Happy Reading
.
.
.
Matahari Hari Senin telah menampakan sinarnya di ufuk timur, Boboiboy bangun dari tidurnya. Untuk kali ini dia tak memerlukan jam weker untuk membangunkannya, dia mulai mengerjapkan matanya.
Boboiboy beranjak kearah lemari bajunya, ia mengambil seragam dan handuk tak lupa juga jaket tanpa lengan bewarna oranye kesukaannya. Kemudian ia memasuki kamar mandi untuk memulai aktifitas pertamanya yaitu mandi.
Setelah selesai, Boboiboy pun keluar dan mengambil topi oranye yang digantung dekat kamar mandinya, kemudian memakainya secara terbalik.
Disaat Boboiboy ingin mengambil tasnya, ia melihat seseorang yang duduk disamping ranjangnya. Seseorang itu memeluk lututnya dengan ekspresi murung.
"Taufan!" Boboiboy memanggilnya, anak beriris biru itu mendongakkan kepalanya.
"Kemana kembaranmu, maksudku kita yang lain? Ada apa denganmu?" Tanya Boboiboy lagi.
"Air masih tidur, Gempa membereskan rumah, Api masih berusaha untuk membangunkan Air, dan Halilintar sedang marah, tadi dia memarahiku hanya karena aku memecahkan vas bunga kesayangannya." Balas Taufan cengengesan.
Jadi Halilintar suka bunga? Boboiboy hanya membalas Taufan dengan senyuman. Kemudin mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar.
"Kau mau kemana?" Tanya Taufan yang masih dengan posisi seperti tadi, Boboiboy menoleh kearahnya.
"Ke sekolahlah, mau kemana lagi?" Jawab Boboiboy santai.
"Sekolah? Sekolah itu apa?" Tanyanya, Boboiboy terkejut dengan pertanyaan Taufan, Boboiboy berbalik dan menghampirinya, Boboiboy sedikit menahan tawanya.
"Memang di duniamu tidak ada sekolah ya? Sekolah itu tempat dimana kita untuk mencari ilmu?" Jelas Boboiboy.
"Apa gunanya ilmu? Sampai kau harus pergi pagi-pagi buta seperti ini?" Tanyanya lagi, Boboiboy menghela nafas.
"Ilmu sangat penting kau tahu, kau bisa menguasai dunia ini dengan ilmu." Jelas Boboiboy sambil merentangkan tangannya saat menyebutkan kata 'Dunia' dan hampir mengenai wajah Taufan,
"Kau ini bicara apa?" Taufan tidak mengerti, ia seperti orang bodoh saat ini.
"Ah sudahlah mungkin sampai sisa hidupku habis kau juga tidak akan mengerti, lebih baik aku pergi. Sampai jumpa nanti." Boboiboy kemudian beranjak dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Taufan sendirian.
(u-u)
Brukk...
Tumpukan buku itu terjatuh.
"Argh..." Seorang gadis pembawa buku itu mendesah.
"Yaya!" Boboiboy memanggilnya dari belakang. Gadis yang merasa dipanggil itupun menoleh.
"Boboiboy!" Boboiboy menghampirinya, dan memasang senyuman manis kearahnya.
"Mari kubantu." Tawar Boboiboy, ia mengambil buku-buku yang terjatuh tadi.
"Ah, tidak udah repot-repot, aku bisa sendiri kok." Ujar Yaya sedikit sungkan padanya.
"Tidak apa-apa kok, aku senang bisa membantumumu." Boboiboy tersenyum, Yaya membalas senyumannya.
"Em, Oke." Yaya membantu Boboiboy untuk membereskan bukunya.
"Mau taruh dimana buku-buku ini?" Tanya Boboiboy, ia mengangkat tumpukan buku yang sudah tersusun rapi.
"Kau serius, ingin membawakannya untukku?" Tanya Yaya kembali. Boboiboy mengangguk.
"Kau bawa saja ke bangkuku." Ujar Yaya, Boboiboy mulai berjalan sedangkan Yaya mengekornya dari belakang.
Bruk...
Boboiboy menaruh buku-buku itu dimeja Yaya. Kemudian mengusap dahinya, agar keringatnya tidak menetes.
"Terima Kasih." Ujar Yaya sambil tersenyum.
"Sama-sama." Boboiboy tersenyum puas, gadis berhijab pink itu mulai duduk dibangkunya sedangkan Boboiboy duduk dibangkunya sendiri di belakang Yaya.
