Sasuke tak menyangka bahwa membuat kue akan semudah ini.

Ia juga tak menyangka bahwa putranya yang sepengetahuan Sasuke memiliki uang jajan terbatas bisa masuk kursus membuat kue seperti ini.

Saat Sasuke bertanya bagaimana bisa Menma membayar kursus ini sementara papanya begitu pelit untuk memberi uang jajan pada Menma. Menma dengan santai menjawab bahwa beberapa minggu yang lalu Uncle Itachi memberinya uang untuk mengganti mainan yang dijanjikannya pada Menma. Uangnya kebanyakan tentu saja. Mungkin saking kaya nya Itachi sampai-sampai uang yang diberikannya bisa digunakan untuk membeli mesin cuci. Dan Menma yang awalnya ingin mengembalikan uang yang berlebih itu menjadi urung saat Itachi mengatakan bahwa uang itu untuk Menma saja, siapa tahu berguna untuk membeli kado buat sang papa.

Dan tentu saja uangnya saat ini digunakan untuk biaya kursus membuat kue. Kursusnya memang tidak terlalu mahal karena toko roti yang menjadi tempat belajar Menma membuat kue itu, adalah milik ibu dari temannya. Dan kebetulan juga pemilik toko ini adalah teman tousannya saat High School dulu. Jadi, uang yang sempat Menma gunakan untuk membiayai kursus di kembalikan. Harga persahabatan katanya.

Meskipun ia kini bekerjasama dengan tousannya tak membuat Menma begitu saja membeberkan semua rencana kejutan ulang tahun untuk papanya. Menma sebisa mungkin menyimpan uang pemberian Itachi untuk membeli kado spesial untuk papanya. Dan untuk masalah bahan-bahan membuat kue nanti sang tousan lah yang akan membiayai. Menma tahu sekali tousannya ini tak beda jauh kemampuan finansialnya dengan Itachi. Jadi, ia manfaatkan saja tousannya ini.

Usai kursus selama beberapa jam dan menghasilkan kue yang enak, Sasuke dan Menma segera pulang. Hari sudah sore dan Naruto sudah menyuruh anak dan suaminya ini untuk segera pulang.

Saat pasangan anak dan ayah itu memasuki rumah. Naruto telah berdiri disana dengan tangan yang dilipat di depan dada. Wajahnya nampak bosan. Namun segera tergantikan saat Menma memeluk papanya.

"I'm home papa..." ujar Menma.

"Welcome home, my Menma... Darimana saja kau nak?" tanya Naruto, membawa tubuh Menma dalam gendongannya lalu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Sasuke.

"Papa bilang aku harus akur dengan tousan... Jadi aku tadi mengajak tousan jalan-jalan," jawab Menma.

"Oh ya?" Naruto melirik Sasuke yang tengah meminum air dingin di depan kulkas lalu menatap Menma, "... kau tidak membohongi papa kan?" selidik Naruto.

Menma menggeleng dengan cepat.

"Tanya saja pada tousan," kata Menma sambil menunjuk Sasuke.

Naruto menatap Sasuke, dan Sasuke hanya mengangguk singkat. Ia kemudian menurunkan Menma di atas kursi lalu beranjak menuju kulkas untuk mengambil segelas jus tomat untuk Menma.

"Keluarkan kotak bekalmu," perintah Naruto.

Menma menurut, mengeluarkan kotak bekal dan botol minumnya yang telah kosong.

Sedangkan Sasuke sudah beranjak pergi meninggalkan Naruto dan putranya, kemungkinan besar menuju ruang kerjanya.

"How's your day?" tanya Naruto seraya meletakkan jus tomat di depan Menma.

"Today is very very very very boooooring papa..." jawab Menma lalu meminum jus nya.

"Why?" Naruto menautkan kedua alisnya.

"-cause tousan isn't interesting,"

Naruto tertawa mendengar jawaban sang putra dalam logat bahasa inggris. Meski sang putranya yang jenius ini sudah fasih berbahasa Jepang, tapi tidak membuatnya lepas dari bahasa yang digunakannya sejak baru bisa bicara.

