Chapter 4 : A Relative of Mine?

Chara Profile

Name : Haruno Sakura

Date of Birth : March 28th, 2014 (Kalau tanggalnya salah, tolong beri tahu saya)

Rank : A (Elite)

Fighting Style : Spear-Wielding

Weapon : Dragon's Claw Spear (Seperti tombak milik Zhao Yun di Dynasty Warriors)

Speciality : Speed and Tactical Fighting

Known Acquintance : Haruno Family

A/N :

Chapter 4 hadir! Maaf kalau sebelumnya saya update 3 chapter dengan cepat. Itu karena saya punya banyak waktu luang dan kehabisan bahan tontonan. Sekarang karena sudah mulai masa ospek di kampus (cieee~! Anak kampus~!) saya mulai sibuk.

Di akhir chapter sebelumnya muncul seorang gadis yang menyerang Naruto di kelas. Siapa gadis itu? Yah, saya yakin kalian semua tahu dia : Naruko-chan! Di sini dia adalah kakak kembar Naruto. Untuk selengkapnya baca dibawah aja.

STORY START!

Jam istirahat makan siang, di halaman akademi,

"Hiks… Naru-chan jahat… padahal tadi aku udah memperkenalkan diri di depan kelas… hiks… Naru-chan jahat! Jahat, jahat, jahat!" gadis itu memukul punggungku berkali-kali.

Aku akhirnya sadar. Kami kedatangan murid baru dari akademi cabang Tokyo. Namanya Namikaze Naruko, putri pemilik perusahaan telekomunikasi Namikaze.

"Oy, oy, sakit! Ya aku minta maaf! Aku lagi banyak pikiran, jadi ga memperhatikan sekitarku…" ujarku. Aku menahan Hinata yang hendak menarik pedangnya.

"Hiks… padahal aku udah menanti.. saat-saat aku… bertemu Naru-chan… hiks…" malah nangis…

"Ehem, sebelumnya aku ingin bertanya, kenapa kau ingin bertemu Naruto?" tanya Sasuke.

"Memangnya salah kalau aku ingin bertemu adikku?"

"EEEEHHH!?" aku terlonjak. 'Adikku' katanya?

"Kok malah kau yang kaget?" tanya Sasuke.

"Sumpah aku ga tau! Aku ga tau aku punya kakak yang cantik!" aku membela diri.

"KYAAAAH~! Barusan Naru-chan menyebutku cantik! Senangnya~!" Naruko memelukku dengan erat sampai aku susah bernapas.

"Udah! Udah! Nyerah! Aku ga bisa… napas…!" aku menepuk-nepuk punggungnya.

"Oh, maaf, Naru-chan. Hihihi, aku udah lama pengen meluk kamu…" ujarnya.

"Sekarang bisa jelaskan padaku, Naruto. Kau bilang kau tidak punya saudara. Tapi siapa dia?" tanya Sasuke.

"Biar aku menjelaskan dulu." Naruko mengambil alih. "Sepuluh tahun yang lalu, pada tanggal 18 Juli 2020, Saitama diserang sekelompok besar Hunter yang entah bagaimana bisa sampai ke kota. Mereka menghabisi setiap penduduk yang terlihat. Hampir seluruh penduduk habis dibantai. Saat itu keluarga kami diam-diam mengungsi keluar kota lewat saluran bawah tanah. Kami berhasil keluar kota. Tapi saat memasuki sebuah gedung, gedung itu runtuh dan menimpa adikku. Itu kamu, Naru-chan." Naruko melirikku.

"Menimpaku? Ah, sebenarnya aku berhasil selamat karena reruntuhan yang menimpaku tertahan oleh mobil di luar gedung. Seingatku sih begitu…" gumamku.

"Itulah saat terakhir aku melihat Naru-chan. Padahal kami sudah merencanakan ulang tahun kami seperti apa. Tapi…" Naruko menunduk. Poni rambutnya membayangi matanya. Sepertinya dia menyembunyikan air matanya.

"… tapi kenapa aku tidak ingat padamu?" tanyaku.

"Kenapa tanya aku? Seharusnya kamu lebih tahu hal itu kan?" celetuk Naruko.

"Apa jangan-jangan kepalamu terbentur?" tanya Sasuke. Aku menggeleng.

"Pokoknya itu deh! Yang jelas aku senang aku bisa bertemu adikku." Naruko kembali memelukku. Pelukannya terasa… hangat.

"Syukurlah, Naruto-sama…" gumam Hinata.

"… terima kasih, Hinata." balasku.

"Kalau begitu aku akan menyiapkan pelayanku untuk memindahkan barang-barangku!" seru Naruko sambil mengeluarkan HP-nya.

"Menindahkan barang?" tanyaku.

"Ya. Mulai hari ini aku akan tinggal bersama Naru-chan!" serunya lagi.

"EEEEEEEEHHHHH!?" sangat mengejutkan. Hinata yang tidak pernah bersuara keras berseru sekeras itu.

"Lho? Kenapa?" tanya Naruko.

"Tidak bisa! Biarpun anda adalah kakak Naruto-sama hamba tidak bisa membiarkan itu!" seru Hinata.

"Hoho~? Memangnya kau siapanya Naru-chan-ku?" tantang Naruko. Tunggu, tatapan Naruko… sepertinya aku mengenal tatapan mata itu…

"Hamba adalah pelayan pribadinya! Baik di luar-dalam akademi, maupun di ranjang!" seru Hinata mantap.

GAAAANG!

Wajah Naruko pucat seketika.

"Naru-chan!"

"H-hai!?"

"Ikut aku ke ruang UKS! Kita akan ******!" Naruko berdiri dan menyeretku.

