Maafkan aku…
Maafkan aku yang selalu membohongimu…
Maafkan aku yang selalu mengingkari janjiku padamu…
Tapi, ketahuilah satu hal…
Aku selalu mencintaimu…
Sekarang dan selamanya…
Walaupun aku sudah tidak lagi disampingmu…
Tapi alunan biola ini akan selalu hidup dalam hatimu…
Sampai kapanpun…
I'll promise you…
Kebohonganmu di Bulan November
A Naruto Fanfiction
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance, Angst, Friendship, Hurt/Comfort, Slice of Life
Warning : AU, OOC, Chara death
Didedikasikan untuk FLORE 2015
Happy Reading!
Don't like, don't read!
Sai's POV
Setelah meminta waktu beberapa hari untuk memikirkan kembali untuk menyanggupi permintaanku untuk menjadi pengiringku, Ino akhirnya datang dan mengatakan kalau ia bersedia. Aku senang bukan main. Senang karena saat ini ia mau menjadi pengiringku. Walaupun jika itu untuk yang terakhir kalinya.
"Aduh... aku gugup banget. Gimana nih ?!" ujar Ino. Kulihat dia sedang duduk di kursi tunggu dengan gelisah. Aku menghampirinya sambil menyerahkan sebuah gaun selutut berwarna pink untuk dikenakannya.
"Nih, cepat pakai!" ujarku sambil menyerahkan gaun itu padanya. Dia terlihat bingung.
"Eh?! Apa-apaan kau ini? Aku saja tidak tau aku bisa melakukannya dengan baik atau tidak? Bagaimana jika nanti aku malah mengacaukanmu ?".tanyanya khawatir. Aku mentapnya lekat. Menatap mata birunya yang indah itu sedalam mungkin, berusaha memberikan keyakinan pada dirinya sedalam mungki. Aku lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya. Lalu, aku menyatukan dahi kami agar dia kini mau menatapku.
"Aku tau kau pasti bisa. Percayalah pada dirimu sendiri" ujarku. Ia terlihat menganga karena mendengar ucapan ku. Namun kemudian, ia tersenyum.
"Terima kasih" itulah yang ia katakan. Ino lalu mengambil gaun yang kuberikan padanya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku mau ganti baju dulu" ujarnya sambil tersenyum.
ooo
Akhirnya, audisi pun dimulai. Peserta dengan nomor urut 1-11 sudah tampil. Kini peserta dengan nomor urut 12 yang sedang tampil. Nomor urut ku adalah 13 yang berarti setelah ini giliranku yang tampil.
Peserta nomor 12 sudah selesai tampil. Kini giliran ku yang tampil. Aku melirik sekilas kearah Ino yang terlihat gugup.
"Tenang saja. Kita berdua pasti bisa" ujarku menyemangati. Ino hanya tersenyum.
Kami pun mulai tampil. Ino mengerahkan segala kemampuan dan keberaniannya untuk menjadi pengiringku. Begitu pula denganku. Aku juga tak mau kalah darinya.
Aku mulai memainkan biolaku dan Ino mulai memainkan pianonya. Kami berusaha menyelaraskan nada. Awal permainan, kami tidak terlalu kompak. Mungkin Ino terlalu gugup. Lama kelamaan, akhirnya kami bisa kompak juga. Kutatap semua penonton yang menatap kami dengan takjub. Mereka semua terkesan , apalagi Sasuke dan Sakura. Karena itu aku tak mau mengecewakan mereka.
Permainan kami hampir mencapai akhir. Namun, permainan kami kembali berantakan. Sepertinya Ino ingin mengambil alih permainan ku. Aku lalu menatapnya dengan tatapan "Aku tak akan kalah darimu". Ia balas menatapku. Seakan mengerti apa maksudku, ia membalas tatapanku dengan tatapan "Aku juga tak mau kalah darimu."
