Warning: standard warning always applied, Mirai Nikki- universe, with soo many improve I though. No yaoi, no pair. May contain bahasa campuran inside. Death character and Psycho!chara.Sedikit humor. Sedikit.
Disclaimer: all character belongs to the owner, Fujimaki Tadatoshi-sensei. also the cover, belongs to the owner.
Author notes: yang tulisannya (begini), alias dikasih kurung dan italic, berarti catatan masa depannya. Mungkin biar lebih mudah kalian nonton mirai nikki dulu- atau liat-liat infonya biar lebih enak.
setelah dipertimbangin, kasih basket dikit kali ya? Temenku yang nyaranin sih. Asu-dahlah. Emang nyanee ngga pernah mikir dua kali sebelum ngepost ff. Author ini labil. Yang penting cerita tetap berjalan.
.
.
.
Akashi dan empat rekan seperjuangannya sedang makan siang di rooftop gedung utama Rakuzan. Hari ini kelas diliburkan cepat, karena para guru sedang rapat. Sementara seluruh murid Rakuzan berteriak kegirangan (tentunya karena mereka bisa terlepas untuk sementara dari tugas sekolah Rakuzan yang amat –ugh), Akashi malah sedikit depresi –memikirkan kejadian kemarin.
'Apakah aku seorang pembunuh?' ia sempat berfikir begitu. Sisi dirinya yang lain juga memperparah pikiran Akashi –dengan dibisikannya kata-kata penurun semangat.
"… Akashi! Hoi Akashi! Kau mendengarkan ku tidak sih? Tampangmu sangat aneh bila melamun."
Akashi tersadar dari lamunannya dan sedikit gelagapan. "Oh, em, tidak, maaf Hayama-san. Aku hanya sedikit melamun. Jadi bisa kau ulangi yang tadi?"
"Cihh, yasudah deh, perkataan ku yang tadi juga tak begitu penting. Lagipula kau kelihatan punya masalah." ia memasang tampang (sok) berpikir. "Kutebak pasti… hm.. ini mudah! Pasti soal basket kan?"
Akashi terkekeh. "Ah iya kau benar Hayama-san" bercanda. Masudnya kau sangat-sangat tidak benar. Aku hanya berfikir tentang survival game yang sedang kujalani. Ini menyangkut hidup dan mati. "Iya aku sangat memikirkan kelangsungan latihan kita."
"Kau memang kapten yang baik, Akashi!" Nabuya menepuk-nepuk punggung Akashi dengan kekuatan gorillanya. Akashi hanya bisa pasrah. "Kau seperti pelatih kedua kita juga! Iya 'kan, Mibuchi!"
Si lekong bernomor punggung 6 itu mengangguk. "Iya. Sei-chan-ku memang pintar! Sini mama peluk nak!" Mibuchi berusaha memeluk Akashi yang duduk di sebelah Hayama namun pemuda itu menghindar dan malah memeluk pemuda pemilik 'dribble-an halilintar'.
Mayuzumi yang dari tadi membaca bukunya dengan anteng dan menyendiri, mulai ikut nimbrung. "Ngomong-ngomong pelatih," ia menutup bukunya. "Aku sama sekali belum bertemu dengannya. Memangnya beliau kemana?"
"Oh iya. Kau 'kan murid baru si Rakuzan. Pantas saja belum bertemu dengan pelatih. Ia sudah lama sekali tidak kesini. Padahal biasanya ia rajin ke sini loh," ujar Hayama.
"Sudah tidak masuk dari.. hm.. sepertinya beberapa hari sebelum kau resmi menjadi murid Rakuzan."
"Selama itu?" Mayuzumi sedikit terbelak. "Itu sudah lama sekali! Memangnya ia kemana?"
Nebuya mengangkat kedua bahu besarnya. "Tidak tahu. Terakhir katanya anak perempuannya sakit."
"Mungkin, dia sakit kronis!" ucap Hayama asal dengna berteriak.
"Hush! Kau tidak boleh bicara sepeti itu!"
"Ya lalu bagaimana dong Reo-nee?" gerutu Hayama. "Akashi! Apa kau tahu kemana perginya pelatih? Kau kan ketuanya,"
Akashi mengangkat kedua bahunya. "Terakhir yang kutahu pelatih menemani anak perempuannya yang sakit." Ia menjeda. "Entah kenapa lama sekali."
