AKFAS SEQUEL (gak dapet ide judul, sori)

SOONHOON—SEVENTEEN

COFFEY MILK

Typos, OOC, Sho-ai

.

.

Beberapa bulan setelah pertemuan di acara ulang tahun Jeonghan, Soonyoung dan Jihoon pun semakin dekat. Setiap hari mereka akan menyempatkan diri untuk bertemu, menghabiskan waktu berdua. Seperti sekarang…

.

Jihoon berkeringat dingin. Ia merasa tidak nyaman, benar-benar tidak nyaman. Pasalnya pemuda bermata sipit yang beberapa bulan lebih tua darinya sedari tadi tak melepaskan pandangannya kearah dirinya.

Mata Soonyoung menatapnya dalam. Memperhatikan seluruh gerak-geriknya. Tersenyum tipis saat menyadari pemuda bersurai pink itu bergerak gelisah.

Jihoon tidak suka pandangan itu. Ia merasa ditelanjangi bulat-bulat secara tidak langsung oleh pandangan itu. Jihoon menggigit bibirnya sebelum berdecak dan memukul meja, membuat Soonyoung tersentak.

"Berhenti memandangiku!" seru Jihoon, wajahnya memanas.

"Oops. Sorry." Balas Soonyoung, setelah itu memandangi Jihoon lagi.

Jihoon mengerang frustasi, "Kau membuatku tidak nyaman, Soonyoung!"

Soonyoung bersiul tidak peduli.

"Lihat! Tugasku belum selesai karenamu! Uuuuggh! Sebentar lagi perpustakaan ini akan tutup." Omel Jihoon.

"Kenapa aku yang disalahkan?"

"Karena ini salahmu." Jawab Jihoon sambil menulis kembali di atas kertas tugasnya.

"Ayo pulang." Ucap Soonyoung.

"Aku belum selesai. Aku sudah mendapat jawabannya disini." Jawab Jihoon cepat.

"Kau bisa meminjam buku itu." ucap Soonyoung.

Jihoon tak membalas. Soonyoung menghela napas, meletakkan kepala keatas meja dan kembali menatap Jihoon. Jihoon mendengus. Ia memukul pelan pipi Soonyoung sebelum kembali menulis tugasnya.

Soonyoung tertawa kecil. Mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Jihoon berikut rambut pinknya. Jihoon tersipu.

"Hentikan."

Soonyoung lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi dan melihat kearah luar jendela. Menyadari Soonyoung terdiam dan tak menatap kearahnya lagi, Jihoon melirik pemuda ceria itu. Soonyoung tampak melihat kearah jendela. Jihoon pun melihat kearah luar jendela. Gelap. Langit terlihat mendung diluar sana.

Jihoon mengumpulkan kertasnya dan alat tulisnya lalu menaruhnya di map. Soonyoung lalu menoleh kearahnya.

"Sudah selesai?" tanya Soonyoung.

Jihoon menggeleng, "Belum, aku akan meminjam buku ini dan mengerjakannya kembali di rumah. Sebaiknya kita pulang saja sebelum hujan turun lebat."

Soonyoung terdiam sebentar. Jihoon menaikkan satu alisnya, "Soon?"

Soonyoung lalu menggenggam tangannya, "Bagaimana jika hari ini kau bermalam dirumahku?"

"Apa?"

"Kita tidur berdua—"

"Aku menolak."

.

.

.

Jihoon menekuk wajahnya kesal. Soonyoung bersiul gembira. Hujan mulai turun lebat bersama angin dan karena rumah Jihoon jauh dari tempat dimana mereka berada. Jihoon tidak bisa mengelak lagi, mereka sudah kehujanan dan demi kertas-kertas tugas yang sudah ia kerjakan (ia tidak mau kertas itu basah) ia akhirnya membiarkan Soonyoung menggeretnya menuju rumah Soonyoung yang tak jauh dari tempat itu.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan baju ganti dan handuk untukmu." Ucap Soonyoung setelah mereka sampai.

Jihoon mengangguk, ia mengeluarkan map dari tasnya yang agak basah dan tersenyum lega saat map dan isinya tidak ikutan basah.

"Jihoon? Nah," Soonyoung memberikannya satu stel baju dan handuk.

"Thanks." Gumam Jihoon.

"Lebih baik kau langsung mandi saja dari pada cuma ganti baju." Ucap Soonyoung.

Jihoon mengangguk kecil.

"Atau—kita mandi berdua? Aku akan menggosok pung—aw!" Jihoon menendang pemuda itu sekeras yang ia bisa dan melengos masuk ke kamar mandi.

.

.

"Soonyoung! Giliran mu!" teriak Jihoon.

