Knows Better ©Kaoru Ishinomori

Karena Obi lebih tahu soal Shirayuki. Obi, Zen, dan percakapan mereka berdua.


.

"Aku menyukainya."

.

Kalau boleh terus-terang, sebenarnya Zen terkejut saat mendengar pengakuan itu dari mulut Obi. Bahkan, apabila ingin diibaratkan, misalkan Zen adalah gunung yang statusnya sudah mati, sudah pasti ia akan memuntahkan lahar sampai menenggelamkan daratan di seluruh dunia begitu mendengar pernyataan tersebut. Itu sangat tiba-tiba, tanpa ada basa-basi, dan Obi mengatakannya dengan datar seolah-olah Zen adalah ayah Shirayuki yang ingin Obi mintai perizinan melamar anaknya.

Di sisi lain, serasa darah berhenti mengalir dalam tubuh Obi. Ia penakut. Ia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya secara blakblakan. Apa boleh buat—ia hanya Obi. Seorang Obi, bukan siapa-siapa, bahkan kalau mau dideskripsikan; ia hanyalah seseorang yang membenci dirinya sendiri.

Tidak pernah terpikirkan akan langsung mengaku ke sumber perkara, ke subjek yang berada di posisi terbawah dalam urutannya di daftar orang-orang yang mengetahui bagaimana perasaannya. Mau bagaimana lagi kalau ia tidak bisa menahannya. Buru-buru ditambahkannya sebaris kalimat,

.

"Tapi aku yakin kamu sudah tahu."

.

Setelah mengatakan itu, diam-diam Obi menelan ludah. Tegang. Sebenarnya, sih, untuk jujur saja, ia belum sepenuhnya menyadari apa yang ia rasakan sebenarnya terhadap gadis berambut merah itu. Perasaan ingin melindungikah? Entahlah. Obi masih mengingat dengan jelas saat penutupan pesta, tepatnya saat ia menuangkan minuman keras ke dalam gelas Shirayuki.

"Tambah lagi?" ia menuangkan anggur tersebut banyak-banyak ke gelas Shirayuki.

"Cukup, hentikan." sampai kemudian, kaki Zen menendang tepat kepalanya.

Obi ingin mencibir, ketika itu. Zen tidak tahu seberapa tahu-nya ia tentang Shirayuki. Pengawal itu ingin sekali memprotes dan mengatakan bahwa ia—dirinya—mengetahui dengan tepat pada takaran berapa Shirayuki sanggup bertahan hingga tidak sampai mabuk. Ia mengetahui hal itu, yang bahkan tidak diketahui Zen. Atau bahkan, tidak disadari oleh Shirayuki sendiri. Ia tahu.

Ia tahu—Zen tahu. Ia tahu perasaan Obi terhadap Shirayuki sejak awal. Sejak lama. Orang bodoh macam apa yang tidak menyadari pandangan mata janggal yang tidak seharusnya dikirimkan oleh pengawal pribadi terhadap majikan yang harus ia kawal—pandangan mata orang jatuh hati. Zen mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar. Tetapi itu tidak bisa jadi bukti bahwa ia sudah mengetahuinya. Maka dari itu, ia membuka mulut,

.

"Tidak—tidak mungkin aku tahu. Aku baru pertamakali dengar darimu—kan."

.

Tepat setelah mengatakan hal itu, batin Zen menggelengkan kepala tidak setuju. Itu bohong. Maka dari itulah, supaya tidak terlihat terlalu bohong, ia menambahkan,

.

"Tapi, aku tahu kamu selalu mengamati Shirayuki dalam-dalam, diam-diam."

.

Obi mengiyakan dalam hati. Sudah seharusnya. Ia mengetahui dengan tepat kapan Shirayuki bangun dari tidurnya di pagi hari, dengan tepatkapan Shirayuki membuka jendela di kamarnya untuk membiarkan sinar mentari pagi malu-malu memasuki kamar. Supaya dirinya bisa—dengan tepat pula—mengucapkan selamat pagi kepada majikannya itu, dengan mendadak muncul di jendela kamarnya. Dengan tepat.

Justru karena mengamati Shirayuki-lah, ia bisa menyukainya. Zen tidak tahu kapan tepatnya kejadian itu terjadi. Bahkan, Shirayuki juga tidak menyadari bahwa ia melakukannya dengan rutin selalu. Ia mengamatinya. Dan ia mengetahuinya. Menyadari hal itu, sebenarnya ia juga tertegun mendadak, memikirkan mengapa ia merenungkan itu terlalu jauh.

Obi memandangi Zen. Dia sudah mengakui perasaannya dengan terbuka, dan apakah Zen sama jujurnya dengan dirinya? Pria dengan setelan jas itu menatapnya, dan itu sudah sejak tadi, ingin menanyakan sesuatu kepadanya.

.

"Apa kamu berencana untuk pergi dari sini?"

.

Oh, ini pertanyaan lain. Obi menggigit bibir bagian bawahnya diam-diam. Apabila ia mengharapkan Zen untuk jujur, kenyataannya justru terlalu jujur. Pertanyaannya tepat sasaran. Tetapi ia tidak mungkin berkata apabila ia sungguh-sungguh untuk pergi, maka satu-satunya alasan yang benar adalah bahwa ia ingin membuang perasaannya jauh-jauh, kan?

