DISCLAIMER :
Apapun itu bukan milik saya
Story © Wali941
WARNING :
Typo(s), tidak terlalu menyangkut EYD atau KTT, AU, maybe, picisan, abal, alur tidak beratur, sudut pandang tidak jelas, gaje, beberapa figuran tanpa nama, dan lain-lain
Cerita ini adalah fiksi, baik nama tokoh, waktu, tempat, dan kejadian di dalamnya, sama sekali tak ada hubungan dengan kenyataan
Maaf jika ada kesamaan judul, cerita, nama, dan seterusnya, itu hanya kebetulan belaka
Don't Like, Don't Read
Happy Reading ^~^
SUMMARY :
Perjalanan kisah cintaku dengannya. Yang diawali dari sebuah Buku- menjadi saksi bisu antara cinta kita.
.
.
.
[[「Book」]]
.
.
.
"Len, bisakah kau lebih fokus? Kau bisa menghabisakan semua [health point] mu," Kaito menekan beberapa tombol pada stick merah yang berada ditangannya.
"Aku sudah fokus! Dan biarkan aku bekerja habis-habisan!," ujar Len penuh semangat. Mata Len dengan serius menatap layar LCD didepannya, sambil sesekali mulutnya berkomat-kamit tanpa suara dengan tidak jelas.
"Sial! HP-ku berkurang 100, Len gunakan [Triple Attack] dan [Combo Invasion] ," perintah Kaito. Len yang mendengarnya mengagguk serius.
"Serahkan semua pada patnermu ini," jari Len dengan lincah menekan tombol-tombol kecil pada stick.
"Argh...Kaito, ini giliranmu!," seru Len seraya menatap Kaito serius. Sementara Kaito masih fokus dengan apa yang ada dihadapannya.
"Kita terjebak Len!," pekik Kaito frustasi. Len yang mendengarnya hanya menghela nafas. Kemudian ia memasang wajah serius, sedang memikirkan sebuah tak tik didalam kepalanya.
"Gunakan serangan dengan [Double Archer] pada musuh disekitar, itu bisa memulihkan [health point] maksimal 20%. Dan untuk menghancurkan pertahanan yang menjebak, tebas dengan [Fire Sword] dan tembak dengan [Ice Crystal], lalu yang terakhir dengan [Sonic Electric]," Kaito dan Len menoleh ke arah temannya yang sedang berbaring diatas kasur, terlihat sesekali memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya.
"Oh Gaku-chan, menghancurkan pertahanan dengan serangan [Sonic Electric] itu menghabiskan banyak [speed]. Hancurkan saja dengan semua [Attack]atau habiskan saja semua MP yang dimiliki agar [health point] bertambah banyak," pemuda berambut merah muda yang duduk ditepi kasur mengomentari usulan milik Gakupo. Sementara Gakupo memakan kembali keripik kentangnya.
Melihat Gakupo seperti mengingatkan pada pemuda besar yang sering bermain dengan bola berwarna oranye itu...Abaikan saja...
"Yuuma, walaupun HP meningkat, itu mengurangi kekuatan pertahanan jika kau kehabisan MP," sahut Gakupo. Sementara Kaito dan Len menatap bingung kepada dua teman mereka yang bereslisih tentang rencana penyerangan.
Menurut Kaito, salah satu rencana dari dua orang itu bisa saja menjadi patokan untuk dirinya dan Len melanjutkan permainan, lagipula tidak mendapat kerugian dan resiko yang besar.
Tapi lain untuk Len, dibenaknya komentar Gakupo dan Yuuma seperti mengomentari permainan mereka yang payah. Ayolah, mereka berdua tidak sedang bermain sepak bola yang seenaknya dikomentar olah para MC.
"Baiklah...Baiklah...Kita akan mencoba menambah HP dengan [Double Archer] pada musuh dan kemudian menghilangkan jebakan dengan [Full Attack] agar MP dan [speed] kami tidak berkurang sepenuhnya, bagaimana?," jelas Kaito, berusaha melerai perdebatan dengan menggabungkan kedua usulan mereka.
Len yang berada disebelahnya mengangguk setuju, itu usulan yang tidak buruk. Sementara Gakupo menghela nafas.
"Boleh saja," ucap Yuuma, tiba-tiba saja megambil beberapa keripik kentang dari Gakupo tanpa meminta izin. Pemuda bersurai violet itu mendengus.
