614
.
.
.
.
"Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang. Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri." - Tere Liye.
.
.
Cast: EXO Baekhyun, Chanyeol, Sehun, etc.
Rate: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Yaoi (Boys Love)
Alternate Universe
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
"Yak kau ini!" Baekhyun langsung bangun dari duduknya dan menghampiri teman sekamarnya itu dengan cubitan-cubitan mautnya.
Chanyeol setengah mati menahan rasa perih yang ditimbulkan. Ia hanya meringis kesakitan dan meyesali perbuatannya.
Baekhyun terengah-engah setelah mecubiti Chanyeol. Bahu mungilnya terlihat naik-turun. Bibirnya mengerucut. Mood Baekhyun jelek sekali saat ini, jadi ia berjalan ke kulkas kecil di kamar itu dan mengambil susu stroberi dinginnya lagi.
"Aku benci kau," kata Baekhyun kepada Chanyeol sebelum meminum susunya lalu duduk di kursi belajarnya sambil membaca buku tebal tentang tumbuhan.
Chanyeol hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Kemudian pemuda itu membongkar kopernya dan memasukkan baju-bajunya ke lemari yang telah disediakan dan juga merapikan meja belajarnya. Ketika ia mengeluarkan sebuah lampu belajar kecil, gerakannya terhenti.
Baekhyun yang diam-diam memperhatikan Chanyeol dibalik bukunya kini terheran. Chanyeol terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu tentang lampu itu.
Chanyeol duduk menunggu kehadiran seseorang yang sangat ia sayangi di bangku taman tempat mereka pertama kali bertemu. Kyungsoo, kekasihnya sendiri, yang mengajak untuk bertemu pada hari ini.
Dua puluh tujuh November tahun ini Chanyeol berusia delapan belas tahun. Berita tentang ia lulus ujian masuk ke perguruan tinggi masih membuat ia sumringah hingga saat ini. Cita-citanya untuk menjadi seorang arsitektur telah ia lalui gerbang masuknya. Kekasihnya juga mendukung keputusan itu, namun Kyungsoo tidak masuk ke universitas yang sama dengan Chanyeol. Kekasihnya itu terdaftar menjadi mahasiswa kedokteran di Busan University.
Seorang calon dokter dan calon arsitek. Akan indah sekali kehidupan mereka kelak.
Chanyeol tersenyum sendiri membayangkannya.
Bersama Kyungsoo, ia entah mengapa ingin sekali menjalankan hubungan yang serius. Ia suka dengan Kyungsoo, baik luar maupun dalamnya. Tubuh Kyungsoo yang mungil membuat Chanyeol nyaman memeluknya dan juga sifatnya yang tenang dan keibuan membuat Chanyeol yakin suatu hari nanti anak-anak mereka akan tumbuh dengan sehat di tangan Kyungsoo. Mengingat kekasihnya itu juga akan menjadi dokter, kan?
Lamunan Chanyeol buyar ketika melihat Kyungsoo dengan coat besarnya datang menghampirinya. Tubuh mungil Kyungsoo terlihat tenggelam dibalik coat itu. Chanyeol terkekeh sambil berdiri menyambut Kyungsoo.
"Lama sekali kekasihku ini, hm?" Chanyeol memeluk Kyungsoo erat.
"Mian," cengir Kyungsoo. "Chanyeol-ah, saengil chukkhaeyo," ucap seorang lelaki mungil bermata bundar itu sambil menyerahkan sebuah kotak kado dengan pita merah diatasnya.
"Omo... Apa ini, Kyungsoo-ya?" Chanyeol menerima kotak tersebut.
Kyungsoo mengarahkan Chanyeol duduk kembali di bangku taman itu. "Buka saja," ujarnya lembut.
Chanyeol dengan cengiran bodohnya membuka kotak itu. Sebuah lampu belajar.
Kyungsoo menjelaskan makna kadonya tersebut, "Kau kan pasti akan selalu berkutat dengan gambar dan hitungan, bahkan bisa sampai pagi hari, yang kubaca dari artikel di internet sih begitu,"
Chanyeol tertawa kecil mendengar ocehan polos kekasihnya.