Impian yang sudah kandas bahkan sebelum diimpikan. Terlalu menyedihkan dan miris untuk bahkan sekadar dikenang. Ini hanya masalah waktu, mengenai dirinya yang bisa kebal dan mampu menahan untuk membatasi dirinya dengan Shirayuki. Atau sekadar melihat dengan jelas bahwa tidak ada jarak yang terbentang antara gadis yang ia kawal itu dengan Pangeran kedua Clarines.

Ia tidak bisa jujur untuk yang satu itu. Ia membuka mulut setelah mempersiapkan jawaban yang baginya ini terdengar aman,

.

"Well, sampai sekarang aku masih ingin mengikuti arus saja, ha-ha."

.

Ia tertawa kecil. Memperhalus kebohongannya.

Mengikuti arus, karena itu lebih mudah dibandingkan menentangnya. Menerima kenyataan bahwa perasaannya tidak mungkin bisa bersambut. Meskipun ia yang mengamati dari kejauhan cara berjalan Shirayuki yang sempoyongan karena kelelahan. Meskipun ia yang terkejut sendiri mendapati badannya bergerak tanpa sadar untuk dengan gesit menahan agar tubuh gadis itu tidak limbung ke tanah.

Zen mulai mengulum senyum.

.

"Jangan khawatir, aku juga tidak berniat mengekangmu."

.

Obi mengangkat kepala, terkejut. Ia merasa bahwa kali ini Zen akan mengatakan sesuatu dengan tulus padanya, benar-benar reaksi jujur, yang berlawanan dari aksi kebohongan darinya barusan. Kalimat itu ditambahkan lagi oleh Zen, dengan seulas senyum lembut terpatri di wajahnya,

.

"Tapi, aku juga tidak berminat menyerahkan tali kekangnya padamu."

.

Pandangan Obi mulai mengabur, sementara telinganya masih menangkap kalimat Zen selanjutnya, di mana ia tertawa saat mengatakannya,

.

"Karena aku mulai menyukaimu.. sedikit."

.

Obi mendecih dalam hati. Sial.

Inilah alasan mengapa ia menempatkan pria di hadapannya ini di urutan terakhir dalam daftar orang-orang yang akan ia utarakan mengenai perasaannya. Karena apapun yang ia lakukan, yang sudah maupun yang akan, pandangan pria ini tetap sama kepadanya. Jujur, terbuka, apa adanya, ala kadarnya. Seolah tak ada yang ia sembunyikan, padahal dirinya bisa kabur dari istana dan tidak kembali kapan saja.

.

"Obi, apabila kamu mau tinggal, aku akan mengutarakan sesuatu;

.

Obi tidak menyukai dirinya sendiri, pada saat-saat seperti ini. Selalu pada saat-saat seperti ini. Alasan mengapa ia tidak mau terang-terangan mengutarakan perasaannya pada gadis berambut merah itu, alasan mengapa ia menunggu saat yang tepat, alasan mengapa ia mengungkapkannya dengan hati-hati.

.

"aku yakin bahwa kamu mengetahui seperti apa karakter Shirayuki.

.

Karena menjadi makhluk sekejam apapun ia dilahirkan, Obi yakin—sangat, dan ia berani bertaruh bahwa keyakinan itu sudah mengalir bersama darahnya—bahwa ia tidak mungkin sanggup untuk membenci pria ini.

.

"Aku butuh seseorang yang bisa mendampinginya, mengikutinya. Dan aku rasa, soal itu, hanya kamu yang dapat melakukannya.

.

Ia benci dirinya sendiri yang tidak sanggup membenci pria di depannya ini. Mau mencoba terbuka bagaimanapun, tidak mungkin dirinya sanggup untuk melukai hati seseorang seperti Zen, seseorang yang sudah menaruh kepercayaan padanya secara murni tanpa harus menyertakan bukti, dan mampu sungguh terbuka padanya.

.

"Obi, mulai sekarang, aku ingin kau tetap berada di sisi Shirayuki."

.

Itu adalah pernyataan, atau mungkin perintah, yang diucapkan dengan jujur, dengan murni, atau kalau boleh dibilang—dengan polos. Atau dengan bodoh? Entah. Mungkin keempatnya benar.

Tetapi, Obi tahu. Ia tahu di mana posisinya, ia tahu apa yang harus ia lakukan, apa saja yang harus ia lakukan. Itu suatu pernyataan yang secara sakral memaksanya untuk tunduk dan menyadari batas-batasnya.

.

.

"Aku yakin kamu mengetahui seperti apa karakter Shirayuki."

Saat itu, Obi terdiam kaku. Bibirnya terkunci, namun di dalam tubuhnya, serasa ada bom meledak-ledak, tidak terima. Teringat olehnya bahwa ialah yang mengetahui kadar anggur yang cukup diteguk Shirayuki. Teringat kapan saat yang tepat Shirayuki membuka jendela kamarnya. Teringat dengan rincinya kapan tepatnya Shirayuki akan tumbang.

Ia ingin sekali berteriak—oh, mungkin tidak perlu berteriak. Mungkin hanya perlu membuka mulut, dan berbisik sedikit—sedikit saja, mengatakan,

.

Tentu saja.

Karena aku lebih tahu soal Shirayuki.

.

Dan ia benci dirinya sendiri yang tidak mempunyai keberanian mengatakannya.


Author's Note:

Aku mau ngasih spoiler. Yang dalam tanda petik itu canon, loh. /kabur