"Oke!" Soonyoung meloncat dari sofa dan mematikan televisi lalu berlari ke kamar mandi dengan membawa baju ganti.

Dilihatnya Jihoon mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Soonyoung tersenyum lebar, diambilnya hari dryer dari tangan pemuda yang lebih pendek darinya itu.

"Yah! Soonyoung!" pekik Jihoon.

"Biarkan aku yang melakukannya." Ucap Soonyoung lalu bersiul-siul dan mulai mengeringkan rambut Jihoon.

"Uhm.. lebih baik kau segera mandi. Bajumu juga basah kan tadi?" tanya Jihoon.

"Tidak apa," Jawab Soonyoung, "lagipula bagaimana aku bisa mandi jika kau masih ada di kamar mandi?" tanyanya terkekeh.

"O—oh. Kau benar."

Keduanya terdiam hingga Soonyoung selesai mengeringkan rambut Jihoon.

"Selesai."

"Thanks." Ucap Jihoon lalu keluar dari kamar mandi.

"Tidak ingin menggosok punggungku?" tanya Soonyoung.

"Jangan mulai kau. Mau ku gosok dengan sikat wc?" Jihoon lalu mendengus.

"Oke—oke. Aku mandi dulu."

Blam.

Jihoon menghela napas.

.

.

.

"Apa yang kau masak?" tanya Soonyoung setelah selesai mandi.

"Hanya omelet. Aku tidak menemukan bahan selain telur di kulkasmu." Jawab Jihoon.

"Oh. Aku lupa belanja." Ucap Soonyoung.

Jihoon berdiri saat Soonyoung duduk, hal itu membuat Soonyoung heran. Jihoon lalu mengambil handuk diatas kepala Soonyoung dan mengeringkat rambut Soonyoung dengan handuk itu.

"Kali ini giliranku." Ucap Jihoon.

Soonyoung tertawa, "Thanks."

"Mmm hmm.."

Beberapa menit kemudian Jihoon kembali duduk dan mereka pun mulai makan.

"Bagaimana tugasmu?" tanya Soonyoung.

"Aku baru melanjutkannya sedikit." Jawab Jihoon.

"Berapa waktu yang kau butuhkan agar itu selesai?" tanya Soonyoung.

"Hmmm satu jam mungkin?" jawab Jihoon.

"Oh, kalau begitu aku nonton saja sambil menunggumu."

"Terserah."

Mereka menyelesaikan makanannya dan setelah itu Soonyoung menyibukkan diri memilih kaset-kaset dalam rak dibawah televisinya sedangkan Jihoon kembali menyelesaikan tugasnya.

"Jihoon?"

"Hm?"

"Mana yang kau pilih? One Piece atau Naruto?" tanya Soonyoung sambil melihat dua kaset di tangannya.

Jihoon diam sejenak, sibuk mengerjakan tugasnya.

"Jihoon?"

"Aku lebih memilih Pokemon." Jawab Jihoon.

Soonyoung menatapnya datar, "Itu tidak ada dalam daftar pertanyaanku."

"Masa bodoh." Jawab Jihoon.

"Kenapa Pokemon?" tanya Soonyoung.

"Karena lucu." Jawab Jihoon sekenanya.

"Kau juga lucu." Ucap Soonyoung.

"Aku tidak lucu." Balas Jihoon.

"Kau bahkan lebih lucu dan lebih imut dari mereka." Ucap Soonyoung.

"Aku tidak lucu dan aku tidak imut!" seru Jihoon tidak terima.

"Mengelak aja terus. Dasar tsundere. Tapi tidak apa, itu membuatmu terlihat lebih imut lagi." Jihoon lalu melemparnya dengan bantal sofa.

Soonyoung menghela napas, ia lalu memilih kaset Naruto dan menikmati tontonannya disaat Jihoon mengerjakan tugasnya.

.

.

Jihoon tersenyum lega saat melihat tugasnya kurang satu paragraph lagi, sedangkan Soonyoung sudah mematikan televisinya dan menguap bosan juga mengantuk.

"Aku ingin tidur."

"Ya sudah. Tidur duluan sana." Balas Jihoon.

"Tidak bisa. Masa aku tidur duluan dan meninggalkan tamu ku? Itu tidak sopan." Ucap Soonyoung.

"Oh." Jihoon menyentakkan bolpoinnya saat tugasnya benar-benar selesai, tapi dia kemudian berpura-pura menulis lagi.

"Aaarrhhh Jihoon…. Kapan kau selesaiii?" tanya Soonyoung bosan.

Jihoon menyeringai, "Sepuluh menit lebih mungkin?"