"Apa kau sudah pernah menjenguk anaknya, Akashi?" tanya Mayuzumi.
Akashi mengangguk. "Terakhir aku menjenguk anaknya minggu lalu. Aku tahu rumah sakitnya dimana. Mungkin hari ini aku bisa menjenguknya lagi." Sepasang iris delima Akashi menatap timnya. "Ada yang mau ikut?"
Rekan se-tim intinya apatis dan pura-pura tidak mendengar. Akashi menghelas nafas pajang. "… Mayuzumi-kun, bagaimana? Kau mau ikut?"
Pemuda berhelai silver itu mengagguk sebagai balasannya. Akashi tersenyum senang.
.
.
.
Future diary
.
.
.
Akashi memegang sebuah kartu rumah sakit di tangannya. Berwarna putih-biru dengan sebuah barcode dan angka 303 sebagai nomor kamar putri sang pelatih. Sedangkan Mayuzumi, ia membawa keranjang kecil berisikan buah tangan. Pemuda itu sedikit kagum dengan fasilitas rumah sakit ini. Setiap penjenguk dipinjami kartu pass sebagai kunci masuk ke kamar perawat, dan hanya penjenguk yang sudah membuat janji sajalah yang bisa masuk.
Mayuzumi menekan tombol panah ke atas untuk naik lift. Kamar perawatan yang mereka tuju terletak di lantai 3. Mayuzumi kembali kagum dengan lift rumah sakit ini. Bayangkan saja di dalam lift ada TV LCD mini yang berfungsi untuk orang yang terjebak di dalam lift atau pasien yang tiba-tiba kambuh penyakitnya bisa langsung menghubungi dokter. Di ruang tunggu, juga terdapat beberapa TV LCD dengan kabel –yang kebetulan sedang menyiarkan tentang sebuah topik hangat akhir-akhir ini.
Iris kelabu muda Mayuzumi sedikit dipincingkan agar ia dapat membaca dengan jelas tulisan yang tertera di banner kecil TV.
"Mayuzumi-kun, cepat masuk ke dalam lift. Jangan diam begitu."
Sang pemilik nama yang memokuskan pikirannya mencerna tulisan kecil (yang menjadi super kecil karena letak TV yang jauh) yang ia baca. Seketika Mayuzumi terbelak –bukan karena panggilan Akashi yang mengaburkannya, sepertinya karena ia baru menyadari sesuatu. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel yang terletak di saku, dan membukanya. Dari gerak-geriknya, Mayuzumi terlihat membuka catatannya.
"Jangan lelet begitu, Mayu –"
Mayuzumi menyela perkataan Akashi. Dengan cepat ia langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk menutup. Wajahnya terlihat pucat. "Ada sesuatu yang salah di sini." Ucapnya.
"Hah? Apanya?" tanya Akashi bingung.
"Kukira kau adalah orang yang pintar, Akashi. Cek saja catatanmu. Semoga kau takkan kaget." Tukas Mayuzumi cepat.
Akashi menurut dan dengan cepat membuka catatannya. Dahinya disiritkan.
(8 juni 2015, 15.38, lift rumah sakit
Mayuzumi-kun bertindak aneh. Padahal tidak ada apapun.
8 juni 2015, 15.39, lift rumah sakit
Tapi sepertinya aku tahu kenapa ia bisa sepanik itu. Ternyata tentang pelaku perampokan dan pembunuhan itu sudah ditangkap. Bukankah itu berita yang bagus.
8 juni 2015, 15.44, kamar perawatan putri pelatih
Istri Eiji-pelatih menceritakan alasan mengapa pelatih tidak pernah masuk lagi, itu karena beliau sibuk mencari biaya operasi dan perawatan anaknya yang melebihi gajinya sebagai seorang pelatih selama setengah tahun.)
"Tidak ada yang aneh de –" ucapan Akashi terputus karena suara statis yang ia kenal.
Catatan masa depan!
(8 juni 2015, 15.46, kamar perawatan putri pelatih
Beliau juga memberi tahu pekerjaan sampingan pelatih. Bukan disebut sebagai pekerjaan juga sih. Yang jelas ucapannya membuat kami berdua terkejut. Pelatih kami, adalah pelaku perampok dan pembunuh yang sedang ramai dibicarakan.)
Akashi terbelak.
"Jadi, ki –kita tetap menjenguk anaknya? Walaupun kita tahu dia adalah anak seorang pembunuh?" tanya Mayuzumi berusaha tenang.
