Chapter 5 : Is that you, nee-chan?
Karena beberapa hal, sekarang saya, Shikato Fizan, yang mengupload fic ini untuk sepupu saya tercinta, fazrulz21.
Author's note from beloved fazrulz21 :
Saya sedang sekarat sekarang.
Haha, becanda kok. Saya baru keluar rumah sakit dua hari yang lalu dan kembali ke kota tercinta Pekanbaru Kota Bertuah (konon pulak betuah…) dengan selamat. Tapi serius, terima kasih kepada siapapun bangsat terkutuk bin bajingan sialan yang memberikan izin pada perusahaan pembakar lahan, sekarang saya mendapat pengobatan dan dirawat (lagi) di rumah sakit. Dulu saya juga udah sering keluar-masuk rumah sakit yang sama. Sampai dokter dan perawat di sini udah kenal saya. Haha, jadilah sekarang saya tengah terbaring dengan keadaan setengah lemas dan masih batuk-batuk sedikit. Nggak, nggak. Bukan kanker kok. Kata dokter baru gejala ISPA. Tapi udah parah banget. Makanya sampai dirawat. Mudah-mudahan kita yang di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Kalimantan, dan daerah-daerah lain yang saya tak tahu tekena jerebu bisa kembali menghirup oksigen tanpa harus membayar 800 ribu untuk satu tabung oksigen. #MasihMelawanAsap #RevolusiLangitBiru
Jam dinding di kamar saat ini menunjukkan pukul 2.44 PM tanggal 15 Oktober 2015 saat saya selesai mengedit chapter ini. Saya minta tolong ke sepupu saya untuk meng-update chapter ini karena laptop saya tidak mendeteksi adanya hotspot internet rumah.
Di chapter ini akan ada kembali pertempuran melawan Hunters. Di chapter ini Naruto akhirnya akan bertemu dengan sang kakak tercinta, Karin! Yaaay~! Bagaimana ceritanya? Selamat membaca!
STORY START!
Le Blanc café pulau Yuusha, jam 3 sore,
Sesuai permintaan Neji-san, aku membawa serta Sasuke dan Hinata. Dan di sana bukan cuma kami berempat, ada seorang pria berambut putih panjang dan… memakai… make up kabuki…? Orang aneh?
"Ah, kalian sudah datang. Baiklah, sekarang kita mulai—
"Ah, sebelum itu, Neji. Mungkin lebih baik aku memperkenalkan diri dulu?" pria tua itu memotong Neji-san.
"Ah, silahkan."
"Namaku Jiraiya. Aku mata-mata yang bekerja untuk keluarga Namikaze. Ya, itu keluargamu, Naruto." ujar pria tua itu.
"Eh? Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan—
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak! Sudah jelas kau adalah putra Minato dan Kushina! Kau sudah bertemu kakakmu kan?" aku mengangguk, "Mungkin untuk lebih jelasnya aku kapan-kapan akan membawamu ke rumah nanti." Ujarnya lagi.
"Oke, kesampingkan itu dulu. Naruto-kun, apa kau membawa HDD-nya?" tanya Neji-san.
"Ada pada Hinata." jawabku. Hinata menyerahkan HDD itu dan Neji-san membukanya. "Ano… Neji-san…?"
"Sudah kubilang bukan, panggil aku "onii-sama", Naruto-kun." potong Neji-san.
"Eh, tapi… aku…"
"Jangan begitu. Toh nanti kita juga akan jadi keluarga."
BRAK! Hinata menggebrak meja. Wajahnya memerah. Entah kenapa, dia terlihat sangat imut…
"Ani-ue! Serius! Kita disini bukan untuk main-main!" Hinata yang biasanya bicara dengan nada datar, menghardik Neji-san.
"Haha, jangan terlalu serius begitu, Hinata sayang. Lagipula kamu sendiri yang bilang kalau—
"HAWAWAWAWAWA!" Hinata langsung membungkam mulut Neji-san dengan rapiernya.
"Haha, oke, oke, aku serius. Sekarang, kita lihat di data yang ini." Neji-san membuka salah satu data yang belum kami periksa sebelumnya. Terlihat gambar sketsa Hunters dan bagan-bagannya. Bukan hanya itu, ada juga foto beberapa orang memakai jaket lab yang terlihat membedah sesosok manusia berukuran sangat besar. Kalau diperkirakan mungkin tingginya sekitar dua meter lebih.
"Ini…?" Sasuke memperhatikan gambar tersebut.
"Ya. Tepat seperti dugaan Jiraiya-sama. Sepertinya Hunters adalah makhluk hasil percobaan ilegal. Dan inilah yang harus kita selidiki lebih jauh lagi." ujar Neji-san. Ia membuka data lainnya.
"Ah, ini gambar isi perut Hunter kemarin!" seruku.
"Jadi mereka tidak punya organ dalam?" tanya Jiraiya. Neji-san menggeleng.
"Tidak. Ini sebenarnya foto dokumentasi percobaan pembuatan Hunters. Saat ini mereka sedang mengganti organ dalam Hunters dengan yang lebih kuat."
"EH!?" seruku, Sasuke, dan Hinata.