"OY, OY, OY! Lepasin!" Aku berusaha melepas tangan Naruko.

"Jangan khawatir! Onee-chan tidak akan kalah darinya! Akan kutunjukkan teknik menghisapku padamu!"

"OY! KITA SODARA OY!"

"Cinta bisa mengalahkan dan menembus batasan apapun, Naru-chan."

"TAPI TIDAK DENGAN BATASAN ANTAR SAUDARA!"

"Sudah! Menyerahlah, Naru-chan! Biarkan onee-chan memuaskan nafsu birahi yang terpendam dalam dirimu."

"OGAAAH! LEPASIIIIN! SASUKE, HINATA, TOLOOOONG!"

Sayangnya, teriakanku tidak mencapai Sasuke (yang memakai headphone) dan Hinata (yang duduk terdiam dengan mata kosong). Aku pun diseret ke ruang UKS dan…

"CABUUUUT!" melarikan diri lewat jendela.

"NARU-CHAAAN! TUNGUUUuuuu~" teriakan Naruko tidak ku pedulikan. Yang penting selamatkan keperjakaanmu dari tangan (atau mulut?) kakakmu!

+ Konoha Knight's Academy +

Naruko benar-benar serius saat bilang dia akan tinggal bersamaku. Sampai di kamar asrama kamarku sudah disesaki oleh boks-boks besar. Beberapa pelayan (maid) bolak-balik keluar masuk kamar membawa boks lain.

"Hm… kamar ini sedikit sempit ya?" celetuk Naruko.

"Mau gimana lagi. Asrama murid Rank-D dan E sih cuma segini…" ujarku. "Ngomong-ngomong, Naruko, kau ranking apa?" tanyaku.

"Ck, ck, ck. Tidak sopan memanggil kakakmu seperti itu, Naru-chan."

"Che, kalau gitu. Ehm, Onee-chan ranking apa?" tanyaku.

"KYAAAH~! Naru-chan memanggilku onee-chan~! Kyaaah~!"

"JAWAB AJA NAPA!?"

"Oke, oke. Aku masih belum di-ranking. Besok akan ada tes untuk menentukan ranking-ku nanti." Jawab Naruko.

"Lawan siapa?" tanyaku.

"Tidak tahu. Mungkin salah satu guru?" jawabnya.

Beberapa pelayan membantu kami mengatur letak barang-barang. Asramaku ada di lantai dua. Ukuran asrama ini tidak lebih besar dari ukuran ruang kelas kami. Ditambah pembagian ruangannya (kamar, kamar mandi, dapur) tempat ini terasa sangat sempit. Karena itu aku tidur pakai futon di kamar. Aku jadi agak bersalah pada Hinata. Murid Rank-A seharusnya dapat fasilitas yang lebih baik daripada ini. Asrama murid Rank-A sangat luas. Kira-kira empat kali lebih luas dari asramaku. Aku belum melihat asrama baru Sasuke. Tapi yang pasti kamarnya sangat luas.

"Hm… jadi kepikiran sesuatu." Gumam Naruko setelah kami selesai mengatur barang.

"Kepikiran apa?" tanyaku disela-sela kegiatanku memasak bersama Hinata.

"Kalau aku dapat Rank-A, trus minta ke kepala sekolah untuk sekamar denganku, berarti nanti kita dapat fasilitas bagus dong?" ujar Naruko.

"Mustahil. Hinata pernah minta itu ke kepala sekolah tapi ditolak. Makanya Hinata tinggal di asramaku." Ujarku. Aku dan Hinata menghidangkan makan malam di meja. Ada kaarage, ramen (pasti dong!), nikujaga, sup miso, dan sarden kering. Hinata (seperti biasa) makan seporsi kecil salad.

Masalah muncul saat kami hendak tidur.

"Hamba adalah pelayan Naruto-sama. Sudah sepatutnya pelayan harus berada di sisi majikan setiap saat." Ujar Hinata.

"Aku kakaknya. Terlebih lagi sudah lama kami tidak bertemu. Seharusnya aku yang tidur bersama Naruto." bantah Naruko.

"Kalau anda yang tidur bersama Naruto-sama, anda pasti akan merampas keperjakaan Naruto-sama. Hal itu tidak bisa hamba biarkan!"

"Pelayan tidak sepantasnya tidur dengan majikan! Pelayan ada di kasta lebih rendah dari majikan!"

"Apa anda masih hidup di abad 20? Ini sudah tahun 2030! Hal itu sudah tidak berlaku lagi! Lagipula kalau anda dan Naruto-sama "khilaf" akan jadi aib karena anda memperkosa adik anda sendiri."

"Lalu kalau kau dan Naru-chan yang "khilaf" tidak apa-apa? Justru hubungan antara pelayan dan majikanlah yang dianggap aib!"

Tidak tahan dengan ini semua, aku memutuskan untuk tidur di ruang tengah. Karena tidak ada sofa, aku tidur di karpet.

+ Konoha Knight's Academy +

Hari ini adalah ujian ranking Naruko. Ujian ini dilakukan di gedung olahraga. Lawan Naruko belum muncul, jadi Naruko melakukan sedikit pemanasan. Ujian ini diawasi oleh Haruno-senpai, Sasuke, dan Kiba sebagai anggota dewan murid (OSIS).

"Kalau dipikir-pikir teknik onee-chan sedikit berbeda dari yang pernah kulihat. Sebenarnya gaya bertarung onee-chan seperti apa?" tanyaku pada Naruko. (Sebenarnya aku enggan memanggilnya onee-chan. Tapi kalau tidak dipanggil begitu, Naruko tidak akan menjawabku.)