"Oh wait," Naruto duduk menyender di tepi counter, "Aku mencium bau putih telur sejak tadi," kata Naruto.

Menma hampir tersedak jus nya. Tapi untungnya ia memiliki pengendalian diri yang sangat bagus, hingga papanya tak menyadarinya. Terimakasih untuk Uchiha Sasuke yang darahnya mengalir dalam diri Menma.

"Bau telur?" beo Menma.

"Iya, sejak kau dan tousan datang," kata Naruto.

Menma mengangkat bahunya dengan cuek.

Naruto pun diam. Jika sang putra hanya memberi respon seperti itu, itu artinya ia tak mengerti. Lagipula itu juga bukan hal yang penting menurutnya. Tapi bolehkah ia sedikit curiga pada sang anak saat matanya yang jeli itu tadi melihat ada noda tepung di celana sekolahnya.

...

..

.

Kue untuk Papa

a SasuNaru fanfic from Akira Veronica Lianis

! Lemon Content !

.

..

...

Friday, Oct 9th

06:45 pm

Naruto memasuki ruang kerja Sasuke dengan membawa secangkir kopi. Mata birunya menatap sang suami yang tengah berkutat dengan laptop di depannya. Perlahan ia hampiri sang suami lalu meletakkan kopi buatannya di dekat laptop Sasuke.

"Thanks," ucap Sasuke yang masih memfokuskan diri dengan laptop di depannya.

"Apa kau tidak bisa meluangkan waktu sebentar?" tanya Naruto, berharap.

Sasuke menghentikan kegiatannya, beralih pada Naruto yang kini bersender di sisi meja.

"Aku ingin sekali pergi ke Belanda," ungkap Naruto.

"Maksudmu?" Sasuke menautkan kedua alisnya.

"Hanya 2 hari saja..."

"Kau ingin berlibur?"

"Yaah... hitung-hitung Menma mengunjungi neneknya disana." Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal, sedikit tenggang rasa dengan Sasuke.

Sasuke diam sejenak, menerawang ke luar jendela yang ada di belakang Naruto.

"Akan kupesankan tiketnya," ucap Sasuke lalu kembali bergulat dengan pekerjaannya.

Naruto mengembangkan senyumnya, ia nampak bahagia. Meski cuek, Sasuke sama sekali tak pernah menolak permintaannya. Dan itulah hal yang membuatnya semakin mencintai suaminya.

"Kalau begitu, aku akan pergi ke supermarket dulu Saskay..." pamit Naruto.

"Untuk apa?" tanya Sasuke.

"Membeli bahan makan malam, sekalian aku mau ajak Menma ke toko buku," jelas Naruto.

"Jangan!"

"Eh?" Naruto terpaku di ambang pintu.

"A-aku-Menma setelah ini ingin aku mengajarinya sesuatu," kata Sasuke mulai berargumen.

Naruto menyipitkan sebelah matanya.

Sasuke berdehem kecil. Mencoba bersikap rileks.

"Biarkan dia di rumah saja denganku. Mumpung dia bersikap baik saat ini," tambah Sasuke, membujuk Naruto.

Naruto menghela nafas panjang lalu mengangguk.

"Baiklah, aku pergi sendiri."

Setelahnya Naruto tersenyum lalu menutup pintu, meninggalkan Sasuke yang diam-diam menghela nafas lega.

"Untung saja..." lirih Sasuke.

Ia kemudian meraih ponselnya. Mengetikkan sesuatu disana lalu menempelkannya di telinga. Sesaat terdengar nada sambung sebelum suara di seberang sana terdengar.

"Aku ingin tiket ke Belanda secepatnya besok, kalau tidak ada persiapkan jet pribadiku."

Tanpa mendengar balasan lagi, Sasuke menutup sambungan teleponnya. Menaruh ponselnya diatas meja lalu merenggangkan tubuhnya.

Sedikit lagi.

Sasuke kembali melanjutkan pekerjaannya lagi, berusaha menyelesaikan semuanya sehingga ia bisa leluasa merayakan hari ulangtahun Naruto.

