Happy Reading
.
.
.
Boboiboy berjalan santai menuju kelasnya, diikuti oleh kelima saudara bayangannya. Tanpa ia sadari seseorang yang nyata berada dibelakangnya.
"Boboiboy!" Panggilnya, sedangkan yang merasa dipanggil itu pun menoleh.
Ternyata seseorang yang memanggilnya itu adalah Yaya. Boboiboy tersenyum. Saudara – saudara bayangannya yang dibelakangnya itu ikut menoleh, mereka sudah berfikir yang tidak – tidak tentang gadis itu. Mulai dari dia cantik sekali, tapi apa hatinya baik? Dan lain lain.
"Ada apa Yaya?" Tanya Boboiboy.
"Bisakah kau membantuku?" Tanyanya.
"Jika aku bisa kenapa tidak." Boboiboy tersenyum cerah kearahnya. Yaya membalas senyuman Boboiboy.
"Apakah kau tidak keberatan jika nanti pulang sekolah kau menemaniku ke apotik? Untuk membeli obat untuk ibuku." Tanya Yaya. Boboiboy jelas senang sekali bisa menemani Yaya.
Tanpa pikir panjang, dia mengangguk.
"Tentu saja, aku mau." Ujar Boboiboy tersenyum lebar.
"Kau serius?" Tanya Yaya sekali lagi, Boboiboy mengangguk untuk kedua kalinya.
Yaya tersenyum senang, apa lagi Boboiboy.
"Terima kasih, kau terlihat manis sekali hari ini." Ujar Yaya, tanpa jawaban 'sama-sama' dari Boboiboy dia langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
Dengan wajah yang memerah Boboiboy mengatakan 'sama-sama' ketika gadis berhijab pink itu pergi.
"Yeay berhasil!" Ujar Taufan senang, diikuti oleh saudaranya yang lain. Mereka menari-nari dengan gembira kecuali Boboiboy dan Halilintar.
"Kan sudah kubilang, dandananku itu pasti akan membuatnya melayang-layang." Ujar Api lantang tanpa beban sama sekali, dan disambut oleh tatapan sinis ke lima saudaranya.
"Hei, aku yang membetulkan rambutnya." Balas Air menatap mata Api tajam.
"Aku yang menyetrikakan bajunya." Ujar Gempa sambil menepuk pundak Boboiboy.
"Aku yang membedakinya." Ujar Taufan dengan wajah gembiranya, Boboiboy langsung menatapnya tajam.
"Aku yang memeganginya." Balas Air lagi yang tak mau kalah.
"Aku juga ikut memeganginya, kenapa kau tidak menyebutkan namaku juga?" Tanya Gempa dengan wajah tak ingin kalah pula.
"Kau memeganginya saja tidak becus." Balas Air datar. Gempa melemparkan tatapan seramnya pada Air.
(u-u)
Halilintar dari tadi menutup telinganya, diikuti juga oleh Boboiboy. Dan sesekali sedikit memijit keningnya. Mungkin akibat saudara anehnya yang sedikit, ralat sangat berisik itu membuatnya pusing.
"Untung saja aku yang paling waras diantara mereka." Gumam Halilintar lirih, namun tak sengaja Boboiboy mendengarnya.
"Jadi kau berpikir aku tidak waras juga seperti mereka." Ia memberikan tatapan sinisnya kepada Halilintar, dan Halilintar membalasnya dengan tatapan yang tak kalah sinis juga.
Halilintar menghela nafasnya,
"Ah sudahlah, yang waras hanya kita saja." Halilintar membenarkan gumamannya tadi. Ia tau saudaranya yang hidup dengan jiwa itu pasti juga masih lebih waras dibandingkan saudaranya yang hidup tanpa jiwa itu.
"Kita? Aku saja kali, kau tidak!" Balas Boboiboy, sambil tertawa kearah Halilintar. Halilintar semakin geram saja dibuatnya.
Halilintar menyipitkan matanya kemudian ...