"Ah, mungkin sebaiknya kita mengajak yang lain juga…" keluh Neji-san.
"Kalau begitu kenapa tidak kita panggil saja mereka?" usul Hinata.
"Tidak perlu. Mereka sudah disini." Tepat setelah Jiraiya berkata begitu, di meja belakangku terdengar suara orang batuk. Dan suara ini sangat khas, menurutku.
"Sejak kapan kalian disana, Naruko?"
Ya, suara batuk itu adalah suara Naruko. Selain itu aku sudah curiga dengan dua cabang rambut itu. Dan bukan cuma Naruko. Haruno-senpai, Kiba, juga Shino (yang benar saja…) juga ada.
"A-ahahahaha~ ketahuan deh~!" Naruko menggaruk kepalanya.
"Sudah kuduga seharusnya kita menyamar." Gumam Shino.
"Bukannya itu jadi tambah mencurigakan?" timpal Kiba.
"Maaf, Uzumaki-san. Tapi mereka bersikeras ingin ikut saat melihat kalian keluar sore ini." Haruno-senpai membungkukkan badannya. Aku menghela napas panjang.
"Kalian semua… dasar…"
PIPIPIPIPIPI~!
Ponsel Sasuke, Hinata, dan Haruno-senpai berbunyi. Mereka membaca pesan yang masuk dan membelalakkan mata mereka.
"Ada apa?" tanya Kiba.
"Hunters ditemukan di gurun Ikigimo! Kita diperintahkan menghadap kepala sekolah segera!"
=-=Konoha's Academy for Knights=-=
Seperti yang dikatakan Haruno-senpai, kami yang pernah satu tim sebelumnya diminta menghadap kepala sekolah. Kali ini kami mendapat dua anggota baru, Naruko dan satu murid perempuan yang tidak kukenal. Dia berasal dari Prancis. Ciri khasnya adalah rambut putihnya yang berkilau terkena sinar matahari, dan mata merahnya yang menyala seperti nyala api.
"Baiklah, seperti yang sudah diberitahukan lewat Haruno-san, kalian akan dikirim ke gurun Ikigimo. Dilaporkan sampai saat ini belum ada korban. Kali ini kita akan mencoba menangkap dan meneliti mereka. Tugas kalian adalah mengalihkan perhatian Hunters untuk masuk perangkap yang sudah disiapkan. Kalian akan diantar pada 0900 besok. Sekarang bubar!"
"Dimengerti!" kami membubarkan diri. Baru beberapa hari yang lalu kami dikirim ke Gobi, sekarang kami kembali dikirim ke gurun?
Di jalan kembali ke asrama,
"Naruto-sama, apa anda akan memakai pedang yang kemarin?" tanya Hinata.
"Ya. Memang kenapa?" tanyaku balik.
"Hamba sarankan anda menggunakan senjata yang lebih panjang. Pada pertempuran sebelumnya, anda melawan Hunter yang menggunakan tongkat sebagai senjata. Bisa jadi kita akan menghadapi lawan yang sama kuat atau bahkan lebih kuat darinya dan menggunakan senjata panjang. Akan lebih efektif kalau anda juga menggunakan senjata yang panjang seperti tombak atau naginata." Ujar Hinata panjang lebar. Aku menggeleng.
"Bukannya tidak bisa atau tidak mau. Hanya saja aku merasa lebih nyaman menggunakan pedang. Aku bisa menggunakan tombak ganda, tapi aku merasa kurang puas menggunakannya. Sampai saat ini pedanglah yang bisa kuanggap perpanjangan diriku sendiri." Ujarku.
"Maksud anda?"
"Guruku mengajarkan bahwa "Senjatamu adalah perpanjangan dirimu. Jika kau tidak merasa nyaman dengannya berarti itu bukan perpanjangan dirimu melainkan pengganggu dirimu. Gunakan senjata yang sesuai kehendakmu dan senjata itu tidak akan menjadi penganggu." begitu." Ujarku.
Memang dulu aku pernah belajar memakai tombak dan tongkat. Dan rasanya tidak seseru mengayunkan pedang.
"Kalau anda berkata begitu, hamba tidak bisa membantah." Ujar Hinata pasrah. Kami melanjutkan perjalanan ke asrama. Hanya saja di perjalanan telingaku menangkap suara-suara tidak menyenangkan.
'Lihat itu. Dia cuma rank-D tapi ditunjuk untuk misi ke Ikigimo. Aku kan rank-A, lebih tinggi darinya!'
'Katanya dia murid kepercayaan kepala sekolah. Kalau begitu kita ini apa? Apa kepala sekolah tidak mempercayai kita?'
'Jangan-jangan dia mempengaruhi Uchiha-sama untuk membujuk kepala sekolah agar dia bisa ikut misi!'
'Dasar menjijikkan! Padahal baru sekali menang latih tanding, tapi lagaknya benar-benar membuatku muak!'
'Kuharap dia mati di Ikigimo!'
Dan ada beberapa bisikan lain yang tidak kumengerti bahasanya. Semua bisikan tadi datang dari murid perempuan. Wajar mereka membenciku. Aku laki-laki, ras yang direndahkan di akademi ini. Biarpun ketua OSIS adalah laki-laki, Itachi-san adalah satu-satunya anggota OSIS laki-laki. Jadi tetap saja laki-laki adalah ras terkucilkan.