"Untuk ini lebih baik kita lakukan sesuai apa yang tertulis di catatan kita. Mungkin saja nanti akan ada kelanjutannya lagi."
Mayuzumi hanya diam dan mengagguk sebagai tanda setuju. "Kau yang tanggung kalau ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi ya."
"Kau penakut, ya, Mayuzumi-kun"
Pemuda itu mendecak kesal dan menggeleng. "Bukan itu masalahnya, Akashi!"
"Lalu ap –oh. Kau benar." Sambungnya cepat.
"Kita telah membunuh pelatih kita secara tidak langsung, kau tahu. Bagaimana kalau istrinya tahu?"
.
.
.
Future diary
.
.
.
Rupanya, istri pelatih mereka tidak tahu apa-apa sebab suaminya terbunuh.
Padahal, Akashi dan Mayuzumi sudah deg-deg-an dulu. Sangaat takut jikalau beliau mengetahui tentang suaminya itu. Istri sang pelatih juga tidak berbicara banyak, dan juga sudah terlihat lebih tenang.
Mungkin juga wajar, kata beliau waktu itu mungkin itu adalah balasan bagi suamiku. Tapi 'kan, ini semua dilakukannya untuk kebaikan anak kami sendiri.
"Ya," ucap Mayuzumi sembari memantul-mantulkan bola basketnya. Mereka berdua sedang menunggu anggota tim basket yang lain untuk berlatih. "Ucapan beliau waktu itu ada benarnya. Ia juga tidak terlihat terpukul."
"Iya,"balas Akashi. "Sekarang, aku juga tidak pernah menerima pesan terlambat lagi. Sepertinya beliau adalah pemilik catatan yang membuat pesan yang kita terima terlambat… hmm. Tapi aku sedikit tidak yakin,"
"Tidak yakin bagaimana?" tanya Mayuzumi.
"Iya. Sepertinya itu bukan catatan terlambat, tapi," Akashi memberi jeda. "Ia mencuri catatan kita."
"Hah? Mencuri?" Sepasang iris Mayuzumi terbelak. "Apa buktinya?"
"Ingat saat kita di dorm?" lawan bicara Akashi mengangguk. "Dorm kita kedap suara. Seharusnya walau kau memantul-mantulkan bola dengan keras, tidak terdengar lah, kecuali orang itu dekat sekali dengan kita."
"Jadi, waktu itu pelatih dekat dengan kita?"
Akashi mengangguk. "Iya. Dia mengetahui dari catatanku yang dicurinya. Memang, bagian yang ia ambil 'tidak sempurna' karena hanya berisikan bahwa kita berdua bersembunyi. Hanya itu. Dan tidak diberi tahu tempat kita bersembunyi. Beliau menyimpulkan tempat kita bersembunyi sendiri. Ia tahu kalau di dorm ini hanya ada lemari tempat menyimpan alat kebersihan."
"Dan pastinya, atau mungkin secara kebetulan pelatih berada di dekat kita, sehingga bisa mencuri catatanmu?" tanya Mayuzumi. Akashi mengangguk.
"Ia mendekati kita perlahan dan sengaja membunyi-bunyikan pisau yang dibawa. Dia tahu kalau kita ingin menghabisinya, jadi kita tidak mungkin mundur. Opsi terakhirnya, sudah jelas kita bersembunyi ke dalam lemari."
"Jadi begitu.." Mayuzumi manggut-manggut. "Tapi, kau tahu dari mana?"
"Hmph," Akashi melempar senyum. "Aku menggunakan logika dan ingatanku saja kok."
Pemuda disebelah Akashi merenggut. "Huh, iya-iya kau memang pintar kok aku tahu."
"Ano…"
Mayuzumi dan Akashi sama-sama menoleh ke arah asal suara.
"Doukashimasutaka?" tanya Akashi sopan.
Sepasang manik delima Akashi menangkap seorang gadis berseragam sekolah lain, dan membawa papan jalan di tangannya. Rambutnya panjang sepunggung berwarna gulali. Dan –dadanya besar. Termasuk dalam kategori sangat –karena menurut Akashi gadis di hadapannya ini seantaran denngannya.
Ia tersenyum manis ke arah Akashi. "Momoi Satsuki desu. Aku dari Akademi Touou, manajer klub basket," tangannya dijulurkan.
