I THOUGHT YOU LIKE HER © Kaoru Ishinomori
Kukira kau menyukainya. Dan ya—ini ciuman pertama mereka.
0.
Kukira kau menyukainya.
.
1.
"Obi?"
Obi terkejut dengan panggilan tiba-tiba itu, entah asalnya dari mana. Ia berhenti berjalan, dan tidak tahu harus berbicara ke arah mana. "Er, ya? Eh, siapa?"
"Aku Shirayuki, di dalam kamar. Masuklah."
Oh.
Yang memanggilnya adalah Shirayuki, yang berada di ruangan tepat di sampingnya ini. Awalnya Obi ragu-ragu, ia ingin bertanya apakah gadis berambut merah itu sedang mabuk atau tidak karena bisa-bisanya Shirayuki menyuruhnya masuk ke dalam kamar. Tetapi kalau ia membantah, itu artinya ia menolak perintah gadis yang seharusnya ia kawal, dan ia tidak mau sampai dianggap begitu.
"O-oke," Obi berusaha menormalkan suaranya. "Aku masuk, Nona."
Dengan perlahan, Obi membuka pintu. Berbagai pikiran melanda kepalanya, entah jangan-jangan itu jebakan dan begitu pintu terbuka ternyata Shirayuki sudah disandera kemudian ada perampok memutus urat nadi di lehernya, atau semacamnya yang sama sekali di luar akal. Namun, ternyata yang ada di dalam kamar biasa-biasa saja.
Shirayuki di sana, dia aman, duduk di atas tempat tidurnya, dengan kakinya sudah memakai sandal tidur. "Maaf," ia memasang senyum. "Tadinya aku mau berjalan-jalan keluar kamar, makanya aku memakai sandal. Tetapi aku melihatmu lewat, jadinya aku memanggilmu. Tidak apa-apa, kan, kamu masuk kamarku?"
Obi menggaruk belakang lehernya, kebiasaannya ketika bingung. "Tidak apa-apakah, aku masuk kamarmu?"
Shirayuki tertawa. "Tidak apa-apa, kok," katanya, menampakkan deretan giginya, yang selalu, selalu, dan selalu saja membuat Obi membeku. Selalu seperti itu.
Obi melangkah mendekat. "Ada apa?"
Gadis itu mengangkat bahunya dengan santai. "Zen, Kiki, dan Mitsuhide, mereka semua sedang pergi menjalankan tugas, kan, jadinya, tidak ada teman. Rasanya rindu," Shirayuki tertawa kecil, ada rona merah di wajahnya. "Ingin bertemu. Kesepian, sih."
Obi terdiam. Kesepian, katanya.
Memangnya, dirinya setransparan itukah?
Semakin mendekat, kedua tangan pemuda itu terjulur, bertengger di kedua pundak si gadis. Shirayuki berkedip cepat, dua kali, mencoba memahami apa yang sedang dilakukan pemuda di hadapannya ini. "Obi?"
"Nona," panggil Obi, dengan suara bassnya. "...Bolehkah?"
Jantung Shirayuki berdegup keras. Ini pertamakali Obi memintai tolong padanya. Bahkan, mungkin permintaan Obi yang pertama dan yang terakhir, di mana Obi kali ini benar-benar membuang harga dirinya, berada di hadapannya sebagai Obi yang sesungguhnya. Dan, bukannya ia tidak boleh untuk menolak, tetapi ditengah-tengah tubuhnya yang panas-dingin, ia memberanikan diri mengangkat kepala. "Kau tidak mau memandangku, Obi?"
Obi menarik napas, mengondisikan dirinya sendiri. Dengan satu kekuatan yang bertumpu di satu titik, ia menegakkan lehernya, kemudian sedikit menunduk, menatap Shirayuki.
Mereka bertatapan, dan, Shirayuki dapat membaca lebih dari belasan emosi yang tersembunyi sampai berkarat, di sorot matanya. Kesedihan, kepedihan, keperihan, terluka, gelisah, cemas, takut, Obi membiarkan Shirayuki mengetahui seberapa rapuh ia sesungguhnya.