Di depan pintu masuk gedung asrama, kami dicegat seseorang.
"Bisa kita bicara, Monsieur Uzumaki?" tanyanya. Sulit bagiku mendengarnya bicara karena aksen Prancis-nya tercampur. (Bahasa pengantar untuk akademi adalah Bahasa Inggris. Jadi semua murid wajib bisa berbicara dalam bahasa Inggris.)
"Ah, kau murid yang satu tim dengan kami kan? Ada apa?" tanyaku.
"Ya. Namaku Fleur Francois, asal Prancis. Aku ingin bertanya sesuatu boleh?"
"… boleh saja. Tanya apa?"
"Aku sudah lama memperhatikanmu. Sejak awal masuk akademi, kau sama sekali tidak pernah bertarung serius kecuali saat melawan senior kelas 3-A. Selain daripada itu kau tidak pernah memperlihatkan kemampuanmu sebenarnya. Siapa kau yang sebenarnya?" memang benar, satu-satunya saat aku bertarung serius adalah saat melawan Haruno-senpai di ujian kenaikan kelas. Bahkan saat melawan Hinata dan hunter di gurun Gobi aku tidak serius.
"… jujur aku sendiri tidak tertarik dengan banyak hal di dunia selain game. Mungkin karena itu aku tidak pernah serius menanggapi hal." Ujarku bercanda. Francois malah menamparku.
"Kau bilang kau tidak tertarik dengan hal selain game? Itulah kenapa kau diremehkan! Kau tahu murid-murid yang tahu kau diikut sertakan dalam misi ini berharap kau mati!?" serunya. Aku mengelus pipiku yang memerah.
"Aku tahu itu. Justru itu aku tidak punya niat untuk mati dan kembali ke akademi untuk menunjukkan pada mereka kalau laki-laki itu kuat."
"… kau benar-benar… aku tidak tahu harus bilang apa tentangmu…"
"Apa kau punya masalah dengan itu?" tanya Hinata.
"Sejujurnya aku tidak bisa bekerja sama dengan orang yang belum terlalu kukenal. Tapi setidaknya mengetahui kalian yang sebenarnya saja sudah cukup. Itu saja. Aku pergi dulu." Francois berbalik dan pergi. Meninggalkan aku dan Hinata.
"Ngomong-ngomong, Hinata. kenapa tadi kau tidak menahan tamparannya? Biasanya kalau aku kenapa-kenapa kau pasti selalu melindungiku."
"… tidak tahu." Hinata berlalu begitu saja.
"Eh? Apa maksudnya? Tunggu, Hinata!"
=-=Konoha's Academy for Knights=-=
Kami diberangkatkan ke Tokyo. Di sana kami diberi instruksi kemana akan menggiring para hunters tersebut dan menangkap mereka. Kami tidak diperintahkan untuk membunuh mereka kecuali dalam keadaan mendesak. Diperkirakan ada 15 hunters yang berada disana. Korban jiwa sampai saat ini belum ada. Para hunters itu berjalan perlahan tapi tak tentu ke arah Tokyo. Skenario terburuknya, kalau mereka sampai di Tokyo, kami benar-benar harus membunuh mereka tanpa sisa.
"Itu rencana kita nanti. Ingat, jangan sampai kita masuk skenario terburuk. Ikigimo adalah panggung kita! Kitalah yang menentukan skenarionya!" seru Haruno-senpai memberi motivasi. Kami balas berseru dengan semangat. Dengan ditambah dua orang anggota, kami yakin kami bisa menjalankan rencana ini dengan baik.
Kami diberangkatkan ke gurun Ikigimo dengan truk bak terbuka (atau bahasa kerennya truk pick-up). Yang menunggu di jebakan adalah sekelompok Knight veteran dan beberapa peneliti. Kami diperintahkan menangkap semua hunters yang ada di sana. Menurut laporan tim pengintai, hanya ada 15 hunters di lokasi. Kami harus menangkap semuanya. Kalau masuk skenario terburuk, kami harus membunuh semuanya.
Gurun Ikigimo. Terletak kurang lebih 100 km dari ibukota Tokyo. Ada alasan kenapa gurun ini dinamakan "organ dalam". Dulunya ini adalah padang rumput luas. Tapi sejak perang melawan hunters dimulai, daerah ini menjadi gersang dan panas sehingga menjadi seperti ini. dan dikarenakan dulu belum diketahui cara membunuh hunters yang efektif, organ dalam para Knight berhamburan dan berserakan di gurun ini. Cerita yang mengerikan memang. Aku berharap organ dalamku tidak berserakan di gurun ini.
Truk berhenti dan kami diturunkan di dekat jejeran batu-batu besar. Dari sini kami bisa melihat beberapa hunters berkeliaran. Benar kata tim pengintai, jumlah mereka hanya 15. Mereka juga tidak terlihat menggunakan senjata besar.