"Jadi aku memberikanmu lampu ini, agar matamu tidak bertambah minusnya." Sambung Kyungsoo sambil menjawil hidung mancung Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dan mencium kening Kyungsoo. "Terima kasih, sayang, terima kasih."
Kyungsoo tersenyum mendengar Chanyeol memanggilnya seperti itu. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa bersalah ingin meninggalkan Chanyeol dengan cara seperti ini. Tetapi keadaan dan takdir memaksanya. Ia harus melakukan ini.
Kyungsoo yang pertama melepaskan pelukan mereka.
"Chanyeol-ah," matanya menatap Chanyeol sambil menelan ludah gugup. "Sebenarnya sebelum aku mendaftar di Busan, aku sudah didaftarkan oleh kedua orangtuaku untuk kuliah di luar negeri..."
Chanyeol tercekat. Wajah cerianya berubah menjadi datar. "A-apa?"
Kyungsoo mengangguk. "Ya, Chanyeol, kau tak salah dengar," Kyungsoo memalingkan tatapannya. Tak tega melihat wajah Chanyeol.
Chanyeol tahu kemana arah pembicaraan ini. Chanyeol tahu dan ia tak siap.
"Aku akan ke London besok, Chanyeol-ah. Maafkan aku harus memberitahumu pada saat seperti ini, karena aku tidak tahu kapan saat yang tepat. Aku mencintaimu, Chanyeol. Tapi saat ini aku ingin mengejar cita-citaku,"
Chanyeol mengangguk seolah-olah mengerti. Tangannya sedikit meremas kotak kado yang tadi Kyungsoo berikan. Ia menahan amarahnya, tentu saja. Ia sedih sekaligus marah dan juga kecewa, tetapi tidak tahu kepada siapa.
Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Kyungsoo karena ia juga berhak mengejar cita-citanya. Chanyeol juga membayangkan betapa bahagianya kedua orangtua Kyungsoo ketika mendengar kabar ini. Seharusnya Chanyeol juga bahagia.
Chanyeol tersenyum kepada Kyungsoo, "Kenapa kau tidak bilang padaku, hm? Tidak apa-apa, aku mengerti, Kyungsoo-ya. Hey, kita bahkan sudah hidup di zaman teknologi mendunia. Kurasa semua ini akan mudah."
Kyungsoo menggeleng menahan tangisnya. "Tidak Chanyeol, kau tidak mengerti, kedua orangtuaku menjodohkanku dengan orang lain!" tangisnya seketika meledak sesaat setelah ia meninggikan suaranya kepada Chanyeol.
"Maaf Chanyeol... Maafkan aku..." kemudian Kyungsoo berlari meninggalkan Chanyeol. Sendirian.
Salju pertama jatuh setelah Kyungsoo memutuskan hubungan mereka.
Musim dingin baik di Korea dan di hati Chanyeol telah dimulai.
Chanyeol telah menimang lampu itu lama hingga ia tiba-tiba saja membawa lampu itu keluar kamarnya. Meninggalkan Baekhyun yang masih terheran-heran.
"Aigo aneh sekali orang itu," Baekhyun bergidik ngeri seperti melihat seorang psikopat saja.
Kemudian ia teringat tentang tugas yang diberikan oleh dosennya Jumat lalu. Jadi Baekhyun mengeluarkan laptopnya dan melanjutkan tugasnya.
Satu jam telah terlewat.
Baekhyun mengusap matanya yang lelah sambil meregangkan tubuh mungilnya. Perutnya terasa lapar karena ia malas membeli sarapan, dan siangnya ia harus menemui Kim ahjussi sehingga ia lupa untuk membeli makan siang.
Ketika ia tengah bersiap-siap untuk keluar membeli makan siang, pintu kamarnya terbuka memperlihatkan Chanyeol dengan barang belanjaannya yang banyak sekali. Baekhyun termenung melihat Chanyeol yang seperti ibunya ketika pulang berbelanja barang bulanan.
"Kenapa hanya melihat saja? Kesini, bantu aku membongkar belanjaannya," perintah Chanyeol.
"Kenapa aku harus?" balas Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya.
