A Kiss from A Stranger

SoonHoon / HoZi — slight Meanie/MinWon

Seventeen fanfic

Typos, OOC, RnR

.

.

Jihoon tersenyum senang saat Junghan menyapanya sebelum ia turun dari atas panggung. Junghan tersenyum tipis.

"Pangeranmu menunggu," Bisik Junghan saat keduanya benar-benar berpapasan, "dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucapnya lalu mengedipkan sebelah matanya.

Jihoon terdiam, senyumannya luntur begitu saja. Dadanya berdegup kencang dan ia mempercepat langkahnya dan turun dari atas panggung. Dibawah, Soonyoung disana. Berdiri menunggu. Pemuda itu tersenyum saat melihatnya.

"Hai. Kita bertemu lagi." sapa Soonyoung.

.

Setelah kabur setelah Soonyoung menemukannya waktu itu, Jihoon bertekad jika lain waktu mereka bertemu lagi, ia akan mengatakan alasannya pada pemuda itu. Tapi ia tidak menyangka waktu dimana dia harus mengatakannnya datang begitu cepat.

Dan disinilah dia, bersama Soonyoung di taman depan rumah Seungcheol dan Junghan, duduk disebuah kursi panjang di bawah cahaya temaram lampu taman.

Keheningan terjadi selama beberapa menit hingga Soonyoung berbicara, "Kau masih takut padaku?" tanyanya.

Jihoon berjengit. Ia memainkan jari-jarinya, "Ti—tidak begitu." Cicitnya.

Soonyoung meliriknya, "Tapi kau duduk begitu jauh dariku. Jadi yang benar yang mana?" tanyanya melihat Jihoon duduk di kursi yang berbeda dengannya.

Jihoon tertawa kecil. Tapi tawanya berhenti saat Soonyoung duduk disebelahnya. Dengan cepat ia menggeser duduknya agak menjauh dari Soonyoung.

"Maumu apa sih?" tanya Soonyoung.

Jihoon merona hebat, dia menutup wajahnya, "Ma—maaf. Tapi tolong jangan mendekat lagi." ucap Jihoon.

Soonyoung menaikkan alisnya tidak mengerti, "Maksudmu?"

"Aku sedang menahannya. Aku tidak mau melakukannya," Ucap Jihoon, "aku—aku tidak ingin kau membenciku."

Soonyoung menatapnya, "Aku tidak mengerti. Sebetulnya ada apa denganmu? Kenapa kau menciumku? Kenapa waktu itu kau menangis? lalu kabur?" tanyanya.

Jihoon menatapnya dengan pandangan datar sebelum mengalihkan pandangan kearah lain, "Kalau bertanya itu satu-satu." Ucapnya.

Soonyoung tertawa pelan, "Jadi?"

Jihoon diam. Soonyoung ikutan diam.

Jihoon menghela napas, "Kau—kau candu bagiku." Lirihnya.

"Maaf?" Soonyoung berharap ia tidak salah dengar.

"Jangan buat aku mengulanginya," Ucap Jihoon sewot, "Semua itu karenamu." Lanjutnya.

"Aku?" tanya Soonyoung heran.

"Andai saja aku tidak bertemu denganmu waktu itu dan kau tidak sedang mabuk saat itu." jawab Jihoon, wajahnya mulai memerah.

"Kau yang menciumku duluan," ucap Jihoon.

"Ha—hah?"

"Aku tidak bisa apa-apa selain harus membalas ciuman darimu. Ketika aku terlalu menikmatinya dan itu membuatku merasa gila. Aku jatuh cinta padamu. Sejak saat itu aku selalu mengikutimu."

Soonyoung melongo, dia tidak mengingat hal itu sama sekali.

"Aku tidak sedang berbohong—" ucap Jihoon.

"Aku tidak bilang kau berbohong atau tidak, lanjutkan.." potong Soonyoung.

Jihoon menelan ludah, ia mengepalkan tangannya, menahan keinginannya yang kembali datang lagi. Tubuhnya bergetar.

"Tapi kau melupakanku—aku tidak terima hal itu. Makanya, setiap kali aku melihatmu tertidur di luar—di taman misalnya, aku menciummu sebagai pembalasan dendamku."