"Fufufu, seorang shinobi sejati tidak akan pernah membuka kartunya begitu saja, Naru-chan…" ujar Naruko sambil mengoyangkan jari telunjuknya.

"Oh? Jadi onee-chan ninja toh?" ujarku.

"B-BUKAN! AKU B-BUKAN NINJA!" bantah Naruko.

"Tadi katanya [Fufufu, seorang shinobi sejati tidak akan pernah membuka kartunya begitu saja, Naru-chan…] gitu…" ujarku sambil meniru gaya bicaranya tadi.

"T-tapi bukan berarti aku ninja juga k-kan…?"

"Oh iya, senjata yang dipakai onee-chan kodachi kan? Bukannya itu senjata yang biasanya dipakai shinobi?" Naruko terdiam mendengar pertanyaanku (atau pernyataan?)

"Haah, iya deh. Aku memang shinobi atau biasa disebut ninja. Teknik bertarungku fokus ke menyerang titik lemah lawan dan menghabisinya dengan cepat." Ujar Naruko.

"Oh, seingatku saat pertarungan kita di kelas kemarin onee-chan berpindah tempat dengan cepat. Bagaimana bisa begitu?" tanyaku.

"Itulah salah satu kemampuan shinobi. Bergerak dengan cepat dan menyerang disaat lawan lengah. Kalau Naru-chan dulu tidak terpisah mungkin kita akan belajar bersama." Gumam Naruko.

"Yah, setidaknya aku masih mempelajari Uzumaki-ryuu Kendojo."

"Eh? Uzumaki-ryuu Kendojo? Bukannya itu teknik pedang yang sudah lama hilang? Belajar darimana kamu?" tanya Naruko.

"Lho? Kita kan juga bagian dari keluarga Uzumaki. Kenapa onee-chan tidak tahu soal itu? Emang kaa-chan ga pernah ngasih tahu?" tanyaku heran.

"Kenapa malah bawa-bawa kaa-chan?"

"Karena yang mengajariku berpedang adalah sepupu jauh kita, Uzumaki Karin."

"Uzumaki… Karin…? Maksudmu wanita yang dicari-cari di seluruh dunia itu?"

"Ya. Beliaulah yang menemukanku saat kita terpisah dulu. Beliau juga sepupu jauh kita. Kaa-chan dulunya Uzumaki kan?"

Naruko terdiam. Mulutnya menganga. Wajahnya berubah putih.

"Onee-chan? Halo? Ada orang didalam?" kulambaikan tanganku di depan wajah Naruko. Tiba-tiba dia meraih tanganku.

"Ada dimana dia sekarang!?" aku terkejut.

"A-aku ga tau. Aku masih mencarinya. Sampai beberapa hari yang lalu aku tahu kalau dia ada di Jepang. Kalau sekarang entahlah." Jawabku.

"Begitu…" gumam Naruko.

Tak lama setelah itu dari pintu gedung olahraga muncul Hinata yang mengenakan seragam sekolahnya lengkap dengan armor ringan dan sepasang rapier. Sepasang?

"Eh? Hinata?"

"Maaf hamba tiba-tiba menghilang pagi ini, Naruto-sama. Hamba yang akan menjadi penguji untuk Namikaze Naruko-dono." Ujar Hinata.

"Eh? Jadi pengujinya Hinata toh…"

"Sebenarnya Mizuki-sensei yang akan jadi penguji. Tapi beliau mendadak dapat panggilan dari keluarganya dan harus kembali ke Kobe. Karena guru yang lain tidak ada yang bisa, hamba ditunjuk sebagai penguji." Ujar Hinata. Dia dan Naruko berdiri berhadapan di lapangan.

Haruno-senpai yang berada di balkon atas berdiri, "Baiklah. Sekarang kita akan melakukan ujian ranking untuk Namikaze Naruko-san. Silahkan penguji dan peserta mundur satu langkah. Saya sebagai pengadil akan membacakan peraturan. Pertama, dilarang menggunakan senjata tajam. Kedua, boleh menyerang bagian tubuh manapun asalkan tidak menimbulkan luka fatal," aku mendengus mendengar peraturan ini. Peraturan ini mulai diberlakukan karena tahun lalu salah satu peserta menendang selangkangan penguji (yang kebetulan pria) dan membuatnya tidak bisa berjalan selama beberapa minggu. Haruno-senpai melanjutkan penjelasannya,

"Ketiga, kalau saat pertarungan peserta atau penguji terluka sampai berdarah, pertandingan akan dihentikan sementara dan yang terluka akan diberi pertolongan pertama. Jika masih bisa bertarung, maka akan dilanjutkan. Keempat, bila didapati peserta atau penguji melanggar peraturan, maka bagi peserta ujian akan digagalkan langsung dan dilarang mengikuti ujian peringkat selama satu tahun dan ditahan statusnya sebagai calon Knight. Apa ada pertanyaan?"

Naruko mengangkat tangan, "Bagaimana kalau ada yang mati?" wow, pertanyaan yang berani.

"Maka yang membunuh, baik sengaja atau tidak, akan diadili oleh kepala sekolah Knight Academy. Ada pertanyaan lain?" tidak ada yang mengangkat tangan. "Kalau begitu, pasang kuda-kuda!" Naruko dan Hinata memasang kuda-kuda. Hinata dengan rapier-nya, dan Naruko dengan pedang pendeknya.

"Hyuuga Hinata, kelas 2-D, EN GARDÉ!"

"Namikaze Naruko, kelas 2-D, SIAP!"

"MULAI!"