"Karena aku membelikanmu makan siang dan juga susu stroberi yang tadi kau minum,"
Mata Baekhyun berbinar mendengar kata susu stroberi. Dengan cepat ia menghampiri Chanyeol dan plastik-plastik besarnya.
Lalu ia menemukan satu plastik besar yang semuanya berisi susu stroberi favoritnya. Matanya semakin berbinar.
"C-chanyeol," cicitnya. "Ini semua untukku?" tatapannya bergantian dari Chanyeol ke plastik belanjaan tersebut.
"Hm," Chanyeol membalas singkat. "Sebagai permintaan maafku tadi," sambungnya.
Baekhyun tersenyum senang, "Gomawo Chanyeol-ah,"
Chanyeol mengangguk pelan. Diam-diam ia sedang menahan degupan jantungnya melihat Baekhyun tersenyum manis seperti tadi. Lidahnya kelu; tak sanggup berkata. Jadi ia hanya mengeluarkan 2 mangkuk plastik ramyun dan menyerahkan satu kepada Baekhyun.
"Ini, makanlah selagi hangat, Baek,"
Baekhyun yang sedang kelaparan hanya menerimanya saja. Kemudian hening terjadi diantara mereka berdua yang tengah melahap ramyunnya masing-masing.
"Chan-" / "Baek-" mereka berbicara bersamaan.
"Kau dulu," sahut Chanyeol.
"Mm... Kau tadi keluar membawa lampu belajarmu kan? Sekarang aku tidak melihatnya lagi," padangan Baekhyun mengedar ke seluruh plastik belanja tadi.
Chanyeol bergeming. "Oh itu,"
Baekhyun mengangguk, antusias menunggu kelanjutan Chanyeol.
"Sudah kuno, jadi kubuang saja," Chanyeol tersenyum. "Jadi kubeli yang baru tadi. Dan ketika melihat deretan susu stroberi, aku mengingat wajah jelekmu yang merajuk kepadaku tadi," Chanyeol terlihat seperti menahan tawanya.
Wajah Baekhyun memerah seperti kepiting rebus hingga ke telinganya menahan malu. "Yak, aku tidak jelek, tahu,"
Baekhyun mengulum senyumnya mengingat Chanyeol tersenyum seperti tadi. Hatinya terasa menghangat.
"Kalau kau tadi mengapa memanggilku?" Baekhyun memasang wajah penasarannya.
"Tidak jadi, aku sudah lupa mau bicara apa tadi," Chanyeol menengok mangkuk ramyun milik Baekhyun. "Kenapa tidak dihabiskan? Tidak suka?"
Baekhyun menggeleng, "Aniyo, hanya saja aku sudah kenyang." Baekhyun langsung merapikan sampah-sampah mereka dan membawakan minum untuk Chanyeol.
Chanyeol menerimanya dan meminumnya. "Pantas saja kau pendek, kau makan sedikit sekali." Ia kembali dengan mode datarnya.
Baekhyun kembali mengerucutkan bibirnya dan mencubiti badan Chanyeol dengan kesal.
Senin sore ketika Baekhyun kembali dari kegiatan di fakultasnya, ia menemukan kamarnya dengan Chanyeol kosong.
"Apa anak itu akan pulang malam?" batinnya.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Rapi, benar kata Chanyeol bahwa lelaki itu bukan tipikal orang jorok—yang berarti Baekhyun tidak akan membencinya. Kecuali untuk satu hal, yaitu kejahilannya. Baekhyun seperti tinggal dengan anak taman kanak-kanak.
Tubuh mungilnya mulai terasa lengket karena keringat, jadi ia memutuskan untuk mandi selama yang ia inginkan sebelum Chanyeol datang. Berbagi kamar sama dengan berbagi kamar mandi, yang berarti si Tiang itu bisa saja merusak acara Baekhyun mandi dengan tenang.
Ia mengambil handuk dan pakaiannya. Tentu saja ia juga tidak bisa lagi memakai pakaian di sembarang sisi kamar ini. Chanyeol sudah ia beritahu pin kamar ini sehingga ia bisa masuk kapan saja. Baekhyun tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti ketika Chanyeol sedang berada di dalam kamar dan ia lupa membawa pakaiannya.
