DISCLAIMER :
Vocaloid, Utauloid dan apapun itu bukan milik saya. Jika milik saya, itu semua akan saya adakan konser setiap hari jumat pagi(?) (emang senam SKJ, apa?! :v /*dibacok)
Story © Wali941
WARNING :
Typo(s), tidak terlalu menyangkut EYD atau KTT, AU, OOC, maybe, picisan, sepertinya romance gagal bangkit (Author tidak pandai dalam masalah cinta~/*dibuang), abal, alur tidak beratur, sudut pandang tidak jelas, gaje, beberapa figuran tanpa nama, dan lain-lain
Cerita ini adalah fiksi, baik nama tokoh, waktu, tempat, dan kejadian di dalamnya, sama sekali tak ada hubungan dengan kenyataan
Maaf jika ada kesamaan judul, cerita, nama, dan seterusnya, itu hanya kebetulan belaka
Don't Like, Don't Read
Happy Reading ^~^
SUMMARY :
Perjalanan kisah cintaku dengannya. Yang diawali dari sebuah Buku- menjadi saksi bisu antara cinta kita.
.
.
.
[[「Book」]]
.
.
.
Seorang pemuda tengah berlari dengan terburu-buru. Menerobos setiap kerumunan manusia, mendapat sebuah gerutuan dari orang yang belalu. Kemeja cokelat tak terkancing terkibas oleh angin yang berlawanan, terlihat dalaman kaos putih melekat dengan pas di tubuh. Peluh keringat mebasahi wajah.
Iris violet menatap sekeliling; mencari seseorang. Kakinya terus melangkah, membawa tubuh ke tujuan. Sampai langkahnya mulai melambat, nafasnya masih terengah-engah. Seseorang yang ia kenal telah terlihat tak jauh dari tempatnya. Kaito, sosok itu menyadari kedatangan Gakupo.
"Kau terlambat sekitar 20 menit dikencan pertamamu, Tuan Gakupo," ucap Kaito sambil menatap pada jam tangannya. Sementara, pemuda yang baru saja sampai itu membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan menyangga pada kedua lutut.
"...M-maafkan aku...hosh...Ada sedikit kendala tadi," Gakupo berusaha mengatur nafasnya.
Dengan tidak sengaja, pemuda bernama Kamui Gakupo itu tak mengingat ada jadwal keluar rumah hari sabtu ini. Ia sangat berterima kasih kepada ibunya kalau tidak menanyakan kegiatan di hari ini. Dengan terburu-buru, tanpa persiapan sebelumnya, ia langsung melesat menuju ke taman kota.
Mungkin dewi fortune sedang ragu-ragu berada di dekatnya. pemuda itu tertinggal bus dengan tujuan pusat kota dan harus menunggu bus lainnnya sekitar 15 menit. Kemudian, seletah sampai di pusat kota, ia harus belari menuju taman kota. Dan disinilah dia, sedang membungkuk mengatur nafas akibat berlari.
Masih dalam keadaan membungkuk, pemuda bersurai ungu itu merasakan sesuatu yang dingin akibat sebuah botol air mineral di pipi kirinya.
"Terima kasih Kaito," ucap Gakupo.
"Oi, BaKamui, aku di sini," pemuda bersurai biru gelap itu langsung menanggapi perkataan Gakupo dengan membungkuk di samping kanannya. Sementara pemuda itu memandang Kaito dengan penuh tanda tanya.
Barusan Gakupo berbicara dengan pemuda bersurai biru gelap itu. Kemudian, ia merasakan seseorang menempelkan botol mineral di pipinya. Sementara, Kaito berada di sampingnya. Dengan perlahan, Gakupo menoleh ke arah sebaliknya. Sosok gadis sedang tersenyum kearahnya. Tangannya masih menempekan botol air mineral pada pipi pemuda itu.