'Bukkk ...'
Satu bogeman mendarat dipipi Boboiboy dengan mulus. Boboiboy secara langsung memegangi pipi kirinya yang sedikit memerah akibat pukulan dari Halilintar. Ini belum seberapa ... Halilintar memang mudah sekali marah.
Saudaranya yang lain akhirnya menghentikan debat mereka karena adegan itu. Gempa menghampiri Boboiboy diikuti Taufan, Api dan Air.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gempa pada Halilintar, yang di tanya hanya memasang wajah acuh tak acuh.
"Dia mengejekku." Jawabnya singkat sambil mengalihkan pandangannya.
"Tapi kenapa kau membalasnya dengan cara itu?" Tanya Gempa lagi.
"Karena aku tidak suka diejek, paham!" Jawabnya, kemudian berlalu begitu saja. bayangan itu menjauh dari kelima kembarannya.
Gempa menunduk, diikuti ketiga bayangan yang lain.
"Maafkan dia Boboiboy, dia memang sulit untuk mengontrol emosi, kau tidak apa - apa kan?" Ujar Gempa, Boboiboy pun berhenti memegangi pipinya. Mungkin sudah tidak sakit lagi.
Sebenarnya Boboiboy merasa sakit hati atas perlakuan Halilintar padanya, padahal Boboiboy hanya bercanda agar dia bisa tersenyum, bukan menunjukan ekspresi dingin ke arah kembarannya yang katanya sedikit kurang waras itu. Tapi kenapa Halilintar membalasnya dengan bogeman mentah kearahnya.
Tapi hanya sebuah kemungkinan kecil dia tidak bisa memaafkannya hanya untuk kejadian sepele tadi. Ia tidak tega melihat kembaran bayangannya yang merasa bersalah atas perlakuan Halilintar.
"Ya, tenang saja ini belum seberapa kok, aku tidak apa – apa, aku memaafkannya." Boboiboy tersenyum kearah keempat bayangan itu, dan merekapun membalasnya.
"Aku ingin ke kelas, kalian mau kemana? Kalian bisa saja ikut denganku ke kelas, asal kalian tidak berbuat aneh – aneh." Ujar Boboiboy lagi.
Keempat bayangan itu mulai berpikir.
"Ah tidak, kau nanti menyuruhku duduk dibawah bangku lagi." Protes Taufan pada Boboiboy, mungkin ia masih tidak terima karena hal kemarin.
"Mungkin karena kau terlalu menyebalkan." Ujar Api tiba – tiba, sambil tertawa kecil.
"Jika aku menyebalkan, terus kau apa?" Tanya Taufan dengan menunjukan muka masamnya.
"Aku kan anak baik." Jawab api dengan percaya diri.
"Hoeks ..."
"Sudahlah, kenapa kalian ini selalu ribut?" Lerai Gempa, sepertinya kedua kembarannya ini memang sulit diatur.
"Kau bisa diam tidak." Ujar keduanya serentak pada Gempa.
"Kalian menyebalkan!" Ledek Gempa dengan pandangan membunuh.
"Kau lebih menyebalkan." Api membalas ledekan Gempa, hal ini membuatnya semakin geram saja.
Mereka bertigapun akhirnya bertengkar sambil melemparkan ledekan satu sama lain.
"Diamkan saja mereka, ayo kita pergi." Ajak Air pada Boboiboy tanpa sepengetahuan mereka bertiga.
Boboiboy pun mengangguk pertanda menerima ajakan Air, kemudian dia pergi meninggalkan kembaran bayangannya yang sangat berisik itu.
"Huft, untung saja dilorong tidak ada orang, pasti aku dicap orang gila nanti." Gumam Boboiboy dalam hati tersenyum senang.
"Kau memang gila." Balas Air yang tak sengaja mendengar hal itu. Boboiboy heran dengan perkataan Air.
"Kau mendengar ucapanku?" Tanya Boboiboy sambil menaikan sebelah alisnya, Air mengangguk.