Saat ini kami berdua seperti melakukan kontak batin. Kami sama-sama bisa merasakan apa yang sedang kami rasakan dan pikirkan saat ini. Dan aku benar-benar merasa senang. Aku merasa senang karena akhirnya keinginanku untuk tampil dengan seorang yang sudah lama kuidolakan membuatku merasa sangat bahagia. Aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung di dunia ini. Ya, walaupun saat seperti ini hanya bisa kurasakan sebentar saja. Mungkin hanya sekali seumur hidup. Ya, setidaknya aku sudah merasakannya sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini.
Akhirnya, penampilan kami po un selesai dengan kompak. Para penonton memberi tepuk tangan yang meriah kepada kami. Setelah memberi penghormatan, kami berdua langsung turun dari panggung. Saat di bawah panggung, aku langsung disambut oleh Yumi dan beberapa anak panti lannya yang membawa bunga. Mereka memberikan bunga itu kepadaku dan Ino lalu memuji penampilan kami. Tak lama kemudian, Sakura dan Sasuke datang untuk melakukan hal yang sama seperti anak-anak panti. Aku dan Ino pun mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka.
Tiba-tiba, aku merasa kepalaku sangat sakit. Tubuhku tiba-tiba saja lemas. Dadaku sesak. Mataku kabur. Pandanganku menggelap. Kami-sama, apakah penyakitku kambuh lagi. Kami-sama, tolong. Aku ingin bersama mereka lebih lama lagi. Aku ingin bersamanya, bersama Ino, untuk waktu yang lebih lama lagi.
"Sai, daijoubu desuka?" tanya Ino khawatir. Aku mengangguk sambil tersenyum, walaupun itu senyum palsu. Aku berusaha kuat didepannya.
"Hei, bagaimana setelah ini kita pergi makan kue. Ada cafe yang baru buka dan disana menjual kue yang enak-enak lho" ajak Sakura. Sasuke lalu menimpali usul Sakura dengan usul yang lain. Begitu juga dengan Ino. Namun tidak denganku. Aku sudah tidak bisa mendengar suara mereka lagi dengan jelas. Aku merasa semua suara di dunia ini telah menghilang. Sampai akhirnya, pandaganku benar-benar telah menjadi hitam dan...
...aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu.
ooo
Normal POV
Di rumah sakit...
"Aku akan baik-baik saja. Mungkin hanya kelelahan. Tapi, aku minta maaf ya sepertinya aku tidak bisa ikut acara makan kuenya" ujar Sai. Setelah ia pingsan tadi, ia segera dibawa kerumah sakit.
"Sayang sekali. Padahal acara makan kuenya untuk merayakan keberhasilanmu dan Ino kan" ujar Sakura sedih.
"Tidak apa-apa kok. Kalian rayakan acara ini untuk Ino saja ya" ujar Sai. Mereka pun mengangguk sebelum pergi dari kamar Sai. Namun sebelum benar-benar pergi, Ino menoleh dan menatap Sai khawatir. Sai pun memberikan senyum terbaiknya untuk membuat Ino berhenti khawatir.
ooo
Di cafe...
Sasuke dan Sakura terlihat asyik menyantap kue mereka sambil mengobrol. Sementara Ino sendiri kini hanyut dalam pikirannya sendiri. Sejak tadi, yang ada dipikirannya hanya Sai saja. Ia tidak yakin kalau Sai benar-benar baik-baik saja. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang salah dari Sai. Atau mungkin, itu semua karena Ino yang terlalu mengkhawatirkan Sai.
"Ada apa Ino ?" tanya Sakura membuyarkan lamunan Ino.
"Ah, tidak. Hanya saja... aku khawatir pada Sai," jawab Ino.
"Apa... kalian yakin kalau ia baik-baik saja? Kalau dilihat dari warna kulit pucatnya, itu sangat tidak wajar."
Sakura dan Sasuke hanya diam saja. Ini makin yakin kalau ada yang salah disini.
"Aku tau kalian pasti menyimpan sesuatu tentang Sai. Jadi ku mohon, katakan padaku!" pinta Ino. Akhirnya, Sasuke dan Sakura hanya bisa menghela nafas mengalah.
"Baiklah. Akan kami katakan padamu. Tapi, kau harus siap menerimanya" jawab Sasuke. Perkataan Sasuke itu membuat Ino makin penasaran.