"Kau mengira aku ini Kaito-san? Aku berbeda sangat jauh dengannya, Ga-kun," Miku, tengah tertawa pelan. Gakupo masih terpaku menatap gadis berkucir dua itu. Dengan baju oranye berlengan panjang dan celana jeans selutut.
Entah mengapa pandangan pemuda bersurai ungu itu terkunci pada gadis di hadapannya. Miku. Hatsune Miku. Hanya gadis itu yang membuat Gakupo menjadi seperti ini. Tanpa pemuda itu sadari, rona merah samar-samar terlihat di pipinya.
"Kau hampir mebuat kami terlanda kebosanan akibat menunggumu," seseorang muncul di belakang Miku. Seorang gadis berambut cokelat sedikit gelap, menatap kesal kepada Gakupo yang telah bangkit.
"M-maafkan aku Mii-chan, Meiko-san," kata Gakupo sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Aku akan memaafkanmu setelah kau memerima air ini," ujar Miku seraya menunjukkan botol air mieral dihadapan Gakupo. Pemuda bersurai violet itu perlahan mengambil botol air mineral dari tangan Miku dan dengan ragu-ragu menatapnya.
"Terimakasih...," wajah Gakupo kembali merona. Miku membalasnya dengan senyuman.
"Haah...Baiklah, ayo bergegas pergi dari tempat panas ini," ucap Meiko sambil meraih salah satu tangan gadis bersurai toska disamping, "Aku tidak ingin kulitku terus-terusan terbakar oleh cahaya matahari," lanjutnya.
"Kau terlalu berlebihan," kata Miku. Perkataan gadis itu mendapat gelengan kepala dari Meiko. Mereka berdua berbalik, berjalan mendahului kedua pemuda yang berada dibelakang mereka.
"Tidak, ini karena aku tidak ingin kulitku menjadi rusak," ujar Meiko.
Gakupo masih menatap punggung gadis itu; Miku, yang perlahan menjauh dari mereka. Sememtara pemuda disampingnya, Kaito, menghela nafas dan seraya menepuk pelan pundak Gakupo.
"Jika kau ingin mendapatkannya, maka berusahalah," ucap Kaito seraya mengedipkan salah satu matanya. Kemudian pemuda bersurai biru gelap itu berjalan mendahului Gakupo yang masih berada di tempat. Pemuda yang medengar perkataan temannya tersebut, kemudian memasang wajah berpikir sambil menatap botol air mineral yang berada ditangannya.
.
.
Gakupo memperhatikan buku bersampul merah dengan gradasi kuning gelap itu, melihat sekilas isi di dalamnya. Pandangan matanya kemudian beralih, menatap seseorang yang tak jauh darinya. Terhalang dua rak buku yang tingginya hanya seperut.
Pandangannya tak dapat teralihkan, hanya terus menatap gadis itu. Tiba-tiba bahan pandangannya beralih menatap Gakupo, terkekeh pelan. Sementara pemuda bersurai ungu itu sedikit terkejut dan merasa malu karena tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Ga-kun, kau serius membaca buku seperti itu?," Miku, dirinya berusaha menahan sebuah tawa dari mulut. Sementara Gakupo sedikit bingung dengan pertanyaan gadis itu. Dia anak SMA! Tentu saja sudah bisa membaca dengan sangat lancar. Sedikit penasaran, kemudian Gakupo melihat buku yang ia pegang.
Pemuda bersurai ungu itu mendesih, dengan sedikit kasar ia meletakkan kembali buku pada rak di depannya. Ia merasa malu, sungguh! Bukan karena buku tersebut berbahasa asing. Bukan pula buku untuk anak-anak berusia lima tahun ke atas. Tanpa pemuda itu sadari, Miku sudah berada di dekatnya.
"Untuk apa kau mebaca buku khusus untuk ibu hamil?," kata Miku seraya sedikit tertawa pelan, membuat Gakupo sedikit salah tingkah, "Apa kau sudah bosan dengan buku lain?," lanjutnya.