"Kau-" Pertanyaan Boboiboy terputus karena Air sudah menjawab pertanyaannya terlebih dahulu. "Kau tidak perlu menanyakan hal itu." Ujarnya, Boboiboy pun sedikit memperlihatkan wajah kekecewaannya, namun Air tak menghiraukannya.
"Kadang ada suatu hal yang manusia tidak mengerti, dan akupun tidak bisa menjelaskannya." Ucap Air dengan wajah datarnya, ucapan itu seketika menghilangkan kekecewaan yang ada dihati Boboiboy. Ia mengerti, kemudian membalasnya dengan senyuman khas miliknya.
Tanpa disadari, Ia sudah bediri diambang pintu kelas sekarang. Sudah ramai sekali manusia yang berada dalam kelas ini.
"Ini tempatmu belajar?" Tanya Air. Boboiboy hanya menjawabnya dengan kata "Ya" lirih, karena ia tidak ingin manusia dalam kelas ini mendengarnya.
Boboiboy melangkahkan kakinya menuju kearah bangkunya diikuti oleh Air. Ia mendapati Yaya di depan bangkunya. Gadis itu tersenyum manis kearahnya, membuatnya semakin merona seperti tadi pagi.
(u-u)
Air kini mendesah lega, sudah beberapa jam ia duduk di atas meja Boboiboy sambil menunggu pelajaran selesai, sesekali ia mulai mengantuk bahkan ia sempat tertidur beberapa menit, namun ia terbangun karena hampir jatuh dari atas meja. Untung saja meja Boboiboy sedikit luas, jadi masih muat untuknya duduk disana.
Jam istirahat dimulai, Boboiboy beranjak keluar dari kelasnya diikuti oleh Air. Namun sebelum ia mulai berdiri, seseorang menepuk pundaknya dari Belakang. Dan dia adalah Gopal, seseorang yang katanya menjabat sebagai sahabat terbaiknya.
Boboiboy menoleh kearahnya, dan menunggu Gopal mengeluarkan maksudnya karena telah memanggilnya tadi.
"Ayo kekantin bersamaku." Ajak Gopal. Boboiboy pun mulai kebingungan sekarang, ia memandang Air. sedangkan Air melambaikan tangannya. Pertanda agar ia harus menolak ajakan Sahabat terbaiknya itu.
"Uhm, aku tidak bisa." Boboiboy sedikit ragu menjawabnya, karena sebelumnya ia tidak pernah menolak ajakan Gopal.
"Tapi kenapa?" Tanya Gopal, mungkin ia sadar tidak biasanya Boboiboy seperti ini.
"Aku ingin sendiri hari ini, Maaf." Jawab Boboiboy kemudian meninggalkan Gopal, dan diikuti oleh kembaran bayangannya, Air.
Setelah Boboiboy melangkahkan langkah pertamanya dari ambang pintu kelas, seperti ada seseorang yang masuk kedalam tubuhnya, dan rohnya keluar begitu saja.
Di sini, Boboiboy bisa melihat tubuhnya sendiri. Siapa yang ada didalam tubuhnya sekarang?
"Ini aku Taufan." Ujar Taufan dari dalam tubuh milik Boboiboy.
Boboiboy membelalakan matanya, ia seperti kembaranya yang tanpa jiwa itu. Taufan memakai tubuhnya sekarang.
"Hei, kenapa kau memakai tubuhku?" Tanya Boboiboy, Taufan langsung pergi begitu saja. Boboiboy mengejarnya diikuti oleh Air.
"Aku akan mendatangi Yaya dikantin, kau tenang saja aku tidak akan berbuat yang aneh – aneh pada tubuhmu, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu secara langsung. Karena kau nanti pasti dikira berbica ra sendiri oleh teman – temanmu yang sangat menyebalkan itu." Ujar Taufan dalam hati, Boboiboy mendengarkannya dengan jelas dengan telinga bayangannya.