Soonyoung berguling-guling di lantai, "Cepatlah Jihoon.."

Jihoon terkekeh dalam bisikan. Soonyoung lalu duduk dan menatap kearahnya. Jihoon berjengit kaget dan berpura-pura membaca bukunya juga tangan masih memegang bolpoin.

Soonyoung mendekat. Menempelkan dagu di bahu Jihoon dan melihat hasil tugas pemuda berambut pink itu. Jihoon kembali berkeringat dingin, ia tak berkutik. Deru napas Soonyoung terdengar jelas di telinganya dan itu membuat tubuhnya bergetar dan darahnya seolah naik ke wajah.

Soonyoung mendengus saat menyadari Jihoon gemetaran, ia bisa menyimpulkan satu hal, "Kau berbohong padaku. Kau sudah selesai ternyata."

Jihoon menggigit bibir, ia panik. Salah satu tangan Soonyoung melepaskan bolpoin dari tangan Jihoon dan tangan yang lain melingkar di pinggul Jihoon kemudian menarik Jihoon ke dekapannya.

"Soo—Soonyoung."

Soonyoung diam. Salah satu tangannya menutup kedua mata Jihoon. Kepalanya ia tempelkan di ceruk leher Jihoon dan mengendus leher pemuda berambut pink itu.

"Soo—Soonyoung?" Jihoon mulai menggapai-gapai tangan Soonyoung yang menutup matanya.

Soonyoung tak menjawab. Tubuh Jihoon kembali bergetar.

"Ja—jangan lakukan hal yang tidak-tidak Soonyoung—" gagap Jihoon.

Soonyoung berpura-pura tidak mendengar. Ia lalu menggigit juga menghisap leher dihadapan matanya dan itu membuat Jihoon memekik.

"Soonyoung!"

"Hentikan Soonyoung—ini sakiiitt… uhh maafkan aku.."

Soonyoung membuat tanda kepemilikan disana dan melepaskan gigitannya saat merasakan Jihoon gemetar ketakutan. Soonyoung tersenyum kecil, ia menghadapkan wajah Jihoon kearahnya dan mencium pemuda itu tepat dibibir.

Jihoon tersentak. Soonyoung memberikannya lumatan kecil sambil melepaskan tangannya yang menutup mata Jihoon. Jihoon mencengkram baju Soonyoung saat ciuman mereka semakin bertambah dalam.

Soonyoung melepaskan ciumannya dan mengecup kening Jihoon. Jihoon menatapnya sebelum menyandarkan diri di tubuh Soonyoung.

"Aku ngantuuuk." Ucap Soonyoung.

Keduanya terdiam.

"Soonyoung?"

"Hm?" suara Soonyoung terdengar parau.

"Kalau kau mengantuk jangan tidur disini." Ucap Jihoon sambil menyingkir dari pangkuan Soonyoung.

"Tidaak."

"Kenapa?"

Soonyoung menyandarkan diri di sofa dan memejamkan mata, "Karena kau tidak mau tidur denganku."

Jihoon terdiam sejenak.

Soonyoung mulai terlelap dan mendengkur. Jihoon menatap pemuda itu dalam. Tubuhnya mulai gemetar lagi. Ia lalu mendekatkan diri ke arah Soonyoung, mengeliminasi jarak diantara mereka dan mengecup bibir Soonyoung.

Tangan Jihoon mengguncang badan Soonyoung, "Baiklah. Ayo kita tidur sekarang tapi jangan disini." Ucapnya lalu berdiri dan menyeret Soonyoung masuk ke kamar.

Soonyoung tersenyum senang. Ia lalu memeluk Jihoon dan keduanya loncat keatas kasur.

"Selamat tidur.."

.

.

.

Paginya Jihoon membuka matanya dan mendapati Soonyoung tengah menatap kearahnya. Jihoon tertawa kecil dan menepuk Soonyoung pelan.

"Apa lihat-lihat?" tanya Jihoon dengan suara parau.

Soonyoung tertawa. Mendekatkan diri dan memeluk pinggang Jihoon lalu mengecup puncak kepala Jihoon.

"Selamat pagi."

Jihoon tersenyum tipis, mendongak dan mengecup bibir Soonyoung.

"Selamat pagi juga."

.

.

END LOL APA INI—

SoonHoon Yeah.

OMG mereka itu terlalu unyu imut cimut bikin gemes udala. Ini buat kemarin yang minta sequelnya. Gak terlalu nyambung sih lol yang penting… hepi.

Jangan minta sequel lagi ya.

Dan oh, karena kalian udah minta sequel, aku juga minta review. Okay? /tebarkecupan/hueks