Pertanyaan gadis itu menadapat jawaban berupa gelengan dari Gakupo. Tangannya mengambil sebuah buku novel di samping. Dengan cover berwarna hitam dan titik-titik kuning terang sebagai bintang. Seketika Miku membelalakkan mata. Memandang takjub pada sesuatu di hadapannya.
"Woa! Novel baru karangan I.A.!," seru Miku kegirangan. Dengan cepat gadis itu merebut buku dari tangan Gakupo. Membuka lembaran-lembaran di bukunya, "Aku tidak menyangka novel ini lebih bagus dari edisi ke 3 miliknya,"
"Kau menginginkannya?," Gakupo bertanya pada Miku. Gadis bersurai toska itu menatap pemuda di hadapannya dengan senyum.
"Sebenarnya ingin, tapi kita harus mencari buku tentang sejarah, kau ingat?," Miku meletakkan kembali buku novel tersebut pada tempatnya, "Aku belum menemukan dimana rak tentang sejarah disini. Apa kau melihatnya, Ga-kun?," tanya gadis itu. Gakupo menggeleng. Kemudian berjalan berbalik menjauh dari gadis itu.
"Jika kau mau, kita bisa mencarinya bersama," kata Gakupo, sedikit menolehkan kepalanya kebelakang, menatap Miku yang juga menatapnya, "Mungkin akan cepat menemukannya, karena tempat ini tidak terlalu luas," lanjut pemuda bersurai ungu itu yang langsung membuat Miku menggangguk setuju.
Selama perjalan, mereka berdua larut dalam keheningan, walau sebenarnya di sekeliling mereka sedikit agak ramai oleh pengunjung ditoko buku itu. Miku, gadis itu menundukkan kepala, jarinya bermain dengan ujung baju yang ia kenakan. Sementara pemuda bersurai ungu itu menatap deretan rak yang berada disampinya, namun kadang iris violet itu menatap gadis dengan dua kuciran rambut dikepalanya.
"Maaf jika aku membuatmu sibuk hari ini," Gakupo membuka tutup botol air mineral ditangan, kemudian meminumnya. Sementara Miku menatap pemuda disamping, kedua tangannya ia kibaskan didepan dada.
"Tidak 'ko, justru aku tidak sibuk hari ini-" tanpa memperhatikan jalan dihadapannya, Miku tersandung penyangga rak buku yang berada disamping membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Dengan refleks, Gakupo meraih tangan kiri Miku.
Sementara pemuda itu tak dapat menahan tubuh Miku dengan satu tangannya; karena tangan kirinya memegang botol air mineral. Akibat adanya gaya gravitasi, tubuhnya juga ikut terhuyung kedepan.
Kedua tangannya ia gunakan sebagai penyangga agar tdak jatuh menyentuh lantai. Perlahan Gakupo membuka kedua matanya; yang entah sejak kapan tertutup.
Miku, wajah gadis itu telah merah padam.
Miku, gadis itu tepat berada dibawah Gakupo.
Ok, ini posisi yang akward...
Gakupo yang baru menyadari posisi mereka yang tidak mengenakkan, seketika merona. Untung saja tidak terlalu banyak pengunjung yang berada dibagian rak tempat mereka. Pemuda itu mulai gelalapan.
"-Akh! Mii-chan! M-maa-"
"Astaga! Menjauhlah kau Kamui Gakupo!," seru seseorang yang datang, menyadari akan posisi mereka. Dengan cepat Gakupo bangkit dari tumpuannya dan berusaha ingin menjelaskan kecelakaan yang tidak sengaja ini pada orang itu.
Namun, sebelum sempat menjelaskan, sebuah tamparan mendarat dipipi pemuda bersurai ungu itu. Gakupo memegang pipi kirinya yang terasa panas. Bisa dilihat tamparan itu membuat pipi Gakupo memerah.