"Seenaknya saja, bilang tanpa permisi pula. Masih banyak diatas meja, tuh," omel Gakupo seraya menjauhkan keripik kentang miliknya dari jangkauan Yuuma.
Kaito dan Len sekarang kembali serius pada pertarungan mereka yang sempat tertunda. Sepertinya semua berjalan dengan lancar.
"Gaku-chan, rumahmu selalu sepi ya...," kata Yuuma, mengambil minuman kaleng dari meja kecil yang tidak jauh, membuka dan meminumnya dengan perlahan. Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan, yang jelas itu ditunjukkan untuk si pemilik rumah.
"Kalau ramai kau juga akan mengomentarinya, bukan?" ucap pemuda bersurai violet itu malas, "Dan lagi, jangan memanggilku seperti itu," lanjut Gakupo, kembali memasukkan beberapa keripik kentang kedalam mulutnya.
"Oh, iya Gakupo...," Len menggantungkan kalimatnya. Tatapan tak teralihkan, raut wajahnya masih sangat serius. Sementara sang pemilik nama melirik malas kearah pemuda bersurai kuning madu itu, "...Aku dengar...Kau sedang mendekati seorang gadis ya?-"
"Uhukuhuk!" Gakupo beranjak dari tidur, menepuk-nepuk dadanya karena tersedak saat mendengar perkataan Len barusan.
"Are? Yang benar?," Yuuma memasang wajah tidak percaya, bagaimana bisa temannya yang selalu 'asyik dengan dunianya sendiri' bisa menggaet seorang gadis?
"Aku juga mendengar gosip itu dari Meiko dan Lily saat sedang berbincang dikelas," sahut Kaito tiba-tiba, namun pandangannya tak lepas dari layar LCD.
Dan yang sedang dibicarakan mengerutkan kening dan memasang wajah bingung. Sejak kapan ia menjadi bahan gosip murahan anak perempuan?! Yang benar saja!
"Aku jadi penasaran siapa gadis yang sudah menghancurkan diding hati gelap nan suram milik Gakupo-"
"Hei! Tunggu dulu!," Gakupo memotong perkataan Yuuma, "A-aku sedang tidak mendekati siapapun! Dan juga hatiku tidak sesuram seperti itu!," omel Gakupo. Pemuda bersurai violet itu tidak suka jadi bahan pembicaraan.
"Arere...Kau itu tipe orang yang tidak bisa berbohong, Gaku-chan," Yuuma kembali menatap Gakupo dengan senyumnya yang lebar. Gakupo mengalingkan wajahnya, samar-samar garis rona terlihat menghias diwajah.
"Hora...Hora...Jadi siapa? Si Luka-san?," Yuuma mulai mendekati Gakupo, memasang wajah penasaran dan menggerakkan alisnya.
"B-bukan...," Gakupo menggaruk pipinya. Merasa bingung harus berkata apa.
"Nakajima Gumi anak kelas 3-1, kah?," sahut Len tiba-tiba.
"Mungkin saja adik kelas 1 yang namanya Teto," Kaito ikut menyampaikan pendapat, membuat Yuuma mengerutkan kening.
"Bukankah Kasane-san sudah memiliki pacar? Yang paling cocok itu dengan Sonika anak kelas 3-4," ujar Yuuma dengan yakin.
"Len! Perhatikan musuhnya!," omel Kaito, membuat pemuda berambut kuning madu itu mendengus kesal. Tak lama, Len terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu.
"Mungkinkah Hatsune Miku anak kelas 3-3?," pertanyaan Len membuat Kaito dan Yuuma menatapnya bingung, "Aku dengar dari Dell anak kelas 3-1 kalau kau dihukum bersama gadis itu," lanjut pemuda itu seraya menunjuk Gakupo dengan ibu jarinya.
Kaito dan Yuuma kemudian beralih menatap Gakupo yang wajahnya sudah mulai memerah. Dalam benak pemuda itu, ia tidak pernah merasakan wajahnya memanas seperti ini. Tapi kenapa sekarang-
"Benarkah? Kau mendekati Hatsune Miku?," tanya Kaito, membuat Gakupo semakin gugup untuk berbicara.
"B-bukan seperti itu, tidak dekat juga...hanya dekat s-sedikit...," Gakupo menggigit bibir bawahnya. Sepertinya rasa gugup sedang melanda dirinya.