Dengan aba-aba itu Hinata maju menerjang Naruko. Serangannya ditepis dengan mudah. Tepat setelah itu Naruko menghilang. Bahkan aku saja tidak tahu di mana dia. Tiba-tiba saja Hinata terkena serangan dari belakang.

"Kalau ini perang, kau pasti sudah mati, pelayan." Naruko menyarungkan pedangnya dan menarik dua buah kunai (yang pasti tumpul) dari balik roknya (dimana dia meletakkannya?) dan mundur dua lompatan. Menunggu reaksi Hinata. Apakah Hinata akan bangkit atau tidak. Tentunya Hinata kembali bangkit dan mengacungkan pedangnya.

"EN GARDÉ!" Hinata kembali menerjang ke depan. Menyerang Naruko berkali-kali dengan kombinasi gerakan menusuk dan menebas yang cepat. Sulit bagiku mengikuti gerakan mereka yang sama-sama tipe speed.

"Naruto, menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Sasuke yang berdiri di sebelahku.

"Entahlah. Dilihat dari alur pertarungan sekarang Naruko bisa saja menang. Tapi Hinata juga bukan tipe orang yang mudah terpancing. Kau ingat berapa Hunters yang dia bantai waktu kita dikirim kemarin?" Sasuke menggeleng, "Hinata membunuh hampir setengah dari jumlah mereka semua. Karena itu pedangnya jadi tumpul. Kurasa Hinata bisa menang. Tapi ini ujian untuk menentukan ranking Naruko nantinya." Ujarku.

"Begitu. Tapi Hinata sepertinya kesulitan." Ujar Sasuke. Memang benar, Hinata mulai kesulitan mengikuti gerakan Naruko. Dia mulai melambat.

"Apa cuma segini kemampuanmu, pelayan?" Naruko sepertinya mencoba memancing Hinata. Tapi Hinata cuma diam. Hinata kembali mengangkat pedangnya.

"Kau belum serius kan?" tanya Hinata.

"Kau sendiri?" Naruko balik bertanya. Ya, Naruko masih bisa lebih cepat dari ini. Kecepatannya di kelas saat melawanku kemarin membuktikan itu.

Naruko lalu mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari balik rok pendeknya (Sekali lagi, gimana bisa dia nyimpan barang di balik rok sependek itu!?) "Kalau begitu, aku akan serius." Dari gulungan kertas itu keluar sebuah ninjato panjang. Ninjato itu berwarna hitam kelam. Sama seperti Kurohikari milikku. Tapi pedang Naruko lebih gelap warnanya.

"Sekarang aku bisa serius." Nada bicara Naruko berubah jadi dingin. Tatapan matanya juga tampak lebih serius.

"Tunggu, apa itu pedang asli?" tanya Sasuke. Aku menggeleng.

"Aku yakin pedang itu tumpul sama seperti yang lain. Tapi tetap saja bisa lebam kalau kena pedang itu…" ujarku.

Dan sepertinya bukan cuma menimbulkan lebam.

Memang tidak terluka, tapi rok Hinata terpotong setelah terkena pedang hitam itu. Kulihat di balkon Kiba mimisan melihat rok Hinata memendek. Setiap gerakan yang dibuatnya, celana dalamnya terlihat.

"Hoho~ celana dalam putih belang biru muda~?" Sasuke juga mimisan. Tunggu, kenapa cuma aku yang ga mimisan!? Apa yang salah denganku!? Aku juga suka cewek lo!

Haruno-senpai melempar pisau lempar (tumpul) dan tepat mengenai kepala Sasuke. "Sasuke-kun~! jangan lupa membersihkan hidungmu ya~!" ujarnya. Kiba, entah kenapa bisa muncul benjolan besar di kepalanya. Sepertinya hasil karya Haruno-senpai juga. Ah, kalau ada Shino pasti lebih ramai… sekarang, kembali ke pertarungan.

Mereka masih beradu pedang. Tapi Naruko sekarang yang menguasai pertandingan dengan dua pedang. Sekarang, bagaimana kau akan melawan, Hinata?

Tepat saat pedang Hinata ditepis ke atas, Naruko menusukkan pedang pendeknya ke arah dada Hinata—

TRANG!

Dan digagalkan oleh pedang kedua Hinata.

"Woah! Hinata memakai dua pedang!" seru Kiba.

"Apa Hinata bisa memakai dua pedang?" gumam Sasuke.

"Pada dasarnya pengguna rapier seperti Hinata hanya menggunakan satu pedang karena tangan satunya digunakan untuk menjaga keseimbangan. Sangat sulit menggunakan dua rapier karena tipe serangan rapier fokus ke gerakan tusukan." Ujarku.

"Tapi belum tentu Hinata tidak bisa memakai keduanya kan? Lagipula rapier masih bisa digunakan menebas." Ujar Sasuke.

"Memang. Sebenarnya rapier adalah pedang tipis yang difokuskan untuk menembus daerah yang tidak terlindungi armor atau celah-celah armor. Untuk itulah rapier dibuat."

Naruko berhenti sejenak. Memperhatikan perubahan kuda-kuda Hinata. Sekarang kuda-kuda Hinata berbeda dari yang sebelumnya. Satu pedang tetap di arahkan ke lawan, dan satu lagi diarahkan ke lawan dengan lengan di belakang tubuhnya.

(A/N : Seperti Nyanta di anime "Log Horizon")

"Belum pernah kulihat kuda-kuda seperti itu. Apa kau serius melawanku dengan kuda-kuda penuh celah seperti itu?" tanya Naruko. Kulihat ekspresinya sedikit kesal.