Ia masih tersenyum sendiri menatap gadis berhijab pink itu dari belakangnya. Jujur ia sangat senang bisa membantunya pagi ini.
"Jadi kau menyukai gadis itu?" Boboiboy terkejut bukan kepalang, seseorang mengagetkannya dari belakang. Membisikan sesuatu ditelinganya.
Ia mengelus dadanya. Mengatur nafasnya kemudian mulai bicara.
"Taufan, kenapa kau bisa disini?" Tanya Boboiboy, Yayapun menoleh kearahnya.
"Kau berbicara denganku?! Tanya Yaya, Boboiboy terkejut ia bingung menjawabnya.
"Ah tidak, aku hanya ... ee hanya ... ee ... aku hanya membaca buku ini." Ujar Boboiboy cengengesan. Ia menunjukkan sebuah buku ke arah Yaya, dan Yaya pun berbalik, ia merasa lega untung saja dia tidak melihat Taufan.
"Jujur saja kau suka kan dengan gadis itu kan?" Tanya Taufan dengan nada menggoda, dan sedikit mencolek dagu Boboiboy. Boboiboy menepisnya mungkin jika tidak ada Yaya, Boboiboy akan menempeleng Taufan saat ini juga.
Boboiboy menghiraukannya, karena jika ia menjawabnya pasti seisi kelas akan menganggapnya seperti orang aneh, karena berbicara sendiri.
"Hey, kenapa diam? Kau suka kan dengan gadis itu?" Tanyanya lagi. Boboiboy mendekati telinga Taufan.
"Lebih baik kau duduk di bawah bangkuku, aku pasti akan dicap orang gila jika aku berbicara denganmu." Bisik Boboiboy, ia mengecilkan suaranya agar Yaya tak mendengarkan pembicaraannya.
"Aku tak mendengarnya, suaramu kecil sekali. Kau sakit?" Ujar Taufan, Boboiboy mengehela nafasnya, pantas saja Halilintar memarahinya, mungkin karena dia sedikit bandel.
"Sudahlah, kau duduk disini. Nanti kau bisa bicara denganku, jika pelajaran hari ini selesai." Boboiboy menunjuk kearah bawah mejanya.
"Kau menyuruhku duduk disitu? Apakah aku bisa duduk disitu hanya untuk menunggumu sekolah?" Ujar Taufan, ia memandang sinis kearah Boboiboy.
"Taufan kumohon!" Ujar Boboiboy.
"Kau bicara denganku?" Tanya Yaya, ia menoleh kebelakang. Membuat Boboiboy salah tingkah, ia mengucapkan permohonannya pada Taufan terlalu keras.
Taufan memeletkan lidahnya, membuat Boboiboy semakin geram.
"Awas kau nanti!" Ujar Boboiboy dalam hati.
"Ah tidak, aku tadi hanya membaca buku ini." Alibi Boboiboy pada Yaya, ia menunjukan buku bersampul biru kearah Yaya, dan akhirnya Yaya pun berbalik.
"Huft ..." Boboiboy mendesah lega. Ia memandang Taufan dengan tajam.
"Kau duduk disini, cepat. Jika tidak, kusuruh Halilintar memarahimu." Bisik Boboiboy lagi menunjuk kearah bawah bangkunnya. Taufan dengan cepat menurutinya, mungkin karena ia takut ancaman dari Boboiboy.
(u-u)
Bel pulang sekolah berbunyi, Taufan akhirnya bisa keluar dari tempat persembunyiannya. Boboiboy mendesah lega, kembaran bayangannya mau juga diajak kompromi, walaupun Taufan terkadang menarik-narik celananya. Namun Boboiboy hanya bisa mengibaskan kakinya saja, agar tangan taufan tidak menyentuh celananya.
Sebenarnya dari tadi tangan jahil Taufan ingin mengerjai pemuda yang duduk dibelakang Boboiboy, tapi Boboiboy menahannya. Bahkan ia kadang juga menarik-narik celana Yaya dari bawah bangku, untung saja Yaya tidak mengerti.
"Aku pulang duluan ya,ibuku sedang sakit jadi aku tak bisa belajar bersama kalian hari ini!" Ujar Yaya sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa Yaya, sampaikan salam kami pada ibumu semoga cepat sembuh." Ujar Ying, gadis keturunan cina yang merupakan sahabat terdekatnya.