Boboiboy sadar ia tidak bisa dilihat dan disentuh oleh semua orang sekarang, kecuali tubuhnya sendiri.
"Tapi dimana Api, Gempa dan Halilintar?" Tanya Boboiboy padanya, Taufan mendesah. Kembarannya ini selalu memiliki segudang pertanyaan.
"Mereka pulang duluan, katanya mereka tidak menyukai bocah rambut ungu yang mereka temui tadi pagi, katanya bocah itu tak berhenti mengumpat tentangmu, Mereka sempat geram tadi, sampai pengen mencekik leher bocah itu tadi. Untung saja aku waras, makanya aku suruh mereka pulang." Ujar Taufan panjang dari dalam hati dan dengan modal kepercayaan dirinya ia berani mengucapkan bahwa dirinyalah yang paling waras diantara mereka, Boboiboy dan Air bisa mendengarnya namun mengacuhkan kata itu.
"Terus aku harus apa sekarang?" Tanya Boboiboy.
"Ikuti aku sekarang, kau juga Air." Jawab Taufan. Boboiboy mengangguk, dan mengikuti Taufan sedangkan Air mengekor dibelakangnya sambil melipatkan tangannya didada.
(u-u)
"Hai Yaya, sendirian nih? Aku boleh duduk disini tidak?" Tanya Taufan, sambil memancarkan senyuman khas milik Boboiboy.
"Oh Boboiboy, iya nih. Kalau kau mau duduk, silahkan saja." Jawabnya ramah, Taufan pun duduk di depan Yaya, sedangkan Air dan Boboiboy duduk disamping Taufan, sehingga Taufan yang berada ditengah. Tapi Yaya tidak tau jika ada sosok yang tidak terlihat dengan mata telanjangnya itu berada diseikitarnya.
"Kau mau pesan apa?" Tanya Yaya. Taufan pun sedikit kebingungan dengan pertanyaan itu.
"Maksudnya kau itu mau pesan makanan apa untuk dimakan disini." Bisik Boboiboy di samping telinganya.
"Oh, samakan saja denganmu." Jawab Taufan pada Yaya. Kemudian gadis berjilbab pink itu beranjak untuk memesankan makanan untuk dirinya dan juga Boboiboy, ralat Taufan.
"Ini mie instan untukmu." Ujar Yaya sambil menyodorkan semangkuk mie instan ke arah Taufan. Kemudian gadis itu duduk kembali di tempat yang ia duduki sebelumnya sambil membawa semangkuk mie instan juga untuk dirinya sendiri.
Taufan sedikit ragu untuk memakannya, ia tidak pernah makan makanan seperti ini sebelumnya, sedangkan Air saja sudah bergindik jijik melihat benda yang keriting itu.
"Ayo makan." Ajak Yaya, sambil menyuapkan makanannya itu ke mulutnya sendiri. Taufan masih saja kebingungan.
"Makan saja, enak kok." Bisik Boboiboy ditelinga Taufan, kemudian Taufan menelan ludahnya, dan kemudian memasukan sendok garpu yang ia pegang ke mulutnya.
Matanya terbelalak.
"Enak sekali makanan ini." Ujar Taufan, Yaya sedikit terkejut dengan perkataannya. Kemudian tertawa kecil.
"Kau ini, seperti tidak pernah memakannya saja." Ucap Yaya disela tawanya. Boboiboy menepuk dahinya. Dasar Taufan.
Taufan memakannya dengan lahap, Air melihatnya sedikit jijik, "Seperti tidak makan sebulan anak ini." Gumam Air lirih.
TBC
Maaf ya, fict ini lama nextnya. Sebenarnya udah jadi sih, tapi lupa buat publish *ampuni author reader* penyakit pikunisasi sih..
Maaf pendek, dan cerita makin ngawur ^_^ author menerima saran dan kritik kok... buat membangun cerita ini, kalo mau nyumbangin ide juga silahkan :v
Reviewnya please...