"Melakukan seperti itu ditempat umum! Apalagi dengan Miku! Dasar mesum!," seorang gadis bersurai cokelat itu membentak pada Gakupo, kemudian membantu Miku berdiri. Membersihkan baju bagian belakang Miku yang tidak terlalu kotor. Sebagian orang yang lewat tak jauh dari mereka hanya sebentar melihat kejadian itu.
"Meiko! Ga-kun tidak sengaja, sungguh! Tolong jangan memarahinya," jelas Miku, berusaha menenangkan emosi yang meluap-luap dari temannya ini. Meiko, gadis itu melipat kedua tangannya didepan dada.
"Gakupo, tolong jelaskan," perintah Meiko. Sementara pemuda itu masih duduk dilantai toko, hanya bisa meringis menahan perih dari tamparan yang diberikan Meiko.
"Baiklah...T-tadi Mii-chan tersandung dan hampir terjatuh, sementara aku ingin menolongnya. Tapi ternyata aku juga ikut terjatuh," jelas Gakupo sambil mengusap pipinya, "Sungguh, a-ku tak bermaksud untuk melukai Mii-chan," lanjutnya.
Miku yang melihatnya merasa kasihan dan ingin menolong. Sebelum kaki gadis itu melangkah, Meiko sudah menarik tangan Miku dan membawanya menjauh dari Gakupo.
"Ya, ya, aku terima alasanmu," ucap Meiko membawa Miku ke tempat lain, "Ayo Miku, sepertinya aku menemukan dimana letak buku sejarah," ajak gadis itu. Gakupo yang masih berada ditempatnya hanya bisa menatap kepergian Miku bersama Meiko.
Kaito yang baru datang pada lokasi kejadian menatap bingung kepada mereka bertiga, terutama pada Gakupo yang duduk meringis dilantai. Dan terutama juga pada kekasihnya, Meiko, yang membawa (baca:menyeret) Miku dengan wajah kesal. Gadis bersurai toska itu menatap Kaito dengan tatapan memohon, kemudian menatap Gakupo yang tengah duduk di lantai sambil mengusap pipi kirinya.
Kaito mengerti maksud Miku setelah ia pergi menjauh. Pemuda itu melangkahkan kakinya mendekati pemuda bersurai ungu. Ia berlutut di hadapan Gakupo.
"Maaf 'kan atas perlakuan pacarku, dia memang seperti itu," Kaito memegang pundak pemuda dihadapannya. Gakupo menatap pemuda bersurai biru gelap dihadapannya ini, kemudian salah satu tangannya mengambil botol air mineral yang tergeletak tidak jauh dari keberadaannya.
"Tak apa, tapi...," Gakupo menggantungkan kalimatnya, "...Ternyata tamparan kekasihmu itu sangat pedas, ya," lanjutnya.
Dan Kaito tidak tahu harus tertawa atau meminta maaf saat mendengar sebuah perkataan dari Gakupo yang terkena korban amukan kekasihnya ini.
"Itu sebuah pernyataan atau pertanyaan?," tanya Kaito sambil terkekeh kecil. Pemuda bersurai biru gelap itu bangkit berdiri, mengulurkan salah satu tangannya di gadapan Gakupo. Pemuda yang tengah duduk itu menyambut uluran Kaito dan berusaha bangkit.
"Jadi?," tanya Kaito, "Punya rencana selanjutnya?,"
"Entahlah...," Gakupo menggantungkan kalimatnya, mengambil novel karangan I.A. pada rak disampinya. Novel yang di sengangi oleh gadis itu, "Aku bingung harus bagaimana," pemuda itu menatap Kaito.
"Tapi mungkin aku bisa menyentuhnya di sini," kata Gakupo seraya tersenyum, menyentuh dada kirinya dengan tangan kiri. Sementara Kaito tersenyum bangga, kembali menepuk pelan pundak pemuda bersurai ungu itu.
.
.
Sinar matahari masih menerangi. Pukul empat sore. Miku telah mendapatkan buku yang dicari untuk bahan tugas. Disekitarnya, masih banyak kerumunan orang yang berlalu lalang. Sementara, sepasang kekasih; Kaito dan Meiko, sedikit berdebat akibat masalah yang terjadi di dalam toko tadi; insiden tamparan Gakupo.