"Tenang saja. Kuda-kuda penuh celah ini sulit ditembus. Setidaknya untukmu mustahil." Pancingan Hinata berhasil membuat Naruko marah.

Naruko menyerang dengan menebaskan ninjato-nya dari kiri. Pedang Hinata di tangan kanannya menepisnya dan pedang di kirinya langsung memukul tangan Naruko. Akibatnya Naruko melepaskan ninjato-nya. Hinata menendang ninjato itu jauh-jauh. Hampir mengenaiku. Kali ini Hinata menyerang dengan pedang di kirinya. Naruko menahannya dengan kunai di tangan kanannya. Tangan kiri Naruko mengayunkan pedang pendek ke arah leher Hinata. Serangan Naruko kembali ditepis. Akibatnya, tangan Naruko yang terpental ke belakang kini tidak bisa melindunginya. Tangan kanannya masih menahan pedang Hinata.

Dan seperti yang kupikirkan, Naruko dikalahkan Hinata. Tusukan Hinata mengenai dadanya. Tentunya tidak menembus dada Naruko. (Lebih tepatnya, pedang Hinata terjepit diantara kedua gunung kembar di dada Naruko. Ini menyebabkan mimisan Kiba bertambah parah.)

"Pertandingan selesai! Silahkan Namikaze Naruko-san dan Hyuuga Hinata-san keluar dari lapangan pertandingan!" seru Haruno-senpai. Naruko menjabat tangan Hinata.

"Teknik berpedang yang hebat. Tak kusangka ada orang yang bisa menggunakan dua rapier." Ujar Naruko.

"Kalau saja aku tadi tidak meremehkan kecepatanmu mungkin di awal tadi aku yang menang. Sayangnya aku belum berhasil menembus pertahananmu. Kau adalah orang pertama yang memaksaku menggunakan kedua pedangku, Namikaze-sama." Balas Hinata.

Naruko menyeringai, "Mungkin di lapangan aku kalah. Tapi di ranjang nanti, aku akan mengalahkanmu dan mendapatkan ****** Naru-chan!"

"Hoho~ kau menantangku adu **** paling lama dengan Naruto-sama? Aku terima tantanganmu!"

"OY! Apa maksud kalian di ranjang!?" seruku. Tapi mereka tidak mendengar. Mereka menatap mata lawan masing-masing dengan tatapan menantang. Tidak satupun dari keempat mata itu yang melihat kearahku! Seriusan woy! Apa maksud yang di ranjang tadi!?

"Uzumaki-kun, ikut aku ke ruang OSIS." Ajak Haruno-senpai. Aku menurut dan mengikuti Haruno-senpai dan Kiba ke ruang OSIS.

+ Konoha Knight's Academy +

"KARIN-NEE DITEMUKAN!?" spontan aku berteriak. Membuat Haruno-senpai dan Kiba kaget.

"Ya. Uzumaki Karin ditemukan dan berhasil ditangkap oleh Knight pusat di Busan, Korea Selatan. Uzumaki Karin sempat melawan sebelum akhirnya ditembak dengan peluru bius." Ujar Ketua OSIS akademi, Uchiha Itachi, kakak kandung Sasuke.

"Bagaimana dengan teman-temannya? Seorang pria berkulit pucat, berambut perak, dan bersenjatakan pedang besar? Atau pria besar berambut orange yang membawa gunblade?" tanyaku.

"Hanya ada Uzumaki Karin sendiri." Jawab Ketua OSIS. Begitu… makanya Karin-nee bisa tertangkap. Kalau ada mereka berdua, Karin-nee tidak akan bisa tertangkap dengan mudah karena kemampuan Juugo-nii yang bisa merasakan aura tanda kehidupan manusia.

"Jadi dimana Karin-nee sekarang?" tanyaku.

"Sebelum itu, Uzumaki Karin meminta kepala sekolah menyerahkan ini padamu." Ketua OSIS memberikanku sebuah flash drive.

"Ini…?"

"Uzumaki Karin minta agar ini diserahkan padamu." Ujar Ketua OSIS.

Aku pernah mengalami ini sebelumnya. Kalau Karin-nee memberikanku flash drive biasanya ada sesuatu yang tidak beres…

"Akan kuperiksa ini di kamar nanti." Ujarku sambil mengantongi flash drive itu.

"Ah, kalau begitu pastikan kalau kamarmu berada diluar jaringan pemerintah Jepang." Ujar Ketua OSIS. Aku menaikkan alisku sebelah.

"Kenapa?"

"Pesan dari Uzumaki Karin." Jawabnya singkat sambil mengedipkan sebelah matanya. Apa maksudnya?

+ Konoha Knight's Academy +

Isi flash drive 64 GB yang kudapat tadi adalah sebuah video dan beberapa file dalam format .pdf yang di-compress ke format .zip. Aku memutuskan untuk membuka video dulu dan kulihat Karin-nee bersama dua sahabatnya sekaligus orang yang sudah kuanggap abangku sendiri, Suigetsu dan Juugo.

[Kepada adikku tercinta sekaligus muridku, Uzumaki Naruto,

[Kalau kamu melihat video ini berarti aku atau siapapun diantara kami tertangkap oleh pemerintah dunia. Ah, sial. Sifat cerobohku keluar lagi deh. Haha, gapapa, gapapa. Oke, sekarang serius. Aku ingin memberitahu kamu sesuatu.

[Petualangan kami ke seluruh dunia adalah untuk mencari asal usul hunters ini. Apa yang kudapatkan masih belum cukup. Tapi setidaknya apa yang kami kumpulkan sudah cukup banyak. File-nya ada bersama dengan video ini. Kuserahkan file-file itu padamu. Jangan buka file ini kalau kau tidak yakin komputermu disadap atau tidak. Untuk sekarang lebih baik kamu jangan keluar pulau dulu. Sampai tiba waktunya, akan kuhubungi lagi kamu.]