"Sai menderita penyakit terminal," ujar Sasuke cepat.
"Penyakit terminal? Apa itu?"
"Itu adalah penyakit komplikasi antara kanker, serangan jantung, dan gagal ginjal" jelas Sakura. "Semua orang yang menderita penyakit itu umurnya tidak akan lama. Penyakit itu juga sudah tidak dapat disembuhkan."
"Hah ?! Apa maksudmu, Sai akan…"
"Umurnya tak akan lama lagi."
Ino shock sekali mendengarnya. Ia tidak percaya kalau orang seperti Sai bisa terkena penakit itu. Entah kenapa, dadanya menjadi sesak. Ino jadi sangat sedih. Ia tidak siapa untuk kehilangan teman barunya. Ino tidak mengerti. Apa maksud semua ini? Apa Ino dipertemukan dengan Sai hanya untuk berpisah dengannya.
"Sai menderita penyakit itu sejak setahun yang lalu. Sejak baru pertama kali masuk SMA. Kehidupannya mulai berantakan setelah itu. Setiap hari, ia selalu saja menangis. Aku sampai tidak pernah melihatnya tersenyum lagi," ujar Sasuke.
"Sampai akhirnya, Sai pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan kebahagiaan. Ia ingin mencapai mimpi yang ia inginkan sejak dulu sebelum ia benar-benar pergi," sambung Sasuke.
"Mimpi apa ?"
"Mimpinya adalah bermain biola dengan dirimu yang menjadi pengiringnya" lanjut Sasuke. Ino menganga tak percaya.
"Karena itu, Ino. Kau mau kan menemaninya hingga waktunya bena-benar habis ?" pinta Sasuke. Ino sudah tidak dapat membendung tangisnya lagi. Akhirnya, air matanya pun jatuh dan ia menangis sambil mengatakan "Iya."
ooo
Di rumah sakit…
Sai berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil bergumam pelan. Di tangan kirinya, terdapat sebuah partitur. Sepertinya itu adalah lagu baru yang ditulisya. Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, ia terus menggumamkan lagu itu dengan ceria.
Tiba-tiba…
BRUKK!
Sai terjatuh tapa sebab. Partiturnya terlempar jauh. Sai berusaha menggapai partiturnya, namun kakinya tak bisa digerakkan. Kakinya tiba-tiba mati rasa. Sai berusaha berdiri, namun tetap saja, kakinya tidak bisa diajak berkompromi. Sai sudah tidak bisa menggerakkan kakinya lagi.
Tes…
Tiba-tiba, setetes cairan kental berwarna merah mengalir dari hidung Sai. Sai sudah bisa menebak cairan apa itu. Matanya kembali gelap dan tubuhnya kembali lemas. Sai jatuh tak sadarkan diri di koridor rumah sakit.
ooo
Berdasarkan hasil pemeriksaan, kaki Sai sudah lumpuh. Ia sudah tidak dapat berjalan lagi untuk selamanya…
Ino berdiri lemas memandang Sai yang sejak tadi terus-terusan mengalihkan pandangannya dari Ino. Ia sama sekali tidak mau menatap Ino. Akhirnya, Ino pun lelah dan memutuskan untuk membuka obrolan.
"Kau…" ujar Ino. "Kau selalu saja membohongiku."
Sai tersentak. Kini, ia kembali menatap Ino. Tatapannya kali ini sangat sulit diartikan.
"Begitu ya ? Ah, kau benar. Aku memang pembohong" timpal Sai.
"Kenapa kau menyembunyikan penyakitmu dariku hah ?!"
"Untuk apa kukatakan padamu ?!"
"Aku ini kan temanmu. Setidaknya, kau katakan padaku!"
"Aku hanya tidak ingin membuatmu sedih."
"Eh ?"
"Setiap orang yang kuberitahu tentang penyakitku, mereka selalu saja menangis. Sama sepertimu sekarang ini" ujar Sai sambil tersenyum lemah. Ino hanya bisa menunduk, tidak kuat untuk melihat senyuman Sai.
"Itu karena… aku peduli padamu" ujar Ino sambil menyeka air matanya. Mendengar itu, Sai menjadi terharu.