Astaga. Membayangkannya saja sudah membuat wajah Baekhyun memerah.
Ketika ia melewati kulkas mini miliknya dengan Chanyeol, ia melihat sebuah post-it berwarna hijau terang. Ia membacanya.
Smurf, aku sepertinya pulang malam, jadi jangan menungguku membawakan makanan untukmu lagi, ya. Kau makanlah duluan. Aku takut jika aku membelikan untukmu tadi, makanannya terlanjur dingin. Makan yang banyak agar kau cepat besar.
-CY.
Baekhyun membelalakan matanya ketika ia membaca Chanyeol menyebutnya smurf, tokoh kartun kurcaci dengan kulit biru itu. Namun seketika hatinya menghangat saat membaca rentetan kalimat setelahnya.
Chanyeol perhatian kepadanya?
Baekhyun ingin sekali menyimpulkan bahwa Chanyeol menyukai dirinya. Mengingat perlakuan Chanyeol yang hangat walaupun wajah dan ucapannya dingin seperti biang es—dingin sekaligus menyakitkan.
Lagipula Chanyeol tidak jelek, sangat tampan malah. Otot tubuhnya yang keras ditambah dengan tinggi badannya yang menjulang membuat ia terlihat seksi. Lalu sikap dinginnya itu juga membuat si Tiang itu menjadi keren. Kelebihannya lagi adalah ia sepertinya bisa bermain gitar. Baekhyun menatap tas gitar Chnayeol yang belum tersentuh sejak kedatangan pertama lelaki itu. Ia penasaran bagaimana jemari Chanyeol yang besar dan kokoh itu memetik senar gitar dengan indahnya. Kemudian Baekhyun, dengan suara yang menurut guru seninya dulu indah, akan mengiringi permainan gitar Chanyeol.
Park Tiang itu boyfriend material sekali. Baekhyun jadi gemas sendiri.
Namun pikirannya kembali kepada pelajaran yang telah ia petik dari hubugannya dengan Jongin bahwa jatuh cinta itu memang seperti kilat datangnya. Sangat cepat dan tiba-tiba hingga kau tak bisa mengelaknya. Kenyataan yang menyakitkan adalah ketika kau terlalu mencintai seseorang di hubunganmu, rasa cinta pasanganmu itu bisa saja pudar kemudian hilang di saat yang tidak kau inginkan.
Jadi Baekhyun akan lebih keras terhadap dirinya sendiri. Bahwa ia akan lebih sering menanyakan kepada dirinya sendiri apakah rasa itu cinta, atau hanya kagum sesaat.
Baekhyun tidak ingin menjadi keledai, yang akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Decit sepatu para lelaki tinggi yang tengah bermain basket memenuhi pendengaran dari lapangan basket Seoul University. Kulit mereka berkilauan; bias dari sinar matahari sore yang mengenai bulir keringat mereka. Seragam tim yang dirancang sleeveless menunjukkan otot lengan mereka yang kekar dan keras, membuat para penonton yang mayoritas adalah uke menahan jeritan mereka.
Riuh teriakan pemberi semangat membakar kedua tim yang tengah bermain sore ini dalam kompetisi antar fakultas yang sengaja diselenggarakan oleh pihak organisasi olahraga kampus mereka untuk mempererat hubungan sesama mahasiswa dan sebagai sarana tempat mereka dapat berkompetisi secara sehat.
Park Chanyeol sang kapten tim berkali-kali mencetak skor untuk timnya. Selebrasi ia lakukan dengan meloncat tinggi seraya menggeram keras, menunjukkan betapa jantan dirinya. Diakhiri dengan brofist yang ia lakukan dengan teman satu timnya. Biasanya dengan Kris, sahabatnya yang tinggi badannya menjulang beberapa sentimeter diatas dirinya.
"SEHUN, FOKUS!" gertak Chanyeol kepada teman berkulit putih pucatnya yang terlihat tidak konsentrasi dengan bola.
