujarku. Hinata melepas tanganku. Kemudian duduk seiza didepanku.
"Naruto-sama, apa anda memikirkan Knight yang datang untuk kita tadi?" tanya Hinata. Aku mengangguk lemah.
"Mereka datang untuk kita. Aku berpikir apa mereka sudah dijemput saat kita berangkat tadi?" ujarku. Hinata menggenggam kedua tanganku.
"Tidak apa-apa. Hamba yakin mereka baik-baik saja." Ujar Hinata. Baru kali ini kudengar suaranya selembut ini. Hinata lalu mendekap kepalaku ke dadanya. Lalu mengelus kepalaku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Saat masih kecil dulu, kalau hamba mendapat mimpi buruk, almarhumah ibu hamba sering memeluk hamba seperti ini supaya saya bisa tidur. Mendengar suara detak jantung ibu hamba membuat hamba merasa tenang dan mengantuk." Ujar Hinata.
"… maaf… aku ga tau kalau…"
"Shuush… tidak apa-apa, Naruto-sama." Hinata kembali mengelus kepalaku. Lama kelamaan aku merasa mengantuk. Akhirnya aku terlelap di dekapannya.
Kaa-chan…
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Aku bermimpi.
Mimpi bertemu seorang laki-laki berambut perak yang memakai topeng dan seorang pria berambut pirang dengan senyum secerah matahari.
"Oh, sudah bangun, Naru-chan?"
Naru-chan…?
"Haha, Naru-chan ngiler!"
Siapa… kalian…
"Kakashi, bisa tolong gendong Naru-chan ke rumah?"
"Oke, Minato-sensei!"
Kakashi…? Minato…?
"Minato-kun, Kakashi-kun, Naru-chan! Ayo masuk! Makan siang udah siap!"
"Oh, masakan Kushina-shisho! Ayo, sensei! Kita ga boleh telat!"
Kushina…?
"Haha, sabar, Kakashi. Jangan lari-lari gitu. Nanti Naru-chan jatuh!"
"Oke, sensei!"
"Nah, Naru-chan, duduk disini aja ya? Dekat kaa-chan. Kalau dekat tou-chan nanti makannya belepotan lagi."
"Hahaha, jangan ngomong gitu dong, kaa-chan…"
Tiba-tiba semuanya berputar. Berputar dengan sangat cepat sampai aku merasa pusing. Kemudian aku terbangun. Terbangun di dekapan Hinata. Dekapannya sangat erat sampai aku bisa mendengar suara detak jantungnya.
"Nayuto… shama…" eh?
"Nayuto-shama jangan lari-lari… phyuuh~" Hinata… ngigau…?
"Hihihi~ Nayuto-shama tititnya kecil. Hihihi~" EEEEHHHH!?
Aku berusaha melepaskan diri dari dekapan Hinata. Tapi…
Gyuuut~! malah salah pegang…
Dan Hinata pun membuka mata.
"O-oh… pa-pagi, Hinata…" sapaku gagap. Dia melihatku meremas dadanya. Geeehhh… aku akan diapakannya…?
"Nayuto-shama… pagi… huaaaaam~" dia cuma menguap dan melepas pelukannya. Lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Fyuuuh~ sukur dah…
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Masih terpikir olehku mimpi tadi malam. Aku melihat seorang pria bertopeng berambut perak, seorang pria lain berambut pirang dan memilliki senyum secerah mentari, dan seorang wanita cantik berambut merah panjang. Dari sudut pandangku aku merasa sangat kecil. Seperti… bayi…?
"Naruto-sama, mohon percepat makan anda. Kita bisa terlambat untuk pengumuman pagi." Ujar Hinata yang sudah menghabiskan sarapan porsi jumbonya. Sedangkan aku masih belum menghabiskan mangkuk keempat ramen ayamku. Aku langsung menenggak sisa ramen yang ada dan mengambil tas dan pedangku. Lalu berjalan ke akademi bersama Hinata. Aku berjalan agak menjauh dari Hinata. Masih teringat kejadian tadi pagi soalnya… apa dia marah aku meremas dadanya seperti tadi…?
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Kami dikumpulkan di auditorium akademi untuk mendengar pengumuman selanjutnya dari kepala sekolah.
"Seperti yang kalian tahu, dari tiga ratus murid yang dikirim ke Gurun Gobi kemarin, hanya ada dua puluh orang yang pulang dengan selamat. Untuk itu, kita berdoa agar mereka dapat tenang di kehidupan selanjutnya mereka." Suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat.
Tiga ratus murid yang diberangkatkan, yang pulang cuma dua puluh.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Bukan meneteskan lagi sebenarnya, tapi mengalirkan. Aku menggenggam pedang di pinggangku sangat erat. Bersumpah saat aku dikirim lagi nanti aku tidak akan mundur bahkan saat pedangku patah.
Kami yang berhasil kembali pulang diberi hadiah kenaikan ranking untuk yang dibawah rank-A. Sasuke naik ke rank-A, Kiba dan Shino naik ke rank-B, dan aku naik ke rank-D. Paling tidak aku dapat diskon makan siang di kantin akademi sebanyak 20%.
Tapi biarpun naik tingkat, kami merasa gagal. Seharusnya kami yang menjadi penerus inilah yang bertahan.