Kamera mengarah ke Sui-nii, [Ey, yo Naru-boy! Mungkin ini bukan saat yang tepat tapi, aku, Karin, dan Juugo, kami… em… kami senang pernah menjadi keluargamu… aku ga tau kapan aku bisa ngomong ini. jadi akan kukatakan sekarang. Aku sangat bangga menjadi figur kakak untukmu. Aku akan menjaga Karin. Jadi, kalau diberita nanti headline-nya "Pria berambut perak menerobos penjara polisi Internasional" itu berarti aku. Udah dulu, giliranmu, Juugo.]

Kamera berganti arah ke Juugo-nii, [Naruto. Aku… aku tidak tahu mau bicara apa. Soal data-data yang kami kirim, semua sudah dikatakan Karin. Apa yang ingin kukatakan juga sudah dikatakan Sui.]

[Salah sendiri minta yang terakhir!]

[Berisik Sui! Ini jatah Juugo!]

[Iye, maaf…]

"Hahaha~!" aku tertawa lepas.

[Haha, begitulah. Kami masih seperti yang kamu kenal. Masih berisik seperti dulu. Jangan nyesal ya sudah jadi murid kami. Ah, aku tau mau bilang apa.

[Naruto, jangan terlalu banyak makan ramen. Sayur baik untukmu. Jaga kebersihan diri. Dan jangan kebanyakan main perempuan macam Sui. Oke?]

[Sui, kamu masih suka main perempuan?]

[Eh? Ng-nggak kok, say. Juugo boong tuh!]

[SUI! JANGAN LARI!]

"Hahahaha~!" aku kembali tertawa.

[Okelah. Sementara mereka kejar-kejaran, tolong jaga data yang kami kumpulkan. Memang tidak banyak, tapi itu masih berharga. Aku dan Juugo akan menjaga Karin. Oh, video ini tujuannya untuk pemberitahuan kami tertangkap ya…? Kalau begitu, siapapun diantara kami yang tertangkap, akan kami selamatkan. Jaga diri baik-baik, Naruto.]

[Tungu, tunggu! Jangan matikan dulu!] mendadak Karin-nee kembali muncul.

[Naru-chan, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Jaga dirimu, sayang. Kami menyayangimu.] video selesai. Aku menutup window media player yang kugunakan untuk membuka video tadi. Terasa air mengalir dipipiku. Ah, aku menangis ya…?

"Dasar, guru-guru bodoh… kalian bisa ga bikinnya ga macam video perpisahan…?"

Pintu kamar terbuka. Hinata dan Naruko masuk.

"Naruto-sama, hamba kembali."

"Naru-chaaan~! Onee-chan kembali~!"

"Selamat datang kembali." Aku menyambut Naruto dan Hinata yang baru kembali dari berbelanja di luar tadi.

"Eh? Kenapa matamu merah, Naru-chan?"

Aku mengusap mataku, "Kayaknya kemasukan debu."

+ Konoha Knight's Academy +

Saat ini aku dan Hinata sedang berada di kamar asrama Sasuke. Kami memeriksa file-file yang diberikan Karin-nee. Ada SANGAT BANYAK data yang kudapat darinya. Setelah data dalam format .zip itu di-extract, kapasitas memorinya bahkanmelebihi total memori laptopku. Cuma sedikit katanya?

"Di data yang ini dikatakan kalau satu-satunya cara membunuh hunters adalah dengan memenggal atau menghancurkan kepala mereka. Tapi data yang ini mengatakan kalau memukul kepalanya saja cukup untuk membunuhnya. Apa data ini pernah diuji?" gumam Sasuke.

"Setidaknya ini bisa jadi referensi untuk kedepannya." Ujarku. Kami kembali membaca data-data yang lain.

"Disini disebutkan bahwa Hunters masih bisa beregenerasi selagi otak mereka masih hidup. Berarti satu-satunya kelemahan mereka memang kepala." Ujar Hinata.

"Di akademi kita sama sekali tidak pernah diajarkan ini." gumamku. Pintu kamar terbuka dan masuklah Haruno-senpai bersama Naruko.

"Kami kembali. Ini minuman yang kalian pesan." Ujar Haruno-senpai.

"Maaf merepotkan, senpai."

"Tidak apa-apa. Yang sibuk juga kalian kok. Jadi setidaknya kami bisa membantu."

Aku kembali menatap layar komputer. Data ini biarpun (kata Karin-nee) belum lengkap, sebenarnya ini sudah menutupi ketidaktahuan kami tentang hunters selama ini.

"Ne, aku dari kemarin ingin bertanya ini pada guru." Sela Naruko.

"Tanya apa?"

"Kenapa tidak menggunakan senjata api untuk melawan Hunters? Dengan begitu akan lebih mudah kan?"

"Ah, di akademi cabang Tokyo tidak dijelaskan ya?"

"Tidak. Mereka cuma bilang begini 'Tugas kalian hanya perlu membunuh mereka. Jangan banyak tanya hal-hal tidak penting!' begitu."

"Pakai senjata api itu… gimana ya…? Itu sulit." Jawab Sasuke.

"Kenapa?"

"Karena mereka bisa mencium bau mesiu dari jarak yang sangat jauh." Jawabku.

"Dulu pernah dicoba menembak mereka dengan sniper dari jarak lima kilometer dan mereka tahu." Tambah Haruno-senpai.

"Wegh! Yang benar saja!"