"Miku, biarkan aku mengantarkan mu pulang," sahut Meiko sambil berjalan mendekati gadis itu. Kaito yang mendengar perkataan gadis bersurai cokelat disamping Miku, dengan cepat menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Eits! Tidak boleh, kau harus pulang bersamaku," jelas Kaito. Jika ia membiarkan Meiko pulang bersama Miku, rencana Gakupo untuk lebih dekat dengan gadis itu akan gagal seperti insiden sebelumnya, "Itu tanggung jawabku untuk mengantarkan kekasihnya pulang. Biarkan Gakupo yang menemaninya pulang," lanjutnya.
Meiko, gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain. Samar-samar pipinya dihiasi dengan garis pudar berwarna merah.
"B-berisik, aku takkan membiarkan Miku menjadi santapan empuk pria bejad macam Gakupo!,"
"Hah?," Gakupo merespon perkataan yag diucapkan. Meiko menatap tajam ke arah pemuda bersurai ungu itu. Pemuda bersurai ungu itu hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal, jarinya terkait tas belanjaan kecil yang berisi bebrapa buku.
Bejad? Tapi tidak terlalu bejad dari pada Author...
"Ayolah, Meiko, Gakupo tidak sejahat itu. Yang sebelumnya hanya sebuah kecelakaan," Kaito mulai merasa tidak tahan lagi. Segera ia meraih tangan Meiko dan menariknya, "Baiklah kita pulang," penrintah pemuda itu.
Meiko mulai berusaha melepaskan tangannnya dari cengkraman Kaito, namun apa daya, Tuhan memang telah menciptakan kekuatan laki-laki itu melebihi wanita. Helaan nafas keluar dari mulut Meiko.
"Miku, jaga dirimu. Jika Gakupo melakukan hal yang aneh tendang saja dia," nasehat Meiko. Pasangan itu akhirnya berjalan menjahui mereka berdua. Perkataan Meiko membuat gadis bersurai toska itu menahan sedikit gelak tawa.
"Pfftt...Baiklah Meiko~," ucap Miku sambil melambaikan salah satu tangan. Pemuda disampingnya menatap bingung ke arah Miku.
"Kau serius akan melakukan hal itu kepada ku?," tanya Gakupo. Gadis itu menatap Gakupo, seutas senyuman terpoles dibibirnya.
"Tentu saja tidak," Miku berbalik memunggungi pemuda itu, "Aku percaya kalau Ga-kun tidak akan melakukan hal buruk apapun terhadap ku," dengan segera gadis itu berjalan mendahului Gakupo.
Pemuda bersirai ungu itu tak bergeming dari tempat. Sepertinya ia masih berusaha mencerna perkataan yang dilontarkan oleh gadis bernama Miku itu. Percaya...Padanya? Bagus Gakupo! Kau telah berhasil mengambil sedikit langkah mebuat gadis itu menyukaimu.
Wajah pemuda itu mulai dihiasi oleh rona merah. Dengan pasti, ia melangkah menyusul gadis yang telah berjalan medahului dirinya. Miku menundukkan kepalanya, menggenggam erat tas belanjaan berisi buku yang ia beli.
"Maaf jika membuatmu tidak bisa pulang bersa-"
"Ga-kun, jaganlah terus menjadi orang yang suka memaafkan sesuatu kesalahan yang tidak begitu penting," ucap Miku seraya melirik Gakupo disamping kirinya. Pemuda itu menatap Miku, perlahan ia gerakkan salah satu tangan untuk mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Terimakasih," kata Gakupo seraya tersenyum. Wajah Miku dihiasi rona merah, lalu memalingkan wajahnya dan menepis pelan tangan pemuda itu. Saat itu juga, gadis itu melihat seorang anak kecil tengah menangis dipinggir trotoar jalan. Sebuah sepeda dengan ban penyok tergeletak disampingnya.