"Arigatou…" ujar Sai. Sai lalu mendorong kursi rodanya mendekati Ino. Ia lalu menyerahkan sebuah undangan kepada Ino.
"Apa ini ?"
"Itu adalah permintaan tampil di konser musim dingin tahun ini. Orang dari gedung musik tempat kita tampil kemarin baru saja datang menjengukku dan mengantarkan undangan itu kepadaku. Awalnya, mereka memintaku untuk tampil, tapi aku sudah tidak bisa melakukannya lagi. Jadi aku meminta mereka untuk menunjukmu," jelas Sai.
"Tidak bisa. Kau tau kan aku tidak bisa tampil dengan baik jika hanya aku sendiri ?" tolak Ino.
"Yah, sayang sekali ya. Padahal, aku ingin sekali menontonmu lho," ujar Sai.
"Ino, sejak kecil aku sudah mengidolakanmu lho."
"Eh ?"
"Aku pernah melihatmu tampil di konser musim dingin saat umur kita baru 5 tahun. Kau benar-benar keren saat itu. Aku sangat kagum padamu," ujar Sai.
"Tapi, tak lama setelah itu, kau tiba-tiba menghilang. Aku jadi tak bisa mendengar permainan pianomu lagi. Aku kecewa sekali."
"Tapi setelah itu, aku meminta ayah dan ibuku mengajariku main biola sekaligus meminta kursus biola di tempat kursus yang bagus agar suatu hari nanti aku bisa bermain bersamamu."
"Tapi, semangatku hilang setelah aku mendengar tentang penyakitku. Aku tau umurku tak akan lama lagi. Organ tubuhku juga lama-kelamaan tak akan berfungsi dengan baik lagi. Aku tak punya kesempatan untuk bermain denganmu. Aku merasa itulah akhir hidupku. Sampai akhirnya, Sasuke dan Sakura datang untuk membantuku. Kudengar, kau satu SMA dengan Sasuke, jadi aku meminta ayah dan ibuku untuk mendaftarkanku di SMA yang sama dengan Sasuke. Aku lalu meminta agar Sakura pura-pura tidak mengenalku, lalu meminta Sasuke untuk mempertemukanku denganmu. Aku senang sekali akhirnya mimpiku perlahan-lahan mulai terwujud. Sayangnya, setelah semua itu hampir terwujud sepenuhnya, penyakitku mulai menggerogoti tubuhku. Aku sudah tidak bisa berduet lagi denganmu. Karena itu, kali ini aku mengatakannya dengan jujur. Aku ingin melihatmu tampil, walaupun untuk terakhir kalinya…" Sai mengakiri cerita panjangnya dengan memberi permintaan pada Ino sebagai penutupnya. Setelah mendengar semua cerita dari Sai, Ino tidak bisa lagi menolak apa yang didinginka oelh Sai. Akhirnya, ia berniat untuk menuruti keinginan Sai.
"Baiklah, aku mau tampil" jawab Ino.
ooo
Ino, Sai… sudah tidak bisa menggerakkan tangannya lagi.
Hari demi hari pun berlalu. Ino berlatih bermain piano dengan sungguh-sungguh. Kali ini, Ino yakin ia pasti bisa tampil yang terbaik untuk Sai. Untuk orang yang sudah mengembalikan kepercayaan dirinya. Untuk orang yang telah merubahnya.
Untuk orang yang sangat dicintainya.
ooo
Hari ini, Ino datang kerumah sakit. Ini adalah hari terakhirnya latihan sebelum konser. Sai memintanya datang untuk mendengar hasil latihan Ino. Ia ingin Ino memainkan pianonya diatap rumah sakit.
Betapa prihatinnya Ino melihat kondisi Sai saat ini. Sai duduk di kursi roda dengan kulitnya yang semakin pucat dan tubuhnya yang semakin kurus. Ia sudah tidak bisa berjalan dan menggunakan tangannya lagi. Bahkan, ia juga sudah tidak bisa melihat lagi.
Ingin rasanya Ino menangis saat ini, namun semua itu ia tahan karena ia harus tegar di depan Sai.