"Dan bukan cuma senjata api, busur dan panah juga tidak terlalu efektif melawan hunters. Butuh waktu untuk menembakkan busur agar tepat mengenai otak hunters. Serangan yang dilancarkan bukan cuma dimaksudkan untuk menghancurkan kepala. Tapi target utama adalah otak mereka. Dengan begitu mereka tidak akan bisa beregenerasi. Itu kata data yang kami dapat. Tapi karena otak mereka kecil, belum tentu panah yang menembus kepala mereka mengenai otak. Karena itu jarang ada Knight yang memakai busur panah atau crossbow." Sambungku.

"Ah, aku baru ingat. Bukannya saat kita ikut bertempur dulu kau memakai musket, Hinata?" tanya Sasuke.

"Senapan Musket buatan Hyuuga Minamoto bukanlah musket biasa. Musket yang kugunakan waktu itu menggunakan prinsip pelontar yang mirip dengan railgun. Tanpa mesiu. Dan peluru yang ditembakkannya juga terbuat dari bahan khusus. Karena itu saat kutembakkan Hunters yang kutembak langsung meledak. Jadi tidak masalah." Jawab Hinata.

"Tunggu, tidak menggunakan mesiu… kalau begitu kenapa tidak kita usulkan saja senjata buatan Hyuuga Minamoto pada petinggi Knight?" tanya Naruko.

"Sebelumnya pernah diusulkan. Tapi petinggi-petinggi kolot itu tidak percaya pada kemampuan Hyuuga Minamoto. Karena itu cuma beberapa orang yang mau menggunakan senapan musket buatannya." Jawab Hinata. Jarang sekali mendengar Hinata bicara sepanjang ini.

"Uuuh, Naruto. mungkin kau harus melihat ini…" sela Sasuke.

Aku memperhatikan layar laptop Sasuke. Terdapat gambar bagian dalam hunters yang (menurut caption pada gambarnya) baru diambil. Gambar isi perut hunters (HOOOOEEEEEKKKK! Author muntah…). Tapi ada sesuatu yang aneh…

"Sasuke, kau yakin foto ini bukan edit-an?" tanyaku.

"Aku yakin ini bukan edit-an." Bantahnya.

"Bohong… jadi maksudnya selama ini Hunters yang kita perangi tidak memiliki organ dalam!?" seru Haruno-senpai.

Ya, foto isi perut hunter ini tidak ada organ dalam. Hanya ada potongan daging berdarah.

"Darimana mereka bisa dapat foto ini?" tanya Naruko (yang baru kembali dari toilet habis muntah).

"Tidak tahu dan tidak mau tahu…" jawabku menahan perutku.

"Apa ini harus kita laporkan ke kepala sekolah?" tanya Haruno-senpai.

"… kurasa lebih baik kita simpan dulu data ini. Saat Karin-nee mengirim pesan lagi, akan kuberikan data-data ini ke kepala sekolah." Aku menutup semua window di komputer Sasuke dan mencabut kabel LAN-nya.

"Lebih baik kita laporkan ini segera! Kalau tidak—

"Kita akan baik-baik saja. Kepala sekolah punya koneksi langsung ke petinggi Knight. Tapi aku tidak mempercayai para petinggi. Lebih baik kita simpan ini dulu." Aku menyela Sasuke.

"Sekarang lebih baik kita simpan data ini di tempat yang aman. Komputer dan laptopku tidak aman. Jadi dimana kita akan simpan?" tanyaku.

"Hamba akan membeli harddisk baru dan mengamankannya dengan keamanan tingkat tinggi dan mengirimnya ke kediaman Hyuuga. Disana tempat paling aman." Usul Hinata.

"Y-ya… kalau cuma disimpan di HDD lain aku yakin. Tapi apa kau yakin akan mengirimnya ke rumahmu?" tanyaku.

"Jangan khawatir. Kakak sepupu hamba yang akan mengurus segalanya."

"Kakak sepupu?"

"Ya. Beliau akan datang besok siang. Kita akan bertemu dengannya di Hotel Grand Alpha."

"Geh!? Hotel bintang tujuh itu!?" seru Haruno-senpai terkejut.

"Kita semua yang hadir di ruangan ini diharapkan untuk ikut menemui beliau." Sambung Hinata.

+ Konoha Knight's Academy +

Hinata tidak pernah bilang apa-apa soal sepupunya adalah Hyuuga Neji. Hyuuga Neji. Sekali lagi, HYUUGA NEJI.

Beliau adalah programmer jenius yang menciptakan android khusus yang memancarkan gelombang sonar di bawah laut dan mampu mengangkat beban berat. Android inilah yang menemukan korban kapal selam yang terjebak di reruntuhan bawah laut saat gempa di Tokyo empat tahun lalu. Selain itu beliau juga membantu pendirian perusahaan telekomunikasi Namikaze.

"Jadi, apa yang diperlukan sepupuku tersayang?" tanya Neji saat kami tiba di kamar VVVIP-nya di lantai paling atas.

"Ani-ue, kami membutuhkan bantuanmu untuk mengamankan data dalam HDD ini." pinta Hinata.

"Boleh kulihat isinya?" aku mengangguk. Neji membukanya dan memeriksa isinya.

"Kenapa diamankan? Bukan diberikan ke petinggi Knight?" tanya Neji.

"Ani-ue pasti tahu kenapa." jawab Hinata singkat.

"Yah, keluarga Hyuuga tidak mempercayai para petinggi kolot bau tanah itu. Bodohnya aku, kenapa aku meragukan adik sepupuku tercinta?" adik sepupu tercinta katanya… "Kalau begitu harap tunggu sebentar… selesai."