Yaya tersenyum.
"Semoga ibumu cepat sembuh!" Boboiboy tersenyum kearah Yaya, dan Yaya membalasnya membuat Boboiboy semakin berdebar.
"Terima kasih." Yaya berjalan keluar kelas. Sedangkan kelas sekarang sepi hanya terdapat lima orang dikelas ini, lima orang termasuk Taufan.
"Jadi kita belajarnya cuma empat orang, kalau Yaya tidak ada nanti siapa yang bisa aku tanyai?" Ujar Gopal, anak bertubuh gempal itu menompang dagu dengan tangannya.
"Ying kan ada!" Jawab Fang, Ying tersenyum.
Mereka selalu belajar bersama jika mempunyai PR, mereka akan mengerjakannya setelah pulang sekolah jika kelas sepi.
"Lebih cepat kita mengerjakannya, semakin lebih baik." Ujar Boboiboy tersenyum.
"Sok bijak." Ucap Fang lirih, tapi itu terdengar jelas ditelinga Boboiboy.
"Apa katamu?" Boboiboy mengepalkan tangannya, dan menatap rival yang merangkap jadi sahabatnya itu.
"Sudah, sudah, ayo kita kerjakan." Ying melerai mereka, kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya.
Taufan sedari tadi diam menatap mereka, memikirkan perkataan Boboiboy tadi pagi
"Jadi ini yang namanya sekolah!" Ujar Taufan lirih. Ia tidak mengerti apa yang sedang keempat orang itu lakukan, tapi yang membut Taufan tertarik adalah saat Boboiboy mengocok sebuah Tipe X dan mengoleskan kearah bukunya.
Suara yang dikeluarkan Tipe X itu sangat menggelitik hatinya, karena jika ia menggunakannya untuk mengerjai Halilintar pasti seru, apa lagi cairan putih yang keluar dari Tipe X itu.
Taufan mengambil Tipe X dari tangan Boboiboy, dan Boboiboy memandangnya tajam.
Boboiboy terkejut. Melihat ketiga sahabatnya itu sudah tergeletak lemas di lantai.
"Taufaaaannn ..."
Boboiboy menepuk dahinya, ia lupa, yang bisa melihat dan menyentuh Taufan hanya dirinya. Mungkin ketiga temannya itu mengira Tipe X itu melayang sendiri.
Taufan cengengesan, Boboiboy dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya,kemudian bangkit dan menyeret Taufan keluar kelas, ia membiarkan ketiga temannya yang pingsan tadi,
"Mungkin mereka akan siuman sendiri!" Pikir Boboiboy. Kemudian melepaskan tarikannya setelah berada dihalaman sekolah, takutnya ia akan dikira menarik hantu oleh orang-orang.
(u-u)
Brakk!
Boboiboy membanting pintu kamarnya dengan keras, diikuti oleh Taufan dibelakangnya, untung saja Tok Aba sedang berada dikedainya sehingga Tok Aba tidak mendengarkan bantingan pintu itu.
Terlihat ada empat bayangan yang menyerupai dirinya di dalam kamarnya. Keempat bayangan itu terlonjak kaget disaat kedua sosok yang mereka tunggu sejak lama sudah kembali.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Gempa pada Boboiboy dan Taufan, Keempat saudara bayangan itu terlihat kawatir.
"Kami habis dari sek .. sekohal." Jawab Taufan enteng, padahal jawabannya itu salah.
"Sekohal?" Gempa tidak mengerti perkataan Taufan.
"Sekolah bukan sekohal." Koreksi Boboiboy
"Sekolah itu apa?" Tanya Gempa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Boboiboy memutar matanya. Pertanyaan itu lagi ...
"Sudahlah, kau pasti tak akan mengerti." Ujar Boboiboy mendengus sebal, ia harus bisa memaklumi kembaran bayangannya itu. Kemudian Boboiboy melempar tasnya ke kasur.
"Hey, Apakah kalian tahu jika Boboiboy sedang jatuh cinta?" Ujar Taufan pada keempat kembarannya, Boboiboy membelalakan matanya. Dasar Taufan ember, apa yang ia katakan tadi?
"Wah benarkah? Malang sekali gadis itu, ia harus kejatuhan cintamu." Api menatap Boboiboy, sedangkan Boboiboy menatapnya kembali.