Ino telah selesai memainkan pianonya. Ia menutupnya sambil memberikan senyum terbaiknya kepada Sai, walaupun Sai sama sekali tidak bisa melihatnya.
"Besok adalah waktunya" ujar Sai.
"Ya, kau akan datang kan ?" tanya Ino.
"Ya, tentu saja. Semoga berhasil" ujar Sai. Ino mengangguk sebagai jawaban.
"Oh ya, Ino. Kemarilah," ujar Sai sambil menyuruh Ino mendekat. Setelah Ino benar-benar ada dihadapannya, Sai meraba-raba wajah Ino. Kemudian, tiba-tiba…
CUP!
Sai mencium kening Ino lembut, membuat Ino sudah tidak bisa lagi menahan waajahnya yang kini sangat merah.
"Tolong, jangan kecewakan aku ya, Inorin," ujar Sai lembut. Ino tak kuat menahan air matanya yang kini mulai berjatuhan.
"Akan kulakukan yang terbaik untukmu, Sai-kun!"
ooo
30 November 2015
Gedung konser…
"Penampilan yang selanjutnya adalah sang pianis muda, Yamanaka Ino!" ujar sang pembawa acara mempersilahkan Ino tampil. Ino naik keatas panggung. Ia terlihat sangat anggun hari ini dengan gaun berwarna soft pink panjang tanpa lengan. Rambutnya digerai dan bagian sampingnya sedikit dikepang. Dia benar-benar cantik. Sayangnya, Sai sudah tidak bisa lagi melihat kecantikan Ino.
Ino mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan Sai. Akhirnya, ia menemukannya. Sai duduk manis di kursi barisan paling depan. Ino langsung tersneyum melihatnya.
"Sebelum aku mulai, ada yang ingin kukatakan. Lagu ini kupersembahkan untuk orang spesial yang telah membantuku untuk bangkit lagi. Ku persembahkan lagu ini untuk Uchiha Sai!" uajr Ino. Tepuk tangan langsung memeriahi ruangan itu. Wajah Sai langsung merona begitu namanya tadi disebutkan.
Ino mulai memainkan pianonya. Lantunan irama-irama indah mulai mengalir dari permainan piano Ino. Ino memainkan piano-nya dengan sangat anggun. Semua mata tertuju padanya. Hening. Yang terdengar hanya lantunan piano Ino di ruangan itu. Tidak ada yang bernai buka suara. Semuanya hanya tertarik mendengar apa yang ingin Ino mainkan.
"Kami-sama, lewat lagu ini, aku ingin kau mendengar keinginanku. Aku meminta padamu, tolong berikanlah kebahagian kepada Sai sampai akhir hidupnya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Dan tolong juga sampaikan ini padanya. Sampaikan padanya bahwa aku… sangat mencintainya. Walaupun aku dan dia baru pertama bertemu dan akan segera terpisah…" batin Ino berdoa.
Disisi lain, Sai yang mendengarnya juga larut dalam lagu Ino. Lantunan nada dari piano Ino bisa membuatnya mendengar apa isi hati Ino.
ooo
Ino pun selesai memainkan pianonya. Tepuk tangan meriah langsung meramaikan suasana di gedung tersebut. Ino membungkuk tanda memberi hormat. Tidak disangka oleh Ino bahwa ia akan mendapat beberapa buket bunga dari beberapa penonton. Ia juga mendapat sambutan meriah dari anak panti yang dulu diajarkannya bersama Sai. Ia tidak menyangka kalau semua anak panti itu datang menontonnya.
Dari jauh Sai memandang Ino dengan tatapan bangga.
ooo
Disinilah mereka, diatap gedung konser yang sepi, Ino dan Sai saling memandang langit. Setelah acara selesai, Sai meminta Ino untuk menemaninya mengobrol diatap gedung.
"Kau pakai gaun pendek kan ? Seharusnya, kau pakai jaket biar tidak kedinginan" ujar Sai.
"Aku tidak kedinginan kok" jawab Ino bohong. Padahal, ia sednag kedinginan sekali saat ini.
"Kau tau, sebenarnya aku ingin lebih lama bersamamu" ujar Sai. Ino melongo.