"Eh? Udah selesai? Cepatnya…" seru Sasuke.

"Begitulah. Sekarang HDD ini hanya bisa dibuka oleh mereka yang tahu password-nya—itu berarti kalian dan aku sendiri. Tapi ingat, kalau salah memasukkan password-nya sekali saja, virus akan menghancurkan HDD ini dan mustahil untuk mengembalikannya." Neji menyerahkan HDD itu kembali pada Hinata.

"Terima kasih, Hyuuga-san." Aku membungkukkan badanku.

"Panggil aku onii-sama, Naruto-kun."

"Eh? Anda tahu saya?" ujarku kaget.

"Haha, mana ada yang tidak kenal putra pemilik perusahaan Telekomunikasi terbesar di Jepang!"

"Eh? Maksudnya…?"

"Lho? Malah tanya balik. Berarti kamu belum bertemu Minato-san ya? Ah sudahlah. Nanti juga kalian bertemu."

"Ah, maaf. Aku hanya ingat ibuku berasal dari klan Uzumaki. Itu saja." Ujarku sambil mengelus belakang kepalaku.

"Pokoknya begitulah. Kalau kalian butuh sesuatu lagi datang saja. Aku masih di sini untuk beberapa hari kedepan." Ujar Neji. Kami lalu pamit.

+ Konoha Knight's Academy +

Tiga hari kemudian aku kembali mendapat e-mail dari perdana menteri Jepang.

[Serahkan data yang diberikan Uzumaki Karin kalau ingin dia selamat.] Pesan yang singkat, padat, dan jelas.

"Bagaimana ini…?" aku bingung harus apa. Tidak mungkin aku menyerahkannya begitu saja! Tapi kalau tidak kuberikan, Karin-nee…

"Naruto-sama, Neji-niisama ingin bicara." Hinata menyerahkan ponselnya padaku.

"Iya, Naruto di sini."

"Sepertinya keadaan jadi sulit, Naruto-kun."

"Maksudnya?"

"Kamu pasti dapat e-mail dari perdana menteri kan? Aku juga dapat. Beliau minta aku memberi tahu password pembuka HDD berisi data penelitian Karin-san."

"… bagaimana ini, Neji-san? Aku tidak tahu harus bagaimana…"

"… apa kamu ingin menyerahkannya?"

"Tentu saja tidak! Ini data yang dikumpulkan Karin-nee selama perjalanannya! Karin-nee dan teman-teman pasti melalui perjalanan yang sulit demi data penelitian ini! Mana mungkin aku memberikan data ini secara percuma!"

"Kalau begitu jangan berikan. Gampang kan?"

"Tapi Karin-nee…"

PEEP! Sebuah e-mail masuk ke laptopku. Aku membukanya dan membaca,

[Cukup serahkan HDD-nya dan kakakmu akan selamat.]

"Kamu dapat e-mail juga ya, Naruto-kun?"

"… ya."

"Sepertinya pembicaraan kita berhasil disadap. Kita bicara lagi nanti." Telpon diputus. Aku menyerahkan kembali ponsel ke Hinata.

"Apa yang akan anda lakukan, Naruto-sama?"

"… entahlah… aku sudah tidak tahu harus bagaimana…"

PEEP! Sebuah e-mail kembali masuk. Aku ragu membukanya, karena bisa saja dari perdana menteri lagi. Tapi e-mail itu tiba-tiba terbuka sendiri.

[Kita bertemu nanti di Le Blanc café jam 3. Ajak Hinata dan Sasuke-san.

Neji]

Ternyata e-mail dari Neji-san. Tapi kenapa dia ingin mengajak Hinata dan Sasuke? Aku membalas e-mailnya.

[Kenapa mengajak Sasuke dan Hinata?]

PEEP! Balasannya masuk bahkan lebih cepat dari kecepatanku mengetik.

[Kau akan tahu nanti.]

Chapter 4 : END

A/N :

Sepertinya konflik makin sulit nih… Karin tertangkap, sekarang perdana menteri malah minta data penelitian Karin. Ada apa dengan perdana menteri? Sebelumnya dia sudah memerintahkan bahkan menyuap Naruto untuk tidak mencari Karin. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apa yang akan dilakukan Naruto? Kenapa perdana menteri ingin mencegah Naruto menemukan Karin dan meminta data penelitian Karin? Harap bersabar. Jadi anak kuliahan itu ga mudah loh…

Dan lagi,

Untuk pertama kalinya sejak saya menulis di FFn,

SAYA DAPAT FLAME! Mwahaha, actually, I'm not even mad. saya dapat flame dari pembaca tanpa akun yang mengatasnamakan dirinya O'grady. dia menulis : jelek ancur bgt fic nya woy babi.. Begitu. Saya tidak pernah mempedulikan komentar buruk orang lain tentang karya saya. Bagi saya komentar buruk atau kritikan dari orang lain adalah cambuk motivasi agar saya dapat berkarya lebih baik. Tapi, ini mah ga bisa dibilang cambuk motivasi ya...

Terima kasih pada para pembaca yang sudah me-review dengan baik. Untuk beberapa minggu atau bulan kedepan saya istirahat dari menulis dulu. Jangan khawatir, saya masih akan melanjutkan menulis. Saya cuma butuh istirahat dari menulis. Beberapa minggu atau bulan lagi chapter 5 akan update kok. Disaat saya mengupdate chapter ini, chapter 5 sudah dikerjakan 20% lebih.

Pamit dulu, sampai jumpa beberapa bulan lagi!

TO BE CONTINUED TO CHAPTER 5 :

Is that you, nee-chan?