Bola berhasil diambil alih oleh Minho dan kemudian ia menyerigai kepada Chanyeol. Meremehkan tim Chanyeol. Dengan keahlian Minho dan kerjasama timnya, mereka berhasil mengungguli tim Chanyeol karena telah melakukan three point shoot, yaitu menembakkan bola dari luar garis busur ring basket.
"You," geram Chanyeol. Melemparkan tatapan kesalnya kepada Sehun.
"Dammit, Chanyeol!" Sehun dengan langkah lebarnya meninggalkan arena lapangan menuju ke tepi.
Yixing dan Minseok yang emosinya sedang stabil berusaha menenangkan Sehun. Kris dengan tatapan sengitnya melihat rivalnya yang terdiri dari Minho, Taemin, Jinki, Kibum dan Jonghyun tengah bersorak atas kemenangan mereka. Please, skor mereka hanya selisih satu.
Chanyeol menepuk-nepuk pundak Kris, mengajaknya untuk melakukan evaluasi di tepi lapangan bersama dengan anggota lain. "Jaga emosimu, kita bermain sportif."
Kelima pemuda itu mengambil air botol mineral yang telah disediakan panitia dan meminumnya dengan cepat. Chanyeol menyisakan sedikit airnya untuk ia guyurkan ke atas kepalanya yang terasa panas akibat kekalahan timnya.
Ia tak sadar jika sedang menjadi bahan empuk untuk uke yang senang mengoleksi foto menggairahkan atlit kampus.
Kemudian dengan telapak tangannya yang besar, Chanyeol menyisir rambutnya ke belakang. Menunjukkan dahi dan alis tebalnya yang dipuja banyak uke diluar sana. Dengan bibir kissablenya yang basah sehabis minum, ia bertanya kepada Sehun. "Kau ini kenapa?"
Sehun menggeleng tak peduli sambil meneguk air mineralnya.
"Jangan memancingku, magnae," sahut Kris.
"Ck, kalian ini," Yixing membuka suaranya. "Dia baru saja diputuskan oleh Luhan dua hari yang lalu. Bukankah kita semua sudah tahu?"
Chanyeol mengangguk, membenarkan pertanyaan Minseok. Memang seharian ini albino itu terlihat murung, namun Chanyeol tidak mengira bahwa hal itu juga sampai mempengaruhi kualitasnya bermain basket.
Ia juga pernah patah hati namun ketika ia bertemu dengan basket, ia menemukan dunianya sendiri. Lupa dengan segala masalah yang ia miliki.
"Sehun, dengarkan aku," sang kapten menyiapkan petuahnya. "Ketika kau bermain basket, ani, ketika kau mulai mengganti bajumu dengan seragam tim kita, kumohon kau bermain dengan profesional untuk kesempatan mendatang. Kita semua pernah memiliki masalah cinta disini. Kau bisa merenung dan bersedih kapanpun kau mau, tapi jangan ketika sedang bermain."
Sehun bersedekap dalam diam sambil mencerna omongan Hyungnya.
"And we ain't just playing here, but competing! Oh, for the sake of fu— YAK!" Kris tidak sempat meneruskan cursenya karena Zitao, sang kekasih, tengah menarik telinganya hingga ia harus menunduk agar telinganya tidak lepas.
"Omonganmu, Yifan, omonganmu," Zitao sampai-sampai menyebut nama asli Kris yang berarti lelaki bermata panda itu tidak suka dengan apa yang kekasihnya lakukan tadi.
Chanyeol membuat gesture dengan kedua tangannya, seakan-akan bertanya, "Sejak kapan orang ini ada disini?" dan alisnya yang berkerut heran.
"Zitao memang selalu menonton Kris bermain, memangnya Kyungsoo dulu?" Yixing yang menyindir Chanyeol tersenyum lebar dengan jokesnya dan sepertinya Sehun ikut senang dengan itu. Jadi mereka melakukan high-five setelah berhasil membuat wajah Chanyeol menggelap.
"Kau pikir aku peduli," Chanyeol mendengus. "Jadi kesimpulan evaluasi hari ini yaitu tidak ada lagi yang kekanakan seperti tadi," Chanyeol menyeringai kepada Sehun.
"Hey, aku setingkat denganmu, stupid," elak Sehun.