Akashi membalas uluran tangan Momoi. Ia terdiam sebentar. "Aku ketua dewan murid di sini. Aku juga kapten basket Rakuzan. Ada keperluan apa?"
"Wah," Momoi melepas jabatan tangan mereka. "Kalau begitu, aku bertemu dengan orang yang tepat?"
"Tepat?" Akashi mengulanginya. "Dalam hal basket?"
Momoi menggeleng. "Dalam hal yang lain, sayangnya." Jawab Momoi.
"Akashi Seijuuro, 'kan?" tanya Momoi. "Atau harus dikatakan kau itu…
–First?"
Baik Akashi maupun Mayusumi sama-sama terbelak.
"Kau.." Akashi menjeda. "Tahu dari mana namaku!"
Momoi terkekeh. "Itu mudah, First." Ucapnya meremehkan. "Catatanku tahu segalanya."
"Tunggu. Jadi kau –"
"Ya." Momoi dengan cepat memotong ucapan Mayuzumi. "Ingat dalam otak kalian, First, Second. Aku adalah Momoi Satsuski. Pemegang catatan nomor Sembilan." Momoi memincingkan matanya. "I know all of your abilities. You can't escape from my eyes."
"Akashi," Mayuzumi sedikit menunduk dan berbisik. "Papan yang ia bawa itu, catatannya ya?"
"Sepertinya. Tapi kalau seperti itu bukannya mudah untuk menyerang catatannya?"
"Tidak." Bantahnya. "Ia pasti melindungi catatannya dengan sesuatu. Tidak mungkin ia mengeluarkannya dengan bebas seperti itu."
"Hmm. Tapi apa pelindungnya?"
Mayuzumi hendak mengatakan sesuatu, namun terputus oleh Ninth. "Hei, orang yang kalian bicarakanmasih ada di sini loh." Momoi sedikit mengerucutkan bibirnya. "Aku dapat menyimpulkan apa yang kau rasakan dari catatanku ini loh." Gadis itu memberi sedikit info. "Kalian terlalu menonjolkan fisik kalian."
'tenang, Seijuro. Tenang. Kau harus bisa mengandalkan otakmu di saat seperti ini.'
"Tenang saja, Akashi-san, Mayuzumi-san." Ucap gadis itu santai. "Aku tidak bermaksud untuk membunuh kalian berdua sekarang,"
"Jangan berbelit-belit, Ninth. Katakan apa maumu."
"Mau ku?" ulangnya. "Uhmm, kalau kau tanya begitu, First… aku hanya ingin memperkenalkan diri kok."
"Masaka." Ucap Mayuzumi geram. "Jangan main-main. Aku dapat membaca gerak-gerik mu."
Akashi tercekat. "Mayuzumi-kun, ada ap –"
"Eeehh?" ucap gadis itu dengan nada mengeluh. "Kau sudah tahu ya, aku mau apa?"
Mayuzumi memincingkan matanya.
"Hiii, kau menyeramkan, Mayuzumi-kun." Momoi pura-pura ketakutan melihat pincingan mata Mayuzumi. "Aku hanya ingin bermain dengan kau berdua. Aku telah mengatur beberapa peralatan menjadi tempat permainan."
Akashi mendekati Mayuzumi dan berbisik di telinganya. 'gadis ini gila. Kau punya ide untuk mengakalinya?'
Pemuda bersurai silver itu hanya menggeleng sebagai balasannya. "Baiklah, aku ikut permainanmu."
"Eh?"
Momoi tersenyum tipis. "Terima kasih! Permainannya cukup mudah. Misi kalian adalah mencari tujuh kunci kelas yang berisikan teman-teman kalian. Aku menyembunyikannya di cakupan sekolah ini kok, tenang saja. Cari sampai dapat, ya? Kalau perlu terbang atau menyelam, silahkan saja! Selamat bersenang-senang!"
"Apa maksud petunjuk itu! Kami mempertaruhkan nyawa kami sendiri di permainan ini? Sebenarnya berapa kali nyawa kami harus dipertaruhkan? Lebih baik aku keluar!"
Akashi menahan tangan Mayuzumi. "Mayuzumi-kun, jang –"
"Secara pribadi, aku tidak peduli. Mau kalian mempertaruhkan nyawa dua kali, sungguh, aku tidak peduli." Ucapnya sangat santai. "Oh iya, jangan coba-coba kabur. Ingat, aku memiliki sandera yang banyak."