Syou-syou, yang malu. Bilang gitu aja ko' repot...
"Woa woa...Ternyata temanku ini sedang dekat dengan gadis bernama Miku," ujar Yuuma seraya merangkul pundak Gakupo, "Apa kau punya rencana untuk lebih dekat dengannya?," pertanyaan Yuuma membuat pemuda yang sedang dirangkulnya itu menatap terkejut.
"A-a-apa maksudmu-"
"Kau itu laki-laki, Gaku-chan. Setahuku Kamui Gakupo adalah pemuda ambisius yang tidak mudah menyerah. Tapi, kenapa soal cinta kau seperti orang konyol yang tidak punya semangat?," ucap Yuuma sambil menepuk pelan punggung Gakupo. Sementara pemuda bersurai ungu itu memutar kedua matanya.
"Lebih baik aku menjadi orang konyol," sahut Gakupo malas.
"Kalau kau tidak mengambil langkah, mungkin gadis yang kau sukai akan di ambil orang," kata Len, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya dan menaruh stick yang ia mainkan, "Baiklah, aku pergi dulu," pemuda bersuarai kuning itu berdiri, perlahan berjalan menuju pintu.
"Len, kau mau kemana? Permainannya belum selesai!," seru pemuda bersurai biru itu, berusaha menghentikan Len.
"Maaf, permainannya sampai disini dulu," Len membalikkan tubuhnya untuk menatap Kaito, "Aku ada kencan hari ini," lanjut Len seraya menampakkan senyum.
"Apakah dengan pacar barumu, tuan shota?" tanya Yuuma sedikit usil. Kemudian mendapat balasan berupa anggukan kepala dari pemuda bersurai kuning madu itu.
"Yup, dan gadis yang ku kencani ini sangat baik, cantik, imut, perhatian, lucu, cantik, ma-"
"Hei! Hei! Kau menyebutkan kata cantik itu dua kali," potong Gakupo yang mendengarkan kriteria gadis impian dari pemuda bernama Len itu. Pemuda bersurai kuning madu itu mengangkat bahunya.
"Terserah, yang jelas aku tidak mau dia menunggu lama karena diriku, bye!," ucap Len seraya merapikan rambut kuning madunya dengan tangan, kemudian melesat keluar kamar Gakupo.
"Dan untukmu Gakupo! Semoga berhasil mendapatkan Miku!," teriak Len dari lantai bawah rumah pemuda bersurai ungu itu.
"Berisik kau BaKagamine!," balas Gakupo. Dalam pikiran Gakupo, apakah Miku itu seperti barang yang tertera 'limited edition' dan harus segera di dapatkan?
Ya, Gakupo! Perkataan Len dan sebuah pikiranmu itu benar! Segera dapatkan Miku atau kau akan menyesal di akhir nanti!
"Jadi apa rencanamu, Kamui Gakupo? Mungkin aku dan Yuuma bisa membantu untuk mendekatkanmu pada Miku," Kaito meletakkan stick miliknya, kemudian menatap Gakupo antusias.
"Rencana apa? Kita tidak sedang melakukan tour sekolah," ucap Gakupo, mengeluarkan helaan nafas dari mulutnya.
"Pendekatan itu butuh sebuah rencana kecil namun penuh perjuangan berat, Gakupo sayang," ucap Yuuma sambil meminum minuman kaleng yang ada ditangannya. Sementara Gakupo menatap aneh kepada pemuda di sampingnya ini.
"Aku baru tau kau terjerumus dalam hal homo seksual, sebegitu tragis kah kesendirianmu itu?," tanya Gakupo kepada Yuuma. Sementara pemuda berkupluk hitam itu menatap malas kearah Gakupo.
"Jika itu terjadi, aku juga tidak akan memilih dirimu," ucap Yuuma.
"Menjijikan," gumam Kaito, namun suaranya masih terdengar hingga ke telinga Yuuma. Sementara pemuda itu menepuk keningnya.
"Kalian berdua sama saja, BaKaito dan BaKamui," Yuuma kemudian menatap pemuda di sampingnya ini dengan serius, "Begini, kau harus menyentuh gadis itu tepat di sini," ujar Yuuma seraya mengelus dada kirinya denga perlahan. Sementara Gakupo menatap bingung ke arah Yuuma.
"Kau ingin aku melakukan pelecahan seksual terhadapnya, hah?," tanya Gakupo. Membuat pemuda berkupluk hitam itu kembali menepuk keningnya.