Tidak ada yang menghiraukannya, setiap orang sibuk dengan masing-masing urusan. Kemudian Miku mengubah haluan jalannya; menuju anak kecil. Gakupo menatap bingung ke arah Miku yang mulai menjauhi dirinya. Gadis itu mebungkuk, meyamakan tingginya dengan anak laki-laki dengan surai hijau cerah.
"Hei adik kecil kau kenapa?," tanya Miku seraya mengusap pelan pucuk kepala anak itu. Anak itu menatap Miku, matanya dipenuhi dengan linangan air mata. Lutut dan punggung tangannya terlihat lecet, mengeluatkan sedikit darah.
"Hiks...Onee-san...A-aku terjatuh d-ari...Hiks...Sepeda...Hiks," ucap anak itu. Miku menggerakkan kedua jarinya untuk meyapu air mata yang mengalir diwajahnya.
"Sttss...Tenanglah, Onee-san akan menolongmu. Jadi jangan menangis lagi, OK?," perkataan gadis itu dibalas dengan anggukkan kepala dari anak itu. Gakupo berjalan mendekati Miku, hingga pemuda itu telah berada dibelakangnya.
"Aku juga akan membantu," sahut Gakupo di belakang Miku. Membuat gadis yang membungkuk itu menoleh terhadapnya, kemudian tersenyum.
"Terima kasih, Ga-kun," kata Miku. Pemuda bersurai ungu itu membalas dengan senyuman. Gakupo berjalan ke samping Miku, kemudian menekuk kedua lututnya; berlutut di hadapan anak kecil itu. Kemudian ia menaruh tas belanjaan kecil itu disampingnya, tangannya membuka tutup botol air mineral yang berada didalamnya
"Kemarilah, aku akan mebersihkan lutut dan tanganmu, supaya tidak terinfeksi," bujuk Gakupo. Anak bersurai hijau cerah itu mengangguk, dengan pelan ia melangkah mendekati Gakupo. Pemuda bersurai ungu itu meraih tangan anak kecil didepannya, lalu membasahi luka tersebut dengan air.
"-Akh!...P-perih Onii-san," rintih anak itu. Miku kemudian mengelus pelan pucuk kepala anak itu. Berusaha menenangkannya.
"Tak apa, lama-lama nanti rasa perihnya juga akan hilang," Miku mulai memasang wajah berpikir, "Kalau boleh Onee-san tahu, siapa namamu?," tanya gadis itu. Anak itu menatap Miku, kemudian menggerakkan bibirnya.
"Ryuuto," jawabnya. Gakupo, kemudian membasahi luka pada bagian kaki anak itu. Sebelum itu, ia mengambil sebuah sapu tangan dari kantong celana, lalu menyerahkan sapu tangan itu pada gadis yang berada disampingnya.
"Nama yang bagus, nama Onee-chan adalah Miku, sedangkan Onii-chan itu bernama Gakupo," ucap Miku seraya mengambil sapu tangan dari pemuda disamping. Lalu membersihkan luka pada punggung tangan Ryuuto.
"Salam kenal Ryuuto-kun," sahut Gakupo, tangannnya menutup botol air mineral yang masih tersisa sedikit. Ryuuto, anak bersurai hijau cerah itu mengangguk, seulas senyum tampak dibibirnya.
"Um, salam kenal Gakupo-Oniisan dan Miku-Oneesan," kata Ryuuto. Miku yang telah mebersihkan kedua luka anak itu kemudian menaruh sapu tangan itu pada saku celana.
"Yup, suatu saat jika Ryuuto bermain sepeda lagi harus berhati-hati, OK?," ujar gadis itu. Sementara anak itu mengangguk.
"Baik, terima kasih banyak untuk semuanya," Ryuuto sedikit mebungkuk. Gakupo bangkit, seraya meraih tas belanjaan miliknya.