Mayuzumi dan Akashi sama-sama bertukar pandangan. Kita tidak punya pilihan lain.
.
.
.
Future diary
.
.
.
"Mayuzumi-kun!"
Momoi memang tidak bisa diremehkan.
Akashi dan Mayuzumi baru saja berjalan keluar dari gym sekitar 10 meter, namun, 'permainan' yang Momoi buat telah dimulai. Pepatah yang mengatakan 'jangan nilai buku darisampulnya' sangat berlaku. Yang paling penting, bagaimana juga bisa gadis itu mengatur segala perangkap menyeramkan ini sendirian dan juga dengan waktu yang singkat?
"Mayuzumi-kun! Bertahanlah! Aku harus mencabut anak panah ini –"
Kaki kanan Mayuzumi tertusuk anak panah sepanjang 15 senti. Memang tidak panjang, namun luka yang dibuatnya lumayan panjang dan tentunya tetap terasa sakit.
Tangan Akashi ditepis. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Biar aku saja sendiri." Ia menelan ludah kecil, dan tanpa basa-basi langsung mencabutnya. Mayuzumi memekik tertahan. Darah dengan volume yang lumayan mengucur.
Akashi langsung bertindak. Ia langsung melepas kaus yang dipakainya, dan menyobeknya dengan sekali sentakan. Kaki Mayuzumi ia tekan-tekan sebentar, baru ia perban perlahan.
"Mayuzumi-kun. Ini gila. Sepertinya lebih baik kita tidak menjalankan permainan ini. Lebih baik kita kabur saja."
"Tidak." Bantah Mayuzumi. "Tidak bisa begitu. Ingat, Momoi menyandera teman-teman kita. Kau mau mereka semua menjadi korban?"
Akashi menunduk sambil memegangi kepalanya. "Aku tahu! Aku tahu! Tapi, kita tidak boleh mati sekarang!" ucapnya setengah berteriak. "Fokus! Fokus! Fokus!"
Mayuzumi hanya bisa terdiam dan memandangi sekitarnya. Saat pandangannya terhenti ke arah atap gudang, pemuda itu langsung menyeringai.
"Hei, Akashi. Dinginkan kepalamu. Aku mau kau naik ke atap gudang."
Alis Akashi disiritkan. Ia menoleh terlebih dahulu ke atap gudang, dan tersenyum senang.
"Sasuga, Mayuzumi-kun. Kita butuh enam lagi."
.
Mobil kepala polisi Sektor Rakuzan
"A-ano, ketua. Kau yakin, kita semua hanya perlu menunggu di luar? Tidak perlu memerintahkan agar beberapa polisi masuk ke dalam? Aku ti –"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Potong seseorang yang memiliki suara yang berat. "Aku punya ide yang lebih brilian. Tenang saja. Kita jalani ide ini tiga puluh menit lagi. Kau, beritahu saja terlebih dahulu kepada yang lain untuk bersiap-siap."
Pemuda yang tadi melapor mengangguk. Dari kalimatnya tadi, dapat disimpulkan bahwa dia adalah anak buah dari polisi bersuara berat itu.
"Baiklah ketua! Shitsure,"
'Ketua' hanya mengangguk dan membuka ponsel flipnya. Tangannya dengan lincah mengetik-ngetikan sesuatu. Tak lama kemudian ia menyeringai.
"Cih. Satsuki, kau sudah menampakan diri, ya,"
.
"Akashi. Gadis itu sepertinya memiliki catatan yang hebat." Ucap Mayuzumi.
"Kau juga berfikir begitu?" tanyanya. "Hmm, dari cara bicaranya tadi kepada kita, dapat disimpulkan bahwa catatan yang dia punya dapat mengetahui kondisi fisik kita.."
"Memangnya, dia tidak bisa melihat mental kita? Tadi kau lihat sendiri, 'kan? Dia bisa tahu kondisi psikis kita."
"Tidak." Akashi menggeleng. "Momoi bisa tahu karena ia mengamati gerak-gerik kita." Jelas Akashi. "Padahal aku yakin, wajah kita berdua sudah sangat datar."
"Sepertinya akan sangat susah ya, mengalahkan gadis ini…" Mayuzumi menghela nafas. "Cih, ngomong-ngomong, kunci terakhir ini susah sekali didapat."