"Argh! Bukan seperti itu! Kaito! Jelaskan maksudnya!," perintah Yuuma kepada pemuda bersurai biru itu. Sementara Gakupo hanya mengghela nafas. Ia tidak paham maksud dari penjelasan temannya ini.
"Maksud Yuuma itu menyentuh hatinya atau membuat dia suka kepada mu, bukan melakukan perbuatan bejad seperti itu," jelas Kaito, mendapat anggukan dari Gakupo dan Yuuma. Pemuda bersurai ungu itu angkat bicara.
"Caranya bagaimana?," tanya Gakupo. Kedua temannya itu mulai berpikir. Tak lama Yuuma menjentikan jarinya hingga menimbulkan suara.
"Bagaimana kalau ajak dia kencan? Seperti yang Len lakukan," ucap Yuuma. Kaito mulai menganggukkan kepala, sementara Gakupo hanya berwajah bingung.
"Apakah aku harus berkencan? M-maksudku-"
"Ide bagus, ajak saja Miku ke caffe baru dekat sekolah," usul Kaito, pemuda bersurai merah muda itu melambaikan salah satu tanggannya- tanda tidak setuju. Sementara Gakupo merasa dirinya seperti orang yang terabaikan untuk saat ini.
"Itu terlalu mainstream, kencan saja di game center," usulan Yuuma membuat kedua temannya menatap aneh terhadap dirinya, "Apa? Ada yang salah?," lanjut Yuma.
"Kau pikir Miku itu seorang gadis gamers?," tanya Kaito. Gakupo, pemuda yang bersangkutan tengah menerawang jauh untuk berpikir. Kencan? Dekat dengan gadis saja jarang, apalagi melakukan hal seperti itu.
Ayolah! Kencan itu sebuah kegiatan hal kecil! Itu bagi Author...
"Jadi, apa kau punya usulan untuk kencan?,"Kaito menyadarkan Gakupo dari lamunannya, sesekali mengeluarkan helaan nafas.
"Mungkin aku akan mengajaknya ke toko buku," kata pemuda bersurai ungu itu, memasukkan beberapa keripik kentang ke dalam mulutnya. Mungkin sesekali tak apa dirinya mengajak Miku jalan-jalan dengannya.
"Pfftt...," Yuuma berusaha menahan suara tawa agar tak keluar dari mulutnya, "Kau serius ingin megajaknya ke toko buku? Pria macam apa kau ini? Tak punya hal romatis sedikitpun," lanjut pemuda di samping Gakupo.
"Bukan seperti itu," Gakupo menatap malas kepada Yuuma, "Aku sekalian membantu mengerjakan tugas sejarah miliknya," lanjutnya.
"Woo...Ternyata sudah ada janji sebelumnya? Kalau begitu pas saja," sahut Kaito, "Tenang kami berdua akan membantu," lanjut pemuda besurai biru itu, mendapat dukungan berupa anggukkan dari Yuuma. Gakupo hanya menghela nafas. Apakah dirinya sudah siap untuk kencan dengan Miku, oh mentalnya belum cukup.
"A-aku tidak begitu yakin dengan hal ini, m-aksudku ya...Kau tau? Aku tidak tau harus bersikap bagaimana di dekat seorang, gadis?," Gakupo meggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ini merupakan tantangan terberat bagi Gakupo. Semoga saja ia berhasil menjalankannya...Semoga.
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Catatan :
- HP / healt point : anggap aja kayak darah.
- MP / *saya lupa M nya* point : kayak kekuatan.
- speed : kecepatan dalam menyerang.
- sisanya hanya seperti jurus-jurus atau apalah itu.
A/N : Huwee! Maaf kalo ceritanya bener bener bener bener bener bener ANEH dan ABSURD! *dibakar* Terinspirasi saat bermain game bersama kakak dan selalu di komentari oleh temannya -" *terus?/dibacok* (pesanan yang minta ceritanya di panjangin, nih :v *ngelirik orangnya*/*Dor*)
Ini cerita sepertinya melenceng dari pikiran saya :v Hadeh, karena tugas yang luar biasanya menumpuk, serasa pikiran saya menjadi campur aduk kayak gado-gado *jadi laper, nih :3 /plakk*
Yak, tinggal mengurus chap 4! ~,~ Oh iya, jadwal publish cerita saya Insyaallah tidak menentu, dilihat dari tidak banyaknya tugas yang saya dapat *kagak ada yang nanya!*
Arigatou Gozaimasu! ^~^
Wali941 (Sabtu, 15 Agustus 2015)
.