"Ryuuto-kun, dimana rumahmu? Biar kami yang mengantarkanmu pulang," ucap pemuda itu. Membuat Miku dan Ryuuto langsung menatap pemuda yang berdiri dihadapan mereka.
"Benarkah?," tanya anak itu menatap Gakupo dengan antusias, "Rumah Ryuuto berwarna cokelat dan banyak bunga-bunga didepannya. Di arah sana!," jelas Ryuuto seraya jari telunjuk kanannya mengarah pada arah kiri pemuda itu.
"Yosh, biar Miku-Oneesan yang akan menggendong Ryuuto-kun sampai ke ru-"
"Biar aku saja yang menggendongnya," perkataan gadis terpotong akibat Gakupo, "Selagi ada seorang laki-laki, jangan membuat perempuan menjadi kelelahan," lanjut pemuda itu, sedikit melangkahkan kakinya mendekati Miku yang telah terhias rona merah. Gakupo menyerahkan tas belanjaan miliknya pada gadis itu.
"B-baiklah, aku a-kan membawa sepada Ryuuto-kun," Miku mulai terbata-bata dan seraya mengambil tas belanjaan kecil milik pemuda itu. Gakupo kemudian berlutut dibelakang anak itu.
"Ayo, Ryuuto-kun," ajak Gakupo. Membuat anak itu melangkah ke arah pemuda yang telah berlutut dihadapannya. Perlahan anak itu naik, mengaitkan kedua tangannya pada leher Gakupo. Seraya telah siap, pemuda bersurai ungu itu bangkit, "Baiklah, pesawat akan segera berangkat," serunya. Membuat Ryuuto dan Miku terkekeh kecil.
"Ayo berangkat, Gaku-Oniisan!," ucap Ryuuto. Pemuda itu berjalan mendahulaui Miku yang mendorong sepeda hitam milik Ryuuto.
Disepanjang perjalan, Gakupo dan Ryuuto diselimuti oleh candaan tawa yang kadang membuat gadis bersurai toska itu ikut tertawa.
"Nee...Apakah Miku-Oniisan pacarnya Gakupo-Oniisan?," pertanyaan polos Ryuuto membuat kedua orang dewasa itu mengalihkan pandangan ke arah lain, sambik menyembunyikan rona merah yang terhias.
"B-bukan seperti itu Ryuuto-kun," Miku menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, "Sudahlah, tak usah dibahas,"
Perkataan Miku membuat anak bernama Ryuuto itu menggembungkan pipinya. Pemuda bersurai ungu itu sepertinya sadar akan anak itu rasakan.
"Kami hanya teman, tidak lebih," bisik Gakupo pada Ryuuto yang dibalasndengan anggukkan kepala. Mata hijau cerah milik anak itu menangkap sesuatu, senyum mengembang dibibirnya.
"Nee...Gaku-Oniisan, itu rumahnya!," seru Ryuuto seraya mengarahkan jari telunjuknya. Miku dan Gakupo yang mendengar seruan anak itu langsung mengarah pada sesuatu yang dimakasud.
Cokelat. Bunga. Vas. Terdapat sebuah toko bunga yang tak jauh dari keberadaan mereka. Bunga hias yang terlihat cantik dalam vas. Segelinang air masih menghias di beberapa kelopak bunga. Seorang wanita paruh baya tengah menyiram bunga tersebut, surai pirangnya terkibas mengikuti arah angin. Pancaran hangat terlihat dari iris biru langitnya.
"Ibu! Ibu!," Ryuuto yang masih berada dalam gendongan Gakupo memanggil wanita paruh baya itu. Wanita itu menoleh ke asal suara. Seketika ia menjatuhkan wadah air ditangannya, matanya terbelalak, memandang tak percaya.