"Susah sekali ya.. padahal kita sudah memutari sekolah ini."
Rakuzan yang luasnya tidak main-main, sudah diputari oleh mereka berdua dalam setengah jam. Yang mengejutkan, mayoritas seluruh sudut sekolah ini sudah dipenuhi oleh berbagai jebakan. Akashi mendapatkan beberapa luka kecil di tubuhnya –dan yang paling parah bahunya sedikit retak. Mayuzumi tidak kalah parah lagi. Setelah luka-luka kecil dan tusukan anak panah di betisnya, punggungnya mendapatkan cakaran benda tajam yang mirip seperti cakaran kucing raksasa.
Mayuzumi memutar-mutar enam kunci warna perak. Tiga kunci bertuliskan angka satu, dua kunci bertuliskan angka dua, dan kunci terakhir tiga.
"Sepertinya, kunci yang kita cari terakhir ini kelas tiga deh." Ucap Mayuzumi. "Yaah, jadi dua kunci yang di lantai tiga ya."
"Iya…" balas Akashi yang sedang melamun. Tak lama, ia terbelak. "itu dia!"
"Eh? Itu dia apa, Akashi? Menurutmu kunci terakhir ada di lantai teratas?"
Akashi menggeleng sebagai balasannya. "Kita 'kan sudah menggeledah lantai teratas juga." Ucapnya. "Ingat apa yang dikatakan Momoi? 'kalau perlu terbang atau menyelam, silahkan saja'. Itu dia petunjuk utamanya!"
"Hmm," Mayuzumi mulai berpikir. "Kalau dijabarkan secara paksa, mungkin maksud dari terbang itu lantai teratas, sementara menyelam itu.. kolam?"
"Ya! Kita ke gym ke ruang ganti sekarang."
"Ruang ganti? Kenapa tidak langsung ke kolam saja?"
"Kita obati terlebih dahulu kakimu. Sepertinya makin parah. Lagipula, kita tidak bisa masuk ke kolam lewat pintu utama. Sekarang masih musim semi, kolam belum dibuka. Dan ada jalan tembus dari ruang ganti pria ke kolam renang."
.
.
.
Future diary
.
.
.
Pengorbanan mereka berdua sejauh ini tidak sia-sia.
Kunci terakhir ada di dasar kolam renang sedalam lima meter. Tidak masalah. Lagipula, kolam mereka indoor jadi suhu airnya terjaga.
Tapi mereka masih mempunyai satu masalah besar.
Kunci yang terletak di dasar itu dilindungi dengan kotak kaca yang memiliki kunci. Dengan kejelian mata Mayuzumi, ia mengira bahwa kaca itu tidak bisa dipecahkan begitu saja.
"Itu.. seperti kaca yang biasa dijadikan interior. Kaca keras yang tahan walau dipijaki puluhan orang. Kaca metalik, tempered glass, apalah itu."
"Kira-kira, berapa total lapisannya?"
"Hah? Tunggu sebentar…" Mayuzumi memincingkan matanya. "Aku tidak yakin, sebenarnya. Sepertinya, masing-masing satu lapis kaca dan polycarbonate."
"Baiklah kalau begitu. Beberapa peluru, tidak masalah 'kan?"
"Iya. Menggunakan beberapa peluru bisa peca –matte. Apa maksudmu?"
Akashi menggeleng. "Tidak. Aku hanya bertanya. Aku tidak memiliki satupun pistol. Di Jepang 'kan dilarang." Ucapnya. "Sebagai gantinya, sepertinya ketapel bisa digunakan."
"Kukira… aduh." Mayuzumi mengelus surainya. "Yaa, walau daya penghancurnya tidak sekuat peluru sih. Tapi itu bisa juga. Jadi, pakai batu?"
"Iya, aku sudah mempersiapkannya. Aku yang menyelam."
"Ya. Baiklah. Aku tentunya tidak karena ada luka panah di kakiku ini 'kan."
Akashi tersenyum. "Aku tidak mungkin menerjunkan orang yang sedang terluka ke lapangan. Doakan kacanya dapat pecah ya."
"Ah, tentu saja."
.
Gym, 45 menit kemudian.
"Ara, kalian selamat."
Momoi berbalik badan dan megucapkan ucapan selamat datang pada 'teman' barunya yang sudah menyelesaikan 'mini game' buatannya. Tangannya disilangkan di depan dada.