Soonyoung terkejut.

"Tapi, lama-lama aku menjadi terbiasa. Menciummu. Seolah tiada hari tanpa menciummu, aku tidak bisa apa-apa. Ini mengganggu pikiranku, hidupku. Aku selalu berpikir, bagaimana jika kau menyadari hal itu—bagaimana jika kau membenciku—bagaimana jika kau…ah." Jihoon terisak.

"Aku tidak ingin terus terbiasa seperti ini. Aku tidak ingin saat melihatmu, keinginan kuat untuk menciummu selalu datang seperti ini."

Soonyoung terdiam, menatap Jihoon yang kini menutupi wajahnya, tubuhnya yang kecil terlihat bergetar seperti suaranya.

"Wonwoo menyuruhku untuk menjauhimu jika aku ingin berhenti. Awalnya aku tidak sanggup. Hingga aku benar-benar memutuskannya, aku bertemu denganmu malam itu. Aku berkata pada diriku sendiri, ini terakhir kalinya aku menciummu. Walaupun aku tidak rela—" Jihoon menarik napas.

Soonyoung menatap langit dengan padangan menerawang.

"Tapi kau kembali muncul dihadapanku. Aku takut pendirianku goyah." Lanjut Jihoon.

Jihoon menghapus air matanya, "Maafkan aku, Kwon Soonyoung. Maafkan aku melakukan hal itu tanpa sepengetahuanmu."

Hening menyelimuti keduanya.

Jihoon mencoba menenangkan deru napasnya. Soonyoung tetap diam, menatap kedepan dengan pandangan kosong.

Soonyoung mencoba mengingat-ingat. Dia memang pernah ingat dia pernah mabuk—saat itu Doyoon mengajaknya ke club. Tapi dia tidak bisa mengingat saat ia bertemu dengan Jihoon ataupun waktu ia mencium si rambut pink itu. Soonyoung menghela napas berat, ia mengacak rambutnya frustasi.

"Aku tidak bisa mengingatnya," erangnya.

"Aku tahu itu." Jihoon berucap.

"Maafkan aku." Ucap Soonyoung sedih.

Jihoon tidak menjawab. Keduanya terdiam lagi. Soonyoung menatap Jihoon yang matanya kini sembab.

"Jadi, seharusnya aku tidak menemuimu seperti ini?" tanya Soonyoung.

"Bu—bukan begitu." Jihoon berujar panik.

"Aku benar-benar minta maaf telah menciummu juga karena tidak mengingat hal itu sama sekali," ucap Soonyoung, "jika saja saat itu aku tidak mabuk, menciummu dan membuatmu menjadi seperti itu." lanjutnya.

Jihoon menggigit bibirnya.

"Aku tidak membencimu," ucap Soonyoung membuat Jihoon mendongak menatapnya, "dan aku juga tidak menyesal telah bertemu denganmu," Soonyoung tersenyum lembut padanya, "karena jika aku tidak bertemu denganmu, kita tak akan duduk bersama seperti ini, bukan?" tanyanya.

Jihoon tersenyum kecil, kupu-kupu seolah beterbangan di perutnya.

"Aku tidak akan marah padamu. Soal kau menciumku itu—kau tahu? Aku pikir itu hanya mimpi. Ternyata benar dugaanku, itu bukan sekedar mimpi, tapi nyata." Soonyoung menggeser duduknya mendekati Jihoon.

"Aku senang sekali. Aku senang itu dirimu. Aku senang mendengar alasanmu seperti ini. Aku senang kau jatuh cinta padaku. Jika saja kau tidak menciumku malam itu, aku tidak akan pernah tahu dan tidak akan mencintaimu juga..." Soonyoung terdiam sejenak.

Di genggamnya tangan Jihoon erat-erat.

"Jadi… jangan katakan yang malam itu adalah terakhir kalinya kau menciumku. Tidak. Jangan. Tetaplah menciumku, kapanpun kau mau. Biarkan aku memilikimu dan kita akan bersama, selamanya."

Air mata Jihoon menetes, ia menatap Soonyoung yang berada dihadapannya. Jihoon mengangguk kecil sebelum mengalungkan tangannya dileher Soonyoung dan mencium bibir pemuda itu dalam. Lagi. Dan lagi.