"Ryuuto!," wanita itu langsung melesat ke arah anaknya. Gakupo membungkuk; menurunkan Ryuuto. Sementara anak itu telah berada dalam dekapan hangat sangbunga
"Ryuuto, apa yang terjadi dengan, mu?," tanya wanita itu dengan khawatir. Sementa anaknya, menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Ryuuto hanya terjatuh dari sepeda, bu. Tapi kedua kakak ini menolong Ryuuto," anak itu menjelaskan kepada ibunya. Wanita itu menatap pada orang yang dimaksud.
"Terimakasih telah menolong anakku," ucap wanita itu. Miku, tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
"Itu sudah kewajiban untuk menolong sesama," Miku menyerahkan sepeda itu kepada Ryuuto, "Baiklah, sampai disini perjumpaan kita, semoga kita dapat berjumpa lagi," lanjutnya. Membuat anak itu mengangguk setuju.
Miku berjalan mendekati Gakupo, keudian mereka berdua melambaikan tangan kepada Ryuuto dan wanita paruh baya itu. Melangkah dan terus menjauh dari toko bunga
Sinar keronaan menghisasi setiap perjalanan mereka berdua. Keheningan kembali menyelimuti. Tangan miku yang menggenggam erat tas kecil berisi buku. Sementara pemuda bersurai ungu itu sesekali menatap gadis di sebelahnya ini.
"Lelah juga, ya. Rasanya seperti mengeliingi taman kota dua kali lipatnya," ujar Miku tiba-tiba. Helaan nafas keluar dari mulutnya, langkahnya berhenti dan tubuhnya ia sanggahkan pada kedua tangan yang menyentuh lutut. Langkah Gakupo ikut terhenti. Menatap gadis itu dengan bingung.
"Bisakah kita istirahat sebentar, Ga-kun?," Miku mendongakkan kepalanya, menatap pemuda yang tak jauh dari dirinya. Sementara pemuda itu, Gakupo, menatap jam di pergelangan tangan
"Ini sudah jam lima lebih Mii-chan, bagaimana jika Kakakmu khawatir dan mencarimu?," Gakupo mengatakan pada gadis itu seraya berjalan kearahnya. Menyerahkan botol air mineral yang masih tersis sedikit, "Minumlah, ini masih bersih," lanjutnya.
Miku meraih air mineral itu, membukanya dan meminumnya secara perlahan. Menikmati air yang mengalir di kerongkongannya. Dan seketika Miku terkejut akan sesuatu. Pemuda bersuari ungu itu telah membungkuk membelakangi dirinya.
"Naiklah," ucap Gakupo. Satu kata itu membuat gadis bersurai toska tersebut terkejut dan mulai merona.
"T-tapi-"
"Sudahlah, naik saja," potong pemuda itu. Sementara Miku masih tidak bergeming. Seakan ragu untuk melakukannya, "Ayolah, kau bisa saja menendangku jika aku melakukan hal jelek padamu," perkataan Gakupo membuat Miku semakin ragu, bisa terlihat hiasan rona merah terlihat dipipinya.
Gakupo yang sedang membungkuk tak lama merasakan sebuah beban menimpa dirinya. Kepalanya ia tolehkan, terlihat wajah Miku merona merah sedang menatap kearah lain, tangan putih bak porselen melingkar lembut di leher Gakupo. Pemuda itu bisa merasakan kehangatan yang tersalur.
Sekarang ia bisa merasakan dada kirinya kembali menghangat. Rasa senang, bahagia, dan apapun itu serasa tercampur aduk dalam dirinya. Tak pernah ia merasa sedekat ini dengan gadis itu.
Sepertinya perjalanan sore ini menuju halte bus diwarnai oleh warna baru yang ditemui oleh Gakupo
.
.
.
To be continue...
.
.
.
A/N : MAAF! MAAF BANGET! UDAH SEBULAN CERITA INI KAGAK SAYA LANJUTIN! MAAF BANGET! :V *capslock jebol* baru kali ini ada waktu buat publish dan ceritanya bener berubah dari apa yang saya pikirkan ._. Kenapa? Karena harus mengerjakan tugas yang seperti gunung Everest :v
Tersisa 2 chapter untuk cerita ini