"Oke, sesuai rencana. Hyuuga-san, silahkan." Kami menutup telinga. Hinata lalu menembakkan senapan musket-nya ke udara. Terdengarlah suara letusan yang membuat hunters yang tadinya cuma berkeliling tidak jelas, berbalik dan mengejar ke arah kami.
Dengan cepat. Sangat cepat.
"Kiba, Sekarang!" aku memberi aba-aba ke Kiba yang berada di balik batu lain. Dia juga ikut menembakkan senapannya. Hunters itu terlihat bingung. Mereka pun berpencar. Beberapa mengejar kelompok Haruno-senpai, beberapa mengejar kelompok Kiba.
Rencana kami sederhana. Masing-masing dari kami membawa senjata api bersura keras. Kami memancing mereka dan membuat mereka mengejar kami. Kami membagi ke dua kelompok untuk membingungkan mereka dan mengulur waktu. Dua kelompok ini nantinya juga akan berpencar sampai akhirnya satu orang yang akan menggiring satu-dua hunter. Rencana sederhana yang beresiko nyawa kalau sampai gagal.
"Kelompok Kiba, pergi ke runtuhan tebing di selatan! Buat mereka berputar si sana sementara Shino menyiapkan jebakan penahan! Kelompok Haruno-senpai! Kita akan memutari sisi lain runtuhan tebing! Dari sini kita berpencar dengan kelompok Kiba! rencana penguluran, DIMULAI!" aku memberi komando. Kelompok Kiba ada Shino, Fleur Francois, Naruko, dan Kiba sendiri. Kelompokku ada aku sendiri, Haruno-senpai, Hinata, dan Sasuke. Saat berpencar nanti jadinya Naruko dengan Shino, Kiba dengan Francois, aku dengan Sasuke, dan Hinata dengan Haruno-senpai.
Aku berlari paling depan diikuti oleh Sasuke. Haruno-senpai dan Hinata sudah bersiap akan memisahkan diri. Sasuke menggenggam handgun-nya. Bersiap hendak menembak—
JLEB!
Sebelum tangannya terkena panah dari belakang.
Betapa terkejutnya kami saat melihat salah satu hunter memegang busur panah. Ini tidak ada dalam rencana semula!
"Haruno-senpai! Hunters di belakang menggunakan panah! Sasuke kena panah! Apa yang harus kita lakukan!?" tanyaku. Kami terpaksa berkumpul kembali.
[Lapor, ketua! Hunters dis… menggunakan crossbow dan …mbak Naruko! Bag…na!? Apa … tetap pada rencana …mula!?] tanya Kiba lewat intercom. Suaranya terdengar putus-putus dan tidak jelas.
"Cih! Kita sama sekali tidak menyangka kalau akan jadi begini. Skenario terburuk kedua muncul! Habisi mereka semua tanpa sisa!"
Dengan komando itu, kami membalikkan badan dan menarik senjata masing-masing.
Sialnya, hunters sialan itu juga berbalik badan dan lari.
"Mereka lari! Kita kejar?" tanya Hinata.
"Jangan! Bisa jadi ini perangkap mereka. Bagaimana disana, Kiba?" tanyaku. Tapi tidak ada balasan.
"Kiba, tolong jawab! Bagaimana keadaan disana?" yang terdengar hanya suara putus-putus.
"Aku juga tidak bisa menghubungi Shino!" timpal Sasuke.
"Sepertinya komunikasi di sini terganggu. Tapi bagaimana mungkin!? Intercom buatan Kotetsu-san tidak mungkin rusak!" ujar Haruno-senpai kesal.
"Hunters itu tidak terlihat lagi. Bagaimana sekarang, senpai?" tanya Hinata.
"Kita harus berkumpul dengan kelompok Inuzuka-kun. Kalau keadaannya sudah begini, seharusnya kita tidak berpencar tadi…" gumam Haruno-senpai.
DOR! Terdengar suara tembakan dari balik salah satu batu besar di depan kami. Kami melihat Francois sedang membalut luka di betis Naruko. Kiba sedang bertarung dengan satu hunter bersenjatakan pedang pendek. Sasuke dan Hinata pun membantunya. Dan Shino yang… astaga!
"Shino! Kenapa tanganmu—
"Tidak apa-apa! Cuma luka kecil—
"LUKA KECIL GUNDULMU!? KAU KEHILANGAN TANGAN KIRIMU BODOH!" hardik Haruno-senpai. Baru kali ini kudengar dia menggunakan bahasa kasar.
"Maaf, aku lengah. Kupikir hunter itu tidak membawa senjata besar. Ternyata dia membawa pedang pendek." Ujar Shino.
"Dimana hunter yang membawa crossbow kata Kiba tadi?" tanyaku. Shino menunjuk ke jebakan senar yang dibuatnya tadi. Terdapat potongan daging—HOEK!
"Setidaknya kita berhasil menahan yang satu itu." Ujar Francois yang selesai membalut luka Naruko.
"Naru-chan, bagaimana dengan kalian? Dimana hunters yang mengejar kalian?" tanya Naruko.
"Kabur. Tadinya mereka mengejar kami. Kemudian satu dari mereka memanah tangan kanan Sasuke. Saat berbalik ingin menyerang, mereka berbalik kabur." Jawabku.
