Atarashii Sensei no Akashi-san

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Genre: drama, slice of life, school life, and friendship. (banyak banget)

Warning! Mungkin ada typho, miss-typho,

EYD berantakan (padahal udah di chek plus edit .TwT.) OOC, AU.

DLDR and RnR pliss!

Chapter 2: Akashi Seijuro.


Akashi dan ketiga orang yang menemaninya melihat kearah gedung yang akan menjadi tempat Akashi bekerja. Di depan mereka terlihat gapura bertuliskan Sekolah Dasar Teiko. Saat melangkah masuk mereka melihat dua buah gedung. Gedung itu terlihat sangat tua, namun tetap kokoh. Gedung utama memanjang di pinggir lapangan, hanya dua tingkat dan terlihat sangat sepi. Sebuah gedung kecil berada di samping gedung utama. Akashi berasumsi itu adalah gudang, terbukti dari barang-barang yang tertumpuk tak rapi terlihat dari jendela ruangan itu.

"Hei, Akahi! Kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini!" Ucapan seseorang mengiterupsi observasi kecil ala Akashi. Akashi hanya melirik ke arah pemuda yang lebih tinggi dari nya itu.

Pemuda itu memakai dress putih dengan highheels berwarna ungu, make up tebal yang entah sejak kapan dipakaikan temannya yang lain telah menghiasi wajahnya. Sejujurnya Akashi ingin tertawa melihatnya, namun image-nya sebagai Akashi tak memperbolehkannya, sehingga ia hanya bersikap cool seperti biasa.

"Kau yang pantas berperan menjadi ibuku, Reo. Jadi bertahanlah sebentar saja. Lagipula kau cocok memakai itu semua, kau terlihat cantik." Ucap Akashi, tersenyum tipis. Cukup untuk membuat pemuda yang berpakaian wanita itu blushing.

"Kau pikir aku wanita! Dan kenapa aku harus dipasangkan denga Eikichi?!" teriak Mibuchi, namun tetap dengan wajah yang memerah.

Kedua temannya yang lain tertawa terbahak melihat wujud teman mereka yang baru saja sukses menjadi bahan eksperimen mereka. Membuat Mibuchi dengan senang hati memukul kepala mereka dengan tas tenteng yang menjadi pasangan dress-nya.


Akashi memasuki kelas yang akan menjadi ruangan tempatnya mengajar, senyuman terukir diwajahnya saat jarinya menelusuri meja kecil calon murid-muridnya. Hatinya benar-benar senang karena akhirnya impiannya sebentar lagi akan terwujud.

"Umm.. apa kau Akashi Seijuro-san?"

Akashi mengalihkan pandangannya ke arah orang yang memanggil namanya. Di pintu itu telah berdiri seorang wanita bersurai coklat menatapnya. Akashi pun mendekatinya.

"Ya, Aku Akashi Seijuro." Ucapnya.

"Ah, Aku Aida Riko guru yang akan kau gantikan." Ucap wanita itu tersenyum.


Mereka kini berada di ruang guru, Riko terlihat sedikit takut melihat tiga orang di depannya. Yah, bagaimana tidak, pemuda tinggi besar dengan wajah sangar kini duduk di sebelah pemuda kecil yang akan menjadi guru penggantinya. Meski pemuda itu kecil Riko dapat melihat aura mengerikan terpancar dari tubuhnya, cukup membuat Riko merinding. Kemudian wanita tinggi namun cantik bermake-up menor duduk disamping pemuda kecil itu, yang membuatnya takut adalah tatapan tajamnya. Riko jadi merasa bimbang dengan keputusannya untuk menjadikan Akashi guru yang akan menggantikannya.

"Sekolah ini memang sekolah tua, guru yang mengajar di sini hanya aku dan kepala sekolah. Murid kami juga hanya enam. Sebenarnya ada sekolah lain yang terletak 3 Km dari desa ini, tapi karena anak-anak di sekolah ini dari kalangan bawah jadi mereka tak bisa ke sana. Meski begitu kami tetap senang mengajar mereka dan karena aku harus menyiapkan pernikahan ku jadi aku harus cuti tiga bulan, sampai aku kembali akan ku serahkan mereka kepadamu Akashi-san." Jelas Aida, berusaha menjelaskan kehidupan di sekolah itu.