"Tapi kau lebih muda dua tahun dari kami, bocah," Kris menunjukkan wajah mengejeknya kepada Sehun sambil mengusap-usap telinganya yang masih sakit.
Sehun adalah yang paling cerdas diantara mereka karena saat ia mengambil kelas akselerasi pada saat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atasnya. Menjadikan Sehun berusia paling muda—dan yang paling kekanakan—sehingga menjadi sasaran untuk digodai oleh Hyungnya.
Menjadi yang termuda tidak menjadikan Sehun sebagai yang terpendek. Beruntung dengan kaki panjangnya, ia hanya berbeda beberapa sentimeter dibawah Chanyeol. Ekspresinya yang datar dan dingin juga kadang membuat orang tidak percaya bahwa ia adalah yang termuda dari mereka berlima. Orang-orang lebih percaya bahwa Minseok, sang tertua, adalah magnaenya karena ia selalu tersenyum ramah dan kedua gigi seri depannya yang seperti tupai membuat ia memiliki aegyo walaupun Minseok tidak banyak berbicara.
"Berhenti bertengkar, tolong, aku memiliki janji dengan seseorang," Minseok menunjukkan wajah bosannya.
"Aku ingin mandi," sahut Yixing yang sudah menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya sudah, sepertinya hanya itu. Kita bermain bagus tadi. Hanya untuk selasa depan kita harus berlatih untuk hari rabu karena kita akan sparring dengan tim basket kampus lain. Kajja," Chanyeol meletakkan telapak tangannya pertama kali di udara.
Kemudian disusul oleh telapak tangan keempat temannya yang menumpuk diatas tangan sang kapten.
"WE. ARE. ONE! WE. ARE. ONE! WE. ARE. ONE!" kelimanya menyorakkan slogan khas mereka lalu tumpukan tangan dihempaskan keatas pertanda diakhirinya kegiatan tim mereka hari ini.
"Terima kasih untuk hari ini, hati-hati di jalan," Chanyeol menyalami seluruh anggotanya.
Sehun yang melihat Chanyeol berjalan ke arah yang berbeda memutuskan untuk mengikuti Hyungnya itu.
"Chanyeol Hyung, kau mau kemana?" Sehun merangkul pundak Chanyeol dari belakang kemudian menyamakan langkah mereka.
"Eh? Aku belum memberitahu kalian, ya? Aku sekarang tinggal di asrama," balas Chanyeol.
"Mengapa? Rumahmu kan juga di Seoul," alis Sehun bertautan, heran.
"Aku ada masalah," Chanyeol melihat raut wajah Sehun yang mulai serius. "Chill, aku bukan kabur dari rumah. Aku hanya ingin mencoba hidup mandiri saja." sambung Chanyeol.
Sehun hanya mengangguk dan merespon Chanyeol dengan membulatkan bibirnya.
"Lalu mengapa kau masih mengikutiku, bodoh?" Chanyeol melirik lengan Sehun yang masih bertengger di pundaknya.
"Hyung," suara Sehun memelas.
Dan Chanyeol hanya memutar bola matanya malas. "Bosan di rumah?"
Sehun mengangguk mengiyakan Chanyeol. Chanyeol adalah temannya sejak sekolah menengah atas. Dulu ia memang sering menginap di rumah Chanyeol saat jumat malam dan biasanya mereka akan bermain game hingga fajar muncul di hari sabtunya. Lalu mereka akan tidur sepanjang hari dengan tirai kamar yang tertutup rapat seperti ruangan seorang vampir.
Namun hari ini bukan hari Jumat, jadi sepertinya Sehun hanya akan menumpang tidur di asrama Chanyeol.
"Tapi aku memiliki teman sekamar," Chanyeol memandang Sehun dengan peringatan di wajahnya. "Jadi jangan membuat kegaduhan selama kau disana."
Sehun berhenti melangkah dan menghadang jalan Chanyeol. Kemudian ia dengan senyum buatannya menundukkan kepala tanda hormat. "Algeuseumida, Hyung-nim."
Chanyeol mual melihatnya. Jadi ia hanya acuh kepada albino itu dan meneruskan langkahnya.