Kemudian aku ingat kalimat Knight kemarin,
Para petinggi memerintahkan kami untuk segera berangkat dan meninggalkan kalian.
Petinggi? Petinggi Knight maksudnya?
Tidak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang. Lebih baik kembali ke kelas dulu.
-_- Konoha Knight's Academy -_-
Di kelas aku tidak bisa berkonsentrasi mendengar kata-kata guru. Aku masih memikirkan mimpiku tadi malam dan berusaha mengingat orang-orang yang muncul di mimpiku. Tapi semakin aku berusaha mengingat mereka, semakin pusing kepalaku.
Untuk sesaat kurasakan aura membunuh datang. Aura membunuh itu terarah… padaku!
Tiba-tiba seseorang sudah ada di belakangku mengayunkan pedang pendeknya. Dengan cepat aku berbalik dan menahan tangannya yang memegang pedang dengan tangan kananku. Tangan kiriku meraih pedang pendek dibelakangku. Kuayunkan pedangku dengan cepat tapi dia mundur ke belakang. Aku berdiri dan menarik katana dipinggangku untuk mengantisipasi serangan selanjutnya. Tapi ia menghilang. Aura membunuhnya terasa dari belakangku. Kuayunkan katana-ku ke belakang. Ia berhasil menangkisnya lalu kembali mundur dan menghilang.
Cih, minta serius ya?
Aku berjalan keluar dari mejaku ke belakang kelas. Aku berkonsentrasi merasakan keberadaannya. Saat itu aura membunuhnya terasa sangat dekat. Tiba-tiba pedang pendeknya sudah teracung ke leherku.
"Kena kau." Ujarnya.
"Itu kalimatku." Ujarku. Aku tahu dia selalu menyerangku dari belakang. Jadi aku membiarkan pertahananku mengendur agar dia terpancing melakukan ini. Pedang pendekku sudah teracung ke pinggangnya di sebelah kiri. Sedangkan katana-ku melintang di sebelah kanan untuk mencegah dia lari ke samping.
"Gimana? Aku sudah siap saling tusuk. Bagaimana denganmu?" tanyaku.
"Oke, aku menyerah. Seperti kata kepala sekolah, aku mustahil menang bertarung serius melawanmu." Ujarnya. Eh?
"Jadi tadi kita bertarung serius?"
"EH? Maksudmu tadi kamu belum serius?"
"Yah, gimana ya… kalau aku serius nanti kelas jadi berantakan. Hari ini giliranku piket kelas…" ujarku sambil menggaruk belakang kepalaku.
"M-mustahil! Padahal tadi aku seirus ingin membunuhmu!"
"O-oooh… ahahaha, begitu toh…? Maaf, kupikir tadi itu ga serius. Ahahahahahaha…" aku ketawa garing. Yang benar aja? Jadi tadi dia beneran serius mau membunuhku?
"Kalau gitu, kami minta maaf, sensei. Saya hanya ingin murid-murid yang lain melihat potensi Naruto-kun yang sebenarnya." gadis itu membungkuk pada sensei yang tegak tak bergeming di depan kelas.
"O-oh… baiklah. Kalau begitu Namikaze-san silahkan duduk dimana saja." Ujar sensei.
Bentar, emang ada gadis kayak dia di kelasku?
"Yoroshiku, Uzumaki Naruto-kun." gadis itu mengedip ke arahku.
Aku memperhatikannya dengan seksama rambut pirang panjang yang diikat twintail, tiga garis melintang di pipi, dan mata biru. Sesaat aku merasa melihat… aku…?
Chapter 3 : END
A/N :
Chapter ini kayaknya masih kurang action ya? Saya agak sulit mengubah imajinasi saya menjadi kata-kata. Yang terbayang di kepala saya sebenarnya lebih dari yang saya ketik diatas. Chapter depan masih dalam proses pengerjaan, jadi untuk yang menunggu update selanjutnya harap bersabar. Saya tidak bisa menentukan kapan jadwal update. Belum lagi ngelanjutin fic lama saya.
Sekarang balas Review dulu!
GuestGantengBanget : Saya sama sekali tidak tahu soal komik yang anda sebutkan kecuali Freezing (ALL HAIL OPPAI!). Inspirasi yang saya dapat berasal dari manga Rakudai Kishi no Cavalry. Tokoh utamanya peringkat terendah tapi menang bertarung melawan murid Rank-A. Dan murid perempuan yang lebih banyak dari laki-laki itu memang dari Freezing.
Guest : Mungkin harus saya tulis di sini. Saya adalah orang yang tidak suka dengan formalitas. Hal seperti itu menurut saya (seperti kata Shikamaru) merepotkan. Tapi anda ada benarnya. Tidak semua orang nyaman dengan bahasa gaul. Saya akan mencoba mengurangi penggunaan kata-kata nonformal.
rajalemon & NaruHinaLemon : Rating M bukan berarti musti ada lemon dong! Rating M ini dikarenakan akan ada unsur Gore dalam cerita ini yang tida cocok dibaca anak dibawah umur. tapi tenang aja. masih ada fanservice kok :v
Terima kasih buat yang udah baca dan review fic ini.
TO BE CONTINUED TO CHAPTER 4 :
A Relative of Mine?
fazrulz21, logging out…