Sementara itu. Si bocah berambut raven itu nampak termangu di dapur. Menunggu papanya yang katanya akan mengajaknya pergi. Replika Sasuke itu nampak cemas. Sekalipun ia sudah membuat alasan terbaik untuk menolak ajakan papanya. Tak lantas membuat Menma tenang. Papanya itu sangat cerewet dan curigaan. Menma tidak bisa begitu saja membohongi sang papa meski ia pernah diajari berbohong oleh pamannya yang tukang bohong.

Menma berdoa dalam hati, semoga papanya mau mempercayainya.

Setelah menunggu beberapa lama. Akhirnya Menma melihat sang papa melintas juga. Ia pun segera menghampiri papanya yang tengah membawa kunci motor. Menma menyipitkan matanya, tak biasanya papanya ini belanja memakai motor.

Menma hendak membuka mulutnya ketika sang papa mendahuluinya bicara.

"Aku tahu, kau tidak usah menjelaskan. Yang akur ya dengan tousan," kata Naruto lalu melengos pergi meninggalkan Menma yang mematung disana.

Apa?

Menma bertanya-tanya dalam hati. Apakah tousannya membeberkan rencana mereka? Ah! Tidak mungkin. Kali saja tousannya itu telah mengatakan sesuatu pada papanya hingga berlaku seperti itu. Apapun itu, Menma merasa lega. Ia tak perlu repot-repot membohongi papanya. Setidaknya ia tak menabung dosa sekarang.

Merasa ia kini hanya berdua dengan Sasuke saja di rumah, membuat langkah kecil Menma bergerak menuju tempat tousannya berada. Ia ingin segera mengklarifikasikan rencana mereka memberi kejutan untuk sang papa.

Sesampainya di ruang kerja tousannya, Menma memasang wajah datar karena sang tousan tak kunjung menyelesaikan pekerjaannya.

"Tousan kapan selesainya?" tanya Menma yang saat ini sudah duduk manis di sofa.

"Sebentar lagi, nak..."

Menma mendengus. Memilih untuk memandangi lukisan yang terpajang di dalam ruang kerja tousannya.

"Kau sudah mengeluarkan semua bahan pembuatan kue?"

"Sudah kuletakkan di dapur."

"Bagus. Nanti bantu papamu memasak lalu jangan lupa untuk memberi obat tidur di dalam minuman papamu."

Menma mengangguk singkat. Ia dan tousannya berencana membuat papanya tertidur sampai tengah malam nanti agar tidak memergoki mereka saat membuat kue.

Sasuke mengangkat wajahnya hanya untuk melihat sang putra yang terlihat kelelahan. Ia jadi tidak yakin sendiri jika sang anak sanggup terjaga sampai jam 12 malam nanti.

Tak tega melihatnya, Sasuke tersenyum lalu memanggil putranya.

"Bagaimana kalau kau istirahat dulu?" usul Sasuke.

Menma menggeleng.

"Tidak sampai acara ini selesai," tolak Menma.

Sasuke tahu, sangat tahu sang putra ini sangat keras kepala. Sedikit mengingatkan akan dirinya saat masih seumuran Menma dulu.

"Aku janji akan membangunkanmu saat papa pulang, kau percaya tousan kan?" bujuk Sasuke.

Menma menatap ke dalam mata obsidian milik tousannya sebelum dia mengangguk mengiyakan usulan tousannya. Nampaknya Menma sudah tak mempercayai hasutan pamannya mengenai sosok sang tousan.

.

11:30 pm

Menma tak tahu harus bagaimana ketika ia melihat kue buatan tangan tousannya dan dirinya.

Orange Chiffon Cake yang sudah dihiasi 3 rasa cream ditambah potongan buah-buahan diatasnya membuat Menma tergoda untuk mencicipinya.

Tapi ia berusaha menekannya. Demi Papanya! Tekadnya dalam hati.

Hari sudah beranjak menuju pergantian hari yang bersejarah bagi papanya. Dan papanya akan sadar sebentar lagi.

Menma harap, obat tidur yang dibuat buyutnya si Tsunade-baasan ini benar-benar membangunkan papanya tepat tengah malam. Sehingga Menma tak akan repot-repot menyiram papanya agar terbangun nanti.