"Mereka kabur? Yang benar saja! Sepanjang sejarah belum ada hunters yang berbalik dari manusia!" seru Francois.
"Memang begitu kenyataannya. Sekarang kita bantu Kiba dulu—
"Hunters! Yang mengejar kita tadi kembali datang!" seru Sasuke. Bukan cuma yang mengejar kami tadi, tapi juga beberapa hunters lainnya. Dihadapan kami sekarang ada sepuluh hunters.
"Cih! Satu saja sudah merepotkan. Sekarang sepuluh!?" umpat Kiba.
"Serahkan yang di sini padaku." Francois maju kedepan. Ia membuka jubahnya dan—WHAT DAFUQ!?
DORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDORDOR—
Rentetan peluru menyembur dari P90 Sub-Machine Gun Custom dengan tambahan magazine lebih panjang dan satu Assault Rifle yang tidak kuketahui namanya di tangan Francois. Bukan cuma itu, di tubuhnya masih ada beberapa senjata api lainnya seperti L115A1 Magnum Sniper Rifle, Walther PPK Handgun, Colt Phyton Handgun, Glock Custom Handgun dengan Dot Sight, serta M4-A1 Custom dengan tambahan Scope dan Laser Sight. Masih banyak senjata api lainnya yang tidak kuketahui namanya. Setiap satu senjata kehabisan amunisi, dia langsung mengambil senjata lainnya. Sekarang aku tahu dari mana asal suara tembakan tadi.
"HYAHAHAHAHAHAHAHAHA! MATI! MATI! MATI! MATI! MATI! MATI!—" dan kata-kata umpatan kasar dalam bahasa Prancis keluar dari mulutnya. Semua hunters tadi pun mati. Selongsong peluru berserakan di sekitar Francois. Dia bernapas terengah-engah. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia masih belum puas menembak.
"F-Franc—Madamé Francois…?" kuberanikan diri memanggilnya. Dia melirikku dengan tatapan menakutkan. Kemudian dia tersadar, wajahnya memerah, dan dia pun menutupi wajahnya.
"… jangan bilang ini ke orang-orang disekolah. Oke?" Ujarnya pada kami. Aku cuma mengangguk kecil.
Satu hal yang terlintas dipikiranku, 'Kawaii…'
=-=Konoha's Academy for Knights=-=
Setelah membalut lengan Shino, kami mengirimnya kembali ke camp bersama Naruko. Sedangkan kami mencari hunters lain dan membunuhnya. Tadi sudah sebelas hunters yang dibunuh. Tinggal empat lagi. Sayangnya yang empat ekor ini terlalu cepat. Hinata bahkan kesulitan menyerangnya sampai harus menggunakan kedua pedangnya. Aku pun juga sudah mengeluarkan kedua pedangku. Tapi aku tidak bisa menyerangnya. Kiba juga kelelahan. Francois tidak bisa menembaknya karena mereka terlalu cepat. Akibatnya, dia sekarang kehabisan amunisi. Sasuke tidak bisa apa-apa karena dia penyerang tipe power. Bukan speed. Dan Haruno-senpai sudah kehilangan tombaknya yang patah. Kalau begini malah kami yang bakal dihabisi. Seharunya tadi Naruko yang bersama kami…
"Sialan! Mereka terlalu cepat!" umpat Kiba.
"Dan kita kalah jumlah." Tambahku.
"Ditambah dengan keadaan kita saat ini. ini sudah lebih parah dari skenario terburuk untuk kita." Sambung Haruno-senpai pula.
Hunters di depan kami melihat kami seperti mangsa. Senjata mereka—pedang pendek, panah, belati, dan cakar besi—disiagakan menghadap kami. Satu hunter yang paling besar diantara mereka tiba-tiba menerjang ke arah kami. Hinata langsung menahan dan menepis pedangnya. Francois ikut menerjang kedepan dengan bayonet di sniper rifle-nya. Francois lumayan cepat, tapi tidak cukup cepat.
Dan saat itulah, bala bantuan berupa Hyuuga Hiashi datang.
"Chichi-ue!?" seru Hinata terkejut.
"Kalian semua mundur! Biar kami yang tangani ini." beliau mengangkat tangannya, dan terdengarlah suara tembakan dari atas batu yang mengelilingi kami. Semua hunters didepan kami langsung mati terkena tembakan.
"Whoa…" hanya itu yang keluar dari mulut kami melihat betapa hebatnya tim sniper yang dipimpin Hiashi-sama.
"Kita kembali sekarang." Ujar Hiashi-sama dan memimpin kami ke mobil pengangkut dan membawa kami ke camp.
=-=Konoha's Academy for Knights=-=
"Tugas kita belum selesai. Mata-mata kita membawa informasi baru. Mereka menemukan sebuah gedung tua di Shanghai yang dicurigai berisi hunters. Kita tidak tahu berapa hunters yang ada didalam. Karena itu kita akan meledakkan gedung itu." Ujar Komandan yang memimpin kami, Komandan Izumo.
Salah satu Knight mengangkat tangan, "Apa cuma itu informasi yang kita dapat?"