"Aku ingin bermain biola bersamamu lagi. Aku ingin mengajar anak panti dan pulang sekolah bersamamu lagi. Tapi… sepertinya itu semua sudah tidak bisa lagi ya," ujar Sai.
"Tidak Sai. Kumohon, jangan lanjutkan…" batin Ino.
"Sai…" panggil Ino.
"Hm ?"
"Kau tau ?"
"Tau apa ?"
"S-sebenarnya, sejak pertama kita bertemu, aku sudah… menyukaimu lho," ujar Ino mengukapkan perasaannya. Sai terdiam tak terpaya. Namun, tiba-tiba saja dia tertawa.
"Apanya yang lucu ?" omel Ino kesal.
"Kamu pasti bohon kan ? Kamu suka aku karena mirip Sasuke yang ganteng kan ?" goda Sai.
"M-mana mungkin! Kau ini apa-apan sih ?! Aku serius tau! Aku tidak bohong!"
"Ya, aku tau. Ino memnag selalu jujur, tidak sepertiku yang selalu bohong," ujar Sai.
"Sai…"
"Ino, mendekatlah. Kali ini, akan kukatakan sebuah kejujuran yang besar padamu" ujar Sai.
"Apa itu ?" tanya Ino sambil mendekat.
Sai lalu meraih kepala Ino dan menyatukan dahinya dengan dahi Ino.
"Ino, kite…" Sai menarik nafas dalam.
"Anata no kotoga daisuki dayo…" ujar Sai tulu. Ino tak bisa menahan air matanya. Ia tidak percaya kalau Sai akan membalas perasaannya.
"Kau… jujur hiks… kan ?"
"Tentu saja. Kali ini aku tidak bohong."
"Arigatou… Aishiteru yo, Sai-kun…" ujar Ino.
Di atap gedung konser yang sepi itu, keduanya pun berciuman. Mereka saling mengalirkan kehangatan dan kekuatan kepada keduanya. Mereka biarkan waktu yang lewat dan angin berhembus begitu saja. Mereka tidak peduli. Saat ini, semuanya hanya untuk mereka. Sampai akhirnya…
Ino tidak bisa lagi merasakan kehangatan dari bibir lembut Sai. Ino melepaskan ciumannya dan kembali menatap Sai. Sai terpejam. Ino langsung panik. Ia segera mengecek denyut nadi Sai. Tidak berdenyut. Ia mencoba mengecek hidung Sai. Tidak bernafas. Ia mengecek detak jantung Sai. Tidak berdetak. Ino kembali menatap Sai. Akhirnya, kini ia tau. Mata indah yang telah terpejam itu tak akan pernah terbuka lagi…
…untuk selamanya.
Ino memeluk tubuh Sai. menangis dalam diam. Ia mencoba menerima kenyataan walaupun sulit. Tapi, Ino tidak mau menganggu kematian damai Sai. Ia akan mencoba untuk merelakan kepergian Sai.
"Kite kudasai ne, Sai-kun. Mungkin sekarang kita tak bisa bersatu. Namun suatu hari, akan datang waktu dimana kau dan aku berduet bersama lagi. Pasti akan ada di tempat dimana aku dan kau akan bersatu, untuk selamanya…"
Senin, 30 November 2015, dibawah dinginnya tetesan salju, aku berpisah denganmu, untuk selamanya…
The End
ooo
Yatta! Akhirnya, bisa ku selesaikan juga. Maaf ya, karena harusnya sesuai syarat FLORE, aku harusnya sudah bisa menyelesaikannya tepat terakhir bulan November. Tapi karena tugas dari para senseiku yang terus menumpuk seperti gak ada ujungnya, aku jadi gak sempat menyelesaikan ini. Bahkan saat ini aku sedang UAS. Kelewat 2 hari dari bulan November gak apa-apa ya.
Makasih buat yg udah review. Aku jadi semangat menulis ini karena review dari kalian.
Special thanks buat FLORE SaiIno. Kritik dan masukannya benar-benar membantuku.
Nah, sampai jumpa di ff-ku yang lain ya. Arigatou gozaimasu!