Gedung asrama mulai terlihat. Beruntung lapangan basket tempat ia bertanding tadi tidak terlalu jauh dengan gedung asrama. Atau karena kakinya yang panjang melangkah terlalu lebar sehingga ia dengan cepat dapat menempuh perjalanan?
Sehun mengejar langkahnya yang tertinggal dan berjalan disamping Chanyeol lagi.
"Teman sekamarmu orang yang menjaga kebersihan kan, Hyung?" tanya Sehun.
"Hm," sahut Chanyeol singkat. "Bahkan ketika aku baru membuka pintu kamarku, akan tercium wangi stroberi yang manis." Chanyeol mengulum senyumnya mengingat bahwa teman sekamarnya, Baekhyun yang manis dan menggemaskan itu menggunakan pewangi ruangan otomatis beraroma stroberi segar dan Chanyeol suka dengan itu.
"Astaga selera teman sekamarmu seperti uke saja," wajah Sehun berubah menjadi tegang. "Atau menang benmarl teman sekanarmu idu uke—"
"Yak, yak, Oh Sehun bicara perlahan-lahan. Lidahmu meliar lagi," Chanyeol terbahak karena kebiasaan Sehun yang ketika bicara terburu-buru, kalimat yang keluar dari mulutnya akan tidak jelas seperti tadi.
"Aish! Maksudku," Sehun mengatur napasnya agar tidak terburu-buru. "Atau memang benar teman sekamarmu itu uke? Wah... Kau menang banyak ya, Hyung." mata Sehun berbinar ketika membicarakan uke.
Chanyeol mengangguk singkat. Namun ia tak suka melihat Sehun begitu antusias ketika mendengar ia sekamar dengan lelaki uke. Bisa-bisa ia tidak mau pulang. Lagipula Baekhyun tidak boleh didekati oleh orang semacam Sehun.
Eh, tapi memang ia sendiri siapanya Baekhyun?
Baekhyun untuk ketiga kalinya menuangkan sabun cair beraroma stroberinya itu ke shower puff berbentuk kepala rilakkuma berwarna putih miliknya. Ia memang memiliki kebiasaan mandi berpuluh-puluh menit hingga dulu ibunya sering menasihati dirinya agar jangan seperti itu lagi karena sama saja membuang-buang air bersih.
Tapi kemudian Baekhyun akan mengelak dengan mengatakan, "Kalau sekali saja tidak akan bersih, Eomma." Lalu ibunya akan menjejalkan lengan Baekhyun ke hidung lelaki mungil itu sendiri agar Baekhyun tahu bahwa dirinya sudah seperti mandi dengan menuangkan parfum di seluruh tubuhnya.
Ia pernah tidak mandi dua hari karena tubuhnya terlalu lemas akibat alergi dinginnya kambuh, namun harum tubuhnya tetap tercium. Seakan-akan ia tidak pernah berkeringat. Entah kelenjar keringatnya yang berkelainan atau bakteri di kulitnya yang berkelainan sehingga tidak bisa membuat bau di tubuh Baekhyun.
"Annyeong naege dagawa," Baekhyun mulai menyenandungkan lagu kesukaannya, Beautiful.
"Sujubeun hyanggireul— angyeo judeon neo," ia membilas rambut dan tubuhnya kemudian gerakannya terhenti.
"Apa lirik selanjutnya ya... Ahh aku lupa!" Kakinya ia hentakkan kesana kemari. Membuat penutup lubang saluran airnya tergeser.
"Aku pulang," Baekhyun seperti mendengar suara orang lain. Namun ia mengacuhkannya dan kembali melanjutkan acara mandinya.
Dengan mata terpejam, ia meraba dinding kamar mandi untuk meraih handuknya. "Oh neoui gaseume nae maeumi noganaeryeo, nuni majuchyeosseul—"
"Baekhyun-ah, apa kau sudah makan?"
Suara bass itu. Park Chanyeol sudah pulang.
Baekhyun memutar otaknya cepat agar ia langsung berpakaian. Jadi ia menggerakkan tangannya secepat kilat untuk meraih handuk itu, namun tangannya malah menarik hanger tempat ia menggantungkan handuk dan pakaiannya dan —
"AAAHHH! MALDO ANDWAE!"