Soonyoung-Jihoon—end.

.

.

A/N :

Hai, oke, side SoonHoon udah selese, jadi sebelum lanjut ke side Meanie, aku mau cuap-cuap dulu.

Jadi… aku buat ini ff sambil dengerin akb48 – junjou sugi (maunya gimana), nirina zubir – esok, hari ini dan seterusnya, sama ungu – cidaha XDD entah nyambung apa nggak sama cerita yang penting feel nya dapet/dasargaguna/ juga ditambah dengerin takbiran (malamhariraya) hwhwhwhwh XDD /bocahngawur/

Dan—ada yang masih bingung dengan masalah SoonHoon? Kalau ada, kita senasib. Yang buat aja bingung gimana yg baca? XD bahasaku njelimet alay lebay, udah baca ulang, edit, tapi kok—masih njelimet, ya sudahlah. Dan mempertahankan sifat karakter tokoh itu susah sekali u,u ada yang tau gimana cara mempertahankannya?

Udah yha—silahkan lanjutin bacaan kalian—

.

.

"Hai, Jeon Wonwoo."

Wonwoo membulatkan matanya dan terkesiap, potongan kue tart yang baru saja akan ia lahap terhenti. Wajahnya bagai orang bodoh.

"Ha—hai juga." Ucap Wonwoo.

Mingyu tertawa, "Sepertinya tanpa aku harus mengenalkan diri, kau sudah tahu siapa aku." Ucapnya.

Wonwoo terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa. Mingyu berjalan mendekat, mendekat. Wonwoo ingin sekali kabur dari situ dengan cepat. Tapi ia tak bisa bergerak. Ruangnya sangat terbatas. Ia merutuk kenapa ia tadi memilih untuk menyendiri di dekat dinding, di pojok pula.

Mingyu begitu dekat dengannya. Wonwoo mengigit bibir, memejamkan mata, bersiap jika saja Mingyu memukulnya atau menciumnya—apapun itu yang pastinya dia memikirkan sesuatu yang buruk.

Tapi tak ada apapun yang terjadi. Dia hanya merasakan tangannya bergerak karena sesuatu menyentuh garpu dengan potongan kue yang sedang ia pegang. Perlahan ia membuka mata. Mendapati Mingyu sudah menjaga jarak dan dia tengah mengunyah sesuatu.

"Huh? Apa?" tanya Mingyu dengan tatapan mengejek.

"Ka—kau—!" Wonwoo tidak dapan menahan rona merah yang menjalar di wajahnya dan ia sangat kesal dan malu.

Mingyu hanya memakan kue yang sedang nganggur di garpunya karena tak jadi ia masukkan ke mulutnya tadi.

Jadi, apa yang Wonwoo harapkan?

Wajahnya semakin memerah, bahkan melebihi merahnya tomat. Mingyu tertawa.

"Ahah—kau, kau sangat lucu." Ucap Mingyu di sela tawanya.

Wonwoo mencoba untuk tidak meleparkan sisa kue ke wajah pemuda dihadapannya itu.

Mingyu selesai tertawa, ia menatap Wonwoo, wajahnya berubah serius. Wonwoo menelan ludah.

"Kau bilang, kau tidak ingin bertemu denganku." Ucap Mingyu.

"Ya," Wonwoo menjawab, "aku tidak ingin bertemu denganmu."

Mingyu menunduk, "Bahkan sekarang?"

"Ya—" Wonwoo terdiam sejenak, "tapi, sepertinya aku berubah pikiran."

"Kenapa?" tanya Mingyu.

Wonwoo menaikkan alisnya bingung, "Apanya?"

"Kenapa kau tidak ingin bertemu denganku?" tanya Mingyu.

Wonwoo tidak menjawab, memilih untuk menghabiskan kuenya. Ia lalu menaruh piring bekas yang tadi ia gunakan keatas meja dan Mingyu mengikuti langkahnya.

"Wonwoo—"

Wonwoo berbalik dan membuat Mingyu hampir saja menabraknya. Wonwoo tertawa.

"Pernah ingat kalau aku pernah bilang aku tinggal di luar negeri?" tanya Wonwoo.