Shirayuki memejamkan matanya. "Ya."
Pandangan mata Obi berubah.
Itu pandangan mata setiap insan yang jatuh cinta.
Namun, ia tidak pernah, dan tidak akan pernah, mengetahuinya, atau dibiarkan mengetahuinya.
.
0.
Zen tahu, bahwa ia jahat sekali apabila melakukan ini kepada Obi.
"Tuan," Obi mengangkat kepala kaget, ketika melihat Zen mendekatinya yang sedang bersila di bawah lantai, di koridor menuju kamar Zen. Salahnya yang duduk dan memandang malam sendirian di sini, sih.
"Obi," Zen sepertinya tidak ingin berbasa-basi. "Apa ada yang kau pikirkan?"
Obi terdiam, bola matanya membesar, tanda ia terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Apakah ia harus berbohong? Ataukah ia harus jujur? Sempat terpikir untuk berbohong, namun, ia lupa bagaimana cara melakukannya supaya tidak ketahuan. Dan, Zen pintar membaca raut muka orang. Akhirnya Obi kembali memandangi malam, dan menghela napas. "Memikirkan.. entahlah. Nona, mungkin."
"Oh," tanggapan itu tersembur begitu saja, tidak dapat ditahan oleh Zen meskipun ia sangat ingin menguasai dirinya. "Soal apa?" itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh. Karena Obi pasti tidak akan mau memberitahu padanya. Menjawab dengan jujur bahwa saat ini Obi memandangi malam sambil memikirkan Shirayuki saja, sudah merupakan suatu kejujuran yang melampaui batas.
Di luar dugaan Zen, Obi justru menghela napas. "Entahlah, aku tidak tahu, jujur saja," katanya menjawab dengan tenang, terkendali. "Aku hanya tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Dan ketika memikirkan itu, aku jadi tidak tahu bagaimana perasaanku pada semua orang. Entahlah. Aku kacau malam ini, sepertinya."
Zen terdiam.
Obi tiba-tiba tertawa, mencoba menormalkan diri. "Eh? Aneh, ya? Kenapa aku bisa begini, ya?" kemudian, tawanya yang biasa terus mengisi heningnya malam.
Zen menggelengkan kepala. "Tidak aneh, kok," katanya, tetapi masih terdiam.
Tidak salah lagi. Zen jelas tahu perasaan apa yang sedang melanda Obi. Tetapi, apakah Zen adalah orang yang bisa menjawab dengan kebenaran, bahwa yang sedang dirasakan Obi adalah perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta? Apakah ia bisa dengan terbukanya mengatakan bahwa Obi kemungkinan besar sedang jatuh cinta pada Shirayuki? Shirayuki-nya?
Zen juga tidak bisa membayangkan, bagaimana yang terjadi setelah ia memberitahu hal itu pada Obi. Apakah Obi akan kesulitan menerimanya, ataukah ia tidak bisa menerima kenyataan itu? Ataukah Obi kemudian merasa tidak enak padanya, merasa sudah melanggar janji hanya sebatas ingin melindungi saja, dan memutuskan untuk pergi?
Dengan konsekuensi itu, apakah Zen masih mau memberitahu faktanya pada Obi?
Sebenarnya, Zen sudah mengetahuinya sejak lama, perasaan yang dipendam Obi kepada Shirayuki-nya. Kentara, jelas, Obi yang selalu ada di samping Shirayuki lebih banyak dibandingkan dengan dirinya. Obi yang lebih cepat tanggap, lebih sadar apabila Shirayuki menyembunyikan sesuatu, Shirayuki mempunyai masalah, Shirayuki sedang tidak enak badan, melebihi dirinya.
Bahkan, perasaan Obi yang lebih besar daripada perasaan Zen, ia mengetahuinya. Karena dengan memandang Obi yang sedang memandangi Shirayuki, Zen sadar, bahwa Obi rela melakukan apa saja, hanya agar Shirayuki hidup baik-baik saja tanpa ada mara bahaya melintang.
