Langsung publicsh chapter 1 nya hehehe

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Hinata H x Gaara S

Rated M ya._.

~•~

Dingin, dan sunyi. Hanya itu yang bisa mendeskripsikan salah satu kamar besar di sebuah mansion megah di kawasan Hokkaido. Terdapat kasur king size berwarna merah dengan kelambu yang saling menggabungkan 4 tiang di pojok ranjang.

Lemari besar 2 pintu terbuka lebar dengan isinya yang tumpah ruang ke lantai marmer yang dingin. Lampu di atas nakas berkedip berkali-kali menandakan daya listrik yang tidak kuat.

Guntur menggemakam suaranya di kamar itu berkali-kali, hingga kaca besar di jendela itu bergetar saking hebatnya guntur yang muncul.

Tingkat gelombang suara dari guntur yang saling bersahutan itu membuat sesosok gadis bersembunyi di dalam lemari, ia yang mengakibatkan berantakannya isi lemari yang tersebar di lantai.

Gadis itu bergetar hebat, menyembunyikan wajahnya di dalam lekuk lututnya. Ia tidak menangis. Satu tetes airmata pun tidak menunjukkan diri.

Krieettt

"Nona?"

Yang dipanggil masih sibuk dengan alam ketakutannya. Membuat sang kepala pelayan rumah megah tersebut ikut berjongkok di depan lemari. "Matsuri?"

Sang kepala pelayan yang bernama Matsuri itu tersenyum dan menjulurkan tangannya masuk ke dalam lemari, mengelus bahu telanjang nona nya yang bergetar hebat. "Saya sudah menyiapkan makan malam, ayo, keluar bersama saya."

Si gadis yang ketakutan itu bergerak sedikit demi sedikit, beringsut ke arah Matsuri. Setelah di rasa posisinya aman di dalam rengkuhan Matsuri, ia bangkit.

BLEDAR!

"AAAAAAAAAA!"

"Kau tidak ingin menyusulnya, Gaara?" Tanya Temari, ia menatap adiknya itu dengan lembut, menunggu pelayan selesai mengoleskan selai nanas di atas roti nya.

Gaara tidak menggubris pertanyaan Temari, ia sibuk dengan tumpukan kertas di atas meja makannya.

"Sudah ku bilang untuk tidak mengurus pekerjaan saat di meja makan. Apa harus ku jadikan hukum tertulis di rumah ini?" Sahut Kankurou, si kakak kedua. Ia melirik adiknya yang tetap tekun melakoni pekerjaannya meskipun telah ia sindir.

"Cih, tak ada gunanya aku berbicara."

Tuk

"Heyyyy, apa yang kau lakukan padaku, Temari?" Jerit Kankurou sembari mengelus belakang kepalanya yang baru saja terkena lemparan buntalan roti panggang.

Temari langsung protes mendengar tuduhan Kankurou.

"Sudah ku bilang bukan aku!" Dengus Temari.

"Jika bukan kau, siapa lagi hah? Gaara?"

Hening sesaat. Kemudian Kankurou dan Temari menoleh bersamaan ke arah Gaara. Adik terakhir mereka masih sama kondisinya seperti awal duduk di meja makan. Tidak mungkin. Kankurou dan Temari mulai berpikir yang tidak-tidak. Seorang Gaara? Melempar bola roti? Itu konyol. Dan Gaara tidak mungkin melakukannya.

Tiba-tiba, Gaara menghentikan aktifitasnya dari kertas-kertas di hadapannya. Melihat kedua kakaknya yang masih menatapnya dengan ekspresi yang aneh, "Apa?"

Temari dan Kankurou masih termangu.

"Apakah aneh jika aku melempar bola roti?"

Temari dan Kankurou yakin, pagi tadi matahari masih terbit dari timur, bukan dari barat.

"Permisi, nona Hyuuga telah datang." Matsuri mengisi ruang di samping Temari dan menundukkan tubuhnya.

"Oh! Oh! Hyuuga? Mana orangnya? Mana?" Temari begitu bersemangat saat mengetahui adik iparnya yang akan datang hari ini untuk makan malam bersama.

Gadis berambut biru tua dengan mata pucat yang melirik kiri kanan berjalan pelan dan tersendat dari arah koridor ke arah meja makan. Hyuuga Hinata. Nama yang cantik bak seorang putri. Ia memakai gaun terusan yang menyapu lantai berwarna violet dengan aksen bahu terbuka. Rambutnya yang lurus tergelung sempurna dengan beberapa helai yang sengaja tertinggal membingkai pipi gembulnya.

"Aihh kau cantik sekaliii." Seru Temari. Kankurou terkekeh geli melihat kelakuan Hinata yang begitu pemalu.

Hinata hanya berdiri di belakang kursi meja makannya yang baru saja di siapkan oleh Lee, asisten kepala pelayan Matsuri.

Temari bangkit dan tersenyum lembut pada Hinata. Ia merangkul gadis polos di hadapannya ke kursi. "Tenanglah dan makan makanan nya dengan kami ya. Kami tidak menggigit."

Hinata menurut, namun wajahnya masih menunduk.

"Yahh yang menggigit sih hanya Gaara." Tukas Kankurou dengan kekehannya. Maya melempar buntalan roti pada Kankurou yang tidak bisa diam.

Diam-diam, Hinata menaikkan ujung bibirnya, merasa sedikit terhibur dengan tingkah Temari dan Kankurou yang begitu hangat tanpa kekakuan meskipun dalam meja makan yang sangat besar ini. Namun, Gaara melihatnya. Melihat senyuman kecil di wajah Hinata. "Kenapa kau tersenyum?"

Hinata menutup senyumannya saat mendengar suara Gaara yang menginterupsinya.

"Hey Gaara, jangan galak seperti itu pada istrimu sendiri." Ujar Kankurou seraya merangkul Gaara.

Gaara melepaskan diri dari rangkulan Kankurou dan mendecih, "aku sudah kenyang." Ia bangkit dari kursi meja makannya, "Lee, bawa berkasnya ke meja kerja ku." Yang disuruh mengangguk patuh.

Setelah Gaara pergi, suasana ruang makan terasa mencekam. Hinata tidak berani sama sekali melihat ke arah Temari dan Kankurou. Ia merasa pasti mereka marah terhadapnya karena membuat adik mereka kesal.

"Ah.. haha.. sudahlah Hinata, Gaara memang orangnya seperti itu. Keras. Jangan diambil hati ya. Haha.."

Terkesan memaksa. Itu yang dipikirkan Hinata saat Temari mencoba mencairkan suasana. Dilanjut dengan kekehan Kankurou yang kali ini malah terdengar kaku.

"Ayo, makanlah. Kami tahu perutmu kosong." Ujar Kankurou yang dijawab anggukan dari Hinata.

Setelah makan, Temari memanggil Matsuri untuk membimbing Hinata ke kamarnya kembali. Namun ternyata, Hinata tidak mau. Ia sangat takut mengingat balkon dan jendela kamarnya yang sangat besar membuat guntur terlihat jelas.

Temari membisikkan sesuatu pada Matsuri, membuat Hinata mengerutkan keningnya. Matsuri mengangguk dan tersenyum, lalu membimbing Hinata melewati Temari dan Kankurou yang melambaikan tangannya. Ia dan Matsuri melewati koridor yang berbeda dari koridor yang tadi ia lewati dari kamarnya. Kali ini ia melewati koridor yang sama dengan yang dilewati Gaara.

Sial. Hinata tahu ini akan mengarah kemana.

Tbc yah, thanks udah baca RnR nya ya please jangan lupa^^