"Sayangnya iya. Tidak ada kepastian, tapi kita tidak akan mengorbankan pasukan kita ataupun murid akademi hanya untuk menyusupi gedung itu." Jawab Komandan.
Kiba ikut bertanya, "Sebelumnya maaf, tapi apa tidak sebaiknya kita mengawasi gedung itu dulu? Bisa saja yang didalamnya adalah penduduk sipil."
"Kami mengusahakan untuk tidak menghabiskan banyak waktu. Jadi para petinggi memerintahkan kami untuk menghancurkan gedung itu bersama apapun yang ada didalamnya."
BRAK!
Di sebelahku Hiashi-sama menggebrak mejanya.
"JANGAN BERCANDA! Kita masih belum tahu pasti apa yang di sana itu manusia atau hunters!"
"Saya setuju dengan Hyuuga-sama. Kita harus mendapat kepastian kalau tidak mau nama besar Knight tercoreng karena salah informasi." Ujar salah satu Knight. kalau tidak salah namanya Sergio Markovich, lulusan Akademi Rusia.
"Kalau begitu apa anda akan kesana dan mengawasinya, Tuan Markovich?" tanya Komandan Izumo.
"Biar aku saja." Seseorang masuk tenda. Ternyata Jiraiya-san.
"Jiraiya-sama!? Kenapa anda disini?" tanya Hiashi-san.
"Membawakan sesuatu untuk kelompok R-08. Tapi itu bisa menyusul. Aku akan ke Shanghai dan kembali membawa informasi yang pasti. Apa ada yang keberatan?" tanya beliau. Seorang Knight mengangkat tangannya.
"Saya tidak setuju. Kita tidak bisa mengirim Signore Jiraiya hanya untuk itu. Setidaknya biar saya saja yang—
"Anda dibutuhkan di camp, Signore Julio. Justru mengirim anda malah merepotkan Komandan Tinggi cabang Italia." Potong Jiraiya-sama. "Sekarang, kelompok R-08 ikuti aku ke tenda K-9." Jiraiya-sama membawa kami ke tenda perlengkapan. Di sana terdapat beberapa kotak kayu. Sepertinya berisi senjata dan amunisi.
"Apa ini perlengkapan baru?" tanya Sasuke.
"Ya. Kalian akan membutuhkan ini untuk besok." Jawab Jiraiya-sama.
Sasuke mendapat pedang dan perisai baru. Perisainya lebih kecil dari yang biasa dia pakai. Haruno-senpai mendapat tombak baru dengan bilah lebih panjang. Hinata diberikan senjata baru. Bukan rapier tapi sejenis pedang dengan bilah lebih lebar dan melengkung. Sejenis cutlass mungkin? Francois mendapat amunisi lengkap dengan beberapa senjata baru yang tidak kuketahui namanya. Kiba mendapat gauntlet baru yang lebih kecil tapi fiturnya sama dengan yang lama. Sedangkan aku mendapat… sepasang gunblade.
"Jiraiya-sama, ini…?"
"Itu punya ayahmu, Naruto."
Aku sedikit kaget mendengarnya. Kuambil pedang unik itu dan kulihat seksama. Gunblade berwarna biru dengan laras single barrel sepanjang 60 cm. Di popor senapannya terukir nama [Namikaze Minato]. Bilah pedangnya terdapat sepanjang larasnya dan berakhir di dekat pelatuknya. Amunisinya adalah peluru angin bertekanan tinggi yang dipompa lewat ventilasi di bagian bawah-belakang popornya ke kompressor bertekanan tinggi di body-nya. Dengan kata lain, selama ada angin, senjata ini tidak akan pernah kehabisan amunisi.
"Kenapa aku diberikan pedang ini?" tanyaku. Jiraiya-sama hanya mengedikkan bahunya.
"Ano, Jiraiya-sama, tadi anda bilang kami akan membutuhkan ini untuk besok. Apa maksudnya?" tanya Haruno-senpai.
"Gedung yang dikatakan Komandan tadi, aku sudah tahu apa yang ada di dalam."
"Benarkah!? Tapi kenapa anda tidak—
"Karena yang berada di dalam gedung itu adalah manusia." Potong Jiraiya-sama sebelum Francois selesai.
"Lalu, apa anda ingin kami melawan manusia itu?" tanyaku.
"Tidak, tidak. Bukan mereka, tapi yang menyandera mereka." Kali ini aku bingung.
"Yang menyandera… mereka?"
"Maaf, aku terlalu bertele-tele. Begini, gedung yang akan kita datangi adalah gedung percobaan manusia. Manusia yang dijadikan bahan percobaan di sana adalah penduduk sekitar Shanghai dan beberapa orang turis yang dikabarkan menghilang. Jaringan informasiku di Shanghai mengatakan kalau penduduk yang dijadikan bahan percobaan adalah pria-pria usia sekitar 25-40 tahun. Mereka dijadikan bahan percobaan untuk racun hunters." Aku membelalakkan mata.
"Tunggu, tunggu, tunggu, berhenti sebentar disana. Racun hunters? Bukannya mereka tidak bisa diracuni bahkan oleh radioaktif sekalipun?" tanya Kiba.