"Kau menghinaku? Yaya pasti juga mencintaiku, asal kau tau itu!" Ujar Boboiboy sambil melipat kedua tangannya didada dan memalingkan wajahnya.
"Jadi namanya Yaya?" Tanya Halilintar, senyumnya mengembang. Walaupun senyuman itu sedikit ditunjukan untuk menghina Boboiboy.
"Dari jawabanmu itu, kau berarti mengakui jika kau menyukai gadis yang kau maksud itu." Ujar Gempa.
"Eh ..." Boboiboy menutup mulutnya dengan tangannya.
Kelima kembaran bayanganya tersenyum.
"Kami akan membantumu!" Ujar mereka serentak. Boboiboy terkejut.
"Maksud kalian apa?" Tanyanya
"Ayolah, kami ada disini untuk membuatmu bahagia." Jelas Gempa. Boboiboy tersenyum.
"Hey, tapi sekolah saja kalian tidak tau, bagaimana kalian bisa mengerti cinta?" Tanya Boboiboy sambil menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa kau berpikir begitu? Biarpun kami hanya roh, dulunya kami suka menggoda orang pacaran." Ujar Taufan.
"Kau dan Api yang menggodanya." Ucap Halilintar. Taufan dan Api saling lempar pandang.
"Hem, bagaimana cara kalian membantuku?" Tanya Boboiboy.
"Tenang saja, besok pagi kuberi tahu." Ujar Taufan.
Boboiboy mengangguk, kemudian mengganti bajunya ke kamar mandi.
(u-u)
"Pakai parfum jangan lupa!" Ujar Halilintar disamping Boboiboy. Ia sedikit kesal dengan perlakuan kelima saudaranya itu padanya sejak tadi.
"Rambutnya itu sedikit berantakan!" Ujar Air.
"Iya, iya." Jawab Boboiboy kesal.
"Pakai bedak juga dong, biar gak kelihatan hitam." Ujar Taufan menyerahkan sekotak bedak, Boboiboy menepisnya.
"Kau pikir aku anak perawan?" Tanya Boboiboy.
"Kau harus memakainya, Api! Gempa! pegangi dia!" Ujar Taufan, Api dan Gempa mengangguk setuju.
"Eh, kalian mau apa?"
"Diam!"
Kaki dan Tangan Boboiboy ditahan oleh Gempa dan Api, dan Taufan mengoleskan alas bedak kuning langsat itu kepipinya.
Boboiboy memberontak, tapi apa daya Gempa dan Api terlalu kuat menahannya. Ia hanya bisa pasrah saja.
"Nah begini, kau terlihat menggemaskan!" Ujar Taufan, sambil menepuk tangannya.
Boboiboy memutar matanya. Wajahnya terlihat putih sekali, ia menghapus bedak itu perlahan. Namun Api menahannya.
"Aku pasti akan sangat malu." Gumam Boboiboy dalam hati.
"Sudah tenang saja, gak kelihatan kok. Kau memang sudah putih dari dulunya." Ujar Air.
"Eh?" Boboiboy terkejut, kenapa mereka bisa mengerti apa yang ia pikirkan?
"Sudahlah, sekarang kau pakai kalung itu! Kami akan membantumu mendapatkan gadis yang kau maksud itu, siapa namanya? Aku lupa." Ujar Gempa sambil menggaruk kepalanya.
"Yaya!" Jawab Taufan.
"Nah itu maksudnya."
"Sudahlah, lebih baik kau berangkat. Kami ada dibelakangmu." Ucap Halilintar.
Boboiboy mengangguk.
"Tapi kenapa aku harus memakai kalung ini?" Tanyanya.
"Sudahlah, kau terlalu banyak tanya. Sekarang kau pakai!"
Boboiboy pun memakai kalung itu, dan keluar dari kamarnya diikuti oleh kelima kembaran bayangannya dari belakang. Dan menghampiri Tok Aba di dapur.
"Boboiboy berangkat dulu Tok!" Pamit Boboiboy.
"Tidak sarapan dulu?" Tawar Tok Aba, Boboiboy mulai berpikir.
"Tidak usah saja!" Bisik Api ditelinganya.
"Tidak Tok." Ucap Boboiboy.
Boboiboy mencium punggung tangan kakeknya itu, kemudian beranjak pergi.
TBC
Ini cerita pertamaku, jadi tolong dimaafkan jika ada kesalahan didalam ceritaku ini :-)
Tolong Reviewnya