Dengan kemungkinan itu, apakah ia masih mau memberitahukan Obi?
Zen menelan ludah.
"Itu adalah perasaan ingin melindungi, Obi."
Obi bereaksi, ia kembali menoleh, menatap Zen yang menatapnya balik dengan sorot mata sungguh-sungguh.
Kembali Obi tertawa.
"Kurasa Tuan benar."
Dan, berakhirlah sudah pembicaraan itu.
.
1.
"Shirayuki."
Shirayuki membuka mata dengan cepat, terkejut dengan panggilan yang tiba-tiba itu. Dan terkejut dengan kenyataan bahwa masih hanya Obi saja yang di hadapannya. Obi memanggil namanya, untuk pertamakali. Memang banyak orang yang memanggilnya dengan nama itu, tetapi cara Obi memanggilnya membuat ia teringat kepada—
Obi sendiri terdiam. Kedua tangannya mengepal erat, meskipun hanya sebentar. Ia ingin Shirayuki tahu, bahwa sudah ratusan-juta kali ia berusaha menahan diri untuk tidak memanggil dengan nama, seperti yang ia lakukan tadi. Tetapi ia benci dengan keharusan memanggil gadis tersebut dengan 'Nona'. Cukup sudah dengan dirinya sebagai pembawa-pesan-pangeran-kedua-Clarines. Di sini, di mana waktu membiarkan mereka berdua sendiri, ia adalah Obi, dan hanya Obi.
.
0.
"Hanya ingin memastikan—"
Obi mengangkat kepala dengan cepat, melihat punggung Zen di depannya. Ia pikir pembicaraannya dengan Zen sudah berakhir, tetapi Zen ternyata masih ingin menanyakan sesuatu. Masih ingin memastikan sesuatu. Adakah yang perlu dipastikan?
Zen menoleh ke belakang, menatapnya. "Bagaimana perasaanmu terhadap Shirayuki?"
Obi pikir ia akan menelan ludah, atau setidaknya berpikir keras, atau setidaknya bola matanya membesar, menampakkan ekspresi terkejut yang jelas terlihat. Namun ternyata tidak. Hanya membiarkan sekitar dua detik berlalu, mulutnya langsung membuka, "Saya ingin melindunginya, dengan perasaan yang sama seperti saya ingin melindungi paduka Zen."
Kali ini, giliran Zenlah yang bola matanya membesar dan terlihat terkejut. Ekspresi tersebut sesungguhnya adalah ekspresi terkesan, namun Obi terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Zen memasang senyuman di wajah. "Baguslah kalau begitu," katanya kemudian, ada sebersit rasa lega—karena berhasil menyimpangkan perasaan Obi, sambil berbalik dan membiarkan Obi berhadapan dengan punggungnya yang mulai menjauh seraya ia mengambil langkah. "Kukira kau menyukainya."
Obi terdiam, ia sebenarnya bereaksi dengan kalimat yang terakhir itu, namun ia tidak memperlihatkannya.
Kukira kau menyukainya.
Menyukai itu apa?
Obi tidak mengerti perasaan yang satu itu. Ia memutar ulang ingatannya saat melihat muka memerah Mitsuhide, atau tatapan malu-malu Kiki yang kalau tidak diperhatikan dengan baik sorot matanya seperti tersinggung, atau ekspresi Shirayuki yang mendadak cerah ketika melihat Zen seperti menemukan mata air setelah satu abad lamanya hidup kekeringan, atau reaksi terbata-bata Zen yang kehilangan kewibawaannya sebagai pangeran sama sekali ketika bertemu dengan Shirayuki dan senyumannya.
Semua itu karena mereka saling menyukai. Dan Obi tidak pernah mengerti apa itu sebenarnya 'menyukai'.
Sekali lagi, menyukai itu apa?
Obi tidak pernah tahu, dan sebenarnya, kalaupun ia ingin mencari tahu, ia harus bertanya pada siapa?
.
1.
Shirayuki akhirnya bisa menemukan suaranya. "Seperti Zen," ia mengakui.