.
.
Omake
.
.
.
"Miku! Ada telepon untuk mu!," seru kakaknya dari bawah. Sementara gadis bersurai toska itu segera keluar dari kamarnya, berjalan terburu-buru ke tempat kakanya berada.
"Dari siapa?," tanya Miku setelah sampai ke tempat Mikuo berada. Sementara pemuda dengan surai toska yang pendek itu mengangkat bahu sambil memasang wajah malas.
"Entahlah, yang jelas dia mencarimu," Mikuo menyerahkan ganggang telepaon rumah itu kepada adiknya, kemudian berjalan menjauh meninggalkan Miku.
Gadis itu mendekatkan ganggang telepon yang berada dintangannya itu ke telinga.
"Halo, ini Hatsune Miku. Dengan siapa?," tanya gadis itu. Tak ada jawaban dari seberang sana.
"Halo?," gadis itu mulai menunggu jawaban dari sang penelepon, "Baiklah, akan ku tutup teleponya-"
"Akh! T-tunggu Mii-chan!," potong orang dari seberang sana. Sementara gadis itu bingung, sedikit tidak asing dengan suara orang yang menghubunginya ini.
"Ano, siapa?," tanya Miku.
"I-i-ini aku, Kamui Gakupo," ucap orang itu. Sementara Miku sedikit terkejut, untuk apa pemuda itu menelepon dirinya? Dan juga bagaimana bisa ia medapatkan nomor rumahnya?
"Begini, a-apakah besok kau a-ada waktu? A-a-aku ingin m-mengajakmu keluar. Maksud ku...Etto...Kau tau? M-maksudku sambil mengerjakan tugas," terdengar suara Gakupo yang sedikit gugup di telinga gadis itu. Miku terkekeh pelan.
"Tentu, aku tidak masalah, Ga-kun. Jadi, Bertemu dimana?," tanya Miku, bibir ranumnya tak henti-henti menampakkan senyum.
"Akh!- A-ano, jam 3 sore di taman kota," Miku sedikit berpikir sambil melihat jam dinding yang tak jauh dari tempatnya berada.
Tak sengaja ia melihat kakaknya yang mengintip dirinya dari balik tembok. Seketika juga Miku mulai sedikit was-was.
"Umm...Baiklah, jam 3 sore di taman kota. Sampai nanti, Ga-kun!," dengan cepat gadis bersurai toska itu menutup telepon. Berjalan kembali menuju kamarnya.
"Dari siapa Miku?," tanya Mikuo tiba-tiba, membuat sang adik berhenti melangkahkan kaki dan perlahan membalikkan tubuhnya menatap Mikuo.
"E-tto...Dari teman kerja kelompok," ujar Miku seraya menelan ludah, berusaha meyakinkan kakak laki-lakinya ini. Sedikit bohong tak apa, kan? Toh, Gakupo juga bukan teman kerja kelompok
"Bukan dari pacar yang mengajakmu kencan, kan?," pertanyaan Mikuo membuat gadis bersurai toska itu seakan tersambar petir di siang bolong. Pacar? Hubungannya dengan pemuda bernama Gakupo tidak sampai sejauh itu.
...Tapi kalau sampai itu terjadi tak apa, kan?
"Bukan! T-t-tentu saja bukan p-pacar! Haha, kakak ini ada-ada saja!," jelas Miku sambil mengibaskan kedua tangan, di pipinya terlihat sedikit rona merah. Kemudian melesat pergi menuju kamar.
Sementara Mikuo menatap adiknya dengan bingung. Kedua tangannya ia rentangkan di udara. Lalu kakinya ia gerakkan menuju dapur. Mungkin segelas air dingin bisa membuat pikirannya sedikit tenang.
.
.
.
To be continue...
.
.
.
Balas Review!
Haze26 : Iya, ini sudah lanjut~ ^-^
Hanazawa Yuki : Silahkan & Arigatou!
Vanilla Latte Avocado : Ini yang minta dipanjanganin ^.^, dah panjang, 'kan? Ato masih kurang *plakk* :v ^-^
SyifaCute : Haha, Arigatou! ^~^
Ya, sekian balas reviewnya. Arigatou Gozaimasu!