Handuk dan pakaiannya terendam di lantai kamar mandi yang saluran pembuangan airnya tertutup.
Chanyeol dan Sehun sudah tiba di lantai dimana kamar Chanyeol berada.
"Hyung, aku lapar..." Sehun memegangi perutnya.
Chanyeol jadi teringat dengan post-it yang ia tempel di kulkas. Apa Baekhyun sudah makan?
"Arra, kita pesan antar saja. Aku juga belum makan," jawab Chanyeol. "Percepat sedikit jalanmu." Chanyeol mempercepat langkahnya dan segera menekankan pin keamanan kamarnya.
"Aku pulang," Chanyeol melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu kecil di samping pintu. Sehun mengikutinya dari belakang.
Kedua pemuda tiang itu terbuai ketika mendengar suara merdu dari kamar mandi. Sehun memejamkan matanya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang ia yakini sebagai ranjang Chanyeol karena spreinya normal, tidak seperti ranjang disampingnya yang spreinya bergambar rilakkuma putih yang memakai gaun merah muda—uke sekali.
Chanyeol yang masih berdiri berjalan menghampiri pintu kamar mandi. Ia ingin memesan makanan dan sebaiknya ia menanyakan Baekhyun agar ia pesankan juga jika si mungil itu belum makan.
"Baekhyun-ah, apa kau sudah makan?"
Tidak ada jawaban. Chanyeol melirik Sehun yang terpejam di ranjangnya. Dengan ragu ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar mandi itu.
"AAAHHH! MALDO ANDWAE!"
Sehun loncat terbangun dari tidurnya lalu memegangi jantungnya yang serasa ingin lepas.
Chanyeol menggeram kesal memegangi telinganya. "YAK BYUN BAEKHYUN, SUARAMU!"
Ini kedua kalinya telinga Chanyeol dibuat menangis oleh jeritan Byun Baekhyun. Sepertinya ia harus memberi pelajaran kepada si kecil itu.
To be continued
.
.
.
.
.
.
.
P.s.
Huaaah maaf sekali di chap pertama kemarin aku bilangnya yang crack pair itu paling cuma salah satu seme x baekhyun, tapi di chap ini malah aku bikin chansoo ya... wkwkwk. Habisnya rasanya ga adil aja kalo cuma Baekhyun yang punya mantan/? Disini juga udah aku bikin chanbaek momentnya kan... bhak. Itu buat menebus dosa abis bikin chansoo moment sebenernya wkwkwk. Terus itu yang pas tim basket chanyeol teriak "We. Are. One! We. Are. One!" itu aku keinget film pitch perfect 2 yang pas grup das sound machine mau tampil kan mereka "D. S. M! D. S. M!" gitu aak kereeennn :3 itu si xiumin sama lay tetep uke kok dia tapi ya main basket aja gituu
Pokoknya di chap depan aku pasti bikin chanbaek moment yang lebiiiiiihhhh manis lagi. Dan sejauh ini sih belum ada konflik yang mumpuni, ya. But I promise to make one for the next chapter *smirk*. Tapi bukan berarti di chapter 3, ya.
Anyway, terima kasih yang udah fav, follow dan review ff akuu. Aku juga mau bales review deh disini karena masih dikit yang review tapi gapapa kok aku masih semangaat:")) soalnya aku baru nge-enable mode guest allowed to review dan itu butuh 36 jam buat ngeaktifin modenya (
hunniehan: wkwkwk iyaaa itu si cahyo mah lagi ngodein si yuni aja nyebut-nyebut uke seksi xD
deux22: hihi terima kasih yaaa! ini udah kulanjutinn x3
cucunyachanbaek: waahh makasih ya :3 yahh, tapi aku bikin slightnya chansoo dek gapapa deh ya si yuni mah kalo cahyo sama siapa aja juga cemburu xp
baekggu: iyaaaa, aku aja yang bikin gemes sendiri xD ini udah kulanjuttt, makasih yaaa!
Jangan lupa fav, follow dan review yaaaa( )/