Obi merasakan ulu hatinya seolah teriris, sudah kesekian kalinya Shirayuki mengatakan padanya akhir-akhir ini. Reaksinya mirip Zen, suaranya mirip Zen, tindakannya kepada Shirayuki seperti Zen. Sekalian saja wajahnya yang seperti Zen, atau warna rambutnya. Tetapi, perasaan sakit itu namanya perasaan apa?
Obi tidak tahu.
Dan Obi hanya bisa terbuka pada Zen.
Dan, Zen hanya mengatakan padanya, bahwa itu adalah perasaan ingin melindungi. Itulah yang Zen katakan, dan itulah yang Obi percayai. Kalau begitu, pikirannya yang tidak bisa berhenti mengingat Shirayuki, atau perasaannya yang mendadak seperti ada barbel lima puluh ton menindihnya ketika melihat Zen datang dan Shirayuki pergi darinya, atau jantungnya yang berdebar kencang ketika Shirayuki ada bersamanya di atas kuda, atau keinginan ingin menggandeng tangan Shirayuki, semuanya hanyalah perasaan ingin melindungi semata.
Obi mengulum senyum mendengar kalimat itu. "Bukan Zen," katanya dengan lembut. Ia mengusap rambut merah Shirayuki, dan merendahkan suaranya, seolah berbisik, namun tidak berbisik. "Maaf, bisakah sekali lagi kau memejamkan mata? Ini hanya Obi, Shirayuki. Pejamkan matamu untuk Obi."
Benar, ia hanya Obi. Ia bukan sebagai pembawa-pesan-pangeran-kedua-Clarines, ia bukan pengawal gadis di hadapannya , ia bukan siapa-siapa. Ia hanya Obi, dan di sinilah dia, bersama gadis yang ingin ia lindungi dengan seluruh jiwa dan raga, apapun yang terjadi.
Shirayuki tersenyum, ketika Obi meraih beberapa jumput rambut merah untuk diselipkan di belakang telinganya. Mereka bertatapan mata sebentar, mencoba mencari keyakinan dari sorot mata masing-masing. Dari situlah, Shirayuki mengetahui sesungguhnya perasaan Obi.
Ia memejamkan mata. Senyum masih tidak terhapus dari wajahnya, membuat Obi juga ikut tersenyum. Ia menyukai senyum Shirayuki kepadanya, ia selalu menyukainya. Dan apabila dikaitkan dengan perasaan ingin melindunginya, mungkin ia ingin melindungi senyuman itu.
Tak ada keraguan, kali ini mata Shirayuki tetap terpejam, selagi wajah Obi kian mendekat dan Shirayuki mulai merasakan napas Obi berdesir di kulit wajahnya. Shirayuki tahu. Bahwa dengan penuh kehormatan, dengan hasrat ingin melindungi, dengan harapan untuk dapat selalu ada di sampingnya, dengan rasa persahabatan yang jujur, tulus, dan semua luapan itu dengan perasaan murni yang sarat, ia tahu, Obi mencintainya.
Ia menerima perasaan Obi itu.
.
Dan, mereka berciuman.
Kemudian sudah.
Ciuman yang singkat. Tersipu malu, dan diam-diam.
.
0.
Kupikir kau menyukainya.
Obi masih memandang lurus-lurus, tak beranjak sedikitpun setelah punggung Zen yang makin menjauh menghilang dari hadapannya. Rahangnya mengeras, tetapi kemudian dibungkukkannya badan, seolah-olah Zen masih ada di hadapannya.
"Dengan penuh hormat, saya akui. Ya, itu benar, Yang Mulia."
Ditegakkan badannya lagi. Ada ekspresi baru yang terpancar dari wajahnya, dan tak ada sedikitpun penyesalan di sana.
Author's Note:
Biar nggak bingung dulu, deh. Angka 0 itu flashback, 1 itu masa sekarang. Bukan drabble atau semacamnya, ya.
Itu skenario Obi, lol. (Skenarioku juga, sih. /kabur)