"Memang. Tapi segala kemungkinan patut dicoba." Seseorang masuk ke tenda kami. Ternyata Shino dan Naruko.
"Shino!? Bagaimana keadaanmu?" tanyaku. Shino menunjukkan lengan kirinya yang buntung.
"Sudah diberi pertolongan pertama. Tapi aku diminta kembali ke Rumah Sakit pusat di Osaka untuk perawatan lebih lanjut. Naruko-san dan Sasuke-san juga diminta ikut." Jawab Shino.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
"Senjata yang dipakai hunters tadi ternyata beracun. Lihat ini." Shino menunjukkan tabung kecil berisi cairan hitam kelam yang bergerak kesana-kemari.
"Apa itu?" tanya Hinata.
"Darahku." Jawab Naruko. Untuk kesekian kalinya aku—dan juga yang lainnya—membelalakkan mata. Naruko melanjutkan, "Darahku tercampur dengan racun dari crossbow yang mengenaiku. Dan racun ini seperti parasit. Kalau saja tadi aku tidak mencabik lukaku, mungkin racun ini akan menyebar lebih jauh." Naruko menunjukkan luka di betisnya yang berlubang.
"Kau… mencabik betismu?" tanya Haruno-senpai sedikit kaget.
"Kalau aku mau, aku sudah memotong kakiku terlebih dahulu." Jawab Naruko santai.
'Orang ini… apa tidak peduli dirinya sendiri?' tanyaku membatin.
"Aku punya senjata lain untukmu, Naruko." Ujar Jiraiya-sama sambil menyerahkan sesuatu ke Naruko. Naruko membuka kotak kayu tersebut.
"Ini…? Punya kaa-chan, kan?" tanya Naruko.
"Ya. Kushina memintaku memberikan itu padamu." Jawab Jiraiya-sama.
"Dimana kaa-chan sekarang?"
"Masih bersama ayah kalian di Kyoto. Minato dan Kushina minta maaf karena belum sempat menemuimu, Naruto." jawabnya sambil menatapku.
"Begitu…" gumamku tertunduk.
"Sekarang istirahatlah. Kalian akan ikut denganku ke Shanghai besok." Perintah Jiraiya sama. Kami kembali ke barak masing-masing.
=-=Konoha's Academy for Knights=-=
Siapa sangka jaringan informasi Jiraiya-sama ternyata salah.
Gedung yang kami tuju bukanlah tempat percobaan manusia. Tapi sarang pembuatan hunters. Ya, lebih buruk dari yang kami duga.
Hunters disini saling bereproduksi bergantian. Setelah itu hunters… betina? Atau harus kusebut perempuan? Terserahlah. Yang jelas segera setelah selesai… "kawin", hunters betina langsung mengeluarkan embrio yang dibungkus plasenta bening. Plasenta itu kemudian pecah. Perlahan hunters baru tumbuh dan membesar menjadi hunters dewasa. Siklus dari embrio menjadi hunters dewasa berlangsung selama 24 jam. Kami mendapat info ini dari video yang direkam oleh Jiraiya-sama sendiri. Beliau langsung berangkat ke gedung yang dimaksud segera setelah turun dari pesawat.
"Jadi begini cara mereka bereproduksi?" gumam Francois.
"Biarpun keliatan seperti nonton bokep gratis, aku tidak merasa terangsang sama sekali." Ujar Kiba blak-blakan. Haruno-senpai menggetok kepalanya.
"Jaga mulutmu, Inuzuka-san. Kita disini untuk bertugas." Ujar Haruno-senpai.
"Tapi serius nih! Masa sesudah melahirkan yang betina langsung di-"goyang" lagi! apa mereka ga kasihan—
BLETAK!
Kali ini pukulan datang dari Hinata.
"Hentai…" gumam Hinata lirih.
"Jangan salahkan aku! Semua laki-laki pasti punya nafsu kan? Bener ga, Naruto?"
"Memang. Tapi cuma kau yang berani mengungkapkan kemesumanmu, Kiba." ujarku.
"Kenapa kau tidak membelaku, kawan!? Padahal aku mempercayaimu!"
"Berisik, Inuzuka! fokus!" Francois menginjak kaki Kiba.
"ADOOY!"
"Berisik!" Francois kembali menginjak kaki Kiba. Begitulah seterusnya sampai lima kali.
"Ahem, jadi bagaimana, Jiraiya-sama?" tanya Haruno-senpai.
"… Kita masih belum bisa menghacurkan gedung ini. setidaknya setelah kita mengungsikan penduduk dan mengumpulkan data lebih." Jawab Jiraiya-sama.
"Tapi ini sudah lebih dari cukup bukan? Informasi apa lagi yang—
"Kita tidak tahu siapa yang memberikan mereka senjata." Potong Jiraiya-sama.
"Dan kita juga tidak tahu bagaimana mereka bisa menggunakan ilmu bela diri. Dari mana mereka belajar?" timpal Hinata. Aku menganggukkan kepalaku.
"Ini informasi yang kita perlukan. Aku akan menyusup kembali kedalam dan mencari data-data yang bisa kudapatkan. Setelah itu kita bisa mengirim sinyal ke pesawat penghancur untuk menyerang."