Untuk saat ini, Menma tengah membantu tousannya menghiasi kamar orangtuanya. Menma juga sudah menyiapkan kado ulang tahun untuk papanya yang ia sembunyikan di kolong ranjang orangtuanya. Berharap papanya nanti akan menyukai hadiah darinya.

Setelah memasang beberapa balon dan pita di nakas meja. Menma beringsut menuju ranjang, sedikit tergoda untuk tidur saat merasakan empuknya ranjang .

Tousannya juga telah duduk disisi ranjang. Bersebelahan dengan Menma. Menunggu Naruto terbangun dari tidurnya.

Tepat pukul 12 malam, Naruto membuka matanya. Mengundang netra Sasuke dan Menma bergerak gelisah. Takut tidak sesuai rencana.

Naruto bangkit dari tempat duduknya. Melihat ke kanan dan kiri. Lalu menumbuk pada suami serta anaknya yang kini telah memposisikan diri di dekat tombol lampu.

Menma menyalakan lampunya. Disertai dengan bunyi terompet ditiup dan letusan balon.

Naruto sedikit tersentak, namun segera tersenyum ketika mendengar Sasuke dan Menma menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya seraya berjalan mendekat. Membawa serta kue ulangtahun buatan Sasuke dan Menma.

Ada rasa yang tak terdefinisikan dalam diri Naruto ketika keluarga kecilnya memberi ia kejutan di hari ulangtahunnya. Bahagia tak terkira diusianya yang semakin bertambah.

"Happy Birthday papa..."

Menma memeluknya erat, mengecup seluruh bagian wajahnya sambil berkata, "I love you soooo much, papa!"

Dan Sasuke menciumnya. Mengatakan kata-kata yang sama setiap tahunnya.

"I wish for wonderful things to come on your day. I pray for the best for you. Happy Birthday my sunshine..."*

Rasanya Naruto tak bisa berhenti berkata terimakasih. Bagaimanapun juga. Ia mendapatkan kejutan yang begitu menarik dari keluarga kecilnya. Begitu pula dengan kue aneh yang dibawa Sasuke, sedikit membuatnya terkejut dan agak curiga.

"Ayo ditiup lilinnya pa!" Menma berseru antusias.

"Make a wish?" usul Sasuke.

Naruto menyatukan kedua tangannya di depan dada. Berdoa dalam hati untuk hari ulangtahunnya. Bolehkah ia berharap untuk selamanya hidup bahagia dengan keluarganya? Terus bersama mereka dalam keadaan apapun.

Lilin pun padam. Disusul tepuk tangan dari Menma yang mengisi acara kecil itu.

"Ini kue untuk Papa, aku dan tousan yang membuatnya!" kata Menma girang, sedikit bangga.

"Oh ya?" Naruto mencoba memastikan.

Menma mengangguk cepat.

"Ayo coba papa."

Mengikuti permintaan Menma. Naruto menerima pisau dan garpu yang disodorkan Sasuke. Mengiris kue itu dengan ukuran besar lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

Sedetik ia melihat kilatan harapan dimata Sasuke dan Menma. Namun sedetik berikutnya, ia menahan mati-matian rasa ambigu di lidahnya saat kue itu dia kunyah.

Naruto kalap.

Tak ingin menunjukkan ekspresi buruk rupa akibat rasa kue ini. Bolehkah Naruto menganggap dia adalah korban malpraktek?

"Papa?" Menma bertanya dengan cemas. Rasa takut tergambar jelas di mata biru langit milik Menma.

Naruto menelan keseluruhan kue di mulutnya. Tak ingin berlama-lama menyiksa lidahnya.

"Hmmm... Delicious. Perfect, Menma." Naruto memuji, meskipun itu tak berlaku untuk Sasuke yang sudah bisa menebak pikiran Naruto.

Menma tersenyum. Lalu mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan di telinga Naruto.

"Kalau begitu, papa harus menghabiskan kuenya yaaa..." kata Menma dengan senyum yang sangat manis.

.

.

Naruto masih terjaga.

Tangannya mengelus-elus rambut Menma yang kini tidur dalam pelukannya. Bocah berumur 8 tahun ini merengek ingin tidur bersamanya setelah mereka menghabiskan waktu bercengkrama usai kejutan ulangtahunnya.