Akashi dan Mayuzumi sama-sama menyiritkan dahinya. Mereka berdua berusaha menstabilkan pernapasan setelah marathon tiga lantai. Sambil, menelan rasa geram.
"Kau.. telah mempermainkan kami." Ucap Akashi geram. "Kau meminta kami mencari tujuh kunci yang kau bilang kunci kelas teman kami yang kau sandera."
"Tapi, kau hanya menyandera tujuh teman kami, dan mereka semua berada di kelas 3-3 semua." Imbuh Mayuzumi cepat. "Kisama."
"Second, jangan terlalu jahat, kumohon." Ucap Momoi datar sambil mengibaskan tangannya. "Setidaknya, aku mengharapkan kalimat seperti 'Hebat! Bisa merancang perangkap seperti itu dengan cepat! Sasuga Ninth!'. Ill flatter."
"Dasar licik!"
"Tidak licik. Hanya saja, jika aku mengatakan 'cari satu kunci saja' sementara aku terlanjur menebarkan banyak kunci di sini. Ujung-ujungnya kalian berdua tetap mencari semuanya bukan?" jelas Momoi. Ia mendesah lemas. "Aaaah, kukira kalian bisa terbunuh di perangkapku."
First dan Second terbungkam. Momoi juga berhenti berceloteh tidak jelas. Suasana dan atmosfer di sekeliling mereka hening. Terlampau hening. Yang kemudian dipecah oleh suara letusan pistol yang melewati celah antara Akashi dan Mayuzumi, meretakkan tembok belakang mereka.
"Kalau begitu," Momoi membuka suara. Di tangannya terdapat pelontar peluru yang nyaris mengenai First. Suara peluru yang kembali mengisi terdengar.
"Aku akan membunuhmu, for sure."
Pelatuk secara perlahan mulai ditarik.
"Satsuki! Ini sekolah orang, teme! Jangan buat keributan di sini!"
Gadis-yandere bersurai pink itu seketika terkejut. Ia menoleh ke asal suara. Sepasang irisnya lansung berbinar.
"Dai-chan! Hisasiburi! Aitakatta!"
.
.
.
Future diary
.
.
.
"Yo, futari tomo. Ore wa Aomine Daiki. Kepala polisi sektor Rakuzan. Aku ke sini untuk menangkap Ninth."
"Taskaru. Terima kasih, Aomine-san."
"Ahh, itu terlalu kaku, sungguh." Aomine menggaruk surai biru gelapnya. "Panggil nama kecil juga tidak masalah. Sebenarnya, aku masih kuliah. Jadi biar akrab panggil namaku saja." Tambahnya sembari memukul pelan pundak Momoi. "Heh, kau, sudah berapa banyak masalah yang kau buat di sini?"
"Dai-chan kau terlalu jahat. Apa ini ucapan selamat datang padaku setelah beberapa tahun tidak bertemu?"
Aomine mendecih. "Kau juga sejak kapan jadi… memancarkan aura yandere seperti ini?"
Momoi terdiam, lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Himitsu."
"Terserahlah." Ucapnya asal. "Oh ya, aku juga bertugas untuk menjaga kalian berdua. Dari segala hal."
"Segalanya? Contohnya?"
"Ya yang jelas segalanya." Balas Aomine cepat-cepat. "Ya, baiklah segitu saja ya, perkenalannya. Kalau begitu, aku akan menyeret pink ini sekarang. Terima kasih."
Pergelangan tangan Momoi ditarik oleh Aomine –yang langsung di tepisnya.
" –kau!"
"Sebentar, Aomine-kun." Ucap Momoi sedikit membentak. Ia merogoh kantung jaketnya, dan menjulurkan beberapa plastik berisikan bubuk. Lebih tepatnya, menyodorkan kepada Akashi.
"Akashi-san, tadi kau 'kan yang menyelam?"
"Sepertinya kau tidak perlu bertanya deh. Dengan melihatku basah begini kau –"
"Ambil ini." Gadis itu menyelanya. "Aku telah menaburkan beberapa racun ke air kolam. Minum ini sehari sekali."
Akashi melihat ke arah plastik di tangan Momoi dengan curiga. Ninth yang melihatnya menghela nafas pendek. Mendekati Akashi dan memberinya paksa.