"Apa tidak berbahaya, Jiraiya-sama? Maksudku, anda memang pernah menyusup kesana. Tapi bagaimana nanti kalau ketahuan?" tanyaku.
"Kalian pikir dengan apa aku merekam?" tanya Jiraiya-sama dengan cengiran di wajahnya.
"Video ini direkam menggunakan drone." Ujar Francois. "Dengan kata lain Monsieur Jiraiya bisa memata-matai tanpa khawatir ketahuan. Aku benar kan?"
"Ya. Tepat seperti kata nona Francois disini. Putri bungsu Tuan Charles Francois memang cerdas." Puji Jiraiya-sama. Francois cuma tersenyum kecil.
"Ayah saya mengajarkan saya dengan baik." Ujarnya.
"Tapi aku tidak akan menggunakan drone untuk menyusup." Tegas Jiraiya-sama.
"Eh? Kenapa?"
"Drone-ku tidak bisa mengangkut barang. Jadi aku sendiri yang akan menyusup ke dalam dan mencari data-data penting yang bisa kudapat. Di ruangan tempat hunters itu kawin, ada dua komputer. Di ruangan tempat berkembang embrio, ada tiga komputer. Dan di ruangan sebelah ruang kawin ada satu komputer. Kalau aku bisa mendapat info dari komputer-komputer itu, kita mungkin bisa dapat info tentang siapa yang melakukan penelitian ini." ujar Jiraiya-sama.
"Tapi bagaimana anda akan menyusup kalau satu ruangan dipenuhi hunters yang ber-orgy ria?" tanya Kiba.
"Drone-ku yang akan mengalihkan perhatian mereka. Kalau mereka keluar, disinilah peran kalian untuk membunuh mereka." Jawab Jiraiya-sama. Kami langsung menyetujui rencana ini.
"Sekarang, bagaimana kita harus melaporkan video ini?" tanya Kiba.
"Maksudnya?"
"Video ini juga merupakan informasi penting tentang cara berkembang biak hunters kan? Tapi bagaimana kalau para petinggi malah salah mengira ini video hardcore amateur?" Kiba kembali mendapat hujan pukulan dan tamparan.
"Kau ga kapok ya, Kiba…?" ujarku lirih. Kiba cuma meringis menahan sakit.
"Okeh. 30 menit lagi aku akan mengirim 2-3 drone untuk pengalihan. Kalian tunggu di luar gedung. Kalau ada hunters yang keluar, habisi. Tapi jangan lengah. Mengerti?"
"YA!" kami menjawab serentak.
=-=Konoha's Academy for Knights=-=
Apa yang kami temui di dalam gedung itu sama sekali tidak disangka.
Pada awalnya pembasmian hunters berjalan lancar (dibantu senjata baru kami). Tiba-tiba Jiraiya-sama (dengan suara panik) memanggil kami ke dalam. Perjalanan ke dalam sungguh merupakan mimpi buruk bagiku. Di dinding koridor berjejer kepala-kepala manusia dengan beragam ekspresi. Beberapa diantaranya masih meneteskan darah dari lehernya. Dari salah satu ruangan yang kami lewati terdapat di sebuah meja panjang sesosok manusia dengan perut terbuka. Kiba sudah beberapa kali muntah. Sambil menahan perutku, kami berjalan ke ruangan lantai 3 tempat Jiraiya-sama memanggil kami.
Dan yang kami temukan didalam adalah…
"K-K-Karin… nee-chan…?"
Chapter 5 : END
A/N :
Cliffhanger, madafakka! Hahaha! Maaf atas kekejaman saya yang memotong cerita ini sampai disini. Tapi ini bukan kehendak saya. Saya terpaksa memotong sampai di sini demi kepuasan batin saya. Ah, enggak kok. Becanda, becanda. Sebenarnya ga ada alasan khusus saya memotong chapter ini di sini. *selang tabung gas dicabut* *semput ngos-ngosan* *mati sesak napas* haha, enggak lah…
Saya belum bisa memberi gambaran chapter depan seperti apa. Selain dari seperti apa Naruto dkk dengan senjata baru mereka, sepertinya beberapa pembaca ingin tahu seperti apa senjata Naruko warisan dari Kushina. Yang pasti bukan senjata berbilah (pedang, tombak, naginata, etc).
Sekian dulu chapter ini. Sayang sekali ini adalah chapter terakhir yang bisa saya post untuk tahun ini. Saya saat ini sedang memulai project untuk menulis buku panduan menyelesaikan Rubik's Cube. Karena banyak perubahan, banyak juga yang harus saya perbaiki. Dan saya juga kehilangan hampir 60-an halaman word yang saya ketik karena adek-adek bertuah saya yang dengan santainya menghapus 28 folder word, 354 anime, dan 32 game. Jadinya HDD saya langsung turun berat badan dari 891 GB berisi, tersisa 80 GB berisi. Saya akan melanjutkan menulis fic ini, melanjutkan fic "Meet the Devils!", dan menulis ulang fic "Lightbender of Konoha".
Sampai jumpa di bulan Januari!
To Be Continued to Chapter 6 :
Which Side should I Take!?
fazrulz21, logging out…