Mingyu menaikkan alisnya bingung, "Uhm—yeah?"

"Aku membohongimu, simple, karena itu." ucap Wonwoo.

Mingyu mengerjapkan matanya.

Wonwoo berdecak, "Kau terlihat tidak mengingatnya," Mingyu tersenyum tanpa dosa, "padahal aku ingat kau pernah bilang tidak suka dibohongi dan aku baru saja membohongimu."

Wonwoo menarik napas, "Aku panik saat tahu kau teman dari orang yang disukai Jihoon. Lalu dengan cepat aku tidak ingin bertemu denganmu," Lanjutnya, "aku tidak ingin kau marah padaku."

Mingyu terdiam sejenak sebelum menghela napas lega. Ia berjongkok.

"Syukurlah, cuma karena itu. Ku kira kau membenciku atau kau punya kekasih diluar sana." Ucap Mingyu.

Wonwoo menaikkan alisnya, "Untuk apa aku melakukan hal itu? aku sudah punya kau." Ujarnya.

Mingyu terdiam, ia teringat sesuatu, "Lalu kenapa kau tidak ingin aku tahu wajahmu?" tanyanya.

Wonwoo ikut berjongkok, "Karena jika aku memberitahumu, kau akan cepat menemuiku, aku selalu berada disekitarmu, ternyata," ia tertawa kecil sambil mencolek pipi Mingyu.

Mingyu tertawa.

Wonwoo tersenyum, "Gigimu, aigoo~ lucunya~"

Mingyu menjauh dan segera berdiri. Wonwoo menatapnya.

"Berdirilah." Ucap Mingyu.

Wonwoo mengangguk, ia berdiri. Keduanya terdiam canggung.

"Uhm. Maafkan aku." Ucap Wonwoo akhirnya.

"Aku sudah memaafkanmu." Ucap Mingyu.

Wonwoo tersenyum kearah pemuda itu dan hal itu membuat Mingyu merona.

"Ja-jangan tersenyum begitu," Ucap Mingyu, Wonwoo menatapnya bingung, "kau terlalu indah, aku tidak kuat."

Wonwoo mendengus dan menendang kaki Mingyu, "Gombal."

Mingyu tertawa, ia lalu terdiam sejenak, kemudian menatap Wonwoo, "Boleh aku memelukmu?"

Wonwoo tertawa, "Tentu saja, kenapa tidak?"

Mingyu memeluknya, ia tersenyum lega, "Aku tidak ingin kehilanganmu." Bisiknya di telinga Wonwoo.

"Gombal lagi," Wonwoo memutar matanya, "kau suka sekali menggombal ternyata, di media sosial ataupun sekarang." Ia terkekeh.

"Aku serius." Ucap Mingyu.

"Oke—baiklah. Aku juga." Balas Wonwoo.

Mingyu tersenyum, semakin mempererat pelukannya. Wonwoo membalas pelukan itu dan menepuk-nepuk punggung pemuda itu.

.

.

"Uhm, Mingyu?"

"Hm?"

"Sampai kapan kau akan memelukku?" Wonwoo menghela napas, "Sebentar lagi giliranku maju tiba."

"O-oh sori."

Mingyu melepaskan pelukannya, Wonwoo terkekeh, ia menepuk-nepuk wajah Mingyu lembut.

Mingyu menatapnya dalam sebelum mengeliminasi jarak wajah mereka dan mengecup bibir Wonwoo.

"Hm…."

.

.

End—dengan gajenya.

Oke, ff ini tamat.

Sebetulnya aku gak mau buat bagian Meanie-nya, biarkan menjadi misteri /bilangajamales/ tapi kemarin ada yang minta part mereka—yaudahlah. Tak buat. Dan alesan Wonwoo simple. Gitu aja. Soalnya buntu, gak tau mau gimana lagi.

Ada yg kurang puas? Maaf kalau begitu XD

Review, please? Setidaknya untuk sider, bisa kalian sekali aja ninggal jejak dengan review di ff ini? /puppyeyes/

Dan makasih juga buat yang udah review, aku minta maaf karena gak bisa jawab semua review satu-satu u_u

Dah ya~ sampai jumpa ntar di ff 17 yang selanjutnya. :3

-CoffeyMilk-