Dan Sasuke tentu saja juga ada disana. Namun ia nampak sibuk dengan laptopnya dibanding tidur bersama anak dan suaminya.

"Hentikan kegiatanmu itu tuan workaholic," sindir Naruto.

Sasuke hanya diam. Tak menanggapi sindiran Naruto.

"Letakkan sekarang juga atau kubanting laptop mu itu," ancam Naruto.

Sasuke menoleh. Berhasil ditarik perhatiannya.

"Aku melakukan ini agar kita bisa leluasa liburan di Belanda," tukas Sasuke lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Naruto mencibir tak suka, memilih untuk terus mengelus-elus rambut Menma.

"Cepat tidur sana," perintah Sasuke.

"Tidak, sampai kau juga tidur disini," tolak Naruto.

"Hn."

Hening.

"Masih lamakah?" tanya Naruto.

"Sebentar lagi," sahut Sasuke.

"Cepat..."

"Hn."

Sasuke tersenyum tipis. Mengetikkan beberapa kalimat di laptopnya lalu menghembuskan nafas panjang. Naruto segera menoleh kearah Sasuke dan mendapati Sasuke telah menutup laptopnya.

Dilihatnya Sasuke berjalan menghampirinya. Mematikan lampu dan kini kamarnya hanya diterangi lampu tidur.

Sasuke berjalan mendekati Naruto, berjongkok di dekat tepi ranjang lalu mengusap lembut rambut Naruto.

"Sudah siap untuk menerima kado dariku?" tanya Sasuke.

Naruto menaikkan alisnya. Tak begitu mengerti ucapan ambigu Sasuke.

Tepat ketika Naruto hendak bicara. Bibir Sasuke menekan bibirnya. Melumatnya dengan begitu bergairah hingga menghentikan kegiatan Naruto mengusap rambut anaknya.

Sasuke memiringkan kepalanya, menekan dalam-dalam bibirnya untuk mencari kenikmatan dari bibir Naruto. Naruto melepaskan tangannya dari tubuh Menma. Tubuhnya kini condong ke Sasuke. Membalas ciuman panas suaminya sembari bermain lidah.

Tangan Sasuke mulai bergerak. Menelusup ke dalam kaos biru yang saat ini dikenakan oleh Naruto.

Masih tak melepaskan tautan bibir mereka. Sasuke menggerakkan jarinya. Memainkan puting dada Naruto yang terasa mengeras. Mengundang desahan sexy.

Kecipak mulut mereka sedikit demi sedikit mengganggu. Tentu saja mereka saat ini tak hanya berdua saja. Melainkan bertiga dengan Menma yang menggeliat di belakang Naruto.

Bocah itu melenguh, lalu menggerakkan tangannya memeluk pinggang Naruto. Membuat Naruto terkejut lalu melepas ciumannya.

"Sasuke?"

Sasuke menangkap nada cemas di dalamnya. Tapi dasar Sasuke yang sinting nekat melanjutkan aksi bejatnya dengan cara meremas penis Naruto yang masih tertutupi boxer motif kotak-kotak.

Naruto menahan suaranya. Tak ingin Menma terbangun.

"Brengsek kau."

Sasuke menyeringai. Puas dengan kejahilannya.

Sasuke melepas tangan yang sedari tadi memainkan puting Naruto. Ia kini berdiri. Menyeret kaki Naruto dan sedikit menyingkirkan tubuh Menma. Tapi Menma masih dalam keadaan memeluk Naruto. Hanya saja sekarang bagian bawah tubuh Naruto berjarak agak jauh dari tubuh Menma. Agar memudahkannya melakukan penetrasi.

"Aku masuk ya sayang..."

Naruto melotot. Berusaha menendang-nendang Sasuke namun gagal. Bahkan kini boxernya melorot sempurna. Menampakkan celana dalam biru dongker yang menutupi kejantanan milik Naruto.

"Kau gila Sasuke?! Menma disini," pekik Naruto dengan suara yang dibuat sepelan mungkin.

Sasuke hanya menyeringai.

Ia kini membuka celana kainnya, beserta celana dalamnya.