"Ini. Aku hanya tidak mau kau mati sekarang. Aku ingin kau mati benar-benar dengan tanganku." Ucapnya –tanpa disangka-sangka ia tersenyum tulus. "Jadi, jangan mati dulu, ya. Kau juga Second. Maaf untuk kakimu."
"Osoi!" pergelangan tangan Momoi langsung ditarik Aomine paksa. "Daa, kalian berdua. Jaga diri kalian baik-baik!"
"Ha-hai.." balas Akashi.
"Heeh," Mayuzumi mulai membuka suara ketika Ninth dan Aomine pergi. "Tidak disangka cewek pink itu bisa tersenyum tulus seperti itu."
Akashi mendelik. "Kau, menyukainya ya? Karena disenyumi?"
"Cih, tentu saja tidak. Mana bisa aku menyukai cewek haus darah seperti itu."
"Ya itu tidak penting juga sih. Bukan urusanku juga kalau kau menyukainya." Ucap Akashi. "Juga, tidak kusangka ternyata Fourth adalah seorang polisi."
"Fourth ya…" Mayuzumi memejamkan matanya. Seketika ia terbelak. "Apa? Fourth? Adalah polisi yang tadi? Uso!"
"Hah? Kukira kau sudah tahu itu dari awal!"
"Aku sama sekali tidak mengetahuinya! Kau kenapa tidak mengatakannya dari awal?"
"Cih! Kalau aku mengatakannya di awal, pasti kau akan bilang seperti ini; 'aku sudah tahu' atau 'aku tidak sebodoh itu untuk membaca keadaan, bodoh'! ya lebih baik aku diam saja 'kan!"
"Kalau si…"
"Aomine."
"Ya! Kalau si Aomine itu adalah Fourth, atas dasar apakau bisa menebaknya?"
"Kau itu sangat terlihat dari bayangan hitam yang membentuk postur tubuhnya. Lalu, sewaktu dia alam dewa, Aomine tidak melepas topi polisinya yang memiliki lambang timbul yang sangat tercetak." Jelas Akashi sembari menunjuk kepalanya. "Dari situ aku membuat kesimpulan kalau Fourth itu dia." Tambahnya. "Tapi polisi itu sedikit bodoh, ya. Sepertinya, alasan ia tidak memperkenalkan dirinya yang sebenarnya untuk mengejutkan kita suatu hari nanti. 'Aku adalah Fourth!' sambil tertawa. begitu."
"Ah…" Mayuzumi menghempaskan dirinya ke bench. "Benci kau. Dan otakmu."
Akashi tersenyum. "Second-san bertindak seperti anak kecil rupanya."
.
.
.
Future diary
.
.
.
Footnote doumo minna~ terima kasih bagi yang sudah baca sampe ke footnotenya segala~ tehee~ semoga chapter yang kali ini memuaskan yaa.
Sebisa mungkin nyanee mau buat catatan dan acara 'bunuh-bunuhan' pemilik pure dari otak nyanee semua. Dan, nyanee sedikit bingung ini, jadi bantuin yaa. Tolong jawab pertanyaan ini: 1). lebih baik ada genderbend chara atau tidak? Dan pertanyaan selanjutnya emang belum penting untuk saat ini sih, tapi ini biar nyanee enak nentuinnya 2). Sad/ happy end? Dan-dan-dan, ini yang terakhir. Sumpah. Pertanyaan terakhir ini mengganggu benak nyanee 3). MOMOI OOC YA? OOC YA? HUEEE.
Ekhm. Udah itu aja. Udah kepanjangan soalnya. Saatnya balas review~
Kimhyunsun58 dan Akaverd20 dan Uchiha Kriya terima masih! ;) ini chapter 2nya~ semoga suka yaa
crimxson mereka jangan bunuh-bunuhan nih? Hmm, tadinya aku mau buat mereka berdua bunuh-bunuhan di sini, terus ada yang ma –/Hoi ehe aku usahain mereka gabakal bunuh-bunuhan deh ;)
Kei KAMU BELI LN DIMANA. #SalahFokus baguslah kalau kalimatnya mudah dicerna. Mayuzumi berasa mau ngebunuh Akashi? Berati Mas Mayu-ku yandere. Kamu ooc mas/hoi. Di chapter ini setelah nyanee baca ulang, dia ngga yandere lagi kok~ mwehehehehe. Jangan-jangan, mas bokushi pindah ke tubuhnya bang mayu!? THEEDAXXKKSSS
.
See you entah kapan! *nangis*