"Ya, Aku mengerti." Ucap Akashi, dia juga tak peduli berapa pun muridnya atau sebagus apa sekolahnya. Ia hanya ingin menjadi guru terbaik, itu saja. Riko pun tersenyum.

"Anak-anak sedang tidak ada di sini, mereka sedang belajar bersama kepala sekolah di luar. Tapi sebentar lagi mereka akan datang, jadi tunggu saja. Juga, mulai hari ini aku resmi berhenti dan ini menjadi hari pertamamu mengajar, Akashi-san."

Akashi mengangguk, kemudian melirik dua orang yang sedari tadi duduk diam disampingnya. Melihat isyarat Akashi, dua orang itu, Mibuchi dan Eikichi, pun berdiri.

"Mulai sekarang, aku akan hidup mandiri. Otou-san, Okaa-san!" ucap Akashi membungkuk di depan dua orang yang ia katakan sebagai ayah dan ibunya.

Mibuchi dan Eikichi pun ikut membungkuk, kemudian tersenyum ke arah Riko yang mematung 'Jadi mereka orangtuanya' pikirnya. Riko pun tersenyum kaku, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan dia semakin ingin membatalkan keputusannya. Setelahnya, 'orang tua' Akashi pun keluar dari ruangan itu.

"Jadi Aida-san, bisakah anda memberitahu mengenai keenam calon muridku?" tanya Akashi, sopan dan baku. Riko sedikit kagum, membuatnya sedikit menghilangkan rasa penyesalannya.

"Mereka adalah lima anak laki-laki dan satu anak perempuan. Jika kau kesulitan menghafal nama mereka cukup lihat warna rambut mereka, jika ungu maka itu adalah Murasakibara Atshusi, ciri-cirnya adalah ia suka memakan banyak snack meski sudah berkali-kali dilarang. Jika hijau itu adalah Midorima Shintarou, dia suka mengoleksi barang-barang aneh rujukan dari Oha-Asa peramal jam tujuh pagi, aku juga heran kenapa ia suka sekali mendengarkan kata si peramal itu.

Berikutnya yang berambut kuning, Kise Ryota, dia anak laki-laki yang cantik. Dia suka sekali meniru orang lain yang dia anggap menarik atau ia sukai. Jadi jangan aneh jika nanti kau diikuti olehnya. Berikutnya yang berambut biru tua, Aomine Daiki. Dia selalu terlambat, kulitnya hitam karena selalu bermain panas-panasan, katanya untuk mencari jangkrik atau lobster di sungai. Kemudian yang berwarna rambut pink, ia adalah tetangga Aomine, Momoi Satsuki. Sejak kecil mereka selalu bersama karena tetanggaan.

Kemudian yang terakhir, berambut biru muda. Kuroko Tetsuya. Dia anak baik yang malang, sudah seminggu ini ia tak bisa bicara akibat neneknya meninggal, hawa keberadaannya juga tipis. Jadi kalau tiba-tiba ia menghilang dan tiba-tiba muncul mengagetkanmu, itu pasti akan menjadi hal rutin yang biasa terjadi. Yupz, itu semua murid-murid di sini, meski mereka mungkin anak-anak yang unik tapi mereka tetaplah anak yang manis." jelas Riko, tersenyum.

Akashi hanya diam dan tersenyum simpul, hatinya benar-benar senang. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan calon muridnya itu, membayangkan mereka memanggil dirinya dengan sebutan 'sensei'. Riko pun pamit setelah mendengar suara anak-anak yang datang, dia bilang itu adalah murid Akashi. Jadi Akashi memutuskan untuk menunggu mereka di dalam kelas.


TBC.


A/N: Chapter satu yang asli selesai. Mungkin kalo baca "The Childern's Teacher Mr. Kwon" rada sama. Cuz emang gue dapet inspirasi dari situ, hehehe….

Ai Hakawa: bonus deh ni aye kasih, hiatus masih untuk The lost soul. masih lom ada inspirasi... thanks udah review fav, and follow-nya XD

Valthera-Red: iya, aye terinspirasi dari kata-kata Kuroko di novel kurobas Replace. katanya Akashi kalo jadi guru pasti bakal jadi guru yang menyenangkan. ini update faster-nya... thanks udah review and follow-nya.

Ai selai Strawberry: itu kan baru prolog. ya, itulah keahlian gue, buat orang kepo... slap# thanks udah review and favorite.

Thanks udah review, follow, fav dan yang udah baca fanfic abal ini. At last review pliss!