Hinata masih sibuk dengan pikiran-pikiran buruknya tentang akhir dari koridor yang terasa sangat panjang ini. Berkali-kali mengerjapkan matanya, padahal ia sama sekali tidak kelilipan benda apapun.
"Apa nona baik-baik saja?" Tanya Matsuri tiba-tiba, ia berhenti dan berbalik menghadap Hinata, alhasil membuat sang nona tersebut salah tingkah.
"Y-ya, aku tidak apa-apa." Jawab Hinata sembari meremas gaun violetnya.
Matsuri mengerutkan keningnya, sedetik kemudian Matsuri merapatkan bibirnya dan membuka pintu kamar yang begitu besar di sisi kanan koridor. Namun pintu itu tidak sebesar pintu di ujung ruangan.
Derit pintu membuat detak jantung Hinata berpacu semakin cepat. Rasanya seperti semua darah di dalam tubuhnya hanya berpusat di kepala. Membuat kakinya terasa kebas.
"Silahkan nona."
Berat. Kakinya berat. Namun kemudian ia tetap melangkah masuk ke dalam ruangan yang lebih besar dan lebih megah dari kamarnya yang sebelumnya itu.
Beraksen begitu klasik dengan 4 pilar yang menjulang tinggi. Ranjang king size klasik, lemari besar, kaca, nakas di masing-masing samping ranjang dan...
Gaara.
Laki-laki itu sibuk dengan game yang ada di hadapannya.
Inilah yang membuat Hinata diliputi kengerian sejak awal ia berjalan di koridor.
"Saya permisi Tuan Muda, Nona."
"Hn."
Cklek
Hening.
"E-ehhhhhh? Matsuri?!" Hinata langsung berbalik dan mendapati pintu besar tersebut telah tertutup. Ia berlari menghampiri pintu dan menekan kenop pintunya.
Cklek cklek
Hening.
Cklek cklek
Hening.
"E-eh? Te-terkunci?"
Hening.
"MATSURI! DIMANA KAU? MATSURI! SUNGGUH INI TIDAK LUCU! MATSURI!"
"berisik."
Uuuuu. Dingin sekali pangeran kita si Gaara ini. Hinata terkesiap, ia langsung membungkam mulutnya dan menunduk ketakutan. "Ta-tapi.. pi-pintunya terkun-kunci."
"Lalu?"
Ini sulit. Hinata berpikir tidak ada gunanya jika mengadukan hal ini pada Gaara. Kemudian dengan takut-takut, Hinata berjalan ke arah di belakang Gaara.
BLEDAR!
Seketika Hinata berhenti dan memejamkan matanya. Tangannya saling mengaitkan antara satu dan yang lain. Saat guntur tidak berbunyi lagi, Hinata kembali membuka matanya dan berjalan lagi. Dirinya semakin takut. Selain dikunci di ruang gelap bersama Gaara, guntur juga ikut melengkapi.
Bagus sekali.
Rasanya Hinata ingin tertawa terbahak-bahak kali ini.
Perlahan, setelah ia telah sampai di depan pintu kaca, ia membukanya. Saat pintu tersebut hanya terbuka sedikit celah, Hinata langsung tahu, yang ada di luar sana bukanlah sekedar hujan. Namun badai.
Dengan cukup keberanian, ia melihat kebelakang, ke arah Gaara. Rupanya laki-laki itu masih tetap dalam posisi awal Hinata melihatnya di kamar ini, bermain game console. Hinata menghembuskan nafas lega. Kemudian ia kembali memantapkan tekadnya.
Sedikit demi sedikit ia membuka pintu kaca yang membatasi kamar dengan beranda tersebut. Saat ia sampai di beranda, guntur kembali menyambar. Bahkan Hinata hampir terpeleset karena air yang menggenang di perkarangan balkon. Gaun violet nya basah kuyub.
Hinata menggenggam pegangan balkon dan melongok ke bawah. Wah. Begitu tinggi hingga ia tak tahu dirinya sedang berada di lantai berapa. Saat ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada jalan setapak di bawah jendela yang saling berhubungan. Lalu, bagaimana ia bisa keluar dari sini?
"Apa kau berencana bunuh diri?"
Eh?
"Aku tidak akan menjamin kematianmu."
Hinata mengerutkan keningnya. Hey, ia tidak mau bunuh diri! Hinatamasih mempunyai harga diri.
"Ti-tidak.. hanya saja.. aku ingin.."
"Kabur."
Eh? Lagi-lagi laki-laki sempurna di hadapan Hinata itu membuatnya membulatkan matanya. Bagaimana Gaara bisa tahu isi pikirannya?
"Kenapa kau mau kabur?"
Hinata hanya menggeleng.
"Karena kita sekamar?"
Kali ini Hinata mencoba memberanikan diri melirik pemuda itu dari balik bulu matanya. Gaara bersandar di pintu kaca sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Rambut merahnya berterbangan akibat angin dari badai. Ia full bule.
"Lucu sekali." Ucap Gaara dengan desisan meremehkan. Ia memutar tubuhnya dan kembali serius dengan game nya.
Cklek
Ehh?
"Oh hai, Hinata. Bagaimana kamarku? Nyaman? Jangan hiraukan Gaara, dia memang seringkali menyelinap masuk ke dalam kamarku." Temari tiba-tiba datang dan berucap panjang lebar. Senyum lebarnya tak pernah hilang dari wajah cantiknya.
Sitka terperangah. Ia mengira kamar ini milik Gaara dan dia hampir kabur. Wow. Konyol. Pantas saja tadi Gaara menertawakannya dengan tampang remeh.
"Umm.. Hinata, kenapa kau hujan-hujanan? Di luar banyak guntur, bukankah kau takut? Ayo masuk ke dalam, segeralah mandi dan ganti pakaian mu, oke?"
Hinata mengangguk, namun ia masih terbengong sendiri. Temari menghela nafas dan menghampiri adik iparnya itu. "Hinata?"
Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali dan akhirnya kembali ke dunia nyata. Lalu ia tersenyum, meminta maaf pada Temari dan pergi ke kamar mandi.
"Keh." Gaara kembali mengeluarkan suara meremehkan miliknya.
Temari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
~•~
Chapter kedua ini ngebayangin kastil yang ada di film anime snow white tapi yang red hair gitu deh lupa namanya hehe:) makasih untuk yang udah review, cerita ini juga ada versi wattpad nya loh, dengan judul yang sama, silahkan baca yang waatiers:D
Jangan lupa RnR ya:D
Oh iya menjawab pertanyaan di review, btw ini pairingnya Hinata x Gaara:) agak sulit juga edit nya soalnya by phone sih:DD yaudah kalo gitu, jaa~