Naruto semakin melotot. Ini gila. Menma bisa memergoki mereka kapan saja.

Tapi nampaknya niat busuk Sasuke tak dapat dihentikan. Terbukti kini Sasuke menarik paksa celana dalamnya lalu mengulum penisnya.

What the fuck!

Naruto menggigit bibirnya. Sasuke sudah begitu gila. Apa sih yang dipikirkan Sasuke sampai melakukan hal sekeji ini.

"Ah! Bang..hh..sat!" pekik Naruto saat anusnya dibobol oleh jari Sasuke.

Sasuke tak menanggapi. Mulutnya asik melakukan blowjob pada penis Naruto dengan tangan yang menyelusup ke dalam lubang Naruto.

Naruto sendiri mati-matian menahan desahan. Terlebih saat Menma memanggil namanya dalam tidurnya.

Dengan tangan bergetar, Naruto mengusap rambut Menma. Berusaha membuat anaknya nyenyak namun ia tak bisa untuk tidak tersentak ketika tubuhnya diterpa kenikmatan.

Tepat ketika ia hampir klimaks, Naruto kehilangan kehangatan di penisnya. Ia memprotes dalam lenguhannya. Tapi yang diprotes malah terkekeh sambil menimang-nimang penisnya.

"Aku ingin memasukkan ini disini. Bolehkah?" goda Sasuke.

"Cepat lakukan brengsek!" lirih Naruto.

Sasuke tersenyum jumawa. Menyentuh permukaan anus Naruto dengan penisnya. Bermain-maun sebentar disana sebelum memasukkannya ke dalam anus Naruto dalam sekali hentakan.

Dan Naruto benar-benar tak tahan untuk tidak mendesah saat sentakan Sasuke langsung mengenai Sweetspot nya.

Setelahnya Naruto merutuki dirinya. Karena desahannya mengganggu tidur Menma.

"Papa?"

.

.

Saturday, Oct 10th

Satu pagi lagi menyapa kediaman keluarga Uchiha bungsu. Kediaman yang baru 2 tahun dihuni itu nampak sepi. Karena jarum jam masih menunjukkan angka 6. Masih terlalu pagi untuk beraktivitas.

Keluarga yang beranggotakan 3 orang tersebut masih terlelap dikarenakan hari ini tak ada yang beraktivitas.

Oh. Dan jangan lupakan kejadian tadi malam yang mengerikan.

Kejadian yang hampir merenggut kepolosan Menma.

Sasuke adalah orang pertama yang terbangun. Melirik ke samping kiri. Mendapati Naruto dan Menma yang tertidur.

Sasuke tersenyum kecil. Sedikit merasa konyol dengan perbuatan bejadnya tadi malam. Tapi ia seorang Uchiha. Ia tak akan membuat kesalahan, pengecualian kue ulangtahun yang Naruto bilang rasanya sangat buruk. Lebih buruk dari obat tradisional buatan neneknya.

"Apa kau senyum-senyum?"

Sasuke menoleh. Mendapati Naruto telah terbangun dan menatapnya keji.

"Ohayou, anata..." sapa Sasuke.

Naruto memalingkan mukanya. Kesal dengan suaminya yang sering uji coba sesuatu yang ekstrim. Termasuk perbuatannya tadi malam.

"Ohayou, Menma-kun..."

Naruto menoleh. Sadar bahwa putranya juga ikut terbangun.

"Ohayou, tousan..." Menma menoleh kearah Naruto, "Ohayou, papa..."

Naruto tersenyum lalu mengecup dahi Menma.

"Ohayou moo, Menma..." balas Naruto.

"Apa tidurmu nyenyak, nak?" tanya Sasuke kemudian.

Menma menoleh pada Sasuke lalu mengarahkan bola matanya keatas.

"Aku merasa mendengar suara berisik tadi malam," ungkap Menma.

Naruto mendelik horor sedangkan Sasuke terkekeh geli.

"Tapi mungkin hanya mimpi," lanjut Menma.

END

(*)puisi karya Moammar Emka

Sorry for bad fanfic

Maaf lemonnya dipotong. Hehe

but...

Otanjoobi Omedetoo Naru sayang... :*

-Akira-